Kilauan Mutiara Hikmah Dari Nasihat Salaful Ummah VII

360
0
BERBAGI
BAB 8
Jeleknya Ahli Ahwa’ dan Ahli Bid’ah
61. Dari Abi Hurairah radhiallahu’anhu ia berkata:
“Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: ‘Akan ada di akhir zaman nanti para dajjal dan pendusta, mereka mendatangimu dengan hadits-hadits yang belum pernah didengar oleh kamu dan bapak-bapak kamu, maka hati-hatilah kamu dari mereka, mereka jangan sampai menyesatkan kamu dan menimbulkan fitnah terhadapmu.'”(HSR.Muslim dalam Muqaddimah 7).
62. Dari Khalid bin Sa’d ia berkata bahwa menjelang wafatnya Hudzaifah bin Al-Yaman datang kepadanya Abu Mas’ud Al-Anshary -radhiallahuanhuma- lalu berkata:
“Hai Abu ‘Abdillah berpesanlah untuk kami.” Hudzaifah berkata: “Bukankah telah datang kepadamu perkara yang yaqin, ketahuilah sesungguhnya kesesatan itu benar-benar kesesatan kalau kamu anggap ma’ruf (baik) apa yang sebelumnya kamu ingkari dan mengingkari apa yang telah kamu ketahui, hati-hatilah kamu dari sikap berbeda-beda (berpecah belah, pent) dalam agama karena sesungguhnya agama Allah ini hanya satu.” (Al-Hujjah fi Bayanil mahajjah 1/33, Al-Lalikai 1/90 120).
63. Dari Abi Qilabah dari Zaid bin ‘Umairah ia berkata:
“Mu’adz bin Jabal berkata: ‘Hai manusia, sesungguhnya akan terjadi fitnah yang pada waktu itu harta benda berlimpah, Al-Quran terbuka (tersebar) hingga mudah dibaca oleh seseorang mu’min, munafiq pria dan wanita anak-anak kecil maupun orang dewasa sampai-sampai seseorang berkata:’Kita telah membaca Al-Quran tapi tidak ada yang mau mengikuti, tidakkah sebaiknya kita bacakan terang-terangan kepada mereka?’ Maka mereka membacanya terang-terangan dan tetap tidak ada satupun yang mengikutinya maka dia berkata:’Saya telah membacanya terang-terangan tidak ada juga yang mengikutiku,’ lalau ia membangun tempat shalat di rumahnya lalu mengucapkan perkataan bid’ah yang bukan dari kitab Allah bahkan tidak juga dari sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, maka hati-hatilah kamu dari bid’ahnya karena sesungguhnya bid’ah itu sesat.'” (Al-Lalikai 1/89 no 117, Al-Hujjah 1/303, Ibnu Wadldlah 33 dan Abu Daud 4611).
64. Dari ‘Ashim Al-Ahwal ia berkata:
“Abul ‘Aliyah berkata: ‘Pelajarilah Al-Islam! Maka jika kamu pelajari janganlah kamu membencinya, dan tetaplah kamu diatas shirathal mustaqim karena itulah sesungguhnyta Al-Islam dan jangan kamu menyimpang ke kanan dan ke kiri. Dan berpeganglah dengan sunnah Nabimu shallallahu alaihi wa sallam dan apa yang dipegang kaum muslimin sebelum mereka membunuh shahabat mereka sendiri (Utsman bin ‘Affan) dan sebelum mereka berbuat apa yang telah mereka perbuat. Maka sesungguhnya kami telah membaca Al-Quran sebelum mereka berselisih (saling memerangi) dan sebelum mereka melakukan apa yang telah mereka lakukan selama 15 tahun. Dan berhati-hatilah kamu dari hawa nafsu ini, yang senantiasa menimbulkan permusuhan dan kebencian di tengah-tengah manusia.’ Kemudian saya sampaikan hal ini kepada Al-Hasan Al-Bashry, katanya:’Ia benar dan telah memberi nasehat.’ Dan saya ceritakan pula kepada Hafshah bintu Sirin, katanya: ‘Keluargaku tebusanmu, apakah telah kau sampaikan kepada Muhammad (Ibnu Sirin) cerita ini?’ Saya menjawab:’Tidak (belum).’ Lalu katanya:’Jika begitu sampaikanlah kepadanya.'” (As-Sunnah Ibnu Nashr 13 no 26, Al-Ibanah 1/299 no 136, Al-Lalikai 1/56, 127 no 17, 214)
——————
BAB 9
——————
Peringatan Bahayanya Duduk Dengan Ahli Bid’ah dan Ahli Ahwa’ Bergaul dan Berjalan Bersama Mereka
65. Al-Fudlail bin Iyyadl berkata:
“Siapa yang duduk dengan ahli bid’ah maka berhati-hatilah darinya, dan siapa yang duduk dengan ahli bid’ah tidak akan diberi al0hikmah. Dan saya ingin jika antara saya dan ahli bid’ah ada benteng dari besi yang kokoh. Dan saya makan di samping Yahudi dan Nashrani lebih saya sukai daripada makan di sebelah ahli bid’ah.” (Al-Lalikai 4/638 no 1149).
66.Hanbal bin Ishaq berkata:
“Saya mendengar Abu Abdillah (Imam Ahmad) berkata:’Tidak pantas seseorang itu bersikap ramah kepada Ahli Bid’ah, duduk dan bergaul dengan mereka.'” (Al-Ibanah 2/475 no 495)
67.Dari Habib bin Az-Zabarqan ia berkata:
“Muhammad bin Sirin apabila mendengar ucapan Ahli Bid’ah, menutup telinganya dengan jarinya kemudia berkata:’Tidak halal bagiku mengajaknya berbicara sampai ia berdiri dan meninggalkan tempay duduknya'” (Al-Ibanah 2/473 no 484)
68. Seorang ahli ahwa’ berkata kepada Ayyub As-Sikhtiyani:
“Hai Abu Bakr saya ingin bertanya tentang satu kalimat.” Beliau menukas -sambil berisyarat dengan jarinya-; “Tidak meskipun setangah kalimat, meskipun setengah kalimat.” (Al-Ibanah 2/447 no 402)
69.Imam Ahmad berkata dalam risalahnya untuk Musaddad:
“Jangan kamu bermusyawarah dengan ahli bid’ah dalam urusan agamamu, dan jangan jadikan dia teman dalam safarmu (bepergian).” (Al-Adabus Syari’ah Ibnu Muflih 3/578).
70. Ibnul Jauzy berkata:
“Allh, Allah. Janganlah berteman dengan mereka ini (ahli bid’ah). Dan wajib kamu cegah anak kecil bergaul dengan mereka agar jangan terpatri sesuatu (perkara bid’ah) dalam hati mereka, dan jadikan mereka sibuk (mempelajari) hadits-hadits Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam agar watak mereka terbentuk di atasnya.” (ibid 3/577-578).
71. Imam Al-Barbahary berkata:
“Apabila tampak bagimu satu perkara bid’ah pada seseorang maka jauhilah dia sebab sesungguhnya yang dia sembunyikan darimu jauh lebih banyak dari yang dia tampakkan.” (Syarhus Sunnah 123 no 148)
72. Dan kata beliau:
“Perumpamaan ahli bid’ah itu seperti kalajengking, mereka menyembunyikan kepala dan ekornya, maka jika mereka telah mantap dengan posisinya maka mereka menyengat mangsanya. Demikian pula ahli bid’ah mereka menyembunyikan bid’ah di tengah-tengah manusia, lalu apabila mereka telah mantap dengan kedudukannya mereka sampaikan apa yang mereka inginkan.” (Thabaqat Hanabilah 2/44).
Saya (Jamal bin Furaihan) katakan:
“Demikianlah keadaan Ikhwanul Muslimin (dan kelompok dakwah sempalan lainnya, pent) mereka mencari-cari kedudukan dan jika mereka telah mantap posisi mereka, maka mulailah mereka melancarkan tindakan-tindakan dalam menyelisihi ahlus sunnah”
(Sumber : Kilauan Mutiara Hikmah Dari Nasihat Salaful Ummah, terjemah dari kitab Lamudduril Mantsur minal Qaulil Ma’tsur, karya Syaikh Abu Abdillah Jamal bin Furaihan Al Haritsi. Diterjemahkan oleh Ustadz Idral Harits. Diambil dari www.assunnah.cjb.net.)