Kilauan Mutiara Hikmah Dari Nasihat Salaful Ummah I

851
0
BERBAGI
———–
Kata Pengantar Penerjemah
———–
Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, kita memuji-Nya, memohon ampunan dan perlindungan-Nya dari kejahatan hawa nafsu kita dan kejelekan amalan kita. Dan
barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, sebaliknya siapa yang disesatkan maka tidak ada pula yang dapat menunjukinya.
Saya bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah satu-satunya dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan saya bersaksi bahwa Muhammad itu adalah seorang hamba dan utusan Allah. Semoga Allah senantiasa melimpahkan shalawat serta salam kepada beliau, keluarga, dan para shahabatnya serta para pengikutnya dengan ihsan hingga hari pembalasan.
Berbagai kerancuan kini melanda umat Islam (kecuali yang dirahmati Allah). Di antara mereka ada yang menganggap biasa berteman akrab dan menimba ilmu dari orang-orang yang menyimpang pemikiran dan manhajnya yang penting demi persatuan kesatuan dan lagipula mereka pintar-pintar,
demikianlah anggapan mereka. Toh, dengan orang-orang kafir kita dianjurkan untuk bergaul dengan baik. Mengapa dengan
sesama Muslim kita justru berpecah dan berselisih? Inilah sebagian kecil kerancuan tersebut. Adapula yang mempersoalkan boleh tidaknya melontarkan kata-kata yang
cukup memerahkan telinga terhadap para dai hizbiyyin (yang mengajak kepada fanatisme golongan) dan orang-orang yang merusak pemikiran umat.
Namun disayangkan ternyata sebagian para dai khususnya mereka yang telah berani mengenakan baju (label) Salaf justru banyak menambah kerancuan ini. Mereka mengutip
sebagian perkataan ulama dan meninggalkan yang lainnya. Atau menyampaikan pendapat seorang imam atau ulama tidak sesuai bahkan bertentangan dari apa yang dipahami oleh generasi terbaik umat ini. Mereka memusuhi dan menjauhi dai-dai yang menampakkan sikap permusuhan terhadap ahli bid’ah dan para penyambung lidah mereka.
Oleh karena itu kami terpanggil untuk menyadarkan saudara-saudara kita (kaum Muslimin) bagaimana dan apa yang harus kita pegang dalam mengarungi perjalanan hidup
sesaat yang penuh ujian ini? Untuk itu kami mencoba menyuguhkan kepada para pembaca budiman untaian kata mutiara yang penuh hikmah yang dikumpulkan dan disusun
oleh Syaikh Abu Abdillah Jamal bin Furaihan
–hafidhahullahu– dari perkataan para Ulama Salaful Ummah. Dan kitab itu kami terjemahkan dengan judul Kilauan Mutiara Hikmah Dari Nasihat Salaful Ummah.
Dan kami bersyukur kepada Allah atas terselesaikannya buku ini kemudian kepada Ustadz Muhammad Umar As Sewed yang
berkenan memeriksa dan memberikan pengantar atau ta’liq (keterangan) yang berkaitan dengan beberapa perkara penting dalam buku ini. Kami ucapkan pula Jazaakumullahu khairan.
Mudah-mudahan Allah jadikan buku ini bermanfaat bagi penulis (penyusun), penterjemah, pemeriksa, dan kaum Muslimin sekalian. Dan semoga Allah menjadikan ini amal shalih yang ikhlash mengharap wajah-Nya. Amiin Ya Mujibas Saailin.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Yogyakarta, Shafar 1419 H
Penterjemah
Idral Harits
———————————————
Daftar Isi
———————————————
Kata Pengantar Penerjemah
Daftar Isi
Pengantar Ustadz Muhammad Umar As Sewwed
Pendahuluan
BAB 1 Berpegang Dengan Al Quran Dan As Sunnah, Mengikuti
Atsar Salafus Shalih, Dan Menjauhi Bid’ah
BAB 2 Perintah Komitmen Dengan Jamaah Muslimin Dan Imam Mereka Serta Peringatan Bahayanya Perpecahan
BAB 3 Perintah Mentaati Dan Memuliakan Penguasa Serta Tidak Memberontak Kepadanya
BAB 4 Bersabar Atas Kejahatan Penguasa
BAB 5 Tanda-Tanda Ahlus Sunnah
BAB 6 Tanda-Tanda Ahli Bid’ah Dan Ahli Ahwa
BAB 7 Sebab-Sebab Hilangnya Agama
BAB 8 Jeleknya Ahli Ahwa’ Dan Ahli Bid’ah
BAB 9 Peringatan Bahayanya Duduk Dengan Ahli Bid’ah Dan Ahli Ahwa Serta Bergaul Dan Berjalan Bersama Mereka
BAB 10 Peringatan Salafus Shalih Akan Bahayanya Bergaul Dengan Ahli Bid’ah Dan Menyebut Nama Tokoh-Tokoh Mereka Bukan Ghibah
BAB 11 Bolehnya Meninggalkan Tokoh Tertentu Ahli Bid’ah, Majelis Mereka, Dan Menjauhkan Manusia Dari Mereka
BAB 12 Jeleknya Berdebat Dan Berbantahan Mengenai Agama
BAB 13 Menghinakan Dan Tidak Menghormati Ahli Bid’ah
BAB 14 Jangan Tertipu Oleh Ahli Bid’ah
BAB 15 Ahli Bid’ah Lebih Jahat Dari Orang Yang Fasiq
BAB 16 Kapan Dibolehkan Atau Diwajibkannya Menerangkan Keadaan Seseorang?
BAB 17 Salafus Shalih Menilai Seseorang Dengan Melihat Teman Dekatnya
BAB 18 Bukanlah Ghibah Menceritakan Keadaan Ahli Bid’ah Menurut Salafus Shalih
BAB 19 Pengaruh Buruk Akibat Memuji Ahli Bid’ah
BAB 20 Hukuman Terhadap Ahli Bid’ah
BAB 21 Titik (Tujuan) Akhir Ahli Bid’ah Dan
Sifat-Sifat Mereka
BAB 22 Adakah Taubat Bagi Ahli Bid’ah?
BAB 23 Sebab-Sebab Jatuhnya Seseorang Kepada Bid’ah Dan Hawa Nafsu
BAB 24 Pedoman Agar Tidak Jatuh Kepada Bid’ah Dan Hawa Nafsu
BAB 25 Membantah Ahli Bid’ah Harus Dengan As Sunnah
BAB 26 Shifat Al Ghuraba
BAB 27 Menilai Seseorang Dengan Kecintaan Dan Kebenciannya Terhadap Ahlus Sunnah
BAB 28 Beberapa Faedah, Nasihat, Dan Adab
BAB 29 Syair-Syair
Daftar Rujukan Ta’liq
———–
Pengantar
———–
Sebagaimana judulnya, buku ini memang bukan karangan atau
tulisan Abu Abdillah Jamal bin Furaihan Al Haritsy, akan tetapi merupakan kumpulan mutiara hikmah yang dirangkai
oleh penyusunnya dengan apik dan lugas. Beliau memilih mutiara-mutiara ini dari lautan ilmu yang terkandung di dalam karya-karya besar ulama Salaf. Dan mutiara ini beliau awali rangkaiannya dengan Kalam Allah Yang Maha Sempurna kemudian sabda Rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam sekaligus sebagai dasar ucapan-ucapan ulama dan para imam tersebut. Dengan demikian, ini menutup jalan yang mendorong seseorang untuk
berkata, tidakkah ini hanya ucapan seorang manusia.
Sekali lagi perlu kita perhatikan. Untaian mutiara yang penuh dengan hikmah ini dipilih dari perkataan generasi terbaik yaitu generasi para shahabat, kemudian tabi’in, dan tabi’ut tabi’in yang merupakan generasi terbaik sesudah shahabat lalu imam-imam Ahlus Sunnah yang datang sesudah mereka yang semua itu disandarkan kepada Al Quran dan As Sunnah.
Di samping itu, dengan dimuatnya ucapan beberapa ulama dari generasi yang berbeda dalam satu permasalahan mengandung nilai tersendiri. Dan ini sekaligus membuktikan
bahwa ternyata ulama Ahlus Sunnah yang hidup dalam kurun waktu yang berbeda sepakat dalam permasalahan tersebut.
Misalnya permasalahan tahdzir (peringatan dan larangan yang keras) untuk duduk bermajelis dengan ahli bid’ah. Dengan demikian kita akan bertambah yakin
dengan kebenaran dan keteguhan madzhab Ahlus Sunnah serta dapat mengalahkan perasaan risi atau sungkan dan adat
ketimuran kita dalam menerima kenyataan ini.
Sengaja kami beri komentar terhadap beberapa persoalan agar pembaca tidak keliru atau kurang memahami permasalahan yang sedang dibahas. Juga dengan komentar ini diharapkan terjemahan ini dapat lebih bermanfaat.
Demikianlah, semoga Allah memberi pahala kepada kita semua, penulis, pembaca, penterjemah, dan yang memeriksanya kembali serta seluruh ulama Ahlus Sunnah yang telah menyampaikan nasihat dan peringatan kepada kita karena Allah. Amiin.
Degolan, Shafar 1419 H
Muhammad Umar As Sewed
———–
Pendahuluan
———–
Sesungguhnya segala puji hanya bagi Allah, kita memuji-Nya dan memohon pertolongan dan ampunan-Nya serta berlindung kepada Allah dari kejahatan hawa nafsu dan kejelekan amalan kita.
Siapa yang ditunjuki Allah maka tidak ada yang dapat menyesatkannya dan sebaliknya, siapa yang disesatkan maka tidak ada yang dapat memberi petunjuk kepadanya.
Saya bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.
Firman Allah Ta’ala : “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada
Allah dengan sebenar-benar takwa dan jangan kamu mati
kecuali dalam keadaan Muslim”(QS. Ali Imran : 102)
“Hai manusia, bertakwalah kepada Rabbmu yang telah menciptakan kamu dari satu jiwa dan mnciptakan darinya isterinya dan Dia memperkembangbiakkan dari keduanya
laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan-Nya kamu saling meminta dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesunggubnya Allah senantiasa mengawasi kalian”(QS. An Nisa’ : 1)
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan berkatalah yang benar. Niscaya Allah akan memperbaiki untukmu amalan kamu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya ia telah mendapatkan
kemenangan yang besar”(QS. Al Ahzab : 70-71)
Kemudian dari pada itu :
Maka sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitab Allah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Dan sesungguhnya sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan dan setiap yang diada-adakan adalah bid’ah –(dan setiap bid’ah adalah sesat dan yang sesat itu tempatnya di neraka)–.
Dan selanjutnya :
Sungguh saya bersyukur dan memuji Allah yang telah melindungi Ahli Sunnah dan para imam mereka dari perkataan yang rusak dan keyakinan (i’tiqad) yang lemah dan menganugerahkan kepada mereka kekuatan untuk berpegang dengan tali Allah yang kokoh dan Kitab-Nya yang terang serta Sunnah Rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam yang terang-benderang bahkan menjauhkan Ahli Sunnah dan para imam mereka dari ucapan-ucapan yang keji dan mengerikan. Sedangkan ucapan mereka mengenai ahli bid’ah terdengar ke seluruh penjuru dan ucapan orang-orang selain mereka mengenai mereka tertolak dan terbantah dengan yang haq.
(Siapakah Ahli Sunnah dan para imam mereka?)
Mereka adalah orang-orang yang bersepakat di atas pendirian bahwa apa pun yang Allah kehendaki pasti terjadi dan apa pun yang tidak Dia kehendaki pasti tidak akan terjadi. Dan kita hendaknya menjadi orang-orang yang mengikuti atsar (jejak) dan manhaj (jalan) mereka dan mengakui keutamaan mereka.
“Ya Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dalam keimanan.” (QS. Al Hasyr : 10)
Ini adalah risalah ringkas yang berfaedah –Insya Allah– mengenai beberapa topik yang berbeda yang kami nukilkan dari Kitab Allah ‘Azza wa Jalla dan Sunnah
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam serta ucapan para imam Ahli Ilmu yang tersebar dalam berbagai tempat yang saya rangkum dari berbagai kitab tentang sunnah dan saya namakan :
Lamudduril Mantsur Minal Qaulil Ma’tsur
Dan saya memohon kepada Allah yang Maha Agung Pemilik ‘Arsy yang Mulia agar diberi taufiq dalam memilih nama yang sesuai dengan kedudukan para imam pembawa petunjuk yang dengan mereka Allah memelihara Sunnah Nabi-Nya. Sebagaimana saya juga meminta kepada-Nya ‘Azza wa Jalla agar risalah ini bermanfaat bagi para pembaca dan menjadi amalan saya yang ikhlash mengharap wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala semata dan sebagai sarana menyebarluaskan As Sunnah dan pembuka mata bagi sesama saudara di jalan Allah yang tertutup dari mereka sebagian besar ucapan ulama Salaf.
Termasuk tuntunan As Sunnah dan akhlak adalah membalas kebaikan dengan mensyukuri dan mengakui kebaikan itu sebagaimana firman Allah : “Tidak ada balasan kebaikan itu selain kebaikan (juga)”(QS. Ar Rahman : 60)
Dan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam : “Siapa mendatangimu dengan kebaikan balaslah, jika tidak kamu dapatkan sesuatu untuk membalasnya maka doakanlah kebaikan untuknya sampai kamu ketahui bahwa kamu telah membalasnya”(HR. Abu Daud 1672 dan 5109, An Nasa’i 2566, dan Ahmad 2/68)
Dan sabda beliau : “Siapa yang tidak (dapat) bersyukur (berterima kasih kepada) manusia maka ia tidak akan (dapat) bersyukur kepada Allah”(HR. At Tirmidzy 1954 dan Ahmad 3/74)
Dan di sini saya bersyukur –setelah bersyukur kepada Allah Ta’ala– kepada saudara yang terhormat Abu Yasir, Raziq bin Hamid Al Qurasyi yang telah memeriksa dan memperbaiki kesalahan cetakannya. Begitu pula dengan kitab sebelumnya yaitu Al Ajwibah Al Mufidah Alal Asilah Al Martahij Al Jadiidah dan kitab Al Aimmatul Abrar fil Hukmi Ala As Saharatil Asyrar. Semoga Allah membalasnya atas bantuannya kepada saya dengan segenap kebaikan dan –juga– mereka yang ikut andil dalam membantu terselesaikannya urusan saya.
Akhirulkalam, sekali lagi saya memohon kepada Allah agar melimpahkan taufiq kepada kita untuk dapat mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan mematikan kita di atasnya serta mengumpulkan kita bersama para shahabat Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.
Akhir doa kita adalah Alhamdulillahi Rabbil Alamin.
Thaif, 10 Muharram 1417 H
Abu Abdillah Jamal bin Furaihan Al Haritsi
(Sumber : Kilauan Mutiara Hikmah Dari Nasihat Salaful Ummah, terjemah dari kitab Lamudduril Mantsur minal Qaulil Ma’tsur, karya Syaikh Abu Abdillah Jamal bin Furaihan Al Haritsi, . Diterjemahkan oleh Ustadz Idral Harits. Diambil dari www.assunnah.cjb.net.)