Jimat dan Jampi-jampi

(ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc.)

Praktik perdukunan tidak bisa lepas dari jimat, mantra, dan jampi-jampi. Di masyarakat Arab jahiliah pun hal ini telah demikian dikenal.
Jimat-jimat dikenal dengan istilah tamimah, mantra dan jampi-jampi dikenal dengan ruqyah, pelet atau pengasihan dikenal dengan tiwalah. Tentu saja jika kita bicara istilah maka akan ada saja perbedaan sebutan antara satu daerah dengan daerah lainnya. Namun hakikatnya semuanya sama, baik itu dinamai jimat, hizb, rajah, pelet, pengasihan, pelarisan, atau apa saja.
Yang kita ingin kaji di sini adalah hukum memakai hal-hal tersebut, baik dengan digantungkan di mobil, di rumah, di toko-toko, atau warung makan. Untuk itu mari kita menyimak hadits Nabi n:
إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ
“Sesungguhnya ruqyah, tamimah, dan tiwalah adalah syirik.” (Shahih, HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad. Lihat Shahih Jami’ Ash-Shaghir no. 1632)
Tamimah adalah sesuatu yang biasa digantungkan pada anak-anak dengan tujuan melindungi dari malapetaka. Inilah yang biasa kita sebut dalam bahasa kita dengan jimat atau sejenisnya. Nabi n menyebutnya syirik dan hal ini terlarang, karena dengan itu berarti seseorang mengharap pertolongan kepada selain Allah l, sementara tidak ada yang dapat menolak bala kecuali Allah l. Dengan demikian, tidak boleh dimintai perlindungan dari gangguan semacam itu kecuali dari Allah l semata. Sebagian ulama juga menjelaskan bahwa hal itu masuk dalam kategori syirik akbar bila meyakini bahwa benda tersebut yang memberinya manfaat serta menyelamatkannya dari madharat. Bisa pula masuk dalam kategori syirik kecil bila meyakini bahwa benda itu hanya menjadi sebab keselamatan atau kemujuran, namun hakikatnya yang memberinya adalah Allah l.

Bagaimanakah Hukumnya Bila Jimat Itu Dibuat Murni dari Ayat Al-Qur’an?
Pendapat yang terkuat dalam hal ini bahwa ini termasuk dilarang. Ini adalah pendapat sejumlah sahabat di antaranya Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, yang nampak dari pendapat Hudzaifah, ’Uqbah bin ’Amir, dan Ibnu Ukaim. Juga pendapat banyak dari kalangan tabi’in dan salah satu pendapat Al-Imam Ahmad.
Yang menguatkan pendapat ini adalah tiga hal:
1. Larangan dalam hadits bersifat umum, mencakup jimat dari apapun. Tidak ada yang mengkhususkannya.
2. Dalam rangka menutup pintu kejelekan. Karena bila hal ini dibolehkan akan menyeret kepada pemakaian tamimah yang lain.
3. Bila ini digantungkan pada seseorang, niscaya berakibat menghinakannya dengan membawanya saat buang air, cebok, dan yang semacamnya. (Fathul Majid)
Pembaca yang kami hormati, jika demikian hukum jimat –meski murni terbuat dari tulisan ayat-ayat Al-Qur’an– lantas bagaimana dengan yang lain, semacam yang dicampur antara ayat-ayat dengan huruf-huruf yang terputus-putus, angka-angka, atau garis-garis?
Jangan sampai kita terkecoh dengan tulisan-tulisan huruf Arab dalam jimat tersebut, karena itu terkadang bukan ayat bahkan bukan bahasa Arab. Hanya hurufnya saja yang Arab, namun tidak bisa dipahami karena bukan bahasa Arab. Yang dikhawatirkan ini justru merupakan rumus-rumus kekafiran. Bisa jadi di dalamnya terkandung doa kepada selain Allah l, kata-kata kekafiran, celaan terhadap Islam atau ayat Al-Qur’an, bahkan terhadap Allah l dan Rasul-Nya. Jelas ini hukumnya haram.
Ruqyah, adalah bacaan-bacaan yang dibacakan dengan niat untuk kesembuhan atau tolak bala atau semisalnya, itulah yang disebut dalam bahasa kita dengan jampi-jampi. Dalam hadits-hadits, ruqyah ada dua macam. Salah satunya yang beliau n sebut dalam hadits yang telah lewat yaitu yang syirik, yaitu yang terdapat padanya permohonan kepada selain Allah l.
Yang kedua adalah ruqyah yang syar’i, yang dibolehkan bahkan dianjurkan oleh Islam, yaitu yang terkumpul padanya tiga syarat:
1. Dengan kalamullah, ayat-ayat Al-Qur’an, atau dengan nama-nama Allah l dan sifat-sifat-Nya.
2. Dengan bahasa Arab dan yang diketahui maknanya.
3. Meyakini bahwa ruqyah tidak berpengaruh dengan sendirinya, namun dengan takdir Allah l. (Fathul Majid)
Maka ruqyah yang tidak terpenuhi salah satu dari syarat-syarat tersebut maka tidak boleh dan haram.
Demikianlah hukum mantra-mantra. Walaupun terkadang disisipi ayat-ayat Al-Qur’an, namun faktanya juga dicampur dengan bacaan-bacaan lain yang jelas haram, atau yang tidak diketahui maknanya yang dikhawatirkan mengandung doa kepada selain Allah l, penghinaan terhadap Islam, atau perkara-perkara haram yang lain.
Adapun tiwalah, yaitu pelet, pengasihan, atau sejenisnya, termasuk syirik karena dengan itu seseorang berarti telah memohon kepada selain Allah l.

Dukun dan Ciri-cirinya

(ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc.)

Perdukunan, ramalan nasib, dan sejenisnya telah tegas diharamkan oleh Islam dengan larangan yang keras. Sisi keharamannya terkait dengan banyak hal, di antaranya:
1. Apa yang akan terjadi itu hanya diketahui oleh Allah l. Maka seseorang yang meramal berarti ia telah menyejajarkan dirinya dengan Allah l dalam hal ini. Ini merupakan kesyirikan, membuat sekutu (tandingan) bagi Allah l. Atau;
2. Meminta bantuan kepada jin atau setan. Ini banyak terkait dengan praktik perdukunan dan sihir semacam santet atau sejenisnya.
Praktik sihir, ramal, dan perdukunan sendiri telah dikenal di masyarakat Arab dengan beberapa istilah. Para dukun dan peramal itu terkadang disebut:
1. Kahin
Al-Baghawi t mengatakan bahwa Al-Kahin adalah seseorang yang mengabarkan sesuatu yang akan terjadi di masa yang akan datang. Ada pula yang mengatakan, al-kahin adalah yang mengabarkan apa yang tersembunyi dalam qalbu.
2. ‘Arraf
Al-Baghawi t mengatakan bahwa ia adalah orang yang mengaku-ngaku mengetahui urusan-urusan tertentu melalui cara-cara tertentu, yang darinya ia mengaku mengetahui tempat barang yang dicuri atau hilang.
3. Rammal
Raml dalam bahasa Arab berarti pasir yang lembut. Rammal adalah seorang tukang ramal yang menggaris-garis di pasir untuk meramal sesuatu. Ilmu ini telah dikenal di masyarakat Arab dengan sebutan ilmu raml.
4. Munajjim, ahli ilmu nujum
Nujum artinya bintang-bintang. Akhir-akhir ini populer dengan nama astrologi (ilmu perbintangan) yang dipakai untuk meramal nasib.
5. Sahir, tukang sihir
Ini lebih jahat dari yang sebelumnya, karena dia tidak hanya terkait dengan ramalan bahkan dengan ilmu sihir yang identik dengan kejahatan.
Dan masih ada lagi tentunya istilah lain. Namun hakikatnya semuanya bermuara pada satu titik kesamaan yaitu meramal, mengaku mengetahui perkara ghaib (sesuatu yang belum diketahui) yang akan datang, baik itu terkait dengan nasib seseorang, suatu peristiwa, mujur dan celaka, atau sejenisnya. Perbedaannya hanyalah dalam penggunaan alat yang dipakai untuk meramal. Ada yang memakai kerikil, bintang, atau yang lain. Oleh karenanya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t mengatakan: “Al-‘Arraf, adalah sebutan bagi kahin, munajjim, dan rammaal, serta yang sejenis dengan mereka, yang berbicara dalam hal mengetahui perkara-perkara semacam itu dengan cara-cara semacam ini.” (dinukil dari Kitabut Tauhid)
Dengan demikian, apapun nama dan julukannya, baik disebut dukun, tukang sihir, paranormal, ‘orang pintar’, ‘orang tua’, spiritualis, ahli metafisika, atau bahkan mencatut nama kyai dan gurutta (sebutan untuk tokoh agama di Sulawesi Selatan), atau nama-nama lain, jika dia bicara dalam hal ramal-meramal dengan cara-cara semacam di atas maka itu hukumnya sama: haram dan syirik, menyekutukan Allah l.
Demikian pula istilah-istilah ilmu yang mereka gunakan, baik disebut horoskop, zodiak, astrologi, ilmu nujum, ilmu spiritual, metafisika, supranatural, ilmu hitam, ilmu putih, sihir, hipnotis dan ilmu sugesti, feng shui, geomanci, berkedok pengobatan alternatif atau bahkan pengobatan Islami, serta apapun namanya, maka hukumnya juga sama, haram.
Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah mengatakan saat menjelaskan sebuah hadits Nabi n:
إِذَا قَضَى اللهُ الْأَمْرَ فِي السَّمَاءِ ضَرَبَتِ الْمَلَائِكَةُ بِأَجْنِحَتِهَا خضَعَانًا لِقَوْلِهِ كَأَنَّهُ سِلْسِلَةٌ عَلَى صَفْوَانٍ فَإِذَا فُزِّعَ عَنْ قُلُوبِهِمْ قَالُوا: مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ؟ قَالُوا لِلَّذِي قَالَ: الْحَقَّ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيْرُ. فَيَسْمَعُهَا مُسْتَرِقُ السَّمْعَ وَمُسْتَرِقُ السَّمْعِ هَكَذَا بَعْضَهُ فَوْقَ بَعْضٍ –وَوَصَفَ سُفْيَانُ بِكَفِّهِ فَحَرَّفَهَا وَبَدَّدَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ- فَيَسْمَعُ الْكَلِمَةَ فَيُلْقِيهَا إِلَى مَنْ تَحْتَهُ ثُمَّ يُلْقِيهَا الْآخَرُ إِلَى مَنْ تَحْتَهُ حَتَّى يُلْقِيهَا عَلَى لِسَانِ السَّاحِرِ أَوِ الْكَاهِنِ فَرُبَّمَا أَدْرَكَ الشِّهَابُ قَبْلَ أَنْ يُلْقِيَهَا وَرُبَّمَا أَلْقَاهَا قَبْلَ أَنْ يُدْرِكَهُ فَيَكْذِبُ مَعَهَا مِائَةَ كِذْبَةٍ فَيُقَالُ: أَلَيْسَ قَدْ قَالَ لَنَا يَوْمَ كَذَا وَكَذا كَذَا وَكَذَا؟ فَيُصَدَّقُ بِتِلْكَ الْكَلِمَةِ الَّتِي سُمِعَ مِنَ السَّمَاءِ
Apabila Allah memutuskan sebuah urusan di langit, tertunduklah seluruh malaikat karena takutnya terhadap firman Allah l seakan-akan suara rantai tergerus di atas batu. Tatkala tersadar, mereka berkata: “Apa yang telah difirmankan oleh Rabb kalian?” Mereka menjawab: “Kebenaran, dan dia Maha Tinggi lagi Maha Besar.” Lalu berita tersebut dicuri oleh para pencuri pendengaran (setan). Demikian sebagian mereka di atas sebagian yang lain –Sufyan menggambarkan tumpang tindihnya mereka dengan telapak tangan beliau lalu menjarakkan antara jari jemarinya–. (Pencuri berita) itu mendengar kalimat yang disampaikan, lalu menyampaikannya kepada yang di bawahnya. Yang di bawahnya menyampaikannya kepada yang di bawahnya lagi, sampai dia menyampaikannya ke lisan tukang sihir atau dukun. Terkadang mereka dijumpai oleh bintang pelempar sebelum dia menyampaikannya, namun terkadang dia bisa menyampaikan berita tersebut sebelum dijumpai oleh bintang tersebut. Dia menyisipkan seratus kedustaan bersama satu berita yang benar itu. Kemudian petuah dukun yang salah dikomentari: “Bukankah dia telah mengatakan demikian pada hari demikian?” Dia dibenarkan dengan kalimat yang didengarnya dari langit itu.” (HR. Al-Bukhari no. 4522 dari sahabat Abu Hurairah z)
Pada (hadits ini) terdapat keterangan tentang batilnya sihir dan perdukunan, bahwa keduanya sumbernya sama yaitu mengambil dari setan. Oleh karena itu, sihir tidak boleh diterima, demikian pula berita tukang sihir. Juga dukun dan berita dukun. Karena sumbernya batil. Disebutkan dalam hadits Nabi n:
مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافًا لمَ ْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِيْنَ يَوْماً
“Barangsiapa mendatangi dukun atau peramal maka tidak diterima shalatnya 40 hari.”
Dalam hadits yang lain:
مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافاً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُوْلُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ n
“Barangsiapa mendatangi dukun atau peramal lalu memercayai apa yang dia katakan maka dia telah kafir dengan apa yang diturunkan kepada Muhammad n.”
Dalam hadits ini terdapat keterangan batilnya sihir atau dukun, larangan  membenarkan tukang sihir atau dukun, atau mendatangi mereka. Akan tetapi di masa ini, para tukang sihir dan dukun muncul dengan julukan tabib atau ahli pengobatan. Mereka membuka tempat-tempat praktik serta mengobati orang-orang dengan sihir dan perdukunan. Namun mereka tidak mengatakan: “Ini sihir, ini perdukunan.” Mereka tampakkan kepada manusia bahwa mereka mengobati dengan cara yang mubah, serta menyebut nama Allah l di depan orang-orang. Bahkan terkadang membaca sebagian ayat Al-Qur’an untuk mengelabui manusia, tapi dengan sembunyi mengatakan kepada orang  yang sakit, “Sembelihlah kambing dengan sifat demikian dan demikian, tapi jangan kamu makan (dagingnya), ambillah darahnya”, “Lakukan demikian dan demikian”, atau mengatakan “Sembelihlah ayam jantan atau ayam betina” ia sebutkan sifat-sifatnya dan mewanti-wanti “Tapi jangan menyebut nama Allah l”. Atau menanyakan nama ibu atau ayahnya (pasien), mengambil baju atau topinya (si sakit) untuk dia tanyakan kepada setan pembantunya, karena setan juga saling memberi informasi. Setelah itu ia mengatakan: “Yang menyihir kamu itu adalah fulan”, padahal dia juga dusta. Maka wajib bagi muslimin untuk berhati-hati. (I’anatul Mustafid)

Ciri-ciri Dukun atau Penyihir
Berikut ini beberapa ciri dukun, sehingga dengan mengetahui ciri-ciri tersebut, hendaknya kita berhati-hati bila kita dapati ciri-ciri tersebut ada pada seseorang walaupun dia mengaku hanya sebagai tukang pijat bahkan kyai. Di antara ciri tersebut:
1. Bertanya kepada yang sakit tentang namanya, nama ibunya, atau semacamnya.
2. Meminta bekas-bekas si sakit baik pakaian, sorban, sapu tangan, kaos, celana, atau sejenisnya dari sesuatu yang biasa dipakai si sakit. Atau bisa juga meminta fotonya.
3. Terkadang meminta hewan dengan sifat tertentu untuk disembelih tanpa menyebut nama Allah l, atau dalam rangka diambil darahnya untuk kemudian dilumurkan pada tempat yang sakit pada pasiennya, atau untuk dibuang di tempat kosong.
4. Menulis jampi-jampi dan mantra-mantra yang memuat kesyirikan.
5. Membaca mantra atau jampi-jampi yang tidak jelas.
6. Memberikan kepada si sakit kain, kertas, atau sejenisnya, dan bergariskan kotak. Di dalamnya terdapat pula huruf-huruf dan nomor-nomor.
7. Memerintahkan si sakit untuk menjauh dari manusia beberapa saat tertentu di sebuah tempat yang gelap yang tidak dimasuki sinar matahari.
8. Meminta si sakit untuk tidak menyentuh air sebatas waktu tertentu, biasanya selama 40 hari.
9. Memberikan kepada si sakit sesuatu untuk ditanam dalam tanah.
10. Memberikan kepada si sakit sesuatu untuk dibakar dan mengasapi dirinya dengannya.
11. Terkadang mengabarkan kepada si sakit tentang namanya, asal daerahnya, dan problem yang menyebabkan dia datang, padahal belum diberitahu oleh si sakit.
12. Menuliskan untuk si sakit huruf-huruf yang terputus-putus baik di kertas atau mangkok putih, lalu menyuruh si sakit untuk meleburnya dengan air lantas meminumnya.
13. Terkadang menampakkan suatu penghinaan kepada agama misal menyobek tulisan-tulisan ayat Al-Qur’an atau menggunakannya pada sesuatu yang hina.
14. Mayoritas waktunya untuk menyendiri dan menjauh dari orang-orang, karena dia lebih sering bersepi bersama setannya yang membantunya dalam praktik perdukunan. (Kaifa Tatakhallas minas Sihr)
Ini sekadar beberapa ciri dan bukan terbatas pada ini saja. Dengannya, seseorang dapat mengetahui bahwa orang tersebut adalah dukun atau penyihir, apapun nama dan julukannya walaupun terkadang berbalut label-label keagamaan semacam kyai atau ustadz.

Dilarang Mendatangi Dukun
Bila kita telah mendengar tentang seseorang yang memiliki ciri-ciri sebagaimana dijelaskan di atas, janganlah kita mendatanginya. Hal itu sangat dilarang dalam agama Islam. Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan menjelaskan:
Dalam Shahih Muslim disebutkan:
مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافًا لمَ ْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِيْنَ يَوْماً
“Barangsiapa mendatangi dukun maka tidak akan diterima shalatnya selama 40 hari.”
Hukum ini sebagai akibat dari hanya mendatangi dukun saja. Karena (sekadar) mendatanginya sudah merupakan kejahatan dan perbuatan haram, walaupun ia tidak memercayai dukun tersebut. Oleh karenanya, ketika sahabat Mu’awiyah Ibnul Hakam z bertanya kepada Rasulullah n perihal dukun beliau menjawab: ‘Jangan kamu datangi dia.’ Nabi n melarangnya walaupun sekadar mendatanginya. Jadi hadits ini menunjukkan tentang haramnya mendatangi dukun walaupun tidak memercayainya, walaupun yang datang mengatakan: ‘Kedatangan saya hanya sekadar ingin tahu’. Ini tidak boleh.
“Tidak diterima shalatnya selama empat puluh hari” dalam sebuah riwayat “40 hari 40 malam.”
Ini menunjukkan beratnya hukuman bagi yang mendatangi dukun, di mana shalatnya tidak diterima di sisi Allah l, tidak ada pahalanya di sisi Allah l, walaupun ia tidak diperintahkan untuk mengulangi shalatnya, karena secara lahiriah ia telah melakukan shalat. Akan tetapi, antara dia dengan Allah l, dia tidak mendapatkan pahala dari shalatnya karena tidak Allah l terima. Ini adalah ancaman keras yang menunjukkan haramnya mendatangi dukun, sekadar mendatangi walaupun tidak memercayai. Adapun bila memercayainya maka hadits-hadits yang akan dijelaskan berikut telah menunjukkan ancaman yang keras, kita berlindung kepada Allah l.
Dari Abu Hurairah z dari Nabi n bahwa beliau n bersabda:
مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافاً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُوْلُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ n
“Barangsiapa mendatangi dukun atau peramal lalu memercayai apa yang dia katakan maka dia telah kafir dengan apa yang diturunkan kepada Muhammad n.”
Dalam hadits ini ada dua masalah:
Masalah pertama: mendatangi dukun.
Masalah kedua: memercayainya pada apa yang ia beritakan dari perdukunannya. Hukumnya ia telah dianggap kafir terhadap apa yang Allah l turunkan kepada Nabi Muhammad n. Karena tidak akan bersatu antara membenarkan apa yang diturunkan kepada Muhammad n dengan membenarkan berita dukun yang itu adalah pekerjaan setan. Dua hal yang tidak mungkin bersatu, memercayai Al-Qur’an dan memercayai dukun.
Yang nampak dari hadits itu bahwa ia telah keluar dari Islam.
Dari riwayat dari Al-Imam Ahmad t ada dua pemahaman dalam hal kekafiran semacam ini. Satu riwayat, bahwa maksudnya kekafiran besar yang mengeluarkan dari agama. Riwayat yang lain: kekafiran kecil, di bawah kekafiran tadi.
Ada pendapat ketiga: tawaqquf, yakni kita baca hadits sebagaimana datangnya tanpa menafsirkan serta mengatakan kafir besar atau kecil. Kita katakan seperti kata Rasulullah n dan cukup.
Tapi yang kuat –wallahu a’lam– adalah pendapat yang pertama, bahwa itu adalah kekafiran yang mengeluarkan dari agama. Karena tidak akan bersatu antara iman kepada Al-Qur’an dengan iman kepada perdukunan. Karena Allah l telah mengharamkan perdukunan, dan memberitakan bahwa itu adalah perbuatan setan, maka orang yang memercayai dan membenarkan berarti telah kafir dengan kekafiran besar. Inilah yang nampak dari hadits. (I’anatul Mustafid)
Demikian penjelasan beliau tentang mendatangi dukun. Adapun tentang bertanya-tanya atau konsultasi dengan para dukun, telah dijelaskan dalam rubrik Manhaji secara lebih detail.
Ada satu hal yang perlu lebih kita sadari, yaitu kecanggihan teknologi yang ada ternyata digunakan para dukun untuk mencari mangsa. Sehingga tidak mesti seseorang datang ke tempat praktik dukun tersebut, tapi justru dukunnya yang mendatangi seseorang melalui radio, televisi, internet, atau SMS. Dengan itu, bertanya kepada dukun jalannya semakin dipermudah. Cukup dengan ketik: ”reg spasi ….” selanjutnya mengirimkannya ke nomor tertentu melalui ponsel, seseorang sudah bisa mendapatkan layanan perdukunan. Bahkan, sampai-sampai ada sebuah stasiun televisi yang membuat program khusus untuk menayangkan kompetisi di antara dukun/ tukang sihir.
Subhanallah, cobaan nyata semakin berat. Kaum muslimin mesti menyadari hal ini. Jangan sampai kecanggihan teknologi ini membuat kita semakin jauh dari ajaran agama. Justru seharusnya kita gunakan kemajuan teknologi ini untuk membantu kita agar semakin taat kepada Allah l.
Semoga kaum muslimin menerima dan memahaminya dengan baik sehingga menyadari akan bahaya perdukunan, untuk kemudian kaum muslimin pun bersatu dalam memerangi perdukunan.

Perdukunan dan Para eite Politik

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf)

Panggung politik adalah ajang terbuka bagi para politisi untuk bertarung merebut kekuasaan, maka kerja politik adalah kerja yang berorientasi meraih jabatan dan kedudukan.
Dalam wacana modernitas, praktik politik selalu bertumpu pada rasionalitas, menggunakan kalkulasi yang masuk akal, dan mengikuti kaidah politik yang dapat dicerna oleh penalaran logis.
Namun demikian, di luar langkah itu, menjelang Pemilu 2009 kemarin, banyak politisi yang terobsesi pada kekuasaan, justru bertumpu pada hal-hal yang irasional.
Persaingan yang sangat ketat menjadi wakil rakyat membuat sejumlah pihak menghalalkan segala cara, dari mulai menyambangi dukun, minta diterawang nasib dan peruntungan mereka melalui jalan mistik, hingga berkumpul di sisi makam yang dianggap keramat. (Kompas Online, 23/2)
Praktik perdukunan dalam pertarungan politik bertujuan ganda, yaitu merebut atau mempertahankan kekuasaan. Banyak pihak meyakini, hampir tak ada seorang pun yang berhasil menaiki tangga kekuasaan tanpa bantuan dukun.
Ini adalah salah satu gejala frustasi politik bagi para caleg, di mana caleg yang kere mencoba mengundi nasib mengandalkan kekuatan magis para dukun.
Dikabarkan, ratusan caleg di kota Padang mendatangi dukun bernama Ni Ita. Mereka menerawangkan peluangnya menuju parlemen. (http://www.padang.today.com/27/03)
Ki Joko Bodo dan Mama Lauren, 74 tahun, yang bernama lengkap Laurentina Sri Kumala –keduanya merupakan dukun/paranormal terkenal– memberikan pengakuan, sejak Juli 2008, klien yang mereka terima kebanyakan dari caleg. Caleg yang mendatangi mereka bukan saja dari partai-partai kecil tapi juga partai besar. (KoranTempo.com, 2009)
Secara teori, tidak ada korelasi (hubungan) antara politik dan dukun. Tetapi karena sudah kalap mata, inilah cara yang mereka anggap jitu menuju kekuasaan. Rakyat memilih atau tidak adalah sebuah pilihan sadar. Kecuali orang-orang bodoh yang mau dibayar untuk kepentingan-kepentingan sesaat caleg dan pemilih yang kurang akal.
Di Bandar Lampung, sejumlah caleg kerap mendatangi puncak Gunung Betung untuk melakukan kegiatan irasional itu. Di gunung tersebut, seorang kuncen (juru kunci, red.) yang ingin disebut Mbah Betung, 65 tahun, mengaku kerap didatangi para caleg pada pemilu ini. Ia mengatakan, “Yang datang cukup banyak. Bahkan ada beberapa caleg dari partai Islam.” (okezone.com)
Di Jakarta Timur misalnya, tepatnya di makam keramat Pangeran Jayakarta yang terletak di Jatinegara Kaum, Pulogadung, hampir setiap malam Jum’at diramaikan peziarah. Yang tak disangka, di antaranya terdapat calon anggota dewan/caleg.
Biasanya caleg tersebut datang tidak sendiri. Mereka datang dengan “guru spiritual”nya dan ajudan. Biasanya sang guru spiritual memimpin caleg untuk membacakan doa bagi Habib Husain. Habib Husain sendiri adalah seorang yang kononnya shalih, meninggal dunia pada 24 Juni 1756. (okezone.com)
Memandang jabatan sebagai sebuah kehormatan bahkan menuhankannya, adalah hal yang menyebabkan terkikisnya nilai-nilai keteladanan serta menunjukkan betapa tidak bertuhannya orang-orang yang katanya akan memimpin negeri ini. Karena semua kepercayaan dan keyakinan di atas adalah syirik dalam agama Islam.
Tapi memang demikianlah potret politik dan para politisi di tanah air kita yang mayoritas penduduknya muslimin. Bermunculannya partai politik atau parpol hanyalah sarana untuk mengejar kekuasaan dan jabatan, tak peduli itu partai “Islam” atau bukan.
Sebuah partai misalnya, sangat bangga dengan nomor urut 8, karena angka 8 adalah angka hoki, angka 8 merata gemuknya. Tidak seperti angka 9 yang gemuknya di atas dan tidak merata. Partai yang katanya bersih, peduli, dan profesional ini ternyata bermain-main di tempat yang kotor dan sangat tidak profesional. Mereka demikian percaya jika angka 8 dapat memberikan kebangkitan pada perolehan suara di Pemilu 2009.
Apakah angka 8 ada rahasianya dalam ajaran Islam? Yang pasti, penting dicatat bahwa dalam budaya Tionghoa (baca: kafir), angka 8 memang diasosiasikan sebagai angka kemakmuran dan keberuntungan yang tiada habisnya, merujuk bentuk angka 8 yang tidak putus. (detik.com)
Luar biasa parah dan buruknya kelakuan para elite politik negeri ini. Mereka rela mengorbankan diri dan agamanya demi memuaskan ambisinya. Tidakkah mereka takut bahwa perbuatan-perbuatannya, seperti mendatangi dukun, menanyakan berbagai hal kepadanya, memercayainya, serta memberikan bayaran kepadanya adalah haram, dosa, bahkan bisa menyeret pada kekufuran.
Sungguh beruntung orang-orang yang mendapatkan taufik, dapat memahami ajaran dan petunjuk dari agama ini.
Allah l berfirman:
“Dan barangsiapa yang tidak diberi cahaya oleh Allah. Maka tidaklah ia mempunyai cahaya sedikit pun.” (An-Nur: 40)

Bayaran Dukun
Berkenaan dengan bayaran yang diberikan kepada para dukun, maka Al-Imam Muslim t dalam kitab Shahihnya meriwayatkan hadits dari Abu Mas’ud Al-Anshari z:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ n نَهَى عَنْ ثَمَنِ الْكَلْبِ وَمَهْرِ الْبَغِيِّ وَحُلْوَانِ الْكَاهِنِ
“Sesungguhnya Rasulullah n melarang keuntungan/uang hasil dari penjualan anjing, upah yang diterima pezina dari hasil zina, serta bayaran bagi dukun.” (HR. Muslim no. 1567 bab Tahrimu Tsamanil Kalbi wa Hulwanil Kahin)
Al-Baghawi dan Al-Qadhi Iyadh rahimahumallah mengatakan, “Kaum muslimin sepakat akan haramnya bayaran (hulwan) yang diberikan kepada dukun atas jasa perdukunannya. Karena hal itu merupakan timbal balik dari perkara yang diharamkan serta termasuk dalam kategori makan harta secara batil.” (Syarah Shahih Muslim jilid 6 hal. 76)
Haramnya memberi bayaran kepada dukun merupakan peringatan yang mengisyaratkan diharamkannya memberi bayaran kepada ahli nujum dan tukang ramal, baik yang menggunakan kartu atau menggunakan batu kerikil, dan sejenisnya. Yaitu mereka yang biasa dimintai informasi tentang masalah-masalah ghaib. Rasulullah n sendiri telah melarang mendatangi para dukun.
Beliau bersabda:
مَنْ أَتَى كَاهِنًا أَوْ عَرَّافًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Barangsiapa mendatangi dukun atau paranormal, lalu membenarkan perkataannya, berarti telah kufur kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad n.”
Al-Imam Al-Khaththabi t berkata, “Bayaran untuk paranormal juga haram.” (Syarah Shahih Muslim, 6/76)
Entah berapa ratus juta atau bahkan mungkin sampai pada miliaran rupiah dana yang dihamburkan para elite politik untuk meraih tempat di parlemen, dari mulai pasang iklan, lobi, suap sana-sini sampai menyerahkan sejumlah uang kepada para dukun.
Nyata, negeri ini dipenuhi dengan para elite politik syirik. Kita memohon kepada Allah agar memberikan hidayah kepada mereka. Islam tidak pernah mengajari model politik yang seperti ini. Politik bukanlah kekuasaan dan jabatan bukanlah segala-galanya.

Tujuan Politik Dalam Islam
Islam adalah agama yang sempurna, hubungannya sangat erat dengan segala sisi kehidupan manusia. Islam hadir bukan hanya sekadar agama atau kepercayaan, tetapi Islam meliputi daulah (negara) dan siyasah (politik).
Untuk itu, politik di dalam Islam memiliki makna yang sangat luhur. Politik bukanlah ambisi mengejar kekuasaan, popularitas, dan jabatan yang semuanya berorientasi kepada dunia. Tujuan utama siyasah (politik) dalam Islam adalah sebagai berikut:
Pertama: menegakkan agama dan mewujudkan peribadatan (ubudiyah) kepada Allah Rabbul ‘alamin.
Ini adalah tujuan yang sangat mendasar, di mana pemerintah dan seluruh jajarannya bertanggung jawab untuk mewujudkannya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t berkata, “Tujuan yang utama dari sebuah pemerintahan adalah memperbaiki kondisi keagamaan seluruh rakyat. Bila mereka mengabaikannya maka akan memperoleh kerugian yang nyata. Kenikmatan yang selama ini mereka rasakan di dunia tidak akan memberi manfaat.” (Majmu’ Al-Fatawa 28/262)
Al-Imam Asy-Syaukani t mengemukakan, “Sesungguhnya yang paling penting dari ditetapkannya para pemimpin negara/wakil-wakil rakyat adalah menegakkan syiar-syiar agama, mengokohkan manusia di atas jalan yang lurus serta mencegah mereka dari berbagai pelanggaran dan pernyelisihan, baik sukarela ataupun terpaksa. Berikutnya, mengayomi kaum muslimin dalam menggapai kemaslahatan dan menghindar dari kemadharatan.”
Allah l berfirman:
“Demikianlah Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana, mewahyukan kepada kamu dan kepada orang-orang yang sebelum kamu.” (Asy-Syura: 3)
Kedua: Menegakkan keadilan.
Dalam hadits riwayat Muslim t, Rasulullah n bersabda:
إِنَّ الْمُقْسِطِينَ عِنْدَ اللَّهِ عَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُورٍ عَنْ يَمِينِ الرَّحْمَنِ عَزَّ وَجَلَّ وَكِلْتَا يَدَيْهِ يَمِينٌ الَّذِينَ يَعْدِلُونَ فِي حُكْمِهِمْ وَأَهْلِيهِمْ وَمَا وَلُوا
“Sesungguhnya para muqsithin (orang-orang yang adil) di sisi Allah, berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya, di kanan Allah k. Dan kedua tangan-Nya Allah kanan. Para muqsithin adalah mereka yang menegakkan keadilan dalam keputusan hukumnya, di tengah-tengah keluarganya dan terhadap siapa yang mereka pimpin.”
Ketiga: memperbaiki kondisi kehidupan manusia.
Yang meliputi perbaikan di bidang ekonomi, sosial, pendidikan, pengetahuan, pertahanan dan keamanan, dan lain-lain. (Fiqh Siyasah Asy-Syar’iyah, hal. 52-55)
Demikianlah dan semoga Allah l memberi taufik kita semua kepada apa yang dicintai dan diridhai-Nya.
Wal ‘ilmu indallah.

Sensasi Dukun dan Perdukunan

(Ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf)

Sebenarnya dukun dan perdukunan bukanlah sesuatu yang baru atau asing dalam sejarah kehidupan manusia. Keberadaannya sudah sangat lama, bahkan sebelum datangnya Islam dan diutusnya Nabi kita Muhammad.
Allah l berfirman:
“Apakah kamu tidak memerhatikan orang-orang yang diberi bagian dari Al-Kitab? Mereka percaya kepada jibt dan thaghut, serta mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Makkah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman.” (An-Nisa’: 51)
Ath-Thabari t menyebutkan dalam Tafsirnya (2/7726), dengan sanadnya sendiri dari Sa’id bin Jubair, bahwa –berkenaan dengan ayat ini– ia mengatakan, yang dinamakan jibt dalam bahasa Habasyah adalah sahir (tukang sihir) sedangkan yang dimaksud dengan thaghut adalah kahin (dukun).
Kala itu, perdukunan benar-benar mendapat tempat di hati banyak orang. Karena mereka meyakini, para dukun mempunyai pengetahuan tentang ilmu ghaib. Orang-orang pun berduyun-duyun mendatanginya, mengadukan segala permasalahan yang dihadapinya untuk kemudian menjalankan petuah-petuahnya.
Al-Imam Muslim t di dalam kitab Shahihnya, bab Tahrimul Kahanah wa Ityanul Kahin, meriwayatkan dari Mu’awiyah bin Al-Hakam As-Sulami z, bahwa ia menceritakan: Aku sampaikan kepada Rasulullah n beberapa hal yang pernah kami lakukan di masa jahiliah, yaitu bahwa kami biasa mendatangi para dukun. Beliau kemudian bersabda:
فَلَا تَأْتُوا الْكُهَّانَ. قَالَ: قُلْتُ: كُنَّا نَتَطَيَّرُ. قَالَ: ذَاكَ شَيْءٌ يَجِدُهُ أَحَدُكُمْ فِي نَفْسِهِ فَلَا يَصُدَّنَّكُمْ
“Jangan sekali-kali kalian mendatangi dukun-dukun itu.” Aku ceritakan lagi kepada beliau, “Kami biasa ber-tathayyur.” Beliau bersabda: “Itu hanyalah sesuatu yang dirasakan oleh seseorang di dalam dirinya. Maka, janganlah sampai hal itu menghalangi kalian.”
Yang diistilahkan dukun itu sendiri adalah orang-orang yang mengabarkan hal-hal yang akan terjadi di kemudian hari, melalui bantuan setan yang mencuri-curi dengan berita dari langit. Maka, dukun adalah orang-orang yang mengaku dirinya mengetahui ilmu ghaib, sesuatu yang tidak tersingkap dalam pengetahuan banyak manusia.
Padahal, di dalam Al-Qur’an disebutkan dengan jelas dan pasti, bahwa hanya Allah l yang mengetahui yang ghaib, adapun selain-Nya tidak.
Allah l berfirman:
Katakanlah: “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah”, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan. (An-Naml: 65)
“(Dia adalah Rabb) Yang mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu.” (Al-Jin: 26)
“Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang ghaib, akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara rasul-rasul-Nya. Karena itu berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Dan jika kamu beriman dan bertakwa, maka bagimu pahala yang besar.” (Ali ‘Imran: 179)
“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (Al-An’am: 59)
Maka katakanlah: “Sesungguhnya yang ghaib itu kepunyaan Allah, sebab itu tunggu (sajalah) olehmu, sesungguhnya aku bersama kamu termasuk orang-orang yang menunggu.” (Yunus: 20)
Al-Qadhi Iyadh t berkata: “Perdukunan yang dikenal di dunia Arab terbagi menjadi tiga jenis:
Pertama: Seseorang mempunyai teman dari kalangan jin, yang memberi tahu kepadanya dari usaha mencuri-curi dengar berita langit. Jenis ini sudah lenyap1 sejak Allah l mengutus Nabi kita n.
Kedua: Setan mengabarkan kepadanya sesuatu yang terjadi di tempat-tempat lain yang tidak bisa diketahuinya secara langsung, baik dekat maupun jauh. Yang demikian tidaklah mustahil keberadaannya.
Ketiga: Ahli nujum. Untuk jenis ini, Allah l menciptakan kekuatan tertentu pada diri sebagian manusia. Akan tetapi, kebohongan di dalamnya biasanya lebih dominan. Di antara jenis ilmu seperti itu, adalah ilmu ramal, pelakunya disebut peramal atau paranormal. Biasanya orangnya mengambil petunjuk dari premis-premis dan sebab-sebab tertentu untuk mengetahui persoalan-persoalan tertentu, serta didukung dengan perdukunan, perbintangan, atau sebab-sebab lain.
Jenis-jenis seperti inilah yang disebut dengan perdukunan. Semuanya itu, dianggap dusta oleh syariat. Syariat juga melarang mendatangi dan membenarkan perkataan mereka.” (Syarh Shahih Muslim, 7/333)

Menjamurnya Dukun Atau Paranormal
Kemajuan peradaban manusia, seringkali diukur dengan kemajuan teknologi dan semakin lepasnya masyarakat dari praktik-praktik berbau tahayul. Namun begitu, di zaman sekarang ini praktik perdukunan justru marak bak cendawan di musim penghujan.
Penting diketahui, sebenarnya praktik perdukunan bukanlah khas masyarakat tribal (kesukuan) dan tradisional yang melambangkan keterbelakangan. Bangsa maju dan modern di Eropa dan Amerika yang mengagungkan rasionalitas juga punya sejarah perdukunan, berwujud santet (witchcraft).
Di Indonesia, praktik perdukunan memiliki akar kuat dalam sejarah bangsa, bahkan dukun dan politik merupakan gejala sosial yang lazim. Kontestasi politik untuk merebut kekuasaan pada zaman kerajaan di Indonesia pramodern selalu ditopang kekuatan magis.
Semuanya ini memberikan gambaran yang nyata, bahwa perdukunan memang sudah dikenal lama oleh masyarakat kita. Dan ilmu ini pun turun-menurun saling diwarisi oleh anak-anak bangsa, hingga saat ini para dukun masih mendapatkan tempat bukan saja di sisi masyarakat tradisional, tetapi juga di tengah lingkungan modern.
Walhasil kini mereka yang pergi ke dukun kemudian percaya pada kekuatan magis dan menjalankan praktik perdukunan tak mengenal status sosial: kelas bawah, menengah bahkan atas. Sensasi para dukun itu mampu melampaui semua tingkat pendidikan. Banyak di antara mereka yang datang ke dukun merupakan representasi orang-orang terpelajar yang berpikiran rasional.
Sebenarnya, dukun atau paranormal tidak ada bedanya, karena itu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t mengemukakan, bahwa paranormal adalah nama lain dari dukun dan ahli nujum (Fathul Majid, hal. 338). Maka, dukun atau paranormal adalah dua nama yang saling terkait, kadang salah satunya menjadi penanda bagi yang lainnya.
Belakangan, di tanah air kita, fenomena perdukunan dan ramalan semakin menggeliat seiring dengan suasana yang kondusif bagi para pelakunya untuk tampil berani tanpa ada beban. Berapa banyak iklan-iklan yang menawarkan jasa meramal cukup via SMS, yang dalam istilah mereka bermakna Supranatural Messages Service. Atau juga, praktik pengobatan alternatif yang sudah menjadi suguhan iklan harian di koran-koran dan tabloid.
Berapa banyak sekarang ini penderita penyakit yang tidak terdeteksi penyakitnya sekalipun telah memanfaatkan kemajuan teknologi kedokteran. Usut punya usut, salah satu penyebabnya adalah karena penyakit tersebut merupakan penyakit “pesanan” yang dikirim oleh para dukun dengan menggunakan kekuatan ghaib bernama setan.

Bahaya Mendatangi Dukun dan Peramal
Al-Imam Bukhari dan Muslim rahimahumallah dalam kitab Shahih keduanya, meriwayatkan hadits dari ‘Aisyah x, bahwa ia berkata: Saya tanyakan kepada Rasulullah n, “Ya Rasulullah, sesungguhnya para dukun itu mengatakan sesuatu kepada kami, dan ternyata apa yang dikatakannya itu benar terjadi.” Beliau kemudian bersabda:
تِلْكَ الْكَلِمَةُ الْحَقُّ يَخْطَفُهَا الْجِنِّيُّ فَيَقْدِفُهَا فِى أُذُنِ وَلِيِّهِ، وَيَزِيْدُ فِيْهَا مِائَةَ كَذْبَةٍ
“Kata yang benar itu disambar oleh jin dan kemudian dibisikkan ke telinga pengikutnya. Tapi setiap satu kata yang benar itu dicampur dengan seratus kebohongan.” (HR. Al-Bukhari no. 5762, Muslim no. 2228)
Dalam riwayat lainnya, yang dikemukakan oleh Al-Imam Muslim t, disebutkan bahwa ‘Aisyah x menceritakan: “Orang-orang bertanya kepada Rasulullah tentang kebenaran para dukun.” Beliau menjawab: “Tidak ada apa-apanya.” Mereka lantas berkata: “Mereka itu (dukun) terkadang mengatakan sesuatu yang kemudian benar-benar terjadi.” Beliau n menjawab:
تِلْكَ الْكَلِمَةُ مِنَ الْجِنِّ يَخْطَفُهَا الْجِنِّيُّ فَيَقُرُّهَا فِى أُذُنِ وَلِيِّهِ قَرَّ الدَّجَاجَةِ فَيَخْلِطُوْنَ فِيْهَا أَكْثَرَ مِنْ مِائَةِ كَذْبَةٍ
“Kalimat itu berasal dari kalangan jin yang disambar oleh salah seorang jin, lalu ia bisikkan ke dalam telinga pengikutnya seperti suara ayam betina, lalu mereka mencampurnya dengan lebih dari seratus kebohongan.”
Rasulullah n juga bersabda:
مَنْ أَتَى كَاهِنًا أَوْ عَرَّافًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُوْلُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ n
“Barangsiapa mendatangi dukun atau tukang ramal, lalu membenarkan perkataannya, berarti itu telah kufur kepada apa yang telah diturunkan kepada Muhammad n.” (HR. Ahmad dalam Musnadnya no. 9541)
Ibnu Atsir t menjelaskan, “Yang dimaksud dengan tukang ramal adalah ahli nujum atau orang pandai yang mengaku mengetahui ilmu ghaib, padahal hanya Allah l yang mengetahui persoalan ghaib. Tukang ramal itu masuk dalam kategori dukun.”
Dalam kitab Shahihnya, Al-Imam Muslim t mengutip hadits dari Nafi’, dari Shafiyyah, dari beberapa istri Nabi n, dari Nabi n beliau bersabda:
مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِيْنَ لَيْلَةً
“Siapa yang mendatangi arraf (tukang ramal) lalu menanyakan sesuatu kepadanya, maka shalatnya tidak akan diterima selama empat puluh malam.”
Al-Imam Nawawi t menjelaskan, “Yang dimaksud dengan tidak diterima shalatnya adalah bahwa shalat yang dilakukannya itu tidak diberi pahala, sekalipun shalat yang dilakukannya itu sudah tentu tetap bisa menggugurkan kewajibannya sehingga tidak perlu diulang kembali. Para ulama sepakat bahwa hal itu tidak berarti menuntut orang yang mendatangi tukang ramal untuk mengulangi shalatnya selama empat puluh hari. Wallahu a‘lam.” (Syarh Shahih Muslim, 7/336)
Bertolak dari dalil-dalil di atas, setidaknya ada dua bahaya yang mengancam orang-orang yang mendatangi dan menanyakan sesuatu kepada dukun atau paranormal:
Pertama, kekafiran, jika meyakini kebenaran dukun dan meyakini tukang ramal itu sebagai orang yang mengetahui hal ghaib.
Kedua, mendekati kekufuran, jika membenarkan berita yang disampaikannya dari hal yang ghaib. Dengan alasan, dukun dan paranormal menyampaikan hal yang ghaib dari informasi jin yang mencuri-curi dengar berita langit.
Hanya kepada Allah l lah kita memohon perlindungan. Semoga Allah l tidak memperbanyak jumlah para pelayan-pelayan setan (dukun), serta membongkar kejahatan mereka.
Wallahul musta’an.

1 Dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama. Ada yang berpendapat sudah lenyap, tidak ada lagi. Ada juga yang berpendapat masih terjadi. Di antara yang menguatkan pendapat kedua dari ulama masa kini adalah Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin dan Asy-Syaikh  Shalih Alu Syaikh. (ed)

Dukun Sahabat Setan

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafrudin)

Perdukunan ada di mana-mana. Dalam tumbuh kembangnya, dunia perdukunan (termasuk paranormal) hadir tak semata di tingkat akar rumput yang rata-rata berpendidikan rendah. Pun tak semata di area yang dihuni rakyat jelata yang miskin, papa dan hidup terbelakang. Dunia perdukunan menyentuh juga manusia yang hidup dalam kawasan elite, prestisius bahkan borjuis. Perdukunan merambah kemana pun. Menyeruak, masuk ke alam kehidupan semua strata dan latar belakang manusia, kecuali orang-orang yang dirahmati-Nya.
Hasil penelitian ilmiah pada masyarakat Bugis-Makasar, diperoleh beragam keahlian sanro (sebuah istilah paling populer untuk dukun). Kelompok sanro pappamole, sanro pabballe, atau sanro tomalasa, yaitu dukun yang ahli mengobati orang sakit atau yang berusaha menyembuhkan penyakit. Sanro puru, dukun yang biasa mengobati orang yang berpenyakit puru atau sarampa (cacar). Sanro pattiro-tiro atau sanro paccini-cini atau sanro patontong, yaitu dukun peramal. Misal, menentukan letak barang yang hilang atau dicuri, menyebutkan pelaku atau ciri-ciri pencurinya, dan sebagainya. Dukun ini suka meramal nasib atau masa depan orang, melihat sifat dan tabiat seseorang meski sang dukun hanya tahu nama orangnya, meramal hari atau waktu yang baik seumpama hendak bepergian atau melakukan hajat tertentu. Sanro sehere (dukun sihir) yang memelihara jin yang bisa disuruh membawa guna-guna dan memasukkannya ke tubuh seseorang.
Di Aceh, terkait masalah kekuatan ghaib ini disebut eleumee. Cara untuk memperoleh eleumee disebut dengan amalan eleumee. Beberapa macam eleumee yang tersebar di sebagian masyarakat Aceh seperti eleumee keubay, yaitu ilmu kebal yang menjadikan kebal terhadap tusukan senjata tajam. Termasuk dalam ilmu kebal ini antara lain eleumee ma’rifat beusoe (ilmu ma’rifat besi), eleumee rante but (ilmu rantai perbuatan). Ada juga eleumee tuba yaitu ilmu untuk membuat racun dan penawarnya. Jenisnya banyak, seperti eleumee kulat yang terkenal berasal dari Lam Teuba, untuk membuat racun dari jamur tertentu. Juga ada yang disebut eleumee burong, ilmu bersahabat dengan makhluk halus. Eleumee pari, di mana burong (burung) yang dipelihara digunakan untuk menjaga tuannya dari serangan ghaib. Adapun eleumee sandrung yaitu ilmu untuk memanggil makhluk halus dan memasukkannya ke dalam tubuh manusia. Ada pula yang disebut eleumee akhirat atau lebih dikenal dengan kramat. Kekuatan kramat bersifat umum, seperti mengobati yang sakit, mengusir setan, melancarkan usaha mencari rezeki, dan pergi shalat Jumat ke Makkah. Kisah tentang ureueng kramat (orang kramat) selalu berkisar di dayah (pesantren) dan alim ulama, karena eleumee ini senantiasa disandingkan dengan nilai-nilai agama. Namun, dalam batas tertentu hal itu menjadi kabur. Karena, seseorang yang menginginkan kedudukan kramat nyatanya menghendaki menjadi orang yang memiliki kesaktian, melakukan amalan yang tidak bersumber pada nilai-nilai agama yang benar, bahkan justru melakukan perbuatan bid’ah. Praktik yang sering dilakukan ureueng kramat maupun yang memiliki eleumee, yaitu dengan memberi ajemmat. Ajemmat adalah secarik kertas yang ditulisi atau digambari huruf Arab. Isinya beragam, ada berupa tulisan kutipan ayat suci, ada pula hanya huruf yang tidak dipahami maknanya. Secarik kertas tersebut lantas disimpan dalam saku, ikat pinggang atau dibakar lantas abunya digosokkan pada badan atau dimasukkan ke air di gelas lalu diminum airnya. Mirip ajemmat, dikenal pula tangkay. Yaitu sebuah benda yang dianggap mempunyai kekuatan yang bersifat melindungi pemiliknya. Benda-benda yang dipakai sebagai tangkay seperti batu akik, daun-daunan, benang warna-warni, dan lain-lain. (Dukun, Mantra dan Kepercayaan Masyarakat, T. Sianipar, Al-Wisol, Munawir Yusuf, hal. 17-19 dan 147-149)
Dalam kehidupan masyarakat Jawa juga tumbuh pemahaman tentang perdukunan. Dukun perewangan, yaitu dukun yang bertindak sebagai mediator dalam masalah mistik. Dukun wiwit, yaitu yang melakukan upacara panen. Dukun temanten, yang mengatur prosesi upacara pengantin agar tidak terganggu. Dukun ramal. Dukun sihir. Dukun susuk, dukun yang menangani peristiwa-peristiwa alam, seperti menahan hujan atau membantu agar barang-barang yang ada tidak hilang dicuri. Masih banyak lagi ragam dukun yang ada dalam kehidupan masyarakat Jawa.
Maka, dari beberapa bentuk aktivitas dukun di atas, ada beberapa kategori yang menjadikan sebagian masyarakat meminta bantuan kepada dukun. Di antaranya, masyarakat datang kepada seorang dukun lantaran terkait masalah kesehatan, penyakit, masalah karir jabatan, masalah ekonomi, bisnis atau sejenisnya, masalah jodoh, hubungan suami istri, dan masalah keselamatan secara umum.
Dukun menurut Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan hafizhahullah, adalah seseorang yang mengaku mengetahui hal-hal ghaib. Seperti, dirinya mengaku mengetahui peristiwa-peristiwa yang akan terjadi di muka bumi ini. Mengaku mengetahui pula tempat barang-barang yang raib. Ini semua bisa dilakukan lantaran sang dukun meminta bantuan para setan yang mencuri dengar (menyadap) berita dari langit. Allah l berfirman:
“Apakah akan Aku beritakan kepadamu, kepada siapa setan-setan itu turun? Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta lagi yang banyak dosa, mereka menghadapkan pendengaran (kepada setan) itu, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang pendusta.” (Asy-Syu’ara: 221-223)
Setan mencuri pendengaran dari pernyataan-pernyataan malaikat, lantas oleh setan perkataan tersebut disampaikan ke telinga dukun. Kemudian sang dukun pun menambahi dengan seratus kedustaan bersama kalimat tersebut. Maka manusia pun membenarkan apa yang dikatakan sang dukun dengan sebab perkataan yang telah didengar setan dari langit. (‘Aqidatut Tauhid, hal. 126)
Adapun menurut Asy-Syaikh Shalih bin Abdul ‘Aziz Alu Asy-Syaikh, hakikat perbuatan dukun adalah dia meminta bantuan kepada jin untuk (mengetahui) berita-berita yang terkait perkara-perkara ghaib pada masa lalu atau masa yang akan datang. Yang tentu saja, perkara yang akan datang ini tidak ada yang mengetahui kecuali hanya Allah Jalla wa ‘Ala. (Syarhu Kitab At-Tauhid, hal. 250)
Nampak keterkaitan antara dukun dengan jin. Praktik dukun yang menggunakan cara-cara magis tidak lepas dari bantuan jin. Rasulullah n pernah ditanya perihal dukun. Aisyah x berkata:
سَأَلَ أُنَاسٌ النَّبِيَّ n عَنِ الْكُهَّانِ فَقَالَ: إِنَّهُمْ لَيْسُوا بِشَيْءٍ. فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، فَإِنَّهُمْ يُحَدِّثُونَ بِالشَّيْءِ يَكُونُ حَقًّا؟ فَقَالَ النَّبِيُّ n: تِلْكَ الْكَلِمَةُ مِنَ الْحَقِّ يَخْطَفُهَا الْجِنِّيُّ فَيُقَرْقِرُهَا فِي أُذُنِ وَلِيِّهِ كَقَرْقَرَةِ الدَّجَّاجَةِ فَيَخْلِطُونَ فِيْهِ أَكْثَرَ مِنْ مِائَةِ كَذْبَةٍ
“Orang-orang bertanya kepada Nabi n perihal dukun. Maka beliau n menjawab, ‘Sungguh mereka itu bukanlah suatu apapun.’ Lantas orang-orang berkata, ‘Mereka (para dukun) itu mengatakan sesuatu bisa jadi benar.’ Maka Nabi n bersabda, ‘Kalimat (perkataan) itu dari yang benar, lantas jin menyambarnya, lalu disampaikan kepada telinga walinya seperti suara ayam berkotek. Tercampurlah di dalamnya dengan seratus lebih kedustaan’.” (HR. Al-Bukhari no. 7561)
Sungguh para dukun mendapat tempat yang leluasa sebelum Islam ada. Akan tetapi, setelah kedatangan Islam penjagaan langit makin diperketat. Jadilah ruang gerak dukun semakin kecil. Allah l mengabarkan terkait keberadaan setan:
“Dan sesungguhnya kami telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api, dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi sekarang barangsiapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya).” (Al-Jin: 8-9)
Allah l berfirman:
“Kecuali setan yang mencuri-curi (berita) yang dapat didengar (dari malaikat) lalu dia dikejar oleh semburan api yang terang.” (Al-Hijr: 18)
Itulah hakikat dukun yang tidak bisa dilepaskan dari keterikatan dengan jin (setan). Sebagaimana disebutkan Asy-Syaikh Shalih bin Abdul ‘Aziz Alu Asy-Syaikh hafizhahullah, bahwa masalah dukun masuk dalam pembahasan Kitabut Tauhid, lantaran dukun meminta pelayanan (bantuan) kepada jin. Sedangkan meminta bantuan pada jin merupakan kekufuran dan termasuk syirik yang paling besar terhadap Allah Jalla wa ‘Ala. Sungguh, meminta bantuan kepada jin dalam beberapa perkara tidaklah akan bisa terjadi kecuali dengan cara taqarrub (mendekatkan diri) kepada jin tersebut dengan sesuatu yang termasuk peribadatan. Bagi para dukun adalah satu kemestian –agar jin membantu menyebutkan perkara-perkara ghaib kepada mereka– melakukan upaya taqarrub kepada jin melalui prosesi peribadatan. Prosesi peribadatan tersebut di antaranya dalam bentuk penyembelihan (hewan), melakukan istighatsah, mengkufuri Allah Jalla wa ‘Ala dengan bentuk perilaku menghinakan mushaf (Al-Qur’an), mencela Allah l, atau melalui perbuatan-perbuatan syirik dan kufur lainnya. (Syarhu Kitabi At-Tauhid, hal. 250-251)
Karenanya tidak mengherankan bila dalam praktik perdukunan, sang dukun minta disediakan ayam dengan warna tertentu, kambing dengan ketentuan tertentu, kemenyan, telur, bunga dengan berbagai rupa, dan lainnya. Semua permintaan tersebut kelak dijadikan sebagai sesaji atau tumbal. Semua perbuatan tersebut merupakan bentuk perbuatan syirik karena termasuk upaya mendekatkan diri (taqarrub) kepada setan sebagai wujud rasa takut mereka. Penyembelihan hewan yang dilakukan merupakan bentuk penyembelihan kepada selain Allah l. Bentuk kurban bagi jin. Padahal Rasulullah n pernah bersabda sebagaimana dalam hadits Ali bin Abi Thalib z:
لَعَنَ اللهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللهِ
“Allah telah melaknat orang yang menyembelih karena selain Allah.” (HR. Muslim no. 4978)
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdillah Al-Imam hafizhahullah memasukkan dukun dalam kategori tukang sihir. Kata beliau, penyihir meliputi tukang ramal, dukun, ‘arraf (orang yang mengaku bisa mengetahui keberadaan barang yang hilang). Kebanyakan dari keempat golongan ini, yaitu penyihir, tukang ramal, dukun, dan ‘arraf adalah orang-orang yang menghambakan diri kepada jin dan para setan mereka. Allah l berfirman:
“Hanya setan-setan itulah yang kafir (mengerjakan sihir).” (Al-Baqarah: 102)
Firman-Nya:
“Apakah akan Aku beritakan kepadamu, kepada siapa setan-setan itu turun? Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta lagi yang banyak dosa, mereka menghadapkan pendengaran (kepada setan) itu, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang pendusta.” (Asy-Syu’ara: 221-223)
Juga firman Allah l:
“Sesungguhnya setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu.” (Al-An’am: 121)
Barangsiapa, dari keempat macam orang tersebut, yang (mengatakan) tidak mendapat berita dari para setan dan jin, maka dia itu dajjal, pendusta yang melakukan praktik sihir dengan cara menyampaikan perkataan dusta, menipu demi meraup harta duniawi. (Irsyadun Nazhir ila Ma’rifati ‘Alamat As-Sahir, hal. 10)
Disebutkan pula bahwa ‘arraf adalah juga dukun. Dua nama namun menunjukkan sesuatu yang satu. Dinyatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t bahwa al-’arraf adalah nama bagi dukun, tukang nujum, dan rammal (orang yang meramal dengan cara memukulkan kerikil dan menggaris di pasir). (Syarhu Kitabit Tauhid, hal. 255-256)
Sebagai agama yang membawa rahmat, Islam melarang keras keberadaan dukun dan praktik perdukunan. Islam melarang seseorang mendatangi dukun. Sebagaimana hadits Mu’awiyah bin Al-Hakam As-Sulami z yang menyatakan, “Wahai Rasulullah, sungguh seorang dari kami mendatangi dukun.” Kata Rasulullah n:
فَلَا تَأْتِهِمْ
“Jangan engkau mendatangi mereka.” (HR. Muslim no.537)
Juga berdasar hadits dari Shafiyyah x, dari sebagian istri Nabi n, dari Nabi n, beliau bersabda:
مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً
“Barangsiapa yang mendatangi dukun, lantas dia bertanya tentang sesuatu kemudian membenarkan apa yang diucapkan dukun tersebut, tidaklah diterima shalatnya selama 40 malam.” (HR. Muslim no. 2231, tanpa lafadz فَصَدَّقَ بِهِ. Tambahan lafadz tersebut tertera dalam hadits yang diriwayatkan Al-Imam Ahmad dalam Musnad-nya, 4/28, 5/380)
Secara zhahir hadits, sekadar bertanya kepada dukun merupakan bakal tidak diterimanya shalat selama 40 malam. Akan tetapi, yang demikian ini tidaklah bersifat mutlak. Perlu ada rincian. Ini sebagaimana dinyatakan As-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin t. Terkait bertanya kepada dukun ini, beliau t merinci menjadi empat bagian:
1. Semata-mata bertanya, maka yang seperti ini haram hukumnya. Berdasarkan sabda Nabi n:
مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً
“Barangsiapa yang mendatangi dukun, lantas dia bertanya tentang sesuatu kemudian membenarkan apa yang diucapkan dukun tersebut, tidaklah diterima shalatnya selama 40 malam.”
Penetapan sanksi atas orang yang bertanya kepada dukun menunjukkan atas keharamannya. Ini berarti bahwa tidaklah ada sanksi kecuali atas perbuatan yang diharamkan.
2. Bertanya lalu membenarkan apa yang dikatakan dukun tersebut. Yang seperti ini menjadikan pelakunya kufur lantaran dia membenarkan dalam perkara yang ghaib dan mendustakan Al-Qur’an, yaitu firman Allah l:
“Katakanlah: ‘Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah’.” (An-Naml: 65)
3. Pertanyaan yang diajukan kepada dukun dalam rangka menguji dukun tersebut, apakah dia seorang yang jujur atau pendusta. Tidak dalam rangka mengambil perkataannya. Yang semisal ini tidak mengapa dan tidak masuk dalam kategori hadits di atas. Nabi n pernah bertanya kepada Ibnu Shayyad:
مَا ذَا خَبَأْتُ لَكَ؟ قَاَلَ: الدُّخُّ. فَقَالَ: اخْسَأْ فَلَنْ تَعْدُوَ قَدْرَكَ
“Apakah yang aku sembunyikan darimu?” Jawab Ibnu Shayyad: “Asap.” Kata Nabi n: “Diamlah. Maka, sekali-kali kamu tidak akan melampaui (apa yang telah Allah l) takdirkan padamu.”
Maka, Nabi n menyembunyikan sesuatu dari Ibnu Shayyad dalam rangka mengujinya. (HR. Al-Bukhari no. 3055)
4. Bertanya dalam rangka menampakkan kelemahan dan kedustaan dukun. Ini diuji dengan perkara-perkara yang akan memperjelas bahwa dia adalah lemah dan dusta. Yang demikian ini dituntut. Bahkan terkadang bisa menjadi wajib hukumnya. Sebab, menunjukkan kebatilan perkataan dukun, tidak diragukan lagi sebagai perkara yang dituntut adanya, bahkan bisa menjadi sesuatu yang wajib. (Al-Qaulul Mufid ‘ala Kitabit Tauhid, hal. 341)

Bagaimana hukum membantu dukun yang menggunakan sihir? Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam hafizhahullah menyatakan bahwa termasuk sebesar-besar dosa yang paling besar adalah melakukan tolong-menolong dengan tukang sihir. Allah l berfirman:
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.” (Al-Ma’idah: 2)
Firman-Nya:
“Dan janganlah kamu berdebat (untuk membela) orang-orang yang mengkhianati dirinya. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat lagi bergelimang dosa, mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah, padahal Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang Allah tidak ridhai. Dan adalah Allah Maha meliputi (ilmu-Nya) terhadap apa yang mereka kerjakan. Beginilah kamu, kamu sekalian adalah orang-orang yang berdebat untuk (membela) mereka dalam kehidupan dunia ini. Maka siapakah yang akan mendebat Allah untuk (membela) mereka pada hari kiamat? Atau siapakah yang jadi pelindung mereka (terhadap siksa Allah)?” (An-Nisa’: 107-109)
Rasulullah n bersabda:
لَعَنَ اللهُ مَنْ لَعَنَ وَالِدَيْهِ، وَلَعَنَ اللهُ مَنْ آوَى مُحْدِثًا
“Allah melaknat orang yang melaknat kedua orangtuanya, dan Allah melaknat terhadap orang yang melindungi orang yang jahat (kriminal).” (HR. Muslim no. 1978, dari Ali bin Abi Thalib z)
Kata Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam hafizhahullah, termasuk memberi perlindungan kepada pelaku bid’ah atau kriminal, yaitu membiarkan ia tinggal bersama keluarganya, atau tinggal di kampungnya, di kotanya, atau di perkampungan muslim. Termasuk pula memberi perlindungan kepada pelaku sihir adalah dengan mereka dipungut uang lalu dilepaskan bebas. Sehingga dia bisa melangsungkan tindak kriminal. Tidak ada upaya untuk menjebloskannya ke penjara hingga nampak sikap penyesalan dan taubat pada diri dukun atau tukang sihir ini. Tentunya, dengan taubat yang sebenarnya. Akan tetapi, kenyataan yang ada justru dia diberi tempat untuk menyembunyikan dirinya.
Karenanya, Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam menasihatkan, hendaknya wajib atas negara muslim untuk menegakkan hukum kepada para tukang sihir (termasuk dukun, tukang ramal, dan lainnya, pen.) jika mereka belum menampakkan taubat yang sebenar-benarnya. Jika tukang sihir tersebut telah kafir maka dia dibunuh karena telah murtad dari Islam. Jika dia belum kafir, hanya melakukan salah satu dosa terbesar dari dosa-dosa yang paling besar, maka dihukum ta’zir (hukuman yang bukan had, tidak ditentukan kadarnya oleh syariat). Lain halnya bila dia ternyata telah membunuh seseorang dengan sihirnya, maka dia dihukum mati. Hendaknya pula masyarakat bahu-membahu, saling menolong dengan pihak pemerintah dalam hal tersebut. Menegakkan hukum terhadap pelaku sihir termasuk sebesar-besar upaya untuk melindungi masyarakat muslimin dari hal-hal yang menyebabkan kekufuran dan kesyirikan. (Irsyadun Nazhir ila Ma’rifati ‘Alamat As-Sahir, hal. 83 dan 94)
Adapun kepada tukang sihir, dukun, tukang nujum, dan lainnya, hendaklah bertaubat kepada Allah l dengan sebenar-benarnya, dengan menunaikan perintah Allah l Yang Maha Esa dan Maha Kuasa. Allah l berfirman:
“Katakanlah: ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Rabbmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi). Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Rabbmu sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya’.” (Az-Zumar: 53-55)
Maka, bagi orang yang memerhatikan ayat-ayat Al-Qur’an, dia akan melihat bahwa Allah l telah menjanjikan maghfirah (ampunan) dan rahmah bagi hamba-hamba-Nya. (Irsyadun Nazhir, hal. 103)
Wallahu a’lam.

Surat Pembaca edisi 52

Adakah Zakat Rumah dan Mobil?
Bismillah. Apakah rumah yang kita tinggali dan mobil yang kita pakai sehari-hari, wajib kita zakati?
0818027xxxxx

Mobil dan rumah tidak termasuk harta yang dikenai zakat. Pembahasan tentang harta apa saja yang dikenai zakat bisa pembaca kaji di edisi 54, insya Allah.


Bahasan tentang Lisan
Bismillah, harap dibahas kewajiban menjaga lisan, macam-macam dosa lisan dan dampak buruk tidak menjaga lisan, barakallahu fikum.
0852271xxxxx

Bahasan tentang lisan bisa dilihat dalam rubrik Akhlak edisi ini, silakan disimak. Semoga apa yang diuraikan dalam rubrik tersebut bisa memenuhi apa yang diharapkan. Jazakumullahu khairan.


SHI Dibukukan
Dalam setiap pembahasan di rubrik Seputar Hukum Islam, ana selalu terkesan karena pembahasannya yang lengkap, mendalam, dan luas. Apalagi ana sangat suka dengan pembahasan seputar ibadah shalat. Akan tetapi ana sering ketinggalan edisi sehingga pembahasan seputar shalat yang ana dapat dari Asy Syariah terpotong-potong. Karena itu ana berharap redaksi berkenan membukukan pembahasan ibadah shalat dan ibadah-ibadah yang terkait dengannya dalam satu buku.
Karena menurut ana pembahasan Asy Syariah paling lengkap. Dan selama ini ana belum pernah menemukan buku yang membahas shalat secara tuntas, pasti ada yg kelewatan tidak terbahas. Apalagi ana selalu takut dengan ucapan Nabi, “Amal yang pertama kali dihisab di hari kiamat dari seorang hamba adalah shalatnya. Bila shalatnya baik, baik pula seluruh amalnya. Dan bila shalatnya buruk maka buruk pula seluruh amalnya.” (Ash-Shahihah: 1358)
Brilly-Lamongan

Kami berupaya semaksimal mungkin untuk menyuguhkan setiap materi selengkap-selengkapnya sehingga tidak menyisakan pertanyaan di benak pembaca atau sebisa mungkin, dengan izin Allah l, kajian kami bisa menjadi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang banyak muncul di tengah masyarakat. Namun demikian, keterbatasan kami sebagai manusia tetaplah selalu ada. Hal-hal yang masih terlewat, ketidakjelasan bagi sebagian pembaca, dan kekurangan-kekurangan lainnya, menjadi “pekerjaan rumah” yang harus kami benahi.
Tentang usulan antum, kami memang telah berencana membukukan rubrik-rubrik tertentu yang memang layak dan perlu untuk dibukukan. Jazakumullahu khairan.

Terbit Dua Kali Sebulan
Sebagai majalah Khazanah Ilmu-ilmu Islam sangat disayangkan hanya terbit sekali dalam sebulan, bagaimana jika terbit dua kali dalam sebulan.
Dasno Mu’tanin-Purwokerto
0852911xxxxx

Banyak masukan serupa yang kami terima. Namun mohon maaf untuk sementara kami belum mampu memenuhi usulan anda. Jazakumullahu khairan.

Bundel Beda dengan Aslinya?
Di Majalah Syariah edisi 4 ada rubrik Seputar Hukum Islam dengan judul Adab Membuang Hajat. Kok di bundel tidak ada?
Abil ‘Izz – Kotamobagu
085256xxxxxx

Anda benar, seharusnya ada. Karena ada kesalahan teknis sehingga tidak termuat. Insya Allah akan disisipkan pada bundel Asy-Syariah edisi 1-6.
Jazakumullah khairan.

Berantas Perdukunan!

Di zaman yang (katanya) kian maju ini, banyak orang yang justru kian mudah dibodohi. Laris manisnya praktik perdukunan, adalah contoh nyata yang terpapar di depan kita. Karir sukses, gampang jodoh, lancar usaha, harmonis dalam rumah tangga, kaya mendadak hingga popularitas adalah segelintir jualan dukun yang mampu membenamkan akal sehat masyarakat.
Kasus penipuan yang melibatkan para dukun baik berupa “penggandaan” uang, pencabulan berkedok ritual pengobatan, pembunuhan pasien melalui “ramuan” mematikan, dan lain sebagainya, senyatanya tak membuat masyarakat jera. Dukun berikut produk-produknya masih demikian diminati masyarakat hingga kini.
Bahkan, demam perdukunan tak hanya menimpa masyarakat kelas bawah. Namun juga diderita masyarakat strata atas yang konon katanya mengenyam pendidikan tinggi. Tak sedikit dari selebritas, elite politik, para pesohor dan kalangan atas lainnya, yang lekat dengan praktik serta produk perdukunan. Yang masih hangat, budaya klenik pun turut meramaikan bursa pencalegan.
Demi meraup ambisinya, para elite ini biasanya siap melakoni apapun titah sang dukun. Berendam di pemandian “wingit”, laku tirakat pada malam tertentu, bahkan jika perlu mengorbankan anggota keluarganya sebagai tumbal. Tak heran jika “ilmu” dan produk supranatural seperti “ilmu” hikmah, terawangan, asmak, pengasih, pesugihan, perisai ghaib, tanaga dalam, keris bertuah, dan jimat lainnya, yang dijual para dukun dengan mahar (baca: harga) ratusan ribu hingga puluhan juta rupiah laris-manis diserbu orang-orang yang telah kehilangan akal sehatnya ini.
Ironisnya, berjejal pembenaran terhadap praktik tersebut tak henti diembuskan ke tengah masyarakat. Dari yang klasik, “bahwa ini adalah ikhtiar”, hingga mengaburkan makna dukun dan kesyirikan, kuat diresap oleh masyarakat yang memang akidahnya masih perlu diluruskan. Masih banyak masyarakat yang tertipu dengan “kostum” yang dipakai para dukun. Juga silau dengan julukan kyai, ustadz, gus, habib, bahkan syaikh sekalipun. Demikian juga istilah paranormal, supranaturalis, ahli metafisika, spiritualis, pakar bioenergi, penghusada, atau yang semacamnya.
Agar kian samar dan tidak terkesan primitif, upaya pembodohan yang dilakukan para dukun ini pun menggunakan peranti teknologi. Hanya dengan mengetik SMS, orang bisa minta diramal. Hanya dengan telepon, orang bisa melakukan “pengobatan” jarak jauh. Juga apa yang mereka istilahkan “ilmu metafisika modern” seperti hipnotis, telepati, astral, quantum, dan lain sebagainya. Serta beragam istilah yang terlihat ilmiah seperti aura, ion-ion tubuh, daya medan magnetis, energi supranatural, bioenergi, kosmik, prana, dan sebagainya.
Padahal diakui atau tidak, “ilmu” supranatural yang mereka peroleh didapatkan dengan cara memuja bahkan bersekutu dengan jin atau setan, suatu hal yang telah jelas larangannya dalam syariat Islam. Si dukun sendiri, biasanya akan membantah keras kalau metodenya disebut klenik apalagi syirik. Untuk menipu masyarakat, mereka umumnya mengaku sebagai supranaturalis agamis bukan supranaturalis magis, menggunakan jin putih bukan jin hitam, jalan kanan bukan jalan kiri, membawa-bawa nama Allah l, dan berbagai kibulan lainnya.
Kuatnya budaya klenik atau perdukunan ini tentu menjadi tantangan para dai dan pemimpin umat untuk menguburnya. Keberhasilan praktik pemurtadan berkedok pengobatan dari “tuhan” oleh para penginjil Nasrani tentu tak lepas dari budaya ini.
Maka, perdukunan yang merambah kalangan elite sepatutnya dijadikan cermin bagaimana gambaran sesungguhnya akidah masyarakat hingga di tingkat akar rumput. Nyata, bahwa akidah umat ini masih harus diluruskan. Nyata, bahwa perbaikan akidah umat menjadi suatu hal yang tak bisa diulur dan ditawar. Jangan sibukkan umat dengan contreng-menyontreng, jangan pula sibukkan umat dengan mimpi khilafah jika fondasi umat masih demikian rapuh. Tak ada kata lain, kibarkan dakwah tauhid, mari berantas perdukunan di tengah umat!

Keberuntungan dan Kebahagiaan

Siapa gerangan yang tak hendak mendapatkan untung? Siapa pula yang tak ingin meraih bahagia? Semua orang tentu mendambakan keberuntungan sekaligus kebahagiaan. Namun banyak orang menyangka keberuntungan dan kebahagiaan itu dapat diraih bila seseorang berhasil mendapatkan dunia berupa harta, pangkat, jabatan, dan kedudukan. Karena pandangan seperti itu, mereka pun menghabiskan waktu, umur, dan tenaga mereka guna meraih apa yang menurut mereka sebagai sebab  (faktor) keberuntungan dan kebahagiaan. Padahal, sungguh mereka telah salah dan tidaklah mereka di atas petunjuk. Lihatlah Qarun yang hidup di zaman Nabi Musa q, Allah l memberikan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya saja harus dipikul oleh sekelompok lelaki yang kuat. Namun apa akhirnya kisahnya? Karena kedurhakaannya, ia ditenggelamkan ke dalam bumi bersama hartanya, sebagaimana Allah l kabarkan dalam Al-Qur’an:
“Kami pun membenamkan Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi, maka tidak ada suatu golongan pun yang menolongnya selain  Allah (dari azab-Nya).” (Al-Qashash: 81)
Sampai pula kabar kepada kita tentang Fir‘aun si durjana yang binasa dengan kerajaan dan kekuasaannya. Demikian pula umat-umat terdahulu yang memiliki kekuatan hebat dan kekuasaan yang besar, namun ingkar kepada Rabb semesta alam.
“Apakah kamu tidak memerhatikan bagaimana Rabbmu telah berbuat terhadap kaum ‘Ad, (yaitu) penduduk Iram yang memiliki bangunan-bangunan yang tinggi, yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu di negeri-negeri lain. Dan kaum Tsamud yang memotong batu-batu besar di lembah. Dan kaum Fir’aun yang mempunyai tentara yang banyak, yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri, lalu mereka berbuat banyak kerusakan dalam negeri itu. Oleh sebab itulah Rabbmu menimpakan kepada mereka cemeti azab. Sesungguhnya Rabbmu benar-benar mengawasi.” (Al-Fajr: 6-14)
Lalu, apakah kemajuan teknologi dalam berbagai bidang yang di zaman ini dikuasai oleh orang-orang kafir merupakan sebab keberuntungan dan kebahagiaan mereka? Sekali-kali tidak!
Ketahuilah wahai saudariku, bila iman tidak menjadi pegangan dan akidah yang shahihah tidak menjadi landasan, akan rusak binasalah dunia dan jadilah seluruh amalan tiada berfaedah. Allah l berfirman mengabarkan tentang amalan orang-orang kafir:
“Dan amal-amal orang-orang kafir adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu, dia tidak mendapati apa-apa….” (An-Nur: 39)
“Permisalan amalan-amalan orang-orang yang kafir kepada Rabb mereka adalah seperti abu yang ditiup angin dengan keras pada suatu hari yang berangin kencang. Mereka tidak dapat mengambil manfaat sedikit pun dari apa yang telah mereka usahakan di dunia. Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh.” (Ibrahim: 18)
Kehidupan orang kafir di dunia ini –dengan segenap harta yang ada pada mereka berikut kekuasaan, kekuatan, dan teknologi– Allah l namakan dengan perhiasan sementara, yang akan berakhir dengan kerugian dan api neraka.
“Janganlah sekali-kali kamu teperdaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri. Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka adalah Jahannam dan Jahannam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya.” (Ali ‘Imran: 196-197)
Sebagian kaum muslimin yang lemah imannya teperdaya manakala melihat orang-orang kafir diberi keluasan dan kelapangan dalam kehidupan dunia. Akibatnya ia kagum dan mengagungkan mereka di dalam hatinya. Sebaliknya, bila ia melihat kelemahan yang menimpa kaum muslimin dan terbelakangnya kehidupan mereka, ia menyangka semua itu gara-gara Islam. Islam berikut pemeluknya pun jadi hina di dalam jiwanya.
Ketahuilah, kebangkrutan dan kerugian orang kafir di dunia dan di akhirat merupakan suatu kemestian, karena mereka telah kehilangan penegak keberuntungan dan kebahagiaan. Di antara yang paling inti adalah iman kepada Allah l dan hari akhir. Keberuntungan hanyalah bagi orang-orang beriman dan bertakwa, sebagaimana firman Allah l:
“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang tidak berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak wanita yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa yang mencari di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat yang dipikulnya dan janjinya, dan orang-orang yang menjaga shalat mereka. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yaitu) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.” (Al-Mu’minun: 1-11)
“Alif laam miim. Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa. (Yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugrahkan kepada mereka, dan mereka yang beriman kepada Al-Qur’an yang telah diturunkan kepadamu dan beriman kepada kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya kehidupan akhirat. Mereka itulah yang tetap beroleh petunjuk dari Rabb mereka dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Al-Baqarah: 1-5)
Sebab-sebab keberuntungan yang bisa kita sebutkan di sini di antaranya:
• Bertaubat dari dosa-dosa, beriman kepada Allah l dan beramal shalih. Allah l berfirman:
“Adapun orang yang bertaubat dan beriman serta mengerjakan amal shalih maka semoga ia termasuk orang-orang yang beruntung.” (Al-Qashash: 67)
• Terus-menerus berzikir kepada Allah l sebagaimana firman-Nya:
“Berzikirlah kalian kepada Allah dengan sebanyak-banyaknya agar kalian beruntung.” (Al-Anfal: 45)
• Menghiasi diri dengan sifat-sifat terpuji dan menjauh dari sifat-sifat tercela. Allah l berfirman:
“Berinfaklah dengan infak yang baik untuk diri kalian. Barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (At-Taghabun: 16)
Dalam surah yang lain, Allah l berfirman:
“Sungguh beruntung orang yang menyucikan dirinya. Dia ingat nama Rabbnya kemudian ia mengerjakan shalat.” (Al-A’la: 14-15)
Demikianlah wahai saudariku… Akan datang suatu hari kelak di mana tampak bagi seluruh manusia siapa yang beruntung dan siapa yang merugi. Hari yang pasti itu adalah hari ditimbangnya seluruh amalan. Allah l berfirman:
“Timbangan pada hari itu ialah kebenaran. Maka barangsiapa berat timbangan kebaikannya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan siapa yang ringan timbangan kebaikannya maka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, disebabkan mereka selalu berlaku zalim terhadap ayat-ayat Kami.” (Al-A’raf: 8-9)
Sebelum datang hari itu, masih terbuka kesempatan bagi kita. Selama hayat masih dikandung badan, (masih ada kesempatan) untuk berbenah diri sehingga kita mengatur amalan kita, memperbaiki apa yang rusak dari amalan kita dan memperbanyak amal kebaikan agar berat dalam timbangan pada hari kiamat kelak. Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.
(Disarikan dari Al-Khuthab Al-Minbariyyah fil Munasabat Al-’Ashriyyah, Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan, 2/183-186)

Menunda Mandi Setelah Suci dari Haid

Apakah seorang wanita yang telah berhenti darah haidnya setelah tiga hari dan mandi suci ia terhitung telah suci? Karena sebagian wanita yang darahnya telah berhenti keluar namun tidak segera mandi dan tidak mengerjakan shalat sampai berlalu sepuluh hari.

Jawab:
Al-Imam Al-Muhaddits Muqbil ibnu Hadi Al-Wadi’i, semoga Allah l merahmati beliau, menjawab, “Bila darah haid telah berhenti dalam waktu tiga hari, kurang ataupun lebih, wajib bagi si wanita untuk mandi dan mengerjakan shalat bila telah masuk waktunya, serta diperkenankan bagi suaminya untuk men-datangi  -nya berdasarkan firman Allah l:
“Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah, ‘Haid itu adalah kotoran’. Oleh karena itu kalian harus menjauhkan diri dari istri-istri kalian di waktu haidnya (tidak melakukan jima’ pada kemaluan) dan janganlah kalian mendekati (menggauli) mereka sampai mereka suci dengan mandi. Apabila mereka telah suci dengan mandi maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepada kalian (pada qubul). Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan dirinya.” (Al-Baqarah: 222)
Tidak diperbolehkan si wanita menunda mandinya setelah darah haidnya berhenti (selesai masa haid). Bila ia tidak mendapatkan air untuk mandi suci atau ia tidak mampu menggunakan air, maka diperkenankan baginya bertayammum sampai ia mendapatkan air atau mampu menggunakan air, serta wajib baginya mengerjakan shalat dengan tayammum tersebut serta diperkenankan bagi suaminya untuk men-”datangi”-­nya. Wallahu a’lam. (Ijabatus Sa’il ‘ala Ahammil Masa’il, hal. 703)

Sterilisasi

Apa pendapat anda terhadap seorang suami yang menyetujui dilakukannya sterilisasi atau semacamnya terhadap istrinya di rumah sakit guna mencegah kehamilan?

Jawab:
Al-Imam Al-Muhaddits Muqbil ibnu Hadi Al-Wadi’i –semoga Allah l merahmati beliau– menjawab, “Hal itu tidak dibolehkan, karena Rasulullah n bersabda:
تَناَكَحُوا تَكاَثَرُوا فَإِنِّي مُبَاهٍ بِكُمُ الْأُمَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Menikahlah kalian dan perbanyaklah keturunan kalian, karena sesungguhnya aku berbangga-bangga dengan banyaknya kalian di hadapan umat-umat yang lain pada hari kiamat kelak.”
Nabi n pernah berdoa kepada Allah l untuk sahabat beliau Anas bin Malik z agar Allah l membanyakkan harta serta anak keturunan Anas.
Disamping itu semua, seseorang terkadang berhadapan dengan takdir Allah l.1
Bila mau tidak mau harus menunda kehamilan istri maka di sana ada satu perkara yaitu permasalahan ‘azal2. Dibolehkan bagi seorang suami menggauli istrinya dengan melakukan ‘azal. Adapun obat-obatan, mengangkat rahim, atau perkara yang lainnya, tidaklah diperbolehkan.
Kemudian, di balik semua ini perlu kita sadari bahwa musuh-musuh Islam menghias-hiasi di hadapan kita perbuatan yang menyelisihi agama kita. Seandainya mereka mampu untuk menghasut manusia, niscaya mereka akan melakukannya. Bahkan mereka telah berupaya melakukannya. Sekarang saya bertanya kepada anda semua, wahai sekalian saudaraku. Ada orang di zaman ini memiliki sepuluh anak. Lalu apakah kalian lihat Allah l menyia-nyiakan dan menelantarkannya, atau malah Allah l membukakan rezeki untuknya dari arah yang tidak diduganya?
Jika seseorang tidak menghendaki istrinya hamil karena alasan dunia, takut tidak bisa memberi makan atau menghidupi si anak, maka sungguh ia telah salah. Karena Rabbul Izzah berfirman dalam kitab-Nya yang mulia:
“Tidak ada satu makhluk melata pun di muka bumi melainkan hanya Allah lah yang menanggung rezekinya.” (Hud: 6)
Juga firman-Nya:
“Berapa banyak hewan yang tidak dapat membawa/mengurus rezekinya sendiri, Allah lah yang memberikan rezeki kepadanya dan kepada kalian.” (Al-’Ankabut: 60)
Bila alasannya karena mengkhawatirkan mudarat dapat menimpa si istri bila ia mengandung, maka suami dapat melakukan ‘azal. Adapun memakai cara-cara yang datang atau berasal dari musuh-musuh Islam, baik berupa obat-obatan pencegah kehamilan atau selainnya, maka ini tidak kami sarankan. ‘Azal itu makruh akan tetapi Rasulullah n mengizinkan sahabatnya untuk melakukannya ketika mereka meminta perkenan beliau. Beliau n bersabda:
مَا مِنْ نَسْمَةٍ إِلاَّ وَهُوَ خَالِقُهَا إِلاَّ وَهِيَ كَائِنَةٌ
“Tidak ada satu jiwa pun melainkan Allah yang menciptakannya. Bila Allah menghendaki menciptakannya niscaya jiwa tersebut akan terwujud.”
Jabir bin Abdillah c menyatakan:
كُنَّا نَعْزِلُ وَالْقُرْآنُ يَنْزِلُ
“Kami dulunya melakukan ‘azal sementara Al-Qur’an masih turun (wahyu belum terputus, pen.).”
Maka Nabi n memberikan rukhshah/keringanan untuk melakukan ‘azal. Walhamdulillahi Rabbil Alamin.” (Ijabatus Sa’il ‘ala Ahammil Masa’il, hal. 467-468)



Tidak Sama Lelaki dengan Wanita

(Khutbah Fadhilatusy Syaikh Shalih Al-Fauzan)

Secara fitrah, wanita jelas berbeda dengan pria. Namun dengan mengatasnamakan “hak wanita”, sejumlah pihak nyaring mengampanyekan kesetaraan pria dan wanita. Tatanan yang telah selaras fitrah pun hendak dikoyak, yang sejatinya kehormatan wanitalah yang tengah mereka rusak. Padahal telah diketahui, kerusakan wanita berimbas pada kerusakan masyarakatnya.
Betapa nikmatnya mendulang ilmu dari pewaris para nabi. Walaupun hasrat untuk duduk bersimpuh di majelis mereka yang penuh berkah belum jua terpenuhi, namun ilmu mereka, walhamdulillah, dapat kita peroleh lewat tulisan-tulisan mereka dan rekaman suara mereka yang tersebar luas sampai ke nusantara ini. Sungguh dari penyampaian mereka, ahlul ilmi ulama rabbani, kita dapati kecukupan daripada harus menyusun sendiri dengan kalam kita. Satu dari alim rabbani tersebut, Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan –semoga Allah l menjaga beliau dan mengokohkan beliau di atas agama-Nya– pernah menyampaikan khutbah yang berisi bantahan terhadap orang yang ingin menyejajarkan kaum wanita dengan kaum lelaki. Sungguh, permasalahan ini tidak akan pernah basi untuk disampaikan kepada umat. Terlebih di zaman ini, di mana orang-orang yang tidak berakal dan bodoh berteriak-teriak menuntut persamaan gender, padahal ini sesuatu yang mustahil. Bahkan Al-Qur’anul Karim sebagai pedoman hidup kita telah menegaskan:
“Dan tidaklah lelaki itu sama dengan wanita….” (Ali ‘Imran: 36)
Asy-Syaikh yang mulia –semoga Allah l menjaga beliau– berkata dalam khutbahnya:
“Segala puji bagi Allah l yang telah menciptakan sepasang insan, lelaki dan wanita, dari setetes mani yang dipancarkan. Allah l bedakan keduanya dalam penciptaan, maka lelaki tidak mungkin sama dengan wanita. Aku menyanjung Allah l atas nikmat-Nya yang tiada terhitung. Aku bersaksi bahwa laa ilaaha illallah wahdahu, tiada sekutu bagi-Nya dalam rububiyah-Nya, uluhiyah, dan nama-nama-Nya yang husna. Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya. Allah l perjalankan beliau pada malam hari, dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha, untuk memperlihatkan kepada beliau tanda-tanda kekuasaan-Nya yang sangat besar. Shalawat dan salam semoga tercurah untuk beliau, keluarga dan para sahabat beliau.
Amma ba’du. Wahai sekalian manusia, bertakwalah kalian kepada Allah l.
Allah l berfirman:
“Wahai sekalian manusia, bertakwalah kalian kepada Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dari jiwa yang satu dan dari jiwa yang satu itu Dia ciptakan pasangannya. Dan dari keduanya, Allah mengembangbiakkan lelaki dan wanita yang banyak. Bertakwalah kalian kepada Allah yang dengan mempergunakan nama-Nya kalian saling meminta satu sama lain dan peliharalah hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kalian.” (An-Nisa’: 1)
Nabi n bersabda:
وَاسْتَوْصُوْا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا
“Terimalah wasiat untuk berbuat kebaikan terhadap para wanita.”1
Beliau n juga bersabda:
مَا تَرَكْتُ بَعْدِيْ فِتْنَةً أَضَرُّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ
“Tidaklah aku tinggalkan setelahku fitnah (ujian) yang lebih berbahaya bagi kaum lelaki daripada fitnah (ujian) wanita.”2
Bertakwalah kalian kepada Allah l, wahai kaum muslimin, dalam urusan wanita-wanita kalian. Laksanakan wasiat Allah l dan wasiat Nabi-Nya dalam perkara mereka. Jagalah mereka dengan menutupi mereka, karena sungguh Allah l telah menjadikan kalian sebagai pemimpin atas mereka. Wanita itu kurang dari sisi fisiknya dibanding lelaki dan secara tabiat mereka lemah, sehingga mereka butuh pemimpin yang dapat membimbing mereka. Akal yang lurus yang bisa mengetahui hikmah dan rahasia-rahasia akan memutuskan bahwa makhluk yang kurang fisiknya lagi lemah tabiatnya harus berada di bawah pengaturan makhluk yang sempurna fisiknya dan kuat dalam tabiat. Dengan begitu, yang kurang lagi lemah tadi dapat beroleh manfaat yang semula tak dapat diperolehnya dengan sendirinya dan mudarat pun dapat terhindarkan. Lelaki diharuskan memberikan infak kepada para wanitanya, disamping mengurusi keperluan mereka dalam kehidupan ini. Sehingga si wanita dapat terjaga dalam rumahnya, mencurahkan waktunya untuk mendidik anak-anaknya serta mengatur urusan rumahnya.
Masing-masing dari lelaki dan wanita memiliki lingkup pekerjaan yang sesuai dengan fisik mereka. Lelaki bekerja di luar rumah sementara wanita memiliki tugas di dalam rumah. Dengan seperti ini, akan sempurnalah kerjasama di antara mereka dalam kehidupan ini.
Karena Allah l telah membedakan fisik lelaki dan wanita, di mana masing-masingnya memiliki fisik yang sesuai dan cocok dengan tanggung jawabnya dalam kehidupan ini, maka datang larangan yang tegas dari perbuatan tasyabbuh (meniru/menyerupai) salah satunya terhadap yang lain. Dalam Shahih Al-Bukhari dari Ibnu ‘Abbas c, ia berkata:
لَعَنَ رَسُولُ اللهِ n الْمُتَشَبِّهيْنَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجاَلِ
“Rasulullah n melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki.”
Sementara dimaklumi bahwa orang yang dilaknat oleh Rasulullah n berarti ia terlaknat dalam Kitabullah. Karena Allah l berfirman:
“Apa yang didatangkan oleh Rasul kepada kalian maka ambillah dan apa yang dilarangnya maka berhentilah. Bertakwalah kalian kepada Allah, sesungguhnya Allah amat pedih hukuman-Nya.” (Al-Hasyr: 7)
Oleh karena itu, tidak boleh lelaki menyerupai wanita dalam perkara yang merupakan kekhususan wanita. Demikian pula sebaliknya. Lelaki yang meniru wanita dalam sifat dan kelembutannya, serta wanita yang menyerupai lelaki dalam pekerjaannya, berarti masing-masingnya telah berupaya mengubah ciptaan Allah l, dan masing-masingnya terlaknat lewat lisan Rasulullah n dan dilaknat dalam Kitabullah.
“Siapa yang dilaknat oleh Allah maka kamu sekali-kali tidak akan mendapatkan penolong baginya.” (An-Nisa’: 52)
Wahai kaum muslimin! Pada hari ini, di kalangan kita ada suatu kaum yang mereka itu dari kulit kita dan berbicara dengan bahasa kita. Mereka menyerukan persamaan wanita dengan lelaki dalam hal pekerjaan agar wanita duduk bersisian dengan lelaki di kantor dan tempat niaga. Agar wanita berserikat dengan kaum lelaki dalam mendirikan organisasi-organisasi dan muktamar-muktamar. Agar wanita tampil di depan kaum lelaki guna menyampaikan ceramah-ceramah. Terus-menerus di surat kabar kita pada hari ini, kita baca seruan yang berulang-ulang yang terlontar dari mulut-mulut sial lagi beracun, yang ditulis oleh tangan-tangan yang jahat, yang ingin meruntuhkan kemuliaan dan kehormatan wanita serta membuang perintah-perintah Allah l dan Rasul-Nya yang ingin menjaga kaum wanita. Sungguh suara-suara yang jelek dan propaganda yang beracun itu menginginkan agar wanita muslimah sama dengan wanita kafir, yang biasa keluar untuk bekerja bersisian bersama lelaki ajnabi (non-mahram) dalam keadaan si wanita terbuka kepala dan wajahnya, tersingkap dua betisnya, dan dua lengan bawahnya. Bahkan lebih jauh dari itu, terbuka dua pahanya dan lengan atasnya.
Mereka ini meneriakkan ucapan, “Separuh dari masyarakat ini menganggur. Kami menginginkan agar semua individu masyarakat ini bekerja.”
Dengan ucapan di atas seakan-akan mereka memberikan gambaran bahwa wanita dalam masyarakat Islam terhitung barang yang tidak bernilai atau kayu yang disandarkan tanpa ada manfaatnya. Mata mereka buta untuk memandang bahwa tugas yang diemban wanita dalam rumahnya adalah pekerjaan yang mulia, sesuai dengan fisiknya serta selaras dengan tabiatnya. Karena, Allah l dengan hikmah-Nya menjadikan wanita dengan sifatnya yang khusus pantas atau sesuai untuk ikut andil dalam membangun masyarakat manusia dengan menunaikan suatu pekerjaan/tugas yang tidak dapat diemban oleh selain wanita, seperti mengandung, melahirkan dan menyusui, mendidik anak, mengurusi rumah serta menunaikan tugas-tugas rumah tangga berupa memasak, menyapu, dan sebagainya.
Pengabdian wanita di dalam rumahnya ini dilakukan dalam keadaan si wanita tertutup dari pandangan yang tidak halal untuk memandangnya. Ia terjaga dan memiliki iffah (kehormatan diri). Ia terjaga di atas kemuliaan, keutamaan, dan nilai kemanusiaan. Pengabdian ini tidak bisa dianggap kecil bila dibandingkan dengan pengabdiaan kaum lelaki dalam mencari penghidupan. Seandainya seorang wanita sampai keluar dari rumahnya guna berserikat dengan kaum lelaki dalam pekerjaan –sebagaimana tuntutan mereka itu– niscaya akan telantarlah tugas-tugasnya di rumah. Akibatnya, masyarakat manusia pun menuai kerugian yang amat besar.
Bergabungnya wanita di medan lelaki akan berdampak kerusakan, karena wanita akan menjadi pajangan bagi mata-mata khianat dan tangan-tangan yang merusak. Jadilah ia sebagai hidangan yang terbuka di hadapan para pengkhianat3 yang memiliki hati berpenyakit. Apakah mungkin seorang lelaki yang memiliki sedikit saja dari sifat kejantanan –terlebih lagi bila memiliki iman– akan ridha membiarkan putrinya, istrinya, atau saudara perempuannya, menjadi santapan lezat bagi mata-mata orang fasik dan barang jamahan bagi tangan-tangan pengkhianat?
Apakah tidak cukup sebagai peringatan, musibah yang telah menimpa masyarakat-masyarakat yang melepaskan diri dari bimbingan Islam, di mana mereka terjerembab dalam lembah kehinaan? Ketika mereka membiarkan wanita mereka yang semula terjaga di dalam rumah untuk keluar dari ‘istana’ nya dalam keadaan ber-tabarruj, mempertontonkan tubuh yang ‘telanjang’4, Allah l pun mencabut dari kaum lelakinya sifat rujulah/kejantanan dan ghirah/kecemburuan terhadap wanita-wanita mereka. Akibatnya, jadilah masyarakat tersebut tak beda dengan masyarakat binatang.
Orang-orang bodoh yang menyerukan propaganda jahiliah tersebut harus dicekal tangannya, dibungkam suaranya, serta dipatahkan penanya. Karena, kita –alhamdulillah– di atas bashirah (ilmu yang jelas) dari perkara kita dan di atas ketsiqahan (keteguhan) terhadap agama kita. Tiada samar bagi kita propaganda orang-orang yang sesat dan hawa nafsu orang-orang yang punya ambisi tertentu. Pengalaman orang lain merupakan sebaik-baik pelajaran bagi kita.
Wahai segenap muslimin. Allah l, Dialah yang menciptakan alam ini dan mengatur segenap urusannya. Dia mengetahui perkara-perkara yang samar/tersembunyi, dan mengetahui apa yang telah terjadi dan yang akan terjadi. Allah l telah meletakkan pagar-pagar yang kokoh dalam kitab-Nya yang mulia untuk melindungi kaum muslimin dan menjaga wanita-wanita mereka. Allah l memerintahkan kepada kita untuk menundukkan pandangan dari melihat apa yang tidak halal dilihat. Allah l berfirman:
Katakanlah kepada kaum mukminin, “Hendaklah mereka menahan sebagian pandangan mereka dan menjaga kemaluan mereka, yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” Katakanlah kepada kaum mukminat, “Hendaklah mereka menahan sebagian pandangan mereka dan menjaga kemaluan mereka…” (An-Nur: 30-31)
Allah l melarang wanita menghentakkan kakinya yang memakai gelang kaki untuk memperdengarkan suara gelang kakinya kepada para lelaki. Allah l berirman:
“Dan janganlah mereka (para wanita beriman) menghentakkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan…” (An-Nur: 31)
Allah l melarang kaum wanita melembutkan suaranya ketika berbicara dengan lelaki ajnabi, agar jangan sampai orang-orang jahat berkeinginan jelek terhadap mereka. Allah l berfirman:
“Maka janganlah kalian melembutkan suara dalam berbicara sehingga berkeinginan jeleklah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (Al-Ahzab: 32)
Allah l melarang wanita melakukan safar kecuali bila ditemani mahramnya. Allah l juga melarang lelaki berdua-duaan dengan wanita ajnabiyah. Allah l melarang para wanita mempertontonkan perhiasannya kepada lelaki yang tidak berhak melihatnya. Allah l jadikan shalat wanita di rumahnya lebih utama dibanding shalatnya di masjid. Semua ini dalam rangka menjaga dan memelihara wanita serta membersihkan masyarakat Islam dari akhlak yang rusak.
Apabila umat ini berpegang dengan pengajaran dan bimbingan ilahiyah, niscaya mereka akan sukses dalam membangun masyarakat yang kuat, berpegang dengan perintah agama sekaligus bersih dari perkara yang tidak pantas. Sebaliknya, bila umat ini melepaskan diri/tidak peduli dengan pengajaran dan bimbingan ilahiyah, niscaya mereka akan jatuh dalam lembah kehinaan, hilang kehormatan/kemuliaan mereka, dan hilang pula kedudukan mereka di kalangan umat-umat yang lain.
Sungguh, orang-orang bodoh yang menulis makalah-makalah beracun yang menyerukan agar wanita melepaskan diri dari kedudukan yang diberikan Islam, berarti telah mengupayakan penghancuran masyarakat mereka. Telah mendahului mereka dengan seruan busuk ini, suatu kaum yang akhir kesudahannya adalah penyesalan. Kelak, mereka yang belakangan ini akan menemui kesudahan yang sama.
“Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.” (Asy-Syu’ara: 227)
Dengan pertolongan Allah l, akan terus ada kaum muslimin yang berpegang dengan pengajaran agama mereka. Orang-orang yang menghinakan dan menyelisihi mereka tidak akan memudaratkan mereka, hingga kelak datang perkara Allah l sementara mereka dalam keadaan demikian. Sebagaimana hal ini diberitakan oleh Nabi n yang benar lagi dibenarkan. Juga sebagaimana dalam pepatah:
لَنْ يَضُرَّ السَّحَابَ نَبْحُ الْكِلَابِ
“Awan tidak akan termudaratkan dengan lolongan anjing.”
Kita mohon kepada Allah l agar menolong agama-Nya dan meninggikan kalimat-Nya, agar Dia menjaga pemimpin kaum muslimin dan menolong agama-Nya dengan pimpinan tersebut. (Al-Khuthab Al-Minbariyyah fil Munasabat Al-’Ashriyyah, 1/398-402)

1 HR. At-Tirmidzi no. 1173, dihasankan Al-Imam Al-Albani, semoga Allah l merahmati beliau dan menempatkan beliau dalam negeri karamah-Nya, dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi.
2 HR. Al-Bukhari dan Muslim.
3 Allah l menyebutkan mata yang suka memandang apa yang tidak halal baginya sebagai mata yang khianat, sebagaimana dalam ayat:
“Dia (Allah) mengetahui pandangan mata-mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh dada-dada.” (Ghafir: 19)
4 Rasulullah n pernah bersabda:
صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا: قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْناَبِ الْبَقَرِ يَضْرِبُوْنَ بِهَا النَّاسَ، وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ …
“Ada dua golongan penduduk neraka yang saat ini aku belum melihat mereka, (yang pertama) suatu kaum yang memiliki cambuk-cambuk seperti ekor-ekor sapi, dengan cambuk tersebut mereka memukul manusia. (Yang kedua) para wanita yang berpakaian tapi hakikatnya telanjang…” (HR. Muslim)

Mariyah Maulah Hujair

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman bintu ‘Imran)

Pribadi para sahabat Rasulullah n memang sangat mengesankan. Keimanan kepada Allah l melandasi segalanya. Bahkan di saat-saat yang begitu mudah untuk melampiaskan dendam, ternyata itu pun tak dilakukannya. Seorang wanita yang saat itu masih musyrikah menyaksikan kemuliaan pribadi seorang Khubaib bin ‘Adi yang ditawan di rumahnya. Dia tuturkan ketika dia telah menjadi seorang muslimah. Wanita itu bernama Mariyah1.
Tahun keempat hijriyah. Nabi n mengirimkan pasukan mata-mata untuk mencari berita tentang orang-orang musyrikin Quraisy. Mereka adalah para penghafal Al-Qur’an. Ternyata kabar tentang pasukan ini tercium oleh Bani Lihyan.
Bani Lihyan segera mengejar hingga berhasil mengepung para sahabat di tempat yang tinggi. Bani Lihyan mengatakan akan menjamin tidak akan membunuh mereka jika mereka mau turun. Namun pasukan Rasulullah n ini menolak. Kedua kubu pun bertempur hingga tinggallah tiga orang sahabat, Khubaib bin ‘Adi, Zaid bin Ad-Datsinah, dan seorang lagi g. Yang terakhir ini pun akhirnya terbunuh.
Bani Lihyan membawa Khubaib dan Zaid ke Makkah lalu menjual mereka berdua. Khubaib dibeli oleh Bani Al-Harits. Mereka membeli Khubaib untuk menuntaskan dendam mereka karena Khubaiblah yang membunuh Al-Harits bin ‘Amir, ayah mereka, dalam perang Badr.
Namun saat itu adalah bulan haram. Dilarang menumpahkan darah di bulan-bulan haram. Karena itu, untuk sementara waktu mereka menawan Khubaib bin ‘Adi dalam ruangan yang terkunci di rumah Mariyah, maulah Hujair bin Abi Ihab At-Tamimi.
Dalam tawanan, Khubaib biasa menunaikan tahajjud dengan membaca surah-surah Al-Qur’an. Bila para wanita mendengar bacaannya, mereka menangis dan luluh hatinya.
Mariyah pernah mengintip dari celah-celah pintu. Dia terperanjat. Khubaib sedang memegang setandan buah anggur, sementara saat itu bukan musim anggur. Tak ada sebiji anggur pun di Makkah waktu itu. Mariyah tersadar, itu semua rezeki dari Allah l.
Suatu ketika Mariyah bertanya pada Khubaib, “Wahai Khubaib, apakah engkau membutuhkan sesuatu?” “Tidak!” jawab Khubaib, “Hanya saja kuminta kepadamu tiga hal, jangan kau beri aku minum kecuali air dingin saja, jangan kau beri aku makanan dari sesuatu yang disembelih untuk berhala, dan kau beritahukan aku jika tiba saatnya mereka hendak membunuhku.” Mariyah menyanggupi.
Bulan-bulan haram pun berlalu. Dekat sudah waktu yang mereka sepakati untuk membunuh Khubaib. Sesuai janjinya, Mariyah memberitahukan hal itu kepada Khubaib. Mendengar kabar itu, Khubaib tak sedikit pun terlihat gentar.
“Maukah kau pinjamkan padaku pisau, agar aku bisa membersihkan diri?” pinta Khubaib pada Mariyah. Mariyah memenuhi permintaannya. Dia menyuruh anak susuannya, Abu Husain, untuk menyerahkan pisau itu kepada sang tawanan. Abu Husain pun menurut.
Setelah anak kecil itu hilang dari pandangan matanya, Mariyah tertegun. “Apa yang baru saja kulakukan?” ujarnya dalam hati. “Aku menyuruh anakku membawa pisau itu kepadanya. Dia bisa dengan mudah membunuh anakku dengan pisau itu, lalu beralasan seorang balas seorang!”
Mariyah bergegas menyusul.
Sementara itu, si anak masuk menemui Khubaib sambil menyerahkan sebilah pisau yang dibawanya. Khubaib mengangkat anak itu dan mendudukkan di pangkuannya. Terdengar kelakar Khubaib, “Demi ayahku! Apa ibumu tidak khawatir aku akan membalas dendam dengan membiarkanmu datang membawa pisau, sementara mereka ingin membunuhku?”
Mariyah mendengar ucapan itu. “Wahai Khubaib, aku percaya kepadamu dengan keamanan dari Allah. Aku berikan pisau itu bukan untuk membunuh anakku!”
“Aku tidak akan membunuhnya,” jawab Khubaib, “Dan tidak halal dalam agama kami membalas dendam.”
Tenanglah Mariyah. Lalu Mariyah memberitahu Khubaib bahwa orang-orang akan mengeluarkannya dari tawanan besok untuk membunuhnya.
Keesokan harinya, Khubaib dikeluarkan dari tawanan dalam keadaan dirantai. Dia dibawa ke Tan’im, sekitar tiga mil dari Makkah ke arah Madinah. Di sana telah dipancangkan tonggak kayu untuk membunuhnya.
Sampai di sana, Khubaib meminta, “Maukah kalian melepaskan aku sebentar agar aku bisa shalat dua rakaat?” Mereka meluluskan permintaannya. Khubaib pun shalat dua rakaat dengan menyempurnakan shalatnya tanpa memperpanjangnya. Setelah itu, orang-orang itu pun membunuhnya.
Di kemudian hari, Mariyah maulah Hujair masuk Islam. Dia selalu mengenang peristiwa ini. Dialah yang menuturkan kemuliaan Khubaib selama berada dalam tawanan. Mariyah maulah Hujair, semoga Allah l meridhainya ….
Wallahu a’lamu bish-shawab.

Sumber Bacaan:
Al-Ishabah, Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani (2/225-226, 8/312-313)
Al-Isti’ab, Al-Imam Ibnu ‘Abdil Barr (2/564-565)
Ath-Thabaqatul Kubra, Al-Imam Ibnu Sa’d (10/285-286)
Shahih Al-Bukhari, Kitab Al-Maghaz

1 Ada yang mengatakan namanya Mawiyah.

Jagalah Diri dan Keluarga dari Api Neraka

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah)
Kengerian Neraka
Allah l berfirman dalam kitab-Nya yang mulia:
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At-Tahrim: 6)
Sebuah seruan dari Dzat Yang Maha Agung kepada orang-orang yang beriman, berisi perintah dan peringatan berikut kabar tentang bahaya besar yang mengancam. Seruan ini ditujukan kepada insan beriman, karena hanya mereka yang mau mencurahkan pendengaran kepada ajakan Allah l, berpegang dengan perintah-Nya dan mengambil manfaat dari ucapan-Nya. Allah l perintahkan mereka agar menyiapkan tameng untuk diri mereka sendiri dan untuk keluarga mereka guna menangkal bahaya yang ada di hadapan mereka serta kebinasaan di jalan mereka. Bahaya yang mengerikan itu adalah api yang sangat besar, tidak sama dengan api yang biasa kita kenal, yang dapat dinyalakan dengan kayu bakar dan dipadamkan oleh air. Api neraka ini bahan bakarnya adalah tubuh-tubuh manusia dan batu-batu. Ia berbeda  sama sekali dengan api di dunia. Bila orang terbakar dengan api dunia, ia pun meninggal berpisah dengan kehidupan dan tidak lagi merasakan sakitnya pembakaran tersebut. Beda halnya bila seseorang dibakar dengan api neraka, na’udzubillah. Karena Allah l berfirman:
“Setiap kali nyala api Jahannam itu akan padam, Kami tambah lagi nyalanya bagi mereka.” (Al-Isra’: 97)
“Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka terus merasakan azab.” (An-Nisa’: 56)
“Mereka tidak dibinasakan dengan siksa yang dapat mengantarkan mereka kepada kematian (mereka tidak mati dengan siksaan di neraka bahkan mereka terus hidup agar terus merasakan siksa) dan tidak pula diringankan azabnya dari mereka.” (Fathir: 36) [Al-Khuthab Al-Minbariyyah fil Munasabat Al-‘Ashriyyah, Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan, dengan sub judul Fit Tahdzir minan Nar wa Asbab Dukhuliha, 2/164-165]
Orang yang masuk ke dalam api yang sangat besar ini tidak mungkin dapat lari untuk meloloskan diri, karena yang menjaganya adalah para malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah l terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka serta selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. Allah l berfirman:
“Penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar, yang keras.” (At-Tahrim: 6)
Al-Imam Al-Qurthubi t menjelaskan, “Penjaganya adalah para malaikat Zabaniyah yang hati mereka keras, kaku, tidak mengasihi jika dimohon kepada mereka agar menaruh iba…
Kata ﯨ maksudnya keras tubuh mereka. Ada yang mengatakan, para malaikat itu kasar ucapannya dan keras perbuatannya. Ada yang berpendapat, malaikat tersebut sangat kasar dalam menyiksa penduduk neraka, keras terhadap mereka. Bila dalam bahasa Arab dinyatakan: فُلاَنٌ شَدِيْدٌ عَلَى فُلاَنٍ, maksudnya Fulan menguasainya dengan kuat, menyiksanya dengan berbagai macam siksaan.
Ada pula yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan ﯧ adalah sangat besar tubuh mereka, sedangkan maksud ﯨ adalah kuat.
Ibnu Abbas c berkata, “Jarak antara dua pundak salah seorang dari malaikat tersebut adalah sejauh perjalanan setahun. Kekuatan salah seorang dari mereka adalah bila ia memukul dengan alat pukul niscaya dengan sekali pukulan tersebut tersungkur 70.000 manusia ke dalam jurang Jahannam.” (Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, 18/128)
Al-‘Allamah Asy-Syaikh Abdurrahman ibnu Nashir As-Sa’di t berkata menafsirkan ayat ke-6 surah At-Tahrim di atas, “Jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka, yang disebutkan dengan sifat-sifat yang mengerikan. Ayat ini menunjukkan perintah menjaga diri dari api neraka tersebut dengan ber-iltizam (berpegang teguh) terhadap perintah Allah l, menunaikan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, dan bertaubat dari perbuatan yang Allah l murkai serta perbuatan yang menyebabkan azab-Nya. Sebagaimana ayat ini mengharuskan seseorang menjaga keluarga dan anak-anak dari api neraka dengan cara memberikan pendidikan dan pengajaran kepada mereka, serta memberitahu mereka tentang perintah Allah l. Seorang hamba tidak dapat selamat kecuali bila ia menegakkan apa yang Allah l perintahkan terhadap dirinya dan orang-orang yang di bawah penguasaannya, baik istri-istrinya, anak-anaknya, dan selain mereka dari orang-orang yang berada di bawah kekuasaan dan pengaturannya.
Dalam ayat ini pula Allah l menyebutkan neraka dengan sifat-sifat yang mengerikan agar menjadi peringatan terhadap manusia jangan sampai meremehkan perkaranya. Allah l berfirman:
“…Yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu…” (At-Tahrim: 6)
Sebagaimana Allah l berfirman:
“Sesungguhnya kalian dan apa yang kalian sembah selain Allah (patung-patung) adalah bahan bakar/kayu bakar Jahannam, kalian sungguh akan mendatangi Jahannam tersebut.”1
Penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras. Yaitu akhlak mereka kasar dan hardikan mereka keras. Mereka membuat kaget dengan suara mereka dan membuat ngeri dengan penampilan mereka. Mereka melemahkan penghuni neraka dengan kekuatan mereka dan menjalankan perintah Allah l terhadap penghuni neraka, di mana Allah l telah memastikan azab atas penghuni neraka ini dan mengharuskan azab yang pedih untuk mereka.
Mereka tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. Di sini juga ada pujian untuk para malaikat yang mulia dan terikatnya mereka kepada perintah Allah l serta ketaatan mereka kepada Allah l dalam seluruh perkara yang diperintahkan-Nya.” (Taisir Al-Karimir Rahman, hal. 874)

Penjagaan Rasulullah n terhadap Keluarganya
Rasulullah n sebagai uswah hasanah bagi orang-orang yang beriman telah memberikan arahan dan peringatan kepada kerabat beliau dalam rangka menjaga mereka dari api neraka. Tatkala turun perintah Allah l dalam ayat:
“Berilah peringatan kepada kerabatmu yang terdekat.” (Asy Syu’ara: 214)
Rasulullah n mendatangi bukit Shafa dan menaikinya, lalu menyeru manusia untuk berkumpul. Maka orang-orang pun berkumpul di sekitar beliau. Sampai-sampai yang tidak dapat hadir mengirim utusannya untuk mendengarkan apa gerangan yang akan disampaikan oleh Muhammad n. Rasulullah n kemudian memanggil kerabat-kerabatnya, “Wahai Bani Abdil Muththalib! Wahai Bani Fihr! Wahai Bani Lu’ai! Apa pendapat kalian andai aku beritakan kepada kalian bahwa ada pasukan berkuda dari balik bukit ini akan menyerang kalian. Adakah kalian akan membenarkan aku?” Mereka serempak menjawab, “Iya.” Beliau melanjutkan, “Sungguh aku memperingatkan kalian sebelum datangnya azab yang pedih.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari hadits Ibnu Abbas c)
Aisyah x memberitakan bahwa ketika turun ayat di atas, Rasulullah n bangkit seraya berkata, “Wahai Fathimah putri Muhammad! Wahai Shafiyyah putri Abdul Muththalib! Wahai Bani Abdil Muththalib! Aku tidak memiliki kuasa sedikit pun di hadapan Allah l untuk menolong kalian kelak. (Adapun di kehidupan dunia ini) maka mintalah harta dariku semau kalian.” (HR. Muslim)
Al-Imam Muslim t meriwayatkan dari hadits Aisyah x, istri Nabi n, bahwa bila hendak shalat witir, beliau n membangunkan Aisyah x.
Rasulullah n sendiri telah bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad t:
رَحِمَ اللهُ رَجُلاً قَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّى وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ فَصَلَّتْ، فَإِنْ أَبَتْ نَضَحَ فِي وَجْهِهَا الْمَاءَ، وَرَحِمَ اللهُ امْرَأَةً قَامَتْ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّتْ وَأَيْقَظَتْ زَوْجَهَا فَصَلَّى فَإِنْ أَبَى نَضَحَتْ فِي وَجْهِهِ الْمَاءَ
“Semoga Allah merahmati seorang lelaki yang bangun di waktu malam lalu mengerjakan shalat dan ia membangunkan istrinya lalu si istri mengerjakan shalat. Bila istrinya enggan untuk bangun, ia percikkan air di wajah istrinya. Semoga Allah merahmati seorang wanita yang bangun di waktu malam lalu mengerjakan shalat dan ia membangunkan suami lalu si suami mengerjakan shalat. Bila suaminya enggan untuk bangun, ia percikkan air di wajah suaminya.” (Sanad hadits ini shahih kata Asy-Syaikh Ahmad Syakir t dalam tahqiqnya terhadap Al-Musnad)
Ummu Salamah x mengabarkan, suatu malam Rasulullah n terbangun dari tidur beliau. Beliau pun membangunkan istri-istri beliau untuk mengerjakan shalat. Kata beliau:
أَيْقِظُوْا صَوَاحِبَ الْحُجْرِ
“Bangunlah, wahai para pemilik kamar-kamar (istri-istri beliau yang sedang tidur di kamarnya masing-masing)!” (HR. Al-Bukhari)
Tidak luput pula putri dan menantu beliau juga mendapatkan perhatian beliau. Suatu malam, Rasulullah n mendatangi rumah Ali dan Fathimah c. Beliau berkata, “Tidakkah kalian berdua mengerjakan shalat malam?” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari hadits ‘Ali z)

Jagalah Dirimu dan Keluargamu dari Api Neraka
Seorang suami sebagai kepala rumah tangga selain menjaga dirinya sendiri dari api neraka, ia juga bertanggung jawab menjaga istri, anak-anaknya, dan orang-orang yang tinggal di rumahnya. Satu cara penjagaan diri dan keluarga dari api neraka adalah bertaubat dari dosa-dosa. Allah l berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kalian kepada Allah dengan taubat nashuha. Mudah-mudahan Rabb kalian menghapuskan kesalahan-kesalahan kalian dan memasukkan kalian ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersamanya, sedang cahaya mereka memancar di depan dan di sebelah kanan mereka, seraya mereka berdoa, ‘Wahai Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu’.” (At-Tahrim: 8)
Seorang suami sekaligus ayah ini bertaubat kepada Allah l dengan sebenar-benarnya, taubat yang murni, kemudian ia membimbing keluarganya untuk bertaubat. Taubat yang dilakukan disertai dengan meninggalkan dosa, menyesalinya, berketetapan hati untuk tidak mengulanginya, dan mengembalikan hak-hak orang lain yang ada pada kita. Taubat yang seperti ini tentunya menggiring pelakunya untuk beramal shalih. Buah yang dihasilkannya adalah dihapuskannya kesalahan-kesalahan yang diperbuat, dimasukkan ke dalam surga, dan diselamatkan dari kerendahan serta kehinaan yang biasa menimpa para pendosa dan pendurhaka.
Melakukan amal ketaatan dan menjauhi maksiat harus diwujudkan dalam rangka menjaga diri dari api neraka. Seorang kepala rumah tangga menerapkan perkara ini dalam keluarganya, kepada istri dan anak-anaknya. Ia punya hak untuk memaksa mereka agar taat kepada Allah l dan tidak berbuat maksiat, karena ia adalah pemimpin mereka yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah l kelak dalam urusan mereka, sebagaimana sabda Rasulullah n:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari hadits Ibnu Umar c)
Ia harus memaksa anaknya mengerjakan shalat bila telah sampai usianya, berdasar sabda Rasulullah n:
مُرُوْا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِيْنٍ، وَاضْرِبُوْهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ، وَفَرِّقُوْا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ
“Perintahkan anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat ketika mereka telah berusia tujuh tahun dan pukullah mereka bila enggan melakukannya ketika telah berusia sepuluh tahun serta pisahkanlah di antara mereka pada tempat tidurnya.” (HR. Abu Dawud dari hadits Abdullah ibnu ‘Amr c, dikatakan oleh Al-Imam Al-Albani t dalam Shahih Abi Dawud, “Hadits ini hasan shahih.”)
Allah l telah berfirman:
“Perintahkanlah keluargamu untuk mengerjakan shalat dan bersabarlah dalam mengerjakannya.” (Thaha: 132)
Seorang ayah bersama seorang ibu harus bekerja sama untuk menunaikan tanggung jawab terhadap anak, baik di dalam maupun di luar rumah. Anak harus terus mendapatkan pengawasan di mana saja mereka berada, dijauhkan dari teman duduk yang jelek dan teman yang rusak. Anak diperintahkan untuk mengerjakan yang ma’ruf dan dilarang dari mengerjakan yang mungkar.
Orangtua harus membersihkan rumah mereka dari sarana-sarana yang merusak berupa video, film, musik, gambar bernyawa, buku-buku yang menyimpang, surat kabar, dan majalah yang rusak.
Seluruh perkara yang telah disebutkan di atas dilakukan dalam rangka menjaga diri dan keluarga dari api neraka. Karena, bagaimana seseorang dapat menyelamatkan dirinya dari api neraka bila ia meninggalkan shalat padahal shalat adalah tiang agama dan pembeda antara kafir dengan iman?
Bagaimana seseorang dapat menyelamatkan dirinya dari api neraka bila ia selalu melakukan perkara yang diharamkan dan mengentengkan amalan ketaatan? Bagaimana seseorang dapat menyelamatkan dirinya dari api neraka bila ia selalu berjalan di jalan neraka, siang dan malam?
Hendaknya ia tahu bahwa neraka itu dekat dengan seorang hamba, sebagaimana surga pun dekat. Nabi n bersabda:
الْجَنَّةُ أَدْنَى إِلَى أَحَدِكُمْ مِنْ شِرَاكِ نَعْلِهِ وَالنَّارُ مِثْلُ ذَلِكَ
“Surga lebih dekat kepada salah seorang dari kalian daripada tali sandalnya dan neraka pun semisal itu.” (HR. Al-Bukhari dari hadits Ibnu Mas’ud z)
Maksud hadits di atas, siapa yang meninggal di atas ketaatan maka ia akan dimasukkan ke dalam surga. Sebaliknya, siapa yang meninggal dalam keadaan bermaksiat maka ia akan dimasukkan ke dalam neraka. (Al-Khuthab Al-Minbariyyah, 2/167)
Bagaimana seseorang dapat menjaga keluarganya dari api neraka sementara ia membiarkan mereka bermaksiat kepada Allah l dan meninggalkan kewajiban?
Bagaimana seorang ayah dapat menyelamatkan anak-anaknya dari api neraka bila ia keluar menuju masjid sementara ia membiarkan anak-anaknya masih pulas di atas pembaringan mereka, tanpa membangunkan mereka agar mengerjakan shalat? Atau anak-anak itu dibiarkan asyik dengan permainan mereka, tidak diingatkan untuk shalat?
Anak-anak yang seyogianya merupakan tanggung jawab kedua orangtua mereka, dibiarkan berkeliaran di mal-mal, main game, membuat kegaduhan dengan suara mereka hingga mengusik tetangga, kebut-kebutan di jalan raya dengan motor ataupun mobil. Sementara sang ayah tiada berupaya meluruskan mereka. Malah ia penuhi segala tuntutan duniawi si anak. Adapun untuk akhirat mereka, ia tak ambil peduli. Sungguh orangtua yang seperti ini gambarannya tidaklah merealisasikan perintah Allah l dalam surah At-Tahrim di atas. Wallahul musta’an.
Maka, marilah kita berbenah diri untuk menjaga diri kita dan keluarga kita dari api neraka. Bersegeralah sebelum datang akhir hidup kita, sebelum datang jemputan dari utusan Rabbul Izzah, sementara kita tak cukup ‘bekal’ untuk bertameng dari api neraka, apatah lagi meninggalkan ‘bekal’ yang memadai untuk keluarga yang ditinggalkan. Allahumma sallim!
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

1 Al-Anbiya: 98

Kewajiban Haji dan Beberapa Peringatan Penting dalam Pelaksanaannya

(ditulis oleh: Al-Ustadz Saifudin Zuhri, Lc.)

Khutbah pertama
الحَمْدُ لِلهِ ذِيْ الْفَضْلِ وَالْإِنْعَامِ جَعَلَ الْحَجَّ إِلَى بَيْتِهِ أَحَدِ أَرْكَانُ الْإِسْلاَمِ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ فِي رُبُوْبِيَّتِهِ وَإِلَهِيَّتِهِ وَأَسْمَاءِهِ وَصِفَاتِهِ الْعِظَامِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَفْضَلُ مَنْ حَجَّ وَاعْتَمَرَ وَسَعَى بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ وَطَافَ بِالبَيْتِ الْحَرَامِ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْبَرَرَةِ الْكِرَامِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمَا كَثِيْرًا، أَمّا بَعْدُ:

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah l yang telah melimpahkan keutamaan-keutamaan dan kenikmatan-kenikmatan-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Dialah Rabb yang telah mengaruniakan kepada kita agama yang mulia. Agama yang akan menjadi sebab sempurnanya iman dan sucinya hati orang-orang yang menjalankannya. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah pada panutan kita, nabi Muhammad n, keluarga, para sahabat dan pengikutnya yang senantiasa istiqamah mengikuti petunjuknya.

Jamaah jum’ah rahimakumullah,
Pada kesempatan yang berbahagia ini kami berwasiat kepada diri kami pribadi dan seluruh hadirin untuk bertakwa kepada Allah l dengan sebenar-benar takwa. Marilah kita berusaha dengan sekuat kemampuan kita menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya. Sesungguhnya dengan ketakwaanlah seseorang akan menjadi mulia di sisi Allah l, sebagaimana tersebut dalam firman-Nya:
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kalian.” (Al-Hujurat: 13)

Hadirin rahimakumullah,
Ketahuilah, bahwasanya di antara syariat Allah l yang sangat mulia adalah kewajiban menunaikan ibadah haji. Bahkan kewajiban ini merupakan salah satu dari rukun Islam yang lima. Allah l berfirman:
“Dan mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang memiliki kemampuan. Barangsiapa kafir atau mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu pun) dari semesta alam.” (Ali ‘Imran: 97)
Di dalam ayat ini, Allah l menggunakan kalimat kafara, yaitu telah kafir, terhadap orang yang mengingkari kewajiban yang besar ini. Hal ini tentu menunjukkan betapa penting dan besarnya kewajiban ini. Oleh karena itu telah sepakat para ulama, siapa saja yang mengingkari kewajiban ibadah haji, maka dihukumi kafir dan keluar dari Islam.

Hadirin rahimakumullah,
Besarnya perintah ibadah haji ini juga ditunjukkan pada berkumpulnya dua jenis ibadah dalam pelaksanaannya. Yaitu ibadah dengan menggunakan anggota badan dan ibadah dengan menggunakan harta. Lebih dari itu, dalam pelaksanaannya juga harus menempuh jarak yang cukup jauh dan melelahkan. Bahkan Nabi kita Muhammad n mengategorikan ibadah ini sebagai salah satu jenis jihad, sebagaimana disabdakan oleh beliau n ketika ditanya:
يَا رَسُوْلَ اللهِ، هَلْ عَلَى النِّسَاءِ جِهَادٌ؟ قَالَ: نَعَمْ، عَلَيْهِنَّ جِهَادٌ لاَ قِتَالَ فِيْهِ، الْحَجُّ وَالْعُمْرَةُ
“Wahai Rasulullah, apakah ada kewajiban bagi wanita untuk berjihad?” Beliau n menjawab: “Ya, ada, wajib bagi mereka (para wanita) untuk berjihad yang tidak ada pertempuran di dalamnya, (yakni) haji dan umrah.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani t)
Di dalam hadits tersebut kita mengetahui pula bahwa disamping kewajiban haji, Allah l juga telah menetapkan kepada kaum muslimin kewajiban untuk melakukan umrah. Sehingga, seorang muslim yang mukallaf yaitu yang sudah baligh dan berakal serta telah memiliki kemampuan, wajib baginya untuk memerhatikan dan menjalankan kedua amalan ibadah yang besar ini. Adapun anak yang belum baligh, jika dia menjalankan kedua amalan ini hukumnya tetap sah, namun haji dan umrahnya dihukumi sebagai amalan sunnah. Artinya anak tersebut masih ada kewajiban untuk menjalankannya di saat telah baligh nanti apabila memiliki kemampuan. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam sabda Nabi n:
أَيُّمَا صَبِيٍّ حَجَّ ثُمَّ بَلَغَ فَعَلَيْهِ حَجَّةٌ أُخْرَى
“Anak kecil manapun yang melakukan ibadah haji maka wajib baginya untuk melakukan ibadah haji lagi (ketika sudah baligh).” (HR. Al-Baihaqi dan dishahihkan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar t dalam Fathul Bari)

Kaum muslimin rahimakumullah,
Karena rahmat-Nya, Allah l menetapkan kewajiban haji dan umrah ini hanyalah sekali dalam seumur hidup, sebagaimana tersebut dalam sabda Nabi n:
الْحَجُّ مَرَّةً فَمَنْ زَادَ فَتَطَوُّعٌ
“Kewajiban haji itu hanya sekali, barangsiapa menunaikannya lebih dari sekali maka dia telah melakukan sunnah.” (HR. Abu Dawud dan yang lainnya, shahih sebagaimana disebutkan dalam Al-Irwa’)
Oleh karena itu, seorang muslim yang telah memiliki kemampuan, seharusnya segera menjalankan kewajiban yang hanya sekali dalam seumur hidup ini, karena dia tidak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya nanti. Bisa jadi tahun ini dia mampu namun karena menundanya akhirnya pada tahun berikutnya dia tidak memiliki kemampuan lagi. Adapun yang dimaksud mampu dalam amalan ibadah haji sebagaimana keterangan para ulama adalah mampu dalam hal fisik atau kesehatan serta mampu dalam hal harta, yaitu biaya untuk perjalanan dan kebutuhan selama ibadah haji serta mampu mencukupi kebutuhan keluarganya yang ditinggal selama menunaikan haji. Adapun jika seseorang telah mampu dalam hal materi akan tetapi tidak mampu secara fisik, maka sebagaimana keterangan para ulama, pada dirinya ada dua kemungkinan. Yang pertama: dia tidak mampu fisiknya karena usianya yang telah lanjut atau karena sakit yang menurut keterangan dokter tidak ada harapan sembuh. Apabila demikian, maka wajib baginya untuk mewakilkan kepada orang lain untuk menghajikannya. Hal ini sebagaimana tersebut dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim rahimahumallah ketika Nabi n ditanya:
يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ أَبِيْ أَدْرَكَتْهُ فَرِيْضَةُ اللهِ فِي الْحَجِّ شَيْخًا كَبِيْرًا لاَ يَسْتَطِيْعُ أَنْ يَسْتَوِيَ عَلَى الرَّاحِلَةِ، أَفَأَحُجُّ عَنْهُ؟ قَالَ: حُجِّيْ عَنْهُ
“Wahai Rasulullah, sesungguhnya kewajiban menjalankan ibadah haji telah sampai kepada ayahku dalam keadaan beliau sudah lanjut usia yang (membuat beliau) tidak mampu duduk (menempuh perjalanan) di atas kendaraan, apakah perlu bagiku untuk menghajikan atas nama beliau?” Nabi menjawab: “Berhajilah atas namanya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Adapun kemungkinan kedua adalah dirinya menderita penyakit yang ada harapan untuk sembuh. Apabila demikian keadaannya, maka diperbolehkan baginya untuk menundanya sampai memungkinkan untuk menunaikannya.

Kaum muslimin rahimakumullah,
Disamping itu, sebagaimana yang disebutkan dalam fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah (jilid 11 hal. 87), para ulama menerangkan bahwa kewajiban haji tidaklah gugur dengan sebab meninggalnya seseorang. Artinya apabila seseorang meninggal dunia dalam keadaan semasa hidupnya dia adalah orang yang wajib untuk menunaikannya, yaitu telah mampu secara fisik dan materi namun belum menunaikan ibadah haji, wajib diambilkan dari hartanya untuk digunakan menghajikan dirinya. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits, ketika ada seorang wanita dari Juhainah yang memberitakan kepada Nabi n bahwa ibunya telah bernadzar untuk menjalankan haji, namun dia meninggal sebelum sempat menjalankannya, apakah perlu menghajikan atas nama ibunya? Maka saat itu Nabi n menjawab:
نَعَمْ، حُجِّيْ عَنْهَا، أَرَأَيْتِ لَوْ كَانَ عَلَى أُمِّكِ دَيْنٌ أَكُنْتِ قَاضِيَتَهِ؟ اقْضُوْا اللهَ، فَاللهُ أَحَقُّ بِالْوَفَاءِ
“Ya, berhajilah atas namanya. Bukankah apabila engkau mendapati ibumu meninggal dalam keadaan menanggung utang engkau pun akan melunasinya? Maka tunaikanlah kewajibannya kepada Allah. Karena sesungguhnya Allah lebih berhak untuk dipenuhi janjinya kepada-Nya.” (HR. Al-Bukhari)
Namun perlu diketahui pula, bahwasanya orang yang diperbolehkan untuk menghajikan orang lain adalah orang yang sudah (pernah) melakukan ibadah haji, sebagaimana disebutkan dalam hadits, ketika Nabi n mendapatkan ada seseorang yang berhaji atas nama orang lain yang bernama Syubrumah. Beliau bertanya kepada orang tersebut:
حَجَجْتَ عَنْ نَفْسِكَ؟ قَالَ: لاَ. قَالَ: حُجَّ عَنْ نَفْسِكَ ثُمَّ حُجَّ عَنْ شُبْرُمَةَ
“Sudahkah engkau menunaikan haji atas nama dirimu sendiri?” (Orang yang menghajikan orang lain tersebut) menjawab: “Belum.” (Maka Nabi) berkata: “Berhajilah dulu atas namamu baru kemudian engkau bisa menghajikan Syubrumah.” (HR. Abu Dawud dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani t)

Hadirin rahimakumullah,
Selanjutnya perkara penting lainnya yang harus diperhatikan adalah bahwa khusus bagi wanita, dia belum dikatakan mampu untuk menunaikan ibadah haji apabila tidak ada mahram yang menyertainya, meskipun dia mampu secara fisik maupun materi. Hal ini sebagaimana yang disebutkan oleh Nabi n dalam sabdanya:
وَلاَ تُسَافِرَنَّ امْرَأَةٌ إِلاَّ وَمَعَهَا مَحْرَمٌ. فَقَامَ رَجُلٌ فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، إِنِّيْ اكْتَتَبْتُ فِيْ غَزْوَةِ كَذَا وَكَذَا وَخَرَجَتِ امْرَأَتِيْ حَاجَّةً. فَقَالَ: اذْهَبْ فَحُجَّ مَعَ امْرَأَتِكَ
“Janganlah sekali-kali seorang wanita bepergian dalam jarak safar kecuali bersamanya seorang mahram.” Maka berdirilah seorang laki-laki dan berkata: “Wahai Rasulullah, saya sudah menyatakan diri untuk berjihad mengikuti perang ini dan perang ini, sedangkan istriku telah keluar untuk menjalankan ibadah haji.” Maka Nabi n bersabda: “Pergilah engkau (menyusul istrimu) kemudian berhajilah bersama istrimu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Di dalam hadits ini, Nabi n memerintahkan sahabat beliau untuk membatalkan mengikuti jihad agar bisa menemani istrinya dalam menunaikan haji. Hal ini menunjukkan keharusan adanya mahram bagi wanita dalam menunaikan ibadah hajinya.
Demikian yang ingin kami sampaikan pada khutbah yang pertama ini, mudah-mudahan Allah l senantiasa memberikan hidayah-Nya kepada kita semua.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ مَا تَسْمَعُوْنَ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ اْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، شَرَعَ لِعِبَادِهِ حَجَّ بَيْتِهِ الْحَرَامِ لِيُكَفِّرَ عَنْهُمْ الذُّنُوبَ وَالْآثَامَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ تَنْفِيْ جَمِيْعَ الشِّرْكِ وَالْأَوْهَامِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ خَيْرُ الْأَنَامِ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْبَرَرَةِ الْكِرَامِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّا بَعْدُ:

Ma’syiral muslimin rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah l dengan senantiasa menjaga batas-batas syariat-Nya dan tidak melanggarnya. Yaitu menjalankan perintah-perintah-Nya dengan ikhlas, semata-mata mengharapkan keridhaan-Nya serta sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh Rasulullah n.

Hadirin rahimakumullah,
Seorang muslim yang diberi kemudahan oleh Allah l untuk menjalankan ibadah yang besar ini wajib baginya untuk menjalankannya sebagaimana aturan yang telah disyariatkan. Yaitu dengan memenuhi rukun-rukunnya, wajib-wajibnya, dan lebih utama apabila bisa menjalankan sunnah-sunnahnya. Allah l berfirman:
“Dan sempurnakanlah ibadah haji dan ‘umrah karena Allah.” (Al-Baqarah: 196)

Hadirin rahimakumullah,
Ketahuilah, bahwasanya amalan ibadah haji itu tidak ada kaitannya dengan amalan shalat di masjid Nabawi dan tidak ada kaitannya pula dengan berziarah ke makam Rasulullah n. Oleh karena itu, apa yang dipahami oleh sebagian jamaah haji, bahwa barangsiapa yang tidak melakukan shalat arba’in atau shalat 40 waktu di masjid Nabawi maka hajinya kurang sempurna adalah pemahaman yang salah. Karena tidak ada hadits shahih yang menunjukkan disyariatkannya shalat 40 waktu di masjid Nabawi atau yang diistilahkan dengan shalat arba’in tersebut. Bahkan hadits yang menunjukkan hal tersebut adalah hadits yang sangat lemah dan munkar. Meskipun memang sudah semestinya bagi seorang muslim yang diberi kesempatan bisa berkunjung ke kota Madinah untuk shalat di masjid Nabawi, karena shalat di masjid tersebut seribu kali lebih besar dari shalat di masjid lainnya, selain Masjidil Haram di Makkah. Namun mengkhususkan bilangan tertentu untuk shalat di masjid Nabawi bukanlah ajaran Nabi kita Muhammad n. Bahkan semakin banyak seorang muslim melakukan shalat di masjid Nabawi, akan semakin besar pahalanya apabila dilakukan dengan ikhlas dan sesuai dengan petunjuk Nabi n.

Hadirin rahimakumullah,
Adapun menziarahi makam Rasul n dan makam para sahabatnya serta kaum muslimin lainnya yang ada di kota Madinah, meskipun disyariatkan, namun tidak diperbolehkan bagi seorang muslim untuk menyengaja bepergian dalam jarak safar menuju makam-makam tersebut. Rasulullah n bersabda:
لاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلاَّ إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ: الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ، وَمَسْجِدِيْ هَذَا، وَالْمَسْجِدِ الْأَقْصَى
“Tidak boleh menyengaja bepergian dengan mempersiapkan perbekalan dalam jarak safar untuk maksud ibadah khusus kecuali ke tiga masjid: Masjidil Haram, masjidku ini (Masjid Nabawi), dan Masjidil Aqsha.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Hadirin rahimakumullah,
Disamping itu perlu diketahui pula, bahwasanya tidak ada keistimewaan secara khusus pada makam Rasulullah n dibanding makam-makam yang lainnya. Maka tidak boleh bagi kaum muslimin untuk mengkhususkan berziarah ke makam Rasulullah n dengan keyakinan bahwa berdoa kepada Allah l di makam Rasulullah n memiliki keistimewaan dibanding makam-makam lainnya. Apalagi kalau maksud dari berziarah ke makam Rasulullah n adalah untuk berdoa kepadanya, yaitu dengan menjadikan beliau sebagai perantara untuk meminta kepada Allah l. Ini merupakan perbuatan syirik yang bisa menjadi sebab keluarnya seorang muslim dari agamanya. Karena, doa adalah ibadah yang tidak boleh ditujukan kecuali hanya kepada Allah l. Adapun yang disyariatkan ketika berziarah ke makam Rasulullah n adalah mengucapkan salam untuk beliau n dengan menjaga adab dalam mengucapkannya, yaitu dengan tidak mengeraskan suaranya. Begitu pula mengucapkan salam untuk kedua orang sahabat beliau c yang dimakamkan di samping beliau. Di antaranya dengan lafadz:
السَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتَهُ، السَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا أَبَا بَكْرٍ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتَهُ، السَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا عُمَرُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتَهُ

Hadirin rahimakumullah,
Oleh karena itu, apa yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin dengan menziarahi makam-makam yang dikeramatkan karena dianggap sebagai makam para wali adalah amalan yang tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah n, bahkan akan menyeret pelakunya pada perbuatan syirik.
Akhirnya, mudah-mudahan Allah l senantiasa menjaga ibadah haji dan ibadah lainnya yang dilakukan oleh kita dan saudara-saudara kita dari hal-hal yang bisa merusaknya atau mengurangi kesempurnaannya.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَ أَصْحَابِهِ، اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِينَ فِي كُلِ مَكَانٍ. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ والْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّهُ سَمِيْعٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلهِ ربِّ الْعَالَمِينَ.

Hukum Nadzar Mubah

Bagaimana jika seseorang bernadzar untuk membuka toko makanan dulu sebelum membuka toko lainnya, tapi ternyata dia ingin membuka toko lainnya sebelum toko
Dijawab Oleh: Al-Ustadz Abu ‘Abdillah Muhammad Al-Makassari:

Nadzar seperti ini termasuk dalam kategori nadzar mubah, yaitu bernadzar untuk melakukan sesuatu yang hukumnya mubah (boleh). Karena membuka toko makanan ataupun toko lainnya bukan merupakan ibadah dan bukan pula maksiat, selama yang dijual adalah sesuatu yang halal dan sistem jual belinya bukan sistem yang haram. Para ulama menerangkan bahwa nadzar mubah tidak wajib ditunaikan dan tidak haram untuk ditunaikan. Tidak wajib ditunaikan, karena tidak termasuk kategori nadzar ketaatan. Tidak haram ditunaikan, karena tidak termasuk kategori nadzar maksiat. Jadi nadzar mubah tidak masuk dalam hadits ‘Aisyah x:
مَنْ نَذَرَ أَنْ يُطِيعَ اللهَ فَلْيُطِعْهُ، وَمَنْ نَذَرَ أَنْ يَعْصِيَهُ فَلاَ يَعْصِهِ
“Barangsiapa bernadzar untuk menaati Allah, hendaklah dia melaksanakannya. Dan barangsiapa yang bernadzar untuk bermaksiat kepada-Nya maka janganlah dia melakukannya.” (HR. Al-Bukhari: 6700)
Maka pelaku nadzar mubah memiliki kebebasan untuk memilih, antara melaksanakan nadzarnya atau membatalkannya dengan cara membayar kaffarah. Kaffarahnya adalah dengan kaffarah sumpah berdasarkan hadits ‘Uqbah bin ‘Amir z:
كَفَّارَةُ النَّذْرِ كَفَّارَةُ الْيَمِيْنِ.
“Kaffarah nadzar adalah dengan kaffarah sumpah.” (HR. Muslim: 1645)
Kaffarah sumpah adalah yang disebutkan oleh Allah l dalam surat Al-Maidah ayat: 89. Rinciannya adalah sbb:
1. Memberi makan sepuluh orang fakir/miskin dengan makanan yang layak sebagaimana yang dihidangkan untuk keluarganya. Hal ini bisa dilakukan dengan dua cara:
a. Menyediakan makanan yang sudah siap disantap kemudian mengundang sepuluh orang miskin/fakir untuk makan siang atau makan malam.
b. Memberikan beras kepada sepuluh orang miskin/fakir, masing-masingnya 1 kg.
Sebaiknya menyertakan lauk-pauknya berupa daging, ikan, telur, sayur, atau yang semacamnya.
2. Memberi kepada masing-masing dari 10 miskin atau fakir, pakaian yang layak dan sesuai dengan keadaannya, kalau laki-laki dewasa (misalnya) berupa baju gamis dan sirwal atau sarung ukuran orang dewasa.
3. Membebaskan seorang budak dengan syarat mukmin menurut jumhur, dan ini yang rajih.
4. Berpuasa tiga hari berturut-turut menurut sebagian ulama berdasarkan qiraah (bacaan) Ibnu Mas’ud. Hal ini yang dipilih oleh Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dan ini yang rajih (kuat), insya Allah.
Inilah kaffarah yang diperintahkan oleh Allah l, tiga perkara yang disebut pertama bebas dipilih salah satunya. Apabila tidak memungkinkan salah satu dari ketiganya, barulah melangkah ke perkara yang keempat. Apabila seseorang langsung melakukan perkara yang keempat padahal salah satu dari ketiga perkara yang pertama memungkinkan untuk dilakukan, maka kaffarahnya tidak sah dan dia masih dituntut kewajiban membayar kaffarah. Adapun puasanya dianggap sebagai amalan tathawwu’ (sunnah) yang diberi pahala atasnya.1
Berdasarkan penjelasan ini, jika anda ingin membatalkan nadzar dan bermaksud untuk membuka toko lain sebelum toko makanan, hendaklah membayar kaffarah nadzar dengan rincian yang telah kami uraikan di atas. Wallahul muwaffiq.

1 Lihat Tafsir Ibnu Katsir, Asy-Syarhul Mumti’ (6/422-428)/Darul Atsar, Fathu Dzil Jalali wal Ikram Syarah Bulughul Maram [pen.]

Tuntunan Bagi Orang Yang Mendengar Adzan

(ditulis oleh: Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq)

Ada beberapa perkara yang semestinya dilakukan oleh yang mendengar adzan.
Pertama: Ia mengucapkan semisal yang diucapkan muadzin (menjawab adzan), namun tidak dengan suara keras seperti suaranya muadzin, karena muadzin menyeru/memberitahu orang lain sedangkan dia hanya menjawab muadzin. (Asy-Syarhul Mumti’, 2/83)
Abu Sa’id Al-Khudri z mengabarkan bahwa Rasulullah n bersabda:
إِذَا سَمِعْتُمُ النِّدَاءَ فَقُوْلُوْا مِثْلَ مَا يَقُوْلُ الْمُؤَذِّنُ
“Apabila kalian mendengar adzan maka ucapkanlah seperti yang sedang diucapkan muadzin.” (HR. Al-Bukhari no. 611 dan Muslim no. 846)
Ketika muadzin sampai pada pengucapan hay’alatani yaitu kalimat: حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ،              حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ disenangi baginya untuk menjawab dengan hauqalah yaitu kalimat:
لاَ حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ
sebagaimana ditunjukkan dalam hadits Umar ibnul Khaththab z. Ia berkata: Rasulullah n bersabda:
إِذَا قَالَ الْمُؤَذِّنُ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، فَقَالَ أَحَدُكُمُ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ؛ ثُمَّ قَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، فَقاَلَ: أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ؛ ثُمَّ قَالَ: أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، فَقَالَ: أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ؛ ثُمَّ قَالَ: حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ، قَالَ: لاَ حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ؛ ثُمَّ قَالَ: حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ، قَالَ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ؛ ثُمَّ قَالَ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، قَالَ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ؛ ثُمَّ قَالَ: لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، قَالَ: لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ؛ مِنْ قَلْبِهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ
Apabila muadzin mengatakan, “Allahu Akbar Allahu Akbar”, maka salah seorang dari kalian mengatakan, “Allahu Akbar Allahu Akbar.” Kemudian muadzin mengatakan, “Asyhadu An Laa Ilaaha Illallah”, maka dikatakan, “Asyhadu An Laa Ilaaha Illallah.” Muadzin mengatakan setelah itu, “Asyhadu Anna Muhammadan Rasulullah”, maka dijawab, “Asyhadu Anna Muhammadan Rasulullah.” Saat muadzin mengatakan, “Hayya ‘Alash Shalah”, maka dikatakan, “La Haula wala Quwwata illa billah.” Saat muadzin mengatakan, “Hayya ‘Alal Falah”, maka dikatakan, “La Haula wala Quwwata illa billah.” Kemudian muadzin berkata, “Allahu Akbar Allahu Akbar”, maka si pendengar pun mengatakan, “Allahu Akbar Allahu Akbar.” Di akhirnya muadzin berkata, “La Ilaaha illallah”, ia pun mengatakan, “La Ilaaha illallah” Bila yang menjawab adzan ini mengatakannya dengan keyakinan hatinya niscaya ia pasti masuk surga.” (HR. Muslim no. 848)
Namun boleh juga dia menjawabnya sebagaimana lafadz muadzin dengan hay’alatani حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ، حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ berdasarkan hadits Abu Sa’id Al-Khudri z yang telah kita sebutkan di atas. Al-Imam Ibnul Mundzir t menyatakan, “Ini termasuk ikhtilaf atau perbedaan yang mubah. Bila seseorang menghendaki maka ia mengucapkan sebagaimana ucapan muadzin, dan kalau mau ia mengucapkan sebagaimana dalam riwayat Mu’awiyah ibnu Abi Sufyan1 c. Yang mana saja ia ucapkan, maka ia benar.” (Al-Ausath, 4/30)

Jawaban Ketika Muadzin Berkata dalam Adzan Subuh “Ash-Shalatu Khairun minan Naum”
Lahiriah dari ucapan Nabi n:
إِذَا سَمِعْتُمُ النِّدَاءَ فَقُوْلُوْا مِثْلَ مَا يَقُوْلُ الْمُؤَذِّنُ
“Apabila kalian mendengar adzan maka ucapkanlah seperti yang sedang diucapkan muadzin,” adalah kita mengucapkan kalimat yang sama dengan muadzin, “Ash-Shalatu khairun minan naum.” Inilah pendapat yang shahih. Adapun menjawabnya dengan:
صَدَقْتَ وَبَرَرْتَ
Artinya: Engkau benar dan engkau telah berbuat baik, adalah pendapat yang lemah tidak bersandar dengan dalil. (Asy-Syarhul Mumti’, 2/92)

Ganjaran Surga bagi yang Menjawab Adzan dengan Yakin
Siapa yang menjawab adzan dengan meyakini apa yang diucapkannya maka dia mendapat janji surga dari Rasulullah n sebagaimana dalam hadits Abu Hurairah z. Ia berkata:
كُنَّا مَعَ رَسُوْلِ اللهِ n فَقَامَ بِلاَلٌ يُنَادِي، فَلَمَّا سَكَتَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ n: مَنْ قَالَ مِثْلَ مَا قَالَ هَذَا يَقِيْنًا دَخَلَ اْلَجّنَّةَ
Pernah ketika kami sedang bersama Rasulullah n, Bilal bangkit untuk menyerukan adzan. Tatkala Bilal diam, Rasulullah n bersabda, “Siapa yang mengucapkan seperti ucapannya muadzin disertai dengan keyakinan maka ia pasti masuk surga.” (HR. An-Nasa’i no. 674, dihasankan Al-Imam Albani t dalam Shahih Sunan An-Nasa’i)

Hukum Menjawab Adzan
Tentang hukum menjawab adzan ini, ulama berbeda pendapat. Sebagian Hanafiyyah, ahlu zahir, Ibnu Wahb, dan yang lainnya berpendapat wajib menjawab adzan bagi yang mendengar adzan, dengan mengambil lahiriah hadits yang datang dengan lafadz perintah, sedangkan perintah menunjukkan wajib. Adapun jumhur ulama berpendapat hukumnya sunnah, tidak wajib, dengan dalil hadits Anas bin Malik z yang menyebutkan bahwasanya:
سَمِعَ رَجُلًا يَقُولُ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ؛ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ: عَلَى الْفِطْرَةِ. ثُمَّ قَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ: خَرَجْتَ مِنَ الناَّرِ
(Rasulullah n) pernah mendengar seseorang yang adzan mengatakan, “Allahu Akbar, Allahu Akbar.” Rasulullah menjawab, “Dia di atas fithrah.” Kemudian muadzin itu berkata, “Asyhadu An Laa Ilaaha Illallah. Asyhadu An Laa Ilaaha Illallah.” Rasulullah berkata, “Engkau keluar dari neraka.” (HR. Muslim no. 845)
Dalam hadits di atas, Rasulullah n mengucapkan ucapan yang berbeda dengan muadzin, berarti mengikuti ucapan muadzin tidaklah wajib.
Dalil lainnya adalah ucapan Nabi n kepada Malik ibnul Huwairits dan teman-temannya g:
فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلاَةُ فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدُكُمْ
“Apabila datang waktu shalat, hendaklah salah seorang dari kalian menyerukan adzan untuk kalian.” (HR. Al-Bukhari no. 628, 7246 dan Muslim no. 1533)
Nabi n tidak mengatakan, “Hendaklah orang lain yang mendengarnya mengikuti adzan tersebut.” Seandainya menjawab adzan itu wajib niscaya Nabi n tidak akan menunda keterangannya dari waktu yang dibutuhkan. Karena, ketika itu beliau tengah memberikan pengajaran kepada Malik dan teman-temannya. (Fathu Dzil Jalali wal Ikram 2/195, Asy-Syarhul Mumti’, 2/82,83)
Al-Imam Malik t dalam Al-Muwaththa’ (no. 236), meriwayatkan bahwa Tsa’labah ibnu Abi Malik Al-Qurazhi menyatakan mereka dulunya di zaman ‘Umar ibnul Khaththab z mengerjakan shalat pada hari Jum’at hingga Umar keluar dari rumahnya masuk ke masjid. Bila Umar telah masuk masjid dan duduk di atas mimbar, muadzin pun mengumandangkan adzan. Kata Tsa’labah, “Kami duduk sambil berbincang-bincang. Ketika muadzin telah selesai dari adzannya dan Umar berdiri untuk berkhutbah, kami pun diam mendengarkan. Tak ada seorang dari kami yang berbicara.”
Seandainya menjawab adzan itu wajib niscaya mereka akan mengikuti ucapan muadzin dan tidak berbicara yang lain.
Demikian juga diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d t, dari Musa ibnu Thalhah ibnu Ubaidullah, ia berkata, “Aku melihat Utsman ibnu Affan z berbincang-bincang dengan orang-orang menanyakan dan meminta informasi dari mereka tentang harga dan berita-berita lainnya, padahal ketika itu muadzin sedang menyerukan adzan.” (Sanadnya shahih sesuai syarat Al-Bukhari dan Muslim, Ats-Tsamar 1/180)
Pendapat jumhur inilah yang kami pilih, wallahu ta’ala a‘lam. Akan tetapi yang perlu kita camkan walaupun hukumnya sunnah bukan berarti ketika diserukan adzan –tanpa ada kepentingan ataupun hajat– kemudian ditinggalkan begitu saja dan tidak diamalkan dari menjawabnya, sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian manusia pada hari ini, wallahul musta’an. (Syarhu Ma’anil Atsar 1/188-189, Al-Muhalla 2/184, Bada’iush Shana’i 1/486, Subulus Salam 2/62, Nailul Authar 1/511)
Al-Imam An-Nawawi t berkata: “Sunnah menjawab adzan ini berlaku bagi orang yang di atas thaharah, bagi yang berhadats, orang junub, wanita haid, dan selain mereka, selama tidak ada penghalang untuk menjawabnya, seperti sedang menunaikan hajat di WC, sedang berhubungan intim dengan istrinya, atau sedang mengerjakan shalat.” (Al-Minhaj 4/309 dan Al-Majmu’ 3/125)

Faedah
“Zikir muqayyad memutuskan zikir muthlaq”, walaupun dalam posisi zikir muthlaq tersebut lebih afdal daripada zikir muqayyad. Yang dimaksud zikir muqayyad adalah zikir yang waktunya khusus/tertentu, sedangkan zikir muthlaq tidak ada penentuan waktunya. Sehingga bila engkau mendengar muadzin sementara engkau sedang membaca Al-Qur’an maka yang utama engkau mengucapkan seperti yang diucapkan muadzin, walaupun engkau harus berhenti dari membaca Al-Qur’an. Karena menjawab adzan ini merupakan zikir muqayyad dengan waktu yang khusus, sedangkan membaca Al-Qur’an tidak memiliki waktu khusus, kapan engkau mau, engkau bisa membacanya2. (Al-Mughni, kitab Ash-Shalah, bab Al-Adzan, Mas’alah: Wa Yustahabbu liman Sami’al Muadzdzin An Yaqula kama Yaqulu)
Tidak dibolehkan menjamak/mengumpulkan antara membaca Al-Qur’an dengan menjawab adzan. Karena kalau kita membaca Al-Qur’an, kita akan terlalaikan dari mendengar adzan. Sebaliknya bila kita mengikuti ucapannya muadzin, kita terlalaikan dari membaca Al-Qur’an. (Fathu Dzil Jalali wal Ikram, 2/196,197)

Menjawab Adzan Bagi Seseorang Yang Sedang Shalat
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah t dalam Al-Ikhtiyarat (hal. 39) memandang, bagi seorang yang sedang shalat ketika mendengar adzan untuk menjawabnya karena keumuman perintah yang ada di dalam hadits. Juga, menjawab adzan muadzin termasuk zikir yang tidak bertentangan dengan shalat.
Akan tetapi pendapat yang masyhur dalam madzhab Al-Imam Ahmad t dan yang lainnya adalah ia tidak menjawab adzan yang didengarnya. Inilah pendapat yang shahih. Karena adzan merupakan zikir panjang yang dapat membuat orang yang shalat tersibukkan dari shalatnya. Sementara dalam shalat ada kesibukan tersendiri, sebagaimana sabda Rasulullah n:
إِنَّ فيِ الصَّلاَةِ لَشُغُلاً
“Sesungguhnya dalam shalat itu ada kesibukan.” (HR. Al-Bukhari no. 1199 dan Muslim no. 1201)
Orang yang sedang shalat disibukkan dengan zikir-zikir shalat.
Beda halnya zikir yang pendek, cuma satu kalimat, misalnya mengucapkan alhamdulillah ketika bersin dalam keadaan ia sedang shalat. Sementara adzan terdiri dari banyak kalimat, yang jelas akan memutus konsentrasi seseorang dari shalatnya karena ia harus diam mendengarkan apa yang diucapkan muadzin untuk kemudian diikutinya. Padahal bila ia shalat bersama imam, tidak sepantasnya ia diam mendengar kecuali terhadap bacaan imam saja. Sehingga pendapat yang shahih adalah orang yang sedang shalat tidak menjawab adzan. (Al-Mughni, kitab Ash-Shalah, bab Al-Adzan, Mas’alah: Wa Yustahabbu liman Sami’al Muadzdzin An Yaqula kama Yaqulu; Asy-Syarhul Mumti’, 2/84)
Al-Imam An-Nawawi t berkata, “Madzhab kami yang masyhur adalah dibenci bagi orang shalat mengikuti (menjawab) adzan, sama saja baik shalatnya fardhu ataukah nafilah (sunnah). Demikian pendapat sekelompok salaf. Al-Imam Malik t memiliki tiga pendapat/riwayat dalam masalah ini, salah satunya adalah ia mengikuti muadzin. Pendapat keduanya adalah ia mengikuti/menjawab saat adzan hanya dalam shalat nafilah, namun tidak boleh dalam shalat fardhu.” (Al-Majmu’, 3/127)

Bila Terdengar Beberapa Adzan Dari Beberapa Masjid
Bila terdengar adzan dari beberapa masjid maka adzan manakah yang kita jawab?
Hadits dalam masalah menjawab adzan menyebutkan secara mutlak, “Apabila kalian mendengar adzan maka ucapkanlah seperti yang sedang diucapkan muadzin.” Tidak ada pembatasan muadzin yang pertama atau muadzin yang kesekian, atau muadzin di masjid yang dekat dengan rumah kalian. Berarti menjawab adzan ini berlaku untuk semua adzan yang didengar. Misalnya muadzin di satu masjid adzan, kita menjawabnya sampai selesai adzan tersebut. Lalu terdengar adzan lagi dari masjid yang lain, kita jawab lagi sampai selesai. Demikian seterusnya. Akan tetapi bila adzan-adzan tersebut saling bersusulan (bersahut-sahutan) maka kita meneruskan untuk menjawab adzan yang pertama kali kita jawab sebelum terdengar adzan yang lain. Namun bila ternyata adzan yang belakangan lebih keras dan lebih jelas sehingga adzan yang pertama kita dengar terkadang tertutupi (tidak terdengar), maka kita mengikuti adzan yang kedua. (Fathu Dzil Jalali wal Ikram, 2/198-199)

Hukum Berbicara Di Sela-Sela Menjawab Adzan
Tidak ada larangan berbicara di sela-sela menjawab adzan, namun lebih utama ia diam mendengarkan dan menjawabnya. Beda halnya bila ia sedang membaca Al-Qur’an, ia tidak boleh menjawab adzan di sela-sela bacaannya sehingga tercampur antara suatu zikir yang bukan bagian dari Al-Qur’an dengan ayat-ayat Al-Qur’an. Yang semestinya, ia menghentikan bacaan Al-Qur’annya untuk menjawab adzan. (Fatwa Asy-Syaikh Abdullah ibnu Abdirrahman t, seorang alim dari negeri Najd, Ad-Durarus Saniyyah fil Ajwibah An-Najdiyyah 4/213, 214).

Kedua: Perkara berikutnya yang disunnahkan bagi orang yang mendengar adzan adalah bila selesai menjawab adzan, ia bershalawat untuk Nabi n dengan dalil hadits Abdullah ibnu Amr ibnul Ash c. Ia pernah mendengar Nabi n bersabda:
إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ فَقُوْلُوْا مِثْلَ مَا يَقُوْلُ، ثُمَّ صَلُّوْا عَلَيَّ، فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا، ثُمَّ سَلُوْا اللهَ لِي الْوَسِيْلَةَ، فَإِنهَّاَ مَنْزِلَةٌ فِي الْجَنَّةِ لاَ تَنْبَغِي إِلاَّ لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللهِ وَأَرْجُوْا أَنْ أَكُوْنَ أَنَا هُوَ، فَمَنْ سَأَلَ لِي الْوَسِيْلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ
“Apabila kalian mendengar adzan maka ucapkanlah sebagaimana yang diucapkan muadzin, kemudian bershalawatlah untukku, karena siapa yang bershalawat untukku niscaya Allah akan bershalawat untuknya sepuluh kali. Kemudian ia meminta kepada Allah al-wasilah atasku, karena al-wasilah ini merupakan sebuah tempat/kedudukan di surga, di mana tidak pantas tempat tersebut dimiliki kecuali untuk seseorang dari hamba Allah dan aku berharap, akulah orangnya. Siapa yang memintakan al-wasilah untukku maka ia pasti beroleh syafaat.” (HR. Muslim no. 847)
Ada beberapa lafadz shalawat, di antaranya yang paling ringkas adalah:
اللُّهَمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ وَبَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَآلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
“Ya Allah, berilah shalawat kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad. Berilah keberkahan kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad. Sebagaimana Engkau bershalawat dan memberikan keberkahan kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.”3
Adapun yang kita dapati hari ini berupa menyuarakan shalawat yang dilakukan oleh muadzin lewat mikrofon sebelum maupun setelah adzan, maka perbuatan tersebut bid’ah. Tidak pernah terjadi pada masa Nabi n, Al-Khulafa’ Ar-Rasyidin, maupun seluruh sahabat. Selain itu, ini akan disangka merupakan bagian dari adzan, sementara menambah lafadz adzan tidak diperkenankan dalam syariat. Seandainya itu baik, tentu salaf akan mendahului kita melakukannya dan akan diajarkan oleh Nabi n. (Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah, 6/89, 90, 109, 110 dan Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, 10/363)
Tidak disyariatkan pula mengucapkan ta’awudz (ucapan a’udzu billahi minasy syaithanir rajim) dan basmalah sebelum adzan, baik bagi muadzin maupun orang yang mendengarkan adzan. (Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah, 6/101)

Ketiga: Setelah bershalawat, orang yang mendengar adzan memohon al-wasilah untuk Nabi n dengan dalil hadits Abdullah ibnu Amr ibnul Ash c. Adapun doa memohon al-wasilah sebagaimana dalam hadits Jabir z, bahwa Nabi n bersabda:
مَنْ قَالَ حِيْنَ يَسْمَعُ النِّدَاءَ: اللُّهَمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ، آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيْلَةَ وَالْفَضِيْلَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُوْدًا الَّذِيْ وَعَدْتَهُ؛ حَلَّتْ لَهُ شَفَاعَتِيْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Siapa yang ketika mendengar adzan mengucapkan doa, “Ya Allah! Wahai Rabbnya seruan yang sempurna ini dan shalat yang akan ditegakkan ini, berikanlah kepada Muhammad al-wasilah dan keutamaan, dan bangkitkanlah beliau pada tempat yang dipuji (maqam mahmud) yang telah Engkau janjikan kepadanya4”, niscaya ia pasti akan beroleh syafaatku pada hari kiamat. (HR. Al-Bukhari no. 614, 4719)

Faedah
Al-Imam Ibnul Qayyim t berkata: “Rasulullah n adalah hamba yang paling besar ubudiyyah (penghambaan/ pengabdian)nya kepada Rabbnya, paling berilmu tentang Rabbnya, paling takut dan paling besar cintanya kepada Rabbnya. Maka kedudukan beliau paling dekat dengan Allah l, yaitu menempati derajat paling tinggi di surga. Nabi n memerintahkan umat beliau agar memohonkan untuk beliau derajat tinggi tersebut, yang dengan doa itu mereka akan beroleh kedekatan dengan Allah l dan tambahan iman. Juga Allah l menakdirkan derajat tersebut untuk beliau dengan sebab-sebab, di antaranya adalah doa umatnya untuk beliau agar mendapatkan derajat tersebut. Memang sepantasnya bagi umat ini mendoakan Nabi mereka, karena mereka bisa mengenal iman dan mengetahui petunjuk melalui tangan beliau. Semoga Allah l memberikan shalawat dan salam kepada beliau. (Hadil Arwah 1/134)

Keempat: Setelah itu, ia berdoa dengan doa apa saja yang ia inginkan terkait perkara dunia dan akhiratnya, niscaya akan diberikan permintaannya. Tatkala ada seseorang berkata kepada Nabi n:
يَا رَسُوْلَ اللهِ، إِنَّ الْمُؤَذِّنِيْنَ يُفَضِّلُوْنَنَا. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ: قُلْ كَمَا يَقُوْلُوْنَ، فَإِذَا انْتَهَيْتَ فَسَلْ تُعْطَهْ
“Wahai Rasulullah! Para muadzin melebihi kami.” Rasulullah bersabda, ”Ucapkanlah sebagaimana yang diucapkan muadzin. Bila engkau telah selesai (menjawab adzan), mintalah niscaya engkau akan diberi.” (HR. Abu Dawud no. 524, hadits ini hasan shahih kata Al-Imam Al-Albani t dalam Shahih Abi Dawud)
Rasulullah n pernah bersabda:
ثِنْتَانِ لاَ تُرُدَّانِ- أَوْ قَلَّمَا تُرَدَّانِ- الدُّعَاءُ عِنْدَ النِّدَاءِ وَعِنْدَ الْبَأْسِ حِيْنَ يُلْحِمُ بَعْضُهُمْ بَعْضًا
“Ada dua doa yang tidak ditolak –atau sedikit sekali ditolak– yaitu doa setelah adzan dan doa ketika perang saat sebagian mereka merapat dengan sebagian yang lain.” (HR. Abu Dawud no. 2540, hadits ini dishahihkan dalam Shahih Abi Dawud)
Dikabarkan pula oleh Rasulullah n bahwa waktu terkabulnya doa adalah antara adzan dan iqamat, sebagaimana disebutkan dalam hadits Anas ibnu Malik z secara marfu’:
إِنَّ الدُّعَاءَ لاَ يُرَدُّ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ فَادْعُوْا
“Sesungguhnya doa di antara adzan dan iqamat tidak ditolak, maka berdoalah kalian.” (HR. Ahmad 3/155, berkata Al-Imam Al-Albani t: sanadnya shahih, perawinya rijal shahih selain perawi yang bernama Buraid ibnu Abi Maryam, ia disepakati ketsiqahannya. Ats-Tsamar 1/198)
Saat yang demikian ini merupakan salah satu saat terkabulnya doa dan dibukanya pintu-pintu langit. (Al-Ikmal, 2/253)
Dibolehkan baginya untuk mengangkat kedua tangannya ketika berdoa, karena mengangkat tangan ketika berdoa adalah perkara yang diizinkan oleh syariat. Ketika berdoa, dia tidak mengeraskan suaranya. (Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah, 6/91-92)
Adapun mengusap wajah ketika selesai berdoa, sebagaimana dalam hadits Ibnu ‘Abbas c yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah t:
إِذَا دَعَوْتَ فَادْعُ اللهَ بِبُطُوْنِ كَفَّيْكَ، وَلاَ تَدْعُ بِظُهُوْرِهِمَا، فَإِذَا فَرَغْتَ فَامْسَحْ بِهِمَا وَجْهَكَ
“Apabila engkau berdoa, maka berdoalah kepada Allah dengan kedua telapak tanganmu dan jangan berdoa dengan punggung tanganmu. Lalu jika engkau telah selesai, usaplah wajahmu dengan kedua telapak tanganmu.”
maka hadits ini lemah, karena kelemahan Shalih bin Hassan, seorang perawinya. Dia didhaifkan oleh Al-Imam Ahmad, Ibnu Ma’in, Abu Hatim, dan Ad-Daruquthni rahimahumullah. Al-Imam Al-Bukhari t mengatakan tentangnya: “Munkarul hadits.”
Begitu pula hadits lain yang berkaitan mengusap wajah yang diriwayatkan oleh Al-Imam At-Tirmidzi t dari Umar ibnul Khaththab z, dalam sanadnya ada Hammad bin ‘Isa, dia bersendiri dalam meriwayatkan hadits dan dia seorang rawi yang lemah. Sehingga mengusap wajah setelah berdoa tidak benar penukilannya, baik dari sunnah qauliyyah ataupun amaliyyah. (Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 6/94-95)
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

1 Dalam hadits Mu’awiyah z disebutkan bahwa Mu’awiyah menjawab ucapan hay’alatani dengan hauqalah.
2 Contoh yang lain dari penerapan kaidah di atas: ketika mendengar gonggongan anjing dan ringkikan keledai maka yang diajarkan dalam As-Sunnah adalah berta’awudz (meminta perlindungan) kepada Allah l dari setan. Bila saat itu engkau sedang membaca Al-Qur’an, maka putuskanlah (sejenak) bacaanmu dan berlindunglah kepada Allah l dari setan yang terkutuk. (Fathu Dzil Jalali wal Ikram, 2/197)
3 Shalawat ini disebutkan dalam hadits Abu Hurairah z, ketika para sahabat bertanya kepada Rasulullah n bagaimana lafadz shalawat, beliau pun mengajarkan lafadz-lafadz ini. Hadits ini diriwayatkan oleh Ath-Thahawi t (3/75), kata Al-Imam Al-Albani t: “Hadits ini sanadnya shahih di atas syarat Muslim.” (Ashlu Shifati Shalatin Nabi n, 3/927)
4 Allah l menjanjikan kepada Rasulullah n untuk membangkitkan beliau pada maqam mahmud ini sebagaimana dalam firman-Nya:
“Mudah-mudahan Rabbmu membangkitkanmu pada maqam mahmud/tempat yang dipuji.” (Al-Isra: 79)

Pembunuh 100 Jiwa

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits)

Kisah ini pernah terjadi di zaman Bani Israil dahulu kala. Nabi n menceritakannya kepada umatnya agar menjadi pelajaran berharga dan teladan dalam kebaikan.
Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim rahimahumallah meriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri, Sa’id bin Malik bin Sinan c, bahwa Nabi n bersabda:
كَانَ فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ رَجُلٌ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا فَسَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الْأَرْضِ فَدُلَّ عَلَى رَاهِبٍ فَأَتَاهُ فَقَالَ إِنَّهُ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ؟ فَقَالَ: لاَ. فَقَتَلَهُ فَكَمَّلَ بِهِ مِائَةً ثُمَّ سَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الْأَرْضِ فَدُلَّ عَلَى رَجُلٍ عَالِمٍ فَقَالَ إِنَّهُ قَتَلَ مِائَةَ نَفْسٍ فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ؟ فَقَالَ: نَعَمْ، وَمَنْ يَحُولُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ التَّوْبَةِ، انْطَلِقْ إِلَى أَرْضِ كَذَا وَكَذَا فَإِنَّ بِهَا أُنَاسًا يَعْبُدُونَ اللهَ فَاعْبُدِ اللهَ مَعَهُمْ وَلاَ تَرْجِعْ إِلَى أَرْضِكَ فَإِنَّهَا أَرْضُ سَوْءٍ. فَانْطَلَقَ حَتَّى إِذَا نَصَفَ الطَّرِيقَ أَتَاهُ الْمَوْتُ فَاخْتَصَمَتْ فِيهِ مَلاَئِكَةُ الرَّحْمَةِ وَمَلاَئِكَةُ الْعَذَابِ فَقَالَتْ مَلاَئِكَةُ الرَّحْمَةِ: جَاءَ تَائِبًا مُقْبِلاً بِقَلْبِهِ إِلَى اللهِ. وَقَالَتْ مَلاَئِكَةُ الْعَذَابِ: إِنَّهُ لَمْ يَعْمَلْ خَيْرًا قَطُّ. فَأَتَاهُمْ مَلَكٌ فِي صُورَةِ آدَمِيٍّ فَجَعَلُوهُ بَيْنَهُمْ فَقَالَ: قِيسُوا مَا بَيْنَ الْأَرْضَيْنِ فَإِلَى أَيَّتِهِمَا كَانَ أَدْنَى فَهُوَ لَهُ. فَقَاسُوهُ فَوَجَدُوهُ أَدْنَى إِلَى الْأَرْضِ الَّتِي أَرَادَ فَقَبَضَتْهُ مَلاَئِكَةُ الرَّحْمَةِ. قَالَ قَتَادَةُ: فَقَالَ الْحَسَنُ: ذُكِرَ لَنَا أَنَّهُ لَمَّا أَتَاهُ الْمَوْتُ نَأَى بِصَدْرِهِ
Dahulu, di zaman orang-orang sebelum kalian, ada seorang laki-laki yang telah membunuh 99 jiwa. Dia pun bertanya tentang orang yang paling alim di muka bumi ketika itu, lalu ditunjukkan kepadanya tentang seorang rahib (pendeta, ahli ibadah). Maka dia pun mendatangi rahib tersebut lalu mengatakan bahwa sesungguhnya dia telah membunuh 99 jiwa, apakah ada taubat baginya?
Ahli ibadah itu berkata: “Tidak.” Seketika laki-laki itu membunuhnya. Maka dia pun menggenapi dengan itu (membunuh rahib) menjadi 100 jiwa. Kemudian dia menanyakan apakah ada orang yang paling alim di muka bumi ketika itu? Lalu ditunjukkanlah kepadanya tentang seorang yang berilmu. Maka dia pun mengatakan bahwa sesungguhnya dia telah membunuh 100 jiwa, apakah ada taubat baginya? Orang alim itu berkata: “Ya. Siapa yang menghalangi dia dari taubatnya? Pergilah ke daerah ini dan ini. Karena sesungguhnya di sana ada orang-orang yang senantiasa beribadah kepada Allah, maka beribadahlah kamu kepada Allah bersama mereka. Dan jangan kamu kembali ke negerimu, karena negerimu itu adalah negeri yang buruk/jahat.”
Maka dia pun berangkat. Akhirnya, ketika tiba di tengah perjalanan datanglah kematian menjemputnya, (lalu dia pun mati). Maka berselisihlah malaikat rahmat dan malaikat azab tentang dia.
Malaikat rahmat mengatakan: “Dia sudah datang dalam keadaan bertaubat, menghadap kepada Allah dengan sepenuh hatinya.”
Sementara malaikat azab berkata: “Sesungguhnya dia belum pernah mengerjakan satu amalan kebaikan sama sekali.”
Datanglah seorang malaikat dalam wujud seorang manusia, lalu mereka jadikan dia (sebagai hakim pemutus) di antara mereka berdua. Maka kata malaikat itu: “Ukurlah jarak antara (dia dengan) kedua negeri tersebut. Maka ke arah negeri mana yang lebih dekat, maka dialah yang berhak membawanya.”
Lalu keduanya mengukurnya, dan ternyata mereka dapatkan bahwa orang itu lebih dekat kepada negeri yang diinginkannya. Maka malaikat rahmat pun segera membawanya.
Kata rawi: Kata Qatadah: Al-Hasan mengatakan: “Disebutkan kepada kami, bahwa ketika kematian datang menjemputnya, dia busungkan dadanya (ke arah negeri tujuan).”
Hadits ini menceritakan kepada kita tentang orang yang telah membunuh 99 jiwa lalu dia menyesal dan bertaubat serta bertanya tentang ahli ilmu yang ada ketika itu. Kemudian ditunjukkan kepadanya seorang ahli ibadah.
Ternyata ahli ibadah itu hanyalah ahli ibadah, tidak mempunyai ilmu. Rahib tersebut menganggap besar urusan itu sehingga mengatakan: “Tidak ada taubat bagimu.” Laki-laki pembunuh itu marah lantas membunuh ahli ibadah tersebut. Lengkaplah korbannya menjadi 100 jiwa.
Kemudian dia tanyakan lagi tentang ahli ilmu yang ada di masa itu. Maka ditunjukkanlah kepadanya seorang yang alim. Lalu dia bertanya, apakah ada taubat baginya yang telah membunuh 100 jiwa? Orang alim itu menegaskan: “Ya. Siapa yang bisa menghalangimu untuk bertaubat? Pintu taubat terbuka lebar. Tapi pergilah, tinggalkan negerimu menuju negeri lain yang di sana ada orang-orang yang beribadah kepada Allah l, dan jangan pulang ke kampungmu, karena negerimu adalah negeri yang buruk.”
Akhirnya, lelaki itu pun pergi berhijrah. Dia berangkat meninggalkan kampung halamannya yang buruk dalam keadaan sudah bertaubat serta menyesali perbuatan dan dosa-dosanya. Dia pergi dengan satu tekad meninggalkan dosa yang dia lakukan, memperbaiki diri, mengisi hari esok dengan amalan yang shalih sebagai ganti kezaliman dan kemaksiatan yang selama ini digeluti.
Di tengah perjalanan menuju kampung yang baik, dengan membawa segudang asa memperbaiki diri, Allah l takdirkan dia harus mati.
Takdir dan kehendak Allah l jua yang berlaku. Itulah rahasia dari sekian rahasia Allah Yang Maha Bijaksana. Tidak mungkin ditanya mengapa Dia berbuat begini atau begitu. Tetapi makhluk-Nya lah yang akan ditanya, mengapa mereka berbuat begini dan begitu. Allah l Maha melakukan apa saja yang Dia inginkan.
Semua yang ada di alam semesta, baik yang terlihat maupun tidak terlihat adalah milik Allah k, ciptaan-Nya dan di bawah pengawasan serta pengaturan-Nya. Dia Yang menentukan setiap perbuatan seorang hamba, 50.000 tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi. Dia yang memberikan perangkat kepada seorang hamba untuk melakukan sesuatu. Dia pula yang memberi taufiq kepada hamba tersebut ke arah apa yang telah ditakdirkan-Nya.
Pembunuh 100 jiwa itu, adalah salah satu dari makhluk ciptaan Allah l. Dia ada di bawah kehendak dan kendali Allah l. Ketentuan dan takdir Allah l sudah pasti berlaku pula atasnya. Perbuatan zalim yang dikerjakannya adalah takdir Allah l. Taubat dan penyesalan yang dia rasakan dan dia inginkan adalah takdir dari Allah l. Alangkah beruntungnya dia. Tapi kalau begitu, zalimkah Allah l? Kejamkah Dia kepada hamba-Nya?
Jawabnya sudah pasti, tidak. Sama sekali tidak. Dari sisi manapun, Dia bukanlah Dzat yang zalim.
Apakah kezaliman itu? Kezaliman adalah berbuat sesuatu pada hal-hal yang bukan miliknya. Atau meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya.
Siapakah Allah l? Dan siapakah kita? Milik siapakah kita?
Kita milik Allah l. Dia-lah Yang telah menciptakan dan mengatur kita. Dia Maha Tahu yang tepat bagi hamba-Nya. Dia Maha Bijaksana, Dia meletakkan segala sesuatu sesuai pada tempatnya. Dia Maha Tahu apa yang diciptakan-Nya. Dia Maha Tahu apa yang terbaik bagi ciptaan-Nya. Allahu Akbar.
Lelaki itu meninggal dunia. Dia mati dalam keadaan belum ‘beramal shalih’ sekali pun. Dia hanya punya tekad memperbaiki diri, bertaubat dari semua kesalahan. Hal itu terwujud dari keinginannya bertanya kepada mereka yang dianggap berilmu: Apakah ada taubat baginya? Semua itu tampak dari tekadnya pergi meninggalkan masa lalu yang kelam, menyongsong cahaya hidayah dan kebaikan.
Alangkah besar karunia Allah l kepada dirinya. Alangkah besar rahmat Allah l kepada para hamba-Nya. Tetapi alangkah banyak manusia yang tidak mengetahui bahkan tidak mensyukuri nikmat tersebut.
Sungguh, andaikata kezaliman-kezaliman yang dikerjakan oleh Bani Adam ini harus diselesaikan dengan azab dan siksa di dunia, niscaya tidak akan ada lagi satu pun makhluk yang melata di atas muka bumi ini. Sungguh, seandainya kemurkaan Allah l yang lebih dahulu daripada rahmat-Nya, niscaya tidak akan pernah ada rasul yang diutus, tidak ada Kitab Suci yang diturunkan. Tidak ada ulama dan orang shalih serta berilmu yang memberi nasihat, peringatan, dan bimbingan. Bahkan tidak akan ada satu pun makhluk yang melata di muka bumi ini.
Allah l berfirman:
“Dan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan usahanya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu makhluk yang melata pun akan tetapi Allah menangguhkan (penyiksaan) mereka, sampai waktu yang tertentu; maka apabila datang ajal mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya.” (Fathir: 45)
Kerusakan yang terjadi di muka bumi ini, di daratan maupun di lautan tidak lain adalah akibat ulah manusia. Sementara kesempatan hidup yang diberikan kepada mereka membuat mereka lupa, bahkan semakin menambah kedurhakaan mereka. Ingatlah firman Allah l:
“Maka serahkanlah (ya Muhammad) kepada-Ku (urusan) orang-orang yang mendustakan perkataan ini (Al-Qur’an). Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui, dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amat teguh.” (Al-Qalam: 44-45)
Maka jelas pulalah bagi kita alangkah jahatnya ucapan orang yang mengatakan: “Saya tidak suka tuhan yang kejam.”
Andaikata yang dia maksud adalah Allah l, maka hanya ada dua kemungkinan pada diri orang seperti ini, kafir (murtad) atau kurang akalnya (idiot). Apabila sudah dia terima bukti dan keterangan tapi masih menolak dan mengingkari, maka dikhawatirkan dia telah keluar dari Islam.
Betapa luas nikmat Allah l kepada hamba-Nya. Siang malam Dia memerhatikan serta mencurahkan rahmat dan kasih sayang-Nya kepada mereka. Tetapi mereka justru menampakkan kebencian kepada Allah l dengan senantiasa mengerjakan maksiat sepanjang siang dan malam.
Maka dari itu:
“Maka terhadap nikmat Rabbmu yang manakah kamu ragu-ragu?” (An-Najm: 55)
Dan:
“Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (Ar-Rahman: 75)
Di antara rahmat Allah l juga adalah seperti yang diriwayatkan Al-Imam Muslim t dari Anas bin Malik z:
لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ حِينَ يَتُوبُ إِلَيْهِ مِنْ أَحَدِكُمْ كَانَ عَلَى رَاحِلَتِهِ بِأَرْضِ فَلَاةٍ فَانْفَلَتَتْ مِنْهُ وَعَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ فَأَيِسَ مِنْهَا فَأَتَى شَجَرَةً فَاضْطَجَعَ فِي ظِلِّهَا قَدْ أَيِسَ مِنْ رَاحِلَتِهِ فَبَيْنَا هُوَ كَذَلِكَ إِذَا هُوَ بِهَا قَائِمَةً عِنْدَهُ فَأَخَذَ بِخِطَامِهَا ثُمَّ قَالَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ: اللَّهُمَّ أَنْتَ عَبْدِي وَأَنَا رَبُّكَ. أَخْطَأَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ
“Benar-benar Allah sangat gembira dengan taubat hamba-Nya ketika dia bertaubat kepada-Nya daripada salah seorang kamu yang berada di atas kendaraannya di sebuah tanah padang yang sunyi, lalu kendaraan itu lepas (lari) meninggalkannya, padahal di atasnya ada makanan dan minumannya. Akhirnya dia putus asa mendapatkannya kembali. Maka dia pun mendatangi sebatang pohon lalu berbaring di bawah naungannya, dalam keadaan putus asa dari kendaraannya. Ketika dia dalam keadaan demikian, ternyata tiba-tiba kendaraan itu berdiri di dekatnya. Lalu dia pun menggenggam tali kekangnya dan berkata saking gembiranya: ‘Ya Allah, Engkau hambaku dan aku Rabbmu.’ Dia salah ucap karena saking gembiranya.”
Inilah Hakikat Hijrah
Hijrah adalah salah satu kewajiban ajaran Islam, salah satu amalan shalih paling utama, bahkan merupakan sebab keselamatan agama seseorang serta perlindungan bagi imannya. Hijrah terbagi menjadi beberapa bagian, di antaranya ialah hijrah meninggalkan apa yang diharamkan Allah l dan Rasul-Nya n atas setiap mukallaf. Maka, orang yang bertaubat dari kemaksiatan yang telah lalu berarti dia telah berhijrah meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah l dan Rasul-Nya n.
Sedangkan seorang muslim, dibebankan kepadanya agar meninggalkan segala yang diharamkan oleh Allah l.
Nabi n bersabda:
إِنَّ الْمُهَاجِرَ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللهُ عَنْهُ
“Sesungguhnya, muhajir sejati adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.” (HR. Ahmad, no. 6912)
Sabda Nabi n ini sekaligus perintah, meliputi semua perbuatan haram baik dalam bentuk ucapan maupun perbuatan.
Apa yang disabdakan Nabi n ini meliputi pula hijrah lahir dan hijrah batin. Hijrah lahir adalah lari membawa tubuhnya menyelamatkan diri dari fitnah. Sedangkan hijrah batin adalah meninggalkan apa saja yang menjadi ajakan hawa nafsu yang senantiasa memerintahkan kepada kejelekan dan apa-apa yang dijadikan indah oleh setan. Hijrah kedua ini merupakan dasar bagi hijrah yang pertama.
Allah l berfirman:
“Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (An-Nisa’: 100)
Asy-Syaikh As-Sa’di t dalam tafsirnya tentang ayat ini mengatakan:
Kemudian firman Allah l:
“Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya”, maksudnya yang sengaja menuju Rabbnya, mengharap ridha-Nya, karena cinta kepada Rasul-Nya, dan demi membela agama Allah l, serta bukan karena tujuan lain,
“Kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju)”, karena terbunuh atau sebab lainnya,
“Maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah.” Yakni, pahala muhajir yang mencapai tujuannya dengan jaminan dari Allah l telah dia terima. Hal itu karena dia telah berniat dan bertekad; dia telah memulai kemudian segera mulai mengerjakannya. Maka termasuk rahmat Allah l atasnya dan orang-orang seperti dia adalah Allah l memberinya pahala sempurna. Meskipun mereka belum mengerjakan amalan mereka secara tuntas, serta mengampuni mereka dengan kekurangan yang ada pada hijrah atau amalan tersebut.
Sebab itulah, Allah l akhiri ayat ini dengan dua nama-Nya yang mulia dalam firman-Nya:
“Dan adalah Allah Maha pengampun lagi Maha penyayang.” Dia memberi ampunan bagi kaum mukminin yang mengerjakan dosa terutama mereka yang bertaubat kepada Rabb mereka. Dia Maha penyayang kepada seluruh makhluk-Nya. Penyayang kepada kaum mukminin dengan memberi mereka taufiq agar beriman, mengajari mereka ilmu yang menambah keyakinan mereka, memudahkan mereka sebab-sebab menuju kebahagiaan dan kemenangan.

Beberapa Faedah
1. Seorang pembunuh, bisa diterima taubatnya. Dalilnya adalah firman Allah l:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (An-Nisa’: 48)
Inilah pendapat jumhur ulama. Adapun pendapat Ibnu ‘Abbas c bahwa tidak ada taubat bagi seorang pembunuh karena Allah l berfirman:
“Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (An-Nisa’: 93)
Mungkin bisa dibawa kepada pengertian bahwa tidak ada taubat sehubungan dengan korban yang terbunuh. Karena si pembunuh terkait dengan tiga hak sekaligus: hak Allah l, hak korban yang dibunuhnya, dan hak ahli waris korban (walinya).
Adapun hak Allah l, tidak disangsikan lagi bahwa Allah l akan mengampuninya dengan adanya taubat dari pelaku maksiat tersebut, sebagaimana firman Allah l:
“Katakanlah: ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’.” (Az-Zumar: 53)
Juga firman Allah l:
“Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah, tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman, dan mengerjakan amal shalih. Maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.” (Al-Furqan: 68-71)
Adapun hak korban yang dibunuhnya, maka taubat si pembunuh tidaklah berguna dan jelas belum tertunaikan hak korbannya, karena korban itu sudah mati. Tidak mungkin pula sampai pada tingkat dia minta penghalalan atau lepas dari tuntutan darahnya. Jadi, inilah yang masih tersisa serta menjadi beban tuntutan di pundak si pembunuh, meskipun dia sudah bertaubat. Sedangkan pada hari kiamat, maka Allah l akan memutuskan perkara di antara mereka.
Sedangkan hak ahli waris (wali) korban, maka taubat si pembunuh juga tidak sah hingga dia menyerahkan dirinya kepada mereka, mengakui perbuatannya, dan menyerahkan kepada mereka, apakah dia harus dihukum mati (qishash), membayar diyat (tebusan), atau mereka memaafkannya.
2. Dalam hadits kisah ini, disyariatkan untuk bertaubat dari semua dosa besar. Mungkin, ketika Allah l menerima taubat seorang pembunuh, Dia menjamin keridhaan lawan (korban)nya, dan Dia kembalikan kezalimannya. Inilah salah satu rahmat dan keadilan Allah l.
3. Kisah ini melarang kita membuat orang lain putus asa dari dosa besar yang dikerjakannya. Allah l sendiri telah menerangkan bahwa Dia tidak akan menjadikan kekal di neraka orang yang mati dalam keadaan bertauhid, sebagaimana dalam hadits Anas z yang diriwayatkan At-Tirmidzi t:
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّه ِn يَقُولُ: قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: يَا ابْنَ آدَمَ، إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ وَلَا أُبَالِي، يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ وَلَا أُبَالِي، يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِي لَا تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً
Saya mendengar Rasulullah n bersabda: “Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: ‘Wahai Bani Adam, sesungguhnya selama engkau berdoa kepada-Ku, mengharapkan-Ku, niscaya Aku beri ampun kepadamu atas apa yang ada padamu, dan Aku tidak peduli. Wahai Bani Adam, seandainya dosa-dosamu mencapai langit kemudian kamu minta ampun kepada-Ku niscaya Aku beri ampunan kepadamu, dan Aku tidak peduli. Wahai Bani Adam, sungguh, seandainya engkau datang kepada-Ku membawa dosa sepenuh bumi kemudian engkau bertemu dengan-Ku dalam keadaan tidak menyekutukan Aku dengan apapun, pasti Aku datang kepadamu dengan membawa ampunan sepenuh itu juga.”
Namun, bisa jadi pula dia diampuni dan tidak masuk neraka sama sekali, atau diazab sebagaimana pelaku maksiat lainnya dari kalangan orang yang bertauhid lalu dikeluarkan menuju ke dalam jannah. Maka janganlah berputus asa dari rahmat Allah l dan jangan pula membuat orang lain berputus asa darinya. Allah l berfirman tentang Khalil-Nya, Ibrahim q:
“Ibrahim berkata: ‘Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Rabbnya, kecuali orang-orang yang sesat’.” (Al-Hijr: 56)
4. Di dalam kisah ini terdapat pula keutamaan berpindah dari negeri yang di sana seseorang bermaksiat, apakah karena adanya teman dan fasilitas yang mendukung atau hal-hal lainnya.
5. Dari kisah ini pula jelaslah betapa seseorang tidak mungkin selamat dan lolos dari azab kecuali dengan beratnya timbangan kebaikan dirinya meski hanya sebesar biji sawi. Maka dari itu, sudah semestinyalah orang yang bertaubat memperbanyak amal kebaikannya.
6. Termasuk tugas seorang yang bertaubat –kalau dia bukan orang yang berilmu– hendaknya dia pelajari apa saja yang wajib atas dirinya di masa yang akan datang dan apa yang haram dikerjakannya.
7. Perlu pula diingat dalam kisah ini, bahwasanya lingkungan yang baik, bergaul dengan orang shalih akan menambah iman seseorang. Sedangkan segala kerusakan, petaka dan penyimpangan, tumbuhnya tidak lain karena adanya dukungan para setan dan bala tentaranya, termasuk dari kalangan manusia yang senantiasa membuka pintu kelalaian dan syahwat serta tidak mendukungnya kepada kebaikan dan ketaatan.
Sungguh indah peringatan Rasulullah n dalam hadits Abu Musa Al-Asy’ari z:
مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسُّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيْرِ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الْكِيْرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً
“Perumpamaan teman duduk yang baik dan teman duduk yang buruk adalah seperti pembawa misik dan pandai besi. Adapun si pembawa misik (minyak wangi), mungkin dia akan memberimu, atau kamu membeli darinya, atau kamu dapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, mungkin dia akan membakar pakaianmu, atau kamu dapatkan bau tidak sedap darinya.”
8. Satu hal yang harus kita ingat dari kisah ini, tekad dan niat ikhlas si pembunuh, itulah yang mengantarnya kepada rahmat Allah l yang teramat luas. Meski belum mengisi lembaran hidup barunya dengan kebaikan, tetapi tekad dan niat ikhlas ini sangat bernilai di sisi Allah l. Inilah salah satu buah dan keutamaan tauhid yang murni.
Mudah-mudahan Allah l membimbing kita membersihkan hati kita dari kekotoran syirik dan maksiat sampai kita bertemu dengan-Nya dalam keadaan membawa hati yang selamat. Amin.

Menyikapi Nikmat Dunia Sebagai Ujian

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Abdulmu’thi, Lc)
Adalah suatu anggapan yang keliru bila cobaan hanya terbatas pada yang tidak mengenakkan saja.
Sebut misalnya kefakiran dan penyakit. Pandangan yang sempit tentang cobaan tersebut merupakan akibat dari ketidaktahuan seorang tentang kehidupan dunia. Padahal Allah l di banyak ayat Al-Qur’an telah menegaskan, demikian pula Rasulullah n di sekian haditsnya, bahwa nikmat dan kesenangan duniawi merupakan ujian bagi hamba sebagaimana kesengsaraan hidup juga dijadikan cobaan. Allah l berfirman:
“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya) dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (Al-Anbiya’: 35)
Ibnu Abbas c berkata menafsirkan ayat ini: “(Kami uji kalian) dengan kesusahan dan kesenangan, dengan sehat dan sakit, dengan kekayaan dan kefakiran, serta dengan yang halal dan yang haram. Semuanya adalah ujian.”
Ibnu Yazid t mengatakan: “Kami uji kalian dengan sesuatu yang disenangi dan yang dibenci oleh kalian, agar Kami melihat bagaimana kesabaran dan syukur kalian.”
Al-Kalbi t berkata: “(Maksud Kami uji) dengan kejelekan adalah yang berupa kefakiran dan musibah. Sedangkan diuji dengan kebaikan adalah yang berupa harta dan anak.”
Dalam ayat lain, Allah l juga berfirman:
“Adapun manusia apabila Rabbnya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: ‘Rabbku telah memuliakanku.’ Adapun bila Rabbnya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: ‘Rabbku menghinakanku.’ Sekali-kali tidak (demikian).” (Al-Fajr: 15-17)
Perhatikanlah ayat-ayat ini, bagaimana Allah l menguji hamba-Nya dengan memberikan kemuliaan, nikmat, dan keluasan rezeki, sebagaimana pula Allah l mengujinya dengan menyempitkan rezeki. Dalam ayat ini Allah l mengingkari orang yang menyangka bahwa diluaskannya rezeki seorang hamba merupakan bukti pemuliaan Allah l kepadanya dan bahwa disempitkannya rezeki adalah bentuk dihinakannya hamba. Allah l mengingkari dengan mengatakan ﮪﮫ (Sekali-kali tidak), yakni bahwa perkara yang sebenarnya tidak seperti yang diucapkan oleh (sebagian) orang. Bahkan Aku (Allah l) terkadang menguji dengan nikmat-Ku, sebagaimana terkadang Aku memberi nikmat dengan cobaan-Ku.
Di sana juga masih banyak ayat yang semakna dengan yang telah disebutkan. Misalnya:
“Dan Dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebagian kamu atas sebagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu.” (Al-An’am: 165)
Juga firman-Nya:
“Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik amalannya.” (Al-Kahfi: 7) [lihat ‘Uddatush Shabirin, karya Ibnul Qayyim t hal. 247-248, cet. Darul Yaqin]
Nabi n juga bersabda:
إِنَّ لِكُلِ أُمَّةٍ فِتْنَةً وَفِتْنَةُ أُمَّتِي الْمَالُ
“Sesungguhnya bagi tiap umat ada fitnah (ujian yang menyesatkan), dan fitnah umatku adalah harta.” (Shahih Sunan At-Tirmdzi no. 2336)
Sufyan t mengatakan: “Bukan termasuk yang mendalam ilmunya bila seseorang tidak menganggap bala (musibah) sebagai nikmat dan kenikmatan sebagai cobaan.” (lihat ‘Uddatush Shabirin hal. 211)
Musibah dianggap sebagai nikmat karena musibah yang menimpa seorang mukmin adakalanya sebagai penghapus dosa yang dilakukannya, atau untuk meninggikan derajatnya, atau sebagai cambuk peringatan agar dia kembali ke jalan Allah l.

Syukur Nikmat
Segala nikmat yang diperoleh hamba dalam bentuk apapun, baik yang bersifat materi atau non-materi, yang bersifat duniawi atau ukhrawi, maka menuntut untuk disyukuri. Tentunya semakin banyak dan besar suatu pemberian maka kewajiban untuk bersyukur pun semakin besar. Ketika menyebutkan nikmat yang diberikan kepada Nabi Dawud  q dan keluarganya berupa nikmat duniawi serta ukhrawi, yang Allah l tidak berikan kepada kebanyakan orang, Allah l berfirman:
“Beramallah wahai keluarga Dawud untuk bersyukur (kepada Allah), dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih.” (Saba’: 13)
Sebagian salaf berkata: “Tatkala dikatakan hal ini kepada keluarga Dawud, maka tidaklah datang suatu waktu kecuali di tengah-tengah mereka ada yang melakukan shalat. Adalah Khalid bin Shafwan tatkala masuk menemui Khalifah Umar bin Abdul ‘Aziz t, ia mengatakan: ‘Wahai amirul mukminin, sesungguhnya Allah l tidak ridha ada seseorang kedudukannya di atasmu, maka janganlah kamu mau ada orang lebih bersyukur dari kamu’.” (Syarh Hadits Syaddad, Ibnu Rajab t, hal.41-42)
Bersyukur merupakan ibadah yang besar, sebagaimana firman-Nya:
“Dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.” (An-Nahl: 114)
Mensyukuri nikmat juga sebab paling utama untuk dilanggengkannya nikmat serta ditambahkannya. Namun sebaliknya, mengkufuri nikmat dan menggunakannya pada kemaksiatan juga faktor utama dari dicabutnya nikmat. Allah l berfirman:
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu. Dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku) maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Ibrahim: 7)
Tentunya merupakan sikap yang sangat tercela bila seorang tidak mau berterima kasih kepada Sang Pemberi nikmat. Terlebih lagi sampai menggunakannya pada perkara yang mendatangkan kemurkaan Sang Pemberi. Bila seperti ini seseorang menyikapi pemberian Allah l, maka azab lebih dekat ketimbang rahmat, dan kenikmatan sudah di ambang pintu untuk meninggalkannya. Ini persis seperti yang dialami oleh kaum Saba’ dahulu. Di mana kaum Saba’ –nama suatu kabilah Arab yang tinggal di Ma’rib, Yaman– telah mampu membuat bendungan raksasa sehingga negeri itu subur dan makmur. Namun kemewahan dan kemakmuran ini menyebabkan mereka ingkar kepada Allah l dan mendustakan para rasul. Maka Allah l menimpakan azab berupa banjir hebat yang ditimbulkan oleh bobolnya bendungan Ma’rib. Kerajaan Saba’ yang waktu itu mencapai puncak kemewahan dan kemakmuran tinggal cerita. Negeri itu menjadi kering. Kerajaan Saba’ pun runtuh. Allah l telah kisahkan tentang runtuhnya kerajaan Saba’ dalam Al-Qur’an surat Saba’ ayat 15-17.
Mensyukuri nikmat meliputi beberapa perkara:
1. Meyakini dalam hati bahwa nikmat yang diterima semata-mata pemberian Allah l. Seperti inilah sikap seorang mukmin. Dia tidak menisbatkan nikmat kepada kekuatan, kepintaran, keberaniannya, dan semisalnya. Adalah Nabi Sulaiman q tatkala singgasana Ratu Saba’ bisa didatangkan di hadapannya dalam tempo sekejap, maka beliau berkata:
“Ini termasuk karunia Rabbku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya).” (An-Naml: 40)
Asy-Syaikh As-Sa’di t berkata: “Nabi Sulaiman q tidak teperdaya dengan (menyombongkan) kerajaan, kekuasaan, dan kemampuannya. Ini berbeda dengan kebanyakan para raja yang bodoh. Nabi Sulaiman q tahu bahwa ini adalah ujian dari Rabbnya, sehingga khawatir bila tidak mampu mensyukurinya.” (Tafsir As-Sa’di hal. 605)
Coba bandingkan dengan sikap dan ucapan Qarun yang menyombongkan kemampuannya, seperti yang Allah l kisahkan:
“Qarun berkata: ‘Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku’.” (Al-Qashash: 78)
Ucapan dan kesombongan Qarun sudah berlalu beribu-ribu tahun, namun sikapnya masih terus terwariskan sampai saat ini. Kerap sekali kita dengar ucapan yang senada dengannya, seperti: “Harta ini saya peroleh semata-mata karena hasil karya dan ketekunan (kerja keras) saya.” Padahal Allah l telah berfirman:
“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya). Dan bila kamu ditimpa oleh kemudaratan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.” (An-Nahl: 53)
2. Memuji Allah l atas segala karunia-Nya dengan mengucapkan puji syukur dan menceritakannya secara lahir. Karena, selalu mengingat dan menceritakan pemberian Allah l akan mendorong untuk bersyukur. Hal itu karena manusia mempunyai tabiat menyukai orang yang berbuat baik kepadanya.
3. Menggunakan nikmat untuk taat kepada Allah l bukan untuk maksiat, serta merealisasikan beragam amal shalih sebagai bentuk mensyukuri nikmat. Karena nikmat hanyalah titipan yang seharusnya dijaga dan tidak dipergunakan kecuali pada batasan-batasan yang dibolehkan agama. Apabila kita perhatikan perjalanan hidup para kekasih Allah l dari kalangan para nabi dan orang-orang shalih, niscaya kita dapati mereka adalah teladan dalam mensyukuri nikmat. Kedudukan dan kekuasaan yang ada pada mereka dijadikan sarana untuk menebarkan keadilan di tengah-tengah manusia. Harta yang mereka peroleh dibelanjakan pada pos-pos kebaikan serta untuk menyokong untuk kemuliaan Islam dan muslimin. Ilmu yang mereka dapatkan diamalkan dan ditebarkan tanpa mengharapkan apapun kecuali keridhaan Allah l. Lihat salah satu misal teladan terbaik bagi kita yaitu Nabi Muhammad n, bagaimana beliau banyak melakukan shalat malam hingga bengkak kakinya. Tatkala beliau ditanya tentang hal itu, padahal dosa dan kesalahannya yang telah lalu dan yang akan datang telah diampuni, maka beliau bersabda:
أَفَلَا أُحِبُّ أَنْ أَكُونَ عَبْداً شَكُورًا
“Mengapa aku tidak ingin menjadi hamba yang banyak bersyukur.” (HR. Al-Bukhari)

Tidak Tertipu Dengan Nikmat
Sahabat Ibnu Mas’ud z berkata: “Sesungguhnya Allah l telah menentukan watak kalian sebagaimana telah menentukan rezeki di antara kalian. Sesungguhnya Allah l juga memberi harta kepada orang yang Ia cintai dan orang yang Ia benci. (Namun) Allah l tidak memberi keimanan kecuali kepada yang Ia cintai.” (Shahih Al-Adab Al-Mufrad no. 209)
Allah l memberikan harta dan kedudukan kepada orang yang Dia cintai dari kalangan para nabi dan wali, seperti Nabi Sulaiman q dan shahabat ‘Utsman bin ‘Affan z. Sebagaimana Dia memberi kemewahan dunia sementara kepada para musuh-Nya semisal Fir’aun dan Qarun. Hal ini seperti yang Allah l firmankan:
“Kepada masing-masing golongan baik golongan ini maupun golongan itu Kami berikan bantuan dari kemurahan Rabbmu. Dan kemurahan Rabbmu tidak dapat dihalangi.” (Al-Isra’: 20)
Oleh sebab itu, janganlah seorang tertipu bila melihat orang kafir dan para pelaku maksiat diberi kemewahan dunia dan kedudukan terpandang. Karena itu adalah istidraj (jebakan) bagi hamba dari Allah l. Nabi n bersabda:
إِذَا رَأَيْتَ اللهَ تَعَالَى يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيْهِ فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِنهُ اسْتِدْرَاجٌ
“Bila kamu melihat Allah l memberi hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan) dari Allah.” (HR. Ahmad, dll, lihat Shahihul Jami’ no. 561)

Kenikmatan Dunia Bukan Ujian Ringan
Kenikmatan dunia dengan berbagai macamnya merupakan ujian yang berat. Sahabat ‘Abdurrahman bin ’Auf z berkata: “Dahulu kami diuji bersama Rasulullah n dengan kesengsaraan, maka kami (mampu) bersabar. Kemudian setelah Nabi n meninggal kami diuji dengan kesenangan maka kami tidak bersabar.” (Shahih Sunan At-Tirmidzi no. 2464)
‘Abdurrahman bin ‘Auf z hendak mengatakan bahwa mereka diuji dengan kefakiran, kesulitan, dan siksaan (musuh) maka mereka mampu bersabar. Namun tatkala (kesenangan) dunia, kekuasaan, dan ketenangan datang kepada mereka, maka mereka bersikap sombong. (Lihat Tuhfatul Ahwadzi)
Di saat kran dunia dibuka lebar-lebar, maka manusia akan berlomba-lomba untuk mendapatkannya meskipun ada sesuatu yang harus dikorbankan. Persaudaraan yang dahulu terjalin erat kini harus rusak berantakan karena ambisi kebendaan. Sikap saling cinta dan benci yang dahulu diukur dengan agama, sekarang sudah terbalik timbangannya. Karena dunia mereka menjalin persaudaraan. Karenanya pula mereka melontarkan kebencian. Dengan ini mereka tega memutuskan tali kekerabatan, mengalirkan darah, dan melakukan beragam kemaksiatan. Seperti inilah bila kemewahan dunia menjadi puncak tujuan seseorang. Rasulullah n bersabda:
مَا الْفَقْرُ أَخْشَى عَلَيْكُمْ وَلَكِنِّي أَخْشَى أَنْ تُبْسَطَ الدُّنْيَا عَلَيْكُمْ كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا فَتُهلِكُكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُم
“Bukanlah kefakiran yang aku takutkan atas kalian. Tetapi aku khawatir akan dibuka lebar (pintu) dunia kepada kalian, seperti telah dibuka lebar kepada orang sebelum kalian. Nanti kalian akan saling bersaing untuk mendapatkannya sebagaimana mereka telah bersaing untuknya. Nantinya (kemewahan) dunia akan membinasakan kalian seperti telah membinasakan mereka.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Adalah di akhir-akhir masa sahabat telah muncul gejala yang dikhawatirkan oleh Rasulullah n. Di mana fitnah kekuasaan telah memicu adanya peperangan. Persatuan mulai tercabik-cabik dan ketenangan sudah mulai terusik serta jiwa solidaritas melemah di antara manusia. Adalah ‘Abdullah bin Umar c berkata: “Sungguh kami telah mengalami suatu masa di mana tidak ada seorang pun (menganggap) lebih berhak dengan uang dinar dan dirhamnya yang dimilikinya lebih dari saudaranya yang muslim. Kemudian sekarang dinar dan dirham lebih dicintai oleh seorang daripada saudaranya yang muslim.” (Shahih Adab Al-Mufrad no. 81)
Tentunya, semakin jauh suatu masa dari zaman kenabian maka akan didapatkan kenyataan yang lebih pahit dan lebih menyedihkan dari sebelumnya. Tidak asing bila sekarang ada orang yang masih mengaku muslim namun tidak lagi peduli dengan kewajiban dan agamanya. Ambisi dunia telah menyita seluruh waktu, tenaga, dan hartanya. Seolah lisan hal-nya hendak mengatakan: “Hidup hanya di dunia, di sini kita hidup, di sini pula kita mati, dan tidak ada hari kebangkitan.” Orang seperti ini bila engkau ajak kepada kebaikan dan majelis ilmu, maka seribu alasan akan dikemukakan untuk tidak mendatanginya. Subhanallah, untuk dunia yang fana yang nantinya akan dia tinggalkan, segala kemampuan dia curahkan. Namun untuk amal kebaikan sebagai bekal untuk akhirat yang kekal ternyata tidak ada kesempatan barang sedikit pun.
Seseorang Akan Ditanya Tentang Nikmat
Nikmat bukan pemberian cuma-cuma yang kita bebas mempergunakannya semau kita. Bahkan ia merupakan amanah yang kita akan dimintai pertanggungjawabannya. Allah l berfirman:
“Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).” (At-Takatsur: 8)
Ibnu ‘Abbas c menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan nikmat di sini adalah sehatnya badan, pendengaran, dan penglihatan. Allah l menanyai hamba-hamba-Nya tentang nikmat tersebut, pada apa mereka pergunakan. Allah l menanyai mereka padahal Allah l lebih tahu tentangnya daripada mereka. Sebagian ahli tafsir mengatakan bahwa ayat tadi adalah berita dari Allah l bahwa seluruh nikmat akan ditanya oleh-Nya. Qatadah berkata: “Sesungguhnya Allah k menanyai semua hamba-Nya tentang apa yang Allah l telah titipkan kepada mereka berupa nikmat dan hak-Nya.” (lihat Tafsir Al-Qasimi, 7/379)
Nabi n bersabda:
لاَ تَزُولُ قَدَمُ ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ: عَنْ عُمُرِهِ فِيمَ أفنَاهُ؟ وَعَنْ شَبَابِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ؟ وَمَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ؟ وَمَا ذَا عَمِلَ فِيمَ عَلِمَ؟
“Tidak akan bergeser kaki anak Adam (manusia) dari sisi Rabbnya di hari kiamat hingga ditanya tentang lima hal. Tentang umurnya untuk apa ia gunakan, tentang masa mudanya pada apa ia habiskan, tentang hartanya darimana ia peroleh dan pada apa ia belanjakan, dan tentang apa yang ia amalkan dari ilmunya?” (Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi no. 2417, cet. Al-Ma’arif)
Wallahu a’lam.

Perkara yang Bermanfaat Bagi Seorang yang Telah Mati

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Abdillah Abdurrahman Mubarak)

Kematian adalah satu perkara yang pasti akan menjemput manusia. Tak seorang pun dapat mengelak darinya. Walau di mana pun, pasti maut menjemputnya. Ketika tiba saatnya malakul maut menjemput, tak ada seorang pun yang bisa menangguhkannya. Allah l berfirman:
“Setiap jiwa akan merasakan mati, dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (Ali ‘Imran: 185)
Allah l berfirman:
“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatimu kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh. Jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: ‘Ini adalah dari sisi Allah’, dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: ‘Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad).’ Katakanlah: ‘Semuanya (datang) dari sisi Allah.’ Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikit pun?” (An-Nisa’: 78)
Allah l berfirman:
“Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya, itu adalah perkara yang kamu tidak bisa mengelak lari darinya. Dan ditiuplah sangkakala, itulah hari terlaksananya ancaman.” (Qaf: 19-20)
Allah l berfirman:
“Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Munafiqun: 11)

Anjuran Untuk Senantiasa Mengingat Mati
Karena kematian adalah satu perkara yang pasti, maka Rasulullah n menganjurkan kita untuk senantiasa mengingatnya. Rasulullah n bersabda:
أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ -يَعْنِي الْمَوْتَ
“Perbanyaklah oleh kalian mengingat penghancur kenikmatan dunia.” –Yakni kematian. (HR. At-Tirmidzi dan An-Nasa’i, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Irwa’ul Ghalil no. 682)
Al-Imam Ash-Shan’ani t berkata: “Hadits ini menunjukkan bahwa tidak sepatutnya seorang lalai dari mengingat sebuah nasihat terbesar, yaitu kematian.” (Subulus Salam hal. 455)
Hikmah dari mengingat mati adalah agar seseorang mempersiapkan dirinya dengan amalan shalih untuk mendapatkan kebahagiaan di kehidupan berikutnya. Allah l berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memerhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Hasyr: 18)

Tidak Ada yang Dibawa Kecuali Amalannya
Ingatlah wahai saudaraku, ketika seorang meninggal tidaklah bermanfaat baginya harta, anak-anak, dan keluarganya. Yang bermanfaat baginya hanyalah amalannya. Dari Anas bin Malik z, Rasulullah n bersabda:
يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلَاثَةٌ؛ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ؛ فَرَجَعَ اثْنَانِ وَيَبْقَى وَاحِدٌ، رَجَعَ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ
“Tiga perkara yang akan mengantarkan mayit: keluarga, harta, dan amalannya. Dua perkara akan kembali dan satu perkara akan tetap tinggal bersamanya. Yang akan kembali adalah keluarga dan hartanya, sedangkan yang tetap tinggal bersamanya adalah amalannya.” (Muttafaqun ‘alaih)
Oleh karena itu, ketika Rasulullah n ditanya oleh salah seorang sahabatnya: “Siapa orang yang terbaik?” Beliau n bersabda:
مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ
“Orang yang panjang umurnya dan baik amalannya.” (HR. At-Tirmidzi dari Abdullah bin Busr z dan dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani)
Sehingga Rasulullah n mengajarkan agar seorang muslim dalam kehidupan dunia ini hendaknya seperti orang asing atau orang yang numpang lewat. Beliau n berkata kepada Ibnu Umar c:
كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ
“Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau yang sedang numpang lewat.”
Ibnu Umar c berkata:
إِذَا أَمْسَيْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ
“Jika engkau di sore hari janganlah menunggu pagi (untuk beramal shalih). Jika engkau di pagi hari janganlah menunggu sore hari. Manfaatkanlah kesehatanmu untuk masa sakitmu, manfaatkanlah masa hidupmu (dengan beramal shalih) untuk masa matimu.” (HR. Al-Bukhari)

Kematian Menghentikan Amalan Seseorang
Dari Abu Hurairah z, Rasulullah n menyatakan:
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Jika seorang meninggal, terputus amalannya kecuali tiga: shadaqah yang terus mengalir pahalanya, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim)
Sa’id bin Jubair t berkata: “Setiap hari yang dijalani oleh seorang mukmin adalah ghanimah (kesempatan untuk menambah amal shalih).” (Lihat Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, hal. 666)
Seorang yang tidak memanfaatkan masa hidupnya dengan amal shalih akan merasakan penyesalan setelah matinya. Allah l berfirman:
ﮨ ﮩ ﮪ ﮫ ﮬ ﮭ ﮮ ﮯ ﮰ ﮱ ﯓ ﯔ ﯕ ﯖﯗ ﯘﯙ ﯚ ﯛ  ﯜ ﯝﯞ ﯟ ﯠ ﯡ ﯢ ﯣ ﯤ ﯥ
“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: ‘Wahai Rabb, kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku berbuat amal shalih terhadap apa yang telah aku tinggalkan.’ Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan.” (Al-Mu’minun: 99-100)
Amalan Orang Hidup Yang Bermanfaat Bagi Si Mayit
Karena kemurahan dan karunia Allah l, seorang yang mati masih bisa menikmati manfaat dari sebagian amalan yang pernah diamalkannya. Dia juga bisa mendapatkan manfaat dari sebagian amalan orang-orang yang masih hidup. Di antara perkara yang terus bermanfaat bagi seorang yang telah mati adalah:
1. Shadaqah jariyah, seperti wakaf dan sejenisnya.
Seorang masih terus mendapatkan pahala shadaqah jariyah yang ia lakukan, seperti membangun masjid, pesantren, atau wakaf-wakaf lainnya dalam perkara yang baik. Rasulullah n menyatakan:
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Jika seorang meninggal, terputus amalannya kecuali tiga: shadaqah yang terus mengalir pahalanya, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah z)
2. Ilmu yang bermanfaat
Ilmu yang bermanfaat yang ia ajarkan kepada orang lain akan terus mengalirkan pahala baginya walaupun ia telah meninggal, sebagaimana dalam hadits di atas. Selain hadits di atas, Rasulullah n juga menjelaskan:
مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنْ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا
“Barangsiapa yang berdakwah kepada petunjuk (kebaikan) maka dia mendapatkan pahala seperti pahala yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah z)
Beliau n juga bersabda:
مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
“Barangsiapa yang menuntunkan sunnah yang baik maka dia akan mendapatkan pahala seperti orang yang telah melakukannya.” (HR. Muslim dari Jarir bin Abdillah z)
3. Shadaqah yang dilakukan anak atas nama orangtuanya
Para ulama menjelaskan bahwa semua amalan baik seorang anak itu bermanfaat bagi orangtuanya. Orang akan mendapatkan pahala seperti yang diperoleh anaknya, karena anak adalah hasil usaha orangtua. Allah l berfirman:
ﰂ ﰃ ﰄ ﰅ ﰆ ﰇ ﰈ
“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (An-Najm: 39)
Rasulullah n bersabda:
إِنَّ أَطْيَبَ مَا أَكَلَ الرَّجُلُ مِنْ كَسْبِهِ، وَوَلَدُهُ مِنْ كَسْبِهِ
“Makanan terbaik bagi seseorang adalah dari hasil usahanya. Dan anaknya adalah juga hasil usahanya.” (HR. Abu Dawud, An-Nasa’i, dan At-Tirmidzi, dikuatkan Asy-Syaikh Al-Albani t sebagaimana dalam Ahkamul Jana’iz)
Terdapat hadits-hadits lain yang mendukung makna hadits ini, di antaranya:
– Dari Aisyah x:
أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ n: إِنَّ أُمِّي افْتُلِتَتْ نَفْسُهَا وَأَظُنُّهَا لَوْ تَكَلَّمَتْ تَصَدَّقَتْ، فَهَلْ لَهَا أَجْرٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا؟ قَالَ: نَعَمْ
Ada seorang laki-laki berkata: “Ibuku meninggal tiba-tiba (dan tidak sempat berwasiat). Aku mengira jika sempat bicara dia akan bershadaqah. Apakah dia akan mendapatkan pahala jika aku bershadaqah atas namanya?” Rasulullah berkata: “Ya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
– Dari Ibnu Abbas c:
أَنَّ سَعْدَ بْنَ عُبَادَةَ تُوُفِّيَتْ أُمُّهُ وَهُوَ غَائِبٌ عَنْهَا فَأَتَى رَسُولَ اللهِ n فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ أُمِّي تُوُفِّيَتْ وَأَنَا غَائِبٌ عَنْهَا فَهَلْ يَنْفَعُهَا إِنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: فَإِنِّي أُشْهِدُكَ أَنَّ حَائِطِي الْمَخْرَفَ صَدَقَةٌ عَنْهَا
Ibu dari Sa’d bin ‘Ubadah –saudara Bani Sa’idah– meninggal ketika Sa’d tidak di rumah. Dia lalu mendatangi Rasulullah n berkata: “Wahai Rasulullah, ibuku telah meninggal ketika aku tidak ada. Apakah bermanfaat baginya jika aku bershadaqah atas namanya?” Rasulullah n berkata: “Ya.” Sa’d berkata: “Persaksikanlah bahwa kebunku yang pepohonannya sedang berbuah adalah shadaqah atas namanya.” (HR. Muslim)
Al-Imam Asy-Syaukani t berkata: “Hadits-hadits dalam bab ini menjelaskan bahwa shadaqah anak itu bermanfaat bagi orangtuanya yang telah meninggal, walaupun tanpa wasiat dari keduanya.” (Lihat Nailul Authar)
4. Doa kaum mukminin
Di antara yang menunjukkan hal ini adalah ayat Allah l:
ﭑ ﭒ ﭓ ﭔ ﭕ ﭖ ﭗ ﭘ ﭙ ﭚ ﭛ ﭜ ﭝ ﭞ ﭟ ﭠ ﭡ ﭢ ﭣ ﭤ ﭥ ﭦ ﭧ ﭨ
“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), berdoa: ‘Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang’.” (Al-Hasyr: 10)
Di antara dalil masalah ini adalah disyariatkannya shalat jenazah dan ziarah kubur. Karena shalat jenazah disyariatkan untuk mendoakan si mayit. Rasulullah n berkata:
إِذَا صَلَّيْتُمْ عَلَى الْمَيِّتِ فَأَخْلِصُوا لَهُ الدُّعَاءَ
“Jika kalian menshalatkan mayit, maka ikhlaskanlah doa baginya.” (HR. Abu Dawud dari sahabat Abu Hurairah z)
Beliau n juga bersabda:
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ فَيَقُومُ عَلَى جَنَازَتِهِ أَرْبَعُونَ رَجُلًا لَا يُشْرِكُونَ بِاللهِ شَيْئًا إِلَّا شُفِّعُوا فِيهِ
“Tidaklah ada muslim yang meninggal kemudian menshalatkan jenazahnya empat puluh orang yang tidak melakukan syirik, kecuali mereka akan diizinkan memberi syafaat kepadanya.” (HR. Muslim)
Demikian juga, ziarah kubur disyariatkan untuk mendoakan si mayit.
5. Pembayaran utangnya walaupun bukan oleh ahli warisnya
Adapun utang, boleh seorang membayarkan utang orang lain yang telah meninggal walaupun bukan dari kerabatnya sekalipun, dan si mayit terbebas dari beban utang tersebut. (Lihat Ahkamul Jana’iz hal. 212-226)
Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan berkata: “Seseorang yang telah mati bisa mendapatkan manfaat dari amalan orang yang hidup dalam perkara-perkara yang ditunjukkan oleh dalil, seperti doa orang hidup untuknya, memintakan ampun untuknya, shadaqah atas namanya, haji dan umrah atas namanya, membayarkan utang-utangnya, dan menunaikan wasiat-wasiatnya. Semua perkara tersebut disyariatkan sebagaimana telah ditunjukkan oleh dalil. Sebagian ulama memasukkan semua bentuk taqarrub (ibadah) yang dilakukan muslim dan diperuntukkan pahalanya bagi muslim lain yang masih hidup atau telah mati, ke dalam perkara ini. Namun pendapat yang shahih (benar) adalah mencukupkan hanya yang ada di dalam dalil. Perkara yang terdapat dalilnya mengkhususkan keumuman firman Allah l:
‘Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya’.” (An-Najm: 39) [Lihat Fatawa ‘Aqidah hal. 48-49]
Kesimpulan
Jika telah kita yakini bahwa seorang yang mati hanyalah membawa amalnya, maka hendaknya kita manfaatkan waktu yang tersisa untuk beribadah kepada Allah l dan memperbanyak amal shalih. Allah l berfirman:
“Dan infaqkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: ‘Ya Rabbku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, sehingga aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang shalih?’.” (Al-Munafiqun: 10)
Rasulullah n menyatakan:
اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاءَكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ
“Manfaatkanlah lima perkara sebelum datangnya lima perkara yang lain: (Manfaatkan) masa mudamu sebelum datang masa tuamu, masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, masa kayamu sebelum masa fakirmu, masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, masa hidupmu sebelum datang masa matimu.” (HR. Al-Hakim dan lainnya, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani sebagaimana dalam tahqiq Iqtidha’ul ‘Ilmi Al-‘Amal)
Kita juga berusaha mengamalkan amalan yang pahalanya terus mengalir kepada kita sampai kita mati: menuntut ilmu agama untuk kita amalkan dan kita ajarkan, shadaqah jariyah, serta mendidik anak-anak kita agar menjadi anak-anak yang shalih. Mudah-mudahan tulisan ini memberikan dorongan semangat bagi kita semua untuk beramal shalih. Walhamdulillah.

Al-Munkar dan An-Nakir Dalam Akidah Salaf

(ditulis oleh: Al-Ustadz Muhammad Rijal, Lc.)

Rasulullah n bersabda:
إِذَا قُبِرَ الْمَيِّتُ -أَوْ قَالَ: أَحَدُكُم- أَتَاهُ مَلَكَانِ أَسْوَدَانِ أَزْرَقَانِ يُقَالُ لِأَحَدِهِمَا الْمُنْكَرُ وَالْآخَرُ النَّكِيْرُ، فَيَقُولَانِ: مَا كُنْتَ تَقُولُ فِيْ هَذَا الرَّجُلِ؟ فَيَقُولُ مَا كَانَ يَقُولُ: هُوَ عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. فَيَقُولَانِ: قَدْ كُنَّا نَعْلَمُ أَنَّكَ تَقُولُ هَذَا. ثُمَّ يُفْسَحُ لَهُ فِي قَبْرِهِ سَبْعُونَ ذِرَاعًا فِي سَبْعِينَ، ثُمَّ يُنَوَّرُ لَهُ فِيْهِ ثُمَّ يُقَالُ لَهُ: نَمْ. فَيَقُولُ: ارْجِعْ إِلَى أَهْلِي فَأَخْبِرْهُمْ. فَيَقُولَانِ: نَمْ كَنَوْمَةِ الْعَرُوسِ الَّذِي لاَ يُوقِظُهُ إِلاَّ أَحَبَّ أَهْلِهِ إِلَيْهِ. حَتَّى يَبْعَثُهُ اللهُ مِنْ مَضْجَعِهِ ذَلِكَ؛ وَإِنْ كَانَ مُنَافِقًا قَالَ: سَمِعْتُ النَّاسَ يَقُولُونَ فَقُلْتُ مِثْلَهُ، لاَ أَدْرِي. فَيَقُولاَنِ: قَدْ كُنَّا نَعْلَمُ أَنَّكَ تَقُولُ ذَلِكَ. فَيُقَالُ لِلْأَرْضِ: الْتَئِمِي عَلَيْهِ. فَتَلْتَئِمُ عَلَيْهِ فَتَخْتَلِفُ فِيْهَا أَضْلَاعُهُ فَلَا يَزَالُ فِيْهَا مُعَذَّبًا حَتَّى يَبْعَثُهُ اللهُ مِنْ مَضْجَعِهِ ذَلِكَ
Jika mayit atau salah seorang dari kalian telah dikubur, datang dua malaikat, hitam (tubuhnya), biru (kedua matanya), satu dari keduanya bernama Al-Munkar dan yang lain An-Nakir.1 Kedua malaikat bertanya kepada mayit: “Apa yang dulu kamu katakan tentang lelaki ini (yakni Rasulullah n)?” Dia pun menyatakan apa yang dulu dia katakan: “Lelaki itu adalah hamba Allah l dan Rasul-Nya, Asyhadu allailahaillallah wa anna Muhammadar rasulullah.” Kedua malaikat menimpali: “Sungguh kami telah mengetahui bahwa engkau mengatakan demikian.” Lalu diluaskan kubur untuknya 70 dzira’ (hasta) kali 70 dzira’, dan diterangi, kemudian dikatakan padanya: “Tidurlah engkau.” Berkatalah mayit: “Kembalikanlah aku pada keluargaku agar aku kabarkan kepada mereka.” Keduanya berkata: “Tidurlah engkau sebagaimana tidurnya pengantin, tidak ada yang membangunkan kecuali orang yang paling dicintainya.” Hingga nanti Allah l bangkitkan dari pembaringannya.
Adapun jika mayit adalah seorang munafik, dia akan akan menjawab: “Dahulu aku mendengar manusia mengatakan sesuatu, aku pun mengatakannya… aku tidak tahu.” Keduanya berkata: “Sungguh kami telah mengetahui bahwa engkau akan berkata demikian.” Maka dikatakan pada bumi: “Himpitlah dia!” Bumi pun mengimpit mayit hingga tulang-tulang rusuknya bertautan. Terus-menerus azab ditimpakan hingga Allah l bangkitkan ia dari kuburnya.
Takhrij Hadits
Hadits dengan lafadz di atas diriwayatkan At-Tirmidzi t dalam As-Sunan, Kitab Al-Jana’iz bab Ma Ja’a fi ‘Azabil Qabri (Kitab Jenazah bab Azab kubur) (3/163, no. 1071), dari jalan Abdurrahman bin Ishaq, dari Sa’id bin Abi Sa’id Al-Maqburi, dari Abu Hurairah z.
Melalui jalan ini pula, Al-Imam Ahmad  t meriwayatkan dalam Al-Musnad (4/287, 295, 296), demikian pula Ibnu Hibban t dalam Shahih-nya (7/386, no. 3117), Ibnu Abi ‘Ashim t dalam As-Sunnah (no. 864), dan Abu Bakr Al-Ajurri t dalam Asy-Syari’ah (hal. 365).
Semuanya perawi tsiqah, tergolong perawi Al-Imam Muslim t dalam Ash-Shahih, kecuali Abdurrahman bin Ishaq. Dia adalah Abdurrahman bin Ishaq bin Abdilah bin Al-Harits bin Kinanah Al-‘Amiri Al-Madani. Ada pembicaraan pada rawi ini,2 tetapi tidak menurunkannya dari derajat hasan, insya Allah, sebagaimana disimpulkan Al-Hafizh t dalam At-Taqrib.3
Hadits ini hasan, demikian At-Tirmidzi dan Al-Baghawi memberikan hukum atasnya.
At-Tirmidzi t mengatakan: “Haditsun hasanun gharib (Hadits ini hasan gharib).” (As-Sunan 3/163)
Al-Baghawi t mengatakan: “Haditsun hasanun (Hadits ini hasan).” (Syarhus Sunnah, 5/416)
Asy-Syaikh Al-Albani t menghasankannya dalam Takhrij Misykatul Mashabih (1/131). Beliau berkata: “Sanad hadits ini hasan sesuai syarat Muslim.”4
Penamaan Al-Munkar dan An-Nakir dikuatkan dengan beberapa syawahid (pendukung). Di antaranya:
Pertama: Hadits Mu’adz bin Jabal z sebagaimana dalam riwayat Al-Bazzar dalam Al-Musnad (7/97).
Kedua: Hadits Bara’ bin ‘Azib z diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman (1/358) dan Ath-Thabarani dalam Tahdzib Al-Atsar (2/500).
Ketiga: Riwayat mauquf dari Abud Darda z, sebagaimana diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf (3/53).
Faedah: Penamaan malaikat Al-Munkar dan An-Nakir termaktub dalam kitab-kitab aqidah salaf. Ini memberikan isyarat sekaligus menguatkan bahwasanya salaf memandang keabsahan hadits Abu Hurairah z, dan kuatnya penyandaran hadits tersebut kepada Rasulullah n. Allahu ta’ala a’lam.

Kedudukan dan Makna Iman Kepada Malaikat
Iman kepada malaikat adalah bagian dari rukun iman. Mereka yang tidak mengimaninya dihukumi kafir dan berada dalam kesesatan yang nyata. Allah l berfirman:
“Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.” (An-Nisa’: 136)
Malaikat adalah makhluk Allah l dan utusan-utusan-Nya. Allah l berfirman:
“Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga, dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Fathir:1)
Hadits Abu Hurairah z adalah bagian dari sabda Rasulullah n tentang malaikat-malaikat Allah l, sekaligus berita tentang apa yang menimpa mayit di alam barzakh sebagai bagian dari iman kepada hari akhir.
Apa sesungguhnya hakikat iman kepada malaikat Allah l? Ketahuilah, sesungguhnya iman kepada malaikat Allah l bukan sekadar pernyataan percaya adanya malaikat, tetapi keimanan tersebut meliputi beberapa perkara.
Al-Imam Al-Baihaqi t berkata: “Iman kepada malaikat-malaikat Allah l mencakup makna yang banyak:
Pertama: Meyakini keberadaan (wujud) mereka.
Kedua: Menempatkan malaikat sesuai kedudukan-kedudukannya, (yaitu) meyakini bahwa malaikat hanyalah hamba-hamba Allah l yang Dia ciptakan sebagaimana manusia dan jin, mendapatkan perintah Allah l, dan sama sekali tidak memiliki kemampuan kecuali apa yang Allah l berikan kepada mereka. Juga (meyakini bahwasanya) kematian atas malaikat adalah sesuatu yang mungkin, hanya saja Allah l beri mereka usia panjang. Tidaklah Allah l mematikan kecuali jika datang ajalnya. Malaikat tidak boleh disifati dengan sifat-sifat yang mengantarkan pada penyekutuan dengan Allah l. Mereka tidak diibadahi sebagai sesembahan sebagaimana orang-orang terdahulu (menjadikan malaikat sebagai sesembahan selain Allah l).
Ketiga: Meyakini bahwa di antara mereka ada rasul-rasul yang Allah l utus kepada siapa yang Allah l kehendaki baik kepada manusia atau malaikat. Juga meyakini bahwa di antara malaikat ada yang (bertugas) membawa ‘Arsy, ada yang bershaf-shaf, ada penjaga jannah, penjaga neraka, pencatat amalan-amalan, dan ada yang menggiring awan. Sungguh, semua ini atau sebagian besarnya telah dikabarkan dalam Al-Qur’an.” (Syu’abul Iman)
Iman kepada malaikat adalah: Mengimani segala perkara yang Allah l kabarkan dalam Al-Qur’an dan Rasulullah n beritakan dalam As-Sunnah tentang malaikat mengenai empat perkara, pertama: nama-nama mereka; kedua: sifat-sifat mereka; ketiga: tugas-tugas mereka; dan keempat: jumlah mereka; baik secara global maupun terperinci.5

Apa Yang Harus Diyakini Tentang Munkar dan Nakir?
Saudaraku, semoga Allah l merahmati kita. Satu pokok yang wajib kita yakini, bahwasanya agama dibangun di atas Al-Kitab dan As-Sunnah dengan pemahaman salaful ummah, bukan hasil rekayasa pikiran, dorongan hawa nafsu, atau luapan perasaan. Termasuk iman pada malaikat-malaikat Allah l, tidak boleh kita bertutur dan meyakini kecuali harus dibangun di atas dalil.
Di atas pokok inilah kita beragama. Termasuk dalam permasalahan Al-Munkar dan An-Nakir, tidak boleh kita meyakini tentang keduanya kecuali apa yang ditunjukkan dalil Al-Kitab dan As-Sunnah. Demikian pula sebaliknya, tidak boleh bagi kita mengingkari apa yang telah dinyatakan dalam dalil meskipun terkadang berat bagi akal sebagian orang untuk menerimanya.
Al-Munkar dan An-Nakir, bagaimana akidah salaf, Ahlus Sunnah wal Jamaah, tentang keduanya? Berikut beberapa rincian pembahasannya. Wa billahi at-taufiq.

Penamaan Munkar dan Nakir berdasar Hadits yang Tsabit (Tetap) dari Rasulullah n
Hadits Abu Hurairah z adalah hadits hasan –sebagaimana telah berlalu pada pembahasan takhrij hadits– maka penamaan kedua malaikat dengan Munkar dan Nakir ditetapkan dengan hadits yang tsabit dari Rasulullah n.
Hadits ini sekaligus menggugurkan perkataan semua kelompok yang meragukan penamaan Munkar dan Nakir atau bahkan mengingkari keberadaan keduanya, semisal kelompok Jahmiyah, Mu’tazilah, dan seluruh pengekor hawa nafsu di masa lalu, sekarang ataupun masa yang akan datang.
Al-Imam Al-Albani t berkata: “Dalam hadits ini ada bantahan bagi orang-orang pada masa ini yang mengingkari penamaan Munkar dan Nakir.” (Takhrij Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyah hal. 399 –cet. Al-Maktab Al-Islami)
Orang-orang Jahmiyah misalnya, mereka menganggap bahwasanya iman itu sekadar ma’rifat (mengenal) Allah l. Oleh karena itu, disebutkan dari Jahm bin Shafwan6 bahwasanya iman manusia sama seperti iman Jibril dan malaikat-malaikat. Cukup dengan ma’rifah, seseorang telah mencapai kesempurnaan iman. Demikian mereka sangka.
Meskipun mereka meyakini wujud (keberadaan) malaikat, namun mereka ingkari kebanyakan dari amalan-amalan malaikat. Jahm mengingkari malaikat pencatat amal, mengingkari malaikat maut pencabut arwah, mengingkari azab kubur dan nikmatnya sekaligus malaikat yang mendapatkan tugas ini, juga mengingkari pertanyaan di alam kubur dan dua malaikat yang mendapatkan tugas ini yaitu malaikat Munkar dan Nakir ….7
Adapun Ahlus Sunnah wal Jamaah, maka aqidah mereka adalah akidah yang bersih dan menyucikan jiwa, karena dibangun di atas wahyu Allah l, Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Penamaan Mungkar dan Nakir dalam kitab-kitab Aqidah Salaf
Berpijak pada hadits Abu Hurairah z, ulama memasukkan dua nama ini dalam kitab-kitab aqidah salaf (Ahlus Sunnah wal Jamaah). Berikut beberapa nukilan dari kitab-kitab aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah tersebut.
• Abu Muhammad Abdurrahman bin Abi Hatim Ar-Razi t (240-327 H) berkata: Aku bertanya pada bapakku (Abu Hatim Ar-Razi [277 H], pen.) dan Abu Zur’ah (264 H) –semoga Allah l meridhai keduanya– tentang keyakinan Ahlus Sunnah dalam pokok-pokok agama dan keyakinan ulama di seluruh negeri, yang keduanya menjumpai mereka berada di atas keyakinan tersebut, dan apa yang diyakini keduanya. Maka (Abu Hatim dan Abu Zur’ah) berkata: Kami telah jumpai ulama-ulama di seluruh penjuru negeri, baik dari Hijaz (Makkah, Madinah, Tha’if, dan sekitarnya, pen.), Irak, Mesir, Syam, atau Yaman, maka (kami dapatkan) bahwa di antara madzhab mereka adalah: … Meyakini bahwa azab kubur adalah haq (benar), Munkar dan Nakir adalah haq (benar)…” (Ashlus Sunnah Wa I’tiqadud Din –riwayat Ibnu Abi Hatim dari bapaknya dan Abu Zur’ah– hal. 15-18)
• Ibnu Abi Dawud t (230-316 H) berkata dalam Manzhumah Haiyah-nya:
وَلَا تُنْكِرَنْ جَهْلًا نَكِيْرًا وَمُنْكَرًا * وَلَا الْحَوْضَ وَالْمِيْزَانَ إِنَّكَ تُنْصَحُ
“Janganlah engkau ingkari Nakir dan Munkar karena kejahilan * Jangan pula kau ingkari telaga dan timbangan, sungguh engkau mendapat nasihat.”
• Abu Ja’far Ath-Thahawi t (239-321 H)8 berkata: “Dan (kita mengimani) … pertanyaan Munkar dan Nakir dalam kubur seorang tentang Rabbnya, agamanya, dan nabinya, berdasarkan hadits-hadits dari Rasulullah n dan para sahabat beliau g.” (Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyah hal. 397 dengan syarah Ibnu Abil ‘Izz Al-Hanafi t)
• Al-Imam Al-Barbahari t (329 H)9 berkata: “Dan beriman dengan azab kubur serta Munkar dan Nakir.” (Syarhus Sunnah)
• Al-Imam Abdul Ghani Al-Maqdisi t (600 H) berkata: “Mengimani azab kubur adalah perkara yang benar, wajib, dan fardhu …. Demikian pula iman kepada pertanyaan Mungkar dan Nakir.” (‘Aqidah Al-Hafizh Taqiyuddin ‘Abdul Ghani Al-Maqdisi hal. 88)
• Al-Imam Abu Muhammad Abdullah bin Ahmad bin Qudamah Al-Maqdisi t (541-620 H) berkata: “Pertanyaan Mungkar dan Nakir adalah benar, kebangkitan setelah kematian adalah benar, yaitu ketika Israfil q meniup sangkakala, (sebagaimana Allah l firmankan:)
“Dan ditiuplah sangkakala, maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Rabb mereka.” (Yasin: 51) [Lum’atul I’tiqad hal. 51]10
Apa yang dinukil dari ucapan ulama dalam kitab-kitab aqidah salaf, menunjukkan bahwa penamaan Munkar dan Nakir adalah bagian yang tidak terlepas dari i’tiqad (keyakinan) Ahlus Sunnah wal Jamaah baik dari kalangan sahabat atau generasi sesudahnya, sebagaimana diucapkan Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi t dalam ‘Aqidah-nya bahwasanya penetapan azab kubur termasuk penamaan malaikat Munkar dan Nakir adalah: “… berdasarkan hadits-hadits dari Rasulullah n dan dari para sahabat g.”11

Menjawab Keraguan Penamaan Al-Munkar Dan An-Nakir
Munkar dan Nakir, penamaan ini diragukan sebagian orang. Keraguan tersebut setidaknya bersandar pada dua alasan.
Pertama: Anggapan bahwa hadits yang menetapkan dua nama ini dha’if (lemah).
Kedua: Persangkaan adanya nakarah (keganjilan) makna dalam nama Munkar dan Nakir. Mereka berkata: “Bagaimana mungkin dua malaikat ini bernama Munkar dan Nakir yang bermakna sesuatu yang diingkari atau asing?” atau “Mungkinkah keduanya diingkari dan asing padahal Allah l telah mensifati malaikat-malaikat-Nya dengan sifat-sifat terpuji?”
Sebagai jawaban atas keraguan pertama, kita katakan: “Hadits yang menetapkan penamaan Munkar dan Nakir, termasuk hadits hasan. Bahkan dikuatkan dengan penyebutan salaf dalam kitab-kitab aqidah sebagaimana telah lalu pembahasannya.” Maka tidak diragukan kebenaran dua nama ini.
Adapun alasan kedua, tentang keganjilan makna, sebenarnya tidak perlu dibicarakan jika dalil telah shahih. Karena kewajiban kita adalah menerima dan membenarkan kabar Rasulullah n yang semuanya adalah wahyu sebagaimana Allah l berfirman:
“Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (An-Najm: 3-4)
Akan tetapi ulama –jazahumullahu khairan– tetap tidak luput untuk menjawab syubhat persangkaan ketidaklayakan makna Munkar dan Nakir.
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin t mengatakan: “… Mereka disebut Munkar (asing, pen.) karena mayit (merasa asing) tidak mengenali keduanya dan tidak mengetahui sebelum itu. Sebagaimana Nabi Ibrahim q berkata pada tamunya (mensifati dengan kemungkaran/keasingan) padahal ternyata mereka dari kalangan malaikat. Allah l berfirman:
Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tamu Ibrahim (malaikat-malaikat) yang dimuliakan? (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan: “Salaaman”, Ibrahim menjawab: “Salaamun” (kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal. (Adz-Dzariyat: 24-25) [Syarh Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah]
Perhatikan ayat ini, Nabi Ibrahim q mensifati malaikat yang bertamu kepadanya dengan ucapan beliau (ﯨ ﯩ). Yang maknanya “(Kalian adalah) kaum yang munkar (tidak dikenal).” Sifat ini sama sekali tidak menunjukkan celaan kepada malaikat-malaikat Allah l, tamu Ibrahim. Maka teranglah bahwa penamaan Munkar atau Nakir bukan sesuatu yang merendahkan malaikat, terlebih penamaan ini shahih dari sabda Rasulullah n.
Ibnul Arabi t mengatakan: “Dinamai Munkar dan Nakir yang bermakna umum (karena cobaan keduanya) mengenai semua mayit yang ditanya, baik kafir atau mukmin (semua tidak luput dari pertanyaan dua malaikat ini, pen.)12; dan (dinamai Munkar dan Nakir) karena semua orang yang melihat keduanya akan mengingkari keduanya, karena apa yang ada pada keduanya berupa pemandangan yang menyeramkan, bentuk yang menakutkan, pembicaraan yang kasar, maqami’ (alat pukul) yang ada pada tangan-tangan keduanya yang sangat mengerikan dan menyeramkan.” (‘Aridhatul Ahwadzi, 4/292)

Sifat Malaikat Munkar dan Nakir
Munkar dan Nakir seperti malaikat-malaikat yang lain dari sisi materi penciptaan. Keduanya diciptakan dari cahaya, berdasarkan hadits yang diriwayatkan Al-Imam Muslim t dalam Ash-Shahih dari ‘Aisyah Ummul Mukminin x, Rasulullah n bersabda :
خُلِقَتِ الْمَلَائِكَةُ مِنْ نُورٍ وَخُلِقَ الْجَانُّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ وَخُلِقَ آدَمُ مِمَّا وُصِفَ لَكُمْ
“Malaikat diciptakan dari cahaya, Jin diciptakan dari api, dan Adam diciptakan dari apa yang disifatkan bagi kalian.”13
Demikian pula mereka disifati dengan ketaatan yang penuh terhadap perintah Allah l. Sebagaimana dalam firman Allah l:
“… Tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At-Tahrim: 6)
Di antara sifat Munkar dan Nakir yang tersebut dalam hadits ini adalah sabda Rasulullah n:
أَسْوَدَانِ، أَزْرَقَانِ
“Keduanya hitam dan biru.”
Al-Mubarakfuri t mengatakan: “Maksudnya, biru kedua matanya.” (Tuhfatul Ahwadzi, 3/520, cet. Darul Hadits)
Allahu a’lam bish-shawab.
Keduanya disifati membawa alat pukul dari besi untuk memukul siapa saja yang tidak menjawab pertanyaan keduanya. Sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan Al-Bukhari  t dalam Shahih-nya:
ثُمَّ يُضْرَبُ بِمِطْرَقَةٍ مِنْ حَدِيدٍ ضَرْبَةً بَيْنَ أُذُنَيْهِ فَيَصِيحُ صَيْحَةً يَسْمَعُهَا مَنْ يَلِيهِ إِلاَّ الثَّقَلَيْنِ
“…Kemudian dia (mayyit yang durhaka kepada Allah) dipukul dengan palu dari besi dengan pukulan di wajahnya, hingga dia menjerit dengan jeritan yang didengar siapa yang di sekitarnya kecuali jin dan manusia.”14
Demikian beberapa sifat malaikat Munkar dan Nakir berdasar Al-Kitab dan As-Sunnah. Allahu a’lam bish-shawab.

Tugas Malaikat Munkar-Nakir dan Adanya Fitnah Kubur
Dalam hadits ini Rasulullah n mengabarkan tugas malaikat Munkar dan Nakir, yaitu menanyakan kepada mayit tentang Rabbnya, agamanya, dan nabinya.
Pertanyaan dua malaikat inilah yang dimaksud dengan fitnah kubur, yaitu ujian yang menentukan nasib seseorang, akankah mendapatkan nikmat kubur atau sebaliknya mendapatkan azab kubur.
Manusia ketika itu terbagi menjadi dua golongan: golongan yang Allah l selamatkan dari fitnah kubur dan golongan lain yang tidak Allah l beri keselamatan, sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Hurairah z di atas.
Golongan Pertama: Mereka adalah orang-orang beriman yang Allah l beri tsabat (keteguhan) dalam menghadapi fitnah. Allah l berfirman:
“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (Ibrahim : 27)
Mereka menjawab semua pertanyaan Munkar dan Nakir. Kuburnya pun diluaskan dan diberi cahaya. Rasulullah n bersabda:
ثُمَّ يُفْسَحُ لَهُ فِي قَبْرِهِ سَبْعُونَ ذِرَاعًا فِي سَبْعِينَ، ثُمَّ يُنَوَّرُ لَهُ فِيهِ
“..Lalu diluaskan kubur untuknya 70 dzira’ (hasta) kali 70 dzira’, dan diterangi..”
Hadits menunjukkan bahwa kubur seorang mukmin –secara hakiki– diluaskan panjang dan lebarnya sepanjang 70 dzira’ (hasta). Demikian diterangkan Al-Mubarakfuri t. Atau makna dari perkataan Rasulullah n tersebut adalah bahwa kubur akan diluaskan dengan sangat luasnya. Ath-Thibi t berkata sebagaimana dinukilkan Al-Mubarakfuri: “… Peluasan kubur disandarkan kepada 70 sebagai bentuk mubalaghah (sangat) atas luasnya kubur.” (lihat Tuhfatul Ahwadzi 3/521)
Wal ‘ilmu ‘indallah.
Berkenaan nasib seorang mukmin, Rasulullah n bersabda dalam hadits shahih dari shahabat Bara’ bin ‘Azib c: Maka datanglah dua malaikat kepada mayit, keduanya mendudukkan mayit kemudian bertanya kepadanya: “Siapa Rabbmu?” Dia menjawab: “Rabbku adalah Allah.” “Apa agamamu?” Dia menjawab: “Agamaku Islam.” “Siapa orang yang diutus kepada kalian?” Dia menjawab: “Rasulullah n.” “Apa amalanmu?” Dia menjawab: “Aku membaca Al-Qur’an dan aku mengamalkan serta membenarkannya.” Maka terdengarlah seruan dari langit: “Hamba-Ku benar, hamparkanlah untuknya dari jannah, berilah pakaian dari jannah, dan bukakanlah untuknya pintu menuju jannah.” Lalu datanglah seseorang yang sangat indah wajah dan bajunya, sangat harum aromanya seraya berkata: “Bergembiralah dengan apa yang membahagiakanmu. Inilah hari yang dahulu engkau dijanjikan.” Berkatalah mayit: “Siapakah kamu? Wajahmu tampak datang dengan kebaikan.” Dia menjawab: “Aku adalah amalan shalihmu.” Berkatalah mayit: “Ya Rabb, tegakkanlah hari kiamat agar aku kembali kepada keluarga dan hartaku.”15
Demikianlah keadaan kaum mukminin di alam kubur. Kita meminta kepada Allah l semoga Allah l matikan kita dalam keadaan beriman dan mendapatkan nikmat kubur.
Golongan kedua: orang-orang kafir dan munafik. Mereka mendapatkan kehinaan dengan fitnah ini. Mulut mereka tidak mampu sediakan pun menimpa mereka sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Hurairah z di atas.
Pembaca rahimakumullah, demikian beberapa pembahasan terkait dengan dua malaikat Munkar dan Nakir, sifat dan tugas mereka. Mengimani keduanya adalah bagian dari iman kepada malaikat, yang telah diimani oleh salaful ummah baik dari kalangan sahabat, tabi’in, dan orang-orang yang berjalan di atas jalan mereka.
Ibnu Abil ‘Izzi Al-Hanafi t (792 H) mengatakan: “Telah mutawatir16 berita-berita dari Rasulullah n tentang adanya azab dan nikmat kubur bagi orang yang pantas mendapatkannya. Demikian pula pertanyaan dua malaikat. Maka wajib (bagi kita) beri’tiqad dan meyakini adanya hal itu.”17
Semoga Allah l melindungi kita dan kaum muslimin dari neraka jahannam, fitnah kubur, serta segala kejelekan di dunia dan akhirat.
Walhamdulillahi rabbil ‘alamin.

1 Demikian dengan menggunakan alif dan lam: Al-Munkar dan An-Nakir. Dalam sebagian riwayat disebutkan namanya tanpa menggunakan alif dan lam, Munkar dan Nakir.
2 Al-Imam Ahmad berkata: “Shalihul hadits (Haditsnya baik).” (Al-‘Ilal wa Ma’rifatur Rijal, 1/130)
Ibnu Hibban menyebutkan Abdurrahman bin Ishaq dalam Ats-Tsiqat (7/86).
Al-‘Ijli berkata: “Yuktabu haditsuhu wa laisa bil qawi (Haditsnya ditulis, namun dia bukan orang yang kuat).” (Tarikh Ats-Tsiqat)
Abu Hatim berkata: “Yuktabu haditsuhu wa laa yuhtaju bihi (Ditulis haditsnya, dan dia tidak dijadikan hujjah).” (Al-Jarh wat Ta’dil, 5/212. Lihat Tahdzib At-Tahdzib, 6/125-126)
3 Beliau berkata: “Shaduq, rumiya bil qadar (Dia seorang yang shaduq/haditsnya hasan, dituduh berpaham Qadariyah).”
4 Lihat juga takhrij beliau atas Syarah Al-’Aqidah Ath-Thahawiyah (hal. 399) dan Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah (3/379-380, no. 1391)
5 Definisi ini termasuk definisi yang mencakup seluruh permasalahan iman kepada malaikat-malaikat Allah l, baik terkait dengan sumber keyakinan yaitu Al-Kitab dan As-Sunnah, atau hal-hal yang harus diyakini tentang malaikat. Demikian Asy-Syaikh Dr. Abdur Razaq bin Abdul Muhsin Al-Abbad hafizhahullah menjelaskan dalam beberapa muhadharah (ceramah).
6 Adz-Dzahabi mengatakan: “Jahm bin Shafwan Abu Mahraz As-Samarqandi, seorang sesat, mubtadi’, pemuka Jahmiyah. Dia binasa di zaman shigar tabi’in (tabi’in kecil). Aku tidak tahu dia meriwayatkan sesuatu, tetapi dia telah menebarkan benih kesesatan yang sangat besar.” (Mizanul I’tidal, 1/426)
Di antara pemikiran Jahm adalah meniadakan sifat Allah l. Keyakinan ini diambilnya dari Ja’d bin Dirham yang disembelih oleh Khalid bin ‘Abdilah Al-Qasri di Wasith. Jahm sendiri dibunuh di Khurasan oleh Salm bin Ahwaz pada tahun 128 H.
7 Mu’taqad Firaqul Muslimin wal Yahud wan Nashara wal Falasifah wal Watsaniyin fil Mala’ikah Al-Muqarrabin karya Asy-Syaikh Dr. Muhammad bin Abdul Wahhab Al-’Aqil (hal. 242-243).
8 Beliau adalah Al-Imam Abu Ja’far Ahmad bin Salamah bin Abdul Malik bin Salamah bin Sulaiman Al-Azdi Ath-Thahawi.
9 Beliau adalah Al-Imam Al-Hafizh Abu Muhammad Al-Hasan bin Ali bin Khalaf Al-Barbahari Al-Hanbali.
10 Dengan syarah Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin.
11 Juga perkataan Abu Hatim dan Abu Zur’ah: “Kami telah menjumpai ulama-ulama (Ahlus Sunnah, ahlul hadits) di seluruh negeri baik dari Hijaz, Irak, Mesir, Syam, atau Yaman… (yakni mereka semua mengimani Munkar dan Nakir).”
12 Kecuali beberapa golongan yang tidak ditanya sebagaimana ditunjukkan dalam nash-nash.
13 Diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim dalam Shahih-Nya kitab Az-Zuhd wa Ar-Raqaiq (4/2294).
Faedah: Yang dimaksud dengan sabda Rasulullah n: “Adam diciptakan dari apa yang disifatkan bagi kalian” adalah bahwa Adam q diciptakan dari tanah sebagaimana Allah l sifatkan dalam Al-Qur’an, demikian pula yang Rasul kita sebutkan tentang materi penciptaan Adam.
14 HR. Al-Bukhari dalam Ash-Shahih no. 1338
15 Bagian dari hadits Bara’ bin Azib c. Diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad t dalam Al-Musnad (4/287-288) dan Al-Hakim t dalam Al-Mustadrak (1/93-94). Al-Hakim mengatakan: “Dalam hadits ini terdapat faedah yang sangat banyak bagi Ahlus Sunnah dan bantahan bagi mubtadi’ah (ahli bid’ah)….” (Al-Mustadrak, 1/96)
Faedah: Hadits Bara’ bin ‘Azib dishahihkan banyak ulama, seperti Al-Hakim dan Ibnul Qayyim rahimahumallah. Adapun Ibnu Hazm dan Ibnu Hibban rahimahumallah, beliau berdua kurang tepat dalam memberikan hukum terhadap hadits ini dengan kedha’ifan. Bantahan (tentang hal ini) dapat dilihat secara rinci dalam kitab Ar-Ruh, karya Ibnu Qayyim t.