Siapakah yang Berhak Mendapat Harta Waris

(ditulis oleh: Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi)

Dalam sistem waris Islam, tak semua orang bisa mendapatkan harta waris. Demikianlah ketentuan Allah l yang Maha Adil lagi Maha Bijaksana. Dengan segala hikmah dan keilmuan-Nya yang luas, Dia l memilih orang-orang yang berhak mendapatkan harta waris tersebut.
Tak hanya dari kalangan lelaki yang dipilih-Nya, dari kalangan perempuan sekalipun ada juga yang dipilih-Nya. Dari kalangan lelaki berjumlah 15 orang, sedangkan dari kalangan perempuan berjumlah 11 orang.
Dalam istilah ilmu al-faraidh, seorang lelaki yang berhak mendapatkan harta waris disebut warits (وَارِثٌ), dan jika berjumlah banyak disebut waritsuun (وَارِثُون) atau waratsah (وَرَثَةٌ). Sedangkan seorang perempuan yang berhak mendapatkan harta waris disebut waritsah (وَارِثَةٌ), dan jika berjumlah banyak disebut waritsaat (وَارِثَاتٌ). Semua itu dalam bahasa Indonesia biasa disebut dengan ahli waris atau pewaris.
Orang-orang yang berhak mendapatkan harta waris dari kalangan laki-laki adalah:
1. Anak lelaki
2. Cucu lelaki dari anak lelaki, dan seterusnya dari keturunannya yang lelaki
3. Bapak
4. Kakek (dari pihak bapak) dan ke atasnya dari jalur lelaki
5. Suami
6. Saudara lelaki sekandung
7. Saudara lelaki sebapak
8. Saudara lelaki seibu
9. Anak lelaki dari saudara lelaki sekandung (keponakan), dan seterusnya dari keturunannya yang lelaki
10. Anak lelaki dari saudara lelaki sebapak (keponakan), dan seterusnya dari keturunannya yang lelaki
11. Paman (saudara bapak sekandung)
12. Paman (saudara bapak sebapak)
13. Anak lelaki dari paman/saudara bapak sekandung (sepupu), dan seterusnya dari keturunannya yang lelaki
14. Anak lelaki dari paman/saudara bapak sebapak (sepupu), dan seterusnya dari keturunannya yang lelaki
15. Seorang lelaki yang membebaskan budak (mu’tiq), dan ashabah-nya dari jenis ‘ashabah bin-nafsi.
Jika diandaikan semuanya terkumpul dalam satu masalah waris, maka yang berhak mendapatkan harta waris dari mereka adalah anak lelaki, bapak, dan suami. (Lihat At-Tahqiqat Al-Mardhiyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah, hal. 65-67 dan Al-Khulashah Fi Ilmil Faraidh hal. 62-63)
Sedangkan orang-orang yang berhak mendapatkan harta waris dari kalangan perempuan adalah:
1. Ibu
2. Anak perempuan
3. Cucu perempuan dari anak lelaki, dan seterusnya dari keturunan perempuan yang melalui jalur lelaki
4. Nenek dari pihak ibu, dan ke atasnya dari jenis perempuan
5. Nenek dari pihak bapak
6. Ibunya kakek dari pihak bapak (buyut perempuan)
7. Saudara perempuan sekandung
8. Saudara perempuan sebapak
9. Saudara perempuan seibu
10. Istri, walaupun lebih dari satu
11. Seorang perempuan yang membebaskan budak (mu’tiqah).
Jika diandaikan semuanya terkumpul dalam satu masalah waris, maka yang berhak mendapatkan harta waris dari mereka adalah ibu, anak perempuan, cucu perempuan dari anak lelaki, istri, dan saudara perempuan sekandung. Adapun jika diandaikan semua ahli waris tersebut baik dari kalangan lelaki maupun perempuan terkumpul dalam satu masalah waris, maka yang berhak mendapatkan harta waris adalah bapak, anak lelaki, suami atau istri, ibu, dan anak perempuan. (Lihat At-Tahqiqat Al-Mardhiyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah, hal. 68 dan Al-Khulashah Fi Ilmil Faraidh, hal. 62-63)
Bagaimanakah cara perwarisan dari masing-masing ahli waris tersebut? Cara perwarisannya terbagi menjadi empat macam:
Pertama: Mereka yang mewarisi dengan cara fardh saja. Jumlahnya ada tujuh orang;
1) Ibu
2) Anak lelaki ibu mayit (saudara  lelaki seibu)
3) Anak perempuan ibu (saudara perempuan seibu)
4) Suami
5) Istri
6) Nenek dari pihak ibu
7) Nenek dari pihak bapak.
Kedua: Mereka yang mewarisi dengan cara ta’shib saja. Jumlahnya ada duabelas orang;
1) Anak lelaki
2) Cucu lelaki dari anak lelaki, dan seterusnya dari keturunannya yang lelaki
3) Saudara lelaki sekandung
4) Saudara lelaki sebapak
5) Anak lelaki dari saudara lelaki sekandung (keponakan), dan seterusnya dari keturunannya yang lelaki
6) Anak lelaki dari saudara lelaki sebapak (keponakan), dan seterusnya dari keturunannya yang lelaki
7) Paman (saudara bapak sekandung) dan ke atasnya
8 ) Paman (saudara bapak sebapak) dan ke atasnya
9) Anak lelaki dari paman/saudara bapak sekandung (sepupu), dan seterusnya dari keturunannya yang lelaki
10) Anak lelaki paman/saudara bapak sebapak (sepupu), dan seterusnya dari keturunannya yang lelaki
11) Seorang lelaki yang membebaskan budak (mu’tiq)
12) Seorang perempuan yang membebaskan budak (mu’tiqah).
Ketiga: Mereka yang terkadang mewarisi dengan cara fardh, terkadang pula dengan cara ta’shib, dan terkadang menggabungkan antara keduanya (cara fardh dan cara ta’shib). Jumlahnya ada dua: 1) Bapak, dan  2) Kakek.
Keempat: Mereka yang terkadang mewarisi dengan cara fardh dan terkadang pula dengan cara ta’shib, namun tidak bisa menggabungkan antara cara fardh dan cara ta’shib selama-lamanya. Jumlahnya ada empat;
1) Anak perempuan, baik satu orang ataupun lebih
2) Cucu perempuan dari anak lelaki, walaupun saudara lelaki yang menjadikannya mewarisi dengan cara ta’shib (mu‘ashshib) secara tingkatan di bawahnya (seperti; cicit/anak lelakinya cucu lelaki dari anak lelaki, pen.), baik jumlahnya satu orang atau lebih
3) Saudara perempuan sekandung, baik jumlahnya satu orang atau lebih
4) Saudara perempuan sebapak, baik jumlahnya satu orang atau lebih.
(Lihat Al-Fawaidul Jaliyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah karya Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz t, hal. 13, program Al-Maktabah Asy-Syamilah II)
Mengkaji Beberapa Ayat dan Hadits Seputar Waris
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin t berkata: “Ayat-ayat waris yang Allah l sebutkan secara gamblang dalam Al-Qur’an ada tiga:
– Ayat pertama, tentang jatah waris ushul (orangtua si mayit dan yang di atasnya) dan furu’ (keturunan/anak cucu si mayit).
– Ayat kedua, tentang jatah waris suami, istri, dan anak-anak ibu (saudara seibu dari si mayit).
– Ayat ketiga, tentang jatah waris saudara-saudara si mayit selain dari pihak ibunya (saudara sekandung dan saudara sebapak).
Ayat pertama adalah firman Allah l:
“Allah mensyariatkan bagi kalian tentang (pembagian harta waris untuk) anak-anak kalian…” (An-Nisa’: 11)1
Dalam ayat ini Allah l menjelaskan bahwa ahli waris dari furu’ (keturunan/anak cucu si mayit) ada tiga macam;
1. Lelaki semua: Allah l tidak menentukan jatah waris tertentu bagi mereka. Bentuk perwarisan mereka, dengan cara ta’shib yaitu mendapatkan apa yang tersisa dari harta waris, setelah dibagikan kepada ashhabul furudh.2 Ahli waris yang mewarisi dengan cara ta’shib ini disebut dengan ‘ashabah. Jika berjumlah satu orang, maka semua yang tersisa setelah pembagian terhadap ashhabul furudh menjadi miliknya. Jika berjumlah lebih dari satu orang (dua orang ke atas), maka apa yang tersisa dari pembagian tersebut dibagi sama rata sesama mereka.
2. Perempuan semua: Jika berjumlah satu orang, maka jatahnya adalah ½ (setengah) dari harta waris. Jika berjumlah lebih dari satu orang (dua orang ke atas), maka jatah warisnya adalah 2/3 (dua pertiga) dengan dibagi sama rata sesama mereka.
3. Terdiri dari lelaki dan perempuan: Allah l tidak menentukan jatah waris tertentu bagi mereka. Sehingga mereka mewarisi dengan cara ta’shib. Adapun cara pembagian harta waris tersebut di antara mereka, maka dengan sistem jatah lelaki dua kali lipat dari jatah perempuan.
Adapun ushul (orangtua si mayit dan yang di atasnya), mempunyai dua keadaan:
1. Si mayit mempunyai beberapa anak, baik lelaki maupun perempuan:
– Jika si mayit mempunyai sejumlah anak lelaki atau lelaki dan perempuan, maka orangtua si mayit baik bapak maupun ibu mendapatkan 1/6 (seperenam) dari harta waris, sedangkan sisanya untuk anak-anak si mayit (sebagai ‘ashabah). ‘Ashabah dari jenis furu’ lebih kuat kedudukannya dari ‘ashabah jenis ushul, karena furu’ merupakan bagian dari si mayit.
– Jika anak-anak si mayit tersebut dari kalangan perempuan saja, maka mereka mengambil jatah yang telah ditentukan Allah l untuk mereka yaitu 2/3 (duapertiga), dan jika tersisa maka untuk bapak si mayit, karena dia yang paling berhak mendapatkannya dari kalangan lelaki (‘ashabah). Jika bersama anak-anak perempuan dan bapak tersebut ada ibu si mayit, maka tak terbayangkan si bapak bisa mendapatkan sisa dari harta waris tersebut.3
2. Si mayit tidak mempunyai anak. Dalam kondisi semacam ini kedua orangtua si mayit mewarisi hartanya. Sang ibu mendapat 1/3 (sepertiga), sedangkan bapak mendapatkan sisanya (‘ashabah). Kecuali jika si mayit mempunyai dua orang saudara atau lebih, maka sang ibu mendapat 1/6 (seperenam) dan sisanya untuk bapak. Kemudian jika mencermati firman Allah l:
“Dan ia diwarisi oleh kedua orangtuanya (saja)…”
Maka amat memungkinkan bagi selain kedua orangtua untuk mewarisi harta si mayit, sebagaimana dalam kasus yang dikenal dengan ‘Umariyyatani’, yaitu;
1) Si mayit tidaklah meninggalkan ahli waris kecuali suami, ibu, dan bapak.
2) Si mayit tidaklah meninggalkan ahli waris kecuali istri, ibu, dan bapak.
Dalam kondisi semacam ini suami maupun istri mengambil jatahnya terlebih dahulu (suami ½, sedangkan istri ¼), kemudian ibu mendapat 1/3 dari harta yang tersisa, sedangkan bapak mendapatkan sisanya. Karena Allah l telah menentukan jatah bapak dua kali lipat dari jatah ibu di saat yang mewarisi hanya mereka berdua saja, maka seperti itu pulalah manakala mereka berdua mewarisi bersama salah seorang ahli waris lainnya (sebagaimana kasus di atas). Wallahu a’lam.
Ayat kedua adalah firman Allah l:
“Dan bagi kalian (para suami) setengah (1/2) dari harta yang ditinggalkan oleh istri-istri kalian……..” (An-Nisa’: 12)4
Dalam ayat ini Allah l menjelaskan bahwa suami mempunyai dua keadaan:
1. Istrinya yang meninggal dunia tersebut mempunyai anak baik lelaki maupun perempuan. Dalam kondisi semacam ini, suami mendapatkan ¼ (seperempat) dari harta waris.
2. Istrinya yang meninggal dunia tersebut tidak mempunyai anak. Dalam kondisi semacam ini, suami mendapatkan ½ (setengah) dari harta waris.
Dalam ayat ini pula Allah l menjelaskan bahwa istri juga mempunyai dua keadaan:
1. Suaminya yang meninggal dunia tersebut mempunyai anak, baik lelaki maupun perempuan. Dalam kondisi semacam ini, istri mendapatkan 1/8 (seperdelapan).
2. Suaminya yang meninggal dunia tersebut tidak mempunyai anak. Dalam kondisi semacam ini, istri mendapatkan ¼ (seperempat).
Adapun anak-anak ibu (saudara seibu dari si mayit), maka Allah l menjelaskan bahwa mereka bisa mewarisi dalam kasus kalalah.5 Jika jumlahnya satu orang maka jatah warisnya adalah 1/6 (seperenam), dan jika dua orang atau lebih maka mereka bersekutu dalam 1/3 (sepertiga). Tidak ada perbedaan jatah antara lelaki dan perempuan di antara mereka (dibagi sama rata). Karena –wallahu a’lam– keterkaitan mereka dengan si mayit sebatas dari jalur ibu (perempuan) saja tanpa ada jalur dari bapak yang dapat menjadikan lelaki lebih banyak jatahnya dari perempuan.
Ayat ketiga adalah firman Allah l:
“Mereka meminta fatwa kepadamu tentang kalalah. Katakanlah: ‘Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah…’.” (An-Nisa’: 176)6
Dalam ayat ini Allah l menjelaskan jatah waris saudara-saudara si mayit selain dari jalur ibunya, dalam hal ini adalah saudara si mayit sekandung, dan juga saudara sebapak. Mereka terbagi menjadi tiga:
1. Lelaki semua: Mereka mewarisi bersama-sama (tanpa ada jatah tertentu) dan dibagi sama rata sesama mereka.
2. Perempuan semua: Mereka mewarisi dengan jatah tertentu; jika satu orang maka mewarisi ½ (setengah) dan jika dua orang atau lebih maka mewarisi 2/3 (duapertiga) yang dibagi sama rata sesama mereka.
3. Lelaki dan perempuan: Mereka mewarisi bersama-sama (tanpa ada jatah tertentu) dan dibagi dengan sistem jatah lelaki dua kali lipat dari jatah perempuan.
Adapun sabda Rasulullah n:
أَلْحِقُوا الْفَرَائِضَ بِأَهْلِهَا فَمَا بَقِيَ لِأَوْلَى رَجُلٍ ذَكَرٍ
“Berikanlah bagian/jatah pembagian waris yang Allah tentukan (1/2, 1/3, ¼, 1/6, 1/8, 2/3) kepada para pemiliknya, dan apa yang tersisa maka untuk ahli waris lelaki yang paling kuat (berhak).”  (HR. Al-Bukhari, no. 6733, dari sahabat Abdullah bin Abbas c)
Maka dapat diambil darinya jatah waris selain ushul (orangtua dan yang di atasnya), furu’ (keturunan/anak cucu si mayit), dan saudara-saudara si mayit. Tidaklah mewarisi dari mereka kecuali yang lelaki dan mewarisinya pun tanpa ada jatah tertentu (dengan cara ta’shib). Jika mereka terdiri dari beberapa jenis ahli waris, maka didahulukan yang lebih kuat/berhak, seperti: paman lebih didahulukan daripada anak paman tersebut, dan yang sekandung lebih didahulukan daripada yang sebapak saja.
Sedangkan firman Allah l:
“Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat) di dalam Kitab Allah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (Al-Anfal: 75)
menerangkan tentang hak waris dzawil arham (karib kerabat) yang bukan ashhabul furudh dan bukan pula ‘ashabah. Akan tetapi ayat ini bukan sebagai nash dalam permasalahan waris. Lebih dari itu, para ulama berbeda pendapat tentang waris dzawil arham (karib kerabat) tersebut.”7 (Tashilul Faraidh, hal. 7-9)

1 Kelengkapan ayat dan artinya bisa dilihat pada pembahasan yang telah lalu ‘Dasar Pijakan Ilmu Al-Faraidh’.
2 Lihat kembali maknanya pada pembahasan ‘Bentuk Perwarisan dalam Hukum Waris Islam’.
3 Menurut hemat kami –wallahu a’lam– dalam kondisi semacam ini bapak masih mendapatkan sisa waris, dengan rincian sebagai berikut; anak-anak perempuan mendapat 2/3 karena jumlah mereka lebih dari satu, ibu mendapat 1/6 karena ada anak-anak si mayit, sedangkan bapak sebagai ‘ashabah. Setelah dihitung dengan pokok masalah (ashlul mas’alah) yaitu 6, maka anak-anak perempuan mendapat 4, ibu mendapat 1 dan sisanya 1 untuk bapak.
4 Kelengkapan ayat dan artinya bisa dilihat pada pembahasan yang telah lalu ‘Dasar Pijakan Ilmu Al-Faraidh’.
5 Kalalah adalah seseorang yang meninggal dunia tanpa mempunyai bapak dan anak.
6 Kelengkapan ayat dan artinya bisa dilihat pada pembahasan yang telah lalu ‘Dasar Pijakan Ilmu Al-Faraidh’.
7 Untuk mengetahui lebih jelas tentang dzawil arham dan permasalahan warisnya, silakan membaca pembahasan berikutnya ‘Kasus-Kasus Seputar Waris’.

Selayang Pandang Hukum Waris Islam

(ditulis oleh: Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi)

Pengaturan Harta Waris Mutlak Di Tangan Allah l dan Rasul-Nya n
Bani Adam merupakan makhluk yang senantiasa berinteraksi dengan sesamanya. Keberadaannya yang majemuk; tua, muda, laki, perempuan, bersuku dan berbangsa, sungguh meramaikan kehidupan ini. Generasi demi generasi pun datang silih berganti seiring dengan berputarnya roda zaman. Semua itu mengingatkan kita akan kekuasaan Allah l, Pencipta alam semesta Yang Maha Kuasa lagi Maha Pengatur, Maha Memilihkan segala yang terbaik bagi hamba-Nya lagi Maha suci dan Maha Tinggi. Allah l berfirman:
“Dan Rabb-mu menciptakan segala apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia).” (Al-Qashash: 68)
Dengan kekuasaan-Nya yang mutlak Allah l menentukan segala aturan dan pilihan tersebut kepada para hamba-Nya. Baik ketentuan yang bersifat qadari/kauni (berkaitan dengan takdir Allah l yang terjadi di alam semesta) maupun yang bersifat diniy (berkaitan dengan prinsip-prinsip beragama), termasuk di dalamnya cara pembagian harta waris.
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin t berkata: “Allah l telah menentukan hukum waris tersebut dengan segala hikmah dan keilmuan-Nya. Dia mengatur pembagiannya kepada segenap ahli waris dengan cara terbaik dan teradil, yang itu merupakan konsekuensi dari hikmah-Nya yang tinggi, kasih sayang-Nya yang meliputi segala sesuatu, dan keilmuan-Nya yang luas. Sebagaimana pula Dia l menjelaskan cara pembagian tersebut dengan sebaik-baik penjelasan dan selengkap-lengkapnya. Sehingga didapatilah ayat-ayat dan hadits-hadits tentang waris benar-benar mencakup segala kemungkinan yang terjadi dalam permasalahan waris. Baik ayat-ayat dan hadits-hadits yang amat jelas dan dapat dipahami oleh semua orang ataupun yang membutuhkan perhatian khusus dalam memahaminya.” (Tashilul Faraidh, hal. 5)
Pembagian harta waris sendiri, merupakan masalah sensitif yang seringkali menjadi sumber konflik dalam sebuah keluarga. Maha Suci Allah Yang Pengasih lagi Maha Penyayang, manakala berkenan mengatur secara langsung cara pembagian harta waris tersebut sebagaimana dalam Al-Qur’an, ataupun melalui lisan Rasulullah n (sebagaimana dalam Sunnahnya). Dengan pembagian tersebut, masing-masing dari ahli waris akan mendapatkan bagian sesuai dengan porsinya, tak seorang pun dirugikan. Karena yang menetapkannya adalah Allah l Dzat Yang Maha Mengetahui, Maha Bijaksana lagi Maha Penyantun. Sebagaimana firman Allah l:
“Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (An-Nisa’: 11)
“(Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syariat yang benar-benar dari Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun.” (An-Nisa’: 12)
Manakala keharmonisan sebuah keluarga yang ditinggalkan si mayit (ahli waris) sangat bergantung pada penerapan aturan pembagian tersebut, maka Allah l menegaskan:
“(Batasan-batasan hukum) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam Al-Jannah yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. Maka barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam An-Nar sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan.” (An-Nisa’: 13-14)
Dari ayat-ayat di atas dapatlah disimpulkan bahwa Allah l menetapkan hukum waris tersebut berdasarkan keilmuan dan hikmah-Nya. Oleh karena itu, hukum waris tersebut harus diterapkan dan tidak boleh ditambah ataupun dikurangi. Berikutnya, Allah l menjanjikan Al-Jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai bagi orang-orang yang menaati-Nya dalam hal ketetapan hukum waris tersebut dengan berjalan di atasnya, dan mengancam siapa saja yang melampaui batas-batas yang telah ditetapkan-Nya dengan dimasukkan ke dalam An-Nar dan diazab dengan siksa yang menghinakan. (Lihat Tashilul Faraidh, hal. 6)

Bentuk Perwarisan dalam Hukum Waris Islam
Hukum waris Islam sangat sesuai dengan prinsip keadilan, bahkan merupakan kebalikan dari hukum waris jahiliah yang diliputi kezaliman. Di masa jahiliah, sang ahli waris terbatas pada anak lelaki yang mampu menunggang kuda, cakap memanah, dan siap berlaga di medan tempur. Adapun anak perempuan ataupun anak lelaki yang masih kecil, tidak mendapatkan harta waris. Di sisi lain, anak angkat (hasil adopsi) justru bisa mendapatkan harta waris tersebut. Kemudian jika si mayit tak mempunyai anak lelaki dengan kriteria di atas, maka harta warisnya pun akan berpindah kepada saudara laki-lakinya atau pamannya. (Untuk lebih rincinya, lihat At-Tahqiqat Al-Mardhiyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah, hal. 17-21)
Dalam hukum waris Islam, (secara garis besar) ada dua bentuk perwarisan yang tak akan didapati pada hukum selainnya:
1. Dengan cara fardh (bil-fardhi), yaitu mendapatkan harta waris sesuai dengan jatah tertentu yang ditentukan Allah l dan Rasul-Nya n. Jatah waris yang ditentukan Allah l dan Rasul-Nya n ada enam; 1/2, 1/3, ¼, 1/6, 1/8, dan 2/3. Kemudian ditambah satu lagi, yaitu; tsulutsul baqi (1/3 dari harta yang tersisa) yang merupakan ijtihad Khalifah ‘Umar bin Al-Khaththab. Seseorang yang mewarisi harta warisnya dengan cara fardh ini disebut shahibul fardh, dan jika berjumlah banyak disebut ashhabul furudh1.
2. Dengan cara ta’shib (bit-ta’shib), yaitu mendapatkan harta waris dengan cara mengambil sisa harta yang telah dibagikan kepada ashhabul furudh, tanpa ada ketentuan jatahnya. Atau dengan mengambil seluruhnya manakala sendirian dan tidak ada ashhabul furudh yang bersamanya. Seseorang yang mewarisi harta warisnya dengan cara ta’shib ini disebut ‘ashib, dan jika berjumlah banyak disebut ‘ashabah.2
Jika dalam satu masalah waris terkumpul dua bentuk perwarisan di atas, maka yang dilakukan terlebih dahulu adalah cara fardh, kemudian setelah itu dengan cara ta’shib. Atas dasar itu, jika dalam satu masalah waris terkumpul ‘ashib/’ashabah dan shahibul fardh/ashhabul furudh, maka jatah shahibul fardh/ashhabul furudh dibagikan terlebih dahulu, kemudian yang tersisa menjadi milik ‘ashib/’ashabah. Hal ini berdasarkan bimbingan Rasulullah n:
اِقْسِمُوا الْمَالَ بَيْنَ أَهْلِ الْفَرَائِضِ عَلَى كِتَابِ الله، فَمَا تَرَكَتِ الْفَرَائِضُ فَلِأَوْلَى رَجُلٍ ذَكَرٍ
“Bagikanlah harta waris itu diantara ashhabul furudh (terlebih dahulu) sesuai dengan apa yang terdapat dalam Kitabullah, kemudian apa yang disisakan oleh ashhabul furudh adalah untuk lelaki yang terkuat (dari kalangan ‘ashabah, pen.). ” (HR. Al-Bukhari no. 6746 dan Muslim no. 1615, dari sahabat Abdullah bin Abbas c) [Lihat Al-Khulashah Fi Ilmil Faraidh, hal. 64-65]

1 Batasan minimal banyak (jamak) dalam ilmu al-faraidh adalah dua, bukan tiga.

Mengenal Ilmu Faraidh

(ditulis oleh: Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi)

Islam yang dibawa Rasulullah n merupakan rahmat bagi alam semesta. Keberadaannya sebagai agama yang sempurna dan diridhai Allah l benar-benar menyinari perjalanan hidup umat manusia, baik sebagai komunitas maupun individu. Semenjak belia, kehidupan anak manusia telah ditata sebaik-baiknya dalam Islam. Pada hari ketujuh dari kelahirannya, disyariatkan untuk disembelihkan dua ekor kambing (bila lelaki) dan bila perempuan disembelihkan satu ekor kambing, sebagai nasikah (aqiqah)nya. Pada hari itu pula diberi nama dan dibersihkan rambutnya (digundul). Rasulullah n bersabda:
كُلُّ غُلَامٍ رَهِيْنَةٌ بِعَقِيْقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى
“Setiap anak kecil tergadaikan dengan aqiqahnya, pada hari ketujuh (dari kelahirannya) disembelihkan untuknya, digundul, dan diberi nama.” (HR. Abu Dawud, dari sahabat Samurah bin Jundub z. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani  t dalam Shahih Sunan Abi Dawud no. 2838)
Beliau n juga bersabda:
عَنِ الْغُلَامِ شَاتَانِ وَعَنِ الْجَارِيَةِ شَاةٌ، لَا يَضُرُّكُمْ أَذُكْرَانًا كُنَّ أَمْ إِنَاثًا
“Tentang (aqiqah) anak lelaki dua ekor kambing dan anak perempuan satu ekor kambing. Tidak masalah, apakah kambing tersebut jantan ataukah betina.” (HR. Abu Dawud, dari sahabat Ummu Kurzin x. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih Sunan Abi Dawud no. 2835)
Demikian pula selanjutnya dari perjalanan hidupnya; masa tumbuh kembang, masa dewasa, dan masa tua, tak lupa diperhatikan oleh Islam baik dalam hal jasmani maupun rohani. Setelah meninggal dunia sekalipun, Islam masih memerhatikannya; disyariatkan baginya untuk dimandikan, dikafani, dishalati, dan dimakamkan dengan penuh hormat. Tak berhenti sampai di situ. Segala hal yang terkait dengan harta waris yang ditinggalkannya pun diatur dengan seadil-adilnya, bahkan dipaparkan sejelas-jelasnya dalam kitab suci Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah n, sebagaimana yang akan disebutkan dalam pembahasan ‘Dasar Pijakan Ilmu Al-Faraidh’.
Para ulama pun tak tinggal diam. Mereka merangkum berbagai masalah penting seputar permasalahan waris tersebut dalam spesialisasi ilmu tertentu yang dikenal dalam khazanah ilmu-ilmu Islam dengan sebutan ilmu al-faraidh. Sebuah ilmu yang tergolong penting dalam Islam, mengingat hukum waris Islam semuanya tercakup dalam ilmu tersebut dan umat pun (dalam setiap generasinya) senantiasa membutuhkannya.
Sahabat Umar bin Al-Khaththab z mengatakan: “Pelajarilah ilmu al-faraidh, karena ia bagian dari agama kalian.” (Lihat At-Tahqiqat Al-Mardhiyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah karya Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan, hal. 15)
Para pembaca yang semoga dirahmati Allah l, untuk mengetahui lebih jelas tentang ilmu al-faraidh, ikutilah dengan saksama pembahasan berikut ini.

Definisi Ilmu Al-Faraidh
Menurut Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan, definisi ilmu al-faraidh yang paling tepat adalah apa yang disebutkan Ad-Dardir dalam Asy-Syarhul Kabir (juz 4, hal. 406), bahwa ilmu al-faraidh adalah: “Ilmu yang dengannya dapat diketahui siapa yang berhak mewarisi dengan (rincian) jatah warisnya masing-masing dan diketahui pula siapa yang tidak berhak mewarisi.” (Lihat At-Tahqiqat Al-Mardhiyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah, hal. 11)

Pokok Bahasan Ilmu Al-Faraidh
Pokok bahasan ilmu al-faraidh adalah pembagian harta waris yang ditinggalkan si mayit kepada ahli warisnya, sesuai bimbingan Allah l dan Rasul-Nya n. Demikian pula mendudukkan siapa yang berhak mendapatkan harta waris dan siapa yang tidak berhak mendapatkannya dari keluarga si mayit, serta memproses penghitungannya agar dapat diketahui jatah/bagian dari masing-masing ahli waris tersebut. (Lihat Al-Khulashah Fi ‘Ilmil Faraidh karya Nashir bin Muhammad Al-Ghamidi, hal. 21)

Dasar Pijakan Ilmu Al-Faraidh
Dasar pijakannya adalah Al-Qur’an, Sunnah Rasulullah n, dan ijma’. Adapun Al-Qur’an, maka sebagaimana termaktub dalam Surah An-Nisa’ ayat 11, 12, dan 176. Allah l berfirman:
“Allah mensyariatkan bagi kalian tentang (pembagian harta waris untuk) anak-anak kalian. Yaitu: bagian (jatah) seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan; dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka dua pertiga (2/3) dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh setengah harta (1/2), dan untuk kedua orangtua (ibu bapak), bagi masing-masingnya seperenam (1/6) dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu bapaknya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga (1/3); jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam (1/6). (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya. (Tentang) orangtua dan anak-anak kalian, maka kalian tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dan bagi kalian (para suami) setengah (1/2) dari harta yang ditinggalkan oleh istri-istri kalian, jika mereka tidak mempunyai anak. Jika istri-istri kalian itu mempunyai anak, maka kalian mendapat seperempat (1/4) dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya. Para istri memperoleh seperempat (1/4) harta yang kalian tinggalkan jika kalian tidak mempunyai anak. Jika kalian mempunyai anak, maka para istri memperoleh seperdelapan (1/8) dari harta yang kalian tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kalian  buat atau (dan) sesudah dibayar utang-utang kalian. Jika seseorang mati, baik lelaki maupun perempuan yang tidak meninggalkan bapak dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara lelaki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja), maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam (1/6) harta. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga (1/3) itu, sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar utangnya dengan tidak memberi mudarat (kepada ahli waris). (Allah l menetapkan yang demikian itu sebagai) syariat yang benar-benar dari Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Penyantun.” (An-Nisa’: 11-12)
“Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Katakanlah: ‘Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu): jika seseorang meninggal dunia, dan ia tidak mempunyai anak dan saudara perempuan, maka bagi saudaranya yang perempuan itu setengah dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang lelaki mewarisi (seluruh harta saudara perempuan), jika ia tidak mempunyai anak; tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki dan perempuan, maka bagian seorang saudara lelaki sebanyak bagian dua orang saudara perempuan. Allah menerangkan (hukum ini) kepada kalian, supaya kalian tidak sesat, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (An-Nisa’: 176)
Sedangkan Sunnah Rasulullah n, maka sebagaimana sabda beliau n:
أَلْحِقُوا الْفَرَائِضَ بِأَهْلِهَا فَمَا بَقِيَ لِأَوْلَى رَجُلٍ ذَكَرٍ
“Berikanlah bagian/jatah waris yang Allah tentukan (1/2, 1/3, ¼, 1/6, 1/8, 2/3) kepada para pemiliknya, sedangkan apa yang tersisa adalah untuk ahli waris lelaki yang paling kuat (berhak).” (HR. Al-Bukhari, no. 6733, dari sahabat Abdullah bin Abbas c)
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di t berkata: “Ayat-ayat tersebut (An-Nisa’: 11-12, pen.) dan ayat terakhir dari surat An-Nisa’ merupakan ayat-ayat yang mengandung sistem waris Islam. Sesungguhnya ayat-ayat tersebut dan hadits Abdullah bin Abbas c yang terdapat dalam Shahih Al-Bukhari:
أَلْحِقُوا الْفَرَائِضَ بِأَهْلِهَا فَمَا بَقِيَ لِأَوْلَى رَجُلٍ ذَكَرٍ
“Berikanlah bagian/jatah waris yang Allah tentukan (1/2, 1/3, ¼, 1/6, 1/8, 2/3) kepada para pemiliknya, sedangkan apa yang tersisa  untuk ahli waris lelaki yang paling kuat (berhak).”
mencakup mayoritas bahkan semua hukum waris sebagaimana yang akan anda lihat nanti, kecuali jatah waris nenek. Akan tetapi telah ditetapkan dalam beberapa kitab Sunan dari sahabat Al-Mughirah bin Syu’bah dan Muhammad bin Maslamah c bahwa Nabi n telah memberi nenek jatah waris 1/6 (seperenam), seiring dengan adanya ijma’ ulama dalam masalah tersebut.” (Taisir Al-Karimirrahman, hal. 132)
Hal serupa dinyatakan Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin t dalam Tashilul Faraidh (hal. 6) dan Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah dalam At-Tahqiqat Al-Mardhiyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah (hal. 8). Hanya saja dalam pernyataan Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di t terdapat penyebutan ijma’ yang juga merupakan dasar pijakan dalam masalah waris.

Tujuan Ilmu Al-Faraidh
Tujuan ilmu al-faraidh adalah menyampaikan segenap hak waris kepada yang berhak mendapatkannya. (Lihat At-Tahqiqat Al-Mardhiyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah, hal. 9, Tashilul Faraidh, hal. 11 dan Al-Khulashah Fi Ilmil Faraidh hal. 22 dan 26)

Hukum Mempelajari Ilmu Al-Faraidh
Hukum mempelajarinya adalah fardhu kifayah. Jika sebagian dari umat ini ada yang mempelajarinya, maka gugurlah dosa (kewajiban) bagi yang lainnya. (Lihat At-Tahqiqat Al-Mardhiyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah, hal. 9, Tashilul Faraidh, hal. 11 dan Al-Khulashah Fi Ilmil Faraidh hal. 22 dan 26).
Wallahu a’lam.

Dibalik Siasat Mengugat Waris

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafrudin)

Minuman keras, bukan sesuatu yang aneh dalam kehidupan masyarakat Arab di masa jahiliah dulu. Terkhusus di kalangan Quraisy. Minuman keras atau khamr telah menjadi bagian yang lekat yang mewarnai aktivitas keseharian masyarakat. Namun begitu, kala ayat yang berisi pengharaman khamr turun, sontak kaum muslimin memuntahkannya. Khamr-khamr yang tersimpan di tempayan, ditumpah ruah. Dibuang menjadi barang tiada berharga. Tempayan, guci besar pun diluluhlantakkan. Hancur lebur tiada tersisa khamr lagi.
Ibnu Katsir t dalam tafsirnya (3/212) mengisahkan perilaku sebagian sahabat saat turun ayat yang mengharamkan khamr. Anas bin Malik z menuturkan: “Ketika saya mengedarkan gelas kepada Abu Thalhah, Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarrah, Mu’adz bin Jabal, Suhail bin Baidha’, dan Abu Dujanah hingga kepala-kepala mereka doyong lantaran campuran busr (bakal ruthab/kurma muda, khamr bisa dihasilkan darinya) dan kurma. Kemudian saya mendengar seruan, ‘Ketahuilah, sungguh khamr telah diharamkan!’ Maka tak seorang pun dari kami yang keluar atau masuk, hingga kami tumpahkan minuman khamr tersebut, lalu kami hancurkan wadahnya. Sebagian kami berwudhu, sebagian lagi mandi. Kami gunakan wewangian dari Ummu Sulaim x(istri Abu Thalhah/ ibu Anas bin Malik) lalu bergegas menuju masjid. Saat itulah Rasulullah n membacakan ayat:
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamr dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).” (Al-Maidah: 90-91)
Begitulah perilaku generasi terbaik umat ini dalam menyikapi ayat yang diturunkan saat itu. Ketundukan, kepatuhan, dan ketaatan merupakan sikap terpuji yang melekat kokoh pada mereka. Pantas bila mereka mendapat keridhaan dari Allah l. Firman-Nya:
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. (At-Taubah: 100)
Demikian pula yang terjadi di kalangan sahabat wanita. Mereka mengimani sepenuh hati terhadap ayat-ayat Allah l yang turun kepada mereka. Tengoklah saat peristiwa diwajibkan mereka mengenakan hijab sebagai penutup aurat. Tak ada sikap membangkang atau menolak. Mereka tunduk, patuh, dan taat. Sebagaimana diungkapkan Aisyah x: “Semoga Allah l merahmati wanita-wanita yang hijrah pertama-tama. Tatkala Allah l menurunkan ayat:
‘Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.’ (An-Nur: 31)
Mereka lantas merobek-robek kainnya lalu mengenakannya sebagai khimar/kain kerudung (yang menutup tubuh mereka).” (Shahih Al-Bukhari no. 4758, 4759, Abu Dawud no. 4102)
Turunnya ayat ini memupus kebiasaan jahiliah yang mendedahkan aurat. Pada masa jahiliah, seorang wanita biasa mengenakan khimar dari arah belakang hingga bagian depannya tersingkap, nampak auratnya. Dengan turunnya ayat ini, para wanita diperintah untuk menutup seluruh tubuhnya. (Lihat Fathul Bari, Kitab At-Tafsir, hal. 383)
Sikap tunduk hati terhadap syariat Allah l ini terekam melalui penuturan Shafiyah bintu Syaibah x. Katanya: Kami tengah bersama Aisyah x. Kami menyebutkan perihal keutamaan para wanita Quraisy. Maka, Aisyah x menimpali tentang hal itu seraya bertutur, “Sesungguhnya bagi wanita Quraisy, mereka memiliki keutamaan-keutamaan. Namun, sungguh demi Allah, aku melihat pula keutamaan-keutamaan pada wanita Anshar. Para wanita Anshar amat sangat kuat pembenarannya terhadap kitabullah (Al-Qur’an). Saat diturunkan ayat:
Katakanlah kepada wanita yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.’ (An-Nur: 31)
Para lelaki mereka membacakan ayat ini kepada istri, anak, saudara perempuannya, dan segenap sanak saudaranya. Maka, tiadalah yang diperbuat para wanita Anshar itu melainkan menyambut seruan ayat tersebut dengan mengulurkan kain kerudung mereka. Mereka lakukan itu semua dengan didasari keimanan dan sikap pembenaran terhadap apa yang telah diturunkan Allah l di dalam kitab-Nya yang mulia.” (Tafsir Ibnu Katsir, 6/52)
Beberapa kisah di atas memancarkan ketulusan, kepatuhan, ketundukan, dan ketaatan manusia-manusia pilihan terhadap ayat-ayat Allah l. Mereka peluk Islam dengan sepenuh hati dan raga. Menurut Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan hafizhahullah, Islam adalah keikhlasan kepada Allah l dalam mengesakan (tauhid), tunduk patuh dengan ketaatan serta berlepas diri dari kesyirikan dan pelaku kesyirikan. Sesungguhnya, seorang muslim tidak boleh menyatukan bentuk penyerahan diri kepada Allah l dengan bentuk penyerahan diri kepada selain Allah l. Siapa saja yang menyatukan bentuk penyerahan diri kepada Allah l dengan bentuk penyerahan diri kepada selain Allah l, berarti dia seorang musyrik. Barangsiapa yang melakukan pembangkangan dalam penyerahan diri kepada Allah l, berarti dia seorang yang sombong, arogan. Allah l berfirman:
“(Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (Al-Baqarah: 112) [Durus min Al-Qur’an Al-Karim, hal. 98-99]
Apa yang telah diperbuat para sahabat dan sahabiyah (sahabat wanita) merupakan bukti keimanan mereka terhadap Allah l dan Rasul-Nya n. Sebab, iman itu meyakini dengan hati, mengucapkan dengan lisan, dan mengamalkan dengan anggota badan. Amal termasuk hakikat keimanan itu sendiri. Melalui amal itulah akan nampak bertambah dan berkurangnya iman seseorang. Sebab, iman akan bertambah dengan mewujudkan ketaatan, berkurang lantaran kemaksiatan. Allah l menggambarkan perihal amal sebagai hakikat keimanan itu sendiri melalui salah satu firman-Nya:
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Rabblah mereka bertawakal, (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Rabbnya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia.” (Al-Anfal: 2-4)
Berdasar hadits dari Abu Hurairah z, sesungguhnya Rasulullah n bersabda:
الْإِيْمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ –أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ– شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ
“Iman itu terdiri tujuh puluhan atau enam puluhan cabang. Tertinggi adalah mengucapkan Lailaha illallah dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan di jalan. Dan malu adalah salah satu cabang keimanan.” (Shahih Al-Bukhari no. 9 dan Shahih Muslim no. 58) [Lihat Al-Qaulul Mufid fi Adillatit Tauhid, Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahab Al-Wushabi, hal. 66)
Karenanya, tidak ada pilihan lain bagi seorang muslim untuk berupaya mengamalkan segala ketetapan yang telah disampaikan Allah l dan Rasul-Nya n. Berupaya memantapkan diri untuk senantiasa berada di atas ketetapan yang telah dicanangkan Allah l dan Rasul-Nya n. Firman Allah l:
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukminah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (Al-Ahzab: 36)
Satu dari sekian banyak ketetapan yang telah Allah l dan Rasul-Nya n tetapkan adalah masalah pembagian waris. Masalah satu ini kerap kali dijadikan celah untuk menyerang Islam. Terlebih di kalangan pegiat emansipasi wanita, masalah pembagian waris dalam syariat Islam ini senantiasa dijadikan isu untuk membangkitkan perlawanan kaum muslimah terhadap Islam. Pemikiran kufur ini sengaja diembuskan sebagai upaya musuh-musuh Islam untuk memadamkan agama Allah l serta mengeluarkan kaum muslimah dari tradisi agamanya yang luhur. Mereka lontarkan pemikiran seakan-akan pembagian waris menurut Islam tidak memberikan nilai keadilan terhadap kaum wanita. Ini terkait bahwa dalam syariat Islam wanita mendapat setengah dari apa yang diperoleh laki-laki. Sebuah upaya sistematis untuk menghancurkan Islam, Allah l berfirman:
“Mereka ingin hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci.” (Ash-Shaf: 8)
Demikianlah di balik siasat menggugat waris.
Padahal, seandainya mereka mau jujur, sungguh Islam telah memberikan hak yang demikian indah terhadap kaum wanita. Terkhusus dalam masalah pembagian waris. Tengoklah kehidupan kaum wanita sebelum kemunculan Islam. Tradisi hak mewarisi di kalangan bangsa Romawi, Yunani, Cina, India, Persia, dan lainnya hanya ada pada kaum laki-laki. Adapun kaum wanita tidak diberikan hak untuk mendapatkan bagian waris. Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan hafizhahullah memberikan ilustrasi tentang kehidupan jahiliah dulu, mereka mengharamkan para wanita dan anak-anak kecil mendapatkan bagian waris. Hanya kaum laki-laki yang telah dewasa, yang telah mampu menunggang kuda dan menyandang senjata yang berhak mendapatkan waris. Maka, saat Islam muncul dengan kemilau cahayanya yang menerangi kegelapan, tradisi batil yang menyelimuti masyarakat jahiliah itupun dilibas habis. Allah l berfirman:
“Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu bapak dan kerabatnya, dan bagi wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu bapak dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bagian yang telah ditetapkan.” (An-Nisa’: 7)
Ayat ini merupakan pernyataan guna menentang tradisi jahiliah yang tidak memperkenankan para wanita dan anak-anak memperoleh harta waris. Berdasar ayat tersebut, tradisi jahiliah itu dinyatakan sebagai salah satu hal yang batil. Adapun firman Allah l:
“Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu: bagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan; dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separuh harta. Dan untuk dua orang ibu bapak, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu bapaknya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya. (Tentang) orangtuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (An-Nisa’: 11)
“Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Katakanlah: ‘Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu): jika seorang meninggal dunia dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan, maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan), jika ia tidak mempunyai anak; tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki dan perempuan, maka bagian seorang saudara laki-laki sebanyak bagian dua orang saudara perempuan. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu, supaya kamu tidak sesat. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (An-Nisa’: 176)
Firman Allah l di atas merupakan bentuk pernyataan yang membatilkan pernyataan kalangan jahiliah dewasa ini yang mengusung pemikiran persamaan bagian waris antara wanita dan laki-laki. Mereka yang menuntut harta waris harus dibagi sama antara wanita dan laki-laki adalah orang-orang yang menentang Allah l dan Rasul-Nya n serta melakukan permusuhan terhadap hukum-hukum Allah l. Maka, jika orang-orang jahiliah dulu menolak memberikan hak waris kepada wanita, sedang orang-orang jahil pada zaman kiwari menuntut harta waris yang bukan haknya. Adapun Islam bersikap adil dan memuliakan kaum wanita serta memberikan haknya kepada kaum wanita yang memang berhak untuk menerimanya. Semoga Allah  l membinasakan terhadap orang-orang kafir, munafik, dan yang menyimpang yang:
“Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai.” (At-Taubah: 32) [Al-Mulakhkhas Al-Fiqhi, hal. 193-194]
Islam dengan segala syariat, hukum, dan perundangannya telah menata dan menertibkan segala hukum, tradisi, dan situasi yang timpang dan tidak berkeadilan. Bila ada sebagian orang yang menyuarakan seakan syariat Islam itu timpang dan tidak adil maka ketimpangan dan rasa ketidakadilan tersebut salah satunya disebabkan ketidakpahaman terhadap syariat Islam. Banyak hikmah yang akan dipetik manakala pemahaman terhadap tatanan syariat Islam dipahami dengan benar dan penuh keimanan. Termasuk di antaranya masalah pembagian waris antara laki-laki dan wanita. Bila hal yang telah diatur syariat tersebut diyakini secara baik, maka akan mendatangkan kebaikan dan hikmah yang besar bagi kaum muslimin. Sebaliknya, bila syariat tersebut coba diusik lantaran hawa nafsu, maka yang bakal dipetik adalah kebinasaan. Allah l telah memperingatkan tentang hal ini sebagaimana firman-Nya:
“Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (An-Nur: 63)
Sebagai seorang muslim wajib untuk mengikuti ketetapan yang telah dimaktubkan Allah l dan Rasul-Nya n. Firman Allah l:
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.” (Al-Hasyr: 7)
Wallahu a’lam.

Surat Pembaca edisi 47

Hukum Safar dan TKW
Tolong dibahas macam-macam safar dan apakah pergi dalam rangka belajar yang bukan ilmu agama termasuk safar sehingga berlaku hukum-hukum safar?
Budi-   Tegal
0815757xxxxx

Ada baiknya Asy-Syariah mengangkat masalah Tenaga Kerja Wanita (TKW) ke luar negeri, mengingat banyaknya orang yang belum mengerti tentang hal ini.
Ummu Abdah-Sidrap-Sulsel
0852429xxxx

Tentang tema safar dan hukum-hukum yang berkaitan dengannya isnya Allah akan dibahas di edisi 48, termasuk nantinya, insya Allah, akan menyinggung tentang TKW. Jazakumullahu khairan.

Mazhab Syafi’i
Ana punya usul untuk mengupas tentang mazhab Al-Imam Asy-Syafi’i karena masyarakat luas tidak banyak mengetahui ajaran Al-Imam Syafi’i.
M. Faisol-Denpasar
0813370xxxxx

Tentang mazhab Syafi’i, biografi Al-Imam Asy-Syafi’i, keyakinan-keyakinan rusak yang disandarkan kepada beliau, serta bantahan-bantahan ulama Syafi’iyah terhadap berbagai perkara batil yang dikait-kaitkan dengan beliau, insya Allah akan dibahas setelah beberapa edisi mendatang. Jadi pembaca mohon bersabar. Jazakumullahu khairan.

Tentang Zakat
Saya berharap supaya Asy-Syariah segera membahas masalah zakat secara khusus, detail, dan menyeluruh. Terlebih zakat termasuk salah satu pilar Islam dan juga keadaan kaum muslimin saat ini yang jauh dari ilmu din yang benar. Sehingga masalah zakat ini perlu segera diperhatikan dengan sungguh-sungguh. Tidak hanya zakat fithri tapi juga jenis zakat yang lain yang diwajibkan bagi seorang muslim. Juga bagaimana menyalurkannya. Saat ini banyak muncul lembaga amil zakat (swasta), juga adanya jenis zakat profesi, koperasi/perusahaan (kolektif), perniagaan, dll, yang tidak ada pada zaman dahulu. Bagaimana hal ini menurut syariat Islam yang benar?
Ibnu Mathari-Solo
0852925xxxxx

Mohon majalah Asy-Syariah membahas tentang zakat mal. Termasuk cara menghitungnya serta harta yang bagaimana yang wajib dizakati?
Abu Abdillah-Solo
0813234xxxxx

Tema zakat dan jenisnya insya Allah sudah masuk dalam agenda kami. Tentang zakat profesi sudah dibahas dalam rubrik Problema Anda edisi 46, meski tidak menutup kemungkinan akan disinggung lagi. Adapun hal-hal lainnya, ditunggu saja kehadirannya. Jazakumullahu khairan.


Demokrasi dan Pemilu
Tolong muat masalah demokrasi dan syubhat-syubhatnya karena sebentar lagi pemilu 2009.
Ipan – Sumedang
+62857237xxxxx

Pembahasan tentang demokrasi dan syubhat-syubhatnya bisa dilihat kembali di Majalah Asy-Syariah Vol. I/ No. 06/ Maret 2004/ Muharram 1425 H.
Insya Allah redaksi berencana akan memaparkan lebih lanjut beberapa poin penting terkait masalah tersebut pada saatnya. Jazakumullah khairan atas masukannya.

Mengenal Hukum Waris

Tak bisa dipungkiri, perkara warisan menjadi salah satu hal paling sering yang melatarbelakangi banyak peristiwa pembunuhan yang terjadi di sekitar kita. Belitan kebutuhan hidup telah membutakan mata hati manusia sehingga ia pun tega dan dengan entengnya menumpahkan darah saudaranya.
Rasa dengki dan subyektivitas yang tinggi dalam menakar permasalahan ini telah membenamkan akal sehat dalam lumpur emosi. Aturan agama diabaikan kalau tidak mau disebut dicampakkan. Alhasil, ”keadilan”, karena kuat dipengaruhi ego, tidak bisa menyentuh semua pihak. Selalu ada pihak-pihak yang merasa dirugikan atau dizalimi.
Padahal Allah l melalui syariat-Nya yang mulia telah mengatur dengan cukup rinci cara-cara menghitung warisan. Sehingga itu sudah sangat memadai dijadikan acuan bagi orang yang hendak mewariskan ataupun para ahli warisnya. Sehingga apapun jika sudah dihitung dengan “rumus” agama, mestinya membuat semua pihak bisa menerima atau legowo, kecuali tentunya mereka-mereka yang lebih dikuasai hawa nafsu.
Sayangnya, aturan yang sudah baku dan mengandung hikmah yang agung ini, masih saja hendak dipreteli oleh pihak-pihak tertentu. Pelakunya pun masih itu-itu saja, yakni orang-orang yang acap menyerukan agar syariat Islam perlu ditinjau (baca: direkontrusksi) ulang. Bermodal gelar kasihan dari Kanada, AS, atau negara Barat lainnya, mereka yang dielu-elukan oleh media anti Islam sebagai cendekiawan muslim, lancang mengotak-atik syariat. Yang memilukan, upaya penggembosan Islam itu bahkan didalangi kalangan akademisi yang berasal dari kampus-kampus ”Islam”.
Dengan beragam istilah dan redaksi yang terkesan ”intelek”, aturan hukum waris dalam Islam pun dituding miring. Hukum waris dianggap mengandung ketidakadilan, utamanya terhadap kaum perempuan. Karena sebagaimana telah diketahui, bagian waris perempuan ”hanya” setengah dari laki-laki. Tentu saja sikap ini adalah buah dari menafikan keimanan dan lebih mengedepankan logika. Orang-orang seperti mereka hanya berpikir sesaat dan tidak berwawasan jauh ke depan.
Sudah sepatutnya ketika menyatakan beriman, kita tumbuhkan dalam diri kita keyakinan bahwa syariat Allah l tidak diciptakan sebagai kesia-siaan. Namun mengandung banyak hikmah yang semua itu demi kemaslahatan manusia juga. Meski bisa jadi manusia dengan banyak keterbatasannya hanya bisa mengungkap sedikit saja hikmah dari berbagai perkara yang Allah l syariatkan.
Makan ketika lapar dan berhenti sebelum kenyang, minum dengan disela-selai nafas, tidur/berbaring dengan menghadap ke kanan, larangan meminum minuman yang sangat panas, buang air dengan berjongkok, khitan, dsb, adalah sedikit perkara dari syariat Islam di mana kemudian tinjauan medis mengakui kebenarannya. Hal-hal yang dahulu dianggap sepele bahkan sebagiannya justru dicibir akhirnya dijadikan pola hidup sehat. Padahal hal-hal ini sudah ada dalam Islam sejak belasan abad silam.
Oleh karena itu, semestinya kita membuang prasangka-prasangka negatif tentang syariat. Mari kita mengenal hukum waris sebagaimana yang telah diajarkan Allah l dan Rasul-Nya n.

Berdzikirlah Kepada Ku Niscaya Aku Akan Mengingatmu

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah)

Kehidupan dunia teramat memikat bagi kebanyakan insan. Berapa banyak mereka yang silau dengan keindahannya hingga melalaikan mereka dari mengingat Allah k, dari berzikir kepada-Nya. Padahal Allah Maha Baik terhadap mereka. Dia yang menciptakan mereka. Dia pula yang memelihara dan melimpahkan nikmat-Nya yang tiada terhitung kepada mereka. Tapi apa balasan mereka? Mereka melupakan-Nya dan berpaling dari-Nya! Kenyataan yang ada pada mereka ini jelas bertolak belakang dengan perintah Allah k kepada hamba-hamba-Nya. Dalam banyak ayat-Nya, Dia menyuruh mereka untuk senantiasa berzikir kepada-Nya dan banyak-banyak mengingat-Nya.
“Wahai orang-orang yang beriman, berzikirlah kalian kepada Allah dengan banyak.” (Al-Ahzab: 41)
Dia pun memuji dan menyiapkan pahala yang besar bagi hamba-hamba-Nya yang banyak berzikir kepada-Nya:
“Laki-laki yang banyak berzikir kepada Allah dan perempuan yang banyak berzikir kepada Allah, Allah siapkan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Al-Ahzab: 35)
Allah k memerintahkan hamba-Nya untuk banyak mengingat-Nya, berzikir kepada-Nya, bukan karena Dia membutuhkan si hamba atau beroleh keuntungan dengannya. Karena:
“…maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (Ali ‘Imran: 97)
Sebaliknya, para hamba-lah yang membutuhkan-Nya:
“Wahai manusia, kalianlah yang fakir (butuh) kepada Allah sementara Allah Dia-lah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” (Fathir: 15)
Allah k memerintahkan mereka untuk berzikir, karena kebaikan dan kemanfaatannya kembali kepada diri mereka sendiri. Mereka sangat butuh kepada Allah l, tak pernah mereka terlepas dari membutuhkan-Nya walau sekejap mata. Ketika seorang hamba tidak berzikir kepada-Nya, maka itu akan menjadi bala baginya dan akan menjadi penyesalan yang teramat besar tatkala berjumpa dengan Allah k di hari kiamat kelak.
Aisyah x memberitakan dari Rasulullah n:
مَا مِنْ سَاعَةٍ تَمُرُّ بِابْنِ آدَمَ لاَ يَذْكُرُ اللهَ تَعَالَى فِيْهَا إِلاَّ تَحَسَّرَ عَلَيْهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Tidak ada satu waktu pun yang terluputkan dari anak Adam untuk berzikir kepada Allah kecuali ia akan menyesali waktu tersebut pada hari kiamat.” (HR. Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman no. 508, Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah 5/362, dihasankan Al-Imam Al-Albani t dalam Shahihul Jami’ no. 5720)
Siapa yang tidak berzikir kepada Allah k, ibaratnya ia telah menjadi bangkai walaupun jasadnya masih berjalan di muka bumi. Rasulullah n bersabda:
مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذيْ لاَ يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْـمَيِّتِ
“Permisalan orang yang mengingat/berzikir kepada Rabbnya dengan orang yang tidak berzikir kepada Rabbnya seperti permisalan orang yang hidup dengan orang yang mati.” (HR. Al-Bukhari dalam Shahih-nya no. 6407)
Kata Al-Hafizh Ibnu Hajar t, yang dimaksud dengan zikir adalah menyebutkan lafadz-lafadz yang dianjurkan oleh penetap syariat untuk memperbanyak mengucapkannya. Seperti yang diistilahkan dengan Al-Baqiyatush Shalihat, yaitu ucapan Subhanallah, Alhamdulillah, Laa ilaaha illallah, dan Allahu Akbar. Termasuk pula ucapan hauqalah (la haula wa la quwwata illa billah), basmalah (bismillahir rahmanir rahim), hasbalah (hasbunallah wa ni’mal wakil), istighfar, dan doa-doa semisalnya yang berisi permohonan kebaikan di dunia dan di akhirat. Zikrullah (berzikir kepada Allah k) juga bisa bermakna melakukan amalan yang diwajibkan ataupun disunnahkan, seperti membaca Al-Qur’an, membaca hadits nabawi, mempelajari ilmu syar’i, dan mengerjakan shalat nafilah/sunnah. (Fathul Bari, 11/250)
Saudariku …!
Tiada merugi bagimu dengan terus mengingat-Nya…
Bahkan kemanisan dan pahala yang besar kan kau dapatkan
Sebaliknya, kepahitan dan kegetiran senantiasa menemani hidupmu manakala hatimu dipenuhi dengan terus mengingat selain-Nya…
Kerugian di dunia dan kerugian di akhirat.

Barangsiapa mengingat Allah k maka Allah k akan mengingatnya.
“Karena itu, ingatlah kepada-Ku (berzikir kepada-Ku) niscaya Aku akan mengingat kalian.” (Al-Baqarah: 152)
Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thabari t berkata menafsirkan ayat di atas, “Yang dimaksud Allah k dengan firman-Nya ini adalah ingatlah Aku, wahai kaum mukminin, dengan kalian menaati-Ku dalam perkara yang Aku perintahkan kepada kalian dan dalam perkara yang Aku larang. Niscaya Aku akan mengingat kalian dengan rahmat-Ku dan pengampunan-Ku terhadap kalian.”
Kemudian Abu Ja’far membawakan ucapan Sa’id bin Jubair ketika menafsirkan ayat di atas, “Ingatlah kalian kepada-Ku dengan menaati-Ku niscaya Aku akan mengingat kalian dengan ampunan-Ku.” (Jami’ul Bayan fit Ta’wilil Qur’an, 2/40)
Dalam Ash-Shahihain dari Abu Hurairah z, ia berkata, “Rasulullah n bersabda dalam hadits yang beliau riwayatkan dari Allah k (hadits qudsi):
مَنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ، ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي، وَمَنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَأٍ، ذَكَرْتُهُ فِي مَلَأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ
‘Siapa yang mengingat-Ku dalam jiwanya maka Aku akan mengingatnya dalam jiwa-Ku. Dan siapa yang mengingat-Ku pada sekumpulan orang maka Aku akan mengingatnya pada kumpulan makhluk yang lebih baik dari mereka’.”
Ketahuilah wahai saudariku ! …
Zikrullah adalah amalan yang ringan namun mendatangkan pahala yang besar.
Abdullah bin Busr z memberitakan, ada seorang lelaki datang kepada Rasulullah n. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, sungguh syariat Islam terlalu banyak hingga aku tidak mampu mengerjakan semuanya karena kelemahanku, maka beritakan kepadaku suatu amalan ringan yang bisa terus aku pegangi.”1
Rasulullah n pun memberikan bimbingan:
لاَ يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللهِ
“Terus menerus lisanmu basah dengan zikrullah.” (HR. At-Tirmidzi no. 3375, Ibnu Majah no. 3793, dishahihkan Al-Imam Al-Albani t dalam Shahih At-Tirmidzi dan Shahih Ibnu Majah)
Berzikir kepada Allah k merupakan amalan yang utama dan bernilai tinggi di sisi Allah k. Sahabat yang mulia, Abud Darda z berkata, “Rasulullah n bersabda:
أَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرِ أَعْمَالِكُمْ، وَأَزْكَاكُمْ عِنْدَ مَلِيْكِكُمْ، وَأَرْفَعُهَا فِي دَرَجَاتِكُمْ، وَخَيْرٌ لَكُمْ مِنْ إِنْفَاقِ الذَّهَبِ وَالْوَرَقِ، وَخَيْرٌ لَكُمْ مِنْ أَنْ تَلْقَوْا عَدُوَّكُمْ فَتَضْرِبُوْا أَعْنَاقَهُمْ وَيَضْرِبُوْا أَعْنَاقَكُمْ؟ قاَلُوا: بَلَى، يَا رَسُوْلَ اللهِ. قَالَ: ذِكْرُ اللهِ
“Maukah kalian aku beritakan tentang sebaik-baik amalan kalian, paling suci di sisi Pemilik kalian, paling tinggi dalam mengangkat derajat kalian dan lebih baik bagi kalian daripada menginfakkan emas dan perak, serta lebih baik bagi kalian daripada kalian bertemu dengan musuh kalian lalu kalian memukul/memenggal leher-leher mereka dan mereka memukul leher-leher kalian?”
Para sahabat menjawab: “Tentu, wahai Rasulullah!”
Beliau berkata, “(Amalan itu adalah) zikrullah.” (HR. At-Tirmidzi no. 3377, Ibnu Majah no. 3790, dishahihkan Al-Imam Al-Albani t dalam Shahihul Jami’ no. 2629)
Bila demikian agungnya zikrullah, masihkah engkau enggan untuk berzikir?
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

1 Ath-Thibi berkata, “Orang ini tidaklah menginginkan untuk meninggalkan sama sekali seluruh syariat Islam, tapi ia meminta disebutkan suatu amalan yang hukumnya tidak wajib baginya dan bisa terus dilakukannya setelah ia mengerjakan amalan yang fardhu.” (Tuhfatul Ahwadzi, 2/2423)

Anak Angkat dalam Islam

Tanya: Bolehkah menjadikan anak orang lain sebagai anak angkat dalam keluarga kita di mana kita menganggapnya seperti anak sendiri? Lalu bagaimana hijab dengannya bila si anak sudah baligh?
Jawab:
Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alusy Syaikh t menjawab permasalahan yang seperti ini dengan pernyataan beliau, “Dahulu di jaman jahiliah, orang-orang yang mengangkat anak memperlakukan anak angkat mereka seperti anak mereka yang hakiki atau seperti anak kandung dari segala sisi; dalam hal warisan, dalam hal bolehnya anak angkat tersebut berkhalwat (bersepi-sepi) dengan istri mereka, dan dianggapnya istri mereka sebagai mahram bagi anak angkat tersebut.
Adalah Zaid bin Haritsah z, maula Nabi n, di masa sebelum beliau n diangkat sebagai nabi, dipanggil dengan Zaid bin Muhammad (karena Nabi n mengangkatnya sebagai anak). Maka Allah k berkehendak untuk menghapuskan semua anggapan orang-orang jahiliah tersebut berkaitan dengan anak angkat. Datanglah syariat Islam dalam masalah anak angkat ini berikut hukum-hukumnya yang tegas sebagaimana tersebut berikut ini:
1. Menghapus dan melarang adanya anak angkat yang dianggap sebagai anak yang hakiki dalam segala sisi, berdasarkan firman Allah k:
“Dan Allah sekali-kali tidak menjadikan anak-anak angkat kalian sebagai anak kandung kalian sendiri. Yang demikian itu hanyalah perkataan kalian di mulut kalian saja. Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan yang benar. Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan memakai nama bapak-bapak mereka, itulah yang lebih adil di sisi Allah. Dan jika kalian tidak mengetahui bapak-bapak mereka maka panggillah mereka sebagai saudara-saudara kalian seagama dan maula-maula kalian….” (Al-Ahzab: 4-5)
Dalam ayat-ayat di atas, Allah k menerangkan bahwa ucapan seseorang kepada anak orang lain dengan “anakku” tidaklah berarti anak tersebut menjadi anaknya yang sebenarnya yang dengannya ditetapkan hukum-hukum bunuwwah (anak dengan orangtua kandungnya). Bahkan tidaklah mungkin anak tersebut bisa menjadi anak kandung bagi selain ayahnya. Karena, seorang anak yang tercipta dari sulbi seorang lelaki tidaklah mungkin ia dianggap tercipta dari sulbi lelaki yang lain, sebagaimana tidak mungkinnya seseorang memiliki dua hati/jantung1. Dan Allah k memerintahkan kita agar mengembalikan penasaban anak-anak angkat tersebut kepada ayah kandung mereka, bila memang diketahui siapa ayah kandung mereka. Bila tidak diketahui maka mereka adalah saudara-saudara kita seagama dan maula kita. Allah l beritakan bahwa yang demikian ini lebih adil di sisi-Nya.

2. Memutuskan hubungan waris antara anak angkat dengan ayah angkatnya. Hal ini terkandung dalam ayat-ayat yang telah dibawakan di atas2. Juga disebutkan bahwa dalam perkara anak angkat, Allah k menurunkan ayat:
ﯨ ﯩ ﯪ ﯫ ﯬﯭ
“Dan jika ada orang-orang yang kalian telah bersumpah setia dengan mereka, maka berilah kepada mereka bagiannya3.” (An-Nisa’: 33)
Ibnu Jarir t mengeluarkan riwayat dari Sa’id ibnul Musayyab t yang menyatakan, “Ayat ini hanyalah turun terhadap orang-orang yang dulunya menganggap anak pada selain anak kandung mereka dan mereka memberikan warisan terhadap anak-anak angkat tersebut. Maka Allah k menurunkan ayat dalam perkara mereka. Untuk anak-anak angkat, Allah l berikan bagian dari harta (orangtua/ayah angkat mereka) dalam bentuk wasiat4, sementara warisan dikembalikan kepada yang berhak dari kalangan dzawil arham5 dan ‘ashabah6. Allah k meniadakan adanya hak waris dari orangtua angkat untuk anak angkat mereka, namun Allah k tetapkan adanya bagian harta untuk anak angkat tersebut dalam bentuk wasiat.”7

3. Dihalalkannya mantan istri anak angkat (setelah perceraian keduanya) untuk dinikahi oleh ayah angkatnya. Hal ini tampak dengan Allah k menikahkan Rasulullah n dengan Zainab bintu Jahsy x setelah diceraikan oleh Zaid bin Haritsah z yang dulunya merupakan anak angkat Nabi n sebelum turunnya ayat-ayat yang melarang hal tersebut. Allah k menerangkan hikmah dari kejadian tersebut dengan firman-Nya:
“Kami nikahkan dia denganmu agar tidak ada keberatan bagi kaum mukminin untuk menikahi istri-istri anak angkat mereka apabila anak angkat tersebut telah menyelesaikan urusan dengan istri-istri mereka (telah bercerai).” (Al-Ahzab: 37)
Allah k berfirman dalam ayat yang menyebutkan tentang wanita-wanita yang haram dinikahi:
“…dan istri-istri dari anak-anak kandung kalian….” (An-Nisa’: 23)
Berarti dikecualikan dalam hukum pengharaman tersebut para istri anak-anak angkat (boleh dinikahi oleh ayah angkat suaminya bila mereka telah bercerai).

4. Keharusan istri ayah angkat untuk berhijab dari anak angkatnya, sebagaimana ditunjukkan dalam kisah Sahlah bintu Suhail istri Abu Hudzaifah z, tatkala Sahlah datang menemui Nabi n lalu menyatakan, “Wahai Rasulullah, kami dulunya menganggap Salim seperti anak kami sendiri. Sementara Allah telah menurunkan ayat tentang pengharaman anak angkat bila diperlakukan seperti anak kandung dalam segala sisi. Padahal Salim ini sudah biasa masuk menemuiku (tanpa hijab)….”
Nabi n pun menetapkan kepada Sahlah ketidakbolehan ikhtilath dengan anak angkat setelah turunnya ayat Al-Qur’an tersebut. Jalan keluarnya, beliau menyuruh Sahlah agar memberikan air susunya kepada Salim, dengan lima susuan yang dengannya ia menjadi mahram bagi Salim (yakni sebagai ibu susu, pent.)

5. Ancaman yang ditekankan dan peringatan yang keras bagi orang yang menasabkan dirinya kepada selain ayah kandungnya. Dalam hal ini ada ayat Al-Qur’an yang di-mansukh (dihapus) bacaannya namun hukumnya tetap berlaku, yaitu:
وَلَا تَرْغَبُوا عَنْ آبَائِكُمْ فَإِنَّهُ كُفْرٌ بِكُمْ أَنْ تَرْغَبُوا عَنْ آبَائِكُمْ
“Dan janganlah kalian benci (untuk bernasab) dengan bapak-bapak kalian karena sungguh itu adalah kekufuran bila kalian benci (untuk bernasab) dengan bapak-bapak kalian.”
Al-Imam Ahmad t meriwayatkan dari Umar ibnul Khaththab z, beliau berkata:
كُنَّا نَقْرَأُ: وَلاَ تَرْغَبُوا عَنْ آبَائِكُمْ فَإِنَّهُ كُفْرٌ بِكُمْ أَنْ تَرْغَبُوا عَنْ آبَائِكُمْ
Kami dulunya membaca ayat: “Dan janganlah kalian benci (untuk bernasab) dengan bapak-bapak kalian karena sungguh itu adalah kekufuran bila kalian benci (untuk bernasab) dengan bapak-bapak kalian.”
Dalam hadits yang shahih dinyatakan:
مَنِ ادَّعَى إِلَى غَيْرِ أَبِيْهِ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ غَيْرُ أَبِيْهِ فَالْجَنَّةُ عَلَيْهِ حَرَامٌ
“Siapa yang mengaku-aku bernasab kepada selain ayahnya dalam keadaan ia tahu orang itu bukanlah ayah kandungnya maka surga haram baginya.”8
Tersisa sekarang dua perkara dalam masalah menyebut anak pada selain anak kandung dan penasaban kepada selain ayah kandung. Kita akan sebutkan berikut ini:
Pertama: Apabila seseorang memanggil seorang anak dengan panggilan/sebutan ‘anakku’ (padahal bukan anaknya yang sebenarnya) untuk memuliakan dan menyatakan kecintaannya kepada si anak, hal ini tidaklah termasuk dalam larangan berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah dari Ibnu Abbas c, ia berkata:
قَدَّمَنَا رَسُوْلُ اللهِ n أُغَيْلِمَةَ بَنِي عَبْدِ الْمُطَّلِبِ عَلَى حُمُرَاتٍ لَنَا مِنْ جَمْعٍ، فَجَعَلَ يَلْطَخُ أَفْخَاذَنَا وَيَقُوْلُ: أُبَيْنـِيَّ –تَصْغِيرُ ابْنِي– لاَ تَرْمُوا الْجُمْرَةَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ
(Pada malam Muzdalifah) Rasulullah n mengedepankan kami anak-anak kecil dari Bani Abdil Muththalib (lebih awal meninggalkan tempat tersebut/tidak mabit, pent.) di atas keledai-keledai kami. Mulailah beliau memukul dengan perlahan paha-paha kami seraya berkata, “Wahai anak-anakku, janganlah kalian melempar jumrah sampai matahari terbit.”9
Ini dalil yang jelas sekali, karena Ibnu ‘Abbas c ketika hajjatul wada’ (haji wada’) berusia sepuluh tahun.

Kedua: Orang yang sudah terlalu masyhur dengan sebutan yang mengandung penasaban kepada selain ayahnya, seperti Al-Miqdad ibnu ‘Amr z yang lebih masyhur dengan Al-Miqdad ibnul Aswad, di mana hampir-hampir ia tidak dikenal kecuali dengan penasaban kepada Al-Aswad ibnu Abdi Yaghuts yang di masa jahiliah mengangkatnya sebagai anak, maka ketika turun ayat yang melarang penasaban kepada selain ayah kandung, disebutlah Al-Miqdad dengan ibnu ‘Amr. Namun penyebutannya dengan Al-Miqdad ibnul Aswad terus berlanjut, semata-mata sebagai penyebutan bukan dengan maksud penasaban. Yang seperti ini tidak apa-apa sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Al-Qurthubi, dengan alasan yang disebutkan oleh Al-Imam Al-Qurthubi t bahwa tidak pernah didengar dari orang terdahulu yang menganggap orang yang dipakaikan baginya sebutan tersebut telah berbuat maksiat.10”
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.


(Fatawa wa Rasa’il Samahatusy Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alusy Syaikh, 9/21-25, sebagaimana dinukil dalam Fatawa Al-Mar’ah Al-Muslimah, hal. 889-891)

1 Awal ayat di atas berbunyi:
“Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua hati/jantung dalam rongganya….” (Al-Ahzab: 4)
2 Allah k berfirman dalam ayat ke 6 surah Al-Ahzab:
“Dan orang-orang yang memiliki hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris-mewarisi) di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mukmin (yang lain yang tidak punya hubungan darah) dan orang-orang Muhajirin….”
3 Awal ayat ini adalah:
“Bagi tiap-tiap harta peninggalan dari harta yang ditinggalkan ibu bapak dan karib kerabat, Kami jadikan pewaris-pewarisnya….”
4 Wasiat di sini tidak lebih dari 1/3 harta si mayit.
5 Dzawil arham adalah semua kerabat mayit yang tidak mendapat bagian fardh dan ta’shib dari harta warisan.
Ahli waris terbagi dua:
– Ada yang mendapat bagian warisan dengan fardh yaitu ia mendapat bagian yang tertentu kadarnya, seperti setengah atau seperempat.
– Ada yang mendapat bagian warisan dengan ta’shib yaitu kadarnya dari warisan tidak ada penentuannya.
6 ‘Ashabah adalah kerabat mayit yang mendapat bagian dari harta warisan tanpa ada batasan tertentu, bahkan bila dia cuma sendirian, dia berhak mendapat semua harta si mayit.
7 Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Qur’an, 4/57.
8  HR. Al-Bukhari no. 4326 dan Muslim no. 217.
9 Dishahihkan Al-Imam Al-Albani
10 Tafsir Al-Qurthubi, 14/80.

Menjenguk Orang yang Sakit

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah)

Syariat Islam yang mulia ini datang dengan kesempurnaan. Tidak ada satu sisi kehidupan pun yang luput dari perhatiannya. Semua permasalahan didapatkan aturannya dalam Islam, sampai-sampai dalam perkara buang hajat ada adabnya.
Satu perkara yang juga tidak lepas dari pengaturan Islam adalah masalah menjenguk orang sakit, yang dijadikan sebagai salah satu hak muslim terhadap muslim yang lain. Sebagaimana sabda Rasulullah n:
حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ خَمْسٌ: رَدُّ السَّلاَمِ، وَعِيَادَةُ الْمَرِيْضِ، وَاتِّبَاعُ الْجَنَائِزِ، وَإِجَابَةُ الدَّعْوَةِ، وَتَشْمِيْتُ الْعَاطِسِ
“Hak seorang muslim terhadap muslim yang lain ada lima yaitu menjawab salam, menjenguk orang sakit, mengikuti jenazah, memenuhi undangan, dan mendoakan orang yang bersin (bila yang bersin mengucapkan hamdalah, pent.).” (HR. Al-Bukhari no. 1240 dan Muslim no. 5615)
Hukum menjenguk orang sakit adalah fardhu kifayah. Artinya, bila ada sebagian orang yang melakukannya maka gugur kewajiban dari yang lain. Bila tidak ada seorang pun yang melakukannya, maka wajib bagi orang yang mengetahui keberadaan si sakit untuk menjenguknya.
Kemudian yang perlu diketahui, orang sakit yang dituntunkan untuk dijenguk adalah yang terbaring di rumahnya (atau di rumah sakit) dan tidak keluar darinya. Adapun orang yang menderita sakit yang ringan, yang tidak menghalanginya untuk keluar dari rumah dan bergaul dengan orang-orang, maka tidak perlu dijenguk. Namun bagi orang yang mengetahui sakitnya hendaknya menanyakan keadaannya. Demikian penjelasan Syaikh yang mulia Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin t dalam kitabnya Syarhu Riyadhish Shalihin (3/55).
Keutamaan yang besar dijanjikan bagi seorang muslim yang menjenguk saudaranya yang sakit seperti ditunjukkan dalam hadits-hadits berikut ini:
Tsauban z mengabarkan dari Nabi n, sabda beliau:
إِنَّ الْمُسْلِمَ إِذَا عَادَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ لَمْ يَزَلْ فِي خُرْفَةِ الْجَنَّةِ حَتَّى يَرْجِعَ
“Sesungguhnya seorang muslim bila menjenguk saudaranya sesama muslim maka ia terus menerus berada di khurfatil jannah hingga ia pulang (kembali).” (HR. Muslim no. 6498)
Dalam lafadz lain (no. 6499):
مَنْ عَادَ مَرِيْضًا، لَمْ يَزَلْ فِي خُرْفَةِ الْجَنَّةِ. قِيْلَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، وَمَا خُرْفَةِ الْجَنَّةِ؟ قَالَ: جَنَاهَا
“Siapa yang menjenguk seorang yang sakit maka ia terus menerus berada di khurfatil jannah.” Ditanyakan kepada beliau, “Wahai Rasulullah, apakah khurfatil jannah itu?”. Beliau menjawab, “Buah-buahan yang dipetik dari surga.”
Ali z berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah n bersabda:
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَعُوْدُ مُسْلِمًا غُدْوَةً إِلاَّ صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُوْنَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُمْسِيَ، وَإِنْ عَادَهُ عَشِيَّةً إِلاَّ صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُوْنَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُصْبِحَ، وَكَانَ لَهُ خَرِيْفٌ فِي الْجَنَّةِ
“Tidaklah seorang muslim menjenguk muslim yang lain di pagi hari melainkan 70.000 malaikat bershalawat atasnya (memintakan ampun untuknya) hingga ia berada di sore hari. Dan jika ia menjenguknya di sore hari maka 70.000 malaikat bershalawat atasnya (memintakan ampun untuknya) hingga ia berada di pagi hari. Dan ia memiliki buah-buahan yang dipetik di dalam surga.” (HR. At-Tirmidzi no. 969, dishahihkan Al-Imam Al-Albani t dalam Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir no. 5767 dan Ash-Shahihah no. 1367)
Ada beberapa adab yang perlu diperhatikan oleh seseorang bila hendak menjenguk orang sakit, sebagaimana disebutkan Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin t. Di antaranya:
1. Ia melakukan amalan tersebut dengan niat menjalankan perintah Nabi n.
2. Ia meniatkan untuk berbuat baik kepada saudaranya dengan menjenguknya, karena seorang yang sakit bila dijenguk saudaranya akan merasa senang dan menjadi lapang hatinya.
3. Ia gunakan kesempatan membesuk tersebut untuk memberikan arahan kepada si sakit dalam perkara yang bermanfaat baginya, seperti menyuruhnya bertaubat, istighfar, dan menyelesaikan hak-hak orang yang lain yang belum dipenuhinya.
4. Bisa jadi si sakit memiliki permasalahan tentang bagaimana tata cara thaharah atau shalat selama sakitnya atau yang semisalnya, maka bila si penjenguk punya ilmu tentangnya hendaknyalah ia mengajarkan kepada si sakit.
5. Ia melihat mana yang maslahat bagi si sakit, apakah dengan ia lama berada di sisi si sakit atau cukup sebentar saja. Bila ia melihat si sakit senang, terlihat gembira dan menyukai bila ia berlama-lama di tempat tersebut, hendaknya ia pun menahan dirinya lebih lama bersama si sakit dalam rangka membagi kebahagiaan kepada saudaranya. Namun bila ia melihat yang sebaliknya, hendaklah ia tidak berlama-lama di tempat tersebut.
6. Hendaknya ia mengingat nikmat Allah  l berupa kesehatan yang sedang dinikmatinya, karena biasanya seseorang tidak mengetahui kadar nikmat Allah k kepadanya kecuali bila ia melihat orang yang ditimpa musibah berupa kehilangan nikmat tersebut. Dengan nikmat tersebut, ia memuji Allah k dan memohon agar melanggengkannya. (Syarhu Riyadhish Shalihin, hal. 55-56)
Wanita tidaklah berbeda dengan lelaki dalam pensyariatan menjenguk orang sakit ini. Artinya, wanita pun disenangi menjenguk orang sakit. Tentunya ia keluar dari rumahnya menuju tempat si sakit dengan memerhatikan adab-adab syar’i, seperti menutup aurat, tidak memakai wangi-wangian, menjaga rasa malu, menjaga diri dari fitnah, dan sebagainya.
Ummul Mukminin Aisyah x, istri Rasulullah n yang mulia pernah menjenguk ayahnya, Abu Bakr Ash-Shiddiq dan Bilal c yang sedang sakit. Aisyah mengabarkan:
لمَاَّ قَدِمَ رَسُوْلُ اللهِ n الْمَدِيْنَةَ وُعِكَ أَبُوْ بَكْرٍ وَبِلاَلٌ c. قَالَتْ: فَدَخَلْتُ عَلَيْهِمَا، قُلْتُ: يَا أَبَتِ، كَيْفَ تَجِدُكَ؟ وَيَا بِلاَلُ، كَيْفَ تَجِدُكَ؟ قَالَتْ: وَأَبُوْ بَكْرٍ إِذَا أخَذَتْهُ الْحُمَّى يَقُوْلُ:
كُلُّ امْرِئٍ مُصَبَّحٌ فِي أَهْلِهِ  وَالْمَوْتُ أَدْنَى مِنْ شِرَاكِ نَعْلِهِ
وَكَانَ بِلاَلٌ إِذَا أَقْلَعَ عَنْهُ الْحُمَى يَرْفَعُ عَقِيْرَتَهُ وَيَقُوْلُ:
أَلاَ لَيْتَ شَعْرِي هَلْ أُبَيِّتُنَّ لَيْلَةً بِوَادٍ وَحَوَلَي إِذْخِرٍ وَجَلِيْلُ
وَهَلْ أَرِدَن يَوْمًا مِيَاهَ مِجَنَّةٍ وَهَلْ تَبْدُوْنَ لِي شَامةٌ وَطَفِيلُ
قاَلَتْ عَائِشَةُ: فَجِئْتُ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ n فَأَخْبَرْتُهُ، فَقَالَ: اللَّهُمَّ، حَبِّبْ إِلَيْنَا الْمَدِيْنَةَ، كَحُبِّنَا مَكَّةَ أَوْ أَشَدَّ، اللَّهُمَّ وَصَحِّحْهَا وَبَارِكْ لَنَا فِي مُدِّهَا وَصَاعِهَا، وَانْقُلْ حُمَّاهَا فَاجْعَلْهَا بِالْجُحْفَةِ
Tatkala Rasulullah n tiba di Madinah (awal hijrah beliau ke Madinah), Abu Bakr dan Bilal c ditimpa penyakit huma (demam dengan panas yang sangat tinggi). Aku pun masuk menemui keduanya. Aku katakan, “Wahai ayahku, bagaimana engkau dapatkan keadaan dirimu? Dan engkau, wahai Bilal, bagaimana engkau dapatkan keadaan dirimu?”
Kata Aisyah: “Adalah Abu Bakr bila demam yang tinggi menyerangnya, ia berkata:
‘Setiap orang ditimpa kematian di pagi hari dalam keadaan ia berada di tengah keluarganya.
Dan kematian lebih dekat dengannya daripada tali sandalnya.’
Adapun Bilal, bila sakit telah hilang darinya, ia mengangkat suaranya sembari menangis dan berkata:
‘Aduhai apa kiranya suatu malam aku sungguh-sungguh akan bermalam di suatu lembah dan di sekitarku ada tumbuhan idzkhir dan jalil
Adakah suatu hari aku sungguh akan mendatangi Miyah Mijannah
Dan adakah akan tampak bagiku Syamah dan Thafil.’1
Aisyah berkata, “Aku mendatangi Rasulullah n lalu mengabarkan kepada beliau tentang hal itu. Beliau pun berdoa, ‘Ya Allah, cintakanlah kepada kami Madinah, sebagaimana kecintaan kami kepada Makkah atau lebih. Ya Allah, sehat/baikkanlah kota ini dan berkahi kami dalam mud dan sha’-nya, dan pindahkanlah huma-nya, lalu letakkanlah huma ini di Juhfah’.” (HR. Al-Bukhari no. 3926. Dalam riwayat Muslim no. 3329 hanya lafadz: Aisyah berkata, “Aku mendatangi Rasulullah n … dst)
Bila yang dijenguk si wanita adalah sesama wanita atau lelaki dari kalangan mahramnya, maka tidak ada permasalahan. Yang jadi masalah bagaimana bila yang sakit adalah lelaki ajnabi (bukan mahram), bolehkah seorang wanita ajnabiyah menjenguknya?
Masalah ini terjawab dari hadits Aisyah x di atas, di mana Aisyah menjenguk Bilal z. Wallahu a’lam bish-shawab, tentunya selama aman dari fitnah.
Rasulullah n selain menjenguk para sahabatnya yang sedang sakit, beliau juga pernah menjenguk para sahabiyah sebagaimana ditunjukkan dalam dua hadits berikut ini:
Jabir bin Abdillah c memberitakan:
أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ n دَخَلَ عَلَى أُمِّ السَّائِبِ– أَوْ أُمَّ الْمُسَيِّبِ- فَقَالَ: مَا لَكَ يَا أُمَّ السَّائِبِ– أَوْ: يَا أُمَّ الْمُسَيِّب- تُزَفْزِفِيْنَ؟ قَالَتْ: الْحُمَّى، لاَ بَارَكَ اللهُ فِيْهَا. فَقَالَ: لاَ تَسُبِّي الْحُمَى، فَإِنَّهَا تُذْهِبُ خَطَايَا بَنِي آدَمَ، كَمَا يُذْهِبُ الْكِيْرُ خَبثَ الْحَدِيْدِ
Rasulullah n membesuk Ummus Sa`ib –atau Ummul Musayyib–, beliau berkata, “Kenapa engkau wahai Ummus Sa`ib –atau Ummul Musayyib– terlihat gemetaran?” Dia menjawab, “Saya sakit humma, semoga Allah tidak memberkahi penyakit ini.” Rasulullah bersabda, “Jangan engkau mencaci humma, karena penyakit ini akan menghilangkan kesalahan-kesalahan anak Adam sebagaimana alat peniup api menghilangkan kotoran besi.” (HR. Muslim no. 6515)
Ummul ‘Ala’ x mengabarkan:
عَادَنِي رَسُوْلُ الله n وَأَنَا مَرِيْضَةٌ، فَقَالَ: أَبْشِرِيْ يَا أُمَّ الْعَلاَءِ، فَإِنَّ مَرَضَ الْـمُسْلِمِ يُذْهِبُ اللهُ بِهِ خَطاَياَ كَمَا تُذْهِبُ النَّارُ خَبَثَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ
Rasulullah n menjengukku dalam keadaan aku ditimpa sakit. Beliau bersabda, “Bergembiralah wahai Ummul ‘Ala’2, karena dengan sakitnya seorang muslim Allah akan menghilangkan darinya kesalahan-kesalahan sebagaimana api menghilangkan kotoran dari emas dan perak (yang ditempa).” (HR. Abu Dawud no. 3092, dishahihkan Al-Imam Al-Albani t dalam Shahih Abi Dawud dan Ash-Shahihah no. 714)
Hadits di atas diberi judul oleh Al-Imam Abu Dawud t dalam Sunan-nya dengan: bab ‘Iyadatun Nisa’ (bab menjenguk wanita yang sakit). Tentunya hal ini dilakukan selama aman dari fitnah (godaan).
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

1 Nama dua gunung dekat Makkah.
2 Ummul ‘Ala’ Al-Anshariyyah adalah ‘ammah (bibi dari pihak ayah) Hizam bin Hakim bin Hizam.

Ummu Qois Bintu Mihshan

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman bintu ‘Imran)

Dia salah seorang wanita yang awal mula berislam di negeri Makkah, kemudian berbaiat kepada Rasulullah n. Ketika kaum muslimin hijrah ke negeri Madinah, dia pun turut berhijrah bersama keluarganya untuk menyelamatkan agamanya. Ummu Qais bintu Mihshan bin Hurtsan bin Qais bin Murrah bin Bukair bin Ghanam bin Dudan bin Asad Al-Asadiyah x, bersaudara dengan seorang sahabat mulia yang turut serta dalam perang Badr serta mendapatkan janji masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab, ‘Ukkasyah bin Mihshan z.
Di masa bersama Rasulullah n, dia mendapatkan ilmu dari beliau. Ketika suatu hari dia membawa bayi laki-lakinya yang masih menyusu dan belum makan makanan ke hadapan Rasulullah n. Rasulullah n dudukkan anak itu di pangkuan beliau. Ternyata kemudian si bayi buang air kecil di baju beliau. Rasulullah n pun meminta dibawakan air, lalu beliau hanya memerciki pakaian beliau yang terkena kencing tanpa mencucinya.
Kisah yang kemudian termuat dalam kitab Ash-Shahihain ini pun memberikan faedah besar pada kaum muslimin hingga masa ini. Ummu Qais bintu Mihshan, semoga Allah l meridhainya. Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.


Sumber Bacaan:
– Al-Ishabah, Al-Hafizh Ibnu Hajar (8/453-454)
– Ath-Thabaqatul Kubra, Al-Imam Ibnu Sa’d (10/230)
– Tahdzibul Kamal, Al-Imam Al-Mizzi (35/379-380)

Untuk Suami dan Istri Nasihat dari Imam Al-Albani

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah)

Dalam mengarungi bahtera rumah tangga yang mesti ada saja empasan ombak dan terpaan badai, sepasang suami istri selalu butuh nasihat agar mereka selamat membawa bahtera mereka sampai ke dermaga kebahagiaan.
Keduanya butuh untuk selalu diingatkan dan hendaknya tak jemu-jemu mendengarkan nasihat/peringatan walaupun sudah pernah mengetahui apa yang dinasihatkan tersebut.
Al-Imam Al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al-Albani t, seorang ‘alim rabbani, dalam kitabnya yang sangat bernilai Adabuz Zifaf fis Sunnatil Muthahharah tidak lupa memberikan nasihat kepada pasangan suami istri di pengujung kitabnya tersebut. Sebuah nasihat yang sangat patut kita simak karena bersandar dengan kitabullah dan Sunnah Rasul n…1
Pertama: Hendaknya sepasang suami istri taat kepada Allah k dan saling menasihati untuk taat, mengikuti hukum-hukum yang termaktub dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Keduanya jangan mengedepankan selain hukum-hukum Al-Qur’an dan As-Sunnah karena taklid/membebek atau mengikuti kebiasaan yang ada di tengah manusia, atau karena mengikuti satu mazhab tertentu. Allah k berfirman:
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang beriman dan tidak pula bagi wanita yang beriman, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, mereka memiliki pilihan yang lain tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguh ia telah sesat dengan kesesatan yang nyata.” (Al-Ahzab: 36)

Kedua: Masing-masing menunaikan kewajiban-kewajiban dan hak-hak terhadap yang lain sesuai yang Allah k tetapkan atas mereka. Maka, janganlah misalnya si istri menuntut persamaan dengan lelaki/suaminya dalam segala haknya. Sebaliknya, janganlah si lelaki/suami merasa tinggi/bersikap melampaui batas karena apa yang Allah k utamakan kepadanya lebih dari istrinya dalam hal kepemimpinan, sehingga si suami menzalimi istrinya dan memukulnya tanpa ada sebab yang dibolehkan. Allah k berfirman:
“Dan para istri memiliki hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi para suami memiliki satu tingkatan kelebihan daripada istrinya.” (Al-Baqarah: 228)
“Kaum lelaki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atau sebagian yang lain (wanita). Dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang shalihah adalah yang taat kepada Allah lagi menjaga diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara mereka. Wanita-wanita yang kalian khawatirkan nusyuz2nya maka nasihatilah mereka dan tinggalkan mereka di tempat tidur mereka dan pukullah mereka. Kemudian bila mereka menaati kalian, janganlah kalian mencari-cari jalan untuk menyusahkan mereka3. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (An-Nisa’: 34)
Mu’awiyah bin Haidah z pernah bertanya kepada Rasulullah n:
يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَا حَقُّ زَوْجَةِ أَحَدِنَا عَلَيْهِ؟
“Wahai Rasulullah, apakah hak istri salah seorang dari kami terhadap suaminya?”
Rasulullah n menjawab:
أَنْ تُطْعِمَهَا إِذَا طَعِمْتَ، وَتَكْسُوَهَا إِذَا اكْتَسَيْتَ، وَلاَ تُقَبِّحِ الْوَجْهَ، وَلاَ تَضْرِبْ، [وَلاَ تَهْجُرْ إِلاَّ فِي الْبَيْتِ] كَيْفَ وَقَدْ أَفْضَى بَعْضُكُمْ إِلَى بَعْضٍ، إِلاَّ بِمَا حَلَّ عَلَيْهِنَّ
“Engkau beri makan istrimu apabila engkau makan dan engkau beri pakaian bila engkau berpakaian. Janganlah engkau menjelekkan wajahnya4, jangan memukul, [dan jangan memboikotnya (mendiamkannya) kecuali di dalam rumah5]. Bagaimana hal itu kalian lakukan, sementara sebagian kalian telah bergaul dengan sebagian yang lain6, terkecuali dengan apa yang dihalalkan atas mereka.”7
Rasulullah n bersabda:
الْمُقْسِطُوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُوْرٍ عَلَى يَمِيْنِ الرَّحْمَنِ –كِلْتَا يَدَيْهِ يَمِيْنٌ- الَّذِيْنَ يَعْدِلُوْنَ فِي حُكْمِهِمْ وَأَهْلِيْهِمْ وََمَا وَلُوْا
“Orang-orang yang adil pada hari kiamat nanti mereka berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya di atas tangan kanan Ar-Rahman –dan kedua tangan-Nya kanan–, yaitu mereka yang berlaku adil dalam hukum mereka, kepada keluarga mereka dan pada apa yang mereka urusi.”8
Apabila keduanya mengetahui hal ini dan mengamalkannya, niscaya Allah k akan menghidupkan mereka dengan kehidupan yang baik dan selama keduanya hidup bersama. Mereka akan berada dalam ketenangan dan kebahagiaan. Allah k berfirman:
“Siapa yang melakukan amal shalih dari kalangan laki-laki ataupun perempuan dalam keadaan ia beriman, maka Kami akan menghidupkannya dengan kehidupan yang baik dan Kami akan balas mereka dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang dulunya mereka amalkan.” (An-Nahl: 97)

Ketiga: Bagi istri secara khusus, hendaknya ia menaati suaminya dalam apa yang diperintahkan kepadanya sebatas kemampuannya. Karena hal ini termasuk perkara yang dengannya Allah k  melebihkan kaum lelaki di atas kaum wanita sebagaimana Allah k nyatakan dalam dua ayat yang telah disebutkan di atas:
“Kaum lelaki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita.”
“Dan kaum lelaki memiliki kedudukan satu derajat di atas kaum wanita.” (Al-Baqarah: 228)
Sungguh banyak hadits shahih yang datang memperkuat makna ini dan menjelaskan dengan gamblang apa yang akan diperoleh wanita dari kebaikan ataupun kejelekan bila ia menaati suaminya atau mendurhakainya.
Di sini kita akan sebutkan sebagian hadits-hadits tersebut, semoga dapat menjadi peringatan bagi para wanita di zaman kita ini, karena sungguh Allah k berfirman:
“Dan tetaplah memberi peringatan karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” (Adz-Dzariyat: 55)

Hadits pertama:
لاَ يِحِلُّ لِامْرَأَةٍ أَنْ تَصُوْمَ -وَفِي رِوَايَةٍ: لاَ تَصُمِ الْمَرْأَةُ- وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلاَّ بِإِذْنِهِ [غَيْرَ رَمَضَانَ] وَلاَ تَأْذَنْ فِي بَيْتِهِ إِلاَّ بِإِذْنِهِ
“Tidak halal seorang istri puasa (dalam satu riwayat: Janganlah seorang istri puasa) sementara suaminya ada di tempat9 kecuali dengan izin suaminya (terkecuali puasa Ramadhan) dan istri tidak boleh mengizinkan seseorang masuk ke rumah suaminya terkecuali dengan izin suaminya.”10

Hadits kedua:
إِذَا دَعَا الرَّجُلُ امْرَأَتََهُ إِلَى فِِِرَاشِهِ فَلَمْ تَأْتِهِ، فَبَاتَ غَضْبَانَ عَلَيْهَا لَعَنَتْهَا الْمَلَائِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ – وَ فِي رِوَايَةٍ: أَوْ حَتَّى تَرْجِعَ- (وَفِي أُخْرَى: حَتَّى يَرْضَى عَنْهَا)
“Jika seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidurnya11 namun si istri tidak mendatangi suaminya hingga suaminya bermalam dalam keadaan marah kepadanya, niscaya para malaikat akan melaknatnya sampai ia berada di  pagi hari.”
“Dalam satu riwayat: atau sampai si istri kembali. Dalam riwayat lain: sampai suaminya ridha terhadapnya.”12

Hadits ketiga:
وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لاَ تُؤَدِّي الْمَرْأَةُ حَقَّ رَبِّهَا حَتَّى تُؤَدِّيَ حَقَّ زَوْجِهَا، ولَوْ سَأَلَهَا نَفْسَهَا وَهِيَ عَلىَ قَتَبٍ لَمْ تَمْنَعْهُ [نَفْسَهَا]
“Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seorang istri dapat menunaikan hak Rabbnya hingga ia menunaikan hak suaminya. Seandainya suaminya meminta dirinya (mengajaknya jima’) sementara ia sedang berada di atas qatab13 maka ia tidak boleh mencegah suaminya dari dirinya.”14

Hadits keempat:
لاَ تُؤْذِي امْرَأَةٌ زَوْجَهَا فِي الدُّنْيَا إِلاَّ قَالَتْ زَوْجَتُهَا مِنَ الْحُوْرِ الْعَيْنِ: لاَ تُؤْذِيْهِ قَاتَلَكِ اللهُ، فَإِنَّمَا هُوَ عِنْدَكِ دَخِيْلٌ يُوْشِكُ أَنْ يُفَارِقَكِ إِلَيْنَا
“Tidaklah seorang istri menyakiti suaminya di dunia melainkan berkata istrinya dari bidadari surga, ‘Janganlah engkau sakiti dia, semoga Allah memerangimu, dia di sisimu hanyalah dakhil15. Hampir-hampir ia berpisah denganmu menuju kepada kami’.”16

Hadits kelima:
Dari Hushain bin Mihshan z, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku bibiku, ia berkata: Aku pernah datang ke tempat Rasulullah n karena satu keperluan. Ketika itu Rasulullah n bertanya:
أَيْ هَذِهِ، أَذَاتُ بَعْلٍ؟ قُلْتُ: نَعَمْ. قَالَ: كَيْفَ أَنْتِ لَهُ؟ قَالَتْ: مَا آلُوْهُ إِلاَّ مَا عَجِزْتُ عَنْهُ. قَالَ:[فَانْظُرِيْ] أَيْنَ أَنْتِ مِنْهُ، فَإنَّمَا هُوَ جَنَّتُكِ وَنارُكِ
“Wahai wanita, apakah engkau punya suami?” Aku menjawab, “Iya.” “Bagaimana yang engkau perbuat terhadap suamimu?” tanya Rasulullah lagi. Ia menjawab: “Saya tidak pernah mengurangi haknya17 kecuali dalam perkara yang saya tidak mampu.” Rasulullah bersabda: “Lihatlah di mana keberadaanmu dalam pergaulanmu dengan suamimu, karena suamimu adalah surga dan nerakamu.”18

Hadits keenam:
إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَحَصَّنَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ بَعْلَهَا، دَخَلَتْ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شَاءَتْ
“Apabila seorang istri mengerjakan shalat lima waktunya, menjaga kemaluannya dan menaati suaminya maka ia akan masuk surga dari pintu surga mana saja yang ia inginkan.”19
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

1 Catatan kaki yang ada dalam tulisan ini juga dari kitab Adabuz Zifaf, cet. ke-3 dari Al-Maktab Al-Islami.
2 Nusyuz para istri adalah keluarnya mereka dari ketaatan. Ibnu Katsir t berkata, “Nusyuz bermakna irtifa’ (tinggi). Istri yang berbuat nusyuz adalah istri yang mengangkat/meninggikan dirinya di atas suaminya, meninggalkan ketaatan kepada perintah suaminya, berpaling darinya.”
3 Maksudnya, apabila seorang istri menaati suaminya dalam seluruh perkara yang diinginkan suaminya dari dirinya sebatas yang dibolehkan Allah l, setelah itu tidak ada jalan bagi si suami untuk mencela dan menyakitinya. Si suami tidak boleh memukul dan menghajrnya. Firman Allah k:
“Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar”, merupakan ancaman kepada para suami bila melakukan kezaliman terhadap para istri tanpa ada sebab. Karena sungguh Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar merupakan penolong mereka (para istri), Dia akan memberi balasan kepada orang yang menzalimi dan berbuat melampaui batas terhadap mereka. Demikian disebutkan dalam Tafsir Ibni Katsir.
4 Maksudnya, jangan engkau mengatakan, “Semoga Allah l menjelekkan wajahmu.”
Ucapan Nabi n:
وَلاَ تَضْرِبْ
“Jangan engkau memukul”, maksudnya memukul wajah. Pukulan hanyalah dilakukan bila memang harus diberikan dan ditujukan pada selain wajah.
5 Maksudnya, janganlah engkau memboikotnya kecuali di tempat tidur. Bukan dengan engkau meninggalkannya dengan pindah ke tempat lain, atau memindahkannya dari rumahmu ke rumah yang lain. Demikian diterangkan dalam Syarhus Sunnah, (3/26/1).
6 Yakni kalian telah melakukan hubungan badan.
Ucapan Nabi n :
إِلاَّ بِمَا حَلَّ عَلَيْهِنَّ
“Terkecuali dengan apa yang dihalalkan atas mereka”, yaitu berupa pukulan dan hajr disebabkan nusyuznya mereka, sebagaimana hal ini jelas disebutkan dalam ayat yang telah lewat.
7 HR. Abu Dawud (1/334), Al-Hakim (2/187-188), Ahmad (5/3 dan 5). Tambahan yang ada dalam kurung [ ] adalah dari riwayat Ahmad dengan sanad yang hasan. Al-Hakim berkata, “Shahih.” Adz-Dzahabi menyepakati Al-Hakim dalam penshahihannya. Al-Baghawi juga meriwayatkannya dalam Syarhus Sunnah.
8 HR. Muslim (6/7), Al-Husain Al-Marwazi dalam Zawaid Az-Zuhud karya Ibnul Mubarak (120/2) dari Al-Kawakib karya Ibnu Urwah Al-Hambali, berjilid, (no. 575), Ibnu Mandah dalam At-Tauhid (94/1) dan beliau berkata,”Hadits shahih.”
9 Maksudnya, suaminya ada berdiam di negerinya, tidak safar. An-Nawawi t berkata dalam Syarhu Muslim (7/115) di bawah riwayat yang kedua, “Larangan ini menunjukkan keharaman (tidak sekadar makruh). Demikian orang-orang dalam mazhab kami menyebutkannya secara jelas.”
Aku (Al-Albani) katakan, “Ini merupakan pendapat jumhur sebagaimana dalam Fathul Bari dan riwayat yang pertama lebih memperkuatnya.”
Kemudian An-Nawawi berkata, “Adapun sebab/alasan pelarangan tersebut, karena suami memiliki hak untuk istimta’ dengan si istri sepanjang hari. Haknya ini wajib untuk segera ditunaikan dan tidak boleh luput penunaiannya karena si istri sedang melakukan ibadah sunnah ataupun ibadah yang wajib namun dapat ditunda.”
Aku (Al-Albani) katakan, “Apabila wajib bagi istri menaati suaminya dalam memenuhi kebutuhan syahwatnya, tentunya lebih utama lagi pewajiban bagi istri untuk taat kepada suami dalam perkara yang lebih penting lagi yang diperintahkan suaminya kepadanya berupa tarbiyah (mendidik) anak-anak keduanya, memperbaiki keluarga keduanya, dan hak-hak serta kewajiban-kewajiban semisalnya. Al-Hafizh berkata dalam Fathul Bari, “Hadits ini menunjukkan lebih ditekankan kepada istri untuk memenuhi hak suami daripada mengerjakan kebajikan yang hukumnya sunnah. Karena hak suami itu wajib, sementara menunaikan kewajiban lebih didahulukan daripada menunaikan perkara yang sunnah.”
10 HR. Al-Bukhari (4/242-243) dengan riwayat yang pertama, dan Muslim (3/91) dengan riwayat yang kedua, Abu Dawud (1/385), An-Nasa’i dalam Al-Kubra (63/2), tambahan yang ada dalam kurung [ ] adalah dari riwayat keduanya. Sanad hadits ini shahih di atas syarat Syaikhan. Diriwayatkan pula oleh Ahmad (2/316, 444, 464, 476, 500), Ath-Thahawi dalam Al-Musykil (2/425), Abusy Syaikh dalam Ahadits Abiz Zubair (no. 126) dari banyak jalan dari Abu Hurairah z. Dan Ahmad memiliki satu riwayat yang semakna dengan tambahan yang ada.
11 Tempat tidur (firasy) di sini adalah kinayah (kiasan) dari jima’. Yang menguatkan hal ini adalah sabda Rasulullah n:
الْوَلَدُ لِلْفِرَاشِ
“Anak itu untuk firasy.”
Maksudnya, anak yang dilahirkan adalah milik orang yang melakukan jima’ di tempat tidur tersebut (si pemilik tempat tidur tersebut).
Penyebutan sesuatu yang memalukan dengan kiasan, banyak didapatkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Demikian dikatakan Abu Hamzah sebagaimana dalam Fathul Bari.
12 HR. Al-Bukhari (4/241), Muslim (4/157), riwayat lain yang disebutkan di atas merupakan riwayat Muslim, Abu Dawud (1/334), Ad-Darimi (2/149 dan 150), Ahmad (2/255, 348, 346, 349, 368, 380, 519, 538). Riwayat yang kedua merupakan riwayat Ahmad, demikian pula Ad-Darimi.
13 Qatab adalah rahl (pelana). Dalam Al-Lisan disebutkan:(الْقِتْبُ) dan(الْقَتَبُ) adalah ikaf unta. Dalam Ash-Shihhah disebutkan maknanya adalah pelana kecil seukuran punuk unta. Dalam An-Nihayah: Qatab bagi unta sama dengan ikaf pada selain unta.
Makna hadits ini adalah hasungan bagi para istri untuk menaati suami mereka, dan sungguh tidak ada kelapangan bagi mereka untuk menolak ajakan suami mereka walau dalam keadaan yang demikian (di atas pelana). Bagaimana bila pada keadaan selainnya?
14 Hadits shahih, riwayat Ibnu Majah (1/570), Ahmad (4/381), dari Abdullah ibnu Abi Aufa z, Ibnu Hibban dalam Shahihnya dan Al-Hakim sebagaimana dalam At-Targhib (3/76), ia menyebutkan syahid hadits ini dari Zaid ibn Arqam z, dan Al-Hakim berkata (3/77), “Diriwayatkan Ath-Thabarani dengan sanad yang jayyid.”
Aku (Al-Albani) telah mentakhrij hadits ini dalam Ash-Shahihah (no. 173).
15 Dalam An-Nihayah: dakhil adalah tamu dan orang yang sekadar singgah/mampir.
16 HR. At-Tirmidzi (2/208), Ibnu Majah (1/621), Al-Haitsam bin Kulaib dalam Musnad-nya (5/167/1), Abul Hasan Ath-Thusi dalam Mukhtashar-nya (1/119/2), Abul Abbas Al-Asham dalam Majlisin minal Amali (3/1), Abu Abdillah Al-Qaththan dalam haditsnya dari Al-Hasan ibn Arafah (145/1), semuanya dari Ismail bin Iyasy dari Buhair ibn Sa’d Al-Kalla’i, dari Khalid ibn Ma’dan, dari Katsir ibn Murrah Al-Hadhrami, dari Mu’adz ibn Jabal z secara marfu’. Ath-Thusi berkata, “Hadits ini gharib hasan. Kami tidak mengetahuinya kecuali dari sisi ini, dan riwayat Ismail bin Iyasy dari orang-orang Syam (Syamiyin) baik.”
Aku (Al-Albani) katakan, “Maksudnya hadits ini termasuk riwayat Ismail dari orang-orang Syam.”
17 Yakni aku tidak mengurangi-ngurangi dalam menaatinya dan berkhidmat kepadanya.
18 HR Ibnu Abi Syaibah (7/47/1), Ibnu Sa’d (8/459), An-Nasa’i dalam Isyratun Nisa, Ahmad (4/341), Ath-Thabrani dalam Al-Ausath (170/1) dari Zawaidnya, Al-Hakim (2/189), Al-Baihaqi (7/291), Al-Wahidi dalam Al-Wasith (1/161/2), Ibnu Asakir (16/31/1), sanadnya shahih sebagaimana kata Al-Hakim dan disepakati Adz-Dzahabi. Berkata Al-Mundziri (3/74), “Diriwayatkan hadits ini oleh Ahmad dan An-Nasa’i dengan dua sanadnya yang jayyid.”
19 Hadits hasan atau shahih, hadits ini punya banyak jalan. Diriwayatkan Ath-Thabrani dalam Al-Ausath (169/2 –dari tartibnya), demikian pula Ibnu Hibban dalam Shahihnya dari hadits Abu Hurairah z sebagaimana dalam At-Targhib (3/73), Ahmad (no. 1661) dari Abdurrahman bin Auf z, Abu Nu’aim (6/308), dan Al-Jurjani (291) dari Anas bin Malik z.

Yang Luput dari Perhatian

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman bintu ‘Imran)

Masalah najis bukanlah perkara sepele, melainkan masalah yang sangat urgen, bahkan berkaitan dengan ibadah yang paling besar, yaitu shalat. Oleh karena itu para ulama biasa membahas masalah najis dan kesucian sebelum mereka membahas shalat dan ibadah-ibadah lainnya.
Namun amatlah disayangkan, kaum muslimah yang notabene berperan sebagai ibu terkadang tidak memahami masalah ini. Yang banyak ditemui, mereka tidak berhati-hati dengan air kencing anak-anak mereka. Seorang ibu, contohnya, melihat bayinya yang tergolek di tempat tidurnya pipis. Dengan segera dilepasnya popok si bayi beserta perlengkapannya yang terkena air kencing, lalu dionggokkannya begitu saja di atas tempat tidur. Setelah itu langsung digantinya dengan popok kering, atau kadang dia bubuhkan lebih dulu bedak bayi di tempat keluarnya air kencing. Beres sudah, pikirnya.
Ibu yang lain, anaknya yang sudah mulai merangkak mengompol di lantai. Bergegas diangkat anaknya, dilepasnya celana basah dan digunakan sekaligus untuk mengusap lantai, lalu dia tinggalkan begitu saja lantai yang berbekas air kencing si anak. Tak terpikirkan anak-anaknya yang lain atau siapa pun yang sebentar lagi akan melewati bekas air kencing tadi dan menyebarkan ke mana-mana dengan langkah kakinya.
Bisa jadi yang seperti ini terjadi karena memang mereka tidak mengerti tentang najisnya air kencing anak, walaupun si anak masih bayi. Karena itu, perlu tentunya mereka mengetahui masalah ini. Lebih-lebih –sekali lagi– hal ini berkaitan dengan ibadah shalat.
Sebagian ibu mungkin menyangka, air kencing bayi –terutama bayi yang masih mengonsumsi ASI eksklusif– bukanlah najis. Padahal telah datang keterangan dari Rasulullah n tentang najisnya air kencing bayi laki-laki maupun perempuan. Sebagaimana dikisahkan dari Ummu Qais bintu Mihshan x:
أَنَّهَا أَتَتْ بِابْنٍ لَهَا صَغِيْرٍ لَمْ يَأْكُلِ الطَّعَامَ إِلَى رَسُوْلِ اللهِn، فَأَجْلَسَهُ رَسُوْلُ اللهِ n فِي حِجْرِهِ، فَبَالَ عَلَى ثَوْبِهِ، فَدَعَا بِمَاءٍ فَنَضَحَهُ وَلَمْ يَغْسِلْهُ
“Ummu Qais pernah membawa bayi laki-lakinya yang masih kecil dan belum makan makanan kepada Rasulullah n, lalu Rasulullah n mendudukkan anak itu di pangkuan beliau. Kemudian anak itu kencing di baju beliau, maka beliau pun meminta dibawakan air, lalu beliau memerciki pakaian beliau (yang terkena air kencing, pent.) dan tidak mencucinya.” (HR. Al­-Bukhari no. 223 dan Muslim no. 287)
Al-Imam Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani t menjelaskan, “Yang dimaksud makanan di sini adalah segala makanan kecuali air susu yang dia minum, atau kurma yang digunakan untuk mentahniknya, ataupun madu yang diberikan untuk pengobatan dan yang lainnya, sehingga yang diinginkan di sini si anak belum diberi makan apapun kecuali air susu semata-mata.” (Fathul Bari, 1/425)
Dalil yang lainnya, dari Abus Samh z mengatakan:
كُنْتُ أَخْدُمُ النَّبِيَّn ، فَكَانَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَغْتَسِلَ قَالَ :وَلِّنِي قَفَاكَ. قَالَ: فَأُوَلِّيهِ قَفَايَ فَأَسْتُرُهُ بِهِ، فَأُتِيَ بِحَسَنٍ أَوْ حُسَيْنٍ c فَبَالَ عَلَى صَدْرِهِ، فَجِئْتُ أَغْسِلُهُ، فَقَالَ: يُغْسَلُ مِنْ بَوْلِ الْجَارِيَةِ، وَيُرَشُّ مِنْ بَوْلِ الْغُلاَمِ
“Aku biasa melayani Nabi n, bila beliau ingin mandi biasanya beliau mengatakan padaku, ‘Balikkan badanmu!’ Lalu aku balikkan badanku dan aku tutupi beliau dengannya. Suatu ketika Hasan –atau Husain– dibawa kepada beliau, lalu kencing di dada beliau. Aku pun datang untuk mencucinya. Maka beliau mengatakan, “Kencing anak perempuan dicuci dan kencing anak laki-laki dicucuri air.” (HR. Abu Dawud no. 376, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih Sunan Abi Dawud)
Riwayat yang lainnya dari istri Rasulullah n, ‘Aisyah x:
أُتِيَ رَسُوْلُ اللهِ n بِصَبِيٍّ يُحَنِّكُهُ، فَبَالَ عَلَيْهِ فَأَتْبَعَهُ الْمَاءَ
“Pernah dibawa ke hadapan Rasulullah n seorang bayi laki-laki yang hendak beliau tahnik, lalu bayi itu mengencingi beliau, maka beliau pun mengiringinya dengan air.” (HR. Al-Bukhari no. 222 dan Muslim no. 286)
Selain hadits-hadits yang telah disebutkan, masih banyak hadits lain yang menerangkan najisnya air kencing bayi.
Bila hal ini telah jelas, selayaknya kita harus mengetahui pula cara menyucikannya. Apabila si bayi laki-laki dan belum mengonsumsi makanan utama apapun kecuali air susu, maka dihilangkan dengan cara digenangi air. Sementara bayi perempuan atau bayi laki-laki yang telah makan makanan lain selain air susu, maka kencingnya disucikan dengan cara dicuci.
Hal ini telah diterangkan oleh hadits-hadits di atas maupun dalam hadits yang lain. Di antaranya disampaikan oleh Lubabah bintu Al-Harits x:
كَانَ الْحُسَيْنُ بْنُ عَلِيٍّ c فِي حِجْرِ رَسُولِ اللهِ n فَبَالَ عَلَيْهِ، فَقُلْتُ: الْبَسْ ثَوْبًا وَأَعْطِنِي إِزَارَكَ حَتَّى أَغْسِلَهُ. قَالَ: إِنَّمَا يُغْسَلُ مِنْ بَوْلِ الْأُنْثَى، وَيُنْضَحُ مِنْ بَوْلِ الذَّكَرِ
“Al-Husain bin ‘Ali c pernah berada di pangkuan Rasulullah n, lalu kencing di situ. Aku pun mengatakan, ‘Pakailah pakaian yang lain dan berikan padaku sarungmu wahai Rasulullah, hingga nanti aku cuci’. Beliau pun menjawab, ‘Sesungguhnya kencing anak perempuan dicuci dan kencing anak laki-laki diperciki dengan air’.” (HR Abu Dawud no. 375, dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih Sunan Abi Dawud: hasan shahih)
Hadits ini menunjukkan dengan jelas adanya perbedaan antara kencing bayi laki-laki dan bayi perempuan dalam cara membersihkannya. Kencing bayi laki-laki cukup dipercik dengan air dan tidak perlu dicuci, sementara kencing bayi perempuan harus dicuci dan tidak cukup hanya diperciki air. (‘Aunul Ma’bud, Kitabuth Thaharah bab Baulish Shabiy Yushibuts Tsaub)
Ali bin Abi Thalib z mengatakan pula:
يُغْسَلُ بَوْلُ الْجَارِيَةِ وَيُنْضَحُ بَوْلُ الْغُلاَمِ مَا لَمْ يَطْعَمْ
“Kencing bayi perempuan dicuci dan kencing bayi laki-laki dipercik, selama bayi itu belum makan makanan.” (HR. Abu Dawud no. 377, dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih Sunan Abi Dawud: shahih mauquf)
Dalam riwayat yang lain ada tambahan dari Qatadah:
هَذَا مَا لَمْ يَطْعَمَا الطَّعَامَ فَإِذَا طَعِمَا غُسِلاَ جَمِيْعًا
“Ini selama keduanya belum makan makanan. Jika keduanya telah makan makanan, maka sama-sama dicuci.” (HR. Abu Dawud no. 378, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih Sunan Abi Dawud)
Al-Hasan Al-Bashri t meriwayatkan dari ibunya1:
أَنَّهَا أَبْصَرَتْ أُمَّ سَلَمَةَ تَصُبُّ الْمَاءَ عَلَى بَوْلِ الْغُلاَمِ مَا لَمْ يَطْعَمْ فَإِذَا طَعِمَ غَسَلَتْهُ، وَكَانَتْ تَغْسِلُ بَوْلَ الْجَارِيَةِ
“Dia melihat Ummu Salamah menuangkan air pada kencing bayi laki-laki selama bayi itu belum makan makanan. Ketika bayi itu telah makan, Ummu Salamah mencucinya. Dia juga mencuci kencing bayi perempuan.” (HR. Abu Dawud no. 379, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih Sunan Abi Dawud)
Demikian tata cara penyucian yang diajarkan dalam Sunnah Rasulullah n, walaupun memang ada perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam hal cara penyucian air kencing bayi ini, sebagaimana diterangkan oleh Al-Imam An-Nawawi t. Beliau mengatakan, “Para ulama berselisih dalam hal cara penyucian kencing bayi laki-laki dan perempuan menjadi tiga pendapat. Pendapat yang benar, masyhur dan terpilih, kencing bayi laki-laki cukup dipercik (dicucuri) air. Sementara kencing bayi perempuan tidak cukup dipercik (dicucuri) air, tetapi harus dicuci sebagaimana najis yang lain. Pendapat kedua, kencing bayi laki-laki dan perempuan cukup dipercik (dicucuri) air. Pendapat ketiga, kedua-duanya tidak cukup hanya dipercik (dicucuri) air. Dua pendapat ini dihikayatkan oleh penulis At-Tatimmah dari kalangan sahabat-sahabat kami maupun selainnya. Dua pendapat ini adalah pendapat yang syadz (aneh) dan lemah.
Di antara ulama yang berpendapat dibedakannya (penyucian kencing bayi laki-laki dan perempuan, pent.) adalah ‘Ali bin Abi Thalib, ‘Atha’ bin Rabah, Al-Hasan Al-Bashri, Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Rahawaih, dan sekelompok ulama lain dari kalangan salaf dan ashabul hadits, juga Ibnu Wahb dari kalangan murid-murid Al-Imam Malik, dan diriwayatkan pula dari Abu Hanifah. Adapun di antara yang berpendapat kedua-duanya harus dicuci adalah Abu Hanifah dan Malik dalam pendapat yang masyhur dari mereka berdua, serta penduduk Kufah.
Ketahuilah, perbedaan pendapat ini hanya terjadi dalam hal tata cara penyucian sesuatu yang terkena kencing bayi laki-laki. Namun tidak ada perbedaan pendapat di antara mereka dalam hal kenajisannya. Sebagian sahabat kami telah menukilkan adanya kesepakatan ulama tentang najisnya kencing bayi laki-laki, dan tidak ada yang menyelisihinya kecuali Dawud Azh-Zhahiri.
Al-Khaththabi dan ulama yang lain mengatakan, pembolehan memerciki kencing bayi laki-laki menurut orang yang berpendapat pembolehannya bukanlah karena kencing bayi laki-laki ini tidak najis, melainkan sebagai peringanan dalam menghilangkannya, sehingga inilah pendapat yang benar. Adapun pendapat yang dihikayatkan oleh Abul Hasan ibnu Baththal, kemudian Al-Qadhi ‘Iyadh dari Asy-Syafi’i dan selainnya –yaitu pendapat bahwa kencing bayi laki-laki suci sehingga hanya dipercik– merupakan hikayat yang batil sama sekali.” (Al-Minhaj, 3/194)
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin t pernah pula ditanya tentang hukum kencing bayi yang mengenai pakaian. Beliau pun menjawab, “Yang benar dalam masalah ini, kencing bayi laki-laki yang baru mengonsumsi air susu saja adalah najis yang ringan dan penyuciannya cukup hanya dengan percikan, yaitu digenangi dengan air –dituangi air sampai terliputi oleh air itu– tanpa dikucek maupun diperas. Hal ini telah pasti adanya dari Nabi n, bahwa pernah seorang bayi laki-laki dibawa ke hadapan beliau, lalu beliau letakkan di pangkuan beliau, kemudian bayi itu kencing di situ. Beliau pun meminta air, lalu menuangkannya pada kencing tersebut tanpa mencucinya. Adapun kencing bayi perempuan, maka harus dicuci, karena pada asalnya air kencing itu najis dan wajib dicuci. Hanya saja dikecualikan air kencing bayi laki-laki yang masih kecil karena sunnah menunjukkan hal ini.” (Majmu’ Fatawa, 11/249)
Terkadang air kencing tak hanya mengenai pakaian, tapi juga lantai. Lebih-lebih bila si anak sudah mulai merambah ke mana-mana, entah merangkak ataupun berjalan.
Jika si anak telah makan makanan, maka hukumnya sama dengan kencing orang dewasa, sehingga disucikan dengan menuangkan air pada tempat yang terkena air kencing itu. Sebagaimana diriwayatkan tata cara seperti ini dari Nabi n oleh Anas bin Malik z:
جَاءَ أَعْرَبِيٌّ فَبَالَ فِي طَائِفَةِ الْمَسْجِدِ، فَزَجَرَهُ النَّاسُ، فَنَهَاهُمُ النَّبِيُّ n فَلَمَّا قَضَى بَوْلَهُ أَمَرَ النَّبِيُّ n بِذَنُوْبٍ مِنْ مَاءٍ فَأُهْرِيْقَ عَلَيْهِ
“Pernah datang seorang Arab dusun, lalu buang air kecil di pinggiran masjid. Orang-orang pun segera menghardiknya, maka Nabi n melarang mereka. Setelah orang itu selesai buang air kecil, beliau meminta seember penuh air, kemudian menuangkan air itu pada bekas air kencing itu.” (HR. Al-Bukhari no. 221 dan Muslim no. 284)
Sebaiknyalah air kencing segera dibersihkan, walaupun bisa pula hilang sama sekali bekas itu dengan angin atau sinar matahari selama beberapa hari, karena dikhawatirkan kita lupa bahwa di tempat itu masih ada bekas air kencing.
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin t pernah ditanya tentang suatu tempat yang terkena najis, kemudian bekas najis itu kering dengan sinar matahari.
Beliau menjawab, “Jika najis itu hilang dengan penghilang apa pun, maka berarti tempat itu telah suci. Karena najis adalah sesuatu yang kotor, jika telah hilang sesuatu yang kotor itu, hilang pula sifatnya (sebagai najis, pent.). Sehingga sesuatu (yang terkena, pent.) pun menjadi suci lagi, karena hukum dalam hal ini tergantung ada atau tidaknya sebab. Menghilangkan najis ini bukan termasuk masalah perintah yang dikatakan harus dilakukan demikian, namun ini termasuk masalah menghindari sesuatu yang harus dijauhi. Hal ini tidaklah tertolak dengan adanya hadits tentang kencingnya seorang A’rabi di dalam masjid dan perintah Nabi n untuk dibawakan seember penuh air lalu dituangkan pada air kencing tersebut, karena perintah Nabi n menuangkan air itu untuk menyegerakan penyucian. Karena tentunya tidak bisa segera suci dengan sinar matahari, bahkan butuh berhari-hari, sementara air bisa menyucikan saat itu juga. Padahal masjid butuh segera disucikan. Oleh karena itu, sepantasnya seseorang segera menghilangkan najis, karena hal ini merupakan petunjuk Nabi n. Juga karena ini akan menghindarkan dari najis sehingga seseorang tidak sampai lupa pada najis itu, atau lupa pada tempat yang terkena najis tadi.” (Majmu’ Fatawa, 11/248)
Yang seperti ini hendaknya diperhatikan sebaik-baiknya oleh para ibu. Tidak sepantasnya hal ini luput dari perhatian kita, agar kita senantiasa dapat menunaikan ibadah kepada Allah l dengan lebih sempurna.
Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.

1 Ibu Al-Hasan Al-Bashri adalah Khairah, maula Ummu Salamah x (lihat Tahdzibut Tahdzib).

Adakah Perayaan Tahun Baru dalam Islam?

(ditulis oleh: Al-Ustadz Saifudin Zuhri, Lc.)
kembang api
الْـحَمْدُ لِلهِ الَّذِي خَلَقَ كُلَّ شَيْء فَقَدَّرَهُ تَقْدِيْرًا وَأَتْقَنَ مَا شَرَعَهُ وَصَنَعَهُ حِكْمَةً وَتَدْبِيْرًا، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَكَانَ اللّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرًا، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَرْسَلَهُ إِلَى الْـخَلْقِ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا وَدَاعِيًا إِلَى اللهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْرًا.
أمَّا بَعْدُ: أَيُّهَا النَّاسُ اتّقُوْا رَبَّكُمْ واعْلَمُوْا مَا لِلهِ مِنَ الْـحِكْمَةِ الْبَالِغَةِ فِيْ تَعَاقُبِ الشُّهُوْرِ وَالأَعْوَامِ.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Segala puji bagi Allah subhanahu wa ta’ala yang menciptakan segala sesuatu dan menetapkan ketentuan atas seluruh makhluk-Nya. Dialah satu-satunya yang menguasai serta mengatur seluruh alam. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti jejaknya hingga akhir zaman.

Saudara-saudaraku yang semoga dirahmati Allah subhanahu wa ta’ala,
Marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala kapan dan di manapun kita berada. Karena dengan bertakwalah seseorang akan mendapatkan pertolongan-Nya untuk bisa menghadapi berbagai problema dan kesulitan yang menghadangnya. Begitu pula, marilah kita senantiasa merenungkan betapa cepatnya waktu berjalan serta mengambil pelajaran dari kejadian-kejadian yang kita saksikan.

Hadirin yang semoga dirahmati Allah subhanahu wa ta’ala,
Bulan demi bulan telah berlalu dan tanpa terasa kita telah berada di pengujung tahun hijriyah. Tidak lama lagi tahun yang lama akan berlalu dan akan datang tahun yang baru. Hal ini menunjukkan semakin berkurangnya waktu hidup kita di dunia dan mengingatkan semakin dekatnya ajal kita. Maka sungguh aneh ketika didapatkan ada sebagian orang yang justru bersenang-senang dengan berfoya-foya dalam menyambut tahun baru. Seakan-akan dia tidak ingat bahwa dengan bertambahnya hari maka bertambah dekat pula saat kematiannya. Di sisi lain, perayaan tahun baru tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Bahkan hal itu justru merupakan kebiasaan yang dilakukan oleh orang-orang orang kafir. Karena mereka sebagaimana disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala adalah orang-orang yang tertipu dengan kehidupan dunia sehingga yang mereka bangga-banggakan adalah kemewahan dunianya. Allah subhanahu wa ta’ala telah menyebutkan tentang mereka di dalam firman-Nya:
“Dan mereka (orang-orang kafir) berbangga-bangga dengan kehidupan dunianya, padahal tidaklah kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, kecuali hanyalah kesenangan (yang sedikit).” (Ar-Ra’d: 26)
Ayat-ayat yang semisal ini banyak disebutkan dalam Al-Qur’an. Mengingatkan kita untuk tidak mengikuti akhlak orang-orang kafir yang membangga-banggakan dunia. Yang demikian ini karena sifat membangga-banggakan dunia akan menyeret pelakunya pada kesombongan dan melalaikannya dari mengingat kematian dan beramal untuk akhiratnya. Oleh karena itu wajib bagi kaum muslimin untuk meninggalkan kebiasaan mereka dalam merayakan tahun baru hijriyah, karena acara tersebut bukan termasuk ajaran Islam. Bahkan merupakan kebiasaan orang-orang kafir.

Saudara-saudaraku yang semoga dirahmati Allah subhanahu wa ta’ala,
Adapun yang semestinya dilakukan oleh seorang muslim terlebih di akhir tahun ini adalah berupaya untuk melakukan interopeksi diri. Selanjutnya bertaubat kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas seluruh kesalahan yang telah dilakukannya serta memohon ampun atas kekurangannya dalam menjalankan ketaatan kepada-Nya. Di samping itu juga memohon pertolongan kepada-Nya untuk bisa istiqamah dan senantiasa bertambah ilmu dan amal shalihnya. Begitu pula berusaha agar hari yang akan datang senantiasa lebih baik dari yang sebelumnya, sehingga hidupnya lebih baik dari kematiannya.

Hadirin rahimakumullah,
Ketahuilah bahwa waktu adalah sesuatu yang sangat berharga bagi seorang muslim. Bahkan lebih berharga dari harta dunia yang dimilikinya. Karena harta apabila hilang maka masih bisa untuk dicari. Sementara waktu apabila telah berlalu tidak mungkin untuk kembali lagi. Sehingga tidak ada yang tersisa dari waktu yang telah lewat kecuali apa yang telah dicatat oleh malaikat. Maka sungguh betapa ruginya orang yang tidak memanfaatkan waktunya apalagi jika dipenuhi dengan kemaksiatan kepada Rabb-nya. Meskipun kehidupannya serba tercukupi dan serba ada, namun apalah artinya kalau seandainya berakhir dengan menerima siksaan api neraka. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Maka tentunya engkau tahu, jika Kami berikan kepada mereka kenikmatan hidup bertahun-tahun. Kemudian datang kepada mereka azab yang telah diancamkan kepada mereka niscaya tidak berguna bagi mereka apa yang mereka selalu menikmatinya.” (Asy-Syu’ara: 205-207)

Hadirin rahimakumullah,
Selanjutnya perlu diketahui pula, bahwasanya tidak disyariatkan bagi kaum muslimin untuk berdoa dengan doa khusus yang dikenal oleh sebagian orang dengan istilah doa akhir tahun dan doa awal tahun. Karena hal ini tidak pernah dicontohkan pula oleh suri tauladan kita Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Sehingga tidak boleh bagi kita untuk mengamalkannya. Karena kita harus mengingat bahwa sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam dan sejelek-jelek amalan adalah yang menyelisihi petunjuknya.
Akhirnya, mudah-mudahan Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan tahun yang akan datang dan tahun-tahun berikutnya menjadi tahun yang penuh dengan keamanan dan kesejahteraan. Mudah-mudahan kaum muslimin baik masyarakatnya maupun para pemimpin bangsanya dimudahkan untuk semakin memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman para sahabat dan para ulama yang mengikuti jalannya serta dalam mengamalkan keduanya.
Walhamdulillahi rabbil ’alamin.
Khutbah Kedua:
الْـحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَـمِيْنَ أَمَرَنَا بِاتِّبَاعِ صِرَاطِهِ الْـمُسْتَقِيْمِ وَنَهَانَا عَنِ اتِّبَاعِ سُبُلِ أَصْحَابِ الْجَحِيْمِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ الْـمَلِكُ الْبَرُّ الرَّحِيْمُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ بَلَّغَ اْلبَلاَغَ الْـمُبِيْنَ، وَقَالَ: عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ تَلَقَّوْا عَنْهُ الدِّيْنَ وَبَلَّغُوْهُ لِلْمُسْلِمِيْنَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّا بَعْدُ:
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Ketahuilah bahwa kemuliaan itu akan diraih manakala kaum muslimin bersungguh-sungguh dalam mengikuti agamanya. Namun ketika kaum muslimin lebih suka untuk mengikuti apa-apa yang bukan dari ajaran agamanya maka kehinaanlah yang akan menimpanya. Oleh karena itulah sejak masa pemerintahan Amiril Mukminin ‘Umar ibn Al-Khaththab radhiallahu ‘anhu ditetapkan penanggalan yang diberlakukan untuk urusan kaum muslimin. Beliau menetapkan peristiwa hijrahnya Nabi n sebagai permulaan penanggalan Islam dan menjadikan bulan Muharram sebagai bulan yang pertama dalam penanggalan tersebut setelah bermusyawarah dengan para sahabat yang
masih hidup di masanya.
Sejak saat itu hingga masa-masa berikutnya, para salafush shalih menjadikannya sebagai penanggalan dalam seluruh urusannya dan meninggalkan untuk menggunakan penanggalan-penanggalan orang-orang kafir yang ada pada waktu itu. Oleh karena itu, sudah seharusnya pula bagi kita untuk mengikuti mereka dalam menggunakan penanggalan tersebut. Cukuplah bagi kita untuk mengikuti petunjuk Rasulullah n dalam menetapkan jumlah hari dalam setiap bulannya. Begitu pula sudah mencukupi bagi kita untuk mengikuti apa yang telah ditetapkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam menetapkan jumlah bulan dalam satu tahun dan mengikuti istilah yang ditetapkan dalam menggunakan nama bulan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram, itulah (ketetapan) agama yang lurus.” (At-Taubah: 36)
Empat bulan haram yang disebutkan dalam ayat tersebut ada tiga bulan yang berurutan, yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram serta ada satu bulan yang bersendirian yaitu bulan Rajab yang berada di antara Jumadi Ats-Tsani dan Sya’ban.
Hadirin rahimakumullah,
Oleh karena itu marilah kita berusaha untuk menjadikan kalender Islam sebagai alat untuk memperhitungkan kegiatan-kegiatan kita. Janganlah kita bermudah-mudah dalam masalah ini dan janganlah kita menyangka bahwa permasalahan ini adalah permasalahan yang semata-mata berkaitan dengan kebiasaan. Ingatlah bahwa di balik penggunaan penanggalan Islam ada usaha menampakkan syiar-syiar Islam. Begitu pula sebaliknya, di balik penggunaan penanggalan orang-orang kafir ada usaha menampakkan syiar-syiar agama mereka yang batil dan tidak diridhai oleh Allah subhanahu wa ta’ala.
Wallahu a’lamu bish-shawab.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، اللَّهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْـمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْـمُشْرِكِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ
الدِّينِ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْـمُوَحِّدِينَ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْـمُسْلِمينَ في كُلِّ مَكَانٍ وَالْـحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَلَمِيْنَ.

Zakat Profesi

Dijawab oleh Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad As-Sarbini Al-Makassari

Para ulama menyatakan suatu kaidah yang agung hasil kesimpulan dari Al-Qur’an dan As-Sunnah bahwa pada asalnya tidak dibenarkan menetapkan disyariatkannya suatu perkara dalam agama yang mulia ini kecuali berdasarkan dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Allah l berfirman:
“Apakah mereka memiliki sekutu-sekutu yang mensyariatkan bagi mereka suatu perkara dalam agama ini tanpa izin dari Allah?” (Asy-Syura: 21)
Jadi pada asalnya tidak ada kewajiban atas seseorang untuk membayar zakat dari suatu harta yang dimilikinya kecuali ada dalil yang menetapkannya. Berdasarkan hal ini jika yang dimaksud dengan zakat profesi bahwa setiap profesi yang ditekuni oleh seseorang terkena kewajiban zakat, dalam arti uang yang dihasilkan darinya berapapun jumlahnya, mencapai nishab1 atau tidak, dan apakah uang tersebut mencapai haul atau tidak2 wajib dikeluarkan zakatnya, maka ini adalah pendapat yang batil. Tidak ada dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah yang menetapkannya. Tidak pula ijma’ umat menyepakatinya. Bahkan tidak ada qiyas yang menunjukkannya.
Adapun jika yang dimaksud dengan zakat profesi adalah zakat yang harus dikeluarkan dari uang yang dihasilkan dan dikumpulkan dari profesi tertentu, dengan syarat mencapai nishab dan telah sempurna haul yang harus dilewatinya, ini adalah pendapat yang benar, yang memiliki dalil dan difatwakan oleh para ulama besar yang diakui keilmuannya dan dijadikan rujukan oleh umat Islam sedunia pada abad ini dalam urusan agama mereka. Hakikatnya ini adalah zakat uang yang telah kami bahas pada Rubrik Problema Anda edisi yang lalu3.
Al-Lajnah Ad-Da’imah menyebutkan dalam Fatawa Al-Lajnah (9/281): “Tidak samar lagi bahwa di antara jenis harta yang terkena kewajiban zakat adalah emas (dinar) dan perak (dirham)4, dan bahwasanya di antara syarat wajibnya zakat pada harta tersebut adalah sempurnanya haul. Berdasarkan hal ini uang yang dikumpulkan dari gaji hasil profesi wajib dikeluarkan zakatnya di akhir tahun apabila jumlahnya mencapai nishab, atau mencapai nishab bersama uang yang lain yang dimilikinya dan telah sempurna haul yang harus dilewatinya. Zakat uang gaji hasil profesi tidak boleh diqiyaskan (disamakan) dengan zakat hasil tanaman (biji-bijian dan buah-buahan yang terkena zakat) yang wajib dikeluarkan zakatnya saat dihasilkan (dipanen). Karena persyaratan sempurnanya haul yang harus dilewati oleh nishab yang ada pada zakat emas (dinar) dan perak (dirham) adalah persyaratan yang tetap berdasarkan nash, dan tidak ada qiyas yang dibenarkan jika bertentangan dengan nash. Dengan demikian, uang yang terkumpul dari gaji hasil profesi tidaklah terkena kewajiban zakat kecuali di akhir tahun saat sempurnanya haul.”
Al-’Allamah Al-’Utsaimin dalam Majmu’ Rasa’il (18/178) berkata: “Tentang zakat gaji bulanan hasil profesi. Apabila gaji bulanan yang diterima oleh seseorang setiap bulannya dinafkahkan untuk memenuhi hajatnya sehingga tidak ada yang tersisa sampai bulan berikutnya, maka tidak ada zakatnya. Karena di antara syarat wajibnya zakat pada suatu harta (uang) adalah sempurnanya haul yang harus dilewati oleh nishab harta (uang) itu. Jika seseorang menyimpan uangnya, misalnya setengah gajinya dinafkahkan dan setengahnya disimpan5, maka wajib atasnya untuk mengeluarkan zakat harta (uang) yang disimpannya setiap kali sempurna haulnya.”
Penjelasan imam ahli fiqih abad ini serta ulama lainnya yang tergabung dalam Komite Fatwa Al-Lajnah Ad-Da’imah yang kami nukilkan di atas sudah cukup bagi siapapun yang mencari kebenaran dalam agama ini. Wallahul muwaffiq. Selanjutnya untuk pedoman umum dalam perhitungan zakat uang yang dikumpulkan oleh seseorang dari gaji profesinya setiap bulan, berikut ini kami nukilkan fatwa Al-Lajnah dan Al-’Utsaimin.
Al-Lajnah menyebutkan dalam Fatawa Al-Lajnah (9/280): “Barangsiapa memiliki sejumlah uang yang merupakan nishab, kemudian dia memiliki tambahan uang berikutnya pada waktu yang berbeda-beda dan bukan hasil keuntungan uang yang pertama kali dimilikinya, melainkan tambahan uang tersendiri yang tidak ada kaitannya dengan uang sebelumnya. Seperti tambahan uang dari gaji profesinya setiap bulan, atau dari uang warisan yang didapatkannya, atau dari pemberian yang diterimanya, atau dari sewa tanah yang disewakannya. Jika dia bertekad untuk mengambil haknya secara utuh dan tidak ingin memberikan kepada fakir miskin lebih dari kadar yang wajib didapatkan oleh mereka dari zakat hartanya, hendaklah dia membuat daftar/catatan khusus untuk menghitung secara khusus haul setiap jumlah uang yang ditambahkannya kepada simpanan sebelumnya mulai dari hari dia memiliki tambahan tersebut, agar dia mengeluarkan zakat setiap tambahan itu setiap kali haul masing-masingnya sempurna. Jika dia tidak ingin terbebani lalu memilih untuk berlapang dada dan sukarela mengutamakan kepentingan fakir miskin serta golongan lainnya yang berhak mendapatkan zakat dari kepentingan pribadinya, maka hendaklah dia mengeluarkan zakat uang yang dimilikinya secara total di akhir haul nishab uang yang pertama kali dimilikinya. Hal ini lebih besar pahalanya, lebih mengangkat derajatnya, lebih melegakan dirinya dan lebih memerhatikan hak fakir miskin serta golongan lainnya yang berhak mendapatkan zakat. Adapun kadar zakat yang lebih dari yang semestinya untuk dikeluarkan pada tahun itu dianggap sebagai zakat yang disegerakan pengeluarannya setahun sebelum waktunya tiba6.”
Al-’Utsaimin t berkata dalam Majmu’ Rasa’il (18/178) setelah menerangkan syarat wajibnya zakat uang yang dikumpulkan dari hasil profesi –yang telah kami nukilkan di atas–: “Namun memberatkan bagi seseorang untuk mencatat setiap tambahan uang yang disisihkan dari gajinya dan ditambahkan pada simpanan sebelumnya dalam rangka menghitung haulnya sendiri-sendiri, sehingga dia bisa mengeluarkan zakatnya pada akhir haulnya masing-masing. Untuk mengatasi kesulitan ini hendaklah dia mengeluarkan zakat total uang yang dimilikinya satu kali dalam setahun di akhir haul nishab yang pertama kali dimilikinya. Misalnya jika simpanan pertamanya yang merupakan nishab sempurna haulnya di bulan Muharram, hendaklah dia menghitung total uang yang dimilikinya di bulan Muharram dan mengeluarkan seluruh zakatnya. Dengan demikian zakat uang yang telah sempurna haulnya dikeluarkan pada waktunya, dan zakat uang yang belum sempurna haulnya disegerakan pengeluarannya setahun sebelumnya dan hal itu boleh.”
Wallahu a’lam.

1 Nishab adalah kadar/nilai tertentu yang ditetapkan dalam syariat apabila harta yang dimiliki oleh seseorang mencapai nilai tersebut maka harta itu terkena kewajiban zakat. (pen)
2 Haul adalah masa satu tahun yang harus dilewati oleh nishab harta tertentu tanpa berkurang sedikitpun dari nishab sampai akhir tahun. Rasulullah n bersabda:
مَنِ اسْتَفَادَ مَالاً فَلاَ زَكَاةَ عَلَيْهِ حَتَّى يَحُوْلَ عَلَيْهِ الْحَوْلُ
“Barangsiapa menghasilkan harta maka tidak ada kewajiban zakat pada harta itu hingga berlalu atasnya waktu satu tahun.”
Hadits ini diriwayatkan oleh beberapa sahabat Nabi, dan pada setiap riwayat tersebut ada kelemahan, namun gabungan seluruh riwayat tersebut saling menguatkan sehingga merupakan hujjah. Bahkan Al-Albani menyatakan bahwa ada satu jalan riwayat yang shahih sehingga beliau menshahihkan hadits ini.
Ibnu Qudamah t berkata dalam Al-Mughni (2/392): “Kami tidak mengetahui adanya khilaf dalam hal ini.” Lihat pula Majmu’ Fatawa (25/14).
Perhitungan haul ini menurut tahun Hijriah dan bulan Qamariah yang jumlahnya 12 (duabelas) bulan dari Muharram sampai Dzulhijjah. Bukan menurut tahun Masehi dan bulan-bulan selain bulan Qamariah. Lihat Al-Muhalla (no. 670), Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah (9/200). (pen)
3 Nishabnya adalah uang yang jumlahnya senilai dengan 85 (delapan puluh lima) gram emas murni atau 595 (lima ratus sembilan puluh lima) gram perak murni. Namun realita yang ada sekarang, harga nishab perak jauh lebih murah dari harga nishab emas, sehingga bisa dikatakan bahwa nishabnya adalah senilai harga 595 gram perak sebagaimana kata guru kami Asy-Syaikh Abdurrahman Mar’i hafizhahullah. Jika nishab yang dimiliki telah sempurna haul yang harus dilewatinya, maka di akhir tahun wajib dikeluarkan zakatnya sebesar 1/40 atau 2,5 % dari uang tersebut.
4 Sementara uang dengan berbagai jenis mata uang yang ada merupakan pengganti emas (dinar) dan perak (dirham) sehingga zakat uang memiliki hukum yang sama dengan zakat emas dan perak. (pen)
5 Maksudnya yang tersimpan adalah nishab, karena apabila uang yang disisihkan dari gajinya untuk disimpan pada bulan pertama tidak mencapai nishab maka belum ada perhitungan haul. Namun pada bulan berikutnya dia menyisihkan lagi sebagian dari gajinya untuk disimpan dan jumlahnya bersama simpanan sebelumnya mencapai nishab –misalnya– saat itulah perhitungan haulnya dimulai. (pen)6 Menyegerakan pengeluaran zakat setahun sebelum waktunya (sebelum sempurna haulnya) boleh menurut jumhur (mayoritas) ulama berdasarkan hadits Ali bin Abi Thalib z:
أَنَّ الْعَبَّاسَ بْنَ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ سَأَلَ النَّبِيَّ n فِيْ تَعْجِيْلِ صَدَقَتِهِ قَبْلَ أَنْ تَحِلَّ، فَرَخَّصَ لَهُ فِيْ ذَلِكَ
“Bahwasanya Al-‘Abbas bin Abdil Muththalib bertanya kepada Nabi n tentang maksudnya untuk menyegerakan pengeluaran zakatnya sebelum waktunya tiba, maka Nabi n memberi kelonggaran kepadanya untuk melakukan hal itu.” (HR Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ad-Daraquthni, Al-Baihaqi, dan yang lainnya.)
Abu Dawud, Ad-Daraquthni, Al-Baihaqi, dan Al-Albani merajihkan bahwa hadits ini mursal namun Al-Albani menghasankannya dalam Irwa’ Al-Ghalil (no. 857) dengan syawahid (penguat-penguat) yang ada.
Adapun memajukan pengeluaran zakat harta yang belum mencapai nishab, hal ini tidak boleh berdasarkan kesepakatan ulama. Karena nishab merupakan sebab (faktor) sehingga suatu harta terkena kewajiban zakat. Jika sebab (faktor) tersebut belum ada, maka pada asalnya harta itu tidak terkena kewajiban zakat. (Al-Mughni 2/395-396, Al-Majmu’ 6/113-114, Asy-Syarhul Mumti’ 6/213-217)

Al-Hakam

(ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi)

Al-Hakam adalah salah satu dari Al-Asma’ul Husna, sebagaimana tersebut dalam hadits berikut ini:
قَالَ أَبُو دَاوُدَ: حَدَّثَنَا الرَّبِيعُ بْنُ نَافِعٍ عَنْ يَزِيدَ -يَعْنِى ابْنَ الْمِقْدَامِ بْنِ شُرَيْحٍ- عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ شُرَيْحٍ عَنْ أَبِيهِ هَانِئٍ أَنَّهُ لَمَّا وَفَدَ إِلَى رَسُولِ اللهِ n مَعَ قَوْمِهِ سَمِعَهُمْ يَكْنُونَهُ بِأَبِى الْحَكَمِ فَدَعَاهُ رَسُولُ اللهِ n فَقَالَ: إِنَّ اللهَ هُوَ الْحَكَمُ، وَإِلَيْهِ الْحُكْمُ فَلِمَ تُكْنَى أَبَا الْحَكَمِ؟ قَالَ: إِنَّ قَوْمِي إِذَا اخْتَلَفُوا فِي شَيْءٍ أَتَوْنِي فَحَكَمْتُ بَيْنَهُمْ فَرَضِيَ كِلاَ الْفَرِيقَيْنِ. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ n: مَا أَحْسَنَ هَذَا، فَمَا لَكَ مِنَ الْوَلَدِ؟ قَالَ: لِي شُرَيْحٌ وَمُسْلِمٌ وَعَبْدُ اللهِ. قَالَ: فَمَنْ أَكْبَرُهُمْ؟ قُلْتُ: شُرَيْحٌ. قَالَ: فَأَنْتَ أَبُو شُرَيْحٍ.
Abu Dawud mengatakan: Telah mengabarkan kepada kami Ar-Rabi’ bin Nafi dari Yazid yakni Ibnul Miqdam bin Syuraih, dari ayahnya dari kakeknya, Syuraih, dari ayahnya, Hani’ bahwa ketika ia datang sebagai utusan kepada Rasulullah n bersama kaumnya, Nabi mendengar mereka memanggil kunyahnya (yakni julukan dengan didahului kata abu), ‘Abu Al-Hakam’. Maka Rasulullah n memanggilnya dan berkata kepadanya:
“Sesungguhnya Allah-lah Al-Hakam dan kepada-Nyalah makhluk berhukum. Kenapa kunyahmu disebut Abu Al-Hakam?” Ia menjawab: “Sesungguhnya bila kaumku berselisih dalam suatu urusan, mereka mendatangiku lalu aku putuskan hukum di antara mereka sehingga kedua belah pihak rela.” Maka Rasulullah n berkata: “Betapa bagusnya perbuatanmu ini. Siapa nama anak-anakmu?” “Saya punya anak bernama Syuraih, Muslim, dan Abdullah,” jawabnya. Nabi n bertanya lagi: “Siapakah yang terbesar?” Aku menjawab: “Syuraih.” Maka Nabi n katakan: “Kalau begitu engkau adalah Abu Syuraih.” (Shahih, HR. Abu Dawud no. 4957)

Makna Al-Hakam
Al-Hakam sama dengan Al-Haakim, yakni Yang menetapkan hukum. Adapun kata hukum dalam bahasa Arab pada asalnya bermakna: mencegah kerusakan dan kezaliman serta menyebarkan keadilan dan kebaikan. (Shifatullah Al-Waridah fil Kitab was Sunnah hal. 88)
Al-Baghawi mengatakan: “Al-Hakam adalah Al-Haakim. Yaitu Yang bila menetapkan suatu hukum maka hukumnya tidak bisa ditolak atau dihindari. Sifat ini tidak pantas untuk selain Allah l. Allah l berfirman:
“Dan Allah menetapkan hukum (menurut kehendak-Nya), tidak ada yang dapat menolak ketetapan-Nya; dan Dia-lah Yang Maha cepat hisab-Nya.” (Ar-Ra’d: 41)
Susunan kalimat (dalam hadits) khabar (Al-Hakam) yang didahului dengan dhamir fashl (huwa) menunjukkan pembatasan sifat itu hanya pada Allah l. Maka sifat ini khusus bagi-Nya saja, tidak melampaui yang lain. (dinukil dari kitab Taisir Al-Aziz Al-Hamid hal. 616)
Ibnu Utsaimin t mengatakan: “Yakni Dialah yang berhak menjadi hakim atas hamba-Nya. Adapun hukum Allah l itu terbagi menjadi dua:
Pertama, hukum kauni, alam.
Terhadap hukum yang ini, tiada yang dapat menolaknya. Tak seorangpun. Di antara ayat yang menunjukkan demikian:
“Sebab itu aku tidak akan meninggalkan negeri Mesir, sampai ayahku mengizinkan kepadaku (untuk kembali), atau Allah memberi ketentuan/ keputusan terhadapku. Dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya.” (Yusuf: 80)
Kedua, hukum syar’i.
Di hadapan hukum syar’i, manusia terbagi menjadi dua golongan, mukmin dan kafir. Maka yang ridha dengannya dan berhukum dengannya adalah mukmin. Sedangkan yang tidak ridha dan juga tidak berhukum dengannya maka kafir. Di antara ayat yang menunjukkan demikian adalah:
“Tentang sesuatu apapun kamu berselisih maka putusannya (terserah) kepada Allah. (Yang mempunyai sifat-sifat demikian) itulah Allah Rabbku. Kepada-Nyalah aku bertawakkal dan kepada-Nyalah aku kembali.” (Asy-Syura: 10) [Al-Qaulul Mufid, 3/23-24 dengan diringkas]
As-Sa’di mengatakan: “Di antara nama-nama Allah adalah Al-Hakam Al-‘Adl, yang menghukumi di antara hamba-hamba-Nya di dunia dan di akhirat nanti dengan keadilan-Nya. Sehingga Ia tidak akan menzalimi walaupun seberat semut kecil. Tidak akan menimpakan dosa seseorang kepada orang lain. Sehingga Ia tidak memberikan balasan kepada seseorang lebih dari dosanya. Allah l akan sampaikan hak kepada masing-masing yang berhak mendapatkannya, sehingga tidak ia biarkan seorang pun yang punya hak melainkan haknya akan sampai kepadanya. Dan Dia Yang Adil dalam pengaturannya:
“Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah Rabbku dan Rabbmu. Tidak ada suatu binatang melatapun melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Rabbku di atas jalan yang lurus.” (Hud: 56)
Hakim Yang Adil, yang kepada-Nyalah kembalinya hukum segala sesuatu. Maka Allah l  menghukumi dengan syariat-Nya dan Dia menerangkan kepada hamba-Nya seluruh cara yang dengannya diadili di antara dua pihak yang bertikai, dan diputuskan antara dua pihak yang berselisih dengan cara-cara yang adil dan hikmah. Dia menghukumi di antara manusia pada apa yang mereka perselisihkan. Allah l menghukumi padanya dengan hukum qadha dan qadar, sehingga berjalan pada mereka hukum tersebut sesuai dengan hikmahnya. Dia letakkan segala sesuatu pada tempatnya dan menempatkannya pada posisinya. Dia memutuskan di antara mereka pada hari pembalasan dan pada hari perhitungan, menghukumi di antara mereka dengan kebenaran. Makhluk pun memuji-Nya atas hukum-Nya, sampaipun yang Allah l putuskan siksa untuk mereka. Mereka mengakui keadilan Allah l dan bahwa Allah l tidak menzalimi mereka walupun seberat semut kecil.” (Tafsir Al-Asma’ul Husna karya As-Sa’di)

Buah Mengimani Nama Allah Al-Hakam
Dengan mengimani nama Allah l tersebut maka akan menumbuhkan ketundukan kita kepada Allah l, karena mengakui akan kebesaran dan kemampuan-Nya, serta mengetahui kelemahan makhluk dan keterbatasan mereka. Juga membuahkan rasa takut kepada-Nya, karena di akhirat kelak, Allah l akan menghukumi dengan keadilan yang hakiki. Kalaulah bukan karena rahmat-Nya niscaya kita akan diazab-Nya.
Wallahu a’lam bish-shawab.

Waktu-waktu Shalat Sunnah

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim Al-Atsari)

1. SHALAT DHUHA
Shalat dhuha dikerjakan pada siang hari. Waktunya yang utama/afdhal disebutkan dalam hadits di bawah ini:
Zaid bin Arqam z melihat orang-orang sedang shalat dhuha, maka ia berkata: Ketahuilah, orang-orang itu sungguh mengetahui bahwa shalat (dhuha) di selain waktu ini lebih utama. Rasulullah n bersabda:
صَلاَةُ الْأَوَّابِيْنَ حِيْنَ تَرْمَضُ الْفِصَالُ
“Shalatnya awwabin adalah tatkala anak unta merasakan kakinya kepanasan karena terbakar panasnya pasir.” (HR. Muslim no. 1743)
Waktu yang demikian itu, kata Al-Imam Ash-Shan’ani t adalah ketika matahari telah tinggi dan panasnya terasa. (Subulus Salam, 3/50)
Al-Imam An Nawawi t berkata, “Ar-Ramdha’ adalah pasir yang panasnya bertambah sangat karena terbakar matahari. Shalat awwabin adalah saat kaki-kaki anak unta yang masih kecil terbakar karena menapak/menginjak pasir yang sangat panas. Awwab adalah orang yang taat. Ada yang mengatakan awwab adalah orang yang kembali dengan melakukan ketaatan. Dalam hadits ini ada keutamaan shalat di waktu tersebut dan ia merupakan waktu yang paling utama untuk mengerjakan shalat dhuha, walaupun shalat dhuha boleh dikerjakan dari mulai terbitnya matahari sampai tergelincirnya.” (Al-Minhaj, 6/272)
Ucapan beliau t bahwa waktu shalat dhuha yaitu mulai terbitnya matahari sampai zawal tentunya tidak persis saat terbitnya matahari, karena adanya larangan yang datang dalam hadits lain untuk mengerjakan shalat di waktu tersebut seperti hadits berikut ini:
Dari Ibnu Umar c, ia berkata: Rasulullah n bersabda:
وَلاَ تَحَرَّوْا بِصَلاَتِكُم طُلُوْعَ الشَّمْسِ وَلاَ غُرُوْبَهَا، فَإِنَّهَا تَطْلُعُ بِقَرْنَيْ شَيْطَانٍ
“Janganlah kalian memilih untuk mengerjakan shalat kalian ketika terbit matahari dan tidak pula ketika tenggelam matahari, karena matahari terbit di antara dua tanduk setan.” (HR. Al-Bukhari no. 582, 3272 dan Muslim no. 1922)
Uqbah bin Amir z berkata:
ثَلاَثُ سَاعَاتٍ كَانَ النَّبِيُّ n يَنْهَانَا أَنْ نُصَلِّيَ فِيْهِنَّ، أَوْ أَنْ نَقْبُرَ فِيْهِنَّ مَوْتَانَا: حِيْنَ تَطْلُعُ الشَّمْسُ بَازِغَةً حَتَّى تَرْتَفِعَ…
“Ada tiga waktu di mana Nabi n melarang kami untuk melaksanakan shalat di tiga waktu tersebut atau menguburkan jenazah kami, yaitu ketika matahari terbit sampai tinggi….” (HR. Muslim no. 1926)
Demikian pula hadits ‘Amr bin ‘Abasah z yang menyebutkan sabda Rasulullah n kepadanya:
صَلِّ صَلاَةَ الصُّبْحِ، ثُمَّ أَقْصِرْ عَنِ الصَّلاَةِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ حَتَّى تَرْتَفِعَ، فَإِنَّهَا تَطْلُعُ حِيْنَ تَطْلُعُ بَيْنَ قَرْنَيْ شَيْطَانٍ، وَحِيْنَئِذٍ يَسْجُدُ لَهَا الْكُفَّارُ….
“Kerjakanlah shalat subuh kemudian tahanlah dari mengerjakan shalat ketika matahari terbit sampai tinggi karena matahari terbit di antara dua tanduk setan dan ketika itu orang-orang kafir sujud kepada matahari….” (HR. Muslim no. 1927)
Adapun hadits Abud Darda’ dan Abu Dzar c yang mengabarkan dari Rasulullah n, dari Allah k, bahwasanya Dia berfirman:
ابْنَ آدَم، اِرْكَعْ لِي أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ، أَكْفِكَ آخِرَهُ
“Wahai anak Adam, ruku’lah (shalatlah) untuk-Ku empat rakaat dari awal siang niscaya Aku akan mencukupimu pada akhir siangmu.” (HR. At-Tirmidzi no. 475, ia berkata, “Hadits ini hasan gharib.” Dishahihkan Al-Imam Al-Albani t dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi)
Demikian juga dalam riwayat Ahmad (4/153) dari ‘Uqbah bin ‘Amir Al-Juhani z disebutkan dengan lafadz:
إِنَّ اللهَ k يَقُوْلُ: يَا ابْنَ آدَمَ، اكْفِنِي أَوَّلَ النَّهَارِ بِأَرْبَعِ رَكَعَاتٍِ، أَكْفِكَ بِهِنَّ آخِرَ يَوْمِكَ
“Sesungguhnya Allah k berfirman: ‘Wahai anak Adam, cukupi Aku pada awal siang dengan empat rakaat niscaya Aku akan mencukupimu dengannya pada akhir harimu’.”
Maka yang dimaksud awal siang dalam dua hadits di atas bukan persis setelah shalat subuh, karena adanya hadits Rasulullah n:
لاَ صَلاَةَ بَعْدَ الصُّبْحِ حَتَّى تَرْتَفِعَ الشَّمْسُ وَلاَ صَلاَةَ بَعْدَ الْعَصْرِ حَتَّى تَغِيْبَ الشَّمْسُ
“Tidak ada shalat setelah subuh sampai matahari tinggi dan tidak ada shalat setelah ashar sampai matahari tenggelam.” (HR. Al-Bukhari no. 586 dan Muslim no. 1920)
Al-Imam Asy-Syaukani t menerangkan, “Ulama berbeda pendapat tentang waktu masuknya shalat dhuha. Al-Imam An-Nawawi t dalam Ar-Raudhah meriwayatkan dari para pengikut mazhab Asy-Syafi’i bahwa waktu dhuha mulai masuk dengan terbitnya matahari, akan tetapi disenangi mengakhirkannya sampai matahari tinggi. Sebagian dari mereka berpendapat, waktunya mulai masuk saat matahari tinggi. Pendapat ini yang ditetapkan oleh Ar-Rafi’i dan Ibnu Ar-Rif’ah.” (Nailul Authar, 2/329)
Dalam Zadil Mustaqni’ disebutkan, “Waktu dhuha mulai dari selesainya waktu larangan shalat sampai sesaat sebelum zawal.”
Kata pensyarahnya, “Yakni dari naiknya matahari seukuran tombak sampai masuknya waktu larangan shalat dengan matahari berada di tengah langit. Waktunya yang paling utama adalah apabila panas matahari terasa menyengat.” (Ar-Raudhul Murbi’, 1/176)
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin t menyatakan bahwa ukuran satu tombak itu menurut penglihatan mata orang yang melihat dan ukurannya sekitar satu meter1. Kemudian beliau menyimpulkan bahwa waktu dhuha dimulai dari berakhirnya waktu larangan shalat di awal siang sampai datangnya waktu larangan di tengah siang (tengah hari). Mengerjakannya di akhir waktu lebih utama karena adanya hadits Nabi n tentang shalat awwabin. (Asy-Syarhul Mumti’, 4/88)

Nabi n Mengerjakan Shalat Dhuha setelah Siang Meninggi
Dalam peristiwa Fathu Makkah, Ummu Hani x mengabarkan:
أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ n أَتَى بَعْدَ مَا ارْتَفَعَ النَّهَارُ يَوْمَ الْفَتْحِ، فَأُتِيَ بِثَوْبٍ فَسُتِرَ عَلَيْهِ فَاغْتَسَلَ ثُمَّ قَامَ، فَرَكَعَ ثَمَانِي رَكَعَاتٍ…
“Rasulullah n datang pada hari Fathu Makkah setelah siang meninggi, lalu didatangkan kain untuk menutupi beliau yang hendak mandi. (Seselesainya dari mandi) beliau bangkit untuk mengerjakan shalat sebanyak delapan rakaat….” (HR. Muslim no. 1665)

2. SHALAT WITIR
Shalat witir merupakan shalat nafilah yang dilakukan di malam hari dengan bilangan ganjil dan merupakan akhir dari shalat lail/tahajjud, berdasarkan sabda Rasulullah n:
اجْعَلُوا آخِرَ صَلاَتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرًا
“Jadikanlah witir sebagai akhir shalat kalian di waktu malam.” (HR. Al-Bukhari no. 998 dan Muslim no. 1752)
Ketika ada seseorang bertanya kepada Rasulullah n tentang shalat lail, beliau n menjawab:
صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى، فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمُ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً تُوْتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى
“Shalat lail itu dikerjakan dua rakaat, dua rakaat. Apabila salah seorang dari kalian mengkhawatirkan masuknya shalat subuh maka ia mengerjakan shalat satu rakaat sebagai pengganjil (witir) dari shalat yang telah dikerjakannya.” (HR. Al-Bukhari no. 990 dan Muslim no. 1745 )
Waktu shalat witir terus berlangsung sampai saat sahur sebagaimana kabar Ummul Mukminin Aisyah x tentang witir Rasulullah n:
كُلُّ اللَّيْلِ أَوْتَرَ رَسُوْلُ اللهِ n وَانْتَهَى وِتْرُهُ إِلَى السَّحَرِ
“Seluruh waktu malam Rasulullah n pernah mengerjakan shalat witir dan berakhir witir beliau sampai waktu sahur.” (HR. Al-Bukhari no. 996 dan Muslim no. 1735)
Dalam lafadz lain:
مِنْ كُلِّ اللَّيْلِ قَدْ أَوْتَرَ رَسُوْلُ اللهِ n مِنْ أَوَّلِ اللَّيْلِ وَأَوْسَطِهِ وَآخِرِهِ، فَانْتَهَى وِتْرُهُ إِلَى السَّحَرِ
“Dari setiap (waktu) malam Rasulullah pernah mengerjakan shalat witir, dari awal malam, tengah dan akhirnya. Berakhir witir beliau sampai sahur.” (HR. Muslim no. 1734)
Al-Hafizh Ibnu Hajar t berkata: “Malam hari seluruhnya merupakan waktu untuk mengerjakan shalat witir. Namun ulama sepakat bahwa awal waktunya adalah saat hilangnya syafaq setelah shalat Isya. Demikian yang dinukilkan Ibnul Mundzir. Sebagian mereka memutlakkan bahwa waktu witir itu dimulai (mulai masuk) dengan masuknya waktu Isya….” (Fathul Bari, 2/626)
Al-Imam An-Nawawi t menyatakan, “Hadits ini menunjukkan bolehnya mengerjakan witir pada seluruh waktu malam setelah masuknya waktu witir. Ulama berbeda pendapat tentang awal waktu witir. Yang shahih dalam mazhab kami dan yang masyhur menurut Asy-Syafi’i serta pengikut mazhabnya adalah waktu witir masuk setelah selesai mengerjakan shalat Isya, dan terus berlangsung waktunya sampai terbitnya fajar….” (Al-Minhaj, 6/267)
Waktu yang utama/afdhal untuk mengerjakan witir adalah di akhir malam, seperti yang ditunjukkan dalam hadits Jabir z, ia berkata: Rasulullah n bersabda:
مَنْ خَافَ أَنْ لاَ يَقُوْمَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ فَلْيُوْتِرْ أَوَّلَهُ، وَمَنْ طَمَعَ أَنْ يَقُوْمَ آخِرَهُ، فَلْيُوْتِرْ آخِرَ اللَّيْلِ، فَإِنَّ صَلاَةَ آخِرِ اللَّيْلِ مَشْهُوْدَةٌ، وَذلِكَ أَفْضَلُ
“Siapa yang khawatir tidak dapat bangun untuk shalat di akhir malam maka hendaklah ia berwitir di awal malam. Siapa yang sangat berkeinginan untuk bangun di akhir malam maka hendaklah ia mengerjakan witir di akhir malam, karena shalat di akhir malam itu disaksikan dan yang demikian itu lebih utama.” (HR. Muslim no. 1763)
Dalam hadits di atas ada dalil yang sharih/jelas bahwa mengakhirkan pelaksanaan witir sampai akhir malam itu lebih utama/afdhal bagi orang yang yakin dapat terbangun di akhir malam. Namun bagi orang yang tidak yakin dapat bangun di akhir malam, maka yang utama baginya adalah mengerjakan witir di awal malam. Dalilnya adalah hadits Abu Hurairah z, ia berkata:
أَوْصَانِي خَلِيْلِي n بِثَلاَثٍ: بِصِيَامِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَرَكْعَتَيِ الضُّحَى وَأَنْ أُوتِرَ قَبْلَ أَنْ أَنَامَ
“Kekasihku n mewasiatkan kepadaku (agar mengerjakan) tiga perkara (yaitu) puasa tiga hari setiap bulannya, dua rakaat dhuha dan agar aku berwitir sebelum tidur.” (HR. Al-Bukhari no. 1981 dan Muslim no. 1669)
Dengan datangnya subuh, berakhirlah waktu shalat witir. Rasulullah n bersabda:
أَوْتِرُوْا قَبْلَ أَنْ تُصْبِحُوا
“Kerjakanlah oleh kalian shalat witir sebelum kalian berada di waktu subuh.” (HR. Muslim no. 1761)
Demikian juga hadits Ibnu Umar c:
مَنْ صَلَّى مِنَ اللَّيْلِ فَلْيَجْعَلْ آخِرَ صَلاَتِهِ وِتْرًا، فَإِنَّ رَسُوْلَ اللهِ n كَانَ يَأْمُرُ بِذَلِكَ، فَإِذَا كَانَ الْفَجْرُ فَقَدْ ذَهَبَ كُلُّ صَلاَةِ اللَّيْلِ وَالْوِتْرِ
“Siapa yang shalat di malam hari, hendaklah ia menjadikan akhir shalatnya itu witir, karena Rasulullah n memerintahkan yang demikian itu. Apabila fajar telah datang maka berakhirlah seluruh shalat lail dan witir.” (HR. Al-Hakim dalam Mustadrak 1/302. Al-Imam Adz-Dzahabi menshahihkannya dalam At-Talkhis. Al-Hafizh berkata (Fathul Bari, 2/618), “Hadits ini dishahihkan oleh Abu ‘Awanah dan selainnya, dari jalan Sulaiman bin Musa, dari Nafi’, dari Ibnu Umar.”)

3. SHALAT IDUL FITHRI DAN IDUL ADHA
Yazid bin Khimyar mengabarkan:
خَرَجَ عَبْدُ اللهِ بْنُ بُسْرٍ صَاحِبُ رَسُوْلِ اللهِ n مَعَ النَّاسِ فِي يَوْمِ عِيْدِ فِطْرٍ أَوْ أَضْحَى، فَأَنْكَرَ إِبْطَاءَ الْإِمَامِ، فَقَالَ: إِنَّا كُنَّا قَدْ فَرَغْنَا سَاعَتَنَا هَذِهِ، وَذَلِكَ حِيْن التَّسْبِيْحِ
“Abdullah bin Busr z sahabat Rasulullah n keluar (untuk mengerjakan shalat) bersama orang-orang pada hari Idul Fithri atau Idul Adha. Ia pun mengingkari keterlambatan imam. Ia berkata, ‘Sungguh kami dahulu telah selesai dari mengerjakan shalat id pada waktu kita sekarang ini.’ Waktu pelaksanaan shalat id itu ketika waktu tasbih.” (HR. Al-Bukhari dalam Shahih-nya secara mu’allaq dan Abu Dawud dalam Sunan-nya secara maushul no. 1135, dishahihkan Al-Imam Al-Albani t dalam Shahih Abi Dawud dan juga dalam Al-Irwa’ 3/101)
Dalam hadits di atas, Abdullah bin Busr z mengingkari terlambatnya imam keluar ke tanah lapang untuk mengimami jamaah shalat id. Dulunya di waktu seperti itu, mereka telah selesai melaksanakan shalat id bersama Rasulullah n. Waktu itu adalah ketika dilaksanakannya shalat dhuha. Al-Qasthalani t berkata, “Waktu tasbih adalah waktu shalat nafilah (sunnah) apabila telah berlalu waktu karahah.” (Aunul Ma’bud, kitab Ash-Shalah, bab Waqtul Khuruj ilal ‘Id)
Al-Imam Ibnu Qudamah t dalam Al-‘Umdah mengatakan, “Waktu shalat id dimulai dari naiknya matahari dan berakhir ketika zawal.” (Al-‘Uddah Syarhul ‘Umdah, hal. 108)
Dalam Zadil Mustaqni’ disebutkan, “Waktu id sama dengan waktu shalat dhuha.” (Zadil Mustaqni’ dengan Ar-Raudhul Murbi’, 1/237)
Ibnu Hazm t berkata: “Yang sunnah dalam pelaksanaan shalat id adalah penduduk setiap kampung atau kota keluar menuju tanah lapang luas yang ada di tempat tinggal/daerah mereka pada pagi hari saat matahari telah naik dan memutih, dan ketika mulai dibolehkannya melakukan shalat sunnah (dengan berlalunya waktu karahah, pent.). Setelahnya, imam datang lalu maju ke depan shaf, tanpa didahului dengan azan ataupun iqamah, lalu imam pun shalat (mengimami manusia)….” (Al-Muhalla, 3/293)
Al-Hafizh Ibnu Hajar t menyatakan: Ibnu Baththal berkata: “Fuqaha sepakat bahwa shalat id tidak boleh dilaksanakan sebelum terbit matahari dan tidak pula tepat saat matahari terbit. Shalat id hanya boleh dilaksanakan ketika telah diperkenankan melaksanakan shalat sunnah (karena telah berlalunya waktu karahah, pent.).” (Fathul Bari, 2/589)
Adapun hadits marfu’ yang membedakan waktu pelaksanaan shalat idul fithri dan idul adha, kalau idul fithri saat matahari naik/tingginya seukuran dua tombak, adapun idul adha saat matahari naik/tingginya seukuran satu tombak dari hadits Jundab z:
كَانَ النَّبِيُّ n يُصَلِّي بِنَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَالشَّمْسُ عَلَى قَيْدِ رُمْحَيْنِ وَالْأَضْحَى عَلَى قَيْدِ رُمْحٍ
“Adalah Nabi n shalat mengimami kami pada hari idul fithri dalam keadaan matahari tingginya seukuran dua tombak dan pada hari idul adha dalam keadaan matahari tingginya seukuran satu tombak.” (Hadits ini diriwayatkan dalam Al-Adhahi oleh Al-Hasan ibn Ahmad Al-Banna’2)
Al-Imam Asy-Syaukani t berkata, “Hadits ini yang paling bagus dari riwayat-riwayat tentang penentuan pasti waktu shalat id.” Namun, kata Al-Imam Al-Albani t, “Memang demikian, hanya saja hadits ini tidak shahih.” (Tamamul Minnah, hal. 347)
Karena dalam sanadnya ada Al-Mu’alla bin Hilal, dia seorang pendusta. Kata Al-Hafizh t dalam Taqrib-nya, “Al-Mu’alla bin Hilal disepakati kedustaannya oleh para imam pengkritik rawi.”
Ada juga riwayat Al-Imam Asy-Syafi’i  t dalam Musnad­-nya (no. 322) secara mursal:
أَنَّ رَسُولَ اللهِ n كَتَبَ إِلَى عَمْرِو بْنِ حَزْمٍ وَهُوَ بِنَجْرَانَ: أَنْ عَجِّلِ الْأَضْحَى وَأَخِّرِ الْفِطْرَ وَ ذَكِّرِ النَّاسَ
Bahwasanya Nabi menulis surat kepada ‘Amr bin Hazm ketika sedang berada di Najran, yang isinya, “Segerakanlah shalat idul adha, akhirkanlah shalat idul fithri, dan berikanlah peringatan/nasihat kepada manusia.”
Namun kata Al-Allamah Shiddiq Hasan Khan t, “Dalam sanad hadits ini ada Ibrahim bin Muhammad, guru Asy-Syafi’i. Dia perawi yang dhaif/lemah. Sungguh telah terjadi kesepakatan atas faedah yang diberikan oleh hadits-hadits tersebut, sekalipun hujjah tidak dapat ditegakkan dengan semisal hadits-hadits tersebut.” (Ar-Raudhatin Nadiyah dengan At-Ta’liqat Ar-Radhiyah, 1/387)

Apabila Hari Id Baru Diketahui Setelah Zawal
Apabila kita terlambat mengetahui datangnya hari Id dan sudah berlalu waktu disyariatkannya shalat id karena matahari telah tergelincir/zawal, maka kita melaksanakan shalat id pada esok paginya sebagai qadha shalat id yang terluputkan. (Al-Mulakhkhash Al-Fiqhi, 1/211)
Dalilnya adalah hadits berikut ini:
Dari Abu ‘Umair bin Anas, dari paman-pamannya yang merupakan sahabat Rasulullah n dari kalangan Anshar, mereka berkata, “Tertutup (awan/mendung) bagi kami hilal (bulan muda, sebagai pertanda awal masuknya bulan hijriyah, pent.) bulan Syawwal. Maka kami berpagi hari dalam keadaan tetap berpuasa (karena menyangka masih bulan Ramadhan/yakni menggenapkan Ramadhan 30 hari, pent.). Lalu pada akhir siang datanglah serombongan musafir yang berkendaraan menemui Rasulullah n. Mereka bersaksi bahwa mereka telah melihat hilal kemarin. Maka Rasulullah n memerintahkan orang-orang untuk berbuka puasa (membatalkan puasa yang sedang dikerjakan karena sudah berlalu bulan Ramadhan, pent.) pada hari mereka tersebut. Dan agar pagi hari besok mereka menuju tanah lapang mereka untuk melaksanakan shalat id.” (HR. Abu Dawud no. 1157, Ahmad 5/57, dll. Dishahihkan Al-Imam Al-Albani t dalam Shahih Abi Dawud)
Seandainya boleh mengerjakan shalat id setelah zawal niscaya Nabi n tidak mengakhirkannya sampai keesokan harinya. (Al-Mulakhkhash Al-Fiqhi, 1/211)
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

1 Al-Imam Al-Albani t ketika ditanya tentang kadar rumh/satu tombak, beliau mengatakan dua meter bila dikiaskan dengan ukuran yang ada pada hari ini. (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Muyassarah, 2/167)
2 Ahli fiqih dan muhaddits bermazhab Hambali, wafat 471 H. (Syadzaratudz Dzahab 3/338-339)

Waktu-wakktu Shalat Sunnah

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim Al-Atsari)

1. SHALAT DHUHA
Shalat dhuha dikerjakan pada siang hari. Waktunya yang utama/afdhal disebutkan dalam hadits di bawah ini:
Zaid bin Arqam z melihat orang-orang sedang shalat dhuha, maka ia berkata: Ketahuilah, orang-orang itu sungguh mengetahui bahwa shalat (dhuha) di selain waktu ini lebih utama. Rasulullah n bersabda:
صَلاَةُ الْأَوَّابِيْنَ حِيْنَ تَرْمَضُ الْفِصَالُ
“Shalatnya awwabin adalah tatkala anak unta merasakan kakinya kepanasan karena terbakar panasnya pasir.” (HR. Muslim no. 1743)
Waktu yang demikian itu, kata Al-Imam Ash-Shan’ani t adalah ketika matahari telah tinggi dan panasnya terasa. (Subulus Salam, 3/50)
Al-Imam An Nawawi t berkata, “Ar-Ramdha’ adalah pasir yang panasnya bertambah sangat karena terbakar matahari. Shalat awwabin adalah saat kaki-kaki anak unta yang masih kecil terbakar karena menapak/menginjak pasir yang sangat panas. Awwab adalah orang yang taat. Ada yang mengatakan awwab adalah orang yang kembali dengan melakukan ketaatan. Dalam hadits ini ada keutamaan shalat di waktu tersebut dan ia merupakan waktu yang paling utama untuk mengerjakan shalat dhuha, walaupun shalat dhuha boleh dikerjakan dari mulai terbitnya matahari sampai tergelincirnya.” (Al-Minhaj, 6/272)
Ucapan beliau t bahwa waktu shalat dhuha yaitu mulai terbitnya matahari sampai zawal tentunya tidak persis saat terbitnya matahari, karena adanya larangan yang datang dalam hadits lain untuk mengerjakan shalat di waktu tersebut seperti hadits berikut ini:
Dari Ibnu Umar c, ia berkata: Rasulullah n bersabda:
وَلاَ تَحَرَّوْا بِصَلاَتِكُم طُلُوْعَ الشَّمْسِ وَلاَ غُرُوْبَهَا، فَإِنَّهَا تَطْلُعُ بِقَرْنَيْ شَيْطَانٍ
“Janganlah kalian memilih untuk mengerjakan shalat kalian ketika terbit matahari dan tidak pula ketika tenggelam matahari, karena matahari terbit di antara dua tanduk setan.” (HR. Al-Bukhari no. 582, 3272 dan Muslim no. 1922)
Uqbah bin Amir z berkata:
ثَلاَثُ سَاعَاتٍ كَانَ النَّبِيُّ n يَنْهَانَا أَنْ نُصَلِّيَ فِيْهِنَّ، أَوْ أَنْ نَقْبُرَ فِيْهِنَّ مَوْتَانَا: حِيْنَ تَطْلُعُ الشَّمْسُ بَازِغَةً حَتَّى تَرْتَفِعَ…
“Ada tiga waktu di mana Nabi n melarang kami untuk melaksanakan shalat di tiga waktu tersebut atau menguburkan jenazah kami, yaitu ketika matahari terbit sampai tinggi….” (HR. Muslim no. 1926)
Demikian pula hadits ‘Amr bin ‘Abasah z yang menyebutkan sabda Rasulullah n kepadanya:
صَلِّ صَلاَةَ الصُّبْحِ، ثُمَّ أَقْصِرْ عَنِ الصَّلاَةِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ حَتَّى تَرْتَفِعَ، فَإِنَّهَا تَطْلُعُ حِيْنَ تَطْلُعُ بَيْنَ قَرْنَيْ شَيْطَانٍ، وَحِيْنَئِذٍ يَسْجُدُ لَهَا الْكُفَّارُ….
“Kerjakanlah shalat subuh kemudian tahanlah dari mengerjakan shalat ketika matahari terbit sampai tinggi karena matahari terbit di antara dua tanduk setan dan ketika itu orang-orang kafir sujud kepada matahari….” (HR. Muslim no. 1927)
Adapun hadits Abud Darda’ dan Abu Dzar c yang mengabarkan dari Rasulullah n, dari Allah k, bahwasanya Dia berfirman:
ابْنَ آدَم، اِرْكَعْ لِي أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ، أَكْفِكَ آخِرَهُ
“Wahai anak Adam, ruku’lah (shalatlah) untuk-Ku empat rakaat dari awal siang niscaya Aku akan mencukupimu pada akhir siangmu.” (HR. At-Tirmidzi no. 475, ia berkata, “Hadits ini hasan gharib.” Dishahihkan Al-Imam Al-Albani t dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi)
Demikian juga dalam riwayat Ahmad (4/153) dari ‘Uqbah bin ‘Amir Al-Juhani z disebutkan dengan lafadz:
إِنَّ اللهَ k يَقُوْلُ: يَا ابْنَ آدَمَ، اكْفِنِي أَوَّلَ النَّهَارِ بِأَرْبَعِ رَكَعَاتٍِ، أَكْفِكَ بِهِنَّ آخِرَ يَوْمِكَ
“Sesungguhnya Allah k berfirman: ‘Wahai anak Adam, cukupi Aku pada awal siang dengan empat rakaat niscaya Aku akan mencukupimu dengannya pada akhir harimu’.”
Maka yang dimaksud awal siang dalam dua hadits di atas bukan persis setelah shalat subuh, karena adanya hadits Rasulullah n:
لاَ صَلاَةَ بَعْدَ الصُّبْحِ حَتَّى تَرْتَفِعَ الشَّمْسُ وَلاَ صَلاَةَ بَعْدَ الْعَصْرِ حَتَّى تَغِيْبَ الشَّمْسُ
“Tidak ada shalat setelah subuh sampai matahari tinggi dan tidak ada shalat setelah ashar sampai matahari tenggelam.” (HR. Al-Bukhari no. 586 dan Muslim no. 1920)
Al-Imam Asy-Syaukani t menerangkan, “Ulama berbeda pendapat tentang waktu masuknya shalat dhuha. Al-Imam An-Nawawi t dalam Ar-Raudhah meriwayatkan dari para pengikut mazhab Asy-Syafi’i bahwa waktu dhuha mulai masuk dengan terbitnya matahari, akan tetapi disenangi mengakhirkannya sampai matahari tinggi. Sebagian dari mereka berpendapat, waktunya mulai masuk saat matahari tinggi. Pendapat ini yang ditetapkan oleh Ar-Rafi’i dan Ibnu Ar-Rif’ah.” (Nailul Authar, 2/329)
Dalam Zadil Mustaqni’ disebutkan, “Waktu dhuha mulai dari selesainya waktu larangan shalat sampai sesaat sebelum zawal.”
Kata pensyarahnya, “Yakni dari naiknya matahari seukuran tombak sampai masuknya waktu larangan shalat dengan matahari berada di tengah langit. Waktunya yang paling utama adalah apabila panas matahari terasa menyengat.” (Ar-Raudhul Murbi’, 1/176)
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin t menyatakan bahwa ukuran satu tombak itu menurut penglihatan mata orang yang melihat dan ukurannya sekitar satu meter1. Kemudian beliau menyimpulkan bahwa waktu dhuha dimulai dari berakhirnya waktu larangan shalat di awal siang sampai datangnya waktu larangan di tengah siang (tengah hari). Mengerjakannya di akhir waktu lebih utama karena adanya hadits Nabi n tentang shalat awwabin. (Asy-Syarhul Mumti’, 4/88)

Nabi n Mengerjakan Shalat Dhuha setelah Siang Meninggi
Dalam peristiwa Fathu Makkah, Ummu Hani x mengabarkan:
أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ n أَتَى بَعْدَ مَا ارْتَفَعَ النَّهَارُ يَوْمَ الْفَتْحِ، فَأُتِيَ بِثَوْبٍ فَسُتِرَ عَلَيْهِ فَاغْتَسَلَ ثُمَّ قَامَ، فَرَكَعَ ثَمَانِي رَكَعَاتٍ…
“Rasulullah n datang pada hari Fathu Makkah setelah siang meninggi, lalu didatangkan kain untuk menutupi beliau yang hendak mandi. (Seselesainya dari mandi) beliau bangkit untuk mengerjakan shalat sebanyak delapan rakaat….” (HR. Muslim no. 1665)

2. SHALAT WITIR
Shalat witir merupakan shalat nafilah yang dilakukan di malam hari dengan bilangan ganjil dan merupakan akhir dari shalat lail/tahajjud, berdasarkan sabda Rasulullah n:
اجْعَلُوا آخِرَ صَلاَتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرًا
“Jadikanlah witir sebagai akhir shalat kalian di waktu malam.” (HR. Al-Bukhari no. 998 dan Muslim no. 1752)
Ketika ada seseorang bertanya kepada Rasulullah n tentang shalat lail, beliau n menjawab:
صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى، فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمُ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً تُوْتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى
“Shalat lail itu dikerjakan dua rakaat, dua rakaat. Apabila salah seorang dari kalian mengkhawatirkan masuknya shalat subuh maka ia mengerjakan shalat satu rakaat sebagai pengganjil (witir) dari shalat yang telah dikerjakannya.” (HR. Al-Bukhari no. 990 dan Muslim no. 1745 )
Waktu shalat witir terus berlangsung sampai saat sahur sebagaimana kabar Ummul Mukminin Aisyah x tentang witir Rasulullah n:
كُلُّ اللَّيْلِ أَوْتَرَ رَسُوْلُ اللهِ n وَانْتَهَى وِتْرُهُ إِلَى السَّحَرِ
“Seluruh waktu malam Rasulullah n pernah mengerjakan shalat witir dan berakhir witir beliau sampai waktu sahur.” (HR. Al-Bukhari no. 996 dan Muslim no. 1735)
Dalam lafadz lain:
مِنْ كُلِّ اللَّيْلِ قَدْ أَوْتَرَ رَسُوْلُ اللهِ n مِنْ أَوَّلِ اللَّيْلِ وَأَوْسَطِهِ وَآخِرِهِ، فَانْتَهَى وِتْرُهُ إِلَى السَّحَرِ
“Dari setiap (waktu) malam Rasulullah pernah mengerjakan shalat witir, dari awal malam, tengah dan akhirnya. Berakhir witir beliau sampai sahur.” (HR. Muslim no. 1734)
Al-Hafizh Ibnu Hajar t berkata: “Malam hari seluruhnya merupakan waktu untuk mengerjakan shalat witir. Namun ulama sepakat bahwa awal waktunya adalah saat hilangnya syafaq setelah shalat Isya. Demikian yang dinukilkan Ibnul Mundzir. Sebagian mereka memutlakkan bahwa waktu witir itu dimulai (mulai masuk) dengan masuknya waktu Isya….” (Fathul Bari, 2/626)
Al-Imam An-Nawawi t menyatakan, “Hadits ini menunjukkan bolehnya mengerjakan witir pada seluruh waktu malam setelah masuknya waktu witir. Ulama berbeda pendapat tentang awal waktu witir. Yang shahih dalam mazhab kami dan yang masyhur menurut Asy-Syafi’i serta pengikut mazhabnya adalah waktu witir masuk setelah selesai mengerjakan shalat Isya, dan terus berlangsung waktunya sampai terbitnya fajar….” (Al-Minhaj, 6/267)
Waktu yang utama/afdhal untuk mengerjakan witir adalah di akhir malam, seperti yang ditunjukkan dalam hadits Jabir z, ia berkata: Rasulullah n bersabda:
مَنْ خَافَ أَنْ لاَ يَقُوْمَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ فَلْيُوْتِرْ أَوَّلَهُ، وَمَنْ طَمَعَ أَنْ يَقُوْمَ آخِرَهُ، فَلْيُوْتِرْ آخِرَ اللَّيْلِ، فَإِنَّ صَلاَةَ آخِرِ اللَّيْلِ مَشْهُوْدَةٌ، وَذلِكَ أَفْضَلُ
“Siapa yang khawatir tidak dapat bangun untuk shalat di akhir malam maka hendaklah ia berwitir di awal malam. Siapa yang sangat berkeinginan untuk bangun di akhir malam maka hendaklah ia mengerjakan witir di akhir malam, karena shalat di akhir malam itu disaksikan dan yang demikian itu lebih utama.” (HR. Muslim no. 1763)
Dalam hadits di atas ada dalil yang sharih/jelas bahwa mengakhirkan pelaksanaan witir sampai akhir malam itu lebih utama/afdhal bagi orang yang yakin dapat terbangun di akhir malam. Namun bagi orang yang tidak yakin dapat bangun di akhir malam, maka yang utama baginya adalah mengerjakan witir di awal malam. Dalilnya adalah hadits Abu Hurairah z, ia berkata:
أَوْصَانِي خَلِيْلِي n بِثَلاَثٍ: بِصِيَامِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَرَكْعَتَيِ الضُّحَى وَأَنْ أُوتِرَ قَبْلَ أَنْ أَنَامَ
“Kekasihku n mewasiatkan kepadaku (agar mengerjakan) tiga perkara (yaitu) puasa tiga hari setiap bulannya, dua rakaat dhuha dan agar aku berwitir sebelum tidur.” (HR. Al-Bukhari no. 1981 dan Muslim no. 1669)
Dengan datangnya subuh, berakhirlah waktu shalat witir. Rasulullah n bersabda:
أَوْتِرُوْا قَبْلَ أَنْ تُصْبِحُوا
“Kerjakanlah oleh kalian shalat witir sebelum kalian berada di waktu subuh.” (HR. Muslim no. 1761)
Demikian juga hadits Ibnu Umar c:
مَنْ صَلَّى مِنَ اللَّيْلِ فَلْيَجْعَلْ آخِرَ صَلاَتِهِ وِتْرًا، فَإِنَّ رَسُوْلَ اللهِ n كَانَ يَأْمُرُ بِذَلِكَ، فَإِذَا كَانَ الْفَجْرُ فَقَدْ ذَهَبَ كُلُّ صَلاَةِ اللَّيْلِ وَالْوِتْرِ
“Siapa yang shalat di malam hari, hendaklah ia menjadikan akhir shalatnya itu witir, karena Rasulullah n memerintahkan yang demikian itu. Apabila fajar telah datang maka berakhirlah seluruh shalat lail dan witir.” (HR. Al-Hakim dalam Mustadrak 1/302. Al-Imam Adz-Dzahabi menshahihkannya dalam At-Talkhis. Al-Hafizh berkata (Fathul Bari, 2/618), “Hadits ini dishahihkan oleh Abu ‘Awanah dan selainnya, dari jalan Sulaiman bin Musa, dari Nafi’, dari Ibnu Umar.”)

3. SHALAT IDUL FITHRI DAN IDUL ADHA
Yazid bin Khimyar mengabarkan:
خَرَجَ عَبْدُ اللهِ بْنُ بُسْرٍ صَاحِبُ رَسُوْلِ اللهِ n مَعَ النَّاسِ فِي يَوْمِ عِيْدِ فِطْرٍ أَوْ أَضْحَى، فَأَنْكَرَ إِبْطَاءَ الْإِمَامِ، فَقَالَ: إِنَّا كُنَّا قَدْ فَرَغْنَا سَاعَتَنَا هَذِهِ، وَذَلِكَ حِيْن التَّسْبِيْحِ
“Abdullah bin Busr z sahabat Rasulullah n keluar (untuk mengerjakan shalat) bersama orang-orang pada hari Idul Fithri atau Idul Adha. Ia pun mengingkari keterlambatan imam. Ia berkata, ‘Sungguh kami dahulu telah selesai dari mengerjakan shalat id pada waktu kita sekarang ini.’ Waktu pelaksanaan shalat id itu ketika waktu tasbih.” (HR. Al-Bukhari dalam Shahih-nya secara mu’allaq dan Abu Dawud dalam Sunan-nya secara maushul no. 1135, dishahihkan Al-Imam Al-Albani t dalam Shahih Abi Dawud dan juga dalam Al-Irwa’ 3/101)
Dalam hadits di atas, Abdullah bin Busr z mengingkari terlambatnya imam keluar ke tanah lapang untuk mengimami jamaah shalat id. Dulunya di waktu seperti itu, mereka telah selesai melaksanakan shalat id bersama Rasulullah n. Waktu itu adalah ketika dilaksanakannya shalat dhuha. Al-Qasthalani t berkata, “Waktu tasbih adalah waktu shalat nafilah (sunnah) apabila telah berlalu waktu karahah.” (Aunul Ma’bud, kitab Ash-Shalah, bab Waqtul Khuruj ilal ‘Id)
Al-Imam Ibnu Qudamah t dalam Al-‘Umdah mengatakan, “Waktu shalat id dimulai dari naiknya matahari dan berakhir ketika zawal.” (Al-‘Uddah Syarhul ‘Umdah, hal. 108)
Dalam Zadil Mustaqni’ disebutkan, “Waktu id sama dengan waktu shalat dhuha.” (Zadil Mustaqni’ dengan Ar-Raudhul Murbi’, 1/237)
Ibnu Hazm t berkata: “Yang sunnah dalam pelaksanaan shalat id adalah penduduk setiap kampung atau kota keluar menuju tanah lapang luas yang ada di tempat tinggal/daerah mereka pada pagi hari saat matahari telah naik dan memutih, dan ketika mulai dibolehkannya melakukan shalat sunnah (dengan berlalunya waktu karahah, pent.). Setelahnya, imam datang lalu maju ke depan shaf, tanpa didahului dengan azan ataupun iqamah, lalu imam pun shalat (mengimami manusia)….” (Al-Muhalla, 3/293)
Al-Hafizh Ibnu Hajar t menyatakan: Ibnu Baththal berkata: “Fuqaha sepakat bahwa shalat id tidak boleh dilaksanakan sebelum terbit matahari dan tidak pula tepat saat matahari terbit. Shalat id hanya boleh dilaksanakan ketika telah diperkenankan melaksanakan shalat sunnah (karena telah berlalunya waktu karahah, pent.).” (Fathul Bari, 2/589)
Adapun hadits marfu’ yang membedakan waktu pelaksanaan shalat idul fithri dan idul adha, kalau idul fithri saat matahari naik/tingginya seukuran dua tombak, adapun idul adha saat matahari naik/tingginya seukuran satu tombak dari hadits Jundab z:
كَانَ النَّبِيُّ n يُصَلِّي بِنَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَالشَّمْسُ عَلَى قَيْدِ رُمْحَيْنِ وَالْأَضْحَى عَلَى قَيْدِ رُمْحٍ
“Adalah Nabi n shalat mengimami kami pada hari idul fithri dalam keadaan matahari tingginya seukuran dua tombak dan pada hari idul adha dalam keadaan matahari tingginya seukuran satu tombak.” (Hadits ini diriwayatkan dalam Al-Adhahi oleh Al-Hasan ibn Ahmad Al-Banna’2)
Al-Imam Asy-Syaukani t berkata, “Hadits ini yang paling bagus dari riwayat-riwayat tentang penentuan pasti waktu shalat id.” Namun, kata Al-Imam Al-Albani t, “Memang demikian, hanya saja hadits ini tidak shahih.” (Tamamul Minnah, hal. 347)
Karena dalam sanadnya ada Al-Mu’alla bin Hilal, dia seorang pendusta. Kata Al-Hafizh t dalam Taqrib-nya, “Al-Mu’alla bin Hilal disepakati kedustaannya oleh para imam pengkritik rawi.”
Ada juga riwayat Al-Imam Asy-Syafi’i  t dalam Musnad­-nya (no. 322) secara mursal:
أَنَّ رَسُولَ اللهِ n كَتَبَ إِلَى عَمْرِو بْنِ حَزْمٍ وَهُوَ بِنَجْرَانَ: أَنْ عَجِّلِ الْأَضْحَى وَأَخِّرِ الْفِطْرَ وَ ذَكِّرِ النَّاسَ
Bahwasanya Nabi menulis surat kepada ‘Amr bin Hazm ketika sedang berada di Najran, yang isinya, “Segerakanlah shalat idul adha, akhirkanlah shalat idul fithri, dan berikanlah peringatan/nasihat kepada manusia.”
Namun kata Al-Allamah Shiddiq Hasan Khan t, “Dalam sanad hadits ini ada Ibrahim bin Muhammad, guru Asy-Syafi’i. Dia perawi yang dhaif/lemah. Sungguh telah terjadi kesepakatan atas faedah yang diberikan oleh hadits-hadits tersebut, sekalipun hujjah tidak dapat ditegakkan dengan semisal hadits-hadits tersebut.” (Ar-Raudhatin Nadiyah dengan At-Ta’liqat Ar-Radhiyah, 1/387)

Apabila Hari Id Baru Diketahui Setelah Zawal
Apabila kita terlambat mengetahui datangnya hari Id dan sudah berlalu waktu disyariatkannya shalat id karena matahari telah tergelincir/zawal, maka kita melaksanakan shalat id pada esok paginya sebagai qadha shalat id yang terluputkan. (Al-Mulakhkhash Al-Fiqhi, 1/211)
Dalilnya adalah hadits berikut ini:
Dari Abu ‘Umair bin Anas, dari paman-pamannya yang merupakan sahabat Rasulullah n dari kalangan Anshar, mereka berkata, “Tertutup (awan/mendung) bagi kami hilal (bulan muda, sebagai pertanda awal masuknya bulan hijriyah, pent.) bulan Syawwal. Maka kami berpagi hari dalam keadaan tetap berpuasa (karena menyangka masih bulan Ramadhan/yakni menggenapkan Ramadhan 30 hari, pent.). Lalu pada akhir siang datanglah serombongan musafir yang berkendaraan menemui Rasulullah n. Mereka bersaksi bahwa mereka telah melihat hilal kemarin. Maka Rasulullah n memerintahkan orang-orang untuk berbuka puasa (membatalkan puasa yang sedang dikerjakan karena sudah berlalu bulan Ramadhan, pent.) pada hari mereka tersebut. Dan agar pagi hari besok mereka menuju tanah lapang mereka untuk melaksanakan shalat id.” (HR. Abu Dawud no. 1157, Ahmad 5/57, dll. Dishahihkan Al-Imam Al-Albani t dalam Shahih Abi Dawud)
Seandainya boleh mengerjakan shalat id setelah zawal niscaya Nabi n tidak mengakhirkannya sampai keesokan harinya. (Al-Mulakhkhash Al-Fiqhi, 1/211)
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

1 Al-Imam Al-Albani t ketika ditanya tentang kadar rumh/satu tombak, beliau mengatakan dua meter bila dikiaskan dengan ukuran yang ada pada hari ini. (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Muyassarah, 2/167)
2 Ahli fiqih dan muhaddits bermazhab Hambali, wafat 471 H. (Syadzaratudz Dzahab 3/338-339)

Kejujuran Tekad dan Amal

(ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi)

Tiada sesuatu yang lebih bermanfaat bagi seorang hamba daripada kejujurannya terhadap Rabbnya dalam segala urusan, bersama dengan itu kejujuran tekadnya. Sehingga ia bersikap jujur terhadap Allah l dalam tekadnya dan dalam amalnya. Allah l berfirman:
“Apabila telah tetap perintah perang (mereka tidak menyukainya). Tetapi jikalau mereka benar (imannya) terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka.” (Muhammad: 21)
Maka, kebahagiaan seseorang berada pada kejujuran tekadnya dan kejujuran amalnya. Kejujuran tekad berarti kemantapan dan kekokohannya, tiada kebimbangan padanya. Bahkan tekad yang tidak tercampuri oleh kebimbangan. Bila tekad telah benar-benar jujur, maka tinggal kejujuran amal. Yaitu mencurahkan kemampuan dan mengerahkan segala kesungguh-sungguhan padanya. Jangan sampai ada yang melenceng darinya sedikitpun, baik lahir maupun batin.
Kejujuran tekad akan mencegahnya dari melemahnya keinginan. Sedangkan kejujuran amal akan mencegahnya dari rasa malas dan jenuh.
Maka, barangsiapa yang jujur terhadap Allah l dalam segala urusannya, Allah l akan berbuat untuknya lebih dari apa yang Allah l akan perbuat untuk selainnya.
Kejujuran semacam ini tersusun dari kebenaran akhlak dan kebenaran tawakal. Maka, orang yang paling jujur adalah yang paling benar tawakalnya dan paling benar keikhlasannya. (Al-Fawa`id)
Nabi n pernah berkisah tentang seseorang dari bani Israil, yang meminta seseorang dari mereka untuk memberikan pinjaman seribu dinar. Di dalamnya disebutkan: “Datangkan kepadaku para saksi yang aku akan persaksikan kepada mereka,” kata orang itu. Ia menjawab: ‘Cukuplah Allah sebagai saksi.” “Datangkan kepadaku seorang penjamin,” pinta orang itu. Ia menjawab: “Cukuplah Allah sebagai penjamin.” “Benar katamu,” tukas orang itu, sehingga ia berikan kepada peminjam itu uang seribu dinar dengan tempo yang disepakati. Si peminjam pergi mengarungi lautan sampai ia selesaikan kebutuhannya. Lalu ia mencari kembali perahu yang akan ia naiki untuk ia datangi orang itu (yang meminjamkan) karena tempo yang telah ditentukan. Namun ia tidak mendapatkan perahu. Sehingga ia mengambil sepotong kayu lalu, ia lubangi. Kemudian ia masukkan ke dalamnya uang seribu dinar tersebut bersama selembar kertas surat darinya untuk orang yang meminjami. Ia rapikan lubang tadi kemudian ia bawa ke laut seraya berucap: “Ya Allah, sesungguhnya Engkau tahu bahwa aku meminjam uang dari fulan (orang tersebut) sebesar seribu dinar lalu ia memintaku seorang penjamin, namun kukatakan kepadanya: ‘Allah cukup sebagai penjamin.’ Iapun ridha dengan-Mu. Ia juga meminta para saksi kepadaku, akupun mengatakan: ‘Cukup Allah sebagai saksi.’ Ia-pun ridha kepada-Mu. Dan sungguh aku telah berusaha keras untuk mendapatkan perahu untuk membawa uangnya yang kupinjam namun aku tidak mendapatinya. Aku tidak mampu. Sungguh aku menitipkannya kepada-Mu’.”
Lalu ia lemparkan kayu itu ke lautan sehingga masuk di tengahnya. Kemudian ia pun meninggalkannya. Namun ia tetap mencari perahu untuk pergi menuju negeri tempat orang itu tinggal.
Sementara orang yang meminjami itupun keluar, melihat, barangkali ada perahu yang datang dengan membawa uang tersebut. Ternyata ia hanya melihat sepotong kayu yang terdapat di dalamnya uang tersebut. Ia pun mengambil kayu tersebut untuk keluarganya sebagai kayu bakar. Ketika menggergajinya, ia dapati uang tersebut bersama selembar kertas surat itu.
Kemudian datanglah si peminjam dengan membawa seribu dinar yang lain, sambil mengatakan: “Demi Allah, saya terus berusaha untuk mencari perahu untuk datang kepadamu dengan membawa uangmu. Namun aku tidak mendapatkan perahu sebelum perahu yang sekarang aku datang dengannya.” Orang itu pun segera mengatakan: “Apakah engkau mengirim sesuatu kepadaku?” Ia menjawab: “Kukatakan kepadamu bahwa aku tidak mendapatkan perahu sebelum apa yang aku bawa ini.” Orang itupun mengatakan: “Sesungguhnya Allah l telah menyampaikan uang yang kamu kirim itu darimu yang berada di dalam kayu. Maka pergilah dan bawalah seribu dinar (yang kamu bawa) dengan selamat.” (Shahih, HR. Al-Bukhari secara mu’allaq majzum dan An-Nasa’i secara musnad. Lihat Shahih At-Targhib no. 1805)

Kisah Sebatang Kayu, Amanah yang Nyaris Punah

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits)

Tanda-tanda kiamat semakin banyak, semakin dekat. Sementara kebanyakan manusia lalai dari hari yang pasti mereka temui. Kisah ini terjadi di zaman dahulu di kalangan Bani Israil. Diceritakan oleh Rasulullah n kepada umatnya, agar menjadi ibrah bagi mereka yang berakal.

Keutamaan Tauhid
Segala sesuatu yang kita lakukan tidak lepas dari ikatan tauhid. Karena hidup kita di dunia hanya punya satu tujuan luhur, yaitu mengabdi (beribadah) hanya kepada Allah (Tauhidullah). Inilah yang Allah l firmankan:
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (Adz-Dzariyat: 56)
Sehingga apapun aktivitas kita, hendaknya bernilai ibadah di sisi Allah, meski hanya sekadar interaksi dengan sesama.
Allah juga l berfirman:
“Katakanlah: ‘Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya’.” (Al-An’am: 162-163)
Begitu agung nilai tauhid dalam kehidupan manusia, seandainya mereka mau mengerti. Tapi kebanyakan kita seolah-olah tidak ingin mengerti, merasa tauhid itu gampang. Subhanallah.
Seandainya benar yang mereka katakan, tentulah Rasulullah n tidak berjuang dengan sekuat tenaga, menjaga dan menutup semua pintu yang dapat merusak tauhid pada umatnya. Perhatikanlah, hingga saat-saat beliau di atas ranjang kematian, tak henti-hentinya beliau mengingatkan perkara tauhid ini.
‘Aisyah x menceritakan: “Rasulullah n bersabda dalam sakit yang membawa ajalnya:
لَعَنَ اللهُ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ. -لَوْلَا ذَلِكَ أُبْرِزَ قَبْرُهُ غَيْرَ أَنَّهُ خَشِيَ أَنْ يُتَّخَذَ مَسْجِدًا
“Semoga Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nashara, mereka telah menjadikan kuburan para Nabi mereka sebagai masjid”, kalau tidak demikian, tentulah ditampakkan kuburan beliau, hanya saja dikhawatirkan kuburan itu dijadikan masjid.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Menjadikan kuburan sebagai masjid, yakni sebagai tempat ibadah; shalat dan berdoa di kuburan tersebut, dalam keadaan menyangka bahwa ibadah di kuburan lebih utama daripada di tempat lain. Perbuatan seperti inilah yang dahulu menjerumuskan kaum Nabi Nuh q kepada penyembahan berhala. Wallahul Musta’an.
Di antara faedah dan keutamaan tauhid yang ingin kami ungkapkan di sini ialah bahwasanya tauhid itu memudahkan pemiliknya untuk melakukan berbagai kebaikan, meninggalkan kemungkaran dan menghiburnya ketika dia mengalami musibah.
Seseorang yang ikhlas dalam beriman dan bertauhid karena Allah l, tentu mudah baginya melakukan setiap bentuk ketaatan, karena dia mengharap keridhaan Allah l dan pahala-Nya. Ringan pula baginya meninggalkan segala macam kemaksiatan, karena rasa takutnya kepada Allah dan siksa-Nya.1
Ketika tauhid itu berakar kuat lagi sempurna dalam sanubari seorang hamba, maka Allah jadikan dia cinta kepada iman dan semua konsekuensinya. Allah jadikan indah dalam pandangannya keimanan tersebut. Allah l tumbuhkan kebencian pada dirinya terhadap kekafiran dengan segala bentuknya, demikian pula berbagai kemaksiatan. Allah akan menjadikannya sebagai bagian dari orang-orang yang lurus (mendapat petunjuk).
Dengan kokohnya tauhid dalam diri seseorang, semakin besar pula sikap ta’zhim (pengagungan) nya kepada Allah l. Dia akan segera menjalankan perintah Allah l, segera pula menjauhi larangan-Nya. Sehingga jangan tanya tentang hak yang harus ditunaikannya, atau kewajiban lain yang mesti dijalankannya. Semua itu tentu akan segera dan sempurna dia laksanakan.
Seorang hamba yang jujur kepada Allah l tentu hanya mencari ridha Rabbnya semata, di manapun dia berada. Dia tidak akan mengharapkan pujian, ketenaran, dan harta dunia lainnya. Dia hanya mengharap ridha Allah l. Kejujuran iman dan tauhid seorang manusia akan mendorongnya untuk menyampaikan amanah kepada yang berhak. Hal ini sebagai bentuk ketaatan dan ta’zhim-nya kepada Allah l.
Allah l berfirman:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.” (An-Nisa`: 58)
Ayat ini umum, berlaku untuk para pemegang tampuk kekuasaan atau wewenang, maupun orang biasa, dalam semua hal.2
Ketika hati dipenuhi rasa ta’zhim (pengagungan) kepada Allah l, pemiliknya tentu bersegera menunaikan hak yang ditanggungnya dan berusaha sungguh-sungguh memenuhinya.

Kisah Sebatang Kayu
Salah satu gambaran yang dapat dijadikan pelajaran adalah apa yang diceritakan oleh Rasulullah n tentang dua orang Bani Israil di zaman dahulu. Kisah ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari secara mu’allaq dalam Shahih-nya dan Al-Imam Ahmad dalam Musnad-nya dari hadits Abu Hurairah, dari Rasulullah n:
أَنَّهُ ذَكَرَ رَجُلاً مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ سَأَلَ بَعْضَ بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنْ يُسْلِفَهُ أَلْفَ دِينَارٍ، فَقَالَ :ائْتِنِي بِالشُّهَدَاءِ أُشْهِدُهُمْ. فَقَالَ: كَفَى بِاللهِ شَهِيدًا. قَالَ: فَأْتِنِي بِالْكَفِيلِ. قَالَ: كَفَى بِاللهِ كَفِيلاً. قَالَ: صَدَقْتَ. فَدَفَعَهَا إِلَيْهِ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَخَرَجَ فِي الْبَحْرِ فَقَضَى حَاجَتَهُ ثُمَّ الْتَمَسَ مَرْكَبًا يَرْكَبُهَا يَقْدَمُ عَلَيْهِ لِلْأَجَلِ الَّذِي أَجَّلَهُ فَلَمْ يَجِدْ مَرْكَبًا، فَأَخَذَ خَشَبَةً فَنَقَرَهَا فَأَدْخَلَ فِيهَا أَلْفَ دِينَارٍ وَصَحِيفَةً مِنْهُ إِلَى صَاحِبِهِ ثُمَّ زَجَّجَ مَوْضِعَهَا ثُمَّ أَتَى بِهَا إِلَى الْبَحْرِ، فَقَالَ: اللَّهُمَّ إِنَّكَ تَعْلَمُ أَنِّي كُنْتُ تَسَلَّفْتُ فُلَانًا أَلْفَ دِينَارٍ فَسَأَلَنِي كَفِيلاً فَقُلْتُ كَفَى بِاللهِ كَفِيلاً، فَرَضِيَ بِكَ وَسَأَلَنِي شَهِيدًا فَقُلْتُ كَفَى بِاللهِ شَهِيدًا فَرَضِيَ بِكَ، وَأَنِّي جَهَدْتُ أَنْ أَجِدَ مَرْكَبًا أَبْعَثُ إِلَيْهِ الَّذِي لَهُ فَلَمْ أَقْدِرْ وَإِنِّي أَسْتَوْدِعُكَهَا. فَرَمَى بِهَا فِي الْبَحْرِ حَتَّى وَلَجَتْ فِيهِ ثُمَّ انْصَرَفَ وَهُوَ فِي ذَلِكَ يَلْتَمِسُ مَرْكَبًا يَخْرُجُ إِلَى بَلَدِهِ. فَخَرَجَ الرَّجُلُ الَّذِي كَانَ أَسْلَفَهُ يَنْظُرُ لَعَلَّ مَرْكَبًا قَدْ جَاءَ بِمَالِهِ فَإِذَا بِالْخَشَبَةِ الَّتِي فِيهَا الْمَالُ فَأَخَذَهَا لِأَهْلِهِ حَطَبًا، فَلَمَّا نَشَرَهَا وَجَدَ الْمَالَ وَالصَّحِيفَةَ ثُمَّ قَدِمَ الَّذِي كَانَ أَسْلَفَهُ، فَأَتَى بِاْلأَلْفِ دِينَارٍ فَقَالَ: وَاللهِ، مَا زِلْتُ جَاهِدًا فِي طَلَبِ مَرْكَبٍ لِآتِيَكَ بِمَالِكَ فَمَا وَجَدْتُ مَرْكَبًا قَبْلَ الَّذِي أَتَيْتُ فِيهِ. قَالَ: هَلْ كُنْتَ بَعَثْتَ إِلَيَّ بِشَيْءٍ؟ قَالَ: أُخْبِرُكَ أَنِّي لَمْ أَجِدْ مَرْكَبًا قَبْلَ الَّذِي جِئْتُ فِيهِ. قَالَ: فَإِنَّ اللهَ قَدْ أَدَّى عَنْكَ الَّذِي بَعَثْتَ فِي الْخَشَبَةِ فَانْصَرِفْ بِاْلأَلْفِ الدِّينَارِ رَاشِدًا
Beliau (n) menyebut-nyebut seorang laki-laki Bani Israil yang meminta kepada seseorang dari Bani Israil lainnya agar meminjaminya seribu dinar. Maka berkatalah si pemilik uang: “Datangkan saksi untukku, agar aku persaksikan kepada mereka.”
Laki-laki yang meminjam itu berkata: “Cukuplah Allah sebagai saksi.”
Si pemilik uang berkata lagi: “Berikan untukku yang menjamin.”
Orang yang meminjam berkata: “Cukuplah Allah sebagai Penjamin.”
Si pemilik uang pun berkata: “Engkau benar.” Lalu dia menyerahkan uang itu sampai waktu yang telah ditentukan.
Kemudian, si peminjam berlayar dan menyelesaikan urusannya. Setelah itu dia mencari angkutan yang akan membawanya kepada temannya karena waktu yang telah ditentukan. Namun, dia tidak mendapatkannya. Akhirnya dia mengambil sebatang kayu lalu melubanginya dan memasukkan seribu dinar itu ke dalamnya disertai sehelai surat kepada sahabatnya. Kemudian dia perbaiki pecahan lubang, lalu dibawanya kayu itu ke laut. Diapun berdoa: “Ya Allah. Sesungguhnya Engkau tahu bahwa aku pernah meminjam dari si Fulan seribu dinar, lalu dia minta jaminan, maka aku katakan: ‘Cukuplah Allah sebagai Penjamin’ dan diapun ridha Engkau sebagai Penjamin. Diapun minta kepadaku saksi, lalu aku katakan: ‘Cukuplah Allah sebagai saksi’, dan diapun meridhainya. Sesungguhnya aku sudah berusaha sungguh-sungguh mencari kendaraan menyerahkan hak ini kepadanya, namun aku tidak kuasa. Dan saya titipkan uang ini kepada Engkau.”
Si laki-laki itu melemparkan kayu itu hingga masuk ke laut. Kemudian dia pulang dalam keadaan tetap mencari kendaraan untuk menuju negeri sahabatnya.
Sementara orang yang meminjamkan uang itu keluar menunggu-nunggu, barangkali ada kendaraan yang membawa hartanya. Ternyata dia hanya menemukan sepotong kayu yang di dalamnya ada harta. Diapun mengambil kayu itu sebagai kayu bakar keluarganya. Setelah dia menggergaji kayu itu, dia dapatkan harta dan sehelai surat.
Kemudian, datanglah orang yang dahulu dipinjaminya uang. Orang itu datang membawa seribu dinar. Dia berkata: “Demi Allah, saya selalu berusaha mencari kendaraan untuk menemui engkau dengan membawa hartamu ini. Tapi saya tidak mendapatkan satu kendaraanpun sebelum saya datang ini.”
Si pemilik uang berkata: “Apakah engkau pernah mengirimi saya sesuatu?”
Kata si peminjam itu: “Saya terangkan kepadamu, bahwa saya tidak menemukan kendaraan sebelum saya datang ini.”
Laki-laki pemilik uang itu berkata lagi: “Sesungguhnya Allah telah menunaikan hutangmu, (dengan) harta yang engkau kirimkan dalam sebatang kayu. Silakan kembali dengan seribu dinar itu dengan selamat.”
Perhatikanlah kata-kata si peminjam. Dengan penuh keyakinan dia mengatakan: “Cukuplah Allah sebagai saksi.” Seolah-olah dia hendak mengingatkan saudaranya, bukankah tidak ada satupun yang tersembunyi bagi Allah? Dia Maha Tahu segala sesuatu yang tampak maupun yang tersembunyi. Maha Menyaksikan segala sesuatu. Dia Menyaksikan keadaan dan perbuatan kita.
Kemudian, simaklah apa yang dikatakan si pemilik uang? Sangsikah dia?
Tidak. Dengan tegas pula dia menerima. Seolah-olah dia hendak menyatakan, bahwa dia menerima Allah sebagai saksi, tapi: “Berikan untukku yang menjamin”, yang akan menjamin harta ini, kalau engkau tidak datang melunasinya.
Laki-laki yang hatinya dipenuhi ta’zhim kepada Allah itu dengan keyakinan penuh kembali mengatakan: “Cukuplah Allah sebagai Penjamin”, seakan dia ingin mengingatkan kembali saudaranya: tidak cukupkah bagimu Allah Rabb semesta alam, Yang Menguasai langit dan bumi sebagai Penjamin bagiku?
Pemilik harta yang hatinya juga berisi ta’zhim kepada Allah l ini spontan menerima. Kemudian diapun menyerahkan seribu dinar yang diinginkan saudaranya sampai pada waktu yang telah disepakati.
Setelah itu, berangkatlah laki-laki yang meminjam ini berlayar, memenuhi kebutuhannya. Ketika tiba waktu yang dijanjikan, diapun mencari kapal untuk menemui saudaranya, demi memenuhi janjinya. Sekian lama mencari, dia tak kunjung mendapatkan kapal yang membawanya ke negeri saudaranya.
Waktu semakin dekat, angkutan kapal belum juga dia dapatkan. Putus asakah dia, lalu meminta uzur? Ternyata tidak, dia tetap berusaha.
Kesungguhannya untuk menunaikan amanah, dilihat oleh Allah. Sehingga Allah l kirimkan kepadanya sepotong kayu yang hanyut dibawa gelombang. Melihat kayu itu, dia segera mengambilnya dan melubanginya. Kemudian seribu dinar milik saudaranya, dia masukkan ke dalam kayu itu disertai sepucuk surat, lalu dia perbaiki.
Kemudian, dia bersimpuh, berbisik di hadapan Rabbnya Yang Maha Tahu lagi Maha Mendengar: “Ya Allah. Sesungguhnya Engkau tahu bahwa aku pernah meminjam dari si Fulan seribu dinar, lalu dia minta penjamin, maka aku katakan: ‘Cukuplah Allah sebagai Penjamin’ dan diapun ridha Engkau sebagai Penjamin. Diapun minta kepadaku saksi, lalu aku katakan: ‘Cukuplah Allah sebagai saksi’,  dan diapun meridhainya. Sesungguhnya aku sudah berusaha sungguh-sungguh mencari kapal menyerahkan hak ini kepadanya, namun aku tidak kuasa. Dan saya titipkan uang ini kepada Engkau.”
Setelah selesai, kayu itu dilemparkannya kembali ke laut. Kayupun hanyut bersama gelombang.
Perhatikanlah doa dan apa yang dilakukannya. Betapa tebal keyakinan dan kepercayaannya kepada Allah l. Salah satu buah dari tauhid yang sempurna.
Kemudian, apakah dia berpangku tangan, merasa sudah cukup dengan tindakan itu? Belum. Dia tetap berusaha mencari kapal. Ingin berangkat sendiri menemui saudaranya guna melunasi pinjamannya.
Mengapa dia lakukan demikian? Tidak lain, karena khawatir dia menodai kemuliaan Allah yang telah dia jadikan sebagai saksi dan Penjamin.
Sementara sahabatnya, yang dipinjami, menunggu kedatangannya. Di tepi  pantai dia melihat ke laut lepas, mudah-mudahan ada kapal yang datang ke daerahnya. Harap-harap cemas muncul. Ternyata tak ada satupun kapal yang berlabuh. Tapi dia tidak berburuk sangka kepada saudaranya. Mereka telah sepakat Allah menjadi Saksi dan Penjamin.
Ketika dia mendekat ke pantai, dia melihat sepotong kayu hanyut ke tepi tempat dia berdiri. Diapun memungut kayu itu dan membawanya pulang untuk jadi kayu bakar bagi keluarganya.
Begitu tiba di rumah, dia memotong kayu itu. Ternyata di dalamnya dia lihat uang seribu dinar dan sepucuk surat. Kiranya uang itulah yang ditunggunya, dan surat itu adalah pengganti saudaranya yang tak kunjung hadir.
Tak lama, datanglah saudaranya yang meminjam uang seribu dinar, dalam keadaan membawa seribu dinar lainnya sebagai ganti, khawatir kalau-kalau uang itu belum sampai di tangan saudaranya. Ketika dia bermaksud menyerahkan seribu dinar itu, saudaranya yang meminjamkan harta itu bertanya: “Apakah engkau pernah mengirimi saya sesuatu?” Laki-laki yang meminjam itu berkata: “Saya terangkan kepadamu, bahwa saya tidak menemukan kendaraan sebelum saya datang ini.”
Kata si pemilik harta: “Sesungguhnya Allah telah menunaikan hutangmu, (dengan) harta yang engkau kirimkan dalam sebatang kayu. Silakan kembali,  dengan seribu dinar itu dengan selamat.”
Sebuah kisah yang menakjubkan. Betapa tidak. Di saat kebanyakan manusia lupa dengan amanah yang dipikulnya, menelantarkan hak yang wajib ditunaikannya, kisah ini menjadi pelajaran sekaligus peringatan bagi orang-orang yang mau memperbaiki dirinya.
Alangkah langkanya amanah ini di zaman kita.
Seandainya dikatakan kepada diri kita atau orang lain: “Lakukanlah seperti ini”, sebagai upaya menunjukkan kesungguhan dalam menunaikan amanah, mungkin kita akan sama membantah: “Apa kamu kira saya gila, meletakkan uang dalam lubang kayu, lalu dihanyutkan ke laut? Apalagi seribu dinar?”3
Mengapa?
Karena lemahnya keyakinan dalam hati kita, begitu pula iman dalam jiwa kita, sehingga penyandaran kepada materi dan hal-hal yang bersifat riil (nyata, tertangkap panca indera) lebih dominan dalam diri kita daripada kepada hal-hal yang bersifat ghaib. Padahal sebetulnya, keimanan terhadap yang ghaib adalah batasan yang tegas dan pembeda antara keimanan seorang muslim dengan keimanan seorang yang kafir.
Di antara faedah hadits ini:
1. Ilmu tentang Tauhidullah, di mana kedua lelaki ini sama-sama mengetahui Tauhidullah sehingga mendorong keduanya naik ke derajat paling tinggi dalam Ilmu Tauhid, yaitu ma’rifatullah l (pengenalan terhadap Allah) melalui nama dan sifat-Nya. Si peminjam berkata: “Cukuplah Allah sebagai saksi… cukuplah Allah sebagai Penjamin.”
2. Lelaki yang mengatakan: “Cukuplah Allah sebagai saksi… cukuplah Allah sebagai Penjamin.” adalah orang yang shalih. Artinya dia seorang yang ikhlas kepada Allah, mengikuti ajaran Nabi-Nya dalam menaati Allah l. Begitu pula dengan si pemilik harta, dia ridha dengan ganjaran dan pahala dari Allah, merasa puas dengan kesaksian Allah dan jaminan-Nya.
3. Khasy-yah (rasa takut) kepada Allah l dan ma’rifat yang sempurna tentang Allah l mendorong lelaki shalih yang meminjam harta ini memikirkan jalan, bagaimana caranya harta itu sampai di tangan saudaranya karena janji yang telah disepakati.
4. Rasa puasnya dengan tawakal kepada Allah l, sementara hal ini sulit ditemukan pada kebanyakan manusia pada hari ini karena lemahnya iman dan jahilnya mereka tentang nama dan sifat Allah l.
5. Allah sendiri yang memelihara batang kayu itu, karena laki-laki shalih tersebut beramal dengan ucapan para Nabi: “Jagalah Allah, niscaya Dia pasti menjagamu.”
6. Namun demikian, laki-laki shalih ini tetap menjalankan sebab dengan membawa seribu dinar lain untuk sahabatnya.
7. Dalam hutang piutang dan pinjam meminjam, saksi dan jaminan termasuk hal-hal yang disyariatkan.
8. Wajibnya melunasi pinjaman, menepati janji dan tidak menunda-nunda (bila mampu).
Mudah-mudahan kisah singkat ini, menjadi cermin dan teladan bagi orang-orang yang ingin hidupnya berbahagia.
Wallahul Muwaffiq.

1 Al-Qaulus Sadid, Asy-Syaikh As Sa’di t, hal. 17.
2 Secara ringkas, dari Tafsir Al-Qurthubi.
3 Hitungan kurs sekarang mungkin ratusan juta rupiah. Wallahu a’lam.

Perang Mut’ah

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits)

Tikaman demi tikaman terhadap Islam terus saja berlangsung. Peristiwa kali ini pun akhirnya membuka babak baru pertempuran antara Rasulullah n dan para sahabatnya melawan persekongkolan musyrikin dan salibis, perang Mu’tah.
Peristiwa ini terjadi di daerah Mu’tah dekat Balqa’ wilayah Syam (sekarang Jordania). Peristiwa ini terjadi pada tahun ke delapan hijriyah di bulan Jumadil Ula.
Di antara sebab terjadinya pertempuran, Rasulullah n pernah mengutus Al-Harits bin ‘Umair Al-Azdi z membawa sepucuk surat kepada pembesar Romawi atau Bushra. Lalu dia dihadang oleh Syurahbil bin ‘Amr Al-Ghassani yang lantas membunuhnya. Padahal belum pernah ada seorangpun utusan Rasulullah n terbunuh selain dia.
Kejadian itu terasa berat bagi Rasulullah n, sehingga beliaupun mengirim sebuah pasukan dan mengangkat Zaid bin Haritsah z sebagai panglima. Beliau lalu bersabda:
إِنْ قُتِلَ زَيْدٌ فَجَعْفَرٌ، وَإِنْ قُتِلَ جَعْفَرٌ فَعَبْدُ اللهِ بْنُ رَوَاحَةَ
“Kalau Zaid terbunuh, maka Ja’far (yang menggantikannya). Jika Ja’far terbunuh, maka Abdullah bin Rawahah (yang menggantikan).” (HR. Al-Bukhari dalam Kitab Al-Maghazi)
Beberapa sahabat merasa ada ganjalan ketika Rasulullah n mengangkat Zaid bin Haritsah lebih dahulu sebagai panglima. Tapi Rasulullah n menegaskan sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu ‘Umar c:
بَعَثَ رَسُولُ اللهِ n بَعْثًا وَأَمَّرَ عَلَيْهِمْ أُسَامَةَ بْنَ زَيْدٍ فَطَعَنَ النَّاسُ فِي إِمْرَتِهِ فَقَامَ رَسُولُ اللهِ n فَقَالَ: إِنْ تَطْعَنُوا فِي إِمْرَتِهِ فَقَدْ كُنْتُمْ تَطْعَنُونَ فِي إِمْرَةِ أَبِيهِ مِنْ قَبْلُ، وَايْمُ اللهِ إِنْ كَانَ لَخَلِيقًا لِلْإِمْرَةِ وَإِنْ كَانَ لَمِنْ أَحَبِّ النَّاسِ إِلَيَّ، وَإِنَّ هَذَا لَمِنْ أَحَبِّ النَّاسِ إِلَيَّ بَعْدَهُ
“Rasulullah n mengirim satu pasukan dan mengangkat Usamah bin Zaid sebagai panglima. Ternyata orang-orang mengritik kepemimpinannya. Maka berdirilah Rasulullah n lalu berkata: ‘Kalau kamu mengecam kepemimpinannya, sesungguhnya kamu sudah pernah mengecam kepemimpinan ayahnya sebelum ini. Demi Allah. Sungguh dia (Zaid) betul-betul pantas memimpin, dan dia termasuk orang yang paling aku cintai. Dan sesungguhnya dia ini (Usamah) juga betul-betul orang yang paling aku cintai sesudahnya’.”
Kata Al-Mubarakfuri ketika menjelaskan hadits ini, kepemimpinan yang dimaksud adalah ketika perang Mu’tah. Beliau juga menukil riwayat An-Nasa’i dari ‘Aisyah x, yang menyatakan bahwa tidaklah Rasulullah n mengirim sebuah pasukan melainkan mengangkat Zaid bin Haritsah sebagai panglimanya.
Ketika kaum muslimin memberi pesan-pesan terakhir kepada ketiga panglima tersebut dan pasukan mereka, Abdullah bin Rawahah z menangis. Sebagian sahabat bertanya kepadanya, mengapa dia menangis?
Kata beliau: “Tidak ada padaku kecintaan terhadap dunia dan bukan pula rindu yang meluap-luap terhadap kamu. Tapi aku mendengar Rasulullah n membaca satu ayat:
“Dan tidak ada seorangpun daripadamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Rabbmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan.” (Maryam: 71)
Aku tidak tahu bagaimana keluarnya setelah mendatanginya?”
Kaum muslimin tetap memanjatkan doa untuk mereka: “Semoga Allah menyertai kalian, menjauhkan kalian dari bahaya dan mengembalikan kalian kepada kami dalam keadaan selamat.”
Abdullah mengatakan:
Tapi aku justru minta kepada Ar-Rahman ampunan
Dan satu pukulan keras yang memuntahkan buih (darah)
Atau tikaman keras oleh tangan yang menggenggam
Tombak yang menembus jantung dan  lambung
Al-Imam Ahmad meriwayatkan dari hadits Khalid bin Sumair dari Abdullah bin Rabah, dia mengatakan: Abu Qatadah, prajurit berkuda Rasulullah n menyampaikan sebuah hadits kepada kami. Dia berkata:
بَعَثَ رَسُولُ اللهِ n جَيْشَ الْأُمَرَاءِ فَقَالَ: عَلَيْكُمْ زَيْدُ بْنُ حَارِثَةَ، فَإِنْ أُصِيبَ زَيْدٌ فَجَعْفَرُ بْنُ أَبِي طَالِبٍ، فَإِنْ أُصِيبَ جَعْفَرٌ فعَبْدُ اللهِ بْنُ رَوَاحَةَ الْأَنْصَارِيُّ. فَوَثَبَ جَعْفَرٌ فَقَالَ: بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي، يَا رَسُولَ اللهِ، مَا كُنْتُ أَرْهَبُ أَنْ تَسْتَعْمِلَ عَلَيَّ زَيْدًا. قَالَ: امْضِهْ، فَإِنَّكَ لاَ تَدْرِي أَيُّ ذَلِكَ خَيْرٌ. فَانْطَلَقُوا فَلَبِثُوا مَا شَاءَ اللهُ ثُمَّ إِنَّ رَسُولَ اللهِ n صَعِدَ الْمِنْبَرَ وَأَمَرَ أَنْ يُنَادَى: الصَّلاَةُ جَامِعَةٌ؛ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ n: نَابَ خَيْرٌ أَوْ بَاتَ خَيْرٌ أَوْ ثَابَ خَيْرٌ -شَكَّ عَبْدُ الرَّحْمَنِ- أَلاَ أُخْبِرُكُمْ عَنْ جَيْشِكُمْ هَذَا الْغَازِي، إِنَّهُمُ انْطَلَقُوا فَلَقَوُا الْعَدُوَّ فَأُصِيبَ زَيْدٌ شَهِيدًا، فَاسْتَغْفِرُوا لَهُ -فَاسْتَغْفَرَ لَهُ النَّاسُ- ثُمَّ أَخَذَ اللِّوَاءَ جَعْفَرُ بْنُ أَبِي طَالِبٍ فَشَدَّ عَلَى الْقَوْمِ حَتَّى قُتِلَ شَهِيدًا أَشْهَدُ لَهُ بِالشَّهَادَةِ فَاسْتَغْفِرُوا لَهُ، ثُمَّ أَخَذَ اللِّوَاءَ عَبْدُ اللهِ بْنُ رَوَاحَةَ فَأَثْبَتَ قَدَمَيْهِ حَتَّى قُتِلَ شَهِيدًا فَاسْتَغْفِرُوا لَهُ، ثُمَّ أَخَذَ اللِّوَاءَ خَالِدُ بْنُ الْوَلِيدِ وَلَمْ يَكُنْ مِنَ الْأُمَرَاءِ، هُوَ أَمَّرَ نَفْسَهُ. ثُمَّ رَفَعَ رَسُولُ اللهِ n إِصْبَعَيْهِ فَقَالَ: اللَّهُمَّ هُوَ سَيْفٌ مِنْ سُيُوفِكَ، فَانْصُرْهُ. فَمِنْ يَوْمِئِذٍ سُمِّيَ خَالِدٌ سَيْفَ اللهِ. ثُمَّ قَالَ: انْفِرُوا فَأَمِدُّوا إِخْوَانَكُمْ وَلاَ يَتَخَلَّفَنَّ أَحَدٌ. قَالَ: فَنَفَرَ النَّاسُ فِي حَرٍّ شَدِيدٍ مُشَاةً وَرُكْبَانًا
Rasulullah n mengirim satu pasukan besar, dan berkata: “Yang memimpin kamu adalah Zaid bin Haritsah. Kalau Zaid mendapat musibah (gugur), maka (yang menggantinya) adalah Ja’far. Kalau Ja’far terkena musibah, maka gantinya adalah Abdullah bin Rawahah Al-Anshari.”
Maka melompatlah Ja’far dan berkata: “Demi ayah dan ibuku sebagai tebusanmu, wahai Nabi Allah. Begitu pengecutkah saya sehingga anda angkat Zaid di atas saya?”
Beliau berkata: “Teruskanlah (kepemimpinan Zaid), karena sesungguhnya engkau tidak tahu mana yang lebih baik.”
Kata Abu Qatadah: “Pasukan itu berangkat, dan menetap (di sebuah tempat) sampai waktu yang dikehendaki Allah.
Kemudian Rasulullah n naik mimbar lalu memberi perintah menyerukan: Ash-Shalatu Jami’ah. Lalu Rasulullah n berkata: “Telah terjadi kebaikan atau datang kebaikan. (‘Abdurrahman ragu).
“Maukah kalian saya beritakan tentang pasukan kalian yang berperang ini? Mereka berangkat sampai bertemu musuh. Kemudian Zaid gugur sebagai syahid, maka mintakanlah ampunan untuknya,” lalu kaum musliminpun memintakan ampunan untuknya.
“Kemudian bendera diambil oleh Ja’far bin Abi Thalib, diapun menyerang musuh dengan hebat hingga terbunuh sebagai syahid. Saya persaksikan untuknya syahadah (pahala syahid), maka mintakanlah ampunan untuknya. Kemudian bendera diambil oleh Abdullah bin Rawahah, dan diapun mengokohkan kedua kakinya sampai terbunuh sebagai syahid, maka mintakanlah ampunan untuknya.
Kemudian bendera diambil oleh Khalid bin Al-Walid, padahal dia tidak ditunjuk sebagai pemimpin pasukan. Dia mengangkat dirinya sendiri sebagai panglima. Lalu Rasulullah n mengangkat dua jarinya dan berkata: “Ya Allah, dia adalah pedang dari pedang-pedang-Mu, maka tolonglah dia.”
Maka sejak saat itulah Khalid digelari Pedang Allah. Kemudian beliau berkata lagi: “Berangkatlah kamu, bantulah saudara-saudaramu dan jangan ada seorangpun yang tertinggal.”
Akhirnya, kaum musliminpun berangkat di bawah sengatan panas matahari berjalan kaki dan berkendaraan.

Zaid bin Haritsah z Gugur sebagai Syahid
Pasukan muslimin dengan kekuatan 3.000 orang itu mulai meninggalkan tembok kota Madinah. Rasul n yang mulia mengantar mereka sambil memberi pesan nasihat.
Syahdan, pasukan berangkat dan berhenti di desa Mu’tah. Sementara kekuatan Romawi 200.000 orang bersenjata lengkap.
Sebagian ahli ilmu menceritakan bahwa Abu Hurairah z kaget dan merasa kekuatan lawan tidak sebanding dengan kaum mukminin. Tapi sahabat lainnya mengingatkan bagaimana dahulu mereka di Badr.
Tapi memang, sejak kapan prajurit iman bertarung dengan dasar jumlah? Bukankah Allah l berfirman:
“Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah.” (Al-Baqarah: 249)
Tentara Allah l itu bergerak maju dengan panglima Zaid di depan memegang bendera Rasulullah n dengan senjata terhunus. Zaid bertempur hebat, hingga akhirnya terkena senjata musuh. Beliaupun gugur sebagai syahid. Kekasih Rasulullah n ini mendahului, menanti sang kekasih untuk berkumpul.

Ja’far Gugur Sebagai Syuhada’
Begitu Zaid gugur, bendera dipegang oleh Ja’far, pemuda Hasyimi yang menjual kebangsawanannya demi meraih derajat di sisi Allah Yang Maha Perkasa.
Perang terus berkecamuk. Tentara salibis tidak puas sebelum menghancurkan tentara Allah l sehancur-hancurnya. Mereka kira, kekuatan super mereka akan menyiutkan nyali hati-hati yang berisi iman dan tauhid yang murni itu.
Orang-orang ‘badui’ yang terbelakang, yang dahulunya merunduk sujud bila bertemu mereka. Setelah Islam menjadikan mereka sebagai manusia secara utuh, tidak ada lagi satu kekuatanpun yang mereka takuti kecuali Allah l Yang Maha Perkasa.
Manusia-manusia yang mencintai kematian, tetapi masih menginginkan hidup. Perang bagi mereka bukan cuma membunuh, menebas, dan menikam. Tapi membuka jalan menuju gerbang kehidupan abadi.
Inilah sebabnya, mereka bukannya berbalik ke belakang melihat kekuatan musuh demikian besar. Tidak. Mereka berperang bukan karena jumlah dan kekuatan fisik. Mereka bertempur karena kekuatan hati, kekuatan iman. Tujuan mereka hanya ingin mengangkat setinggi-tingginya Kalimatullah.
Simaklah kembali apa yang dikatakan oleh Ja’far, ketika dia diletakkan sesudah Zaid oleh Rasulullah n. Ungkapan yang menunjukkan kepahlawanan. Bukan ambisi sebagai pemimpin, tapi ingin mendahului meraih surga. Terlebih lagi sabda Rasulullah n, lisan yang tidak berbicara dengan hawa nafsu, kata-katanya adalah wahyu yang diwahyukan kepadanya.
Al-Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Anas bin Malik z, bahwa Rasulullah n mengabarkan tentang gugurnya Zaid, Ja’far, dan Abdullah bin Rawahah g kepada kaum muslimin sebelum berita itu sampai kepada mereka. Kata beliau:
أَخَذَ الرَّايَةَ زَيْدٌ فَأُصِيبَ ثُمَّ أَخَذَهَا جَعْفَرٌ فَأُصِيبَ ثُمَّ أَخَذَهَا عَبْدُ اللهِ بْنُ رَوَاحَةَ فَأُصِيبَ. -وَإِنَّ عَيْنَيْ رَسُولِ اللهِ n لَتَذْرِفَانِ- ثُمَّ أَخَذَهَا خَالِدُ بْنُ الْوَلِيدِ مِنْ غَيْرِ إِمْرَةٍ فَفُتِحَ لَهُ
“Bendera dipegang oleh Zaid lalu dia gugur, kemudian dipegang oleh Ja’far. Kemudian dipegang oleh Abdullah bin Rawahah dan diapun gugur,” Sementara air mata beliau menitik, “Kemudian bendera dipegang oleh Khalid bin Al-Walid tanpa diangkat, lalu dibukakan kemenangan baginya.”
Dari jalur lain, Al-Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Anas z, dari Rasulullah n bahwa beliau mengatakan:
أَخَذَ الرَّايَةَ زَيْدٌ فَأُصِيبَ ثُمَّ أَخَذَ جَعْفَرٌ فَأُصِيبَ ثُمَّ أَخَذَ ابْنُ رَوَاحَةَ فَأُصِيبَ -وَعَيْنَاهُ تَذْرِفَانِ- حَتَّى أَخَذَ سَيْفٌ مِنْ سُيُوفِ اللهِ حَتَّى فَتَحَ اللهُ عَلَيْهِمْ
“Bendera dipegang oleh Zaid lalu dia gugur, kemudian dipegang oleh Ja’far diapun gugur. Kemudian bendera dipegang oleh Abdullah bin Rawahah dan diapun gugur,” sementara air mata beliau menitik, akhirnya bendera dipegang oleh salah satu pedang dari pedang-pedang Allah hingga Allah bukakan kemenangan untuk mereka.”
Al-Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari jalur lain, bahwa Rasulullah n mengabarkan hal itu di atas mimbar dan kata beliau n:
وَمَا يَسُرُّهُمْ أَنَّهُمْ عِنْدَنَا
“Tidaklah menyenangkan mereka, kalaupun mereka bersama kita di sini.” Karena keutamaan mati syahid yang sudah mereka ketahui.
Ja’far meyakini itu semua. Berita nubuwwah ini tidak menyurutkannya. Bahkan dia ingin, dialah yang pertama.
Allahu Akbar… Hati seperti apa yang Allah l letakkan dalam dada mereka, sehingga begitu mencintai kematian, padahal masih menginginkan hidup? Yakin surga menanti mereka di balik kilatan pedang?
Pertempuran semakin seru, korban di masing-masing pihak mulai berjatuhan. Ja’far menggenggam bendera dengan tangan kanannya. Khawatir kuda perangnya menjadi santapan orang-orang kafir, Ja’far turun dan membunuh kudanya. Para prajurit musuh menyerbunya dan memutus tangan kanannya yang menggenggam bendera.
Tangan perkasa itu jatuh bersama bendera. Tapi dengan sigap, sebelum menyentuh tanah, tangan kiri Ja’far menyambar bendera dan menegakkannya. Prajurit kafir lainnya menebas tangan kirinya, tapi Ja’far tetap tidak rela bendera Rasulullah n jatuh sementara dia masih hidup. Akhirnya bendera itu didekapnya dengan lengannya yang buntung, dia dekatkan ke dadanya. Dia tetap tegar. Tebasan pedang dan tusukan tombak tidak dihiraukannya, akhirnya beliaupun gugur meraih janji pasti dari Nabi n. Jannah (surga) menjemputnya, kedua tangan itupun diganti Allah l dengan dua buah sayap yang digunakannya terbang ke mana saja di dalam surga.1 Dikenallah dia dengan Dzul Janahain, si empunya dua sayap.
Al-Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu ‘Umar c, bahwa dia berdiri di dekat jenazah Ja’far dan menghitung ada sekitar 90 bekas luka sabetan dan tusukan tombak di sekujur tubuhnya. Setiap kali dia berjumpa dengan putra Ja’far, dia mengucapkan salam: “Assalamu ‘alaika, yaa ibna dzil janahain (salam sejahtera atasmu, wahai putera pemilik dua sayap).”
Nun, di Madinah, Nabi yang suci berlinang air mata mengetahui para kekasih telah mendahului. Beliau mendekap putra-putra Ja’far dan menciumi mereka. Asma’ bintu Umais x (istri Ja’far) yang melihat kejadian itu berseru: “Wahai Rasulullah, demi ayah dan ibuku tebusanmu, apa yang membuatmu menangis? Apakah telah sampai kepadamu berita tentang Ja’far dan sahabat-sahabatnya?” Rasulullah n berkata: “Ya.”
Asma’ menjerit. Para wanitapun datang berkumpul di rumahnya, sementara Rasulullah n pergi meninggalkan mereka.
Kemudian beliau memberi waktu tiga hari kepada keluarga Ja’far untuk berduka cita. Setelah itu beliau menemui mereka dan berkata: “Janganlah kamu menangisi saudaraku lagi sesudah hari ini –atau esok–. Panggilkan dua anak saudaraku.” Rasulullah n juga mengatakan:
اصْنَعُوا لِأَهْلِ جَعْفَرٍ طَعَامًا فَإِنَّهُ قَدْ جَاءَهُمْ مَا يَشْغَلُهُمْ
“Buatkanlah untuk keluarga Ja’far makanan, karena sesungguhnya telah datang kepada mereka sesuatu yang menyibukkan mereka.” (HR. At-Tirmidzi)
Dalam hadits ini, yang disunnahkan adalah membuatkan makanan yang mengenyangkan keluarga yang terkena musibah, bukan datang bertamu (ta’ziyah) lalu  makan dan minum dari hidangan yang disediakan oleh tuan rumah sebagaimana banyak terjadi dewasa ini. Wallahul Musta’an.
Al-Mubarakfuri menukilkan riwayat Ibnu Majah dan Ahmad, dari Jarir, yang menyatakan bahwa berkumpul di rumah duka, makan dan minum (suguhan tuan rumah) termasuk niyahah (ratapan yang dilarang). Dan kata beliau sanadnya sahih.

Abdullah bin Rawahah z gugur sebagai syahid
Melihat Ja’far gugur, dan bendera Rasul yang mulia segera akan jatuh, dengan cepat Abdullah bin Rawahah menyibak barisan musuh dan menangkap bendera itu. Bendera sekarang di tangan panglima ketiga. Diapun mengangkatnya membangkitkan semangat kaum muslimin.
Di awal pertempuran ketika mendengar berita kekuatan lawan, sebagian tentara muslimin menyarankan agar mengirim surat menerangkan kekuatan musuh yang luar biasa, dan menunggu keputusan Rasulullah n, apakah mereka diberi bala bantuan atau diperintahkan mundur atau yang lainnya.
Abdullah bin Rawahah tampil mengingatkan pasukan, menumbuhkan keberanian mereka seraya mengatakan: “Wahai pasukan, sesungguhnya apa yang kamu takutkan adalah betul-betul yang kamu cari, yaitu mati syahid. Kita tidak memerangi musuh karena jumlah, kekuatan, dan perlengkapan. Kita tidak memerangi mereka melainkan karena ajaran ini, yang telah Allah l muliakan kita dengannya. Berangkatlah, sesungguhnya itu adalah salah satu dari dua kebaikan; menang atau mati syahid.”
Serentak pasukan menyambut benarnya perkataan Abdullah bin Rawahah. Memang, kekuatan apa lagi yang dapat menghadang laju hati yang berisi keimanan dan tauhid yang murni. Sekali maju, pantang surut ke belakang.
Sudah menjadi ketetapan Allah l pula bahwa janji kemenangan hanya untuk orang-orang beriman dan beramal shalih, yang bila dibandingkan dengan kaum yang durhaka sangatlah sedikit.
Perang berkecamuk. Ja’far telah meraih janjinya.
Abdullah bin Rawahah turun dari kendaraannya. Setelah dia turun, datang putra pamannya menawarkan sepotong daging kepadanya. Begitu menggigitnya sekali, dia mendengar suara ramai banyak orang, lalu dia berkata kepada dirinya sendiri: “Dan engkau masih di alam dunia?” Diapun mengambil pedangnya lalu maju dan bertempur hingga gugur sebagai syahid.
Dikisahkan, bahwa yang mengambil bendera setelah gugurnya Abdullah bin Rawahah adalah Tsabit bin Arqam dari Bani Al-’Ajlan. Dia berkata: “Hai kaum muslimin sekalian, pilihlah salah seorang dari kalian.” Pasukan itu mengatakan: “Engkau saja.”
Kata Tsabit: “Aku tidak pantas.”
Akhirnya mereka memilih Khalid bin Al-Walid. Setelah dia memegang bendera perang, dia berusaha menyelamatkan pasukan hingga sampai di Madinah.
Dalam peperangan ini, Khalid bin Al-Walid telah menghabiskan sembilan bilah pedang. Demikian diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari t.
Rasulullah n bersabda, menceritakan berita tentang pasukan muslimin di Mu’tah sebelum datang kabar dari mereka:
أَخَذَ الرَّايَةَ زَيْدٌ فَأُصِيبَ ثُمَّ أَخَذَ جَعْفَرٌ فَأُصِيبَ ثُمَّ أَخَذَ ابْنُ رَوَاحَةَ فَأُصِيبَ -وَعَيْنَاهُ تَذْرِفَانِ- حَتَّى أَخَذَ سَيْفٌ مِنْ سُيُوفِ اللهِ حَتَّى فَتَحَ اللهُ عَلَيْهِمْ
“Bendera dipegang oleh Zaid lalu dia gugur, kemudian dipegang oleh Ja’far diapun gugur. Kemudian bendera dipegang oleh Abdullah bin Rawahah dan diapun gugur,” sementara air mata beliau menitik, “Akhirnya bendera dipegang oleh salah satu pedang dari pedang-pedang Allah hingga Allah bukakan kemenangan bagi mereka.”
Sejak saat itulah Khalid digelari Saifullah (Pedang Allah).

Khalid z Menjadi Panglima
Sebagian ahli sejarah menceritakan, bahwa setelah Khalid memegang bendera perang, dia mulai menjalankan taktiknya. Barisan muslimin diubah.
Yang tadinya di sayap kanan, diletakkan di kiri, dan sebaliknya. Sementara barisan depan, diletakkan di belakang, dan yang tadinya di belakang diletakkan di depan.
Diceritakan, ketika perang mulai berkecamuk kembali, pasukan musuh tersentak luar biasa. Pasukan musuh menyangka telah datang bala bantuan dari Madinah. Barisan sayap kiri melihat barisan lawan yang mereka hadapi bukan lagi barisan yang kemarin, telah berganti wajah baru yang terlihat segar. Demikian pula sayap kanan dan seterusnya. Akhirnya, semangat mereka mulai kendur dan berangsur-angsur mereka menarik diri dari medan pertempuran.
Kenyataan ini dimanfaatkan kaum muslimin menata barisan, dan akhirnya merekapun sepakat untuk kembali ke Madinah.
Di awal pertempuran, melihat kenyataan jumlah musuh begitu besarnya, sempat ada beberapa sahabat berbalik kembali ke Madinah. Tapi mereka tidak dicela oleh Rasulullah n, meskipun ada beberapa sahabat merasa malu disindir oleh yang lainnya.
Dari Ummu Salamah, beliau bertanya kepada istri Salamah bin Hisyam bin Al-Mughirah: “Mengapa saya tidak pernah melihat Salamah ikut shalat bersama Rasulullah n dan kaum muslimin?”
Kata istrinya: “Demi Allah, dia tidak sanggup keluar. Karena setiap kali dia keluar, orang-orang meneriakinya: ‘Hai pengecut, apa kamu melarikan diri dari perang di jalan Allah?’ Akhirnya, dia duduk saja di rumah dan tidak keluar-keluar.” Itu terjadi ketika mereka pulang dari perang Mu’tah.
Ibnu Katsir t mengatakan: “Adalah wajar, kalaupun itu terjadi. Sebab, kekuatan musuh ketika itu jauh berkali lipat jumlahnya. Ada yang mengatakan jumlah mereka lebih kurang seratus sampai duaratus ribu orang.”
Dalam riwayat At-Tirmidzi, Al-Imam Ahmad, dan Abu Dawud, yang dinilai hasan oleh At-Tirmidzi menyebutkan tentang larinya mereka dari pertempuran ini, adalah di awal pertempuran. Rasulullah n sebagaimana dalam riwayat itu tidak menyalahkan mereka. Bahkan mengatakan bahwa mereka adalah: الْعَكَّارُونَ  (orang-orang yang siap kembali setelah mengundurkan diri dari medan perang).
Dari ‘Auf bin Malik, bahwasanya Rasulullah n tidak memasukkan salb2 ke dalam khumus.3 Dan ada prajurit pembantu (dari Yaman) ketika itu menjadi teman dekatnya dalam perang Mu’tah di pinggiran wilayah Syam. Merekapun bertemu musuh. Seorang prajurit Romawi dengan kuda dan pelana berhias, mengenakan ikat pinggang emas dan pedang yang dihiasi dengan emas menyerang pasukan muslimin dengan ganas. Prajurit pembantu tersebut mengincarnya hingga ketika dia melewatinya, prajurit bantuan itu menebas kaki-kaki kudanya hingga prajurit Romawi itu jatuh. Segera prajurit muslim itu melompati dan membunuhnya dengan pedang.
Setelah Allah l mengalahkan pasukan Romawi, terdapat bukti bahwa prajurit pembantu itulah yang membunuh tentara Romawi itu. Maka Khalid memberi si prajurit muslim tersebut pedang (milik tentara Romawi yang dibunuhnya) dan memasukkan lainnya ke dalam khumus.
‘Auf berkata: Sayapun menegur Khalid bin Al-Walid: “Apakah engkau tidak tahu, bahwa Rasulullah n menetapkan salb itu untuk orang yang membunuh (lawannya)?”
Khalid menjawab: “Tentu, tapi saya menganggapnya itu sudah banyak.”
Kata ‘Auf: Waktu itu sempat terjadi perdebatan saya dengan Khalid. Sayapun berkata: “Demi Allah, akan saya ceritakan hal ini kepada Rasulullah n.”
Lalu setelah kami berkumpul dengan Nabi n, ‘Auf menceritakannya. Rasulullah n pun bersabda: “Apa yang menghalangimu untuk menyerahkan salb itu kepadanya?”
Kata Khalid: “Saya anggap itu sudah banyak.”
Kata beliau: “Serahkanlah kepadanya.”
‘Auf pun berkata kepada Khalid: “Ambil itu, hai Khalid! Bukankah sudah saya tepati janji saya kepadamu, hai Khalid?”
Rasulullah lalu bertanya: “Apa (janji) itu?” ‘Auf kemudian menceritakan kisahnya dengan Khalid.
Rasulullah n menjadi marah, lalu beliaupun berkata: “Jangan berikan, hai Khalid! Mengapa kalian tidak membiarkan aku dengan para pemimpin?”4
Dalam riwayat Muslim, disebutkan bahwa Rasulullah n memberi perumpamaan: “Perumpamaan mereka (para pemimpin dengan yang dipimpinnya) seperti seorang yang menggembalakan unta lalu membawanya ke tempat peminuman. Lalu unta itu minum dengan puas air jernihnya, dan meninggalkan yang keruhnya. Untuk kalian yang jernihnya, tapi yang keruhnya untuk mereka.”
Pensyarah Sunan Abu Dawud menukil dari Al-Imam An-Nawawi penafsiran beliau tentang perumpamaan ini: “Bahwa rakyat yang dipimpin, mengambil yang jernih dari urusan mereka. Akhirnya mereka menerima harta tanpa harus bersusah payah, seperti para pemimpin, mendapatkan musibah dengan sikap kaku dan kasar dari rakyatnya. Dia mengumpulkan harta sebagaimana seharusnya, lalu mengaturnya menurut cara yang semestinya, memerhatikan dan menyayangi rakyat yang dipimpinnya, membela dan meluruskan sebagian terhadap yang lain. Kemudian jika dia tergelincir, dia dicela dalam sebagian urusan tersebut.”
Wallahu a’lam.
(bersambung, Insya Allah)

1 HR. Ath-Thabarani dari Ibnu ‘Abbas c dengan dua sanad yang salah satunya hasan. Lihat tahqiq Zadul Ma’ad (3/384).
2 Salb adalah apa yang diambil seseorang dalam peperangan, dari lawannya, berupa kendaraan, senjata, atau pakaiannya.
3  Seperlima dari harta rampasan perang yang menjadi hak Allah l dan Rasul-Nya n.
4 HR. Abu Dawud no. 2719 dengan sanad yang shahih.