Salafy 60

Edit

Al-Wala’ wal Bara’ dan Kelembutan Islam

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf)
Sebagian orang mempunyai anggapan bahwa jika akidah al-wala’ wal bara’ diterapkan dan ditegakkan akan menggugurkan prinsip Islam yang lain, yaitu berbuat baik, toleransi, dan penuh kelembutan. Akibatnya, anggapan ini mendorong mereka untuk menggugurkan akidah al-wala’ wal bara’ serta cenderung berlebihan dalam menerapkan prinsip Islam lainnya, seperti kasih sayang tanpa batas, toleransi tanpa batas, dan kelembutan tanpa batas.
Padahal tidak ada pertentangan antara akidah al-wala’ wal bara’ dengan prinsip Islam yang menjunjung tinggi sikap toleransi, kasih sayang, dan kelembutan. Keduanya adalah bagian dari agama Allah l (Islam). Islam adalah agama yang berlandaskan keadilan dan pertengahan antara sikap berlebihan (ghuluw) dan sikap meremehkan serta menganggap enteng. Allah l berfirman:
”Dan tiadalah Kami mengutus kamu melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (al-Anbiya: 107)
“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kalian menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kalian. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan iman kalian. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.” (al-Baqarah: 143)
Kata الْوَسَطُ (pertengahan) dalam ayat ini ditafsirkan oleh Nabi n dengan “keadilan”, sebagaimana dalam hadits riwayat Ahmad (no. 11068, 11271, 11283, dan 11558).
Berkenaan dengan ayat ini pula, Ibnu Jarir t dalam Tafsir-nya mengemukakan, “Sesungguhnya Allah l menyifati mereka sebagai ahlul wasath semata-mata karena sikap pertengahannya dalam agama. Mereka bukanlah orang-orang yang berlebihan (ghuluw) seperti kaum Nasrani yang bersikap ghuluw terhadap pendeta-pendetanya (rahib) dan terhadap Isa. Mereka bukan pula orang-orang yang bersikap meremehkan dan cenderung menganggap enteng, seperti kaum Yahudi yang bersikap seperti itu sehingga berani mengubah kitab Allah l, membunuh para nabi, mendustakan dan kufur terhadap Allah l. Semua ini menunjukkan bahwa yang paling disukai oleh Allah l dalam setiap urusan adalah yang tengah-tengah.” (Tafsir ath-Thabari dalam Maktabah Syamilah)
Allah l berfirman:
“Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al-Qur’an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.” (al-Hajj: 78)
“Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (al-Baqarah: 185)
Rasulullah n bersabda:
إِنِّي بُعِثْتُ بِالْحَنِيفِيَّةِ السَّمْحَةِ
“Sesungguhnya aku diutus membawa agama yang lurus lagi mudah.” (HR. Ahmad no. 24855 dari ‘Aisyah x, dikuatkan oleh riwayat lain dari sahabat Ibnu Abbas c. Hadits ini diriwayatkan juga oleh al-Imam al-Bukhari t secara mu’allaq dalam Shahih-nya “Kitabul Iman, Bab Agama Itu Mudah”)
Bukti tidak adanya pertentangan antara al-wala’ wal bara’ dan kelembutan dienul Islam adalah sebagai berikut.
1. Islam tidak memaksa seorang kafir pun untuk masuk Islam.
Allah l berfirman:
“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (al-Baqarah: 256)
Oleh karena itu, di masa pemerintahan Islam yang silam, rakyat yang hidup di bawah pemerintahannya tetap terlindungi darahnya, meski mereka tetap memilih agamanya yang selain Islam.
Adapun yang diperangi bukan semata-mata karena memilih agama selain Islam. Mereka diperangi karena permusuhan dan penentangan mereka terhadap Islam.
2. Islam memberikan kebebasan kepada orang-orang kafir dzimmi untuk bertempat tinggal dan berpindah ke tempat mana pun dari belahan negeri Islam, selain tanah suci dan jazirah Arab.
3. Islam menjaga perjanjian yang ditetapkan dengan orang-orang kafir, selama mereka tetap menjaganya.
Allah l berfirman:
”Kecuali orang-orang musyrikin yang kamu telah mengadakan perjanjian (dengan mereka) dan mereka tidak mengurangi sesuatu pun (dari isi perjanjian)mu dan tidak (pula) mereka membantu seseorang yang memusuhi kamu, maka terhadap mereka itu penuhilah janjinya sampai batas waktunya. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa.” (at-Taubah: 4)
4. Islam melindungi darah kafir dzimmi dan mu’ahad (yang terikat perjanjian) jika mereka menunaikannya dengan baik.
Nabi n bersabda, “Siapa pun yang memberikan jaminan perlindungan kepada jiwa seseorang, tetapi kemudian ia membunuhnya, aku berlepas diri darinya, walaupun (kenyataannya) yang dibunuh itu seorang kafir.” (HR. Ahmad no. 21946, 21947, 21948 dan Ibnu Majah no. 2688, dll)
Ibnu Hazm t menyatakan, “(Ulama) telah bersepakat bahwa darah kafir dzimmi yang tidak menggugurkan dzimmah (jaminannya) adalah haram (untuk ditumpahkan).” (Maratib al-Ijma’, no. 138)
5. Islam tidak mengabaikan penunaian hak terhadap kerabat meskipun berbeda agama.
Allah l berfirman:
”Dan jika keduanya (ibu-bapak) memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (Luqman: 15)
Diriwayatkan dari Asma’ bintu Abi Bakr c, ia berkata, “Ibuku datang menemuiku sedangkan dia seorang musyrik. Aku segera meminta fatwa kepada Rasulullah n, ’Wahai Rasulullah, ibuku datang kepadaku dalam keadaan ingin menyambung tali silaturahim. Apakah aku harus menerimanya?’ Rasulullah n menjawab, ’Ya, terima dan sambung tali silaturahim dengan ibumu’.” (HR. al-Bukhari no. 2620, 3183, 5978, 5979 dan Muslim no. 1003)
Dari sahabat Ibnu Abbas c, ia berkata:
مَرِضَ أَبُو طَالِبٍ فَجَعَلَ النَّبِيُّ يَعُودُهُ
“Suatu ketika Abu Thalib paman Nabi sakit, lalu Nabi n menjenguknya.” (HR. Ahmad no. 2008, 3419, at-Tirmidzi no. 3232, Ibnu Hibban no. 6686, al-Hakim 2/432, dan beliau mensahihkannya)
6. Islam memandang bahwa berbuat baik dan bersikap adil adalah hak bagi siapa pun yang tidak memerangi kaum muslimin.
Allah l berfirman:
“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barang siapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (al-Mumtahanah: 8—9)
Sikap adil wajib ditegakkan kepada setiap orang, sekalipun terhadap orang yang kita harus membencinya, dengan cara yang benar, seperti kalangan orang-orang kafir yang memusuhi dan memerangi kita. Allah l berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (al-Maidah: 8)
“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (al-Baqarah: 190)
Untuk itulah, Nabi n mewanti-wanti kita agar berhati-hati dari doa orang yang dizalimi walaupun seorang kafir. Beliau n bersabda:
اتَّقُوا دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ وَإِنْ كَانَ كَافِرًا فَإِنَّهُ لَيْسَ دُونَهَا حِجَابٌ
“Berhati-hatilah kalian dari doa orang yang dizalimi, walaupun ia seorang kafir, karena tidak ada penghalang di balik doanya. (HR. Ahmad no. 12549. Hadits ini mempunyai penguat dari riwayat lain, lihat Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah no. 767. Ibnu Hajar t juga memberikan komentar terhadap hadits ini dalam Fathul Bari 1/535)
Nyata jelas hubungan antara al-wala’ wal bara’ dan perbuatan baik dalam Islam. Hal ini tentu semakin mengukuhkan bahwa agama ini tegak di atas keadilan dan memerintahkan untuk menegakkan keadilan terhadap musuh sekalipun.
Maka dari itu, Islamlah satu-satunya agama yang pantas dianut oleh seluruh manusia, dijadikan tempat bernaung, dan solusi dari segala masalah di bumi Allah l dan antara hamba-hamba Allah l.
Wallahu a’lam.

Hakikat Al-Wala’ wal Bara’

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf)
Memahami ajaran Islam secara menyeluruh adalah bagian dari manhaj Islam itu sendiri. Kita diperintahkan untuk menyelami seluk-beluk Islam, mulai dari hal yang sangat penting dan mendasar seperti akidah atau tauhid, hingga masalah hukum, ibadah, muamalah, dan lain-lain. Allah l berfirman:
“Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan yang hak) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal.” (Muhammad: 19)
“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (darinya).” (al-A’raf: 30)
Salah satu ajaran Islam yang dewasa ini nyaris ditinggalkan dan dianggap tabu oleh sebagian orang, serta oleh sebagian lainnya digembar-gemborkan secara membabi-buta tanpa bimbingan dan ketentuan syar’i, adalah al-muwalah (sikap loyal/setia) dan al-mu’adah (permusuhan), atau yang diistilahkan dengan al-wala’ wal bara’.
Pengertian al-Wala’ wal Bara’
Al-wala’ atau disebut juga al-walyu, secara bahasa mengandung arti berdekatan. Seluruh arti dari kata al-wala’ pada prinsipnya kembali kepada makna dasar ini, yaitu berdekatan. Kata al-wala’ dalam bahasa Arab merupakan bentuk mashdar. Kata ini sering pula digunakan untuk memaknai wujud pertolongan dan pembelaan. Adapun al-bara’ atau disebut juga bari’a mengandung arti membebaskan atau melepaskan dan menjauh. Ini adalah salah satu makna dasarnya, di samping makna dasar yang lain yaitu al-khalqu yang berarti penciptaan. Oleh karena itu, salah satu nama Allah l adalah al-Bari.
Para ulama menggunakan dua kata ini, al-wala’ wal bara’, dalam masalah akidah atau keyakinan. Hal ini didasarkan pada dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah. Semua dalil, baik dalam Al-Qur’an maupun As-Sunnah, memaknai kata al-wala’ dengan kecintaan dan pertolongan atau sikap loyal/setia. Adapun al-bara’ adalah kebalikan dari keduanya.
Dengan demikian, al-wala’ secara istilah adalah kecintaan dan sikap loyal kepada Allah l, Rasul-Nya, dienul Islam, dan para pemeluknya dari kalangan kaum muslimin. Adapun al-bara’ adalah membenci segala sesuatu yang diibadahi selain Allah l, membenci kekafiran berikut seluruh ajarannya, dan membenci para pemeluknya serta menampakkan permusuhan kepada semua itu.
Inilah makna al-wala’ wal bara’ dalam Islam. Ia merupakan akidah atau keyakinan dalam hati, yang harus tampak wujudnya melalui perbuatan yang dilakukan oleh anggota badan, seperti keyakinan-keyakinan lainnya yang tidak diakui keberadaannya dalam hati tanpa terlihat wujudnya dalam perbuatan anggota badan.
Apabila semakin menguat wujud akidah ini dalam hati, semakin bertambah pula bukti yang menunjukkan hal tersebut pada perbuatan seorang hamba. Sebaliknya, jika akidah ini melemah, akan berkurang pula bukti keberadaannya pada perbuatan seorang hamba. Selanjutnya, jika akidah ini hilang sama sekali dari hati, hilanglah keimanan secara keseluruhan. Tidak akan tampak wujud keimanan pada anggota badan.
Dengan demikian, kecintaan, pertolongan, dan sikap loyal yang merupakan makna al-wala’, serta kebencian dan pemusuhan yang merupakan makna dari al-bara’, berkaitan dengan hati.
Dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah serta Ijma’ tentang Akidah al-Wala’ wal Bara’
Sesungguhnya akidah al-wala’ wal bara’ adalah sesuatu yang harus diyakini secara pasti, tidak boleh ada keraguan sedikit pun tentangnya. Berikut ini dalil-dalil yang menjelaskan hal tersebut.
Di antara dalil dari Al-Qur’an adalah firman Allah l tentang al-wala’ wal bara’ adalah sebagai berikut.
”Sesungguhnya penolong kalian hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya tunduk (kepada Allah). Barang siapa mengambil Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.” (al-Maidah: 55—56)
Ibnu Jarir ath-Thabari t (wafat tahun 310 H) mengemukakan, “Wahai orang-orang yang beriman, kalian tidak punya penolong selain Allah l, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman. Adapun orang-orang Yahudi dan Nasrani—yang Allah l telah memerintahkan kalian untuk bara’ (berlepas diri) dari mereka dan melarang kalian untuk menjadikan mereka sebagai penolong—bukanlah pemimpin dan penolong kalian. Justru sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian lainnya. Oleh karena itu, jangan sekali-kali kalian menjadikan mereka sebagai pemimpin dan penolong.” (Tafsir ath-Thabari dalam Maktabah Syamilah)
Allah l juga berfirman:
“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, serta mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (at-Taubah: 71)
Ibnu Jarir t menerangkan, “Kaum mukminin dan mukminah adalah orang-orang yang beriman kepada Allah l, Rasul-Nya, ayat-ayat-Nya, serta beriman kepada kitab-kitab-Nya. Ciri khas mereka adalah sebagiannya menjadi penolong bagi sebagian yang lain.” (Tafsir ath-Thabari dalam Maktabah Syamilah)
Allahlberfirman:
“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Oleh karena itu, damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (al-Hujurat: 10)
Ayat yang mulia ini menjelaskan bahwa persaudaraan yang berlandaskan dien akan melahirkan kecintaan, kasih sayang, pembelaan, dan saling menolong. Di samping itu, ayat ini juga menerangkan hakikat hubungan antara kaum mukminin yang menyamai atau bahkan terkadang melebihi hubungan nasab, sehingga tidak ada ukhuwah (persaudaraan) sejati melainkan antara kaum mukminin.
Kemudian tentang al-bara’, Allah l berfirman:
“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali (penolong) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri-Nya (untuk murka terhadap kalian). Dan hanya kepada Allah kembali (kalian).” (Ali Imran: 28)
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (al-Maidah: 51)
Ibnu Jarir t mengatakan, “Sesungguhnya Allah l melarang seluruh kaum mukminin untuk menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai penolong dan pemimpin atas orang-orang yang beriman kepada Allah l dan Rasul-Nya. Allah l juga mengabarkan bahwa sebagian orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi penolong bagi sebagian yang lain sehingga hendaklah sebagian kalian (orang yang beriman) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Kemudian Allah l menegaskan bahwa barang siapa memberikan kecintaan kepada Yahudi dan Nasrani, ia dicap sebagai bagian dari mereka.” (Tafsir ath-Thabari dalam Maktabah Syamilah)
Dalil-Dalil dari As-sunnah
Dalil dari As-Sunnah tentang al-wala’ antara lain sabda Nabi n:
الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا
“Seorang mukmin bagi mukmin lainnya ibarat sebuah bangunan, sebagiannya menguatkan sebagian yang lain.” (HR. al-Bukhari no. 2446 dan Muslim no. 2585)
Rasulullah n bersabda:
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَا تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا، أَفَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى أَمْرٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ؟ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ
“Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman dan kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan kepada kalian sesuatu yang kalau kalian lakukan niscaya kalian akan saling mencintai? Yaitu, sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim no.54)
Adapun dalil tentang al-bara’, di antaranya hadits Jarir bin Abdillah al-Bajali z, ketika dia datang untuk berbaiat kepada Nabi n atas Islam. Nabi n bersabda, “Aku membaiatmu agar engkau beribadah kepada Allah l dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, menegakkan shalat, menunaikan zakat, dan menasihati setiap muslim, serta memisahkan diri dari orang musyrik.
Dalam riwayat lain:
“Berlepas diri (bara’) dari orang kafir.” (HR. Ahmad no. 19153, 19162, 19163, 19165, 19182, 19219, 19233 dan an-Nasai 7/147—148, no. 4175, 4176, 4177)
إِنَّ أَوْسَطَ عُرَى الْإِيمَانِ أَنْ تُحِبَّ فِي اللهِ وَتُبْغِضَ فِي اللهِ
“Sesungguhnya cabang keimanan yang paling pokok adalah kamu mencintai sesuatu karena Allah l dan membenci juga karena Allah l.” (HR. Ahmad no. 17793)
Rasulullah n bersabda, “Janganlah kalian tinggal bersama orang-orang musyrik, jangan pula bergabung dengan mereka. Barang siapa tinggal dan bergabung bersama mereka, dia bagian dari mereka.” (HR. al-Hakim 2/141—142, dari Samurah bin Jundub z)
Masih banyak dalil lainnya yang menyebutkan perintah Rasulullah n untuk menyelisihi orang-orang kafir dalam banyak hal.
Dalil Ijma’
Ibnu Hazm t mengatakan, “Memang benar bahwa firman Allah l:
”Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, sesungguhnya dia termasuk golongan mereka….” (al-Maidah: 51)
itu sesuai dengan kenyataannya, yakni dihukumi kafir, masuk ke dalam golongan orang-orang kafir. Masalah ini adalah sesuatu yang tidak ada perselisihan pendapat, meski oleh dua orang dari kaum muslimin.” (al-Muhalla, 11/138)
Allah l berfirman:
“Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (al-Fatihah: 6—7)
Para ahli tafsir sepakat bahwa orang-orang yang dimurkai adalah Yahudi dan orang-orang yang sesat adalah Nasrani.
Ini adalah doa yang dipanjatkan oleh setiap muslim pada tiap rakaat shalatyang wajib dan sunnah. Ia memohon agar Allah k menunjukinya sehingga dapat menempuh jalan orang-orang yang beriman dalam hal akidah, ucapan, dan amalannya. Ia memohon pula agar dijauhkan dari jalan orang-orang Yahudi, Nasrani, dan yang semisalnya.
Ini adalah jenis al-wala’ wal bara’ yang sangat jelas, karena mengandung ketundukan kepada Allah l agar dapat mewujudkannya dalam hati setiap muslim. (Lihat al-Wala’ wal Bara’ baina as-Samahah wal Ghuluw)
Hubungan al-Wala’ wal Bara’ dengan Landasan Iman
Akidah al-wala’ wal bara’ dalam Islam berhubungan dengan wujud keislaman. Selama di muka bumi ini ada seorang muslim, bertauhid, dan ada seorang kafir atau musyrik, selama itu pula harus ada wujud al-wala’ wal bara’. Oleh karena itu, al-wala’ wal bara’ adalah akidah, keyakinan, bahkan tuntutan dari kalimat tauhid La Ilaha Ilallah.
Akidah al-wala’ wal bara’ mempunyai kedudukan yang tinggi, terkait dengan dasar-dasar keimanan. Tidak seperti anggapan dan sikap sebagian orang yang menganggapnya sebagai sesuatu yang tabu sehingga sengaja menolak dan melupakannya. Padahal tidak akan tersisa iman seseorang tanpa ada al-wala’ wal bara’. Hilangnya al-wala’ wal bara’ berarti hilangnya keimanan. Allah l berfirman:
“Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan. Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi (Musa), dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (Nabi), niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrikin itu menjadi penolong-penolong, tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik.” (al-Maidah: 80—81)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t (wafat tahun 728 H) mengatakan, “Keimanan yang ada harus mendorong seseorang untuk tidak menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin atau penolong, karena keimanan dan menjadikan mereka sebagai penolong (adalah dua hal) yang tidak dapat bersatu dalam hati. Maka dari itu, siapa pun yang menjadikan mereka sebagai pemimpin atau penolong berarti belum mewujudkan keimanan yang seharusnya terhadap Allah l, Nabi-Nya, dan apa yang telah diturunkan kepadanya.” (Kitabul Iman hlm. 14)
Allah l berfirman:
“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah (golongan Allah) adalah golongan yang beruntung.” (al-Mujadilah: 22)
Korelasi atau hubungan antara dasar keimanan dengan al-wala’ wal bara’ adalah sesuatu yang diakui oleh fitrah manusia. Oleh karena itu, Al-Qur’an menegaskan bahwa nonmuslim menyimpan permusuhan dalam hatinya terhadap kaum muslimin dan menanamkan kecintaan kepada sesamanya. Hal ini menuntut kaum muslimin untuk memberikan kecintaan (wala’) kepada kaum mukminin dan menanam kebencian (bara’) kepada orang-orang kafir. Allah l berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudaratan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya. Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata, ’Kami beriman’; dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka), ’Matilah kamu karena kemarahanmu itu.’ Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati.” (Ali-Imran: 118—119)
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang. Padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Rabbmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad di jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barang siapa di antara kamu yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus. Jika mereka menangkap kamu, niscaya mereka bertindak sebagai musuh bagimu dan melepaskan tangan dan lidah mereka kepadamu dengan menyakiti(mu), serta mereka ingin supaya kamu (kembali) kafir.” (al-Mumtahanah: 1—2)
Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah, ”Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar).” Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. (al-Baqarah: 120)
“Sebagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka maafkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (al-Baqarah: 109)
“Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan di antara mereka penolong-penolong(mu), hingga mereka berhijrah pada jalan Allah. Jika mereka berpaling (dari berhijrah), tawan dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya1, dan janganlah kamu ambil seorang pun di antara mereka menjadi pelindung, dan jangan (pula) menjadi penolong.” (an-Nisa: 89)
Wallahu a’lam bish-shawwab.
Catatan Kaki:
1 Ayat ini turun berkaitan dengan sekelompok orang yang mengaku masuk Islam, namun kemudian bergabung dengan sebuah negeri kafir harbi karena penentangannya. Ayat ini tidak berbicara tentang kaum munafik yang hidup bersama kaum mukminin di Madinah. (Zubdatut Tafsir)

Mencintai Orang Beriman dan Membenci Orang Kafir Tali KeimananTerkokoh dalam Islam

(ditulis oleh: Al-Ustadz Ruwaifi bin Sulaimi)
Sudah menjadi ketetapan ilahi (sunnatullah) bahwa kebenaran (al-haq) dan kebatilan (al-batil) tidak akan pernah bersatu. Keduanya laksana dua kutub yang selalu berseberangan. Demikian pula para pengusungnya, mereka akan terus berseteru hingga akhir zaman nanti. Para pengusung kebenaran (ahlul haq) adalah para wali Allah l dari kalangan orang beriman, sedangkan para pengusung kebatilan (ahlul batil) adalah para wali setan dari kalangan orang kafir dan para pembelanya.
Kecintaan dan Kebencian di Ranah Keimanan
Kecintaan (al-hubbu) dan kebencian (al-bughdhu) merupakan amalan hati yang tak bisa dipisahkan dari kehidupan seseorang. Demikian pula dalam kehidupan beragama, keduanya tak bisa dipisahkan dari ranah keimanan seseorang. Secara kelaziman, kecintaan (al-hubbu) akan mewariskan sikap loyal/setia (al-muwalah), sedangkan kebencian (al-bughdhu) akan mewariskan sikap permusuhan (al-mu’adah).1
Keempat amalan tersebut akan terbilang sebagai amalan mulia, bahkan sebagai tanda bukti kecintaan seorang hamba kepada Rabbnya l manakala dilakukannya karena Allah l (fillah), bukan karena hawa nafsu atau kepentingan tertentu.2 Tak heran bila kemudian dikukuhkan sebagai tali keimanan terkokoh dan salah satu prinsip keyakinan (akidah) terpenting dalam Islam. Rasulullah n bersabda:
أَوْثَقُ عُرَى الْإِيْمَانِ: الْمُوَالاَةُ فِي اللهِ وَالْمُعَادَاةُ فِي اللهِ، وَالْحُبُّ فِي اللهِ وَالْبُغْضُ فِي اللهِ
“Tali keimanan terkokoh adalah bersikap loyal (setia) karena Allah l dan memusuhi karena Allah l, mencintai karena Allah l dan membenci karena Allah l.” (HR. ath-Thabarani dalam al-Mu’jamul Kabir no.11537 dari sahabat Abdullah bin Abbas c, dihasankan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam ash-Shahihah no. 1728)
Di antara bentuk kecintaan dan sikap loyal (setia) karena Allah l (fillah) adalah mencintai para wali Allah l dari kalangan orang beriman dan bersikap loyal (setia) kepada mereka. Adapun di antara bentuk kebencian dan sikap permusuhan karena Allah l (fillah) adalah membenci dan memusuhi para wali setan dari kalangan orang kafir dan para pembelanya.
Al-Imam Ibnul Qayyim t dalam kitabnya, ad-Da’ wad Dawa’, menegaskan bahwa kecintaan dan sikap loyal (setia) kepada orang beriman tersebut tidaklah sah jika tidak diiringi dengan kebencian dan sikap permusuhan terhadap musuh-musuh Allah l dari kalangan orang kafir dan para pembelanya.
Prinsip keyakinan di atas, sungguh telah terpatri pada jiwa para sahabat Nabi n selaku generasi terbaik umat ini, bahkan menjadi simbol kepribadian mereka yang diabadikan dalam Al-Qur’anul Karim. Hal ini sebagaimana dalam firman Allah l:
“Muhammad itu adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersamanya sangatlah keras terhadap orang-orang kafir, namun berkasih sayang sesama mereka.” (al-Fath: 29)
Kewajiban Mencintai Orang Beriman dan Membenci Orang Kafir
Manakala perseteruan antara para wali Allah l dari kalangan orang beriman selaku pengusung kebenaran (ahlul haq) dengan para wali setan dari kalangan orang kafir dan para pembelanya selaku pengusung kebatilan (ahlul batil) tidak pernah berhenti hingga akhir zaman nanti, maka di antara norma luhur dan keadilan yang ditanamkan oleh Islam kepada umatnya—sebagai konsekuensi keimanan—adalah kewajiban mencintai para wali Allah l dari kalangan orang beriman dan bersikap loyal (setia) kepada mereka. Sebagaimana pula Islam menanamkan kebencian dan sikap permusuhan kepada para wali setan dari kalangan orang kafir dan para pembelanya.
Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah dalam kitabnya, al-Wala’ wal Bara’ fil Islam, berkata, “Sesungguhnya setelah mencintai Allah l dan Rasul-Nya n, wajib mencintai para wali Allah l dan memusuhi musuh-musuh-Nya.”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t berkata, “Sesungguhnya orang-orang beriman itu adalah para wali Allah l, sebagian mereka adalah pembela bagi sebagian yang lain. Adapun orang-orang kafir adalah musuh Allah l dan musuh orang-orang beriman. Allah l mewajibkan sikap loyal (setia) terhadap sesama orang-orang beriman dan menjadikannya sebagai konsekuensi keimanan, sebagaimana pula Dia l melarang orang-orang beriman dari sikap loyal (setia) kepada orang-orang kafir.” (Majmu’ Fatawa 28/190)
Di antara dalil wajibnya mencintai para wali Allah l dari kalangan orang beriman dan bersikap loyal (setia) kepada mereka adalah firman Allah l:
“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (at-Taubah: 71)
“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Maka dari itu, damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudara kalian itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kalian mendapat rahmat.” (al-Hujurat: 10)
“Sesungguhnya penolong kalian hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). Barang siapa mengambil Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman sebagai penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.” (al-Maidah: 55—56)
“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa, ‘Ya Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang’.” (al-Hasyr: 10)3
Di antara dalil wajibnya membenci para wali setan dari kalangan orang kafir dan para pembelanya adalah firman Allah l:
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan musuh-Ku dan musuhmu sebagai teman-teman setia yang kalian sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang.” (al-Mumtahanah: 1)
“Sesungguhnya telah ada teladan yang baik bagi kalian pada Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya, ketika mereka berkata kepada kaum mereka, ‘Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian ibadahi selain Allah, kami ingkari (kekafiran) kalian, dan telah nyata permusuhan dan kebencian antara kami dan kalian selama-lamanya, sampai kalian mau beriman kepada Allah semata’.” (al-Mumtahanah: 4)
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin-pemimpin(mu), sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barang siapa di antara kalian yang menjadikan mereka sebagai pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (al-Maidah: 51)
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan bapak-bapak dan saudara-saudara kalian sebagai para pemimpin, jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan, dan barang siapa di antara kalian menjadikan mereka sebagai pemimpin, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (at-Taubah: 23)
“Kalian tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, ataupun keluarga mereka.” (al-Mujadilah: 22)4
Fenomena Berinteraksi dengan Orang Kafir
Para Pembaca yang mulia, dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa membenci orang kafir dan memusuhinya karena Allah l ialah tali keimanan terkokoh dalam Islam. Adapun mencintai orang kafir dan bersikap loyal (setia) kepadanya adalah perbuatan yang diharamkan dalam syariat Islam. Namun, realitas menunjukkan bahwa berinteraksi dengan orang kafir merupakan sebuah fenomena dalam kehidupan ini. Baik dengan orang kafir yang tinggal di negeri muslim dengan segala hak dan kewajibannya (dzimmi), orang kafir yang terikat perjanjian damai dengan kaum muslimin (mu’ahad), orang kafir yang mendapatkan jaminan keamanan untuk tinggal di negeri muslim (musta’man), maupun orang kafir yang sedang bermusuhan dengan kaum muslimin (harbi). Bagaimanakah bimbingan Islam mengompromikan masalah ini? Untuk mengetahuinya, ikuti dengan saksama bahasan berikut.
a. Hukum berinteraksi (muamalah) dengan orang kafir
Para Pembaca yang mulia, Islam dengan segala kesempurnaan dan keadilannya senantiasa membimbing umatnya agar bersikap adil dan menjauhkan diri dari perbuatan zalim, termasuk dalam masalah menyikapi orang kafir.
Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz t menjelaskan bahwa setiap muslim wajib berlepas diri dari orang-orang musyrik (kafir) dan menampakkan kebencian kepada mereka karena Allah l. Namun, ia tidak boleh menyakiti, mencelakai, dan berbuat semena-mena terhadap mereka dengan cara yang tidak benar, khususnya dari jenis yang tidak memerangi kita (bukan harbi). Meski demikian, tetap tidak boleh menjadikan mereka sebagai kawan dekat ataupun sebagai saudara. (Majmu’ Fatawa asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz 6/420)
Adapun berinteraksi (muamalah) dengan orang kafir merupakan permasalahan tersendiri dalam Islam yang tidak ada kaitannya dengan kecintaan dan sikap loyal (setia) kepada mereka. Secara hukum asal, berinteraksi (muamalah) dengan orang kafir karena suatu kebutuhan (dengan batasan-batasannya) diperbolehkan dalam Islam. Lebih dari itu, tidak ada dasar pengharamannya dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t menjelaskan bahwa secara hukum asal tidak diharamkan bagi semua manusia untuk melakukan interaksi (muamalah) yang dibutuhkannya, melainkan jika ada dasar pengharamannya dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. (Lihat as-Siyasah asy-Syar’iyah hlm. 155)
Maka dari itu, Allah l tidak melarang kaum muslimin untuk berbuat baik dan berlaku adil kepada orang kafir yang tidak menyakiti dan memerangi mereka. Hal ini sebagaimana dalam firman-Nya l:
“Allah tidak melarang kalian untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangi kalian karena agama dan tidak (pula) mengusir kalian dari negeri kalian. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (al-Mumtahanah: 8)
Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah dalam kitabnya al-Wala’ wal Bara’ fil Islam berkata, “Maksud dari ayat ini adalah bahwa orang kafir yang tidak menyakiti kaum muslimin, tidak memerangi mereka, dan tidak pula mengusir mereka dari negeri-negeri mereka, tidak mengapa bagi kaum muslimin membalas kebaikan tersebut dan berlaku adil dalam urusan duniawi, namun tidak mencintainya dalam hati. Karena yang disebutkan Allah l dalam firman-Nya l adalah, ‘Untuk berbuat baik dan berlaku adil kepada mereka’ bukan ‘Bersikap loyal (setia) dan mencintai mereka’. —hingga ucapan beliau—Maka dari itu, berinteraksi dan membalas kebaikan duniawi berbeda dengan kecintaan karena berinteraksi dan berbuat baik dapat menyebabkan ketertarikan kepada Islam, dan ini adalah bagian dari dakwah. Berbeda dengan kecintaan dan sikap loyal (setia), keduanya sarat akan persetujuan dan keridhaan terhadap orang kafir tersebut, dan ini tidak membuatnya tertarik dengan Islam.” (al-Wala’ wal Bara’ fil Islam)
Seiring dengan itu, asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah mengingatkan agar kita semua berhati-hati ketika berinteraksi (bermuamalah) dengan orang-orang kafir tersebut. (Lihat al-Muntaqa 2/45, fatwa no. 6901)
b. Hukum berjual-beli dengan orang kafir
Berjual-beli dengan orang kafir termasuk jenis interaksi (muamalah) yang diperbolehkan dalam Islam dan bukan termasuk kecintaan serta sikap loyal (setia) kepada mereka karena tidak adanya dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah yang mengharamkannya. Jual-beli hanyalah sebuah proses transaksi untuk memenuhi suatu kebutuhan yang hakikatnya tidak ada unsur kecintaan dan sikap loyal (setia). Lebih dari itu, Rasulullah n pernah membeli seekor kambing dari seorang lelaki musyrik. Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari t dalam kitab Shahih-nya. Kalaulah jual-beli dengan orang kafir itu termasuk dari kecintaan dan sikap loyal (setia) kepadanya, niscaya tidak akan dilakukan oleh Rasulullah n. Kalaulah jual-beli dengan orang kafir itu dilarang secara mutlak dalam Islam, niscaya tidak akan dicontohkan oleh Rasulullah n.
Bagaimana dengan safar (bepergian) ke negeri kafir (musuh) dalam rangka membeli barang atau berdagang? Safar ke negeri kafir (musuh) dalam rangka membeli barang atau berdagang diperbolehkan. Hal ini sebagaimana pernyataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t, “Seseorang bersafar ke negeri kafir (musuh) dalam rangka membeli barang atau berdagang adalah diperbolehkan, menurut hemat kami. Dasarnya adalah riwayat tentang berdagangnya sahabat Abu Bakr z di masa hidup Rasulullah n ke negeri Syam yang statusnya ketika itu sebagai negeri kafir (musuh).” (Iqtidha’ ash-Shiratil Mustaqim, hlm. 229)
Tidak berbeda pula dengan mengimpor barang dari negeri kafir. Hal itu juga diperbolehkan, sebagaimana fatwa asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah dalam kitabnya, al-Wala’ wal Bara’ fil Islam. Di antara dasar yang beliau sebutkan adalah bahwa kaum muslimin sejak zaman dahulu telah melakukan hal itu, dan semuanya dilakukan dengan transaksi pembayaran yang jelas. Oleh karena itu, dalam hal ini tidak ada sama sekali unsur utang jasa atau yang semisalnya terhadap mereka. Tidak pula ada sebagai sebab kecintaan dan sikap loyal (setia) kepada mereka.
Adapun menjual sesuatu kepada orang kafir yang dapat membantu mereka (musuh) untuk memudaratkan kaum muslimin—seperti menjual persenjataan, red.—, al-Imam Ibnu Baththal t menegaskan bahwa hal itu hukumnya haram. (Lihat Fathul Bari, 4/410)
Sama halnya dengan menjual sesuatu seperti makanan, pakaian, dan wewangian di hari raya orang kafir, juga diharamkan. Mengapa? Karena mengandung unsur saling menolong dengan orang kafir dalam memeriahkan dan mewujudkan hari raya mereka yang diharamkan itu. Demikianlah yang ditegaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t dalam kitab Iqtidhaush Shirathil Mustaqim (hlm. 229).
c. Hukum memboikot produk orang kafir
Bagaimana dengan ajakan memboikot produk orang kafir yang seringkali dimunculkan oleh pihak-pihak tertentu?
Menyikapi hal ini, hendaknya kaum muslimin tidak mudah terpancing dengan ajakan boikot tersebut. Masalah boikot produk tertentu yang beredar di negeri muslim, baik milik orang kafir maupun lainnya, bukan kewenangan pribadi atau kelompok tertentu. Ia adalah kewenangan pemerintah kaum muslimin. Walau demikian, hendaknya kaum muslimin tidak bermudah-mudahan membeli produk kafir, terlebih jika produk yang sama juga dimiliki oleh orang muslim. Membeli produk orang muslim tentunya lebih utama. Sama halnya dengan membeli sesuatu di toko milik orang kafir. Hukum asalnya diperbolehkan, dan tidak termasuk kecintaan atau sikap loyal kepadanya. Namun, jika sesuatu yang diinginkan itu ternyata ada di toko milik orang muslim, membeli dari saudara muslim tentunya lebih utama. Wallahu a’lam.
d. Hukum menjalin hubungan silaturahim dengan orang tua yang kafir
Menjalin hubungan silaturahim dengan orang tua yang kafir dan bergaul dengan baik terhadapnya, diperbolehkan dalam Islam (dengan batasan-batasannya). Hal ini sebagaimana dalam firman Allah l:
“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kalian mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (Luqman: 15)
Di dalam “Kitabul Hibah” dari Shahih al-Bukhari disebutkan bahwa Rasulullah n membimbing Asma’ bintu Abi Bakr x untuk menjalin tali silaturahim dengan ibunya yang masih musyrik, ketika sang ibu mendatanginya dan meminta jalinan tali silaturahimnya.
Al-Hafizh Ibnu Hajr t menegaskan dalam Fathul Bari (5/233) bahwa berbakti, silaturahim, dan berbuat baik tidaklah mengharuskan adanya kecintaan dan kasih sayang yang dilarang dalam firman Allah l:
“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara, ataupun keluarga mereka.” (al-Mujadilah: 22)
e. Hukum menjenguk orang kafir yang sakit dan bertakziah saat meninggal dunia
Menjenguk orang kafir yang sakit diperbolehkan dalam Islam jika dipandang ada maslahatnya. Hal ini sebagaimana diriwayatkan dalam “Kitabul Jana’iz” dari Shahih al-Bukhari bahwa Rasulullah n melakukannya terhadap seorang anak muda Yahudi yang biasa membantu beliau n, hingga berujung pada masuk Islamnya anak muda tersebut. Demikian pula terhadap paman beliau n Abu Thalib (yang masih musyrik) pada sakit menjelang kematiannya walaupun akhirnya tidak mau masuk Islam.
Al-Imam Ibnu Baththal t mengatakan, “Hal itu disyariatkan jika si sakit bisa diharapkan untuk masuk Islam. Akan tetapi, jika kecil kemungkinannya, tidak disyariatkan.”
Adapun al-Hafizh Ibnu Hajar t memandang bahwa hal itu tergantung tujuan menjenguk tersebut, karena terkadang ada maslahat lain (selain keislamannya) yang bisa diraih dari tindakan tersebut. (Lihat Fathul Bari, 10/119)
Adapun bertakziah kepada salah seorang dari mereka yang meninggal dunia, hal itu diperbolehkan jika dipandang ada maslahatnya, dan diperbolehkan pula mendoakan yang hidup dari mereka agar mendapatkan hidayah dari Allah l. Namun, tidak boleh mendoakan si mayit dengan ampunan ataupun rahmat. Demikianlah yang dijelaskan oleh asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz sebagaimana dalam Fatawa Nur ‘Alad Darb, pada penjelasan tema al-Wala’ wal Bara’.
Wallahu a’lam bish-shawab.5

Catatan Kaki:
1 Lihat Qa’idah fil Mahabbah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hlm. 198.
2 Lihat Ma’arijul Qabul karya asy-Syaikh Hafizh bin Ahmad al-Hakami 1/383.
3 Di antara bentuk kecintaan dan sikap loyal terhadap orang-orang beriman: (1) Berhijrah dari negeri kafir (yang ditinggalinya) ke negeri kaum muslimin demi menyelamatkan agama. (2) Membela dan membantu mereka dengan jiwa, harta, dan lisan dalam hal yang mereka butuhkan, baik terkait dengan urusan agama maupun dunia. (3) Turut merasakan suka dan duka yang mereka rasakan. (4) Menyampaikan nasihat (masukan) kepada mereka, menginginkan kebaikan untuk mereka, tidak berbuat curang dan melakukan tipu muslihat terhadap mereka. (5) Menghormati dan menghargai, serta tidak merendahkan mereka. (6) Satu hati bersama mereka dalam kondisi sulit dan mudah, sempit dan lapang. (7) Mengunjungi mereka, senang bertemu dengan mereka, dan bergabung dengan mereka. (8) Menghargai hak-hak mereka dan berlemah lembut dengan kalangan lemah di antara mereka. (9) Mendoakan kebaikan untuk mereka dan memohonkan ampun atas kesalahan mereka (kepada Allah l). (Diringkas dari kitab al-Wala’ wal Bara’ fil Islam karya asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan)
4 Di antara bentuk kecintaan dan sikap loyal (setia) kepada orang kafir yang diharamkan oleh Allah l adalah: (1) Tasyabbuh (menyerupai cara hidup) orang kafir dalam hal berpakaian, ucapan, dan yang lainnya. (2) Tinggal di negeri kafir tanpa adanya upaya untuk pindah (hijrah) dalam rangka menyelamatkan agamanya. (3) Pergi ke negeri kafir dalam rangka rekreasi dan mencari ketenangan jiwa. (4) Membantu orang kafir dalam memerangi kaum muslimin, memuji-muji, dan membela mereka. (5) Meminta pertolongan kepada mereka (dengan penuh kehinaan), percaya penuh dengan mereka, memberikan jabatan strategis terkait dengan urusan intern/rahasia kaum muslimin, menjadikan mereka sebagai kawan dekat dan penasihat. (6) Ikut merayakan hari raya mereka, membantu pelaksanaannya, memberikan ucapan selamat hari raya, atau menghadiri acara ritual hari raya mereka. (7) Membanggakan mereka dalam hal ilmu pengetahuan dan teknologi, terkesima dengan perangai dan kepandaian mereka tanpa melihat sisi akidah dan agama mereka yang batil. (8) Menggunakan nama-nama mereka sebagai nama identitas. (9) Memintakan ampunan dan mendoakan rahmat untuk mereka. (Diringkas dari kitab al-Wala’ wal Bara’ fil Islam karya asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan)
Apabila kecintaan dan sikap loyal (setia) kepada orang kafir sampai pada tingkat keberpihakan kepada mereka atas kaum muslimin, atau membela mereka dengan mengaburkan berbagai kekafiran mereka bahkan berbangga dengannya, hal itu dapat mengeluarkan seseorang dari Islam (murtad). (Lihat al-Muntaqa karya asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan 2/45 dan Fatwa al-Lajnah ad-Da’imah no. 6901)

Surat Pembaca edisi 68

Pengingkar Azab Kubur
Bismillah. Apakah Asy-Syariah pernah membahas tentang azab kubur guna membantah pemahaman sesat Hizbut Tahrir yang banyak di penjuru negeri ini?
0878908xxxxx
Tentang azab kubur bisa dilihat kembali di Vol. 51/V/1430 H/2009. Adapun kajian khusus yang berisi bantahan ilmiah terhadap kelompok yang mengingkari azab kubur bisa dikaji di rubrik “Tafsir” pada edisi yang sama. Jazakumullahu khairan.
Teks Arab Kurang
Bismillah. Afwan, pada edisi 67 hlm. 10, sepertinya teks Arab (hadits) kurang lengkap, pada artinya disebutkan, “Laknat Allah atas orang-orang Yahudi dan Nasrani…” sedangkan pada teks Arab tidak ada kata “nashara”.
Ummu Habibah-Indramayu
0821270xxxxx
Anda benar, jazakillahu khairan atas koreksinya. Jawaban ini sekaligus sebagai ralat dari kami. Atas kesalahan ini, Redaksi memohon maaf kepada seluruh Pembaca.
Tentang Pakaian di Atas Mata Kaki
Mohon dijelaskan tentang hukum dari tata cara berpakaian untuk kaum laki-laki, tentang larangan berpakaian sampai menutupi kedua mata kaki, apakah itu benar-benar atau hanya keyakinan kelompok sendiri-sendiri.
0857414xxxxx
Larangan mengenakan pakaian yang menutup mata kaki (isbal) berasal dari Rasulullah n yang terekam dalam banyak hadits yang sahih, jadi bukan merupakan keyakinan “kelompok” tertentu. Para ulama juga telah menjelaskan bahwa hadits-hadits tentang pelarangan isbal mencapai derajat mutawatir makna, tercantum dalam kitab-kitab Shahih, Sunan, ataupun Musnad, diriwayatkan dari sekelompok sahabat dalam jumlah yang banyak. Mereka juga telah menulis banyak bantahan terhadap pendapat yang membolehkan isbal dengan dalih “selama tidak sombong”.
Asy-Syariah sendiri memang belum membahas secara khusus dan panjang lebar tentang “isbal” ini, namun untuk menambah wawasan keilmuan, Anda bisa buka kembali Asy-Syariah Vol. VI/No. 65/1431 H/2010 pada rubrik “Hadits” atau di Vol. IV/No. 39/1429 H/2008 rubrik “Permata Hati”. Jazakumullahu khairan.
Ayah Hisyam bin Urwah
Masukan untuk Asy-Syariah terbaru, edisi 67, hlm. 29, rubrik Kajian Utama, tertulis, “Al-Imam Ibnu Abi Hatim meriwayatkan sebuah hadits dari Hisyam bin Urwah, bahwa ayahnya, Abdullah bin az-Zubair ….”
Tampaknya ayah Hisyam bukan Abdullah bin az-Zubair. Mungkin Urwah bin az-Zubair. Tolong dicek.
Anda benar. Seharusnya ditulis, “Hisyam bin Urwah menceritakan dari ayahnya, Urwah bin az-Zubair, bahwa Abdullah bin az-Zubair berkata ….”
Jazakallah khairan atas masukannya. Surat pembaca ini sekaligus sebagai ralat.

Islam yang Rahmatan lil Alamin

Sikap seorang muslim terhadap nonmuslim telah gamblang digariskan dalam syariat. Sebagai agama pertengahan (seimbang), sikap Islam terhadap nonmuslim pun proporsional, bersikap lembut tapi pada tempatnya dan bersikap keras atau tegas juga pada tempatnya. Masing-masingnya tidak dilakukan secara berlebihan. Lembut tapi tidak berarti berkasih sayang kepada mereka hingga menerabas batas-batas akidah, bersikap keras pun tidak berarti bermudah-mudah dalam menumpahkan darah mereka. Semua itu terangkum dalam apa yang disebut dengan akidah al-wala’ wal bara’.
Memang tak bisa dimungkiri, ada kalangan Islam yang kebenciannya terhadap nonmuslim acap kebablasan. Setiap ada permasalahan sekecil apa pun yang muncul dengan tetangganya yang nonmuslim—misalnya—aksi fisik atau senjata tajamlah yang kemudian berbicara. Di pihak lain, ada yang merepresentasikan orang kafir dengan Amerika Serikat (AS) dan sekutunya. Maka setiap kepentingan atau aset yang ”berbau” negara tersebut, bahkan setiap orang yang dianggap antek AS—baik muslim maupun nonmuslim— di mana pun, diyakini harus dilibas habis. Muncullah kemudian aksi-aksi teror yang mengatasnamakan jihad.
Walaupun tindakan AS dan sekutunya selama ini memang benar-benar menzalimi kaum muslimin atau menerapkan standar ganda terhadap Islam—dan demikianlah sunnatullah berbicara tentang orang-orang kafir—, namun semestinya sikap kita tetap mendasarkan pada tuntunan syariat. Lebih-lebih aksi-aksi teror yang maksud hati mengangkat kemuliaan Islam namun pada kenyataannya justru menjatuhkan kemuliaan dan citra Islam. Kebencian terhadap Islam justru kian menyala di dada-dada musuh Islam. Sementara bagi muslim yang imannya lemah, justru kian agamanya. Islam, bagi mereka, dianggap agama yang tidak memberikan kedamaian, namun justru keresahan.
Dampak lebih jauh, ajaran-ajaran pluralisme kian mendapat angin segar dan tumbuh subur di negeri ini. Kalangan liberal—yang rajin mengampanyekan paham tersebut—kian gemar melontarkan pernyataan-pernyataan: “semua agama baik”, ”semua agama tidak mengajarkan kekerasan”, ”semua agama mengajarkan kedamaian”, dan semacamnya. Inti dari pernyataan-pernyataan tersebut tak lain; semua agama adalah benar, hilangkan istilah kafir di antara pemeluk agama, karena yang dinamakan kafir adalah orang-orang yang tidak mengakui adanya Tuhan.
Tak hanya itu, dalam praktiknya kemudian, dengan mengusung jargon kerukunan atau toleransi antarumat beragama, doa lintas agama atau lintas keyakinan pun marak digelar di daerah-daerah.
Di sisi lain, ada sebuah partai yang mengaku Islam justru membuka diri terhadap orang-orang kafir, memberikan peluang bagi mereka untuk menduduki jabatan sebagai anggota legislatif ataupun jabatan lainnya. Sudah terjerat dalam sistem demokrasi yang bertentangan dengan Islam, lantas tercebur dalam lumpur politik kotor yang acap membenamkan syariat di bawah kepentingan-kepentingan politik praktis. Lebih lucu lagi, mereka dengan bodohnya membanggakan diri sebagai orang-orang terdepan yang memperbaiki umat. Orang-orang di luar partai dianggap tidak berbuat apa-apa. Aktivitas dakwah—tentunya yang di luar garis partai—dianggap tidak mampu membuahkan hasil nyata. Na’udzubillah!
Sudah keblingerkah mereka dengan partai dan sudah teracunikah mereka dengan demokrasi, sehingga kebijakan partai yang merangkul orang-orang kafir diamini dan ditaklidi dengan bangga? Di manakah akal sehat mereka sebagai orang-orang muslim? Dibuang kemana ayat-ayat Al-Qur’an yang melarang menjadikan mereka sebagai pemimpin, penolong/pembela, atau orang-orang kepercayaan?
Di sinilah pentingnya kita memahami akidah al-wala’ wal bara’ sehingga kita bisa bertindak secara tepat sesuai syariat. Lebih dari itu, kita pun bisa mendudukkan Islam sebagai agama yang rahmatan lil ’alamin secara benar.

Godaan Dunia dan Wanita

Abu Sa’id al-Khudri z, seorang sahabat yang mulia, berkata:
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ n: إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةُ وَإِنَّ اللهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيْهَا لِيَنْظُرَ كَيْفَ تَعْمَلُوْنَ، فَاتَّقُوْا الدُّنْيَا وَاتَّقُوْا النِّسَاءَ، فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ
Rasulullah n bersabda, “Sungguh dunia itu manis lagi hijau, dan sungguh Allah menjadikan kalian sebagai khalifah di dalamnya, maka Dia akan melihat bagaimana yang kalian amalkan (apa perbuatan kalian). Berhati-hatilah kalian dari dunia dan berhati-hatilah dari para wanita karena ujian pertama yang menimpa Bani Israil adalah pada kaum wanitanya.” (HR. Muslim)
Dalam hadits di atas, Rasulullah n mengabarkan keadaan dunia dan sifatnya yang meluluhkan hati orang-orang yang memandang dan merasakannya. Kemudian Rasulullah n mengabarkan bahwa Allah l menjadikan dunia sebagai fitnah (ujian dan cobaan) bagi para hamba. Setelahnya, beliau n menyuruh kita menempuh sebab-sebab yang akan menjaga dan melindungi kita dari terjerumus ke dalam fitnahnya.
Pengabaran Rasulullah n bahwa dunia itu manis lagi hijau mencakup seluruh sifat dunia beserta apa yang ada di atasnya. Maka dari itu, dunia itu manis dalam hal rasanya, kelezatan, dan kesenangannya. Dunia itu hijau dalam hal keindahan dan kebagusannya yang tampak. Hal ini sebagaimana firman Allah l:
“Dijadikan indah bagi manusia kecintaan kepada syahwat/kesenangan-kesenangan dunia berupa wanita, anak-anak, harta yang banyak berupa emas dan perak, demikian juga kuda-kuda yang ditambatkan, hewan-hewan ternak, dan sawah ladang….” (Ali Imran: 14)
“Sesungguhnya Kami menjadikan apa yang ada di atas bumi sebagai perhiasan bagi bumi untuk Kami menguji mereka; siapakah di antara mereka yang paling baik amalannya.” (al-Kahfi: 7)
Kelezatan yang beraneka ragam dan warna ada di dunia. Demikian pula pemandangan yang memesona. Allah l menjadikan semua itu sebagai ujian dan cobaan dari-Nya. Dia l juga menjadikan para hamba turun-temurun menguasainya, generasi demi generasi, agar Dia melihat apa yang mereka lakukan di atasnya.
Siapa yang mengambil perhiasan dunia dan meletakkannya sesuai dengan hak atau tempat yang semestinya, serta menjadikan perhiasan itu sebagai pembantu untuk menunaikan ubudiyah (peribadatan kepada Allah l) sebagai tujuan penciptaannya, niscaya perhiasan dunia tersebut menjadi bekal baginya. Perhiasan dunia akan menjadi tunggangan menuju negeri yang lebih mulia dan lebih kekal daripada dunia. Dengan begitu, sempurnalah baginya kebahagiaan duniawi dan ukhrawi.
Namun, siapa yang menjadikan dunia sebagai cita-citanya yang paling besar dan puncak ilmu serta keinginannya, padahal dia tidak akan diberi dari dunia ini selain sebatas apa yang telah ditetapkan baginya1, niscaya akhir kesudahannya adalah kesengsaraan. Dia tidak bisa menikmati kelezatan dan syahwat (kesenangan) dunia selain hanya dalam waktu yang singkat, karena dunia itu memang kelezatannya sedikit sedangkan kesedihannya panjang.
Segala macam kelezatan dunia adalah fitnah (godaan) dan ujian. Namun, fitnah (ujian) dunia yang paling besar dan paling dahsyat adalah wanita. Fitnah wanita sangatlah besar. Terjatuh ke dalam fitnah wanita sangatlah genting dan amat besar bahayanya karena wanita adalah umpan dan jeratan setan. Betapa banyak orang yang baik, sehat, dan merdeka yang diberi umpan para wanita oleh setan. Orang itu pun menjadi tawanan dan budak syahwatnya. Dia tergadai oleh dosanya (menjadi jaminan bagi dosanya). Sungguh sulit baginya untuk lepas dari fitnah tersebut. Dosanya itu adalah dosa akibat ulahnya sendiri karena tidak berhati-hati dan tidak menjaga diri dari bala tersebut. Jika dia menjaga dirinya dan berhati-hati dari fitnah wanita, tidak mencoba-coba masuk ke tempat-tempat masuknya tuduhan/prasangka, tidak menantang fitnah, disertai meminta pertolongan dengan berpegang teguh kepada Allah l, niscaya dia akan selamat dari fitnah ini dan terbebas dari ujian ini.
Karena demikian besarnya fitnah wanita, dalam hadits ini Nabi n sampai memberikan peringatan dengan secara khusus menyebutkan wanita dari sekian banyak fitnah dunia. Beliau n memberitakan apa yang terjadi pada umat sebelum kita (yang rusak karena wanita –pent.) karena hal itu mengandung pelajaran bagi orang-orang yang mau mengambil pelajaran dan nasihat bagi orang-orang yang bertakwa. Wallahu a’lam.
(Diterjemahkan oleh Ummu Ishaq al-Atsariyah dari kitab Bahjatu Qulubil Abrar wa Qurratu ‘Uyunil Akhyar fi Syarhi Jawami’il Akhbar, karya al-Allamah asy-Syaikh Abdurrahman ibnu Nashir as-Sa’di t, hlm. 187—188, hadits ke-78)
Catatan Kaki:
1 Sebagaimana disebutkan oleh hadits Anas z, Rasulullah n bersabda:
مَنْ كاَنَتِ الْأَخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللهُ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ، وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ؛ وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ، جَعَلَ اللهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ، وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهُ، وَلَمْ يأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا قُدِّرَ لَهُ
“Siapa yang menjadikan akhirat sebagai maksud dan tujuannya, niscaya Allah l akan menjadikan kekayaannya dalam hatinya dan Allah akan mengumpulkan urusannya yang tercerai-berai, bersamaan dengan itu dunia datang kepadanya dalam keadaan hina dan rendah. Sebaliknya, siapa yang menjadikan dunia sebagai maksud dan tujuannya, niscaya Allah l akan menjadikan kefakirannya di hadapan kedua matanya, dan Allah l akan mencerai-beraikan urusannya yang semula terkumpul, sementara dunia tidak datang kepadanya selain sebatas apa yang telah ditetapkan untuknya.” (HR. at-Tirmidzi, dihasankan dalam ash-Shahihah no. 949)


MAKNA MENYAMBUNG SILATURAHIM AKAN MEMANJANGKAN UMUR

Apa makna sabda Nabi n:
مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
“Siapa yang suka dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung hubungan rahimnya.” (Muttafaqun ‘alaih dari Anas z)
Apakah maknanya seseorang mempunyai umur tertentu jika ia menyambung rahimnya dan umur yang lain lagi jika ia tidak menyambung rahimnya?
Jawab:
Kata asy-Syaikh Ibnu Utsaimin t, “Hadits ini tidaklah bermakna bahwa seseorang memiliki dua umur yang berbeda; umur jika ia menyambung rahimnya dan umur jika ia tidak menyambung rahimnya. Setiap orang hanya memiliki satu umur dan yang ditetapkan baginya juga hanya satu. Seseorang yang ditakdirkan oleh Allah l akan menyambung rahimnya, ia pasti akan menyambung rahimnya. Adapun orang yang ditakdirkan oleh Allah l memutus hubungan rahimnya, pasti dan mesti, tidak mungkin tidak, ia akan memutus rahimnya. Akan tetapi, Rasulullah n ingin mendorong umat beliau untuk melakukan amalan yang mengandung kebaikan. Sebagaimana kita katakan, ‘Siapa yang ingin punya anak, hendaklah ia menikah.’ Urusan menikah sudah ditetapkan, demikian pula anak. Jika Allah l menghendaki engkau memiliki anak niscaya Dia menginginkan engkau menikah, bersamaan dengan itu menikah dan memiliki anak masing-masingnya telah ditetapkan.
Demikian pula tentang rezeki yang telah dicatat dan ditetapkan dari asalnya. Telah pula ditetapkan bahwa engkau akan menyambung rahimmu. Akan tetapi, engkau tidak tahu tentang hal ini. Maka dari itu, Nabi n mendorong dan menerangkan kepadamu bahwa jika engkau menyambung rahimmu, Allah l akan membentangkan rezekimu dan memanjangkan umurmu. Walaupun segala sesuatu telah ditetapkan, namun karena silaturahim adalah hal yang semestinya ditunaikan oleh setiap insan, Nabi n memberi dorongan untuk melakukannya, dengan pernyataan beliau bahwa jika seseorang ingin rezekinya dilapangkan dan umurnya dipanjangkan, hendaknya ia menyambung rahimnya. Di sisi lain, perbuatan orang yang menyambung hubungan rahim telah ditetapkan dan telah pula ditetapkan umurnya sampai batas yang dikehendaki oleh Allah l.
Kemudian, ketahuilah bahwa panjangnya umur dan lapangnya rezeki adalah urusan yang nisbi (relatif). Oleh karena itu, kita mendapati sebagian orang yang menyambung rahimnya rezekinya lapang pada beberapa urusan, namun umurnya pendek. Ini adalah kenyataan yang benar-benar terjadi. Kita katakan bahwa umurnya pendek padahal dia telah menyambung hubungan rahim. Seandainya dia tidak menyambung rahimnya, niscaya umurnya lebih pendek lagi. Akan tetapi, Allah l telah menetapkan sejak zaman azali bahwa orang ini akan menyambung rahimnya dan telah menetapkan akhir umurnya sampai waktu tertentu.”
(Majmu’ Fatawa wa Rasail, 2/111—112, fatwa no. 210)

WAS-WAS RIYA’ DALAM BERAMAL

Ketika seseorang berkeinginan untuk beramal kebaikan, setan datang memberikan was-was kepadanya dengan mengatakan, “Engkau melakukan itu karena riya dan sum’ah.” Karena omongan ini, akhirnya ia urung melakukan amalan kebaikan. Bagaimanakah cara menjauhi was-was semacam ini?
Jawab:
“Caranya adalah memohon perlindungan kepada Allah l dari setan yang terkutuk dan terus melanjutkan beramal kebaikan, tanpa menoleh kepada was-was yang menghalangi/mencegahnya dari berbuat kebaikan tersebut. Jika ia berpaling dan tidak memedulikan omongan itu, serta berlindung kepada Allah l dari setan yang terkutuk, niscaya akan hilang darinya was-was tersebut dengan izin Allah l.”
Demikian bimbingan Fadhilatusy Syaikh ibnu al-Utsaimin t (2/209, fatwa no. 277).

SIHIR UNTUK MERUKUNKAN SUAMI-ISTRI

Apa hukumnya merukunkan suami istri menggunakan sihir?
Jawab:
Fadhilatusy Syaikh Muhammad ibnu Shalih Al-Utsaimin t menjawab, “Hal tersebut diharamkan dan tidaklah diperbolehkan. Sihir yang bertujuan demikian dinamakan ‘athf. Adapun sihir yang bisa memisahkan antara suami dan istri (atau dua orang yang saling mencintai), yang dinamakan sharf, juga diharamkan. Bahkan, hukumnya bisa kafir dan syirik. Allah l berfirman:
“Tidaklah mereka berdua mengajarkan sesuatu kepada seorang pun sebelum mengatakan, ‘Sesungguhnya kami hanya cobaan bagimu maka janganlah engkau kafir.’ Maka mereka mempelajari dari keduanya itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang suami dengan istrinya. Dan mereka (tukang sihir itu) tidak dapat memberi mudarat dengan sihirnya kepada seorang pun selain dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang dapat memberi mudarat kepada mereka dan tidak memberi manfaat. Dan sungguh mereka telah meyakini bahwa barangsiapa menukar Kitabullah dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat….” (al-Baqarah: 102) (Majmu’ Fatawa wa Rasail Fadhilatusy Syaikh Muhammad ibnu Shalih al-Utsaimin, 2/177—178, fatwa no. 254)
Beliau t juga ditanya tentang macam-macam sihir. Beliau t menjawab, “Sihir terbagi dua.
1. Sihir yang berupa ikatan dan jampi-jampi
Sihir ini adalah bacaan dan mantra-mantra yang diucapkan oleh tukang sihir untuk menyenangkan setan dan meminta bantuan kepadanya dengan tujuan menimpakan bahaya/kejelekan kepada orang yang hendak disihir. Allah l berfirman:
“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya setan-setan itulah yang kafir, mereka mengajarkan sihir kepada manusia….” (al-Baqarah: 102)
2. Obat-obatan dan ramuan-ramuan yang dapat memberi pengaruh kepada orang yang disihir, memengaruhi akalnya, keinginan, dan kecondongannya.
Inilah yang dinamakan ‘athf dan sharf. Tukang sihir ini menjadikan seseorang mencintai istrinya atau wanita lain hingga ia seperti binatang ternak yang bisa digiring oleh si wanita sekehendaknya. Adapun sharf adalah sebaliknya, membuat seseorang membenci istrinya. Obat-obatan tersebut memberi pengaruh pada tubuh orang yang disihir dengan melemahkannya sedikit demi sedikit hingga ia binasa. Sihir ini juga memengaruhi pandangannya. Dikhayalkan pada dirinya urusan-urusan yang menyelisihi hakikatnya.”
(Majmu’ Fatawa wa Rasail, 2/178, fatwa no. 255)

Qutailah bintu Shaifi

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Abdirrahman)
Di antara sekian banyak sosok shahabiyat, dia mungkin tak banyak dikenal. Namun, bagi orang yang menelaah kitab hadits, dia akan menjumpai nama wanita mulia ini. Dia, Qutailah bintu Shaifi al-Juhaniyah x. Dia termasuk para wanita yang berhijrah ke Negeri Habasyah pada hijrah yang pertama.
Tercatat satu hadits yang dia riwayatkan dari Rasulullah n. Qutailah menuturkan, pernah datang seorang pendeta Yahudi kepada Rasulullah n.
“Hai Muhammad!” ujar pendeta itu, “Kalian ini kaum yang paling baik seandainya kalian tidak berbuat syirik.”
“Bagaimana itu?” tanya Rasulullah n.
“Salah seorang di antara kalian bila bersumpah mengatakan ‘Demi Ka’bah’.” kata si pendeta.
Rasulullah n diam sejenak. Lalu beliau menyatakan, “Barang siapa bersumpah, hendaknya bersumpah dengan nama Rabb Ka’bah!”
“Hai Muhammad!” ujar pendeta itu lagi, “Kalian adalah umat terbaik seandainya kalian tidak menjadikan tandingan bagi Allah.”
“Bagaimana itu?” tanya Rasulullah n.
“Kalian mengatakan ‘Atas kehendak Allah dan kehendakmu’.” kata si pendeta.
Rasulullah n kembali diam sejenak. Setelah itu beliau menyatakan, “Barang siapa ingin mengatakan ucapan itu, hendaknya mengatakan ‘Atas kehendak Allah kemudian kehendakmu’.”1
Sumber bacaan:
– Al-Ishabah, al-Hafizh Ibnu Hajar al-’Asqalani (8/284)
– Ath-Thabaqatul Kubra, al-Imam Ibnu ‘Abdil Barr (10/292)
– Tahdzibul Kamal, al-Imam al-Mizzi (35/270—272)
Catatan Kaki:
1 Hadits ini diriwayatkan oleh al-Imam an-Nasa’i dalam al-Mujtaba (7/6) dan ‘Amalul Yaum wal Lailah no. 986, al-Imam Ahmad dalam Musnad-nya (6/371 & 372), al-Imam ath-Thahawi dalam Musykilul Atsar (1/91 & 357), al-Imam al-Hakim dalam al-Mustadrak (4/297), beliau mensahihkannya dan disepakati oleh al-Imam adz-Dzahabi. Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan dalam al-Ishabah (8/284), “Hadits sahih.”

Faktor Pendukung Pendidikan Anak (bagian ke 3)

40. Menjadi pendengar yang baik dan membuat anak merasa diperhatikan ucapannya
Orang tua seperti ini lebih baik daripada orang tua yang sibuk dan tidak memerhatikan anaknya, selalu membuang muka dan enggan mendengarkan pembicaraan si anak. Karena itu, sudah semestinya orang tua mendengarkan baik-baik bila anak sedang berbicara—terutama anak-anak yang masih kecil—dan menunjukkan perhatian kepada pembicaraan itu. Misalnya menunjukkan ekspresi terkejut, bersuara, atau memperlihatkan gerakan yang menunjukkan bahwa kita mendengarkan, memerhatikan, dan merasa takjub. Seperti mengatakan, “Bagus!” atau “Benar!”, atau berdiri spontan, atau menganggukkan kepala tanda membenarkan, atau menjawab segala pertanyaan anak, dan sebagainya.
Tindakan-tindakan semacam ini memiliki banyak dampak positif. Di antaranya adalah:
a. Mengajari anak untuk mengungkapkan pembicaraan dengan baik.
b. Membantu anak untuk berpikir sistematis.
c. Melatih anak untuk mau mendengarkan dan memahami apa yang didengarnya dari orang lain.
d. Menumbuhkan dan mengasah pribadi anak.
e. Memperkuat daya ingat dan membantu anak mengingat kembali peristiwa yang telah lampau.
f. Menambah kedekatan anak dengan orang tuanya.
41. Mencari tahu dan mengawasi keadaan anak dari jauh
Ada beberapa hal yang harus dilakukan:
a. Mengawasi penunaian ibadah si anak, seperti shalat, wudhu, dan sebagainya
b. Mengawasi penggunaan pesawat telepon rumah.
c. Melihat isi kantong dan laci tanpa sepengetahuan mereka, seperti ketika mereka pergi ke sekolah atau tidur, kemudian mengambil tindakan yang sesuai dengan apa yang dilihat.
d. Menanyakan keadaan teman-temannya.
e. Mengawasi berbagai bacaan anak, melarangnya membaca buku-buku yang dapat merusak agama dan akhlak, sekaligus membimbingnya untuk membaca buku-buku yang bermanfaat.
42. Menghargai persahabatan anak dengan teman-teman yang baik
Hal ini dilakukan dengan mendorong anak untuk terus berteman dengan mereka, menyambut mereka saat datang mengunjungi si anak, bahkan meminta mereka untuk datang. Juga mempersiapkan kedatangan mereka dengan berbagai sambutan yang baik, seperti memuliakan mereka dengan segala sesuatu yang layak untuk mereka dapatkan, menyambut mereka dengan senang disertai ucapan selamat datang, membuat mereka merasa dihargai, menjawab ucapan mereka dengan kata-kata yang baik, serta menanyakan keadaan orang tua dan keluarga mereka.
Sikap-sikap seperti ini akan membuat teman-teman si anak merasa seperti di rumah sendiri. Si anak pun akan merasa dihargai dan dianggap. Selanjutnya, anak akan terdorong untuk menaati dan menghormati orang tuanya, sebagaimana dia pun terdorong untuk terus membina persahabatan dengan mereka dan menjauhi teman-teman yang jelek.
43. Bersikap hikmah saat menjauhkan anak dari teman-teman yang jelek
Tidak sepantasnya orang tua terburu-buru menggunakan kekerasan dalam hal ini. Hendaknya orang tua tidak terburu-buru menjelekkan teman-teman itu di hadapan anak atau segera mengusir begitu mereka datang, karena si anak merasa dekat dan senang berteman dengan mereka.
Sepatutnya orang tua mengambil langkah bertahap. Pertama kali, berbicara kepada si anak tentang jeleknya dan bahayanya persahabatan itu bagi dirinya. Setelah itu barulah memberikan ancaman serta menyadarkan si anak bahwa orang tuanya berusaha untuk menjauhkan dirinya dari teman-temannya, dan nanti akan mendatangi orang tua teman-temannya itu agar menjauhkan anak-anak mereka darinya. Jika orang tua telah memperingatkan si anak dan bertindak sejauh kemampuannya, bahkan segala upaya telah ditempuh, dan orang tua melihat persahabatan anaknya dengan teman-temannya itu benar-benar membahayakan, maka orang tua bisa menjauhkan si anak dari mereka dengan tindakan yang sesuai dengan kondisi yang ada.
44. Berpura-pura tidak melihat—namun tidak mengabaikan—kelalaian atau kesalahan anak
Ini termasuk salah satu metode pendidikan. Inilah pula sikap awal yang diambil oleh orang yang berakal dalam bergaul dengan anak-anak ataupun orang lain pada umumnya. Seorang yang berakal tentu tidak senantiasa menginterogasi dan membuat bawahan atau orang-orang yang bergaul dengannya merasa bahwa dia harus mengetahui keadaan mereka sekecil apa pun. Kalau seperti itu sikapnya, tentu akan hilang kewibawaannya dari lubuk hati mereka.
Tidaklah pantas orang bodoh menjadi orang yang memimpin kaumnya,
tetapi orang yang memimpin kaumnya adalah orang yang pura-pura bodoh.
Selanjutnya, sikap ini dijadikan sebagai acuan untuk memberikan nasihat, namun tidak langsung diberikan saat terjadi kesalahan.
45. Tidak memperbesar kesalahan
Yang seharusnya dilakukan orang tua adalah menindak kesalahan, bukan memperbesar kesalahan. Orang tua harus meletakkan kesalahan itu pada tempatnya dan memahami bahwa tidak ada seorang pun bisa luput dari kesalahan. Kesalahan pasti ada dalam rumah tangga manapun. Hanya saja, ada yang sedikit dan ada yang banyak. Memecahkan kaca atau perabotan, atau menelantarkan beberapa barang tidaklah menimbulkan kerusakan besar. Ini bisa terjadi pada setiap orang.
46. Bersikap mengalah
Jika ibu sedang bersikap keras terhadap anak maka ayah bersikap lunak. Begitu pula jika ayah sedang bersikap keras maka ibu bersikap lembut. Misalnya si anak berbuat kesalahan, lalu sang ayah memarahinya sehingga membuat si anak lari bersembunyi karena takut dihukum. Dalam keadaan seperti ini, hendaknya sang ibu datang menenangkan hati si anak dan menjelaskan kesalahannya dengan lembut. Seketika anak akan merasa bahwa orang tuanya benar dan bisa menerima kemarahan ayahnya serta menjaga kebaikan ibunya. Dia pun akan menjauhi kesalahan itu pada kesempatan yang lain.
47. Mendidik dengan hukuman
Asalnya, mendidik anak dilakukan dengan kelemahlembutan. Namun, terkadang hukuman diperlukan dengan syarat tidak dilandasi kebodohan atau emosi. Juga tidak dilakukan selain dalam keadaan yang mendesak, tidak menghukum anak atas kesalahan yang pertama kali dilakukannya, tidak menghukumnya atas kesalahan yang mengakibatkan si anak sakit, dan tidak dilakukan di depan orang lain.
Di antara bentuk hukuman adalah hukuman yang bersifat psikis, seperti tidak memberikan pujian pada anak, membuat si anak merasa bahwa orang tuanya tidak ridha, mencelanya, dan sebagainya. Ada pula hukuman fisik yang tidak menyakitkan dan tidak membahayakannya.
48. Memberi kesempatan kepada anak untuk memperbaiki kesalahan
Satu hal yang pantas untuk diperhatikan dalam mendidik anak adalah memberinya kesempatan untuk memperbaiki kesalahan. Dengan demikian, anak akan bisa menjadi lebih baik dan menjadikan kesalahan sebagai jalan untuk mendapatkan kebenaran. Terlebih lagi, anak kecil mudah dibimbing dan mudah patuh, sebagaimana kata Zuhair bin Abi Salma:
Jika orang tua berbuat salah, maka setelah itu baginya tiada kemurahan hati
namun seorang pemuda, setelah kesalahannya masih ada kemurahan hati
49. Berupaya untuk saling memahami antara kedua orang tua
Ayah dan ibu harus sama-sama mengupayakan dan menempuh segala cara untuk bisa saling memahami. Mereka harus sama-sama menghindari berbagai hal yang menggiring kepada percekcokan, tidak saling menyalahkan di depan anak, sehingga tercipta ketenangan dan kerukunan dalam rumah tangga. Anak pun akan menemukan kenyamanan, kedamaian, keakraban, dan kesenangan di dalam rumah sehingga lebih betah di rumah daripada berkeliaran di jalan.
50. Bertakwa kepada Allah l kala terjadi perceraian
Apabila kedua orang tua tidak harmonis dan terjadi perceraian dengan takdir Allah l, hendaknya masing-masing bertakwa kepada Allah l. Jangan sampai anak terimbas dengan perceraian yang terjadi. Masing-masing pihak tidak boleh menghasut si anak untuk membenci pihak yang lain. Bahkan, seharusnya ayah dan ibu membantu anak-anak mereka untuk tetap mendapatkan yang terbaik dan selalu menasihati anak untuk tetap berbakti pada ayah dan ibunya.
Tidak boleh mereka menghasut dan menyalakan dendam di hati anak, saling menuduh dan mengajari anak untuk bermusuhan. Kalau ini semua dilakukan, akibat yang sering terjadi justru anak akan durhaka kepada ayah dan ibunya. Penyebabnya adalah kedua orang tua sendiri. Kalau sudah begini, jangan masing-masing mencela selain dirinya sendiri.
51. Memilihkan sekolah yang sesuai bagi anak dan berupaya memberikan pengawasan terhadap anak di sekolah
Orang tua harus berusaha memilihkan tempat belajar yang sesuai bagi anak, baik dari sisi murid-murid, lembaga, pengajar, maupun metodenya. Orang tua hendaknya memilih sekolah yang memerhatikan keistiqamahan, akhlak, dan kepribadian murid-muridnya, baik dalam ucapan maupun perbuatan. Hal ini karena umumnya anak akan memilih teman sekelasnya di sekolah yang memiliki pembawaan dan tabiat yang mirip dengan dirinya.
Di samping itu, orang tua tetap harus terus-menerus mengawasi anak di sekolahnya sampai yakin benar bahwa keadaan si anak baik dan istiqamah. Ini perlu dilakukan agar orang tua tidak dikejutkan tiba-tiba oleh keadaan si anak yang jauh dari harapan dan dambaan orang tua. Juga agar si anak memahami bahwa tanpa sepengetahuannya, orang tua akan selalu menanyakan tentang dirinya dan mengawasinya.
52. Mengadakan halaqah ilmu di rumah
Ini dilakukan dengan mengadakan halaqah yang terjadwal. Di situ dibacakan buku-buku yang sesuai untuk anak-anak, belajar membaca Al-Qur’an, juga belajar mendengarkan dengan baik dan berdialog dengan penuh adab.
53. Mengadakan lomba pengetahuan berhadiah
Hal ini akan menambah semangat anak-anak, melatih daya ingat, juga melatih mereka untuk membahas dan memahami kitab-kitab para ulama, serta membantu kemajuan mereka.
54. Membuat perpustakaan sederhana di rumah
Perpustakaan ini berisi buku-buku maupun kaset-kaset yang sesuai dengan tingkatan usia dan pemahaman anak. Perpustakaan adalah sarana terbesar untuk mengembangkan wawasan pengetahuan.
55. Mengakrabkan anak dengan majelis zikir
Yang dimaksud majelis zikir adalah ceramah, pertemuan yang diadakan di masjid, dan sebagainya. Ini akan memperkaya pengetahuan anak, mendatangkan kebaikan dan membantu anak lebih siap menghadapi kehidupan, serta memberikan jawaban terhadap berbagai pertanyaan yang bermunculan dalam benaknya. Seiring dengan itu, hal ini juga menanamkan dan mengikatkan keimanan dalam hati anak, serta mendidiknya agar mengerti adab mendengarkan pembicaraan.
56. Bepergian bersama anak
Misalnya ke kota Makkah al-Mukarramah, Madinah an-Nabawiyah, atau kota-kota lain yang boleh dikunjungi. Dalam perjalanan ini, orang tua akan bisa mengenalkan banyak hal kepada si anak. Di samping itu, mereka akan terhibur dan senang, mendapatkan berbagai hal baru, dan masih banyak lagi faedahnya.
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.
(insya Allah bersambung)
(Diterjemahkan oleh Ummu ‘Abdirrahman bintu ‘Imran dari Arba’atu Akhtha’ fi Tarbiyatil Abna’ karya Muhammad bin Ibrahim al-Hamd dengan sedikit perubahan)

Kesalahan yang Harus Diperbaiki

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyyah)
Merinci pembicaraan kita dalam edisi yang lalu, berikut ini kita mencoba menyebutkan beberapa kesalahan yang ada pada suami.
1. Tidak memedulikan pengajaran diniyah (agama) untuk istri
Mendidik istri adalah tanggung jawab suami, sebagai perwujudan firman Allah l:
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri-diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu….” (at-Tahrim: 6)
Termasuk bentuk menjaga keluarga dari api neraka adalah menjaga istri dengan memberikan pengajaran agama kepadanya. Seperti kata Ali ibnu Abi Thalib z, “Didik dan ajarilah mereka.” Ibnu Abbas c berkata, “Amalkanlah ketaatan kepada Allah l, takutlah berbuat maksiat kepada Allah l, dan perintahkanlah keluarga kalian untuk berzikir, niscaya Allah l akan menyelamatkan kalian dari api neraka.” Qatadah mengatakan, “Engkau memerintahkan mereka agar taat kepada Allah l dan melarang mereka bermaksiat. Engkau menegakkan mereka dengan perintah Allah l. Engkau menyuruh dan membantu mereka mengerjakan perintah Allah l. Apabila melihat mereka berbuat maksiat, hendaknya engkau melarang dan memperingatkan mereka.” (Tafsir al-Qur’anil ‘Azhim, 8/133)
Karena suami yang bersikap ‘masa bodo’ atau pura-pura bodoh ini, dijumpai adanya istri yang tidak mengetahui cara shalat yang benar. Ada yang tidak mengerti hukum haid dan nifas. Bahkan, ada yang tidak mengetahui cara bergaul dengan suaminya yang sesuai dengan syariat. Demikian pula bagaimana cara yang baik dan Islami dalam mendidik anak-anaknya, dan seterusnya. Yang lebih parah, ada istri yang terjatuh dalam kesyirikan tanpa mereka sadari, seperti mendatangi dukun dan tukang sihir, memercayai khurafat, takhayul, jimat-jimat, dan sebagainya.
Untuk urusan masak-memasak, istri sampai mencurahkan waktu dan perhatiannya untuk belajar masakan Eropa, Jepang, atau lainnya karena suami menuntutnya harus pandai dari sisi ini. Namun, bagaimana cara shalat yang benar, yang didahului oleh wudhu yang sempurna, suaminya tidak peduli. Suami yang seperti ini jelas tidak bertanggung jawab, padahal di hari akhir nanti setiap orang akan dimintai pertanggungjawabannya. Rasulullah n bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ … وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya … Dan suami adalah pemimpin atas keluarganya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat an-Nasa’i disebutkan bahwa Rasulullah n bersabda:
إِنَّ اللهَ تَعَالَى سَائِلٌ كُلَّ رَاعٍ عَمَّا اسْتَرْعاَهُ، أََحَفِظَ ذَلِكَ أَمْ ضَيَّعَ، حَتَّى يَسْأَلَ الرَّجُلَ عَنْ أَهْلِ بَيْتِهِ
“Sesungguhnya Allah akan menanyai setiap pemimpin tentang apa yang dipimpinnya, apakah dia menjaganya ataukah menyia-nyiakannya, hingga seorang suami akan ditanyai tentang keluarganya.” (Disahihkan oleh al-Imam al-Albani t dalam ash-Shahihah no. 1636)
Rasulullah n sendiri mementingkan pengajaran ilmu kepada wanita sehingga menyempatkan waktu beliau n yang diberkahi untuk mengajari wanita sebagaimana ditunjukkan dalam hadits berikut.
Abu Sa’id al-Khudri z berkata, “Seorang wanita datang kepada Rasulullah n, lalu berkata:
يَا رَسُوْلَ اللهِ، ذَهَبَ الرِّجَالُ بِحَدِيْثِكَ، فَاجْعَلْ لَنَا مِنْ نَفْسِكَ يَوْمًا نَأْتِكَ فِيْهِ تُعَلِّمُنَا مِمَّا عَلَّمَكَ اللهُ. فَقَالَ: اجْتَمِعْنَ فِي يَوْمِ كَذَا وَكَذا، فِي مَكَانِ كَذَا. فاَجْتَمَعْنَ فَأَتَاهُنَّ فَعَلَّمَهُنَّ مِمَّا عَلَّمَهُ اللهُ
“Wahai Rasulullah! Kaum lelaki telah pergi membawa haditsmu. Maka dari itu, berikanlah untuk kami satu hari khusus yang kami dapat mendatangimu untuk belajar kepadamu dari ilmu yang telah diajarkan oleh Allah kepadamu.”
Beliau pun bersabda, “Berkumpullah kalian pada hari ini dan itu, di tempat ini (beliau menyebutkan waktu dan tempat tertentu).”
Mereka pun berkumpul pada hari dan tempat yang telah dijanjikan. Rasulullah mendatangi mereka dan mengajarkan kepada mereka dari ilmu yang diajarkan oleh Allah kepada beliau. (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Beliau n juga tidak mengecilkan pengajaran ilmu syar’i terhadap para istri. Oleh karena itu, pernah beliau n menikahkan seorang wanita dengan seorang pria dengan mahar berupa ayat Al-Qur’an, sementara Al-Qur’an adalah sumber ilmu.
Dikisahkan dalam hadits Sahl ibnu Sa’id z bahwa ada seorang wanita yang menghibahkan dirinya1 kepada Rasulullah n, namun beliau n tidak menginginkan wanita tersebut. Akhirnya, salah seorang yang hadir di tempat itu meminta agar beliau n menikahkannya dengan wanita tersebut. Rasulullah n lalu bertanya, “Apakah engkau punya sesuatu untuk dijadikan mahar?”
“Tidak, demi Allah, wahai Rasulullah,” jawabnya.
“Pergilah kepada keluargamu dan lihatlah. Mungkin engkau mendapatkan sesuatu,” kata Rasulullah n.
Laki-laki itu pun pergi. Tidak berapa lama ia kembali dan mengatakan, “Demi Allah, saya tidak mendapatkan sesuatu pun,” ujarnya.
Rasulullah n bersabda, “Lihatlah lagi dan carilah, walaupun hanya cincin dari besi.”
Laki-laki itu pergi lagi. Tidak berapa lama ia kembali. Ia mengatakan, “Demi Allah, wahai Rasulullah! Saya tidak mendapatkan meskipun hanya cincin dari besi. Tetapi, ini ada izar (sarung) saya. Setengahnya untuknya (sebagai mahar).”
Kata Rasulullah n, “Apa yang dapat engkau perbuat dengan izarmu? Jika engkau memakainya, tidak ada sama sekali izar ini pada istrimu. Jika ia memakainya, berarti engkau tidak memakainya sama sekali.”
Laki-laki itu pun duduk hingga berlalu waktu yang lama, lalu ia bangkit. Rasulullah n melihatnya berbalik pergi. Beliau n lalu menyuruh seseorang memanggilnya. Ketika telah berada di hadapan Rasulullah n, beliau bertanya, “Ada yang engkau hafal dari Al-Qur’an?”
“Saya hafal surah ini dan surah itu,” jawabnya.
“Benar-benar engkau menghafalnya di dalam hatimu?” tegas Rasulullah n.
“Iya,” jawabnya.
“Jika demikian, pergilah, sungguh aku telah menikahkan engkau dengan wanita ini dengan mahar berupa surah-surah Al-Qur’an yang engkau hafal,” kata Rasulullah n. (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Apabila suami tidak bisa memberikan pengajaran agama secara langsung kepada istrinya karena keterbatasan yang ada, dia bisa menempuh cara lain agar tertunaikan kewajiban yang satu ini. Di antaranya, membawa istrinya ke majelis-majelis ilmu yang mungkin diadakan di masjid, atau di rumah, ataupun di tempat lain. Dia bisa memberikan dorongan kepada istrinya agar mencintai ilmu dan majelis ilmu. Dia menyiapkan buku-buku agama yang bisa dibaca oleh istrinya atau kaset-kaset ceramah, CD ilmiah, dan semisalnya sesuai dengan kemampuan yang ada.
2. Mencari-cari kesalahan dan menyelidik aib/cacat istri
Rasulullah n melarang seorang suami yang sekian lama meninggalkan istrinya (bepergian keluar kota) untuk kembali ke rumah dan keluarganya secara tiba-tiba tanpa memberi kabar terlebih dahulu. Apatah lagi jika pulangnya malam hari. Jabir bin Abdillah c berkata:
نَهَى رَسُوْلُ اللهِ n أَنْ يَطْرُقَ الرُّجُلُ أَهْلَهُ لَيْلاً
“Rasulullah n melarang seorang suami yang bepergian meninggalkan keluarganya untuk kembali mendatangi keluarganya pada malam hari.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Mengapa demikian aturannya? Karena, jika suami pulang pada malam hari tanpa memberi kabar sebelumnya, dikhawatirkan ia akan mendapatkan aib keluarganya. Mungkin istrinya dilihatnya berpenampilan yang tidak sedap dipandang mata karena belum mandi dan tidak berpakaian rapi. Bisa jadi, berpakaian ala kadarnya sebagaimana keadaan istri ketika suami tidak berada bersamanya di rumahnya. Mungkin, rumahnya kotor dan berantakan karena belum sempat dibersihkan dan dirapikan, atau keadaan-keadaan lainnya yang tidak disukainya.
Apalagi jika suami melakukannya bertujuan agar bisa menangkap basah istrinya, mengetahui aib, cacat, cela, dan kekurangannya. Padahal Rasulullah n menyatakan siapa yang mencari-cari aurat/keburukan saudaranya sesama muslim, niscaya Allah l akan mencari-cari aibnya. Barang siapa yang dicari-cari auratnya oleh Allah l niscaya Allah l akan membukanya walaupun ia berada di tengah-tengah rumahnya. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits Ibnu Umar c, ia berkata, “Rasulullah n naik mimbar lalu berseru dengan suara yang tinggi. Beliau n bersabda:
ياَ مَعْشَرَ مَنْ أَسْلَمَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يُفْضِ الْإِيْمَانُ إِلَى قَلْبِهِ، لاَ تُؤْذُوا الْمُسْلِمِيْنَ وَلاَ تُعَيِّرُوْهُمْ وَلاَ تَتَّبِعُوْا عَوْرَاتِهِمْ، فَإِنَّهُ مَنْ تَتَّبَعَ عَوْرَةَ أَخِيْهِ الْمُسْلِمِ تَتَّبَعَ اللهُ عَوْرَتَهُ، وَمَنْ تَتَّبَعَ اللهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ وَلَوْ فِي جَوْفِ رَحْلِهِ
“Wahai sekalian orang-orang yang berislam dengan lisannya namun iman belum menembus ke dalam hatinya, janganlah kalian menyakiti kaum muslimin. Janganlah menjelekkan dan mencari-cari cela mereka. Barang siapa mencari-cari cela saudaranya sesama muslim, niscaya Allah akan mencari-cari celanya. Barang siapa yang dicari-cari celanya oleh Allah, niscaya Allah akan membeberkannya walaupun ia berada di tengah-tengah tempat tinggalnya.” (HR. at-Tirmidzi, dihasankan dalam al-Misykat no. 5044 dan Shahih Sunan at-Tirmidzi)
3. Menzalimi istri dengan menjatuhkan hukuman yang tidak semestinya
Di antara bentuk hukuman yang tidak semestinya adalah sebagai berikut.
a. Memukul istri padahal belum ditempuh jalan nasihat dan hajr (boikot).
Allah l berfirman:
“Wanita-wanita yang kalian khawatirkan nusyuznya, nasihatilah mereka dan tinggalkanlah mereka di tempat tidur, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menaati kalian, maka janganlah kalian mencari-cari jalan untuk menyusahkan mereka.” (an-Nisa: 34)
Ayat di atas menunjukkan bahwa jika seorang istri berbuat nusyuz kepada suaminya, seperti tidak mau taat dalam urusan kebaikan yang diperintahkan oleh suami, hendaknya yang pertama kali dilakukan oleh suami adalah menasihati istri. Jangan langsung memukulnya. Jika nasihat tidak mempan, suami naik ke tahap berikutnya, yaitu mendiamkan si istri dan memunggunginya di tempat tidur.
Aturan ini juga dinyatakan oleh Rasulullah n dalam hadits berikut:
أَلاَ وَاسْتَوْصُوْا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا، فَإِنَّمَا هُنَّ عَوَانٌ عِنْدَكُْمْ، لَيْسَ تَمْلِكُوْنَ مِنْهُنََّ شَيْئًا غَيْرَ ذَلِكَ إِلاَّ أَنْ يَأْتِيْنَ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ، فَإِنْ فَعَلْنَ فَاهْجُرُوْهُنَّ فيِ الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوْهُنَّ ضَرْبًا غَيْرَ مُبَرِّحٍ
“Ketahuilah, berpesan-pesan baiklah kalian kepada para wanita (istri)2, karena mereka hanyalah tawanan di sisi kalian. Tidaklah kalian menguasai dari mereka sedikitpun selain itu3, melainkan jika mereka melakukan perbuatan keji yang nyata4. Jika mereka melakukannya, jauhilah mereka di tempat tidurnya, dan pukullah mereka dengan pukulan yang tidak keras.” (HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Majah, dihasankan dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi)
b. Menampar wajah istri, mencerca, dan menjelekkannya.
Mu’awiyah bin Haidah z berkata, “Aku pernah bertanya:
يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَا حَقُّ زَوْجَةِ أَحَدِنَا عَلَيْهِ؟ قَالَ: أَنْ تُطْعِمَهَا إِذَا طَعِمْتَ وَتَكْسُوْهَا إِذَا اكْتَسَيْتَ، وَلاَ تَضْرِبِ الْوَجْهَ وَلاَ تُقَبِّح وَلاَ تَهْجُرْ إِلاَّ فِي الْبَيْتِ
“Wahai Rasulullah, apakah hak istri salah seorang dari kami terhadap suaminya?” Rasulullah n menjawab, “Engkau memberi makan istrimu jika engkau makan, dan engkau memberi pakaian jika engkau berpakaian. Jangan engkau memukul wajahnya, jangan engkau menjelekkannya5, dan jangan menghajr/memboikotnya selain di dalam rumah6.” (HR. Abu Dawud, disahihkan asy-Syaikh Muqbil t dalam al-Jami’ush Shahih, 3/86)
4. Mengurangi nafkah istri
Nafkah yang diberikan oleh seorang suami kepada istrinya adalah suatu kewajiban yang tersebut dalam Al-Qur’an, sunnah serta ijma’/kesepakatan ulama. Allah l berfirman:
“Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf.” (al-Baqarah: 233)
Pengertian ma’ruf adalah yang dianggap baik menurut syariat, tidak berlebih-lebihan, dan tidak pula kikir, namun sesuai dengan kebiasaan yang berlangsung dan apa yang biasa diterima oleh wanita semisalnya. Tentunya hal ini sesuai dengan kemampuan suami dalam keluasan dan kesempitannya. (Tafsir Ibni Katsir, 1/371)
Jika seorang istri diuji dengan mendapatkan suami kikir yang menahan haknya dalam nafkah tanpa kebolehan syar’i, ia diperkenankan mengambil harta suaminya sekadar yang mencukupinya dengan ma’ruf, meskipun suami tidak tahu. Hindun x, seorang sahabiyah yang mulia, pernah mengadu kepada Rasulullah n:
ياَ رَسُوْلَ اللهِ، إِنَّ أَبَا سُفْيَانَ رَجُلٌ شَحِيْحٌ وَلَيْسَ يُعْطِيْنِي مَا يَكْفِيْنِي وَوَلَدِيْ إِلاَّ مَا أَخَذْتُ مِنْهُ وَهُوَ لاَ يَعْلَمُ. فَقَالَ: خُذِيْ مَا يَكْفِيْكِ وَوَلَدَكِ بِالْمَعْرُوْفِ
“Wahai Rasulullah, sungguh Abu Sufyan (suaminya, -red.) adalah seorang yang kikir7. Ia tidak memberiku nafkah yang mencukupiku dan anakku, melainkan jika aku mengambil uangnya tanpa sepengetahuannya8.” Rasulullah n bersabda, “Ambillah apa yang mencukupimu dan anakmu dengan cara yang baik.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Hadits di atas, kata al-Imam an-Nawawi t, memberi faedah wajibnya menafkahi istri. (al-Minhaj, 11/234)
Andai para suami menyadari bahwa nafkah yang diberikannya kepada istri dan anak-anaknya adalah sedekah, karena Rasulullah n bersabda:
إِذَا أَنْفَقَ الرَّجُلُ عَلَى أَهْلِهِ نَفَقَةً يَحْتَسِبُهَا فَهِيَ لَهُ صَدَقَةٌ
“Apabila seseorang menafkahi keluarganya dengan mengharapkan pahala, itu adalah sedekah baginya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Dalam hadits lain, Rasulullah n bersabda:
أَفْضَلُ دِيْنَارٍ دِيْنَارٌ يُنْفِقُهُ الرَّجُلُِ عَلَى عِيَالِهِ
“Seutama-utama dinar adalah dinar yang diinfakkan (dibelanjakan) oleh seseorang untuk keluarganya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Lebih rincinya, Rasulullah n menyatakan:
دِيْناَرًا أَنْفَقْتَهُ فِي سَبِيْلِ اللهِ، وَدِيْناَرًا أَنْفَقْتَهُ فِي رَقَبَةٍ، وَدِيْنَارًا تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِيْنٍ، وَدِيْنَارًا أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ، أَعْظَمُهَا أَجْرًا الَّذِي أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ
“Satu dinar yang engkau nafkahkan di jalan Allah, satu dinar yang engkau nafkahkan untuk memerdekakan budak, satu dinar yang engkau sedekahkan kepada seorang miskin, dan satu dinar yang engkau nafkahkan untuk istri/keluargamu, yang paling besar pahalanya adalah dinar yang engkau nafkahkan untuk istri/keluargamu.” (HR. Muslim no. 995)
5. Bersikap keras, kaku, dan tidak lembut kepada istri.
Rasulullah n bersabda:
أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ
“Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling bagus akhlaknya. Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istri-istrinya9.” (HR. at-Tirmidzi, dihasankan oleh asy-Syaikh al-Albani t dalam ash-Shahihah no. 284 dan asy-Syaikh Muqbil t dalam ash-Shahihul Musnad, 2/336—337)
Di antara bentuk sikap lembut seorang suami terhadap istrinya adalah memberikan kegembiraan kepadanya dengan permainan dan hiburan yang diperbolehkan syariat. Nabi n bersabda:
كُلُّ شَيْءٍ لَيْسَ مِنْ ذِكْرِ اللهِ لَهْوٌ أَوْ سَهْوٌ إِلاَّ أَنْ يَكُوْنَ أَرْبَعُ خِصَالٍ … –مِنْهَا: مُلَاعَبَةُ الرَّجُلِ أَهْلَهُ
“Segala sesuatu yang tidak termasuk zikrullah adalah sia-sia atau melalaikan, selain empat hal… —di antaranya, permainan/senda gurau suami dengan istrinya.” (HR. an-Nasa’i dalam Isyratun Nisa’, ath-Thabarani dalam al-Kabir, sanadnya sahih sebagaimana dalam ash-Shahihah no. 315)
Untuk menunjukkan kelembutan dan cintanya kepada Aisyah x, Rasulullah n pernah mengajak Aisyah adu cepat dalam berlari. Kata beliau kepada sang istri:
تَعَالَيْ حَتَّى أُسَابِقَكِ. قُلْتُ: فَسَابَقَنِيْ فَسَبَقْتُهُ
“Marilah, aku akan berlomba (lari) denganmu.” Aisyah berkata, “Lalu beliau berlomba denganku. Aku pun dapat mendahului beliau.” (HR. Abu Dawud, Ahmad, dan selainnya. Disahihkan dalam Irwa’ul Ghalil no. 1502)
Memanggil istri dengan nama atau sebutan yang menyenangkan hatinya termasuk bentuk kelemahlembutan terhadapnya. Rasulullah n, sang suami teladan, telah mencontohkannya. Suatu ketika, beliau memanggil Aisyah x dengan sebutannya:
ياَ حُمَيْرَاءُ، أَتُحِبِّيْنَ أَنْ تَنْظُرِيْ إِلَيْهِمْ؟
“Wahai Humaira’10 (wanita yang putih kemerah-merahan), apakah engkau suka melihat mereka?” (HR. an-Nasa’i dalam Isyratun Nisa’, disahihkan dalam Adabuz Zafaf hlm. 272)
Pernah pula Rasulullah n memanggil sang istri dengan menyingkat namanya:
يَا عَائِشُ، هَذَا جِبْرِيْلُ يُقْرِئُكِ السَّلاَمَ
“Wahai Aisy, ini Jibril datang menyampaikan salam untukmu.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
(Insya Allah bersambung)
Catatan Kami:
1 Ini adalah kekhususan bagi Nabi n.
2 Maknanya, Nabi n menyatakan, “Aku wasiatkan kalian untuk berbuat kebaikan kepada para istri. Maka dari itu, terimalah wasiatku ini.” Demikian dijelaskan dalam Tuhfatul Ahwadzi.
3 Maksudnya selain istimta’ (bersenang-senang), menjaga diri untuk suaminya, menjaga harta suami dan anaknya, serta menunaikan kebutuhan suami dan melayaninya. (Bahjatun Nazhirin, 1/361)
4 Seperti berbuat nusyuz (tidak taat kepada suami), buruk pergaulannya dengan suami, dan tidak menjaga kehormatan dirinya. (Tuhfatul Ahwadzi)
5 Maksudnya, mengucapkan ucapan yang buruk kepada istri, mencaci-makinya, atau mengatakan kepadanya, “Semoga Allah menjelekkanmu,” atau ucapan semisalnya. (Aunul Ma’bud, “Kitab an-Nikah, bab Fi Haqqil Mar’ah ‘ala Zaujiha”)
6 Memboikot istri dilakukan ketika istri tidak mempan dinasihati atas kemaksiatan yang dilakukannya. Hal ini sebagaimana ditunjukkan oleh ayat berikut.
“Dan istri-istri yang kalian khawatirkan nusyuznya maka berilah nasihat kepada mereka, hajr/boikotlah mereka di tempat tidur….” (an-Nisa: 34)
Pemboikotan ini bisa dilakukan di dalam atau di luar rumah, seperti yang ditunjukkan oleh hadits Anas bin Malik z tentang kisah Rasulullah n meng-ila’ istrinya (bersumpah untuk tidak ‘mendatangi’ istri-istrinya) selama sebulan dan selama itu beliau n tinggal di masyrabahnya (kamar yang tinggi; untuk menaikinya perlu tangga). (HR. al-Bukhari)
Penerapan hal ini tentunya melihat keadaan. Jika memang diperlukan boikot di luar rumah maka dilakukan. Namun, jika tidak, cukup di dalam rumah. Bisa jadi, boikot dalam rumah lebih mengena dan lebih menyiksa
perasaan si istri daripada boikot di luar rumah. Bisa juga sebaliknya. Akan tetapi, yang dominan adalah boikot di luar rumah lebih menyiksa jiwa, khususnya jika yang menghadapinya adalah kaum wanita karena lemahnya jiwa mereka. (Fathul Bari, 9/374)
Al-Imam an-Nawawi t berkata berkenaan dengan kisah Rasulullah n meng-ila’ istri-istrinya, “Suami berhak memboikot istrinya dan memisahkan diri dari istrinya ke rumah lain apabila ada sebab yang bersumber dari si istri.” (al-Minhaj, 10/334)
7 Hindun x tidaklah menyatakan bahwa suaminya bersifat pelit dalam seluruh keadaan. Dia hanya sebatas menyebutkan keadaannya bersama suaminya bahwa suaminya sangat menyempitkan nafkah untuknya dan anaknya. Dengan demikian, tidak berarti bahwa Abu Sufyan memiliki sifat pelit secara mutlak. Betapa banyak tokoh pemuka masyarakat yang melakukan hal tersebut kepada istri/keluarganya dan lebih mementingkan (baca: dermawan kepada) orang lain. Demikian disebutkan dalam Fathul Bari (9/630).
8 Dalam riwayat Muslim, Hindun x bertanya, “Apakah aku berdosa jika melakukan hal tersebut?”
9 Nabi n menyatakan, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istri-istrinya,” karena para wanita/istri adalah makhluk Allah l yang lemah sehingga sepantasnya menjadi tempat curahan kasih sayang. (Tuhfatul Ahwadzi, 4/273)
10 Humaira adalah bentuk tashghir dari hamra’ yang bermakna wanita yang putih kemerah-merahan.
Istihadhah (1)

Istihadhah (1)

(Bagian ke-1)
Tak seperti haid, tidak semua wanita mengalami istihadhah karena haid merupakan kebiasaan rutin yang dialami wanita yang normal/sehat, sedangkan istihadhah adalah darah yang tidak biasa. Ia keluar karena ada gangguan pada urat yang diistilahkan ‘adzil (al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim, 3/242).
Singkatnya, ada ketidaknormalan/penyakit pada wanita yang mengalaminya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Fathimah bintu Abi Hubaisy radhiallahu ‘anha tentang darah istihadhah ini:
إِنَّمّا ذَلِكَ عِرْقٌ وَلَيْسَ بِالْحَيْضَةِ
“Apa yang kamu alami itu hanyalah darah dari urat bukan haid.” (HR. al- Bukhari no. 228 dan Muslim no. 751)
Istihadhah ini telah dialami oleh wanita sejak dahulu. Kalangan sahabiyah pun mengalaminya. Dalam hitungan ulama mencapai sepuluh orang, kata al-Imam ash-Shan’ani rahimahullah. Tiga orang putri Jahsyin: Zainab Ummul Mukminin, Ummu Habibah istri Abdurrahman ibn Auf, dan Hamnah istri Thalhah bin Ubaidillah, radhiallahu ‘anhum, semuanya mengalami istihadhah. (Subulus Salam, 1/377)
Bahkan, Ummu Habibah radhiallahu ‘anha mengalaminya sampai tujuh tahun sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut.
عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ : أَنَّ أُمَّ حَبِيْبَةَ بِنْتَ جَحْشٍ خَنَتَةَ رَسُوْلِ اللهِ وَتَحْتَ عَبْدِ الرَّحْمنِ بْنِ عَوْفٍ اسْتُحِيْضَتْ سَبْعَ سِنِيْنَ
Dari Aisyah radhiallahu ‘anha istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia mengabarkan bahwasanya Ummu Habibah bintu Jahsyin—ipar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan istri Abdurrahman ibn Auf— mengalami istihadhah selama tujuh tahun…. (HR. al-Bukhari no. 327 dan Muslim no. 754)
Ada pula di antara sahabiyah yang keluar darah istihadhah dengan deras dan sangat banyak seperti Hamnah bintu Jahsyin radhiallahu ‘anha. Ia pernah datang mengadukan keadaannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
كُنْتُ أُسْتَحَاضُ حَيْضَةً كَثِيْرَةً شَدِيْدَةً ….
“Aku ditimpa istihadhah yang sangat banyak dan deras…” (HR. Ahmad, Abu Dawud no. 287, dan at-Tirmidzi no. 128, dihasankan al-Imam al-Albani rahimahullah dalam Irwa’ul Ghalil no. 188)
Adapun istihadhah yang dialami istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ditunjukkan dalam hadits berikut ini:
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: اعْتَكَفَتْ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ امْرَأَةٌ مُسْتَحَاضَةٌ مِنْ أَزْوَاجِهِ، فَكَانَتْ تَرَى الْحُمْرَةَ وَالصُّفْرَةَ، فَرُبَّماَ وَضَعْنَا الطَّسْتَ تَحْتَهَا وَهِيَ تُصَلِّي
Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, ia berkata, “Salah seorang istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengalami istihadhah beri’tikaf bersama beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia melihat darahnya yang keluar berwarna kemerahan dan kekuningan. Terkadang kami meletakkan bejana di bawahnya saat ia shalat.” (HR. al-Bukhari no. 2037)
Demikian gambaran istihadhah yang dialami wanita sahabiyah. Berikut ini kita akan melihat beberapa tinjauan hukum berkenaan dengan wanita yang mengalami istihadhah[1].
 payung-merah-di-tengah-salju
Darah Haid Tidak Sama dengan Darah Istihadhah
        Menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, keberadaan darah istihadhah bersama darah haid merupakan suatu masalah yang rumit, sering membuat rancu sehingga keduanya harus dibedakan.
Cara membedakan keduanya bisa dengan ‘adat (kebiasaan haid), dengan tamyiz (membedakan sifat darah), atau dengan melihat kebiasaan umumnya wanita[2]. Demikian yang ditunjukkan dalam As-Sunnah. (Majmu’atul Fatawa, 21/630—631)
Tentang ‘adat (kebiasaan) haid ditunjukkan dalam hadits Aisyah radhiallahu ‘anha, ia berkata, “Fathimah bintu Abi Hubaisy radhiallahu ‘anha datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu menyampaikan masalahnya. ‘Wahai Rasulullah, saya seorang wanita yang mengalami istihadhah sehingga saya tak pernah suci. Apakah saya harus meninggalkan shalat saat mengalaminya?’.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:
لاَ إِنَّمَّا ذَلِكَ عِرْقٌ وَلَيْسَ بِالْحَيْضَةِ، فَإِذَا أَقْبَلَتِ الْحَيْضَةُ فَدَعِي الصَّلاَةَ، فَإِذَا أَدْبَرَتْ فَاغْسِلِي عَنْكِ الدَّمَ وَصَلِّي
“Kamu tidak boleh meninggalkan shalat, (karena) apa yang kamu alami itu hanyalah darah dari urat bukan haid. Apabila datang haidmu, tinggalkanlah shalat. Jika haidmu telah berlalu, cucilah darah darimu (mandilah) dan shalatlah.” (HR. al-Bukhari no. 228 dan Muslim no. 751)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengatakan kepada Ummu Habibah bintu Jahsyin radhiallahu ‘anha yang mengeluhkan istihadhah yang menimpanya:
اُمْكُثِيْ قَدْرَ مَا كَانَتْ تَحْبِسُكِ حَيْضَتُكِ ثُمَّ اغْتَسِلِيْ
“Tinggalkanlah shalat sekadar hari-hari haidmu, kemudian (setelah berlalu hari-hari tersebut) mandilah.” (HR. Muslim no. 758)
Jumhur ulama mengambil hadits ini untuk wanita yang tertimpa istihadhah yang memiliki kebiasaan haid yang tertentu setiap bulannya sebelum ditimpa istihadhah. Ketika keluar darah dari kemaluannya, untuk mengetahui apakah ia haid atau istihadhah, ia kembali kepada kebiasaan haidnya[3]. Demikian mazhab Abu Hanifah, asy-Syafi’i, dan Ahmad. (Majmu’atul Fatawa, 21/628)
Adapun tamyiz ditunjukkan dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Fathimah bintu Abi Hubaisy radhiallahu ‘anha:
إِنَّ دَمَ الْحَيْضِ دَمٌ أَسْوَدُ يُعْرَفُ، فَإِذَا كَانَتْ ذَلِكِ فَامْسِكِي عَنِ الصَّلاَةِ. فَإِذَا كَانَ الْآخَرُ فَتَوَضَّئِيْ وَصَلِّيْ
“Apabila darah itu darah haid, dia berwarna hitam yang dikenal. Apabila demikian darah yang keluar darimu, tinggalkanlah shalat. Namun apabila bukan, berwudhulah dan shalatlah.” (HR. Abu Dawud no. 286, an-Nasa’i no. 363, dan selain keduanya. Disahihkan dalam Irwa’ul Ghalil no. 204)
Tamyiz dilakukan oleh wanita yang tidak memiliki kebiasaan haid yang tetap ataupun ia lupa ‘adatnya, sebelum ditimpa istihadhah, dan ia bisa membedakan darah[4].
Perbedaan darah haid dan darah istihadhah bisa disimpulkan sebagai berikut.
  1. Darah haid umumnya berwarna hitam, sedangkan darah istihadhah umumnya berwarna merah.
  2. Darah haid sifatnya kental, sedangkan darah istihadhah encer.
  3. Aroma darah haid tidak sedap/berbau busuk, sedangkan darah istihadhah tidak berbau busuk.
  4. Darah haid tidak bisa membeku karena telah membeku di dalam rahim kemudian terpancar dan mengalir, sedangkan darah istihadhah bisa membeku karena merupakan darah urat. (asy-Syarhul Mumti’, 1/487—488)
Apabila si wanita mustahadhah (yang tertimpa istihadhah) mempunyai ‘adat dan bisa melakukan tamyiz, ulama berbeda pendapat, mana yang didahulukan, ‘adat ataukah tamyiz? Yang lebih kuat dalam masalah ini, kata Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah, si wanita kembali kepada ‘adatnya, dengan alasan:
  1. Hadits yang menyebutkan tamyiz diperselisihkan kesahihannya[5].
  2. Kembali kepada ‘adat lebih mudah dan lebih meyakinkan bagi si wanita, karena sifat darah itu bisa berubah-ubah atau keluarnya bergeser ke akhir bulan atau ke awal bulan, atau keluarnya terputus-putus sehari berwarna hitam, di hari lainnya berwarna merah. (asy-Syarhul Mumti’, 1/492)
Adapun wanita yang tidak memiliki ‘adat dan tidak bisa melakukan tamyiz, ia mengamalkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Hamnah bintu Jahsyin radhiallahu ‘anha:
إِنَّمَا هَذِهِ رَكْضَةٌ مِنَ الشَّيْطَانِ، فَتَحَيَّضِيْ سِتَّةَ أَيَّامٍ أَوْ سَبْعَةَ أَيَّامٍ فيِ عِلْمِ اللهِ تَعَالَى ذِكْرُهُ، ثُمَّ اغْتَسِلِيْ. حَتَّى إِذَا رَأَيْتِ أَنَّكِ قَدْ طَهُرْتِ وَاسْتَنْقَأْتِ، فَصَلِّيْ ثَلاَثًا وَعِشْرِيْنَ لَيْلَةً أَوْ أَرْبَعًا وَعِشْرِيْنَ لَيْلَةً وَأَيَّامَهَا وَصُوْمِيْ، فَإِنَّ ذَلِكَ يُجْزِئُكِ، وَكَذَلِكِ فَافْعَلِي كُلَّ شَهْرٍ كَمَا تَحِيْضُ النِّسَاءُ وَكَمَا يَطْهُرْنَ
“Hal itu hanyalah sebuah gangguan dari setan. Anggaplah dirimu haid selama enam atau tujuh hari dalam ilmu Allah yang Mahatinggi sebutan-Nya. Setelah lewat dari itu mandilah. Ketika engkau melihat dirimu telah bersih dan suci, shalatlah selama 23 atau 24 malam berikut siangnya dan berpuasalah. Hal ini mencukupimu. Demikianlah yang engkau lakukan setiap bulannya sebagaimana para wanita biasa berhaid dan biasa suci.” (HR. Ahmad, Abu Dawud no. 287, at-Tirmidzi no. 128, dihasankan al-Imam al-Albani rahimahullah dalam Irwa’ul Ghalil no. 188)
Caranya, melihat kebiasaan haid dan suci para wanita yang dekat kekerabatannya dengannya, lalu kebiasaan itu ia terapkan pada dirinya (ia samakan dirinya dengan mereka).

Hukum Wanita Mustahadhah Sama Dengan Wanita yang Suci
Mayoritas ahlul ilmi berpendapat bahwa wanita mustahadhah dalam kebanyakan hukumnya sama dengan wanita yang suci. (al-Minhaj, 3/242)
Berbeda halnya dengan wanita haid, wanita mustahadhah diperintah untuk tetap mengerjakan shalat dan puasa. Demikian ijma’/kesepakatan ulama. (al- Iqna’ fi Masa’il al-Ijma’, al-Imam Ibnul Qaththan, 1/106)
Ia juga diperintah/dibolehkan mengerjakan ibadah-ibadah yang lain, seperti kata al-Imam an-Nawawi rahimahullah, “Adapun shalat, puasa, i’tikaf, membaca Al-Qur’an, menyentuh mushaf, membawanya, sujud tilawah, sujud syukur, dan ibadah-ibadah yang wajib, hukumnya sama dengan orang yang suci. Ini merupakan masalah yang disepakati.” (al-Minhaj, 3/242)

Cara Bersuci Wanita Mustahadhah untuk Shalat
Apabila wanita mustahadhah hendak bersuci untuk mengerjakan shalat, ia harus membersihkan tempat keluarnya darah kemudian menyumpal/menutupnya dengan pembalut atau semisalnya untuk menahan darah agar tidak tembus keluar. Dalilnya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Hamnah bintu Jahsyin radhiallahu ‘anha yang telah disinggung di atas ketika ia mengeluhkan banyaknya darah yang keluar:
أَنْعَتُ لَكِ الْكُرْسُفَ فَإِنَّهُ يُذْهِبُ الدَّمَ
“Aku terangkan kepadamu, pakailah kapas[6], karena kapas bisa menghilangkan darah.”
Dalam hadits Ummu Salamah radhiallahu ‘anha disebutkan:
لِتَسْتَثْفِرَ بِثَوْبٍ
“Hendaklah ia istitsfar[7] dengan kain.” (HR. Abu Dawud no. 274, disahihkan dalam Shahih Abi Dawud)
Ahlul ilmi menyatakan, jika ia sudah melakukan hal tersebut, namun darah tetap keluar/tembus hingga keluar dari pembalut/kain/handuk yang dipakai sebagai penutup darah, karena longgarnya ikatan penyumpal darah tersebut maka dikuatkan lagi dan ia kembali bersuci dengan membersihkan darah[8]. Apabila darah tembus keluar dari sumpalan karena derasnya dan sudah diupayakan menyumpalnya dengan kuat, namun tetap tidak dapat mencegah darah, si wanita tetap melanjutkan shalat walaupun darahnya menetes keluar, karena tidak memungkinkan lagi baginya menghindari hal tersebut. Hal ini berdasarkan hadits Aisyah radhiallahu ‘anha yang telah dibawakan di atas tentang istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shalat dalam keadaan di bawahnya ada bejana guna menampung darah yang menetes keluar. (al-Mughni, “Kitab ath-Tharahah, Mas’alah: al-Mubtala bi Salasil Baul wa Katsratil Madzi….”, al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab 2/551—552)
ditulis oleh Al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyyah

[1] Masalah istihadhah ini sebenarnya sudah pernah kami bahas dalam majalah ini, dalam edisi no. 04 tahun perdana Juli 2003/1424 H, pada rubrik “Wanita dalam Sorotan”.
[2] Dalam hal ini, ia melihat kerabatnya dari kalangan wanita seperti ibunya atau saudara perempuannya. Kesamaan seorang wanita dengan kerabat-kerabatnya lebih dekat daripada kesamaannya dengan keumuman wanita yang bukan kerabatnya. (asy-Syarhul Mumti’, 1/489)
[3] Kapan ia biasa mengalami haid dan berapa hari lamanya. Misalnya, ia biasa haid di awal bulan selama tujuh hari, berarti itulah ‘adatnya.
[4] Misalnya, ia keluar darah selama sebulan. Pada sepuluh hari yang awal, darah yang keluar berwarna hitam dan beraroma khas darah haid, sedangkan selebihnya darahnya berwarna merah. Berdasarkan hal ini, sepuluh hari yang awal itu dihitung sebagai hari haidnya, selebihnya dianggap istihadhah.
[5] Sementara hadits yang menyebutkan ‘adat lebih kuat karena diriwayatkan dalam Shahihain.
[6] Disumbat dengan kapas.
[7] Makna istitsfar adalah menutup/menyumpal tempat keluarnya darah dengan kain yang dapat menahan keluarnya darah tersebut.
[8] Ini merupakan pendapat mazhab Hanafiyah, Syafi’iyah, dan Hanabilah yang memandang keluarnya darah merupakan hadats bagi wanita mustahadhah. Sementara al-Imam Malik, Rabi’ah dan jama’ahnya dari kalangan ahlul ilmi berpendapat wanita mustahadhah tidak wajib wudhu dengan keluarnya darah, maka tidak wajib baginya berwudhu setiap kali hendak shalat selama tidak menimpanya perkara yang membatalkan wudhu.

AIR HUJAN BERASAL DARI UAP AIR LAUT?

Apakah benar teori yang mengatakan bahwa air hujan berasal dari uap air yang menguap dari air laut?
Dijawab oleh al-Ustadz Abu ‘Abdillah Muhammad as-Sarbini al-Makassari
Alhamdulillah, masalah ini telah diterangkan oleh para ulama dengan dalil-dalilnya. Di antaranya adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, al-Imam Ibnul Qayyim, dan al-Imam Ibnu Baz t.
Ibnu Taimiyah berkata dalam Majmu’ al-Fatawa (24/262), “Hujan yang turun diciptakan oleh Allah l di angkasa dari awan. Dari awan itulah hujan tercurah, sebagaimana firman Allah l:
“Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kalian minum. Kaliankah yang menurunkannya dari awan atau Kamikah yang menurunkannya?” (al-Waqi’ah: 68—69)
Begitu pula firman Allah l:
“Dan Kami turunkan dari awan air yang banyak tercurah.” (an-Naba’: 14)
Demikian pula firman Allah l:
“Maka engkau pun melihat hujan keluar dari celah-celahnya.” (an-Nur: 43)
Yakni dari celah-celah awan.
Firman Allah l pada beberapa ayat lainnya: ﭬ ﭭ , artinya dari atas. Kata as-sama’ adalah isim jenis1 untuk sesuatu yang tinggi (di atas). Boleh jadi maknanya adalah untuk di atas ‘Arsy2, atau bermakna benda-benda angkasa, atau atap rumah. Hal itu tergantung perangkat bahasa yang bergandeng dengan kata tersebut. Substansi (zat) asal air hujan terkadang diciptakan dari udara yang ada di angkasa dan terkadang diciptakan dari uap air yang menguap dari bumi. Inilah yang disebutkan oleh ulama muslimin dan ahli filsafat3 pun sependapat dengan ini.”
Asy-Syaikh Ibnu Baz t berkata dalam Majmu’ al-Fatawa (13/87), “Ulama menyebutkan (penciptaan air hujan) bahwasanya uap air yang menguap dari lautan bisa jadi terkumpul darinya air di awan dan Allah l mengubah rasanya yang asin menjadi tawar. Bisa jadi pula, Allah l menciptakan air di angkasa (awan), kemudian tercurah sebagai air hujan yang menyirami manusia dengan perintah Allah l. Dialah yang Mahakuasa atas segala sesuatu sebagaimana firman-Nya:
“Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, ‘Jadilah!’ Maka terjadilah ia.” (Yasin: 82)
Makna ini disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam kitab Miftah Dar as-Sa’adah, dan disebutkan pula oleh selainnya. Telah tsabit (tetap) dalam hadits-hadits sahih bahwa air memancar keluar dari sela-sela jari-jemari Nabi n di Madinah dan di luar Madinah, lalu orang-orang minum dan berwudhu darinya. Hal itu termasuk dari ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan) Allah l yang besar, yang menunjukkan kemahasempurnaan kekuasaan Allah l, ilmu, rahmat, dan karunia-Nya, serta kebenaran Rasul-Nya n.”
FUNGSI PETIR MENURUT SYARIAT
Petir itu menurut syariat fungsinya apa? Melempar setan?
Via sms
Yang berfungsi untuk melempar setan adalah bintang yang dijatuhkan oleh Allah l. Ini adalah salah satu fungsi diciptakannya bintang-bintang di langit, sebagaimana dikabarkan oleh Allah l dalam Al-Qur’an.
Adapun fungsi petir dan kilat, sebagai jawabannya kami nukilkan keterangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ al-Fatawa (24/263—264), “Adapun petir dan kilat, terdapat keterangan pada hadits marfu’ (disandarkan sebagai sabda Nabi n) yang diriwayatkan dalam kitab Sunan at-Tirmidzi dan lainnya, Rasulullah n ditanya tentang ar-ra’d (petir). Beliau n menjawab:
مَلَكٌ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُوَكَّلٌ بِالسَّحَابِ، مَعَهُ مَخَارِيقُ مِنْ ناَرٍ يَسُوقُهَا بِهَا حَيْثُ شَاءَ اللهُ
“Malaikat dari malaikat-malaikat Allah yang ditugasi mengatur urusan awan di tangannya ada alat (cambuk)4dari api untuk mengarak awan menurut kehendak Allah.”5
Pada kitab Makarim al-Akhlaq karya al-Kharaithi, terdapat atsar dari Ali z:
أَنَّهُ سُئِلَ عَنِ الرَّعْدِ، فَقَالَ: مَلَكٌ. وَسُئِلَ عَنِ الْبَرْقِ، فَقَالَ: مَخَارِيْقُ بِأَيْدِي الْمَلاَئِكَةِ. وَفِيْ رِوَايَةٍ عَنْهُ: مَخَارِيْقُ مِنْ حَدِيْدٍ بِيَدِهِ.
Beliau ditanya tentang petir, maka beliau menjawab, “Malaikat.” Beliau ditanya lagi tentang kilat, beliau menjawab, “Cambuk-cambuk di tangan para malaikat.” Pada riwayat lain beliau berkata, “Cambuk-cambuk dari besi di tangan malaikat.”
Telah diriwayatkan pula atsar-atsar yang semakna dengan ini.
Begitu pula telah diriwayatkan keterangan lain dari beberapa salaf yang tidak menyelisihi keterangan di atas, seperti ucapan sebagian mereka, “Sesungguhnya petir itu adalah (suara) benturan subtansi-subtansi (zat-zat) awan akibat adanya tekanan udara dalam awan.” Keterangan ini tidaklah kontradiksi dengan keterangan di atas karena ar-ra’d (petir/guruh) adalah mashdar dari رَعَدَ (ra’ada artinya telah berguruh), يَرْعُدُ (yar’udu artinya sedang/akan berguruh), رَعْدًا (ra’dan artinya guruh/petir).
Demikian pula الرَّاعِدُ (ar-ra’id artinya yang berguruh) dinamakan (رَعْدًا) ra’dan (petir/guruh), seperti halnya الْعَادِلُ (al-‘adil artinya yang adil) dinamakan عَدْلاًً (‘adlan artinya adil).
Gerakan yang ada mengharuskan keluarnya suara, sementara para malaikatlah yang menggerakkan (mengarak) awan. Mereka memindahkannya dari satu tempat ke tempat lainnya. Seluruh gerakan yang terjadi di alam atas dan alam bawah, yang mengaturnya adalah para malaikat. Suara manusia pun bersumber dari benturan anggota-angota tubuhnya, yaitu kedua bibirnya, lidahnya, gigi-giginya, anak lidah (anak tekak), dan tenggorokan. Bersama dengan itu, manusia disifati bahwa dia bertasbih kepada Rabbnya, memerintahkan kepada yang kebaikan dan melarang dari kemungkaran. Jika begitu, petir adalah suara menghardik awan.6
Begitu pula halnya dengan kilat. Telah dikatakan, “(Kilat itu) kilauan air atau kilauan api.” Hal ini pun tidak menafikan (menampik) bahwa kilat itu adalah cambuk yang ada di tangan malaikat, karena api yang berkilau di tangan malaikat seperti cambuk, seperti penggiring hujan. Malaikat menggiring (mengarak) awan seperti halnya penunggang menggiring binatang tunggangannya.”
Catatan Kaki:
1 Istilah dalam ilmu nahwu.
2 Yaitu tempat Allah l berada.
3 Ibnu Taimiyah t menyebutkan pendapat ahli filsafat di sini bukan dalam rangka mengangkat kedudukan mereka, karena ilmu filsafat dan ilmu kalam tidak berasal dari Islam tetapi dari Yunani yang menyusup ke dalam tubuh kaum muslimin. Ilmu filsafat dan ilmu kalam tercela dan haram. Kata Abu Yusuf al-Qadhi, “Barang siapa menuntut agama (syariat) ini dengan ilmu kalam (filsafat), dia akan menjadi zindiq (munafik).”
4 Lihat penjelasan makna makhariq (alat semacam cambuk) dalam an-Nihayah fi Gharib al-Atsar karya Ibnul Atsir.
5 Setelah itu beliau ditanya lagi tentang suara petir yang terdengar itu. Beliau n menjawab:
زَجْرُهُ بِالسَّحَابِ إِذَا زَجَرَهُ حَتَّى يَنْتَهِيَ إِلَى حَيْثُ أُمِرَ
“Hardikannya terhadap awan jika ia menghardiknya (untuk mengaraknya) hingga berhenti di tempat yang diperintahkannya.”
Ini adalah hadits Ibnu ‘Abbas c dengan riwayat at-Tirmidzi (pada Kitab Tafsir al-Qur’an, Bab Wa min Surah ar-Ra’d no. 3117) tentang kedatangan sekelompok Yahudi menemui Rasulullah n dan bertanya tentang petir. Hadits ini diriwayatkan pula oleh Ahmad, ath-Thabarani, adh-Dhiya’ al-Maqdisi, dan lainnya dengan lafadz:
أَقْبَلَتْ يَهُودُ إِلَى النَّبِيِّ n فَقَالُوا: يَا أَبَا الْقَاسِمِ، نَسْأَلُكَ عَنْ أَشْيَاءَ إِنْ أَجَبْتَنَا فِيْهَا اتَّبَعْنَاكَ وَصَدَّقْنَاكَ وَآمَنَّا بِكَ … فَأَخْبِرْنَا عَنِ الرَّعْدِ مَا هُوَ؟ قَالَ: الرَّعْدُ مَلَكٌ مِنَ الْمَلاَئِكَةِ مُوَكَّلٌ بِالسَّحَابِ (بِيَدَيْهِ -أَوْ فِيْ يَدِهِ- مِخْرَاقٌ مِنْ نَارٍ يَزْجُرُ بِهِ السَّحَابَ) وَالصَّوْتُ الَّذِيْ يُسْمَعُ مِنْهُ زَجْرُهُ السَّحَابَ إِذَا زَجَرَهُ حَتَّى يَنْتَهِيَ إِلَى حَيْثُ أَمَرَهُ
Sekelompok orang Yahudi menemui Nabi n dan berkata, “Wahai Abul Qasim, kami akan bertanya kepadamu tentang beberapa hal. Jika engkau menjawabnya, kami akan mengikutimu, membenarkanmu dan beriman kepadamu … Kabarkan kepada kami tentang petir, apakah itu?'”
Nabi n bersabda, “Petir adalah salah satu malaikat Allah yang ditugasi mengurus awan, (di kedua tangannya—atau di tangannya—ada cambuk dari api untuk menghardik awan), dan suara yang terdengar darinya adalah hardikannya terhadap awan jika ia menghardiknya hingga berhenti di tempat yang diperintahkannya.”
Yang dalam kurung adalah tambahan lafadz dari adh-Dhiya’ pada salah satu riwayatnya. Dinyatakan berderajat sahih oleh al-Albani. Lihat ash-Shahihah (no. 1872).
6 Ini sesuai dengan sabda Rasul n pada kelanjutan hadits Ibnu ‘Abbas c di atas.

Sifat Shalat Nabi (bagian 12)

(ditulis oleh: Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq al-Atsari)
Surah dan Ayat yang Pernah Dibaca oleh Rasulullah n dalam Shalat Lima Waktu
Surah dan ayat-ayat yang dibaca oleh Rasulullah n dalam shalat lima waktu ketika mengimami manusia berbeda-beda. Terkadang bacaannya panjang, terkadang pendek. Ahlu ilmi berkata, “Perbedaan kadar bacaan dalam hadits-hadits tersebut sesuai dengan keadaan. Adalah Nabi n mengetahui keadaan makmum. Ketika mereka mengutamakan shalat yang panjang, beliau n pun memanjangkan bacaannya. Namun, kala mereka tidak menginginkan shalat yang panjang karena satu uzur dan yang semisalnya, beliau pun meringankan bacaannya.” (al-Majmu’, 3/348)
Dalam shalat berjamaah seorang imam harus pandai melihat keadaan makmumnya. Petunjuk Rasulullah n dalam hal ini adalah hendaknya imam tidak memberatkan makmumnya, namun justru meringankan mereka. Karenanya, beliau n bersabda:
إِذَا أَمَّ أَحَدُكُمُ النَّاسَ فَلْيُخَفِّفْ، فَإِنَّ فِيْهِمُ الصَّغِيْرَ وَالْكَبِيْرَ وَالضَّعِيْفَ وَالْمَرِيْضَ، فَإِذَا صَلَّى وَحْدَهُ فَلْيُصَلِّ كَيْفَ شَاءَ
“Apabila salah seorang dari kalian mengimami manusia, hendaknya ia meringankan shalat tersebut, karena di antara makmum ada anak kecil, orang lanjut usia, orang yang lemah, dan orang sakit. Kalau ia shalat sendirian, silakan ia shalat sekehendaknya (dipanjangkan atau dipendekkan)1.” (HR. al-Bukhari no. 703 dan Muslim no. 1046)
Namun, yang perlu menjadi catatan adalah bahwa ringan di sini adalah sesuatu yang nisbi. Artinya, batasan ringan itu kembali kepada apa yang dilakukan Nabi n dan yang menjadi kebiasaan beliau, bukan dikembalikan kepada selera makmum. Hal ini karena beliau n tidak pernah memerintahkan satu urusan kepada umatnya lalu beliau n menyelisihinya. Beliau n pasti melakukan apa yang beliau n perintahkan. Ketika mengimami manusia, beliau n mengetahui bahwa di antara makmum ada orang lanjut usia, ada orang yang lemah, dan orang yang memiliki hajat. Apa yang beliau n lakukan itulah batasan ringan yang beliau n perintahkan, meskipun menurut perasaan orang, shalat yang beliau n lakukan itu panjang. Hal ini seperti yang ditunjukkan dalam hadits Ibnu Umar c, ia berkata:
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ n يَأْمُرُنَا بِالتَّخْفِيْفِ وَيَؤُمُّنَا بِالصَّافّاَتِ
“Adalah Rasulullah n memerintahkan kami meringankan bacaan dalam shalat (ketika mengimami manusia) dan beliau n mengimami kami dengan membaca surah ash-Shaffat.” (HR. an-Nasa’i no. 826, disahihkan dalam Shahih Sunan an-Nasa’i)
Membaca surah ash-Shaffat—yang terdiri dari 182 ayat—ketika mengimami manusia, berarti termasuk bacaan ringan yang beliau n perintahkan.2
Walaupun tidak ada keharusan membaca surah tertentu dalam shalat fardhu seperti yang telah disebutkan di atas, namun kita perlu mengetahui surah apa saja yang pernah dibaca Rasulullah n dalam shalatnya, sebagaimana yang dikabarkan oleh para sahabat beliau n yang mulia. Berikut ini kita memulai penyebutannya.
1. Shalat Fajar/Subuh
Rasulullah n biasa membaca surah mufashshal yang panjang sebagaimana ditunjukkan oleh hadits Abu Hurairah z. Ia berkata, “Aku tidak pernah melihat seseorang yang shalatnya paling mirip (dengan shalat Rasulullah n, pen.) daripada si Fulan—seorang imam yang ada di Madinah—.” Sulaiman bin Yasar t yang mendengar ucapan Abu Hurairah z ini mengatakan, “Aku pun shalat di belakang imam yang disebut oleh Abu Hurairah z. Ia memanjangkan bacaannya pada dua rakaat yang awal dari shalat zhuhur dan meringankan dalam dua rakaat yang terakhir. Ia meringankan shalat ashar (lebih pendek dari shalat zhuhur, pen.). Dalam dua rakaat shalat maghrib, ia membaca surah mufashshal yang pendek-pendek. Ia juga membaca surah mufashshal yang pertengahan (tidak panjang dan tidak juga pendek, pen.) dalam dua rakaat yang awal dari shalat isya. Adapun dalam shalat subuh, ia membaca surah mufashshal yang panjang.”
Adh-Dhahhak t mengatakan, “Orang yang mendengar dari Anas bin Malik z menyampaikan kepadaku ucapan Anas, ‘Aku tidak pernah melihat seseorang yang shalatnya paling mirip dengan Rasulullah n daripada anak muda ini—yang dimaksudkan adalah Umar ibnu Abdil Aziz’.” Adh-Dhahhak t mengatakan, “Aku pun shalat di belakang Umar ibnu Abdil Aziz. Ternyata dia melakukan sebagaimana yang dikatakan oleh Sulaiman bin Yasar.” (HR. an-Nasa’i no. 982, 983 dan Ahmad 2/300, 329—330. Al-Hafizh Ibnu Hajar t berkata dalam Bulughul Maram hadits no. 309, “Sanadnya sahih.”)
Surah-surah lain yang pernah dibaca oleh Rasulullah n dalam shalat subuh bisa dirinci sebagai berikut:
1. Surah al-Waqi’ah dan semisalnya
Hal ini tersebut dalam hadits Jabir bin Samurah z yang diriwayatkan oleh al-Hakim (1/240) dan Ahmad (5/104). Al-Hakim t berkata, “Sahih menurut syarat Muslim,” dan disepakati oleh adz-Dzahabi. Al-Imam al-Albani t mengatakan dalam al-Ashlu (2/431) bahwa keadaan hadits ini adalah sebagaimana yang dikatakan oleh keduanya.
2. Ketika menunaikan haji Wada’, Rasulullah n membaca surah ath-Thur
Ini seperti dikabarkan oleh Ummu Salamah x, yang dibawakan oleh al-Imam al-Bukhari t dalam Shahih-nya secara mu’allaq, ”Bab al-Jahru bi Qira’ati Shalatil Fajr”. Ummu Salamah x mengatakan, “Aku thawaf di belakang orang-orang dan Nabi n sedang mengerjakan shalat dengan membaca ath-Thur.”3
3. Surah Qaf dan semisalnya pada rakaat pertama
Ini disebutkan oleh hadits Jabir ibnu Samurah z yang diriwayatkan oleh al-Imam Muslim (no. 1027 dan 1028).
4. Surah-surah mufashshal yang pendek semacam at-Takwir
Ini disebutkan oleh riwayat ‘Amr ibnu Huraits z yang diriwayatkan oleh al-Imam Muslim (no. 1023).
5. Sekali waktu Rasulullah n membaca surah al-Zalzalah dalam dua rakaat (dibaca dalam rakaat pertama dan dibaca lagi dalam rakaat kedua)
Sampai-sampai perawi yang membawakan riwayat ini mengatakan, “Aku tidak tahu, apakah Nabi n lupa atau beliau mengulang bacaannya dengan sengaja4.” (HR. Abu Dawud no. 816, disahihkan sanadnya oleh al-Imam an-Nawawi t dalam al-Majmu’. Kata al-Imam Albani t, “Semua perawinya adalah perawi Syaikhani, selain Mua’dz ibnu Abdillah al-Juhani. Dia tsiqah, menurut pendapat Ibnu Ma’in, Abu Dawud, dan selainnya. al-Ashlu, 2/435)
6. Dalam suatu safar, Rasulullah n membaca al-Mu’awwidzatain (surah al-Falaq dan an-Naas)
Ini sebagaimana disebutkan oleh hadits ‘Uqbah ibnu ‘Amir z. (HR. Abu Dawud no. 1462 dengan sanad yang hasan, al-Ashlu, 2/437)
7. Terkadang Rasulullah n membaca surah yang lebih panjang sejumlah 60—100 ayat
Ini seperti tersebut dalam hadits Abu Barzah al-Aslami z yang dikeluarkan al-Imam Muslim (no. 1031 dan 1032).
8. Surah ar-Rum
Ini disebutkan dalam hadits al-Aghra al-Muzani z yang diriwayatkan oleh al-Bazzar. Haditsnya hasan dengan syahid (pendukung) yang diriwayatkan oleh an-Nasa’i (no. 947) dari seorang sahabat Rasulullah n dan sanadnya hasan (al-Misykat, 295).
9. Sekali waktu saat Rasulullah n mengerjakan shalat subuh di Makkah, beliau membaca surah al-Mu’minun. Ketika sampai pada ayat yang menyebutkan Musa dan Harun5 atau Isa6—ada keraguan pada perawi—Rasulullah n batuk, beliau pun ruku’.
Ini disebutkan oleh hadits Abdullah ibnus Sa’ib z yang diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari secara mu’allaq dalam Shahih-nya, “Kitabul Adzan, Bab al-Jam’u bainas Suratain fir Rak’ah” dan Muslim (no. 1022).
10. Surah ash-Shaffat
Ini seperti disebutkan oleh hadits Ibnu Umar c yang diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad (2/40) dengan sanad yang hasan (al-Ashlu, 2/443).
11. Di waktu fajar hari Jum’at, pada rakaat pertama Rasulullah n membaca surah as-Sajdah dan rakaat kedua membaca al-Insan.
Ini sebagaimana tersebut dalam banyak hadits, di antaranya hadits Abu Hurairah z yang diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 891) dan Muslim (no. 2031)7.
2. Shalat Zhuhur
Dalam shalat zhuhur, Rasulullah n memanjangkan rakaat yang pertama lebih dari rakaat yang kedua. Ini sebagaimana yang ditunjukkan oleh hadits Abu Qatadah z:
كَانَ النَّبِيُّ n يَقْرَأُ فِي الرَّكْعَتَيْنِ الْأُوْلَيَيْنِ مِنَ الصَّلاَةِ الظُّهْرِ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَسُوْرَتَيْنِ، يَطُوْلُ فِي الْأُوْلى وَيُقَصِّرُ فِي الثَّانِيَةِ وَيُسْمِعُ الْآيَةَ أَحْيَانًا …
“Adalah Nabi n dalam dua rakaat yang awal dari shalat zhuhur membaca Ummul Kitab (al-Fatihah) dan dua surah. Beliau memanjangkan qiraah dalam rakaat yang pertama dan memendekkannya dalam rakaat kedua. Terkadang beliau memperdengarkan kepada kami ayat yang beliau baca ….” (HR. al-Bukhari no. 759 dan Muslim no. 1012)
Terkadang beliau n sangat memanjangkan bacaan dalam rakaat pertama. Sampai-sampai ada seseorang yang pergi ke Baqi’ saat diserukan iqamah shalat zhuhur guna menunaikan hajatnya, lalu ia pulang ke rumahnya, berwudhu, dan datang ke masjid lagi dalam keadaan Rasulullah n masih di rakaat pertama. (HR. Muslim no. 1020 dari Abu Sa’id al-Khudri z)
Menurut dugaan para sahabat g, Rasulullah n memanjangkan demikian agar orang-orang yang belum datang bergabung dalam jamaah sempat mendapati rakaat pertama. Demikian yang ditunjukkan oleh hadits Abu Qatadah z yang diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 800) dan hadits ini sahih sebagaimana dalam Shahih Sunan Abi Dawud.
Diperkirakan bacaan Rasulullah n pada rakaat pertama dan kedua sekitar 30 ayat seperti membaca surah as-Sajdah. Hal ini dikabarkan oleh Abu Said al-Khudri z. Beliau z berkata, “Kami memperkirakan berdirinya Rasulullah n dalam shalat zhuhur dan ashar. Dalam dua rakaat pertama shalat zhuhur, kami perkirakan Rasulullah n berdiri sekadar bacaan 30 ayat, seperti kadar membaca surat Tanzil as-Sajdah. Adapun berdirinya beliau dalam dua rakaat yang akhir kami perkirakan separuh dari itu (kira-kira bacaan 15 ayat). Kami memperkirakan berdirinya Rasulullah n pada dua rakaat yang awal dari shalat ashar sekitar setengah dari itu8. Kami perkirakan berdirinya beliau dalam dua rakaat yang akhir sekitar separuh dari dua rakaat yang pertama.” (HR. Ahmad 3/2 dan ini adalah lafadz beliau, Muslim [no. 1014] dan al-Bukhari dalam Juz Qira’ah-nya hlm. 25)
Para sahabat g sayup-sayup pernah mendengar Rasulullah n membaca surah al-A’la dan al-Ghasyiyah, sebagaimana tersebut dalam hadits Anas bin Malik z yang diriwayatkan oleh adh-Dhiya’ al-Maqdisi dalam al-Mukhtarah. (Sanadnya sahih menurut syarat Muslim, al-Ashlu, 2/462)
Pernah pula Rasulullah n membaca surah al-Buruj dan ath-Thariq, serta surah semisal keduanya. (HR. al-Bukhari dalam Juz Qira’ah hlm. 21, Abu Dawud no. 805, dan selainnya, dari Jabir bin Samurah z. Haditsnya hasan sahih, lihat Shahih Sunan Abi Dawud)
Demikian pula, beliau n pernah membaca surah al-Lail dan semisalnya. (HR. Abu Dawud no. 806 dari Jabir bin Samurah z, dan haditsnya sahih)
Dua Rakaat yang Akhir
Sebagaimana telah disebutkan di atas bahwa pada dua rakaat yang akhir dari shalat zhuhur, Rasulullah n menjadikannya lebih pendek dari dua rakaat yang pertama sekitar separuhnya, yaitu sekadar membaca lima belas ayat.
Di sini, disenangi membaca surah selain al-Fatihah dalam dua rakaat yang akhir. Namun surah yang dibaca lebih ringan atau lebih pendek daripada dua rakaat yang pertama. Boleh juga mencukupkan dengan membaca al-Fatihah saja.
Dalam masalah ini ada perbedaan pendapat di kalangan ulama. Apakah mustahab membacanya dalam dua rakaat yang akhir dari shalat ruba’iyah (empat rakaat) dan rakaat yang ketiga dari shalat tsulatsiyah (tiga rakaat/ maghrib), atau tidak. Para sahabat pun berbeda pendapat dalam hal ini. Sebagian mereka membacanya, seperti Abu Bakr ash-Shiddiq z, sebagaimana tersebut dalam al-Muwaththa’ (1/177) dengan sanad yang sahih. Di sana disebutkan bahwa pada rakaat ketiga dari shalat maghrib, setelah membaca al-Fatihah, Abu Bakr z membaca ayat:
(Mereka berdoa), “Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).” (Ali Imran: 8)
Al-Baihaqi t dalam satu riwayatnya tentang perbuatan Abu Bakr z ini menambahkan: Sufyan ibnu Uyainah t mengatakan, “Tatkala Umar ibnu Abdil Aziz t mendengar hal ini dari Abu Bakr z, ia berkata, ‘Semula aku tidak mengamalkan yang seperti ini. Ketika aku mendengar bahwa ini (dilakukan oleh Abu Bakr z), aku pun mengambil pendapat ini’.” (2/64 dan 391)
Al-Imam al-Albani t menyatakan bahwa Abul Hasanat al-Laknawi mengambil pendapat ini. Beliau juga mengatakan keganjilan pendapat sebagian orang yang menghukumi wajibnya sujud sahwi jika membaca surah dalam dua rakaat yang akhir. Ini telah dibantah oleh Ibrahim al-Halabi, Ibnu Amir Hajj al-Halabi, dan selain keduanya dengan bantahan yang sangat bagus. Dengan demikian, tidak diragukan bahwa orang yang berpendapat demikian belumlah sampai kepadanya hadits yang menyebutkan bolehnya membaca surah dalam dua rakaat yang akhir tersebut. Seandainya sampai kepada mereka, niscaya mereka tidak berfatwa yang menyelisihinya. (al-Ashlu, 2/468—469)
Sebagian sahabat tidak membaca surah setelah al-Fatihah dalam dua rakaat yang akhir (atau rakaat setelah tasyahud pertama), sebagaimana dinukilkan oleh al-Imam ath Thahawi t dalam Syarhu Ma’anil Atsar (1/267 & 271—272) dari Ali bin Abi Thalib, Ibnu Umar, Zaid bin Tsabit, Jabir bin Abdillah, dan Abud Darda’ g.
3. Shalat Ashar
Pembicaraan qiraah dalam shalat ashar ini sama dengan shalat zhuhur. Dalam dua rakaat yang awal, Rasulullah n membaca surah al-Fatihah dan dua surah yang lain (satu surah pada masing-masing rakaat) seperti dalam hadits Abu Qatadah z:
وَكَانَ يَقْرَأُ فِي الْعَصرِ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَسُوْرَتَيْنِ …
“Adalah Nabi n dalam dua rakaat yang awal dari shalat ashar membaca Ummul Kitab (al-Fatihah) dan dua surah ….” (HR. al-Bukhari no. 759 dan Muslim no. 1012)
Kadar bacaan Rasulullah n dalam masing-masing dari dua rakaat tersebut sekitar lima belas ayat, yaitu separuh dari bacaan beliau dalam dua rakaat yang awal dari shalat zhuhur. Untuk dua rakaat yang akhir, bacaannya separuh dari dua rakaat yang awal, sebagaimana hal ini disebutkan oleh hadits Abu Sa’id al-Khudri z yang telah lewat penyebutannya dalam pembahasan qiraah shalat zhuhur.
Terkadang Rasulullah n memperdengarkan bacaan beliau kepada para sahabatnya. Adapun ayat/surah-surah yang dibaca oleh beliau n sama dengan yang disebutkan dalam shalat zhuhur.
Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.

Catatan Kaki:
1 Dalam riwayat al-Bukhari disebutkan:
وَإِِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ لِنَفْسِهِ فَلْيُطَوِّلْ مَا شَاءَ
“Apabila salah seorang dari kalian shalat sendirian, silakan ia panjangkan shalat semaunya.”
2 Sebagaimana beliau n juga pernah menganjurkan membaca surat-surat yang lebih pendek, seperti Sabbihisma Rabbikal a’la (surah al-A’la).
3 Di tempat lain dalam Shahih-nya, riwayat ini dibawakan oleh al-Bukhari secara maushul (dengan sanad yang bersambung). Demikian pula al-Imam Muslim dalam Shahih-nya. Disebutkan, Ummu Salamah x mengadu kepada Rasulullah n bahwa ia sedang sakit, sementara ia belum thawaf di Baitullah. Rasulullah n memberikan arahan, “Thawaflah engkau di belakang orang-orang dalam keadaan engkau berada di atas tunggangan.” Ummu Salamah x berkata, “Aku pun thawaf dengan menaiki untaku dan ketika itu Rasulullah n sedang shalat di sisi Baitullah membaca surah ath-Thur.”
Namun riwayat yang maushul ini tidak menyebutkan shalat fajar. Yang menyebutkannya adalah riwayat lain yang juga diriwayatkan oleh al-Bukhari dari Ummu Salamah x, ia mengabarkan bahwa Rasulullah n saat di Makkah dan ingin keluar meninggalkan Makkah (untuk kembali ke Madinah), Ummu Salamah x juga ingin keluar meninggalkan Makkah namun ia belum thawaf di Baitullah. Rasulullah n bersabda kepadanya, “Apabila telah ditegakkan shalat subuh, thawaflah di atas untamu sementara manusia mengerjakan shalat.”
4 Namun yang tampak, Rasulullah n melakukannya dengan sengaja sebagai tasyri’ (penetapan syariat) bolehnya hal tersebut. (al-Ashlu, 2/435)
5 Yaitu ayat yang berbunyi:
“Kemudian Kami utus Musa dan saudaranya Harun dengan membawa tanda-tanda (kebesaran) Kami, dan bukti yang nyata.” (al-Mu’minun: 45)
6 Yaitu ayat yang berbunyi:
“Dan telah Kami jadikan (Isa) putra Maryam beserta ibunya suatu bukti yang nyata bagi (kekuasaan Kami), dan Kami melindungi mereka di suatu tanah tinggi yang datar yang banyak terdapat padang-padang rumput dan sumber-sumber air bersih yang mengalir.” (al-Mu’minun: 50)
7 Rasulullah n membaca dua surah ini karena keduanya memuat penyebutan tentang awal penciptaan makhluk dan tempat kembalinya, penciptaan Adam dan penyebutan tentang masuk surga dan neraka. Itu semua telah dan akan terjadi pada hari Jum’at. Rasulullah n membacanya pada subuh hari Jum’at untuk mengingatkan umatnya akan kejadian tersebut.
8 Yaitu setengah dari lama berdirinya beliau dalam dua rakaat yang awal dari shalat zhuhur.

Jika Ilmu Menyentuh Kalbu

(ditulis oleh: Ibnul Qayyim)
Allah l berfirman:
“Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya. Arus itu membawa buih yang mengambang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang batil. Adapun buih itu akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya. Adapun yang memberi manfaat kepada manusia, ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan.” (ar-Ra’du: 17)
Allah l menyerupakan ilmu yang Dia turunkan kepada Rasul-Nya dengan air yang Dia turunkan dari langit karena keduanya menghasilkan sebuah kehidupan dan kebaikan bagi manusia dalam maisyah mereka dan kembalinya mereka nanti. Allah l menurunkan wahyu demi kehidupan kalbu, pendengaran, dan penglihatan. Di sisi lain, Allah l menurunkan air demi hidupnya bumi dengan tumbuhan. Lalu Allah l menyerupakan kalbu dengan lembah. Kalbu yang besar akan menampung ilmu yang banyak, ibarat lembah yang luas menampung air yang banyak. Sebaliknya, kalbu yang kecil hanya menampung ilmu yang sedikit. Ibarat lembah yang sempit, hanya menampung air yang sedikit pula. Allah l menjelaskan:
“Maka lembah-lembah itu mengalirkan sesuai ukurannya. Arus itu pun membawa buih yang mengambang.” (ar-Ra’du: 17)
Perumpamaan ini diberikan oleh Allah l untuk ilmu saat menyentuh kalbu yang lapang sehingga kalbu itu membawa ilmu dan petunjuk sesuai dengan ukurannya. Maka dari itu, sebagaimana arus air ketika menyapu bumi dan melewatinya akan membawa kotoran serta buih, demikian pula petunjuk dan ilmu ketika bersentuhan dengan kalbu. Ilmu akan merangsang kalbu untuk mengeluarkan syubhat dan syahwat yang ada padanya, kemudian mencabut dan melenyapkannya. Ibarat obat saat diserap oleh tubuh, ia merangsangnya untuk mengeluarkan kotoran-kotorannya, sehingga peminumnya merasa pening. Padahal, itu adalah kesempurnaan manfaat pengaruh obat yang nanti (kotoran itu) akan dibuang oleh obat tersebut karena keduanya (obat dan penyakit) tidak akan bersatu. Demikianlah perumpaan kebenaran dan kebatilan. Ilmu akan melenyapkan buih-buih syubhat kebatilan dari kalbu sehingga syubhat itu hanya mengambang di permukaannya, sebagaimana arus air menyapu lembah tersebut sehingga muncul buih yang mengambang di atas air. Allah l mengabarkan bahwa buih itu hanya mengambang di atas air, tidak menetap di tanah lembah itu. Seperti itu jugalah syubhat-syubhat yang batil bila telah disapu oleh ilmu. Ia hanya mengambang di permukaan kalbu, tidak akan menetap padanya. Bahkan, syubhat-syubhat itu akhirnya terlempar sirna sehingga yang tinggal dalam kalbu hanyalah yang bermanfaat baginya dan bagi manusia, berupa hidayah dan agama yang benar, layaknya air yang menetap di lembah tersebut dalam keadaan jernih dan telah sirna buihnya. Dengan demikian, orang-orang dapat mengambil air minum, bercocok tanam, dan memberi minum ternak mereka darinya.
Tidak ada seorang pun yang memahami perumpamaan yang diberikan oleh Allah l selain orang-orang yang berilmu.
Allah l lalu memberikan perumpamaan yang lain bagi (manfaat ilmu). Allah l berfirman:
“Dan dari apa yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu.” (ar-Ra’du: 17)
Maksudnya, sesuatu yang dilebur oleh Bani Adam baik berupa emas, perak, tembaga maupun besi, akan keluar kotoran darinya. Kotoran itu adalah buih yang dibuang oleh api dan dikeluarkan oleh api itu dari perhiasan tersebut saat bercampur dengan api itu. Jadi, yang tertinggal hanyalah hiasan yang murni. Demikianlah, iman yang murni dan bersih—yang bermanfaat bagi pemiliknya dan orang lain pun bisa memanfaatkannya1—akan menetap dalam kalbu.
Allah l membuat perumpamaan dengan air karena air mengandung kehidupan, kesejukan, dan manfaat. Di sisi ain, Allah l membuat perumpamaan dengan api karena api mengandung cahaya, sinar, dan sifat membakar. Ayat-ayat Al-Qur’an menghidupkan kalbu seperti hidupnya bumi dengan sebab air. Di sisi lain, ayat-ayat Al-Qur’an membakar kejelekan kalbu, syubhat, syahwat, dan kotoran hitamnya seperti api membakar sesuatu yang dilemparkan ke dalamnya sehingga memisahkan yang baik dari kotorannya, memisahkan emas, perak, dan tembaga dari kotorannya.
Inilah beberapa pelajaran dan ilmu yang terkandung dalam perumpamaan yang agung ini. Allah l berfirman:
“Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia; dan tiada yang memahaminya selain orang-orang yang berilmu.” (al-Ankabut: 43)
Wallahu a’lam.
(Diterjemahkan dan disusun oleh Qomar Suaidi dari at-Tafsirul Qayyim dan I’lamul Muwaqqi’in karya Ibnul Qayyim)
Catatan Kaki:
1 As-Sa’di t mengatakan, “Demikian juga syubhat dan syahwat. Kalbu akan terus membenci dan melawannya dengan keterangan-keterangan yang benar dan tekad yang kuat sehingga syubhat dan syahwat itu pun sirna.
Kalbu pun menjadi bersih dan murni. Tidak ada di dalamnya selain apa yang bermanfaat bagi manusia, yaitu ilmu tentang kebenaran, dan mendahulukan serta mencintainya. Yang batil akan sirna dan dilenyapkan oleh kebenaran.
“Sesungguhnya kebatilan itu akan sirna.” (al-Isra: 81)
Allah l berfirman:
“Demikianlah Allah memberikan perumpamaan-perumpamaan,” agar tampak kebenaran dari kebatilan dan menjadi jelas petunjuk dari kesesatan.

JANGAN MEREMEHKAN SATU KEBAIKANPUN

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits)
Barangkali kita sering menganggap bahwa perbuatan yang bernilai adalah yang besar dan berat, sebagaimana diriwayatkan:
الْأَجْرُ عَلَى قَدْرِ الْمَشَقَّةِ
“Pahala itu tergantung kepada tingkat kesulitan.”
Kelirunya kalau kita jadi sering meremehkan perbuatan-perbuatan kecil. Padahal, sekecil apa pun, jika dikerjakan dengan ikhlas nilainya berlipat ganda di sisi Allah l.
Rasulullah n bersabda:
مَنْ تَصَدَّقَ بِعَدْلِ تَمْرَةٍ مِنْ كَسْبٍ طَيِّبٍ، وَلاَ يَصْعَدُ إِلَى اللهِ إِلاَّ الطَّيِّبُ، فَإِنَّ اللهَ يَتَقَبَّلُهَا بِيَمِينِهِ، ثُمَّ يُرَبِّيهَا لِصَاحِبِهَا كمَا يُرَبِّي أَحَدُكُمْ فَلُوَّهُ، حَتَّى تَكُونَ مِثْلَ الْجَبَلِ
“Siapa yang bersedekah dengan separuh kurma dari usaha yang baik (halal)—dan tidak akan naik kepada Allah melainkan yang baik—sesungguhnya Allah akan menerimanya dengan Kanan-Nya, kemudian mengembangkannya untuk pemiliknya seperti salah seorang dari kalian memelihara anak kudanya hingga menjadi sebesar gunung.”1
Berapa banyak amalan yang sedikit namun berlipat ganda nilainya di sisi Allah l. Sebaliknya, banyak pula amalan besar yang akhirnya menjadi debu yang beterbangan. Terlebih jika diselingi dengan syirik, besar atau kecil.
Allah l berfirman:
Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, “Jika kamu berbuat syirik, niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (az-Zumar: 65)
Allah l berfirman:
Katakanlah, “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. (al-Kahfi: 103—104)
Rasulullah n bersabda:
إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعْمَتَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: قَاتَلْتُ فِيكَ حَتَّى اسْتُشْهِدتُ. قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لِأَنْ يُقَالَ: جَرِيءٌ، فَقَدْ قِيلَ. ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ، وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ، فَأُتِيَ بِهِ، فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيكَ الْقُرْآنَ. قَالَ: كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ: عَالِمٌ، وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ: هُوَ قَارِئٌ، فَقَدْ قِيلَ. ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ، وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ وَأَعْطَاهُ مِنْ أَصْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: مَا تَرَكْتُ مِنْ سَبِيلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيهَا إِلاَّ أَنْفَقْتُ فِيهَا لَكَ. قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ: هُوَ جَوَادٌ، فَقَدْ قِيلَ. ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ، ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ
Sesungguhnya orang yang mula-mula diputuskan perkaranya adalah; (pertama), seseorang yang mati syahid, dihadapkan (kepada Allah) lalu diperlihatkan kepadanya nikmatnya, dan dia mengenalnya. Allah bertanya, “Apa yang engkau perbuat dengan kenikmatan itu?”
Orang itu berkata, “Saya berperang demi Engkau hingga mati syahid.”
Allah berkata, “Engkau dusta. Sebetulnya engkau berperang agar dikatakan pemberani, dan itu sudah diucapkan (orang),” lalu dia dibawa dalam keadaan diseret di atas mukanya sampai dilemparkan ke dalam neraka.
(Yang kedua) orang yang menuntut ilmu (syar’i), mengajarkannya, dan membaca Al-Qur’an. Dia dibawa ke hadapan Allah, diperlihatkan nikmatnya, lalu dia mengenalnya. Allah bertanya, “Apa yang engkau perbuat padanya?”
“Saya mencari ilmu dan mengajarkannya serta membaca Al-Qur’an karena Engkau,” jawabnya.
Kata Allah, “Kamu dusta. Sebetulnya engkau mencari ilmu agar dikatakan alim dan membaca Al-Qur’an agar digelari qari`. Sungguh, semua itu sudah diucapkan (orang).” Dia pun dibawa dalam keadaan diseret di atas mukanya lalu dilemparkan ke dalam neraka.
(Yang ketiga), orang yang telah diberi kecukupan dan harta oleh Allah, dia dihadapkan kepada Allah, dan diperlihatkan nikmatnya, lalu dia mengenalnya. Allah bertanya, “Apa yang engkau perbuat padanya?”
“Tidak saya biarkan satu jalan yang Engkau cintai saya berinfak padanya, melainkan saya melakukannya karena Engkau,” katanya.
Allah berkata, “Kamu dusta. Sebetulnya kamu berbuat demikian agar dikatakan dermawan, dan itu sudah diucapkan (orang),” lalu dia diseret di atas mukanya hingga dilemparkan ke dalam neraka.2
Lihatlah betapa sia-sia amalan mereka. Perbuatan mulia dan besar yang mereka kerjakan, ternyata berujung di neraka.
Di antara Faedah Tauhid
Tauhid, yakni keikhlasan, demikian tinggi dan penting dalam hidup seorang manusia. Terlebih lagi bagi seorang mukmin. Sampai pun dosa yang besar sekalipun, lebur dengan adanya tauhid dan keikhlasan yang murni dalam hati seseorang.
Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dari Anas z, bahwa Rasulullah n bersabda, “Allah l berfirman:
يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِي لَا تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً
“Hai anak Adam, seandainya engkau datang kepada-Ku membawa dosa sepenuh bumi, kemudian engkau menghadap-Ku tanpa menyekutukan-Ku dengan sesuatu pun, sungguh, Aku pasti datangkan kepadamu ampunan sepenuh itu pula.”
Kisah berikut ini adalah salah satu buah tauhid dan keikhlasan dalam diri seseorang. Hal itu, karena tidak mungkin perbuatan ringan seperti yang akan diceritakan di sini membuahkan hasil begitu besar, yaitu ampunan Allah l.
Allah l berfirman:
“Jika kamu kafir, maka sesungguhnya Allah tidak memerlukanmu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya.” (az-Zumar: 7)
Abu Hurairah z bercerita, “Rasulullah n bersabda:
بَيْنَمَا كَلْبٌ يُطِيفُ بِرَكِيَّةٍ كَادَ يَقْتُلُهُ الْعَطَشُ إِذْ رَأَتْهُ بَغِيٌّ مِنْ بَغَايَا بَنِي إِسْرَائِيلَ فَنَزَعَتْ مُوقَهَا فَسَقَتْهُ فَغُفِرَ لَهَا بِهِ
“Ketika seekor anjing berputar-putar di sekeliling sebuah sumur, dalam keadaan dia hampir mati kehausan. Tiba-tiba, dia terlihat oleh seorang baghiy (pelacur) di kalangan Bani Israil. Kemudian wanita itu melepas sepatunya lalu memberi minum anjing tersebut. Karena itu, dia diampuni oleh Allah.”3
Di siang terik itu, tanah dan batu bagai tungku api raksasa. Ia membakar semua yang di atasnya. Seekor anjing, berjalan tertatih-tatih sambil menjulurkan lidahnya. Namun, itu bukan sekadar kebiasaannya.
Semangat hidupnya seolah terbangkit ketika mencium bau air yang segar. Dia pun berjalan mengitari sebuah sumur yang ada di tanah sunyi itu, mencari jalan untuk meminum airnya. Tentu saja tidak mungkin. Air itu jauh di dasar sumur.
Akhirnya, anjing itu hanya berputar-putar di sekelilingnya. Bagaimana caranya agar dia dapat minum? Adakah jalan untuk menuruni sumur itu? Berkali-kali dia mengitari sumur itu dengan rasa panik karena kehausan. Apakah dia akan mati di tepi sumur itu?
Jangan dikira dia sekadar berusaha. Anjing juga makhluk Allah l, yang malah lebih mulia dari kebanyakan makhluk yang berpakaian. Anjing juga hamba-hamba Allah l. Bahkan, ada yang lebih taat kepada Allah l daripada sebagian orang yang bersorban.
Pernah dinukil dari Ibnu ‘Abbas z, beliau mengatakan, “Anjing yang tepercaya lebih baik daripada manusia yang khianat.”
Itulah seekor anjing. Dia juga bertasbih, beribadah, berdoa dengan cara yang ditentukan oleh Allah l bagi mereka. Allah l berfirman:
“Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka….” (al-Isra: 44)
Sambil berputar-putar dia tetap berdoa dengan cara yang hanya dimengerti oleh Penciptanya l. Keadaan darurat yang dialami anjing itu sudah merupakan ungkapan permohonan sendiri.
Allah l adalah Dzat Yang Maha Pengasih lagi Penyayang kepada hamba-hamba-Nya, siapa pun dia, makhluk apa pun dia. Apa pun pekerjaannya, dan bagaimanapun statusnya.
Semua yang ada di bumi dan di langit, Allah l yang mengatur rezeki mereka. Walaupun seekor anjing, Allah l tetap memerhatikan kebutuhannya.
Tak berapa lama, lewatlah seorang wanita Bani Israil. Wanita ini dikenal sebagai baghiy (pelacur). Dari kejauhan, dia melihat seekor anjing berputar-putar di sebuah sumur. Ada apa dengan anjing tersebut? Mengapa dia berputar-putar di sekeliling sumur itu? Apakah makanannya terjatuh ke dalam sumur itu? Atau ada anjing lain yang terjatuh ke dalamnya? Ada apa?
Akan tetapi, karena dia juga kehausan, dia pun melangkah menuju sumur itu. Ternyata, itulah sumur satu-satunya di jalan yang sunyi itu. Semakin dekat, wanita itu baru mengerti kalau anjing itu ternyata hampir mati kehausan.
Wanita itu melihat-lihat adakah sesuatu yang dapat dipakai untuk mengambil air di dalam sumur tersebut? Ternyata tidak ada. Akhirnya, dia nekat menuruni sumur itu sambil membawa sepatunya untuk mengambil air.
Tak lama, wanita itu keluar dari dalam sumur sambil menenteng sepatunya yang berisi air. Setelah itu dia meminumkannya kepada anjing itu. Tidak diceritakan berapa kali dia naik turun mengambil air. Paling tidak dengan hanya sebuah sepatu, tentu tidak cukup menghilangkan haus anjing itu.
Dengan telaten dia meminumkannya kepada anjing tersebut sementara dia sendiri juga kehausan. Tak lama anjing itu pun segar kembali.
Rasulullah n mengatakan bahwa Allah l mengampuninya. Hanya karena memberi minum seekor anjing, wanita itu diampuni oleh Allah l. Padahal, pekerjaannya selama ini bukanlah pekerjaan yang mulia. Dosa besar. Allah l berfirman:
“Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji, serta jalan yang buruk.” (al-Isra: 32)
Tentu saja, semua ini didasari oleh keimanannya yang murni, sebagaimana ditegaskan dalam hadits Anas z di atas. Kalau tidak, belum tentu semua baghiy akan memperoleh ampunan hanya karena memberi minum seekor anjing. Renungkan kembali hadits tentang tiga orang yang dilemparkan ke dalam neraka pertama kali.
Mudah-mudahan Allah l memelihara keikhlasan itu dalam hati kita sampai kita menghadap-Nya. Amin.
Wallahu a’lam.

Catatan Kaki:
1   HR. al-Bukhari (2/134) (1410) dan Muslim (3/85) (1014) (64).
2 HR. Muslim (1905).
3 HR. al-Bukhari (4/216 [2467]) dan Muslim (2245).

Abu Bakr Menunaikan Haji

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits)
Pada tahun 9 H, Rasulullah n, mengutus Abu Bakr z haji bersama kaum muslimin. Pelaksanaan haji ini sangat kuat pengaruhnya, terutama sesudah Pembebasan Makkah. Pintu-pintu mulai terbuka menyambut kaum muslimin berhaji dan umrah, silih berganti.
Peristiwa haji ini dapat dikatakan sebagai persiapan menghadapi haji akbar, yaitu haji wada’. Pada haji Abu Bakr z ini, diumumkan batalnya semua perjanjian yang ada dengan kaum musyrikin dan dimulainya tahapan baru kehidupan di jazirah Arab. Karena itu, tidak ada pilihan lain bagi manusia selain menerima syariat Allah l. Setelah ultimatum ini tersebar, kabilah-kabilah Arab mulai yakin urusan ini bukan main-main. Paganisme sudah hancur. Mulailah mereka mengirim utusan menyatakan terang-terangan keislaman mereka.
Abu Bakr z bertolak dari Madinah bersama tiga ratus orang menuju Tanah Haram yang sudah dibersihkan oleh Allah l dari berhala dan tempat-tempat pemujaan. Abu Bakr z berangkat membawa lima ekor unta untuk korban, sedangkan Rasulullah n mengirim pula 25 ekor yang beliau tandai sendiri.
Termasuk karunia Allah l kepada Rasul-Nya n dan kaum muslimin adalah mengembalikan kesucian Bait-Nya sebagaimana dahulu Ibrahim q meninggikan fondasinya bersama putra tercinta, Ismail q. Lalu turunlah firman-Nya:
“Dan (inilah) suatu permakluman dari Allah dan Rasul-Nya kepada umat manusia pada hari haji akbar, bahwa sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyrikin….” (at-Taubah: 3)
Firman Allah l:
“Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan masjid-masjid Allah, sedang mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya, dan mereka kekal di dalam neraka. Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (at-Taubah: 17—18)
Dan firman Allah l:
“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, janganlah mereka mendekati Masjidilharam sesudah tahun ini. Dan jika kamu khawatir menjadi miskin, Allah nanti akan memberikan kekayaan kepadamu dari karunia-Nya, jika Dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” (at-Taubah: 28)
Tak lama, Rasulullah n mengutus ‘Ali bin Abi Thalib z menyusul Abu Bakr z.
‘Ali bin Abi Thalib pun bertemu dengan Abu Bakr z di ‘Araj. Abu Bakr bertanya, “Apakah Rasulullah n menunjukmu memimpin haji?”
“Tidak, “ kata ‘Ali, “Hanya saja saya diutus oleh beliau n untuk membacakan kepada seluruh manusia bara’ah (surah at-Taubah) dan mengembalikan semua kesepakatan kepada pemiliknya.”
Pada waktu itu, perjanjian antara Rasulullah n dan kaum musyrikin berlaku selama setahun dan khusus. Dalam satu tahun tidak boleh seorang pun dihalangi dari Baitullah dan tidak boleh seorang pun merasa takut di bulan-bulan haram. Adapun yang khusus adalah perjanjian antara Rasulullah n dan kabilah-kabilah Arab sampai pada waktu tertentu. Dan merupakan tradisi Arab jika membatalkan sebuah perjanjian, dilakukan oleh kerabat terdekat dari orang yang ingin membatalkannya. Itulah sebabnya Rasulullah n mengutus ‘Ali z.
Uraian ini sekaligus bantahan terhadap kaum Rafidhah yang mengatakan bahwa Rasulullah n mencopot kedudukan Abu Bakr z sebagai Amirul Haj dan menggantinya dengan ‘Ali bin Abi Thalib z.
Setelah itu, Abu Bakr z tetap memimpin kaum muslimin haji sementara ‘Ali z membacakan bara-ah itu (pernyataan putus hubungan) kepada manusia pada hari nahar, dekat jamrah.
Ketika orang banyak berkumpul di Mina menunaikan manasik haji, ‘Ali bin Abi Thalib z berdiri di sebelah Abu Hurairah z lalu membacakan ayat-ayat pertama surat at-Taubah.
Selesai membacakannya, ‘Ali z diam sejenak lalu melanjutkan, “Hai manusia, tidak akan masuk surga orang yang kafir. Tidak boleh berhaji sesudah tahun ini seorang musyrik pun. Tidak boleh pula seorang pun thawaf dalam keadaan telanjang. Siapa yang masih mempunyai kesepakatan dengan Rasulullah n, itu berlaku sampai waktunya….”
Kemudian semua diberi waktu selama empat bulan sejak hari itu, agar setiap orang kembali dengan aman ke negeri mereka.
Sejak saat itu, sempurnalah kesucian Baladul Amin (Makkah) dari kekotoran. Sesudah hari itu, tidak ada seorang musyrik pun yang datang haji ke Makkah. Tidak pula ada seorang kafir pun menetap di sana. Akhirnya, cahaya kebenaran dan iman menembus seluruh pelosok jazirah sampai waktu yang dikehendaki Allah l.
Syaikhul Islam Muhammad bin ‘Abdul Wahhab t menerangkan, “Rasulullah n menunda hajinya dan mengutus Abu Bakr z agar berhaji bersama kaum muslimin, karena beberapa alasan. Di antaranya:
Bangsa Arab sebagiannya masih dalam kebiasaan jahiliah mereka. Ada yang masih menampakkan kesyirikan terang-terangan di Tanah Suci, thawaf dalam keadaan telanjang, dan masih adanya perjanjian antara Rasulullah n dan Quraisy serta musyrikin lainnya. Itulah sebagian alasan, mengapa Rasulullah n menunda haji hingga turun surat al-Bara’ah, lalu beliau n memaklumkan bahwa Baitullah saat ini dan seterusnya dalam kekuasaan tauhid serta di bawah aturan Rasulullah n.
Wallahu a’lam.

Tradisi Baik yang Tinggal Kenangan

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan)
Segala puji syukur bagi Allah l semata yang telah melimpahkan berbagai kenikmatan dan keutamaan kepada para hamba-Nya, baik nikmat dunia maupun agama, terutama nikmat diutusnya Rasul-Nya n yang mulia dengan membawa syariat yang sempurna. Allah l berfirman:
“Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama meskipun orang-orang musyrik benci.” (ash-Shaff: 9)
Allah l juga memberikan kesempurnaan bagi syariat yang mulia ini, sebagaimana dalam firman-Nya:
“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (al-Maidah: 3)
Rasulullah n bersabda:
إِنَّهُ لَمْ يَكُنْ نَبِيٌّ قَبْلِي إِلَّا كَانَ حَقًّا عَلَيْهِ أَنْ يَدُلَّ أُمَّتَهُ عَلَى خَيْرِ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ وَيُنْذِرَهُمْ شَرَّ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ
“Sesungguhnya tidak ada seorang nabi pun yang diutus sebelumku melainkan wajib baginya untuk menunjukkan kepada umatnya seluruh kebaikan yang ia ketahui dan memperingatkan mereka dari seluruh kejelekan yang ia ketahui.” (HR. Muslim dari Ibnu Umar c)
Beliau n juga menyampaikan dan menjelaskan syariat ini kepada umatnya dengan sempurna, sebagaimana sabdanya:
مَا بَقِيَ شَيْءٌ يُقَرِّبُ مِنَ الْجَنَّةِ ويُبَاعِدُ مِنَ النَّارِ، إِلاَّ وَقَدْ بُيِّنَ لَكُمْ
“Tidaklah tersisa sesuatu pun yang dapat mendekatkan diri ke jannah dan menjauhkan dari api neraka melainkan sungguh telah dijelaskan kepada kalian.” (HR. ath-Thabarani dalam al-Kabir)
Oleh karena itu, al-Imam Ibnu Katsir t berkata dalam Tafsir-nya, “Ini adalah nikmat Allah l yang paling agung bagi umat ini. Allah l telah menyempurnakan agama mereka sehingga mereka tidak membutuhkan agama yang lainnya (dalam beribadah kepada-Nya). Mereka juga tidak membutuhkan nabi yang lain selain Nabi n yang diutus kepada mereka. Oleh karena itu, Allah l menjadikan beliau n sebagai penutup para nabi dan mengutus beliau n kepada seluruh alam, baik golongan jin maupun manusia (sampai datangnya hari kiamat). Maka dari itu, tidak ada sesuatu yang halal selain apa yang beliau n halalkan. Tidak ada pula sesuatu yang haram selain yang beliau n haramkan. Tidak ada agama selain apa yang beliau n syariatkan. Berita apapun yang telah beliau n sampaikan (kepada umatnya) adalah benar dan tidak mengandung kedustaan.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/14)
Allah l mengabarkan hakikat diutusnya Rasulullah n dalam firman-Nya:
“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (al-Anbiya: 107)
Al-Imam Ibnu Katsir t menjelaskan makna ayat ini, “Allah l mengutus beliau n sebagai rahmat bagi mereka semua. Barang siapa menerima rahmat ini dan mensyukuri nikmat ini niscaya ia akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Barang siapa menolak dan menentangnya niscaya akan rugi di dunia dan akhirat.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/179)
Beliau n diutus kepada umatnya dalam keadaan kerusakan akidah, ibadah, dan muamalah telah merata tersebar. Meskipun demikian, masih ada beberapa tradisi baik yang mereka warisi dari nenek moyangnya, seperti menghormati kedua orangtua, saudara, tetangga, dan tamu. Demikian pula kepribadian suka membantu, memberi hadiah, dan lainnya.
Oleh karena itu, Rasulullah n bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِاُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْاَخْلَاقِ
“Hanya saja aku diutus untuk menyempurnakan akhlak-akhlak yang mulia.” (HR. al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad, Ibnu Sa’d, dan al-Hakim dari Abu Hurairah z, dihasankan oleh al-Albani t dalam ash-Shahihah no. 45)
Seperti itu juga keadaan bangsa Indonesia pada umumnya yang terdiri dari berbagai suku dan beragam bahasa. Mereka juga memiliki banyak tradisi, mayoritasnya berbau kesyirikan, khurafat, dan tahayul yang bertentangan dengan agama Islam yang mulia.
Di masyarakat kita, masih ada beberapa tradisi yang secara global dibenarkan oleh syariat, meskipun penerapannya harus diluruskan agar tidak melampaui batasan agama. Di antara tradisi-tradisi yang baik yang ditetapkan oleh syariat Islam secara global adalah sebagai berikut.
1. Menghormati orang tua
Menghormati orang tua mencakup kedua orang tua, yaitu bapak-ibu dan orang yang lebih tua umurnya. Diajarkan oleh orang-orang tua untuk beradab atau bersopan-santun terhadap mereka, baik dalam bentuk perkataan maupun perbuatan. Sampai-sampai, dalam bahasa Jawa, ada tingkatan-tingkatan berbahasa. Bahasa yang dipakai oleh seseorang terhadap teman seumurnya berbeda dengan bahasa yang dia pakai kepada kedua orang tuanya, orang yang lebih tua umurnya, atau yang lebih tinggi kedudukannya dalam hal jabatan atau keilmuan.
Demikian juga dalam hal perbuatan. Ada ketentuan-ketentuan tradisi yang cukup hanya diluruskan penerapannya, seperti jika berbicara tidak boleh sambil mengangkat tangan dan duduk di tempat yang lebih tinggi atau sama, tidak boleh makan dan minum mendahului mereka. Ini adalah beberapa sisi kebaikan yang harus dipertahankan dan ditingkatkan.
Allah l berfirman:
“Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu-bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, ‘Wahai Rabbku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil’.” (al-Isra: 23—24)
Asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di t menjelaskan, “Firman Allah l ﮝ ﮞ maknanya adalah berbuat baiklah kalian kepada keduanya dengan segala jenis kebaikan, baik berupa ucapan maupun perbuatan, karena dengan perantaraan keduanya Allah l mewujudkan seorang hamba. Oleh karena itu, keduanya memiliki hak kecintaan, kebaikan, dan kedekatan (dari anak tersebut), yaitu hal-hal yang menuntut untuk lebih dikuatkan akan haknya mereka dan wajibnya berbuat baik terhadap mereka.”
Adapun firman Allah l:
“Janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’…”
Beliau t mengatakan, “Ini adalah hal teringan yang menyakitkan mereka (sehingga Allah l melarangnya). Dengan larangan ini, Dia l memperingatkan akan hal-hal lain yang menyakiti (hati keduanya). Dengan demikian, maknanya adalah jangan engkau menyakiti keduanya dengan sesuatu yang paling ringan sekalipun.
Adapun firman Allah l:
“Dan ucapkanlah kepada mereka berdua perkataan yang mulia…”
maknanya, kata beliau t, “Berbicaralah dengan ucapan yang dicintai oleh keduanya. Beradablah serta berlemah-lembutlah dengan ucapan yang sopan dan bagus yang menyenangkan hati keduanya. Jadikanlah jiwa keduanya tenang dengannya. Cara mewujudkannya berbeda-beda tergantung perbedaan keadaan, sarana, dan waktu.” (Tafsir as-Sa’di hlm. 456)
Rasulullah n juga menuntunkan satu adab yang mulia, yaitu adab terhadap orang yang lebih tua umurnya, sebagaimana dalam sabdanya:
لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيُوَقِّرْ كَبِيرَنَا
“Bukan dari kami orang yang tidak menyayangi anak kecil dan tidak menghormati orang tua.” (HR. at-Tirmidzi dan lainnya dari Anas bin Malik z, disahihkan oleh al-Albani dengan keseluruhan jalurnya dalam ash-Shahihah no. 2196)
Termasuk adab terhadap orang yang lebih tua adalah tidak mendahului mereka dalam berbicara. Itulah adab yang diajarkan oleh Rasulullah n. Dari Abu Sa’id Samurah bin Jundub z, ia berkata:
قَدْ كُنْتُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللهِ n غُلَامًا فَكُنْتُ أَحْفَظُ عَنْهُ فَمَا يَمْنَعُنِي مِنَ الْقَوْلِ إِلَّا أَنَّ هَا هُنَا رِجَالًا هُمْ أَسَنُّ مِنِّي
“Sungguh di masa Rasulullah n aku adalah anak kecil. Aku menghafal dari beliau. Tidak ada yang menghalangi aku untuk berbicara selain bahwa masih ada orang-orang yang lebih tua umurnya daripada diriku.” (Muttafaqun ‘alaih)
Dalam pemberian hadiah pun orang yang lebih tua umurnya didahulukan, sebagaimana sabda Rasulullah n:
أَرَانِي فِي الْمَنَامِ أَتَسَوَّكُ بِسِوَاكٍ فَجَذَبَنِي رَجُلَانِ أَحَدُهُمَا أَكْبَرُ مِنَ الْآخَرِ فَنَاوَلْتُ السِّوَاكَ الْأَصْغَرَ مِنْهُمَا فَقِيلَ لِي: كَبِّرْ؛ فَدَفَعْتُهُ إِلَى الْأَكْبَرِ
“Aku bermimpi dalam tidurku bahwa aku sedang bersiwak. Kemudian datang kepadaku dua orang laki-laki, salah satunya lebih tua. Aku berikan siwakku kepada yang lebih muda, namun dikatakan kepadaku, ‘Dahulukan yang lebih tua.’ Akhirnya, aku memberikan siwak itu kepada yang lebih tua.” (HR. Muslim)
Tatkala makan dan minum, hendaknya orang yang lebih tua juga didahulukan, lebih-lebih jika banyak jumlahnya, kecuali jika yang tua berada di sebelah kiri orang yang memberi. Dari Sahl bin Sa’d as-Sa’idi z:
أُتِيَ بِشَرَابٍ فَشَرِبَ مِنْهُ وَعَنْ يَمِينِهِ غُلَامٌ وَعَنْ يَسَارِهِ الْأَشْيَاخُ فَقَالَ لِلْغُلَامِ: أَتَأْذَنُ لِي أَنْ أُعْطِيَ هَؤُلَاءِ؟ فَقَالَ الْغُلَامُ: لَا وَاللهِ، يَا رَسُولَ اللهِ، لَا أُوثِرُ بِنَصِيبِي مِنْكَ أَحَدًا. قَالَ: فَتَلَّهَ رَسُولُ اللهِ ى فِي يَدِهِ
“Diambilkan minuman untuk Rasulullah n, beliau pun meminum sebagiannya. Di sebelah kanan beliau ada anak kecil dan di sebelah kiri ada beberapa orang tua. Beliau n berkata kepada anak kecil tersebut, ‘Apakah engkau mengizinkan aku memberikan (minuman ini) kepada mereka?’ Anak tersebut menjawab, ‘Tidak. Demi Allah, aku tidak akan memberikan bagianku darimu kepada seorang pun.’ Kemudian Rasulullah n meletakkan minuman itu di tangan anak kecil tersebut.” (Muttafaqun ‘alaih)
2. Gotong-royong
Dalam kehidupan masyarakat kita, ketika membangun sarana dan prasarana umum seperti masjid, jalan, saluran, jembatan, dan yang lain, mereka mengerjakannya dengan cara gotong-royong (ta’awun). Bahkan, mereka memiliki slogan ‘Ringan sama dijinjing, berat sama dipikul.’
Hal ini termasuk tradisi yang baik yang harus dipertahankan dan ditingkatkan karena syariat Islam yang mulia dan sempurna membenarkan dan meluruskannya.
Allah l memerintah hamba-hamba-Nya;
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, serta jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (al-Maidah: 2)
Rasulullah n membuat permisalan ta’awun kaum muslimin dalam kebaikan dan ketakwaan sebagaimana bangunan yang sebagiannya mengokohkan sebagian yang lain. Beliau n bersabda:
إِنَّ الْمُؤْمِنَ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا
“Orang mukmin terhadap orang mukmin lainnya ibarat sebuah bangunan, sebagiannya menguatkan sebagian yang lain.” (Muttafaqun ‘alaih)
Bukan itu saja. Kepedulian mereka terhadap tetangga, saling menghormati di antara mereka, diwujudkan dengan saling menolong, saling memberi hadiah, saling mengunjungi, dan lainnya.
Rasulullah n bersabda:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
“Permisalan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, saling merahmati, dan saling mengasihi, seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh tersebut merintih sakit, rasa sakit tersebut juga akan dirasakan oleh seluruh anggota tubuh lainnya. Ia pun tidak bisa tidur di waktu malam dan tubuhnya demam.” (Muttafaqun ‘alaih dari an-Nu’man bin Basyir c)
Dari Ibnu Umar c, dari Aisyah x, ia berkata, Rasulullah n bersabda:
مَا زَالَ جِبْرِيلُ يُوصِينِي بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ
“Jibril q senantiasa berwasiat kepadaku tentang tetangga, sampai-sampai aku menyangka bahwa tetangga itu akan ikut mewarisi.” (Muttafaqun ‘alaih)
Rasulullah n juga bersabda:
يَا أَبَا ذَرٍّ، إِذَا طَبَخْتَ مَرَقَةً فَأَكْثِرْ مَاءَهَا وَتَعَاهَدْ جِيرَانَكَ
“Wahai Abu Dzar, jika engkau memasak daging, perbanyaklah kuahnya dan berikanlah (sebagiannya) kepada tetanggamu.” (HR. Muslim dari Abu Dzar z)
Rasulullah n bersabda:
واللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ
“Allah l senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba itu membantu saudaranya.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah z)
Demikian juga upaya memelihara ketertiban dengan amar ma’ruf nahi mungkar dan menjaga keamanan bersama dengan melakukan ronda (siskamling). Ini adalah salah satu realisasi sabda Rasulullah n:
مَثَلُ الْقَائِمِ عَلَى حُدُودِ اللهِ وَالْوَاقِعِ فِيهَا كَمَثَلِ قَوْمٍ اسْتَهَمُوا عَلَى سَفِينَةٍ فَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَعْلَاهَا وَبَعْضُهُمْ أَسْفَلَهَا فَكَانَ الَّذِينَ فِي أَسْفَلِهَا إِذَا اسْتَقَوْا مِنَ الْمَاءِ مَرُّوا عَلَى مَنْ فَوْقَهُمْ فَقَالُوا: لَوْ أَنَّا خَرَقْنَا فِي نَصِيبِنَا خَرْقًا وَلَمْ نُؤْذِ مَنْ فَوْقَنَا. فَإِنْ يَتْرُكُوهُمْ وَمَا أَرَادُوا هَلَكُوا جَمِيعًا، وَإِنْ أَخَذُوا عَلَى أَيْدِيهِمْ نَجَوْا وَنَجَوْا جَمِيعًا
“Permisalan orang yang mengingkari kemungkaran dan orang yang melakukannya seperti suatu kaum yang menaiki sebuah kapal. Sebagian mereka berada di bagian atas dan sebagian berada di bawah. Ketika orang-orang yang di bawah meminta air minum kepada orang-orang yang di atas, mereka tidak menghiraukannya. Orang-orang yang di bawah lalu berkata, ‘Kalau kita membuat satu lubang saja di tempat kita ini, kita tidak akan mengganggu orang-orang yang ada di atas kita.’ Apabila orang-orang yang di atas membiarkan apa yang mereka inginkan, akan binasalah mereka semua. Namun, jika orang-orang yang di atas menghalanginya, mereka semua akan selamat.” (HR. al-Bukhari dari an-Nu’man bin Basyir c)
Rasulullah n juga melarang seseorang menyakiti tetangganya dengan ucapan atau perbuatan. Beliau n bersabda:
وَاللهِ لَا يُؤْمِنُ، وَاللهِ لَا يُؤْمِنُ، وَاللهِ لَا يُؤْمِنُ. قِيلَ: وَمَنْ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: الَّذِي لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَايِقَهُ
“Demi Allah, tidak beriman! Demi Allah, tidak beriman! Demi Allah, tidak beriman!” Lalu ditanyakan kepada beliau n, “Siapa, wahai Rasulullah?” Beliau n menjawab, “Orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguan-gangguannya.” (Muttafaqun ‘alaih dari Abu Hurairah z)
3. Musyawarah
Asy-Syaikh Hammad bin Ibrahim t, “Tidak ada keraguan dan kebimbangan bahwa musyawarah—yaitu berserikatnya orang-orang yang berakal dalam keilmuan dan pemahaman mereka—termasuk sebab mendapatkan pendapat yang benar dan tepat, karena sekumpulan ulama itu lebih pantas untuk benar (pendapatnya) daripada orang yang sendirian (dengan pendapatnya). Juga karena orang yang diajak bermusyawarah itu seringkali mengingatkanmu akan hal-hal yang engkau lupa.” (ash-Shawarif, hlm. 150)
Tatkala terjadi suatu kejadian atau permasalahan dalam kehidupan masyarakat, para pemuka akan segera mengadakan musyawarah dengan warganya untuk mencari solusi yang terbaik dengan dasar ‘musyawarah untuk mufakat’, yaitu memusyawarahkan sesuatu untuk mencari solusi dengan kata sepakat dalam masalah tersebut.
Langkah ini dibenarkan oleh Allah l, sebagaimana Allah l sendiri memerintah Rasul-Nya n dalam firman-Nya:
“Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah.” (Ali Imran: 159)
Allah l juga berfirman:
ﮞ ﮟ ﮠ
“Dan urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah di antara mereka.” (asy-Syura: 38)
Asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di t dalam tafsirnya mengatakan, “Urusan-urusan mereka yang terkait dengan agama dan dunia dimusyawarahkan di antara mereka. Bukan satu orang mengambil keputusan dengan pendapatnya dalam urusan bersama. Hal ini tidak terjadi melainkan sebagai perwujudan dari persatuan umum, persaudaraan, kasih sayang, dan kecintaan di antara mereka, serta sempurnanya pendapat-pendapat mereka.”
Al-Izz bin Abdis Salam t berkata, “Sesungguhnya Allah l tidak mengumpulkan seluruh kebenaran dan ketepatan itu pada satu orang. Oleh karena itu, disyariatkan musyawarah karena kebenaran dan ketepatan itu terkadang tampak jelas bagi satu kaum tetapi tidak diketahui oleh kaum yang lain. Sungguh al-Imam asy-Syafi’i t ditanya, ‘Di mana ilmu itu semuanya?’ Beliau t menjawab, ‘Di alam semuanya.’ Maksudnya, Allah l memisah-misahkan ilmu itu pada para hamba-Nya dan tidak mengumpulkannya pada diri satu orang saja.” (Ahkamul Jihad, hlm. 95)
Gotong-royong (ta’awun) dan musyawarah adalah wujud kepedulian, ketertiban, ketenangan, dan kecintaan dalam kehidupan masyarakat. Adapun pola kehidupan liberal dan individual akan merusak tatanan kehidupan bermasyarakat yang baik, sopan, dan beradab, sehingga menjadi beringas, brutal, dan anarkis. Nas’alullaha al-‘afiyah was salamah minal khudzlan (Kita memohon kepada Allah l kesehatan dan keselamatan dari kehinaan).
4. Rasa malu
Secara umum, pendidikan atau tarbiyah yang dilakukan oleh para orang tua—sebelum terjadi pergeseran dan penyimpangan—kepada anak-anaknya, laki-laki atau perempuan, khususnya anak gadis mereka, baik di Jawa maupun di luar Jawa, menanamkan rasa malu (al-haya) pada diri anak-anaknya. Rasa malu untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang akan menjatuhkan harkat dan martabat mereka.
Al-Imam an-Nawawi t mengatakan bahwa para ulama berkata, “Hakikat rasa malu adalah akhlak (kepribadian) yang mendorong seseorang untuk menjauhi perbuatan-perbuatan yang jelek dan menghalanginya dari perbuatan mengurangi hak setiap yang memiliki hak.”
Oleh karena itu, Rasulullah n bersabda:
الْحَيَاءُ لَا يَأْتِي إِلَّا بِخَيْرٍ
“Rasa malu tidaklah mendatangkan selain kebaikan.” (Muttafaqun ‘alaih dari Imran bin Hushain z)
Dalam riwayat al-Imam Muslim yang lain:
الْحَيَاءُ خَيْرٌ كُلُّهُ
“Rasa malu itu baik semuanya.”
Al-Hafizh Ibnu Rajab t berkata, “Ketahuilah bahwa rasa malu (al-haya) ada dua macam.
a. Rasa malu yang menjadi tabiat asli seseorang
Rasa malu yang seperti ini adalah perangai mulia yang dilimpahkan oleh Allah l kepada seorang hamba. Oleh karena itu, Nabi n bersabda:
الْحَيَاءُ لَا يَأْتِي إِلَّا بِخَيْرٍ
“Rasa malu itu tidak akan mendatangkan selain kebaikan.”
Hal ini karena rasa malu tersebut akan menghalangi seseorang melakukan hal-hal yang buruk dan hina. Selain itu, rasa malu ini juga akan mendorong pemiliknya melakukan berbagai bentuk kepribadian yang tinggi dan mulia sehingga hal ini termasuk bagian dari iman.
b. Rasa malu yang timbul karena mengenal Allah l, keagungan-Nya, dan keyakinan bahwa Allah l sangat dekat dengan para hamba-Nya.
Dia l senantiasa melihat dan mendengar (seluruh aktivitas para hamba). Ilmu-Nya meliputi perkara yang tampak dan tidak tampak. Maka dari itu, rasa malu yang tumbuh dari keyakinan yang seperti ini termasuk keimanan yang tinggi. Bahkan, termasuk derajat (agama yang paling tinggi) yaitu al-ihsan. (al-Jami’, hlm. 501)
Namun, tradisi-tradisi yang baik tersebut tinggal kenangan. Ia telah berubah menjadi kerusakan, kebobrokan, kerendahan, dan kehinaan. Anak-anak sudah tidak memiliki adab sopan-santun kepada orang tua. Orang tidak memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan tetangganya. Demikian juga, rasa malu telah hilang dari diri mereka, kecuali orang yang dirahmati oleh Allah l.
Allah l berfirman:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (ar-Rum: 41)
Jika rasa malu sudah dicabut dari hati, akan muncul berbagai perbuatan kerusakan, kerendahan, dan kehinaan. Rasulullah n bersabda:
إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ الْأُولَى إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ
“Sesungguhnya termasuk perkara yang masih didapati oleh manusia dari para nabi terdahulu adalah: Apabila engkau sudah tidak punya rasa malu, berbuatlah sesukamu.” (HR. al-Bukhari dari Ibnu Mas’ud z)
Rusaknya tatanan kehidupan masyarakat disebabkan oleh kejahilan dan kemaksiatan serta miskinnya kepedulian para orangtua dalam mendidik anak-anaknya dengan didikan agama. Terlebih lagi, lembaga-lembaga pendidikan yang ada, dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi, sangat kurang perhatiannya terhadap penanaman akidah yang benar dan akhlak yang baik.
Keadaan yang sangat memprihatinkan ini, masih ditambah oleh media massa seperti televisi, radio, internet, koran, tabloid, dan majalah yang penuh dengan acara dan hal-hal yang merusak moral kaum muslimin, karena mayoritas media tersebut mengemban misi Yahudi dan Nasrani. Allah l berfirman:
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka.” (al-Baqarah: 120)
Wallahu a’lam.

Maps Ta'lim:
Maps Ta'lim Selengkapnya:
audio:
Audio Selengkapnya
contact:
contact person
Sumber : forumsalafy.net, manhajul-anbiya.net, salafy.or.id, tukpencarialhaq.com, ilmusyar'i.com, salafymedia.com, kajiansalafy.net, alfawaaid.net, asysyariah.com, fawaid, tashfiyah.com, salafymedia.com, audiokajian.com,qudwah, qonitah, azka, rasyid, rii, rujukanmuslim.com



kata kunci :
cari
rujukan: ,
(grup whatsapp dan telegram salafy, asysyariah, forumsalafy, alhaq, salafymedia, alfawaaid, kajiansalafy, radio rii, rasyid, desain pamflet daurah magelang 1440h, ilmusyar'i untuk kata kunci " " )
download audio (drive)






kunjungi juga :



Posting Komentar

kunjungi:
1. Al Fawaaid Malaysia
http://www.alfawaaid.net/
2. Audio Kajian
http://www.audiokajian.com/
3. Buletin Al Ilmu
http://buletin-alilmu.net/
4. Forum Salafy
http://forumsalafy.net/
5. Group TIS
http://www.thalabilmusyari.web.id/
6. Grup Berbagi Faedah
http://jendelasunnah.com/
7. Grup KHAS
http://salafymedia.com/
8. Ilmu Syar'i
http://www.ilmusyari.com/
9. Majalah Asy-Syariah
http://asysyariah.com/
10. Majalah Tashfiyah
http://tashfiyah.com/
11. Manhajul Anbiya
http://www.manhajul-anbiya.net/
12. Radio Darussalaf Solo
http://darussalafsolo.com/
13. Radio Islam Jogja
http://radioislamjogja.com/
14. Radio Rasyid
http://radiorasyid.com/
15. Radio Salafy Samarinda
http://www.radiosalafysamarinda.com/
16. Radio Salafy Siar
http://salafysiar.com/
17. Radio Syiar Islam
http://radiosyiarislam.com/
18. Salafy Ambon
http://www.suaratauhidambon.com/
19. Salafy Babakan
http://www.attauhid-babakan.com/
20. Salafy Bali
http://www.annajiyah-bali.net/
21. Salafy Sulawesi
Salafy Sulawesi
22. Salafy Bandung
http://salafybandung.com/
23. Salafy Banjarmasin
http://www.kajianbanjar.info/
24. Salafy Batam
http://www.salafybatam.com/
25. Salafy Bogor
http://kajianbogor.wordpress.com/
26. Salafy Bojonegoro
http://mahadsyariah.blogspot.com/
27. Salafy Bontang
http://www.darussalaf.or.id/
28. Salafy Bulukumba
http://salafybulukumba.com/
29. Salafy Ciamis
http://mahad-annur.com/
30. Salafy Cikarang
http://almuwahhidiin.com/
31. Salafy Cilacap
http://almanshurohcilacap.com/
32. Salafy Cileungsi
http://www.salafycileungsi.info/
33. Salafy Cirebon
http://salafycirebon.com/
34. Salafy Depok
http://salafydepok.net/
35. Salafy Gresik
http://www.albayyinah.or.id/
36. Salafy Jakarta
http://salafyjakarta.info/
37. Salafy Jember
http://www.mahad-assalafy.com/
38. Salafy Jeneponto
http://serambidarussunnah.com/
39. Salafy Jombang
http://www.arrisalah.or.id/
40. Salafy Karawang
http://ahlussunnahkarawang.com/
41. Salafy Kebumen
http://anwarussunnahpth.blogspot.com/
42. Salafy Kendari
http://www.ahlussunnahkendari.com/
43. Salafy Kolaka
http://ahlussunnahkolaka.blogspot.com/
44. Salafy Kroya
http://www.islammujur.com/
45. Salafy Kudus
http://www.salafykudus.com/
46. Salafy Madiun
http://www.daarulihsan.com/
47. Salafy Madura
http://alilmumadura.wordpress.com/
48. Salafy Magelang
http://salafymagelang.com/
49. Salafy Majalengka
http://www.salafymajalengka.com/
50. Salafy Makassar
http://salafymakassar.net/
51. Salafy Malang
http://salafymalangraya.or.id/
52. Salafy Malaysia
http://infosalaf.wordpress.xom
53. Salafy Palembang
http://salafypalembang.com/
54. Salafy Pinrang
http://salafypinrang.net/
55. Salafy Purbalingga
http://almanshuroh.net/
56. Salafy Purwokerto
http://mahad-alfaruq.com/
57. Salafy Riau
http://ahlussunnahriau.net/
58. Salafy Samarinda
http://atsarussalaf.wordpress.com/
59. Salafy Semarang
http://salafysemarang.com/
60. Salafy Sintang
http://ahlussunnahsintangkalbar.blogspot.com/
61. Salafy Slipi
http://ahlussunnahslipi.com/
62. Salafy Solo
http://ibnutaimiyah.org/
63. Salafy Sorowako
http://salafysorowako.com/
64. Salafy Sukabumi
http://salafysukabumi.com/
65. Salafy Sumbar
http://daarulhaditssumbar.or.id/
66. Salafy Surabaya
http://bismillah.us/
67. Salafy Yogyakarta
http://salafy.or.id/
68. Thoriqus Salaf
http://thoriqussalaf.com
69. Tuk Pencari Al-Haq
http://tukpencarialhaq.com
LINK CHANNEL SALAFY INDONESIA
A
https://telegram.me/anNajiyahBali
https://telegram.me/alistifadah
https://telegram.me/AlushulAtstsalatsah
https://telegram.me/AppSalafy2
https://telegram.me/addiinun_nashihah
https://telegram.me/AISARibnuljazari
https://telegram.me/AlmanshurohBanjar
https://telegram.me/alfawaaidnet
https://telegram.me/audioradioadhiya
https://telegram.me/AudioKajian
https://telegram.me/AlmanshurohCilacap
https://telegram.me/AKSI_AudioKajianSalafyIndonesia
https://telegram.me/AudioFIAS
https://telegram.me/annajiyahdesign
https://telegram.me/aqidah_salaf
https://telegram.me/ahlussunnahsalafiyah
B
https://telegram.me/BELAJARKHOTH
https://telegram.me/BahasArab
https://telegram.me/buletinalhaq
https://telegram.me/buletinalilmu
C
https://telegram.me/CaraMengurusJenazah
D
https://telegram.me/dalil_ibadahkita
https://telegram.me/daurahnasional
https://telegram.me/designsalafy
F
https://telegram.me/forumsalafy
https://telegram.me/ForumBerbagiFaidah
https://telegram.me/FawaidIlmiyyah
https://telegram.me/Forum_ilmiyahKarangAnyar
https://telegram.me/ForumSalafyPurbalingga
https://telegram.me/FadhlulIslam
https://telegram.me/fawaidharijumat
https://telegram.me/fawaidsolo
G
https://telegram.me/galeriposterdakwah
https://telegram.me/goresanfawaid
https://telegram.me/GroupPAH
H
https://telegram.me/hikmahfatwaislam
https://telegram.me/hikmahsalafiyyah https://telegram.me/HukumGambar
I
https://telegram.me/InginBelajarIslam
https://telegram.me/IKSAS
https://telegram.me/IttibausSalafSumpiuh
https://telegram.me/infokajiansalafy
https://telegram.me/inibukanfitnah
https://telegram.me/InfoMahadJember
https://telegram.me/InfoSalafyPwkt
J
https://telegram.me/jabodetabekbelajar
https://telegram.me/Jejak_Salaf
https://telegram.me/jamiwalhikam
K
https://telegram.me/kibarkampus
https://telegram.me/KhususAudioKajianIlmiyah
https://telegram.me/KEUTAMAANILMU
https://telegram.me/KajianIslamTemanggung
https://telegram.me/KajianMatanKitabAhlussunnah
https://telegram.me/kajiankitabalkabair
https://telegram.me/kajianislamgombong
https://telegram.me/kumpulan_khuthbah
http://telegram.me/KajianIslamAlHusna
http://telegram.me/kitabkawakib
http://telegram.me/khotbah_jumat
https://telegram.me/KajianIslamKebumen
M
https://telegram.me/ManhajulAnbiya
https://telegram.me/MultaqoIkhwahWalAshab
https://telegram.me/majalahtashfiyah
https://telegram.me/rutemahadkita
https://telegram.me/manasik_umroh
https://telegram.me/mahadkita
N
https://telegram.me/nahwu_mutammimah
http://telegram.me/nasehatetam
P
https://telegram.me/posternasihatsalaf
http://telegram.me/posterFIK
https://telegram.me/pesantren_salaf_online
R
https://telegram.me/rumahbelajar
https://telegram.me/radioislamindonesia
https://telegram.me/radiorasyid
https://telegram.me/radiomasjidumar
https://telegram.me/radioislamNTB
S
https://telegram.me/salafycileungsi
https://telegram.me/salafylintasnegara
https://telegram.me/salafymakassar
https://telegram.me/salafymagelang
https://telegram.me/salafykolaka
https://telegram.me/salafykendari
https://telegram.me/SalafySumatera
https://telegram.me/salafysolo
https://telegram.me/salafymedia
https://telegram.me/salafy_banjarnegara
https://telegram.me/sedikitfaidahsaja
https://telegram.me/SilsilatusSholihin
https://telegram.me/serambiharamain
https://telegram.me/SalafyTegal
https://telegram.me/SoalwaJawab
https://telegram.me/salafytitasik
https://telegram.me/salafydepoklimo
https://telegram.me/salafybaturaja
https://telegram.me/SalafyMedan
https://telegram.me/SalafyBandung
https://telegram.me/SalafyGarut
https://telegram.me/Salafy_Ngawi
https://telegram.me/salafypurwakarta
https://telegram.me/salafymajalengka
https://telegram.me/SirohIbniHisyam
https://telegram.me/salafy_cirebon
https://telegram.me/syarhaqidahtohawiyah
T
https://telegram.me/TarbiyatulAulad
https://telegram.me/tasjilatalhikmah
https://telegram.me/tukpemula
https://telegram.me/tholibulilmicikarang
https://telegram.me/TJAsatidzah
https://telegram.me/taklimtulungagung
https://telegram.me/TamaamulMinnah
https://telegram.me/tp_alhaq
https://telegram.me/tafsir_assadiy
U
https://telegram.me/ukhwh
https://telegram.me/uimusy
W
https://telegram.me/warisansalaf
Y
https://telegram.me/yookngaji

Insya Allah akan di update !! Update tanggal 29 Shafar H / 7 November 2018 M https://telegram.me/channelsalafy


Informasi kajian :

1. Provinsi Aceh
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Aceh Barat Daya, Provinsi Aceh = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Aceh Jaya, Provinsi Aceh = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Aceh Selatan, Provinsi Aceh = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Aceh Singkil, Provinsi Aceh = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Aceh Tenggara, Provinsi Aceh = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Aceh Timur, Provinsi Aceh = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Bener Meriah, Provinsi Aceh = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Gayo Lues, Provinsi Aceh = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Nagan Raya, Provinsi Aceh = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Pidie Jaya, Provinsi Aceh = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Simeulue, Provinsi Aceh = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Langsa, Provinsi Aceh = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Lhokseumawe, Provinsi Aceh = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Sabang, Provinsi Aceh = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Subulussalam, Provinsi Aceh = di sini
2. Provinsi Sumatera Utara (SUMUT)
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara (SUMUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Batubara, Provinsi Sumatera Utara (SUMUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Dairi, Provinsi Sumatera Utara (SUMUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara (SUMUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Humbang Hasundutan, Provinsi Sumatera Utara (SUMUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara (SUMUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Labuhanbatu, Provinsi Sumatera Utara (SUMUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Labuhanbatu Selatan, Provinsi Sumatera Utara (SUMUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Labuhanbatu Utara, Provinsi Sumatera Utara (SUMUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara (SUMUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Mandailing Natal, Provinsi Sumatera Utara (SUMUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Nias, Provinsi Sumatera Utara (SUMUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Nias Barat, Provinsi Sumatera Utara (SUMUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Nias Selatan, Provinsi Sumatera Utara (SUMUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Nias Utara, Provinsi Sumatera Utara (SUMUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Padang Lawas, Provinsi Sumatera Utara (SUMUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Padang Lawas Utara, Provinsi Sumatera Utara (SUMUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Pakpak Bharat, Provinsi Sumatera Utara (SUMUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Samosir, Provinsi Sumatera Utara (SUMUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Serdang Bedagai, Provinsi Sumatera Utara (SUMUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara (SUMUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Tapanuli Selatan, Provinsi Sumatera Utara (SUMUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Tapanuli Tengah, Provinsi Sumatera Utara (SUMUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Tapanuli Utara, Provinsi Sumatera Utara (SUMUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Toba Samosir, Provinsi Sumatera Utara (SUMUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Binjai, Provinsi Sumatera Utara (SUMUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Gunungsitoli, Provinsi Sumatera Utara (SUMUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara (SUMUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Padangsidempuan, Provinsi Sumatera Utara (SUMUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Pematangsiantar, Provinsi Sumatera Utara (SUMUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Sibolga, Provinsi Sumatera Utara (SUMUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Tanjungbalai, Provinsi Sumatera Utara (SUMUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Tebing Tinggi, Provinsi Sumatera Utara (SUMUT) = di sini
3. Provinsi Sumatera Barat (SUMBAR)
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat (SUMBAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Dharmasraya, Provinsi Sumatera Barat (SUMBAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Provinsi Sumatera Barat (SUMBAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Lima Puluh Kota, Provinsi Sumatera Barat (SUMBAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Padang Pariaman, Provinsi Sumatera Barat (SUMBAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Pasaman, Provinsi Sumatera Barat (SUMBAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Pasaman Barat, Provinsi Sumatera Barat (SUMBAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat (SUMBAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Sijunjung, Provinsi Sumatera Barat (SUMBAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Solok, Provinsi Sumatera Barat (SUMBAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Solok Selatan, Provinsi Sumatera Barat (SUMBAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatera Barat (SUMBAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Bukittinggi, Provinsi Sumatera Barat (SUMBAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat (SUMBAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Padangpanjang, Provinsi Sumatera Barat (SUMBAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Pariaman, Provinsi Sumatera Barat (SUMBAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Payakumbuh, Provinsi Sumatera Barat (SUMBAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Sawahlunto, Provinsi Sumatera Barat (SUMBAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Solok, Provinsi Sumatera Barat (SUMBAR) = di sini
4. Provinsi Riau
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Rokan Hilir, Provinsi Riau = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Rokan Hulu, Provinsi Riau = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Siak, Provinsi Riau = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Dumai, Provinsi Riau = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Pekanbaru, Provinsi Riau = di sini
5. Provinsi Kepulauan Riau (KEPRI)
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau (KEPRI) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau (KEPRI) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Kepulauan Anambas, Provinsi Kepulauan Riau (KEPRI) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau (KEPRI) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau (KEPRI) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau (KEPRI) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Tanjung Pinang, Provinsi Kepulauan Riau (KEPRI) = di sini
6. Provinsi Jambi
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Provinsi Jambi = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Jambi, Provinsi Jambi = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Sungai Penuh, Provinsi Jambi = di sini
7. Provinsi Bengkulu
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Bengkulu Selatan, Provinsi Bengkulu = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Bengkulu Tengah, Provinsi Bengkulu = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Kepahiang, Provinsi Bengkulu = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Lebong, Provinsi Bengkulu = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Bengkulu, Provinsi Bengkulu = di sini
8. Provinsi Sumatera Selatan (SUMSEL)
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan (SUMSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Empat Lawang, Provinsi Sumatera Selatan (SUMSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Lahat, Provinsi Sumatera Selatan (SUMSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan (SUMSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan (SUMSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Musi Rawas, Provinsi Sumatera Selatan (SUMSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Musi Rawas Utara, Provinsi Sumatera Selatan (SUMSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Ogan Ilir, Provinsi Sumatera Selatan (SUMSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Provinsi Sumatera Selatan (SUMSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Provinsi Sumatera Selatan (SUMSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan, Provinsi Sumatera Selatan (SUMSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur, Provinsi Sumatera Selatan (SUMSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir, Provinsi Sumatera Selatan (SUMSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Lubuklinggau, Provinsi Sumatera Selatan (SUMSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Pagar Alam, Provinsi Sumatera Selatan (SUMSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Palembang, Provinsi Sumatera Selatan (SUMSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Prabumulih, Provinsi Sumatera Selatan (SUMSEL) = di sini
9. Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Belitung Timur, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Pangkal Pinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung = di sini
10. Provinsi Lampung
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Lampung Tengah, Provinsi Lampung = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Lampung Utara, Provinsi Lampung = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Lampung Barat, Provinsi Lampung = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Mesuji, Provinsi Lampung = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Pesisir Barat, Provinsi Lampung = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Pringsewu, Provinsi Lampung = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Tulang Bawang, Provinsi Lampung = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Tulang Bawang Barat, Provinsi Lampung = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Way Kanan, Provinsi Lampung = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Bandar Lampung, Provinsi Lampung = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Metro, Provinsi Lampung = di sini
11. Provinsi Banten
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Serang, Provinsi Banten = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Cilegon, Provinsi Banten = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Serang, Provinsi Banten = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Tangerang, Provinsi Banten = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten = di sini
12. Provinsi Jawa Barat (JABAR)
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat (JABAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat (JABAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Bekasi, Provinsi Jawa Barat (JABAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat (JABAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat (JABAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat (JABAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Cirebon, Provinsi Jawa Barat (JABAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat (JABAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat (JABAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Karawang, Provinsi Jawa Barat (JABAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat (JABAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Majalengka, Provinsi Jawa Barat (JABAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Pangandaran, Provinsi Jawa Barat (JABAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Purwakarta, Provinsi Jawa Barat (JABAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat (JABAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat (JABAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat (JABAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat (JABAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat (JABAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Banjar, Provinsi Jawa Barat (JABAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Bekasi, Provinsi Jawa Barat (JABAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat (JABAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Cimahi, Provinsi Jawa Barat (JABAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Cirebon, Provinsi Jawa Barat (JABAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Depok, Provinsi Jawa Barat (JABAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Sukabumi, Provinsi Jawa Barat (JABAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat (JABAR) = di sini
13. Provinsi Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, Provinsi Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Administrasi Jakarta Barat, Provinsi Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Administrasi Jakarta Pusat, Provinsi Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Administrasi Jakarta Selatan, Provinsi Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Administrasi Jakarta Timur, Provinsi Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Administrasi Jakarta Utara, Provinsi Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta = di sini
14. Provinsi Jawa Tengah (JATENG)
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah (JATENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah (JATENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Batang, Provinsi Jawa Tengah (JATENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Blora, Provinsi Jawa Tengah (JATENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Boyolali, Provinsi Jawa Tengah (JATENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Brebes, Provinsi Jawa Tengah (JATENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah (JATENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Demak, Provinsi Jawa Tengah (JATENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Grobogan, Provinsi Jawa Tengah (JATENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Jepara, Provinsi Jawa Tengah (JATENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah (JATENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah (JATENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Kendal, Provinsi Jawa Tengah (JATENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah (JATENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Kudus, Provinsi Jawa Tengah (JATENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah (JATENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Pati, Provinsi Jawa Tengah (JATENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah (JATENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Pemalang, Provinsi Jawa Tengah (JATENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah (JATENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah (JATENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Rembang, Provinsi Jawa Tengah (JATENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah (JATENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Sragen, Provinsi Jawa Tengah (JATENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Sukoharjo, Provinsi Jawa Tengah (JATENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Tegal, Provinsi Jawa Tengah (JATENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Temanggung, Provinsi Jawa Tengah (JATENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah (JATENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah (JATENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Magelang, Provinsi Jawa Tengah (JATENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah (JATENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Salatiga, Provinsi Jawa Tengah (JATENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah (JATENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah (JATENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Tegal, Provinsi Jawa Tengah (JATENG) = di sini
15. Daerah Istimewa Yogyakarta,
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Bantul, Provinsi Jawa Tengah (JATENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Gunungkidul, Provinsi Jawa Tengah (JATENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Kulon Progo, Provinsi Jawa Tengah (JATENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Sleman, Provinsi Jawa Tengah (JATENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Yogyakarta, Provinsi Jawa Tengah (JATENG) = di sini
16. Jawa Timur (JATIM)
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur (JATIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur (JATIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Blitar, Jawa Timur (JATIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur (JATIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur (JATIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Gresik, Jawa Timur (JATIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Jember, Jawa Timur (JATIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Jombang, Jawa Timur (JATIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Kediri, Jawa Timur (JATIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur (JATIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur (JATIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Madiun, Jawa Timur (JATIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Magetan, Jawa Timur (JATIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Malang, Jawa Timur (JATIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur (JATIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur (JATIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur (JATIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur (JATIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur (JATIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur (JATIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur (JATIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur (JATIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Sampang, Jawa Timur (JATIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur (JATIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur (JATIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur (JATIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur (JATIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Tuban, Jawa Timur (JATIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur (JATIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Batu, Jawa Timur (JATIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Blitar, Jawa Timur (JATIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Kediri, Jawa Timur (JATIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Madiun, Jawa Timur (JATIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Malang, Jawa Timur (JATIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Mojokerto, Jawa Timur (JATIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Pasuruan, Jawa Timur (JATIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Probolinggo, Jawa Timur (JATIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Surabaya, Jawa Timur (JATIM) = di sini
17. Bali
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Badung, Bali = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Bangli, Bali = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Buleleng, Bali = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Gianyar, Bali = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Jembrana, Bali = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Karangasem, Bali = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Klungkung, Bali = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Tabanan, Bali = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Denpasar, Bali = di sini
18. Nusa Tenggara Barat (NTB)
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) = di sini
19. Nusa Tenggara Timur (NTT)
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur (NTT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur (NTT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Sumba Tengah, Nusa Tenggara Timur (NTT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur (NTT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur (NTT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) = di sini
20. Kalimantan Barat (KALBAR)
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat (KALBAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat (KALBAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat (KALBAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat (KALBAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat (KALBAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat (KALBAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat (KALBAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat (KALBAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat (KALBAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat (KALBAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat (KALBAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat (KALBAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Pontianak, Kalimantan Barat (KALBAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Singkawang, Kalimantan Barat (KALBAR) = di sini
21. Kalimantan Selatan (KALSEL)
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan (KALSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan (KALSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan (KALSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan (KALSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan (KALSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan (KALSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan (KALSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan (KALSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan (KALSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan (KALSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan (KALSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan (KALSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan (KALSEL) = di sini
22. Kalimantan Tengah (KALTENG)
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah (KALTENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Barito Timur, Kalimantan Tengah (KALTENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah (KALTENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah (KALTENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah (KALTENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah (KALTENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah (KALTENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah (KALTENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah (KALTENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah (KALTENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah (KALTENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Sukamara, Kalimantan Tengah (KALTENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah (KALTENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah (KALTENG) = di sini
23. Kalimantan Timur (KALTIM)
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur (KALTIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur (KALTIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur (KALTIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur (KALTIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Mahakam Ulu, Kalimantan Timur (KALTIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur (KALTIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur (KALTIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur (KALTIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Bontang, Kalimantan Timur (KALTIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Samarinda, Kalimantan Timur (KALTIM) = di sini
24. Kalimantan Utara (KALTARA)
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara (KALTARA) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara (KALTARA) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara (KALTARA) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Tana Tidung, Kalimantan Utara (KALTARA) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Tarakan, Kalimantan Utara (KALTARA) = di sini
25. Gorontalo
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Boalemo, Gorontalo = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Gorontalo, Gorontalo = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Gorontalo Utara, Gorontalo = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Pohuwato, Gorontalo = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Gorontalo, Gorontalo = di sini
26. Sulawesi Selatan (SULSEL)
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan (SULSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan (SULSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan (SULSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan (SULSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan (SULSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan (SULSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan (SULSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan (SULSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan (SULSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan (SULSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan (SULSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan (SULSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Sulawesi Selatan (SULSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan (SULSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan (SULSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan (SULSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan (SULSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan (SULSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan (SULSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan (SULSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan (SULSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Makassar, Sulawesi Selatan (SULSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Palopo, Sulawesi Selatan (SULSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Parepare, Sulawesi Selatan (SULSEL) = di sini
27. Sulawesi Tenggara (SULTRA)
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara (SULTRA) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara (SULTRA) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Buton Selatan, Sulawesi Tenggara (SULTRA) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Buton Tengah, Sulawesi Tenggara (SULTRA) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Buton Utara, Sulawesi Tenggara (SULTRA) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara (SULTRA) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara (SULTRA) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara (SULTRA) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara (SULTRA) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Konawe Kepulauan, Sulawesi Tenggara (SULTRA) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara (SULTRA) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara (SULTRA) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara (SULTRA) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Muna Barat, Sulawesi Tenggara (SULTRA) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara (SULTRA) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Bau-Bau, Sulawesi Tenggara (SULTRA) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (SULTRA) = di sini
28. Sulawesi Tengah (SULTENG)
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah (SULTENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah (SULTENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Banggai Laut, Sulawesi Tengah (SULTENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah (SULTENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah (SULTENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah (SULTENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah (SULTENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah (SULTENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah (SULTENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah (SULTENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah (SULTENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Toli-Toli, Sulawesi Tengah (SULTENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Palu, Sulawesi Tengah (SULTENG) = di sini
29. Sulawesi Utara (SULUT)
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara (SULUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan, Sulawesi Utara (SULUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, Sulawesi Utara (SULUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, Sulawesi Utara (SULUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara (SULUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro, Sulawesi Utara (SULUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara (SULUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara (SULUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Minahasa Selatan, Sulawesi Utara (SULUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara (SULUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara (SULUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Bitung, Sulawesi Utara (SULUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Kotamobagu, Sulawesi Utara (SULUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Manado, Sulawesi Utara (SULUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Tomohon, Sulawesi Utara (SULUT) = di sini
30. Sulawesi Barat (SULBAR)
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat (SULBAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat (SULBAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat (SULBAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Mamuju Tengah, Sulawesi Barat (SULBAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Mamuju Utara, Sulawesi Barat (SULBAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat (SULBAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Mamuju, Sulawesi Barat (SULBAR) = di sini
31. Maluku
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Buru, Maluku = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Buru Selatan, Maluku = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Kepulauan Aru, Maluku = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Maluku Barat Daya, Maluku = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Maluku Tenggara, Maluku = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Maluku Tenggara Barat, Maluku = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Seram Bagian Timur, Maluku = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Ambon, Maluku = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Tual, Maluku = di sini
32. Maluku Utara
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Kepulauan Sula, Maluku Utara = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Halmahera Timur, Maluku Utara = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Pulau Taliabu, Maluku Utara = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Ternate, Maluku Utara = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Tidore Kepulauan, Maluku Utara = di sini
33. Papua
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Asmat, Papua = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Biak Numfor, Papua = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Boven Digoel, Papua = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Deiyai, Papua = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Dogiyai, Papua = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Intan Jaya, Papua = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Jayapura, Papua = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Jayawijaya, Papua = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Keerom, Papua = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Kepulauan Yapen, Papua = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Lanny Jaya, Papua = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Mamberamo Raya, Papua = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Mamberamo Tengah, Papua = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Mappi, Papua = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Merauke, Papua = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Mimika, Papua = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Nabire, Papua = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Nduga, Papua = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Paniai, Papua = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Puncak, Papua = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Puncak Jaya, Papua = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Sarmi, Papua = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Supiori, Papua = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Tolikara, Papua = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Waropen, Papua = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Yahukimo, Papua = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Yalimo, Papua = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Jayapura, Papua = di sini
34. Papua Barat
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Fakfak, Papua Barat = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Kaimana, Papua Barat = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Manokwari, Papua Barat = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Manokwari Selatan, Papua Barat = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Maybrat, Papua Barat = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Pegunungan Arfak, Papua Barat = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Sorong, Papua Barat = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Sorong Selatan, Papua Barat = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Tambrauw, Papua Barat = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Sorong, Papua Barat = di sini

 
salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 60-SALAFY-BANDARHARJO-SALAFY-SALAFY-BANDARHARJO-SALAFY-BANDARHARJO-SALAFY-BANDARHARJO-SALAFY-BANDARHARJO-SALAFY-BANDARHARJO-SALAFY-BANDARHARJO-SALAFY-BANDARHARJO-SALAFY-BANDARHARJO-SALAFY-BANGETAYU-WETAN-SALAFY-BANGETAYU-WETAN-SALAFY-BANGETAYU-WETAN-SALAFY-BANGETAYU-WETAN-SALAFY-BANGETAYU-WETAN-SALAFY-BANGETAYU-WETAN-SALAFY-BANGETAYU-WETAN-SALAFY-BANGETAYU-WETAN-SALAFY-BANGETAYU-WETAN-SALAFY-BANJARDOWO-SALAFY-BANJARDOWO-SALAFY-BANJARDOWO-SALAFY-BANJARDOWO-SALAFY-BANJARDOWO-SALAFY-BANJARDOWO-SALAFY-BANJARDOWO-SALAFY-BANJARDOWO-SALAFY-BANJARDOWO-SALAFY-BANYUMANIK-SALAFY-BANYUMANIK-SALAFY-BANYUMANIK-SALAFY-BANYUMANIK-SALAFY-BANYUMANIK-SALAFY-BANYUMANIK-SALAFY-BANYUMANIK-SALAFY-BANYUMANIK-SALAFY-BANYUMANIK-SALAFY-BENDANNGISOR-SALAFY-BENDANNGISOR-SALAFY-BENDANNGISOR-SALAFY-BENDANNGISOR-SALAFY-BENDANNGISOR-SALAFY-BENDANNGISOR-SALAFY-BENDANNGISOR-SALAFY-BENDANNGISOR-SALAFY-BENDANNGISOR-SALAFY-BENDUNGAN-SALAFY-BENDUNGAN-SALAFY-BENDUNGAN-SALAFY-BENDUNGAN-SALAFY-BENDUNGAN-SALAFY-BENDUNGAN-SALAFY-BENDUNGAN-SALAFY-BENDUNGAN-SALAFY-BENDUNGAN-SALAFY-BERINGIN-SALAFY-BERINGIN-SALAFY-BERINGIN-SALAFY-BERINGIN-SALAFY-BERINGIN-SALAFY-BERINGIN-SALAFY-BERINGIN-SALAFY-BERINGIN-SALAFY-BERINGIN-SALAFY-BONGSARI-SALAFY-BONGSARI-SALAFY-BONGSARI-SALAFY-BONGSARI-SALAFY-BONGSARI-SALAFY-BONGSARI-SALAFY-BONGSARI-SALAFY-BONGSARI-SALAFY-BONGSARI-SALAFY-BRUMBUNGAN-SALAFY-BRUMBUNGAN-SALAFY-BRUMBUNGAN-SALAFY-BRUMBUNGAN-SALAFY-BRUMBUNGAN-SALAFY-BRUMBUNGAN-SALAFY-BRUMBUNGAN-SALAFY-BRUMBUNGAN-SALAFY-BRUMBUNGAN-SALAFY-BULUSTALAN-SALAFY-BULUSTALAN-SALAFY-BULUSTALAN-SALAFY-BULUSTALAN-SALAFY-BULUSTALAN-SALAFY-BULUSTALAN-SALAFY-BULUSTALAN-SALAFY-BULUSTALAN-SALAFY-BULUSTALAN-SALAFY-CABEAN-SALAFY-CABEAN-SALAFY-CABEAN-SALAFY-CABEAN-SALAFY-CABEAN-SALAFY-CABEAN-SALAFY-CABEAN-SALAFY-CABEAN-SALAFY-CABEAN-SALAFY-CANGKIRAN-SALAFY-CANGKIRAN-SALAFY-CANGKIRAN-SALAFY-CANGKIRAN-SALAFY-CANGKIRAN-SALAFY-CANGKIRAN-SALAFY-CANGKIRAN-SALAFY-CANGKIRAN-SALAFY-CANGKIRAN-SALAFY-DADAPSARI-SALAFY-DADAPSARI-SALAFY-DADAPSARI-SALAFY-DADAPSARI-SALAFY-DADAPSARI-SALAFY-DADAPSARI-SALAFY-DADAPSARI-SALAFY-DADAPSARI-SALAFY-DADAPSARI-SALAFY-GABAHAN-SALAFY-GABAHAN-SALAFY-GABAHAN-SALAFY-GABAHAN-SALAFY-GABAHAN-SALAFY-GABAHAN-SALAFY-GABAHAN-SALAFY-GABAHAN-SALAFY-GABAHAN-SALAFY-GAJAHMUNGKUR-SALAFY-GAJAHMUNGKUR-SALAFY-GAJAHMUNGKUR-SALAFY-GAJAHMUNGKUR-SALAFY-GAJAHMUNGKUR-SALAFY-GAJAHMUNGKUR-SALAFY-GAJAHMUNGKUR-SALAFY-GAJAHMUNGKUR-SALAFY-GAJAHMUNGKUR-SALAFY-GEBANGSARI-SALAFY-GEBANGSARI-SALAFY-GEBANGSARI-SALAFY-GEBANGSARI-SALAFY-GEBANGSARI-SALAFY-GEBANGSARI-SALAFY-GEBANGSARI-SALAFY-GEBANGSARI-SALAFY-GEBANGSARI-SALAFY-GEDAWANG-SALAFY-GEDAWANG-SALAFY-GEDAWANG-SALAFY-GEDAWANG-SALAFY-GEDAWANG-SALAFY-GEDAWANG-SALAFY-GEDAWANG-SALAFY-GEDAWANG-SALAFY-GEDAWANG-SALAFY-GENUKSARI-SALAFY-GENUKSARI-SALAFY-GENUKSARI-SALAFY-GENUKSARI-SALAFY-GENUKSARI-SALAFY-GENUKSARI-SALAFY-GENUKSARI-SALAFY-GENUKSARI-SALAFY-GENUKSARI-SALAFY-GISIKDRONO-SALAFY-GISIKDRONO-SALAFY-GISIKDRONO-SALAFY-GISIKDRONO-SALAFY-GISIKDRONO-SALAFY-GISIKDRONO-SALAFY-GISIKDRONO-SALAFY-GISIKDRONO-SALAFY-GISIKDRONO-SALAFY-GONDORIYO-SALAFY-GONDORIYO-SALAFY-GONDORIYO-SALAFY-GONDORIYO-SALAFY-GONDORIYO-SALAFY-GONDORIYO-SALAFY-GONDORIYO-SALAFY-GONDORIYO-SALAFY-GONDORIYO-SALAFY-GUNUNGPATI-SALAFY-GUNUNGPATI-SALAFY-GUNUNGPATI-SALAFY-GUNUNGPATI-SALAFY-GUNUNGPATI-SALAFY-GUNUNGPATI-SALAFY-GUNUNGPATI-SALAFY-GUNUNGPATI-SALAFY-GUNUNGPATI-SALAFY-JABUNGAN-SALAFY-JABUNGAN-SALAFY-JABUNGAN-SALAFY-JABUNGAN-SALAFY-JABUNGAN-SALAFY-JABUNGAN-SALAFY-JABUNGAN-SALAFY-JABUNGAN-SALAFY-JABUNGAN-SALAFY-JAGALAN-SALAFY-JAGALAN-SALAFY-JAGALAN-SALAFY-JAGALAN-SALAFY-JAGALAN-SALAFY-JAGALAN-SALAFY-JAGALAN-SALAFY-JAGALAN-SALAFY-JAGALAN-SALAFY-JANGLI-SALAFY-JANGLI-SALAFY-JANGLI-SALAFY-JANGLI-SALAFY-JANGLI-SALAFY-JANGLI-SALAFY-JANGLI-SALAFY-JANGLI-SALAFY-JANGLI-SALAFY-JATIBARAN-SALAFY-JATIBARAN-SALAFY-JATIBARAN-SALAFY-JATIBARAN-SALAFY-JATIBARAN-SALAFY-JATIBARAN-SALAFY-JATIBARAN-SALAFY-JATIBARAN-SALAFY-JATIBARAN-SALAFY-JATINGALEH-SALAFY-JATINGALEH-SALAFY-JATINGALEH-SALAFY-JATINGALEH-SALAFY-JATINGALEH-SALAFY-JATINGALEH-SALAFY-JATINGALEH-SALAFY-JATINGALEH-SALAFY-JATINGALEH-SALAFY-JATIREJO-SALAFY-JATIREJO-SALAFY-JATIREJO-SALAFY-JATIREJO-SALAFY-JATIREJO-SALAFY-JATIREJO-SALAFY-JATIREJO-SALAFY-JATIREJO-SALAFY-JATIREJO-SALAFY-JATISARI-SALAFY-JATISARI-SALAFY-JATISARI-SALAFY-JATISARI-SALAFY-JATISARI-SALAFY-JATISARI-SALAFY-JATISARI-SALAFY-JATISARI-SALAFY-JATISARI-SALAFY-JOMBLANG-SALAFY-JOMBLANG-SALAFY-JOMBLANG-SALAFY-JOMBLANG-SALAFY-JOMBLANG-SALAFY-JOMBLANG-SALAFY-JOMBLANG-SALAFY-JOMBLANG-SALAFY-JOMBLANG-SALAFY-KALIBANTENG-KIDUL-SALAFY-KALIBANTENG-KIDUL-SALAFY-KALIBANTENG-KIDUL-SALAFY-KALIBANTENG-KIDUL-SALAFY-KALIBANTENG-KIDUL-SALAFY-KALIBANTENG-KIDUL-SALAFY-KALIBANTENG-KIDUL-SALAFY-KALIBANTENG-KIDUL-SALAFY-KALIBANTENG-KIDUL-SALAFY-KALIBANTENG-KULON-SALAFY-KALIBANTENG-KULON-SALAFY-KALIBANTENG-KULON-SALAFY-KALIBANTENG-KULON-SALAFY-KALIBANTENG-KULON-SALAFY-KALIBANTENG-KULON-SALAFY-KALIBANTENG-KULON-SALAFY-KALIBANTENG-KULON-SALAFY-KALIBANTENG-KULON-SALAFY-KALICARI-SALAFY-KALICARI-SALAFY-KALICARI-SALAFY-KALICARI-SALAFY-KALICARI-SALAFY-KALICARI-SALAFY-KALICARI-SALAFY-KALICARI-SALAFY-KALICARI-SALAFY-KALIGAWE-SALAFY-KALIGAWE-SALAFY-KALIGAWE-SALAFY-KALIGAWE-SALAFY-KALIGAWE-SALAFY-KALIGAWE-SALAFY-KALIGAWE-SALAFY-KALIGAWE-SALAFY-KALIGAWE-SALAFY-KALIPANCUR-SALAFY-KALIPANCUR-SALAFY-KALIPANCUR-SALAFY-KALIPANCUR-SALAFY-KALIPANCUR-SALAFY-KALIPANCUR-SALAFY-KALIPANCUR-SALAFY-KALIPANCUR-SALAFY-KALIPANCUR-SALAFY-KALISEGORO-SALAFY-KALISEGORO-SALAFY-KALISEGORO-SALAFY-KALISEGORO-SALAFY-KALISEGORO-SALAFY-KALISEGORO-SALAFY-KALISEGORO-SALAFY-KALISEGORO-SALAFY-KALISEGORO-SALAFY-KALIWIRU-SALAFY-KALIWIRU-SALAFY-KALIWIRU-SALAFY-KALIWIRU-SALAFY-KALIWIRU-SALAFY-KALIWIRU-SALAFY-KALIWIRU-SALAFY-KALIWIRU-SALAFY-KALIWIRU-SALAFY-KANDRI-SALAFY-KANDRI-SALAFY-KANDRI-SALAFY-KANDRI-SALAFY-KANDRI-SALAFY-KANDRI-SALAFY-KANDRI-SALAFY-KANDRI-SALAFY-KANDRI-SALAFY-KARANGANYAR-SALAFY-KARANGANYAR-SALAFY-KARANGANYAR-SALAFY-KARANGANYAR-SALAFY-KARANGANYAR-SALAFY-KARANGANYAR-SALAFY-KARANGANYAR-SALAFY-KARANGANYAR-SALAFY-KARANGANYAR-SALAFY-KARANGANYARGUNUNG-SALAFY-KARANGANYARGUNUNG-SALAFY-KARANGANYARGUNUNG-SALAFY-KARANGANYARGUNUNG-SALAFY-KARANGANYARGUNUNG-SALAFY-KARANGANYARGUNUNG-SALAFY-KARANGANYARGUNUNG-SALAFY-KARANGANYARGUNUNG-SALAFY-KARANGANYARGUNUNG-SALAFY-KARANGAYU-SALAFY-KARANGAYU-SALAFY-KARANGAYU-SALAFY-KARANGAYU-SALAFY-KARANGAYU-SALAFY-KARANGAYU-SALAFY-KARANGAYU-SALAFY-KARANGAYU-SALAFY-KARANGAYU-SALAFY-KARANGKIDUL-SALAFY-KARANGKIDUL-SALAFY-KARANGKIDUL-SALAFY-KARANGKIDUL-SALAFY-KARANGKIDUL-SALAFY-KARANGKIDUL-SALAFY-KARANGKIDUL-SALAFY-KARANGKIDUL-SALAFY-KARANGKIDUL-SALAFY-KARANGMALANG-SALAFY-KARANGMALANG-SALAFY-KARANGMALANG-SALAFY-KARANGMALANG-SALAFY-KARANGMALANG-SALAFY-KARANGMALANG-SALAFY-KARANGMALANG-SALAFY-KARANGMALANG-SALAFY-KARANGMALANG-SALAFY-KARANGREJO-SALAFY-KARANGREJO-SALAFY-KARANGREJO-SALAFY-KARANGREJO-SALAFY-KARANGREJO-SALAFY-KARANGREJO-SALAFY-KARANGREJO-SALAFY-KARANGREJO-SALAFY-KARANGREJO-SALAFY-KARANGROTO-SALAFY-KARANGROTO-SALAFY-KARANGROTO-SALAFY-KARANGROTO-SALAFY-KARANGROTO-SALAFY-KARANGROTO-SALAFY-KARANGROTO-SALAFY-KARANGROTO-SALAFY-KARANGROTO-SALAFY-KARANGTEMPEL-SALAFY-KARANGTEMPEL-SALAFY-KARANGTEMPEL-SALAFY-KARANGTEMPEL-SALAFY-KARANGTEMPEL-SALAFY-KARANGTEMPEL-SALAFY-KARANGTEMPEL-SALAFY-KARANGTEMPEL-SALAFY-KARANGTEMPEL-SALAFY-KARANGTURI-SALAFY-KARANGTURI-SALAFY-KARANGTURI-SALAFY-KARANGTURI-SALAFY-KARANGTURI-SALAFY-KARANGTURI-SALAFY-KARANGTURI-SALAFY-KARANGTURI-SALAFY-KARANGTURI-SALAFY-KAUMAN-SALAFY-KAUMAN-SALAFY-KAUMAN-SALAFY-KAUMAN-SALAFY-KAUMAN-SALAFY-KAUMAN-SALAFY-KAUMAN-SALAFY-KAUMAN-SALAFY-KAUMAN-SALAFY-KEBONAGUNG-SALAFY-KEBONAGUNG-SALAFY-KEBONAGUNG-SALAFY-KEBONAGUNG-SALAFY-KEBONAGUNG-SALAFY-KEBONAGUNG-SALAFY-KEBONAGUNG-SALAFY-KEBONAGUNG-SALAFY-KEBONAGUNG-SALAFY-KEDUNGMUNDU-SALAFY-KEDUNGMUNDU-SALAFY-KEDUNGMUNDU-SALAFY-KEDUNGMUNDU-SALAFY-KEDUNGMUNDU-SALAFY-KEDUNGMUNDU-SALAFY-KEDUNGMUNDU-SALAFY-KEDUNGMUNDU-SALAFY-KEDUNGMUNDU-SALAFY-KEDUNGPANI-SALAFY-KEDUNGPANI-SALAFY-KEDUNGPANI-SALAFY-KEDUNGPANI-SALAFY-KEDUNGPANI-SALAFY-KEDUNGPANI-SALAFY-KEDUNGPANI-SALAFY-KEDUNGPANI-SALAFY-KEDUNGPANI-SALAFY-KEMBANGARUM-SALAFY-KEMBANGARUM-SALAFY-KEMBANGARUM-SALAFY-KEMBANGARUM-SALAFY-KEMBANGARUM-SALAFY-KEMBANGARUM-SALAFY-KEMBANGARUM-SALAFY-KEMBANGARUM-SALAFY-KEMBANGARUM-SALAFY-KEMBANGSARI-SALAFY-KEMBANGSARI-SALAFY-KEMBANGSARI-SALAFY-KEMBANGSARI-SALAFY-KEMBANGSARI-SALAFY-KEMBANGSARI-SALAFY-KEMBANGSARI-SALAFY-KEMBANGSARI-SALAFY-KEMBANGSARI-SALAFY-KEMIJEN-SALAFY-KEMIJEN-SALAFY-KEMIJEN-SALAFY-KEMIJEN-SALAFY-KEMIJEN-SALAFY-KEMIJEN-SALAFY-KEMIJEN-SALAFY-KEMIJEN-SALAFY-KEMIJEN-SALAFY-KRAMAS-SALAFY-KRAMAS-SALAFY-KRAMAS-SALAFY-KRAMAS-SALAFY-KRAMAS-SALAFY-KRAMAS-SALAFY-KRAMAS-SALAFY-KRAMAS-SALAFY-KRAMAS-SALAFY-KRANGGAN-SALAFY-KRANGGAN-SALAFY-KRANGGAN-SALAFY-KRANGGAN-SALAFY-KRANGGAN-SALAFY-KRANGGAN-SALAFY-KRANGGAN-SALAFY-KRANGGAN-SALAFY-KRANGGAN-SALAFY-KRAPYAK-SALAFY-KRAPYAK-SALAFY-KRAPYAK-SALAFY-KRAPYAK-SALAFY-KRAPYAK-SALAFY-KRAPYAK-SALAFY-KRAPYAK-SALAFY-KRAPYAK-SALAFY-KRAPYAK-SALAFY-KROBOKAN-SALAFY-KROBOKAN-SALAFY-KROBOKAN-SALAFY-KROBOKAN-SALAFY-KROBOKAN-SALAFY-KROBOKAN-SALAFY-KROBOKAN-SALAFY-KROBOKAN-SALAFY-KROBOKAN-SALAFY-KUDU-SALAFY-KUDU-SALAFY-KUDU-SALAFY-KUDU-SALAFY-KUDU-SALAFY-KUDU-SALAFY-KUDU-SALAFY-KUDU-SALAFY-KUDU-SALAFY-KUNINGAN-SALAFY-KUNINGAN-SALAFY-KUNINGAN-SALAFY-KUNINGAN-SALAFY-KUNINGAN-SALAFY-KUNINGAN-SALAFY-KUNINGAN-SALAFY-KUNINGAN-SALAFY-KUNINGAN-SALAFY.OR.ID-SALAFY-LAMPER-KIDUL-SALAFY-LAMPER-KIDUL-SALAFY-LAMPER-KIDUL-SALAFY-LAMPER-KIDUL-SALAFY-LAMPER-KIDUL-SALAFY-LAMPER-KIDUL-SALAFY-LAMPER-KIDUL-SALAFY-LAMPER-KIDUL-SALAFY-LAMPER-KIDUL-SALAFY-LAMPER-LOR-SALAFY-LAMPER-LOR-SALAFY-LAMPER-LOR-SALAFY-LAMPER-LOR-SALAFY-LAMPER-LOR-SALAFY-LAMPER-LOR-SALAFY-LAMPER-LOR-SALAFY-LAMPER-LOR-SALAFY-LAMPER-LOR-SALAFY-LAMPER-TENGAH-SALAFY-LAMPER-TENGAH-SALAFY-LAMPER-TENGAH-SALAFY-LAMPER-TENGAH-SALAFY-LAMPER-TENGAH-SALAFY-LAMPER-TENGAH-SALAFY-LAMPER-TENGAH-SALAFY-LAMPER-TENGAH-SALAFY-LAMPER-TENGAH-SALAFY-LEMPONGSARI-SALAFY-LEMPONGSARI-SALAFY-LEMPONGSARI-SALAFY-LEMPONGSARI-SALAFY-LEMPONGSARI-SALAFY-LEMPONGSARI-SALAFY-LEMPONGSARI-SALAFY-LEMPONGSARI-SALAFY-LEMPONGSARI-SALAFY-MANGKANG-KULON-SALAFY-MANGKANG-KULON-SALAFY-MANGKANG-KULON-SALAFY-MANGKANG-KULON-SALAFY-MANGKANG-KULON-SALAFY-MANGKANG-KULON-SALAFY-MANGKANG-KULON-SALAFY-MANGKANG-KULON-SALAFY-MANGKANG-KULON-SALAFY-MANGKANG-WETAN-SALAFY-MANGKANG-WETAN-SALAFY-MANGKANG-WETAN-SALAFY-MANGKANG-WETAN-SALAFY-MANGKANG-WETAN-SALAFY-MANGKANG-WETAN-SALAFY-MANGKANG-WETAN-SALAFY-MANGKANG-WETAN-SALAFY-MANGKANG-WETAN-SALAFY-MANGUNHARJO-SALAFY-MANGUNHARJO-SALAFY-MANGUNHARJO-SALAFY-MANGUNHARJO-SALAFY-MANGUNHARJO-SALAFY-MANGUNHARJO-SALAFY-MANGUNHARJO-SALAFY-MANGUNHARJO-SALAFY-MANGUNHARJO-SALAFY-MANGUNHARJO-SALAFY-MANGUNHARJO-SALAFY-MANGUNHARJO-SALAFY-MANGUNHARJO-SALAFY-MANGUNHARJO-SALAFY-MANGUNHARJO-SALAFY-MANGUNHARJO-SALAFY-MANGUNHARJO-SALAFY-MANGUNHARJO-SALAFY-MANGUNSARI-SALAFY-MANGUNSARI-SALAFY-MANGUNSARI-SALAFY-MANGUNSARI-SALAFY-MANGUNSARI-SALAFY-MANGUNSARI-SALAFY-MANGUNSARI-SALAFY-MANGUNSARI-SALAFY-MANGUNSARI-SALAFY-MANYARAN-SALAFY-MANYARAN-SALAFY-MANYARAN-SALAFY-MANYARAN-SALAFY-MANYARAN-SALAFY-MANYARAN-SALAFY-MANYARAN-SALAFY-MANYARAN-SALAFY-MANYARAN-SALAFY-METESEH-SALAFY-METESEH-SALAFY-METESEH-SALAFY-METESEH-SALAFY-METESEH-SALAFY-METESEH-SALAFY-METESEH-SALAFY-METESEH-SALAFY-METESEH-SALAFY-MIJEN-SALAFY-MIJEN-SALAFY-MIJEN-SALAFY-MIJEN-SALAFY-MIJEN-SALAFY-MIJEN-SALAFY-MIJEN-SALAFY-MIJEN-SALAFY-MIJEN-SALAFY-MIROTO-SALAFY-MIROTO-SALAFY-MIROTO-SALAFY-MIROTO-SALAFY-MIROTO-SALAFY-MIROTO-SALAFY-MIROTO-SALAFY-MIROTO-SALAFY-MIROTO-SALAFY-MLATIBARU-SALAFY-MLATIBARU-SALAFY-MLATIBARU-SALAFY-MLATIBARU-SALAFY-MLATIBARU-SALAFY-MLATIBARU-SALAFY-MLATIBARU-SALAFY-MLATIBARU-SALAFY-MLATIBARU-SALAFY-MLATIHARJO-SALAFY-MLATIHARJO-SALAFY-MLATIHARJO-SALAFY-MLATIHARJO-SALAFY-MLATIHARJO-SALAFY-MLATIHARJO-SALAFY-MLATIHARJO-SALAFY-MLATIHARJO-SALAFY-MLATIHARJO-SALAFY-MUGASSARI-SALAFY-MUGASSARI-SALAFY-MUGASSARI-SALAFY-MUGASSARI-SALAFY-MUGASSARI-SALAFY-MUGASSARI-SALAFY-MUGASSARI-SALAFY-MUGASSARI-SALAFY-MUGASSARI-SALAFY-MUKTIHARJO-KIDUL-SALAFY-MUKTIHARJO-KIDUL-SALAFY-MUKTIHARJO-KIDUL-SALAFY-MUKTIHARJO-KIDUL-SALAFY-MUKTIHARJO-KIDUL-SALAFY-MUKTIHARJO-KIDUL-SALAFY-MUKTIHARJO-KIDUL-SALAFY-MUKTIHARJO-KIDUL-SALAFY-MUKTIHARJO-KIDUL-SALAFY-MUKTIHARJO-LOR-SALAFY-MUKTIHARJO-LOR-SALAFY-MUKTIHARJO-LOR-SALAFY-MUKTIHARJO-LOR-SALAFY-MUKTIHARJO-LOR-SALAFY-MUKTIHARJO-LOR-SALAFY-MUKTIHARJO-LOR-SALAFY-MUKTIHARJO-LOR-SALAFY-MUKTIHARJO-LOR-SALAFYS.COM-SALAFY-NGADIRGO-SALAFY-NGADIRGO-SALAFY-NGADIRGO-SALAFY-NGADIRGO-SALAFY-NGADIRGO-SALAFY-NGADIRGO-SALAFY-NGADIRGO-SALAFY-NGADIRGO-SALAFY-NGADIRGO-SALAFY-NGALIYAN-SALAFY-NGALIYAN-SALAFY-NGALIYAN-SALAFY-NGALIYAN-SALAFY-NGALIYAN-SALAFY-NGALIYAN-SALAFY-NGALIYAN-SALAFY-NGALIYAN-SALAFY-NGALIYAN-SALAFY-NGEMPLAKSIMONGAN-SALAFY-NGEMPLAKSIMONGAN-SALAFY-NGEMPLAKSIMONGAN-SALAFY-NGEMPLAKSIMONGAN-SALAFY-NGEMPLAKSIMONGAN-SALAFY-NGEMPLAKSIMONGAN-SALAFY-NGEMPLAKSIMONGAN-SALAFY-NGEMPLAKSIMONGAN-SALAFY-NGEMPLAKSIMONGAN-SALAFY-NGESREP-SALAFY-NGESREP-SALAFY-NGESREP-SALAFY-NGESREP-SALAFY-NGESREP-SALAFY-NGESREP-SALAFY-NGESREP-SALAFY-NGESREP-SALAFY-NGESREP-SALAFY-NGIJO-SALAFY-NGIJO-SALAFY-NGIJO-SALAFY-NGIJO-SALAFY-NGIJO-SALAFY-NGIJO-SALAFY-NGIJO-SALAFY-NGIJO-SALAFY-NGIJO-SALAFY-NONGKOSAWIT-SALAFY-NONGKOSAWIT-SALAFY-NONGKOSAWIT-SALAFY-NONGKOSAWIT-SALAFY-NONGKOSAWIT-SALAFY-NONGKOSAWIT-SALAFY-NONGKOSAWIT-SALAFY-NONGKOSAWIT-SALAFY-NONGKOSAWIT-SALAFY-PADANGSARI-SALAFY-PADANGSARI-SALAFY-PADANGSARI-SALAFY-PADANGSARI-SALAFY-PADANGSARI-SALAFY-PADANGSARI-SALAFY-PADANGSARI-SALAFY-PADANGSARI-SALAFY-PADANGSARI-SALAFY-PAKINTELAN-SALAFY-PAKINTELAN-SALAFY-PAKINTELAN-SALAFY-PAKINTELAN-SALAFY-PAKINTELAN-SALAFY-PAKINTELAN-SALAFY-PAKINTELAN-SALAFY-PAKINTELAN-SALAFY-PAKINTELAN-SALAFY-PALEBON-SALAFY-PALEBON-SALAFY-PALEBON-SALAFY-PALEBON-SALAFY-PALEBON-SALAFY-PALEBON-SALAFY-PALEBON-SALAFY-PALEBON-SALAFY-PALEBON-SALAFY-PANDANSARI-SALAFY-PANDANSARI-SALAFY-PANDANSARI-SALAFY-PANDANSARI-SALAFY-PANDANSARI-SALAFY-PANDANSARI-SALAFY-PANDANSARI-SALAFY-PANDANSARI-SALAFY-PANDANSARI-SALAFY-PANDEAN-LAMPER-SALAFY-PANDEAN-LAMPER-SALAFY-PANDEAN-LAMPER-SALAFY-PANDEAN-LAMPER-SALAFY-PANDEAN-LAMPER-SALAFY-PANDEAN-LAMPER-SALAFY-PANDEAN-LAMPER-SALAFY-PANDEAN-LAMPER-SALAFY-PANDEAN-LAMPER-SALAFY-PANGGUNG-KIDUL-SALAFY-PANGGUNG-KIDUL-SALAFY-PANGGUNG-KIDUL-SALAFY-PANGGUNG-KIDUL-SALAFY-PANGGUNG-KIDUL-SALAFY-PANGGUNG-KIDUL-SALAFY-PANGGUNG-KIDUL-SALAFY-PANGGUNG-KIDUL-SALAFY-PANGGUNG-KIDUL-SALAFY-PANGGUNG-LOR-SALAFY-PANGGUNG-LOR-SALAFY-PANGGUNG-LOR-SALAFY-PANGGUNG-LOR-SALAFY-PANGGUNG-LOR-SALAFY-PANGGUNG-LOR-SALAFY-PANGGUNG-LOR-SALAFY-PANGGUNG-LOR-SALAFY-PANGGUNG-LOR-SALAFY-PATEMON-SALAFY-PATEMON-SALAFY-PATEMON-SALAFY-PATEMON-SALAFY-PATEMON-SALAFY-PATEMON-SALAFY-PATEMON-SALAFY-PATEMON-SALAFY-PATEMON-SALAFY-PEDALANGAN-SALAFY-PEDALANGAN-SALAFY-PEDALANGAN-SALAFY-PEDALANGAN-SALAFY-PEDALANGAN-SALAFY-PEDALANGAN-SALAFY-PEDALANGAN-SALAFY-PEDALANGAN-SALAFY-PEDALANGAN-SALAFY-PEDURUNGAN-KIDUL-SALAFY-PEDURUNGAN-KIDUL-SALAFY-PEDURUNGAN-KIDUL-SALAFY-PEDURUNGAN-KIDUL-SALAFY-PEDURUNGAN-KIDUL-SALAFY-PEDURUNGAN-KIDUL-SALAFY-PEDURUNGAN-KIDUL-SALAFY-PEDURUNGAN-KIDUL-SALAFY-PEDURUNGAN-KIDUL-SALAFY-PEDURUNGAN-LOR-SALAFY-PEDURUNGAN-LOR-SALAFY-PEDURUNGAN-LOR-SALAFY-PEDURUNGAN-LOR-SALAFY-PEDURUNGAN-LOR-SALAFY-PEDURUNGAN-LOR-SALAFY-PEDURUNGAN-LOR-SALAFY-PEDURUNGAN-LOR-SALAFY-PEDURUNGAN-LOR-SALAFY-PEDURUNGAN-TENGAH-SALAFY-PEDURUNGAN-TENGAH-SALAFY-PEDURUNGAN-TENGAH-SALAFY-PEDURUNGAN-TENGAH-SALAFY-PEDURUNGAN-TENGAH-SALAFY-PEDURUNGAN-TENGAH-SALAFY-PEDURUNGAN-TENGAH-SALAFY-PEDURUNGAN-TENGAH-SALAFY-PEDURUNGAN-TENGAH-SALAFY-PEKUNDEN-SALAFY-PEKUNDEN-SALAFY-PEKUNDEN-SALAFY-PEKUNDEN-SALAFY-PEKUNDEN-SALAFY-PEKUNDEN-SALAFY-PEKUNDEN-SALAFY-PEKUNDEN-SALAFY-PEKUNDEN-SALAFY-PENDRIKAN-KIDUL-SALAFY-PENDRIKAN-KIDUL-SALAFY-PENDRIKAN-KIDUL-SALAFY-PENDRIKAN-KIDUL-SALAFY-PENDRIKAN-KIDUL-SALAFY-PENDRIKAN-KIDUL-SALAFY-PENDRIKAN-KIDUL-SALAFY-PENDRIKAN-KIDUL-SALAFY-PENDRIKAN-KIDUL-SALAFY-PENDRIKAN-LOR-SALAFY-PENDRIKAN-LOR-SALAFY-PENDRIKAN-LOR-SALAFY-PENDRIKAN-LOR-SALAFY-PENDRIKAN-LOR-SALAFY-PENDRIKAN-LOR-SALAFY-PENDRIKAN-LOR-SALAFY-PENDRIKAN-LOR-SALAFY-PENDRIKAN-LOR-SALAFY-PENGGARON-KIDUL-SALAFY-PENGGARON-KIDUL-SALAFY-PENGGARON-KIDUL-SALAFY-PENGGARON-KIDUL-SALAFY-PENGGARON-KIDUL-SALAFY-PENGGARON-KIDUL-SALAFY-PENGGARON-KIDUL-SALAFY-PENGGARON-KIDUL-SALAFY-PENGGARON-KIDUL-SALAFY-PENGGARON-LOR-SALAFY-PENGGARON-LOR-SALAFY-PENGGARON-LOR-SALAFY-PENGGARON-LOR-SALAFY-PENGGARON-LOR-SALAFY-PENGGARON-LOR-SALAFY-PENGGARON-LOR-SALAFY-PENGGARON-LOR-SALAFY-PENGGARON-LOR-SALAFY-PESANTREN-SALAFY-PESANTREN-SALAFY-PESANTREN-SALAFY-PESANTREN-SALAFY-PESANTREN-SALAFY-PESANTREN-SALAFY-PESANTREN-SALAFY-PESANTREN-SALAFY-PESANTREN-SALAFY-PETERONGAN-SALAFY-PETERONGAN-SALAFY-PETERONGAN-SALAFY-PETERONGAN-SALAFY-PETERONGAN-SALAFY-PETERONGAN-SALAFY-PETERONGAN-SALAFY-PETERONGAN-SALAFY-PETERONGAN-SALAFY-PETOMPON-SALAFY-PETOMPON-SALAFY-PETOMPON-SALAFY-PETOMPON-SALAFY-PETOMPON-SALAFY-PETOMPON-SALAFY-PETOMPON-SALAFY-PETOMPON-SALAFY-PETOMPON-SALAFY-PLALANGAN-SALAFY-PLALANGAN-SALAFY-PLALANGAN-SALAFY-PLALANGAN-SALAFY-PLALANGAN-SALAFY-PLALANGAN-SALAFY-PLALANGAN-SALAFY-PLALANGAN-SALAFY-PLALANGAN-SALAFY-PLAMONGAN-SARI-SALAFY-PLAMONGAN-SARI-SALAFY-PLAMONGAN-SARI-SALAFY-PLAMONGAN-SARI-SALAFY-PLAMONGAN-SARI-SALAFY-PLAMONGAN-SARI-SALAFY-PLAMONGAN-SARI-SALAFY-PLAMONGAN-SARI-SALAFY-PLAMONGAN-SARI-SALAFY-PLEBURAN-SALAFY-PLEBURAN-SALAFY-PLEBURAN-SALAFY-PLEBURAN-SALAFY-PLEBURAN-SALAFY-PLEBURAN-SALAFY-PLEBURAN-SALAFY-PLEBURAN-SALAFY-PLEBURAN-SALAFY-PLOMBOKAN-SALAFY-PLOMBOKAN-SALAFY-PLOMBOKAN-SALAFY-PLOMBOKAN-SALAFY-PLOMBOKAN-SALAFY-PLOMBOKAN-SALAFY-PLOMBOKAN-SALAFY-PLOMBOKAN-SALAFY-PLOMBOKAN-SALAFY-PODOREJO-SALAFY-PODOREJO-SALAFY-PODOREJO-SALAFY-PODOREJO-SALAFY-PODOREJO-SALAFY-PODOREJO-SALAFY-PODOREJO-SALAFY-PODOREJO-SALAFY-PODOREJO-SALAFY-POLAMAN-SALAFY-POLAMAN-SALAFY-POLAMAN-SALAFY-POLAMAN-SALAFY-POLAMAN-SALAFY-POLAMAN-SALAFY-POLAMAN-SALAFY-POLAMAN-SALAFY-POLAMAN-SALAFY-PONGANGAN-SALAFY-PONGANGAN-SALAFY-PONGANGAN-SALAFY-PONGANGAN-SALAFY-PONGANGAN-SALAFY-PONGANGAN-SALAFY-PONGANGAN-SALAFY-PONGANGAN-SALAFY-PONGANGAN-SALAFY-PURWODINATAN-SALAFY-PURWODINATAN-SALAFY-PURWODINATAN-SALAFY-PURWODINATAN-SALAFY-PURWODINATAN-SALAFY-PURWODINATAN-SALAFY-PURWODINATAN-SALAFY-PURWODINATAN-SALAFY-PURWODINATAN-SALAFY-PURWOSARI-SALAFY-PURWOSARI-SALAFY-PURWOSARI-SALAFY-PURWOSARI-SALAFY-PURWOSARI-SALAFY-PURWOSARI-SALAFY-PURWOSARI-SALAFY-PURWOSARI-SALAFY-PURWOSARI-SALAFY-PURWOYOSO-SALAFY-PURWOYOSO-SALAFY-PURWOYOSO-SALAFY-PURWOYOSO-SALAFY-PURWOYOSO-SALAFY-PURWOYOSO-SALAFY-PURWOYOSO-SALAFY-PURWOYOSO-SALAFY-PURWOYOSO-TUKPENCARIALHAQ.COM-SALAFY-RANDU-GARUT-SALAFY-RANDU-GARUT-SALAFY-RANDU-GARUT-SALAFY-RANDU-GARUT-SALAFY-RANDU-GARUT-SALAFY-RANDU-GARUT-SALAFY-RANDU-GARUT-SALAFY-RANDU-GARUT-SALAFY-RANDU-GARUT-SALAFY-RANDUSARI-SALAFY-RANDUSARI-SALAFY-RANDUSARI-SALAFY-RANDUSARI-SALAFY-RANDUSARI-SALAFY-RANDUSARI-SALAFY-RANDUSARI-SALAFY-RANDUSARI-SALAFY-RANDUSARI-SALAFY-REJOMULYO-SALAFY-REJOMULYO-SALAFY-REJOMULYO-SALAFY-REJOMULYO-SALAFY-REJOMULYO-SALAFY-REJOMULYO-SALAFY-REJOMULYO-SALAFY-REJOMULYO-SALAFY-REJOMULYO-SALAFY-REJOSARI-SALAFY-REJOSARI-SALAFY-REJOSARI-SALAFY-REJOSARI-SALAFY-REJOSARI-SALAFY-REJOSARI-SALAFY-REJOSARI-SALAFY-REJOSARI-SALAFY-REJOSARI-SALAFY-ROWOSARI-SALAFY-ROWOSARI-SALAFY-ROWOSARI-SALAFY-ROWOSARI-SALAFY-ROWOSARI-SALAFY-ROWOSARI-SALAFY-ROWOSARI-SALAFY-ROWOSARI-SALAFY-ROWOSARI-SALAFY-SADENG-SALAFY-SADENG-SALAFY-SADENG-SALAFY-SADENG-SALAFY-SADENG-SALAFY-SADENG-SALAFY-SADENG-SALAFY-SADENG-SALAFY-SADENG-SALAFY-SALAMANMLOYO-SALAFY-SALAMANMLOYO-SALAFY-SALAMANMLOYO-SALAFY-SALAMANMLOYO-SALAFY-SALAMANMLOYO-SALAFY-SALAMANMLOYO-SALAFY-SALAMANMLOYO-SALAFY-SALAMANMLOYO-SALAFY-SALAMANMLOYO-SALAFY-SAMBIREJO-SALAFY-SAMBIREJO-SALAFY-SAMBIREJO-SALAFY-SAMBIREJO-SALAFY-SAMBIREJO-SALAFY-SAMBIREJO-SALAFY-SAMBIREJO-SALAFY-SAMBIREJO-SALAFY-SAMBIREJO-SALAFY-SAMBIROTO-SALAFY-SAMBIROTO-SALAFY-SAMBIROTO-SALAFY-SAMBIROTO-SALAFY-SAMBIROTO-SALAFY-SAMBIROTO-SALAFY-SAMBIROTO-SALAFY-SAMBIROTO-SALAFY-SAMBIROTO-SALAFY-SAMPANGAN-SALAFY-SAMPANGAN-SALAFY-SAMPANGAN-SALAFY-SAMPANGAN-SALAFY-SAMPANGAN-SALAFY-SAMPANGAN-SALAFY-SAMPANGAN-SALAFY-SAMPANGAN-SALAFY-SAMPANGAN-SALAFY-SARIREJO-SALAFY-SARIREJO-SALAFY-SARIREJO-SALAFY-SARIREJO-SALAFY-SARIREJO-SALAFY-SARIREJO-SALAFY-SARIREJO-SALAFY-SARIREJO-SALAFY-SARIREJO-SALAFY-SAWAH-BESAR-SALAFY-SAWAH-BESAR-SALAFY-SAWAH-BESAR-SALAFY-SAWAH-BESAR-SALAFY-SAWAH-BESAR-SALAFY-SAWAH-BESAR-SALAFY-SAWAH-BESAR-SALAFY-SAWAH-BESAR-SALAFY-SAWAH-BESAR-SALAFY-SEKARAN-SALAFY-SEKARAN-SALAFY-SEKARAN-SALAFY-SEKARAN-SALAFY-SEKARAN-SALAFY-SEKARAN-SALAFY-SEKARAN-SALAFY-SEKARAN-SALAFY-SEKARAN-SALAFY-SEKAYU-SALAFY-SEKAYU-SALAFY-SEKAYU-SALAFY-SEKAYU-SALAFY-SEKAYU-SALAFY-SEKAYU-SALAFY-SEKAYU-SALAFY-SEKAYU-SALAFY-SEKAYU-SALAFY-SEMARANG-SALAFY-SEMARANG-SALAFY-SEMARANG-SALAFY-SEMARANG-SALAFY-SEMARANG-SALAFY-SEMARANG-SALAFY-SEMARANG-SALAFY-SEMARANG-SALAFY-SEMARANG-SALAFY-SEMBUNGHARJO-SALAFY-SEMBUNGHARJO-SALAFY-SEMBUNGHARJO-SALAFY-SEMBUNGHARJO-SALAFY-SEMBUNGHARJO-SALAFY-SEMBUNGHARJO-SALAFY-SEMBUNGHARJO-SALAFY-SEMBUNGHARJO-SALAFY-SEMBUNGHARJO-SALAFY-SENDANGGUWO-SALAFY-SENDANGGUWO-SALAFY-SENDANGGUWO-SALAFY-SENDANGGUWO-SALAFY-SENDANGGUWO-SALAFY-SENDANGGUWO-SALAFY-SENDANGGUWO-SALAFY-SENDANGGUWO-SALAFY-SENDANGGUWO-SALAFY-SENDANGMULYO-SALAFY-SENDANGMULYO-SALAFY-SENDANGMULYO-SALAFY-SENDANGMULYO-SALAFY-SENDANGMULYO-SALAFY-SENDANGMULYO-SALAFY-SENDANGMULYO-SALAFY-SENDANGMULYO-SALAFY-SENDANGMULYO-SALAFY-SIWALAN-SALAFY-SIWALAN-SALAFY-SIWALAN-SALAFY-SIWALAN-SALAFY-SIWALAN-SALAFY-SIWALAN-SALAFY-SIWALAN-SALAFY-SIWALAN-SALAFY-SIWALAN-SALAFY-SRONDOL-KULON-SALAFY-SRONDOL-KULON-SALAFY-SRONDOL-KULON-SALAFY-SRONDOL-KULON-SALAFY-SRONDOL-KULON-SALAFY-SRONDOL-KULON-SALAFY-SRONDOL-KULON-SALAFY-SRONDOL-KULON-SALAFY-SRONDOL-KULON-SALAFY-SRONDOL-WETAN-SALAFY-SRONDOL-WETAN-SALAFY-SRONDOL-WETAN-SALAFY-SRONDOL-WETAN-SALAFY-SRONDOL-WETAN-SALAFY-SRONDOL-WETAN-SALAFY-SRONDOL-WETAN-SALAFY-SRONDOL-WETAN-SALAFY-SRONDOL-WETAN-SALAFY-SUKOREJO-SALAFY-SUKOREJO-SALAFY-SUKOREJO-SALAFY-SUKOREJO-SALAFY-SUKOREJO-SALAFY-SUKOREJO-SALAFY-SUKOREJO-SALAFY-SUKOREJO-SALAFY-SUKOREJO-SALAFY-SUMURBOTO-SALAFY-SUMURBOTO-SALAFY-SUMURBOTO-SALAFY-SUMURBOTO-SALAFY-SUMURBOTO-SALAFY-SUMURBOTO-SALAFY-SUMURBOTO-SALAFY-SUMURBOTO-SALAFY-SUMURBOTO-SALAFY-SUMUREJO-SALAFY-SUMUREJO-SALAFY-SUMUREJO-SALAFY-SUMUREJO-SALAFY-SUMUREJO-SALAFY-SUMUREJO-SALAFY-SUMUREJO-SALAFY-SUMUREJO-SALAFY-SUMUREJO-RII-SALAFY-TAMBAK-AJI-SALAFY-TAMBAK-AJI-SALAFY-TAMBAK-AJI-SALAFY-TAMBAK-AJI-SALAFY-TAMBAK-AJI-SALAFY-TAMBAK-AJI-SALAFY-TAMBAK-AJI-SALAFY-TAMBAK-AJI-SALAFY-TAMBAK-AJI-SALAFY-TAMBAKHARJO-SALAFY-TAMBAKHARJO-SALAFY-TAMBAKHARJO-SALAFY-TAMBAKHARJO-SALAFY-TAMBAKHARJO-SALAFY-TAMBAKHARJO-SALAFY-TAMBAKHARJO-SALAFY-TAMBAKHARJO-SALAFY-TAMBAKHARJO-SALAFY-TAMBAKREJO-SALAFY-TAMBAKREJO-SALAFY-TAMBAKREJO-SALAFY-TAMBAKREJO-SALAFY-TAMBAKREJO-SALAFY-TAMBAKREJO-SALAFY-TAMBAKREJO-SALAFY-TAMBAKREJO-SALAFY-TAMBAKREJO-SALAFY-TAMBANGAN-SALAFY-TAMBANGAN-SALAFY-TAMBANGAN-SALAFY-TAMBANGAN-SALAFY-TAMBANGAN-SALAFY-TAMBANGAN-SALAFY-TAMBANGAN-SALAFY-TAMBANGAN-SALAFY-TAMBANGAN-SALAFY-TANDANG-SALAFY-TANDANG-SALAFY-TANDANG-SALAFY-TANDANG-SALAFY-TANDANG-SALAFY-TANDANG-SALAFY-TANDANG-SALAFY-TANDANG-SALAFY-TANDANG-SALAFY-TANJUNGMAS-SALAFY-TANJUNGMAS-SALAFY-TANJUNGMAS-SALAFY-TANJUNGMAS-SALAFY-TANJUNGMAS-SALAFY-TANJUNGMAS-SALAFY-TANJUNGMAS-SALAFY-TANJUNGMAS-SALAFY-TANJUNGMAS-SALAFY-TAWANGMAS-SALAFY-TAWANGMAS-SALAFY-TAWANGMAS-SALAFY-TAWANGMAS-SALAFY-TAWANGMAS-SALAFY-TAWANGMAS-SALAFY-TAWANGMAS-SALAFY-TAWANGMAS-SALAFY-TAWANGMAS-SALAFY-TAWANGSARI-SALAFY-TAWANGSARI-SALAFY-TAWANGSARI-SALAFY-TAWANGSARI-SALAFY-TAWANGSARI-SALAFY-TAWANGSARI-SALAFY-TAWANGSARI-SALAFY-TAWANGSARI-SALAFY-TAWANGSARI-SALAFY-TEGALSARI-SALAFY-TEGALSARI-SALAFY-TEGALSARI-SALAFY-TEGALSARI-SALAFY-TEGALSARI-SALAFY-TEGALSARI-SALAFY-TEGALSARI-SALAFY-TEGALSARI-SALAFY-TEGALSARI-SALAFY-TEMBALANG-SALAFY-TEMBALANG-SALAFY-TEMBALANG-SALAFY-TEMBALANG-SALAFY-TEMBALANG-SALAFY-TEMBALANG-SALAFY-TEMBALANG-SALAFY-TEMBALANG-SALAFY-TEMBALANG-SALAFY-TERBOYO-KULON-SALAFY-TERBOYO-KULON-SALAFY-TERBOYO-KULON-SALAFY-TERBOYO-KULON-SALAFY-TERBOYO-KULON-SALAFY-TERBOYO-KULON-SALAFY-TERBOYO-KULON-SALAFY-TERBOYO-KULON-SALAFY-TERBOYO-KULON-SALAFY-TERBOYO-WETAN-SALAFY-TERBOYO-WETAN-SALAFY-TERBOYO-WETAN-SALAFY-TERBOYO-WETAN-SALAFY-TERBOYO-WETAN-SALAFY-TERBOYO-WETAN-SALAFY-TERBOYO-WETAN-SALAFY-TERBOYO-WETAN-SALAFY-TERBOYO-WETAN-SALAFY-TINJOMOYO-SALAFY-TINJOMOYO-SALAFY-TINJOMOYO-SALAFY-TINJOMOYO-SALAFY-TINJOMOYO-SALAFY-TINJOMOYO-SALAFY-TINJOMOYO-SALAFY-TINJOMOYO-SALAFY-TINJOMOYO-SALAFY-TLOGOMULYO-SALAFY-TLOGOMULYO-SALAFY-TLOGOMULYO-SALAFY-TLOGOMULYO-SALAFY-TLOGOMULYO-SALAFY-TLOGOMULYO-SALAFY-TLOGOMULYO-SALAFY-TLOGOMULYO-SALAFY-TLOGOMULYO-SALAFY-TLOGOSARI-KULON-SALAFY-TLOGOSARI-KULON-SALAFY-TLOGOSARI-KULON-SALAFY-TLOGOSARI-KULON-SALAFY-TLOGOSARI-KULON-SALAFY-TLOGOSARI-KULON-SALAFY-TLOGOSARI-KULON-SALAFY-TLOGOSARI-KULON-SALAFY-TLOGOSARI-KULON-SALAFY-TLOGOSARI-WETAN-SALAFY-TLOGOSARI-WETAN-SALAFY-TLOGOSARI-WETAN-SALAFY-TLOGOSARI-WETAN-SALAFY-TLOGOSARI-WETAN-SALAFY-TLOGOSARI-WETAN-SALAFY-TLOGOSARI-WETAN-SALAFY-TLOGOSARI-WETAN-SALAFY-TLOGOSARI-WETAN-SALAFY-TRIMULYO-SALAFY-TRIMULYO-SALAFY-TRIMULYO-SALAFY-TRIMULYO-SALAFY-TRIMULYO-SALAFY-TRIMULYO-SALAFY-TRIMULYO-SALAFY-TRIMULYO-SALAFY-TRIMULYO-SALAFY-TUGUREJO-SALAFY-TUGUREJO-SALAFY-TUGUREJO-SALAFY-TUGUREJO-SALAFY-TUGUREJO-SALAFY-TUGUREJO-SALAFY-TUGUREJO-SALAFY-TUGUREJO-SALAFY-TUGUREJO-SALAFY-WONODRI-SALAFY-WONODRI-SALAFY-WONODRI-SALAFY-WONODRI-SALAFY-WONODRI-SALAFY-WONODRI-SALAFY-WONODRI-SALAFY-WONODRI-SALAFY-WONODRI-SALAFY-WONOLOPO-SALAFY-WONOLOPO-SALAFY-WONOLOPO-SALAFY-WONOLOPO-SALAFY-WONOLOPO-SALAFY-WONOLOPO-SALAFY-WONOLOPO-SALAFY-WONOLOPO-SALAFY-WONOLOPO-SALAFY-WONOPLUMBON-SALAFY-WONOPLUMBON-SALAFY-WONOPLUMBON-SALAFY-WONOPLUMBON-SALAFY-WONOPLUMBON-SALAFY-WONOPLUMBON-SALAFY-WONOPLUMBON-SALAFY-WONOPLUMBON-SALAFY-WONOPLUMBON-SALAFY-WONOSARI-SALAFY-WONOSARI-SALAFY-WONOSARI-SALAFY-WONOSARI-SALAFY-WONOSARI-SALAFY-WONOSARI-SALAFY-WONOSARI-SALAFY-WONOSARI-SALAFY-WONOSARI-SALAFY-WONOTINGAL-SALAFY-WONOTINGAL-SALAFY-WONOTINGAL-SALAFY-WONOTINGAL-SALAFY-WONOTINGAL-SALAFY-WONOTINGAL-SALAFY-WONOTINGAL-SALAFY-WONOTINGAL-SALAFY-WONOTINGAL-SALAFY.OR.ID-SALAFY-AMBARAWA-SALAFY-AMBARAWA-SALAFY-AMBARAWA-SALAFY-AMBARAWA-SALAFY-AMBARAWA-SALAFY-AMBARAWA-SALAFY-AMBARAWA-SALAFY-AMBARAWA-SALAFY-AMBARAWA-SALAFY-BAMBANKEREP-SALAFY-BAMBANKEREP-SALAFY-BAMBANKEREP-SALAFY-BAMBANKEREP-SALAFY-BAMBANKEREP-SALAFY-BAMBANKEREP-SALAFY-BAMBANKEREP-SALAFY-BAMBANKEREP-SALAFY-BAMBANKEREP-SALAFY-BANCAK-SALAFY-BANCAK-SALAFY-BANCAK-SALAFY-BANCAK-SALAFY-BANCAK-SALAFY-BANCAK-SALAFY-BANCAK-SALAFY-BANCAK-SALAFY-BANCAK-SALAFY-BANDUNGAN-SALAFY-BANDUNGAN-SALAFY-BANDUNGAN-SALAFY-BANDUNGAN-SALAFY-BANDUNGAN-SALAFY-BANDUNGAN-SALAFY-BANDUNGAN-SALAFY-BANDUNGAN-SALAFY-BANDUNGAN-SALAFY-BANGETAYU-KULON-SALAFY-BANGETAYU-KULON-SALAFY-BANGETAYU-KULON-SALAFY-BANGETAYU-KULON-SALAFY-BANGETAYU-KULON-SALAFY-BANGETAYU-KULON-SALAFY-BANGETAYU-KULON-SALAFY-BANGETAYU-KULON-SALAFY-BANGETAYU-KULON-SALAFY-BANGUNHARJO-SALAFY-BANGUNHARJO-SALAFY-BANGUNHARJO-SALAFY-BANGUNHARJO-SALAFY-BANGUNHARJO-SALAFY-BANGUNHARJO-SALAFY-BANGUNHARJO-SALAFY-BANGUNHARJO-SALAFY-BANGUNHARJO-SALAFY-BANJARNEGARA-SALAFY-BANJARNEGARA-SALAFY-BANJARNEGARA-SALAFY-BANJARNEGARA-SALAFY-BANJARNEGARA-SALAFY-BANJARNEGARA-SALAFY-BANJARNEGARA-SALAFY-BANJARNEGARA-SALAFY-BANJARNEGARA-SALAFY-BANYUBIRU-SALAFY-BANYUBIRU-SALAFY-BANYUBIRU-SALAFY-BANYUBIRU-SALAFY-BANYUBIRU-SALAFY-BANYUBIRU-SALAFY-BANYUBIRU-SALAFY-BANYUBIRU-SALAFY-BANYUBIRU-SALAFY-BANYUMANIK-SALAFY-BANYUMANIK-SALAFY-BANYUMANIK-SALAFY-BANYUMANIK-SALAFY-BANYUMANIK-SALAFY-BANYUMANIK-SALAFY-BANYUMANIK-SALAFY-BANYUMANIK-SALAFY-BANYUMANIK-SALAFY-BANYUMAS-SALAFY-BANYUMAS-SALAFY-BANYUMAS-SALAFY-BANYUMAS-SALAFY-BANYUMAS-SALAFY-BANYUMAS-SALAFY-BANYUMAS-SALAFY-BANYUMAS-SALAFY-BANYUMAS-SALAFY-BARUSARI-SALAFY-BARUSARI-SALAFY-BARUSARI-SALAFY-BARUSARI-SALAFY-BARUSARI-SALAFY-BARUSARI-SALAFY-BARUSARI-SALAFY-BARUSARI-SALAFY-BARUSARI-SALAFY-BATANG-SALAFY-BATANG-SALAFY-BATANG-SALAFY-BATANG-SALAFY-BATANG-SALAFY-BATANG-SALAFY-BATANG-SALAFY-BATANG-SALAFY-BATANG-SALAFY-BAWEN-SALAFY-BAWEN-SALAFY-BAWEN-SALAFY-BAWEN-SALAFY-BAWEN-SALAFY-BAWEN-SALAFY-BAWEN-SALAFY-BAWEN-SALAFY-BAWEN-SALAFY-BENDANDUWUR-SALAFY-BENDANDUWUR-SALAFY-BENDANDUWUR-SALAFY-BENDANDUWUR-SALAFY-BENDANDUWUR-SALAFY-BENDANDUWUR-SALAFY-BENDANDUWUR-SALAFY-BENDANDUWUR-SALAFY-BENDANDUWUR-SALAFY-BERGAS-SALAFY-BERGAS-SALAFY-BERGAS-SALAFY-BERGAS-SALAFY-BERGAS-SALAFY-BERGAS-SALAFY-BERGAS-SALAFY-BERGAS-SALAFY-BERGAS-SALAFY-BLORA-SALAFY-BLORA-SALAFY-BLORA-SALAFY-BLORA-SALAFY-BLORA-SALAFY-BLORA-SALAFY-BLORA-SALAFY-BLORA-SALAFY-BLORA-SALAFY-BOJONGSALAMAN-SALAFY-BOJONGSALAMAN-SALAFY-BOJONGSALAMAN-SALAFY-BOJONGSALAMAN-SALAFY-BOJONGSALAMAN-SALAFY-BOJONGSALAMAN-SALAFY-BOJONGSALAMAN-SALAFY-BOJONGSALAMAN-SALAFY-BOJONGSALAMAN-SALAFY-BOYOLALI-SALAFY-BOYOLALI-SALAFY-BOYOLALI-SALAFY-BOYOLALI-SALAFY-BOYOLALI-SALAFY-BOYOLALI-SALAFY-BOYOLALI-SALAFY-BOYOLALI-SALAFY-BOYOLALI-SALAFY-BREBES-SALAFY-BREBES-SALAFY-BREBES-SALAFY-BREBES-SALAFY-BREBES-SALAFY-BREBES-SALAFY-BREBES-SALAFY-BREBES-SALAFY-BREBES-SALAFY-BRINGIN-SALAFY-BRINGIN-SALAFY-BRINGIN-SALAFY-BRINGIN-SALAFY-BRINGIN-SALAFY-BRINGIN-SALAFY-BRINGIN-SALAFY-BRINGIN-SALAFY-BRINGIN-SALAFY-BUBAKAN-SALAFY-BUBAKAN-SALAFY-BUBAKAN-SALAFY-BUBAKAN-SALAFY-BUBAKAN-SALAFY-BUBAKAN-SALAFY-BUBAKAN-SALAFY-BUBAKAN-SALAFY-BUBAKAN-SALAFY-BUGANGAN-SALAFY-BUGANGAN-SALAFY-BUGANGAN-SALAFY-BUGANGAN-SALAFY-BUGANGAN-SALAFY-BUGANGAN-SALAFY-BUGANGAN-SALAFY-BUGANGAN-SALAFY-BUGANGAN-SALAFY-BULU-LOR-SALAFY-BULU-LOR-SALAFY-BULU-LOR-SALAFY-BULU-LOR-SALAFY-BULU-LOR-SALAFY-BULU-LOR-SALAFY-BULU-LOR-SALAFY-BULU-LOR-SALAFY-BULU-LOR-SALAFY-BULUSAN-SALAFY-BULUSAN-SALAFY-BULUSAN-SALAFY-BULUSAN-SALAFY-BULUSAN-SALAFY-BULUSAN-SALAFY-BULUSAN-SALAFY-BULUSAN-SALAFY-BULUSAN-SALAFY-BUMIAYU-SALAFY-BUMIAYU-SALAFY-BUMIAYU-SALAFY-BUMIAYU-SALAFY-BUMIAYU-SALAFY-BUMIAYU-SALAFY-BUMIAYU-SALAFY-BUMIAYU-SALAFY-BUMIAYU-SALAFY-CANDI-SALAFY-CANDI-SALAFY-CANDI-SALAFY-CANDI-SALAFY-CANDI-SALAFY-CANDI-SALAFY-CANDI-SALAFY-CANDI-SALAFY-CANDI-SALAFY-CANDISARI-SALAFY-CANDISARI-SALAFY-CANDISARI-SALAFY-CANDISARI-SALAFY-CANDISARI-SALAFY-CANDISARI-SALAFY-CANDISARI-SALAFY-CANDISARI-SALAFY-CANDISARI-SALAFY-CEPOKO-SALAFY-CEPOKO-SALAFY-CEPOKO-SALAFY-CEPOKO-SALAFY-CEPOKO-SALAFY-CEPOKO-SALAFY-CEPOKO-SALAFY-CEPOKO-SALAFY-CEPOKO-SALAFY-CEPU-SALAFY-CEPU-SALAFY-CEPU-SALAFY-CEPU-SALAFY-CEPU-SALAFY-CEPU-SALAFY-CEPU-SALAFY-CEPU-SALAFY-CEPU-SALAFY-CILACAP-SALAFY-CILACAP-SALAFY-CILACAP-SALAFY-CILACAP-SALAFY-CILACAP-SALAFY-CILACAP-SALAFY-CILACAP-SALAFY-CILACAP-SALAFY-CILACAP-SALAFY-DEMAK-SALAFY-DEMAK-SALAFY-DEMAK-SALAFY-DEMAK-SALAFY-DEMAK-SALAFY-DEMAK-SALAFY-DEMAK-SALAFY-DEMAK-SALAFY-DEMAK-SALAFYS.COM-SALAFY-GAJAHMUNGKUR-SALAFY-GAJAHMUNGKUR-SALAFY-GAJAHMUNGKUR-SALAFY-GAJAHMUNGKUR-SALAFY-GAJAHMUNGKUR-SALAFY-GAJAHMUNGKUR-SALAFY-GAJAHMUNGKUR-SALAFY-GAJAHMUNGKUR-SALAFY-GAJAHMUNGKUR-SALAFY-GAYAMSARI-SALAFY-GAYAMSARI-SALAFY-GAYAMSARI-SALAFY-GAYAMSARI-SALAFY-GAYAMSARI-SALAFY-GAYAMSARI-SALAFY-GAYAMSARI-SALAFY-GAYAMSARI-SALAFY-GAYAMSARI-SALAFY-GEMAH-SALAFY-GEMAH-SALAFY-GEMAH-SALAFY-GEMAH-SALAFY-GEMAH-SALAFY-GEMAH-SALAFY-GEMAH-SALAFY-GEMAH-SALAFY-GEMAH-SALAFY-GENUK-SALAFY-GENUK-SALAFY-GENUK-SALAFY-GENUK-SALAFY-GENUK-SALAFY-GENUK-SALAFY-GENUK-SALAFY-GENUK-SALAFY-GENUK-SALAFY-GETASAN-SALAFY-GETASAN-SALAFY-GETASAN-SALAFY-GETASAN-SALAFY-GETASAN-SALAFY-GETASAN-SALAFY-GETASAN-SALAFY-GETASAN-SALAFY-GETASAN-SALAFY-GODONG-SALAFY-GODONG-SALAFY-GODONG-SALAFY-GODONG-SALAFY-GODONG-SALAFY-GODONG-SALAFY-GODONG-SALAFY-GODONG-SALAFY-GODONG-SALAFY-GROBOGAN-SALAFY-GROBOGAN-SALAFY-GROBOGAN-SALAFY-GROBOGAN-SALAFY-GROBOGAN-SALAFY-GROBOGAN-SALAFY-GROBOGAN-SALAFY-GROBOGAN-SALAFY-GROBOGAN-SALAFY-GUBUG-SALAFY-GUBUG-SALAFY-GUBUG-SALAFY-GUBUG-SALAFY-GUBUG-SALAFY-GUBUG-SALAFY-GUBUG-SALAFY-GUBUG-SALAFY-GUBUG-SALAFY-GUNUNGPATI-SALAFY-GUNUNGPATI-SALAFY-GUNUNGPATI-SALAFY-GUNUNGPATI-SALAFY-GUNUNGPATI-SALAFY-GUNUNGPATI-SALAFY-GUNUNGPATI-SALAFY-GUNUNGPATI-SALAFY-GUNUNGPATI-SALAFY-JAMBU-SALAFY-JAMBU-SALAFY-JAMBU-SALAFY-JAMBU-SALAFY-JAMBU-SALAFY-JAMBU-SALAFY-JAMBU-SALAFY-JAMBU-SALAFY-JAMBU-SALAFY-JATENG-SALAFY-JATENG-SALAFY-JATENG-SALAFY-JATENG-SALAFY-JATENG-SALAFY-JATENG-SALAFY-JATENG-SALAFY-JATENG-SALAFY-JATENG-SALAFY-JATIBARANG-SALAFY-JATIBARANG-SALAFY-JATIBARANG-SALAFY-JATIBARANG-SALAFY-JATIBARANG-SALAFY-JATIBARANG-SALAFY-JATIBARANG-SALAFY-JATIBARANG-SALAFY-JATIBARANG-SALAFY-JAWA-TENGAH-SALAFY-JAWA-TENGAH-SALAFY-JAWA-TENGAH-SALAFY-JAWA-TENGAH-SALAFY-JAWA-TENGAH-SALAFY-JAWA-TENGAH-SALAFY-JAWA-TENGAH-SALAFY-JAWA-TENGAH-SALAFY-JAWA-TENGAH-SALAFY-JEPARA-SALAFY-JEPARA-SALAFY-JEPARA-SALAFY-JEPARA-SALAFY-JEPARA-SALAFY-JEPARA-SALAFY-JEPARA-SALAFY-JEPARA-SALAFY-JEPARA-SALAFY-JERAKAH-SALAFY-JERAKAH-SALAFY-JERAKAH-SALAFY-JERAKAH-SALAFY-JERAKAH-SALAFY-JERAKAH-SALAFY-JERAKAH-SALAFY-JERAKAH-SALAFY-JERAKAH-SALAFY-JUWANA-SALAFY-JUWANA-SALAFY-JUWANA-SALAFY-JUWANA-SALAFY-JUWANA-SALAFY-JUWANA-SALAFY-JUWANA-SALAFY-JUWANA-SALAFY-JUWANA-SALAFY-KAJEN-SALAFY-KAJEN-SALAFY-KAJEN-SALAFY-KAJEN-SALAFY-KAJEN-SALAFY-KAJEN-SALAFY-KAJEN-SALAFY-KAJEN-SALAFY-KAJEN-SALAFY-KALIWUNGU-SALAFY-KALIWUNGU-SALAFY-KALIWUNGU-SALAFY-KALIWUNGU-SALAFY-KALIWUNGU-SALAFY-KALIWUNGU-SALAFY-KALIWUNGU-SALAFY-KALIWUNGU-SALAFY-KALIWUNGU-SALAFY-KARANGANYAR-SALAFY-KARANGANYAR-SALAFY-KARANGANYAR-SALAFY-KARANGANYAR-SALAFY-KARANGANYAR-SALAFY-KARANGANYAR-SALAFY-KARANGANYAR-SALAFY-KARANGANYAR-SALAFY-KARANGANYAR-SALAFY-KEBUMEN-SALAFY-KEBUMEN-SALAFY-KEBUMEN-SALAFY-KEBUMEN-SALAFY-KEBUMEN-SALAFY-KEBUMEN-SALAFY-KEBUMEN-SALAFY-KEBUMEN-SALAFY-KEBUMEN-SALAFY-KEDU-SALAFY-KEDU-SALAFY-KEDU-SALAFY-KEDU-SALAFY-KEDU-SALAFY-KEDU-SALAFY-KEDU-SALAFY-KEDU-SALAFY-KEDU-SALAFY-KENDAL-SALAFY-KENDAL-SALAFY-KENDAL-SALAFY-KENDAL-SALAFY-KENDAL-SALAFY-KENDAL-SALAFY-KENDAL-SALAFY-KENDAL-SALAFY-KENDAL-SALAFY-KLATEN-SALAFY-KLATEN-SALAFY-KLATEN-SALAFY-KLATEN-SALAFY-KLATEN-SALAFY-KLATEN-SALAFY-KLATEN-SALAFY-KLATEN-SALAFY-KLATEN-SALAFY-KUDUS-SALAFY-KUDUS-SALAFY-KUDUS-SALAFY-KUDUS-SALAFY-KUDUS-SALAFY-KUDUS-SALAFY-KUDUS-SALAFY-KUDUS-SALAFY-KUDUS-SALAFY-MAGELANG-SALAFY-MAGELANG-SALAFY-MAGELANG-SALAFY-MAGELANG-SALAFY-MAGELANG-SALAFY-MAGELANG-SALAFY-MAGELANG-SALAFY-MAGELANG-SALAFY-MAGELANG-SALAFY-MIJEN-SALAFY-MIJEN-SALAFY-MIJEN-SALAFY-MIJEN-SALAFY-MIJEN-SALAFY-MIJEN-SALAFY-MIJEN-SALAFY-MIJEN-SALAFY-MIJEN-SALAFY-MUNGKID-SALAFY-MUNGKID-SALAFY-MUNGKID-SALAFY-MUNGKID-SALAFY-MUNGKID-SALAFY-MUNGKID-SALAFY-MUNGKID-SALAFY-MUNGKID-SALAFY-MUNGKID-SALAFY-NGALIYAN-SALAFY-NGALIYAN-SALAFY-NGALIYAN-SALAFY-NGALIYAN-SALAFY-NGALIYAN-SALAFY-NGALIYAN-SALAFY-NGALIYAN-SALAFY-NGALIYAN-SALAFY-NGALIYAN-TUKPENCARIALHAQ.COM-SALAFY-PABELAN-SALAFY-PABELAN-SALAFY-PABELAN-SALAFY-PABELAN-SALAFY-PABELAN-SALAFY-PABELAN-SALAFY-PABELAN-SALAFY-PABELAN-SALAFY-PABELAN-SALAFY-PATI-SALAFY-PATI-SALAFY-PATI-SALAFY-PATI-SALAFY-PATI-SALAFY-PATI-SALAFY-PATI-SALAFY-PATI-SALAFY-PATI-SALAFY-PEDURUNGAN-SALAFY-PEDURUNGAN-SALAFY-PEDURUNGAN-SALAFY-PEDURUNGAN-SALAFY-PEDURUNGAN-SALAFY-PEDURUNGAN-SALAFY-PEDURUNGAN-SALAFY-PEDURUNGAN-SALAFY-PEDURUNGAN-SALAFY-PEKALONGAN-SALAFY-PEKALONGAN-SALAFY-PEKALONGAN-SALAFY-PEKALONGAN-SALAFY-PEKALONGAN-SALAFY-PEKALONGAN-SALAFY-PEKALONGAN-SALAFY-PEKALONGAN-SALAFY-PEKALONGAN-SALAFY-PEMALANG-SALAFY-PEMALANG-SALAFY-PEMALANG-SALAFY-PEMALANG-SALAFY-PEMALANG-SALAFY-PEMALANG-SALAFY-PEMALANG-SALAFY-PEMALANG-SALAFY-PEMALANG-SALAFY-PLEBURAN-SALAFY-PLEBURAN-SALAFY-PLEBURAN-SALAFY-PLEBURAN-SALAFY-PLEBURAN-SALAFY-PLEBURAN-SALAFY-PLEBURAN-SALAFY-PLEBURAN-SALAFY-PLEBURAN-SALAFY-PRINGAPUS-SALAFY-PRINGAPUS-SALAFY-PRINGAPUS-SALAFY-PRINGAPUS-SALAFY-PRINGAPUS-SALAFY-PRINGAPUS-SALAFY-PRINGAPUS-SALAFY-PRINGAPUS-SALAFY-PRINGAPUS-SALAFY-PUDAKPAYUNG-SALAFY-PUDAKPAYUNG-SALAFY-PUDAKPAYUNG-SALAFY-PUDAKPAYUNG-SALAFY-PUDAKPAYUNG-SALAFY-PUDAKPAYUNG-SALAFY-PUDAKPAYUNG-SALAFY-PUDAKPAYUNG-SALAFY-PUDAKPAYUNG-SALAFY-PURBALINGGA-SALAFY-PURBALINGGA-SALAFY-PURBALINGGA-SALAFY-PURBALINGGA-SALAFY-PURBALINGGA-SALAFY-PURBALINGGA-SALAFY-PURBALINGGA-SALAFY-PURBALINGGA-SALAFY-PURBALINGGA-SALAFY-PURWODADI-SALAFY-PURWODADI-SALAFY-PURWODADI-SALAFY-PURWODADI-SALAFY-PURWODADI-SALAFY-PURWODADI-SALAFY-PURWODADI-SALAFY-PURWODADI-SALAFY-PURWODADI-SALAFY-PURWOKERTO-SALAFY-PURWOKERTO-SALAFY-PURWOKERTO-SALAFY-PURWOKERTO-SALAFY-PURWOKERTO-SALAFY-PURWOKERTO-SALAFY-PURWOKERTO-SALAFY-PURWOKERTO-SALAFY-PURWOKERTO-SALAFY-PURWOREJO-SALAFY-PURWOREJO-SALAFY-PURWOREJO-SALAFY-PURWOREJO-SALAFY-PURWOREJO-SALAFY-PURWOREJO-SALAFY-PURWOREJO-SALAFY-PURWOREJO-SALAFY-PURWOREJO-SALAFY-REMBANG-SALAFY-REMBANG-SALAFY-REMBANG-SALAFY-REMBANG-SALAFY-REMBANG-SALAFY-REMBANG-SALAFY-REMBANG-SALAFY-REMBANG-SALAFY-REMBANG-SALAFY-SALATIGA-SALAFY-SALATIGA-SALAFY-SALATIGA-SALAFY-SALATIGA-SALAFY-SALATIGA-SALAFY-SALATIGA-SALAFY-SALATIGA-SALAFY-SALATIGA-SALAFY-SALATIGA-SALAFY-SEMARANG-SALAFY-SEMARANG-SALAFY-SEMARANG-SALAFY-SEMARANG-SALAFY-SEMARANG-SALAFY-SEMARANG-SALAFY-SEMARANG-SALAFY-SEMARANG-SALAFY-SEMARANG-SALAFY-SEMARANG-BARAT-SALAFY-SEMARANG-BARAT-SALAFY-SEMARANG-BARAT-SALAFY-SEMARANG-BARAT-SALAFY-SEMARANG-BARAT-SALAFY-SEMARANG-BARAT-SALAFY-SEMARANG-BARAT-SALAFY-SEMARANG-BARAT-SALAFY-SEMARANG-BARAT-SALAFY-SEMARANG-SELATAN-SALAFY-SEMARANG-SELATAN-SALAFY-SEMARANG-SELATAN-SALAFY-SEMARANG-SELATAN-SALAFY-SEMARANG-SELATAN-SALAFY-SEMARANG-SELATAN-SALAFY-SEMARANG-SELATAN-SALAFY-SEMARANG-SELATAN-SALAFY-SEMARANG-SELATAN-SALAFY-SEMARANG-TENGAH-SALAFY-SEMARANG-TENGAH-SALAFY-SEMARANG-TENGAH-SALAFY-SEMARANG-TENGAH-SALAFY-SEMARANG-TENGAH-SALAFY-SEMARANG-TENGAH-SALAFY-SEMARANG-TENGAH-SALAFY-SEMARANG-TENGAH-SALAFY-SEMARANG-TENGAH-SALAFY-SEMARANG-TIMUR-SALAFY-SEMARANG-TIMUR-SALAFY-SEMARANG-TIMUR-SALAFY-SEMARANG-TIMUR-SALAFY-SEMARANG-TIMUR-SALAFY-SEMARANG-TIMUR-SALAFY-SEMARANG-TIMUR-SALAFY-SEMARANG-TIMUR-SALAFY-SEMARANG-TIMUR-SALAFY-SEMARANG-UTARA-SALAFY-SEMARANG-UTARA-SALAFY-SEMARANG-UTARA-SALAFY-SEMARANG-UTARA-SALAFY-SEMARANG-UTARA-SALAFY-SEMARANG-UTARA-SALAFY-SEMARANG-UTARA-SALAFY-SEMARANG-UTARA-SALAFY-SEMARANG-UTARA-SALAFY-SLAWI-SALAFY-SLAWI-SALAFY-SLAWI-SALAFY-SLAWI-SALAFY-SLAWI-SALAFY-SLAWI-SALAFY-SLAWI-SALAFY-SLAWI-SALAFY-SLAWI-SALAFY-SOLO-SALAFY-SOLO-SALAFY-SOLO-SALAFY-SOLO-SALAFY-SOLO-SALAFY-SOLO-SALAFY-SOLO-SALAFY-SOLO-SALAFY-SOLO-SALAFY-SRAGEN-SALAFY-SRAGEN-SALAFY-SRAGEN-SALAFY-SRAGEN-SALAFY-SRAGEN-SALAFY-SRAGEN-SALAFY-SRAGEN-SALAFY-SRAGEN-SALAFY-SRAGEN-SALAFY-SRONDOL-SALAFY-SRONDOL-SALAFY-SRONDOL-SALAFY-SRONDOL-SALAFY-SRONDOL-SALAFY-SRONDOL-SALAFY-SRONDOL-SALAFY-SRONDOL-SALAFY-SRONDOL-SALAFY-SUKOHARJO-SALAFY-SUKOHARJO-SALAFY-SUKOHARJO-SALAFY-SUKOHARJO-SALAFY-SUKOHARJO-SALAFY-SUKOHARJO-SALAFY-SUKOHARJO-SALAFY-SUKOHARJO-SALAFY-SUKOHARJO-SALAFY-SUMOWONO-SALAFY-SUMOWONO-SALAFY-SUMOWONO-SALAFY-SUMOWONO-SALAFY-SUMOWONO-SALAFY-SUMOWONO-SALAFY-SUMOWONO-SALAFY-SUMOWONO-SALAFY-SUMOWONO-SALAFY-SURAKARTA-SALAFY-SURAKARTA-SALAFY-SURAKARTA-SALAFY-SURAKARTA-SALAFY-SURAKARTA-SALAFY-SURAKARTA-SALAFY-SURAKARTA-SALAFY-SURAKARTA-SALAFY-SURAKARTA-SALAFY-SURUH-SALAFY-SURUH-SALAFY-SURUH-SALAFY-SURUH-SALAFY-SURUH-SALAFY-SURUH-SALAFY-SURUH-SALAFY-SURUH-SALAFY-SURUH-SALAFY-SUSUKAN-SALAFY-SUSUKAN-SALAFY-SUSUKAN-SALAFY-SUSUKAN-SALAFY-SUSUKAN-SALAFY-SUSUKAN-SALAFY-SUSUKAN-SALAFY-SUSUKAN-SALAFY-SUSUKAN-SALAFY-TEGAL-SALAFY-TEGAL-SALAFY-TEGAL-SALAFY-TEGAL-SALAFY-TEGAL-SALAFY-TEGAL-SALAFY-TEGAL-SALAFY-TEGAL-SALAFY-TEGAL-SALAFY-TEMANGGUNG-SALAFY-TEMANGGUNG-SALAFY-TEMANGGUNG-SALAFY-TEMANGGUNG-SALAFY-TEMANGGUNG-SALAFY-TEMANGGUNG-SALAFY-TEMANGGUNG-SALAFY-TEMANGGUNG-SALAFY-TEMANGGUNG-SALAFY-TEMBALANG-SALAFY-TEMBALANG-SALAFY-TEMBALANG-SALAFY-TEMBALANG-SALAFY-TEMBALANG-SALAFY-TEMBALANG-SALAFY-TEMBALANG-SALAFY-TEMBALANG-SALAFY-TEMBALANG-SALAFY-TENGARAN-SALAFY-TENGARAN-SALAFY-TENGARAN-SALAFY-TENGARAN-SALAFY-TENGARAN-SALAFY-TENGARAN-SALAFY-TENGARAN-SALAFY-TENGARAN-SALAFY-TENGARAN-SALAFY-TUGU-SALAFY-TUGU-SALAFY-TUGU-SALAFY-TUGU-SALAFY-TUGU-SALAFY-TUGU-SALAFY-TUGU-SALAFY-TUGU-SALAFY-TUGU-SALAFY-TUNTANG-SALAFY-TUNTANG-SALAFY-TUNTANG-SALAFY-TUNTANG-SALAFY-TUNTANG-SALAFY-TUNTANG-SALAFY-TUNTANG-SALAFY-TUNTANG-SALAFY-TUNTANG-SALAFY-UNDIP-SALAFY-UNDIP-SALAFY-UNDIP-SALAFY-UNDIP-SALAFY-UNDIP-SALAFY-UNDIP-SALAFY-UNDIP-SALAFY-UNDIP-SALAFY-UNDIP-SALAFY-UNGARAN-SALAFY-UNGARAN-SALAFY-UNGARAN-SALAFY-UNGARAN-SALAFY-UNGARAN-SALAFY-UNGARAN-SALAFY-UNGARAN-SALAFY-UNGARAN-SALAFY-UNGARAN-SALAFY-UNNES-SALAFY-UNNES-SALAFY-UNNES-SALAFY-UNNES-SALAFY-UNNES-SALAFY-UNNES-SALAFY-UNNES-SALAFY-UNNES-SALAFY-UNNES-SALAFY-WIROSARI-SALAFY-WIROSARI-SALAFY-WIROSARI-SALAFY-WIROSARI-SALAFY-WIROSARI-SALAFY-WIROSARI-SALAFY-WIROSARI-SALAFY-WIROSARI-SALAFY-WIROSARI-SALAFY-WONOGIRI-SALAFY-WONOGIRI-SALAFY-WONOGIRI-SALAFY-WONOGIRI-SALAFY-WONOGIRI-SALAFY-WONOGIRI-SALAFY-WONOGIRI-SALAFY-WONOGIRI-SALAFY-WONOGIRI-SALAFY-WONOSOBO-SALAFY-WONOSOBO-SALAFY-WONOSOBO-SALAFY-WONOSOBO-SALAFY-WONOSOBO-SALAFY-WONOSOBO-SALAFY-WONOSOBO-SALAFY-WONOSOBO-SALAFY-WONOSOBO-SALAFY-BANTUL-SALAFY-BANTUL-SALAFY-BANTUL-SALAFY-BANTUL-SALAFY-BANTUL-SALAFY-BANTUL-SALAFY-BANTUL-SALAFY-BANTUL-SALAFY-BANTUL-SALAFY-GUNUNGKIDUL-SALAFY-GUNUNGKIDUL-SALAFY-GUNUNGKIDUL-SALAFY-GUNUNGKIDUL-SALAFY-GUNUNGKIDUL-SALAFY-GUNUNGKIDUL-SALAFY-GUNUNGKIDUL-SALAFY-GUNUNGKIDUL-SALAFY-GUNUNGKIDUL-SALAFY-JOGJA-SALAFY-JOGJA-SALAFY-JOGJA-SALAFY-JOGJA-SALAFY-JOGJA-SALAFY-JOGJA-SALAFY-JOGJA-SALAFY-JOGJA-SALAFY-JOGJA-SALAFY-JOGJAKARTA-SALAFY-JOGJAKARTA-SALAFY-JOGJAKARTA-SALAFY-JOGJAKARTA-SALAFY-JOGJAKARTA-SALAFY-JOGJAKARTA-SALAFY-JOGJAKARTA-SALAFY-JOGJAKARTA-SALAFY-JOGJAKARTA-RII-SALAFY-KULON-PROGO-SALAFY-KULON-PROGO-SALAFY-KULON-PROGO-SALAFY-KULON-PROGO-SALAFY-KULON-PROGO-SALAFY-KULON-PROGO-SALAFY-KULON-PROGO-SALAFY-KULON-PROGO-SALAFY-KULON-PROGO-SALAFY-SLEMAN-SALAFY-SLEMAN-SALAFY-SLEMAN-SALAFY-SLEMAN-SALAFY-SLEMAN-SALAFY-SLEMAN-SALAFY-SLEMAN-SALAFY-SLEMAN-SALAFY-SLEMAN-SALAFY-WATES-SALAFY-WATES-SALAFY-WATES-SALAFY-WATES-SALAFY-WATES-SALAFY-WATES-SALAFY-WATES-SALAFY-WATES-SALAFY-WATES-SALAFY-WONOSARI-SALAFY-WONOSARI-SALAFY-WONOSARI-SALAFY-WONOSARI-SALAFY-WONOSARI-SALAFY-WONOSARI-SALAFY-WONOSARI-SALAFY-WONOSARI-SALAFY-WONOSARI-SALAFY-YOGYAKARTA-SALAFY-YOGYAKARTA-SALAFY-YOGYAKARTA-SALAFY-YOGYAKARTA-SALAFY-YOGYAKARTA-SALAFY-YOGYAKARTA-SALAFY-YOGYAKARTA-SALAFY-YOGYAKARTA-SALAFY-YOGYAKARTA-SALAFY-BANGIL-SALAFY-BANGIL-SALAFY-BANGIL-SALAFY-BANGIL-SALAFY-BANGIL-SALAFY-BANGIL-SALAFY-BANGIL-SALAFY-BANGIL-SALAFY-BANGIL-SALAFY-BANGKALAN-SALAFY-BANGKALAN-SALAFY-BANGKALAN-SALAFY-BANGKALAN-SALAFY-BANGKALAN-SALAFY-BANGKALAN-SALAFY-BANGKALAN-SALAFY-BANGKALAN-SALAFY-BANGKALAN-SALAFY-BANYUWANGI-SALAFY-BANYUWANGI-SALAFY-BANYUWANGI-SALAFY-BANYUWANGI-SALAFY-BANYUWANGI-SALAFY-BANYUWANGI-SALAFY-BANYUWANGI-SALAFY-BANYUWANGI-SALAFY-BANYUWANGI-SALAFY-BATU-SALAFY-BATU-SALAFY-BATU-SALAFY-BATU-SALAFY-BATU-SALAFY-BATU-SALAFY-BATU-SALAFY-BATU-SALAFY-BATU-SALAFY-BLITAR-SALAFY-BLITAR-SALAFY-BLITAR-SALAFY-BLITAR-SALAFY-BLITAR-SALAFY-BLITAR-SALAFY-BLITAR-SALAFY-BLITAR-SALAFY-BLITAR-SALAFY-BOJONEGORO-SALAFY-BOJONEGORO-SALAFY-BOJONEGORO-SALAFY-BOJONEGORO-SALAFY-BOJONEGORO-SALAFY-BOJONEGORO-SALAFY-BOJONEGORO-SALAFY-BOJONEGORO-SALAFY-BOJONEGORO-SALAFY-BONDOWOSO-SALAFY-BONDOWOSO-SALAFY-BONDOWOSO-SALAFY-BONDOWOSO-SALAFY-BONDOWOSO-SALAFY-BONDOWOSO-SALAFY-BONDOWOSO-SALAFY-BONDOWOSO-SALAFY-BONDOWOSO-SALAFY-CARUBAN-SALAFY-CARUBAN-SALAFY-CARUBAN-SALAFY-CARUBAN-SALAFY-CARUBAN-SALAFY-CARUBAN-SALAFY-CARUBAN-SALAFY-CARUBAN-SALAFY-CARUBAN-SALAFY-GRESIK-SALAFY-GRESIK-SALAFY-GRESIK-SALAFY-GRESIK-SALAFY-GRESIK-SALAFY-GRESIK-SALAFY-GRESIK-SALAFY-GRESIK-SALAFY-GRESIK-SALAFY-JATIM-SALAFY-JATIM-SALAFY-JATIM-SALAFY-JATIM-SALAFY-JATIM-SALAFY-JATIM-SALAFY-JATIM-SALAFY-JATIM-SALAFY-JATIM-SALAFY-JAWA-TIMUR-SALAFY-JAWA-TIMUR-SALAFY-JAWA-TIMUR-SALAFY-JAWA-TIMUR-SALAFY-JAWA-TIMUR-SALAFY-JAWA-TIMUR-SALAFY-JAWA-TIMUR-SALAFY-JAWA-TIMUR-SALAFY-JAWA-TIMUR-SALAFY-JEMBER-SALAFY-JEMBER-SALAFY-JEMBER-SALAFY-JEMBER-SALAFY-JEMBER-SALAFY-JEMBER-SALAFY-JEMBER-SALAFY-JEMBER-SALAFY-JEMBER-SALAFY-JOMBANG-SALAFY-JOMBANG-SALAFY-JOMBANG-SALAFY-JOMBANG-SALAFY-JOMBANG-SALAFY-JOMBANG-SALAFY-JOMBANG-SALAFY-JOMBANG-SALAFY-JOMBANG-SALAFY-KANIGORO-SALAFY-KANIGORO-SALAFY-KANIGORO-SALAFY-KANIGORO-SALAFY-KANIGORO-SALAFY-KANIGORO-SALAFY-KANIGORO-SALAFY-KANIGORO-SALAFY-KANIGORO-SALAFY-KEDIRI-SALAFY-KEDIRI-SALAFY-KEDIRI-SALAFY-KEDIRI-SALAFY-KEDIRI-SALAFY-KEDIRI-SALAFY-KEDIRI-SALAFY-KEDIRI-SALAFY-KEDIRI-SALAFY-KEPANJEN-SALAFY-KEPANJEN-SALAFY-KEPANJEN-SALAFY-KEPANJEN-SALAFY-KEPANJEN-SALAFY-KEPANJEN-SALAFY-KEPANJEN-SALAFY-KEPANJEN-SALAFY-KEPANJEN-SALAFY-KRAKSAAN-SALAFY-KRAKSAAN-SALAFY-KRAKSAAN-SALAFY-KRAKSAAN-SALAFY-KRAKSAAN-SALAFY-KRAKSAAN-SALAFY-KRAKSAAN-SALAFY-KRAKSAAN-SALAFY-KRAKSAAN-SALAFY-LAMONGAN-SALAFY-LAMONGAN-SALAFY-LAMONGAN-SALAFY-LAMONGAN-SALAFY-LAMONGAN-SALAFY-LAMONGAN-SALAFY-LAMONGAN-SALAFY-LAMONGAN-SALAFY-LAMONGAN-SALAFY-LUMAJANG-SALAFY-LUMAJANG-SALAFY-LUMAJANG-SALAFY-LUMAJANG-SALAFY-LUMAJANG-SALAFY-LUMAJANG-SALAFY-LUMAJANG-SALAFY-LUMAJANG-SALAFY-LUMAJANG-SALAFY-MADIUN-SALAFY-MADIUN-SALAFY-MADIUN-SALAFY-MADIUN-SALAFY-MADIUN-SALAFY-MADIUN-SALAFY-MADIUN-SALAFY-MADIUN-SALAFY-MADIUN-SALAFY-MADURA-SALAFY-MADURA-SALAFY-MADURA-SALAFY-MADURA-SALAFY-MADURA-SALAFY-MADURA-SALAFY-MADURA-SALAFY-MADURA-SALAFY-MADURA-SALAFY-MAGETAN-SALAFY-MAGETAN-SALAFY-MAGETAN-SALAFY-MAGETAN-SALAFY-MAGETAN-SALAFY-MAGETAN-SALAFY-MAGETAN-SALAFY-MAGETAN-SALAFY-MAGETAN-SALAFY-MALANG-SALAFY-MALANG-SALAFY-MALANG-SALAFY-MALANG-SALAFY-MALANG-SALAFY-MALANG-SALAFY-MALANG-SALAFY-MALANG-SALAFY-MALANG-SALAFY-MOJOKERTO-SALAFY-MOJOKERTO-SALAFY-MOJOKERTO-SALAFY-MOJOKERTO-SALAFY-MOJOKERTO-SALAFY-MOJOKERTO-SALAFY-MOJOKERTO-SALAFY-MOJOKERTO-SALAFY-MOJOKERTO-SALAFY-MOJOSARI-SALAFY-MOJOSARI-SALAFY-MOJOSARI-SALAFY-MOJOSARI-SALAFY-MOJOSARI-SALAFY-MOJOSARI-SALAFY-MOJOSARI-SALAFY-MOJOSARI-SALAFY-MOJOSARI-SALAFY-NGANJUK-SALAFY-NGANJUK-SALAFY-NGANJUK-SALAFY-NGANJUK-SALAFY-NGANJUK-SALAFY-NGANJUK-SALAFY-NGANJUK-SALAFY-NGANJUK-SALAFY-NGANJUK-SALAFY-NGASEM-SALAFY-NGASEM-SALAFY-NGASEM-SALAFY-NGASEM-SALAFY-NGASEM-SALAFY-NGASEM-SALAFY-NGASEM-SALAFY-NGASEM-SALAFY-NGASEM-SALAFY-NGAWI-SALAFY-NGAWI-SALAFY-NGAWI-SALAFY-NGAWI-SALAFY-NGAWI-SALAFY-NGAWI-SALAFY-NGAWI-SALAFY-NGAWI-SALAFY-NGAWI-SALAFY-PACITAN-SALAFY-PACITAN-SALAFY-PACITAN-SALAFY-PACITAN-SALAFY-PACITAN-SALAFY-PACITAN-SALAFY-PACITAN-SALAFY-PACITAN-SALAFY-PACITAN-SALAFY-PAMEKASAN-SALAFY-PAMEKASAN-SALAFY-PAMEKASAN-SALAFY-PAMEKASAN-SALAFY-PAMEKASAN-SALAFY-PAMEKASAN-SALAFY-PAMEKASAN-SALAFY-PAMEKASAN-SALAFY-PAMEKASAN-SALAFY-PASURUAN-SALAFY-PASURUAN-SALAFY-PASURUAN-SALAFY-PASURUAN-SALAFY-PASURUAN-SALAFY-PASURUAN-SALAFY-PASURUAN-SALAFY-PASURUAN-SALAFY-PASURUAN-SALAFY-PONOROGO-SALAFY-PONOROGO-SALAFY-PONOROGO-SALAFY-PONOROGO-SALAFY-PONOROGO-SALAFY-PONOROGO-SALAFY-PONOROGO-SALAFY-PONOROGO-SALAFY-PONOROGO-SALAFY-PROBOLINGGO-SALAFY-PROBOLINGGO-SALAFY-PROBOLINGGO-SALAFY-PROBOLINGGO-SALAFY-PROBOLINGGO-SALAFY-PROBOLINGGO-SALAFY-PROBOLINGGO-SALAFY-PROBOLINGGO-SALAFY-PROBOLINGGO-SALAFY-SAMPANG-SALAFY-SAMPANG-SALAFY-SAMPANG-SALAFY-SAMPANG-SALAFY-SAMPANG-SALAFY-SAMPANG-SALAFY-SAMPANG-SALAFY-SAMPANG-SALAFY-SAMPANG-SALAFY-SIDOARJO-SALAFY-SIDOARJO-SALAFY-SIDOARJO-SALAFY-SIDOARJO-SALAFY-SIDOARJO-SALAFY-SIDOARJO-SALAFY-SIDOARJO-SALAFY-SIDOARJO-SALAFY-SIDOARJO-SALAFY-SITUBONDO-SALAFY-SITUBONDO-SALAFY-SITUBONDO-SALAFY-SITUBONDO-SALAFY-SITUBONDO-SALAFY-SITUBONDO-SALAFY-SITUBONDO-SALAFY-SITUBONDO-SALAFY-SITUBONDO-SALAFY-SUMENEP-SALAFY-SUMENEP-SALAFY-SUMENEP-SALAFY-SUMENEP-SALAFY-SUMENEP-SALAFY-SUMENEP-SALAFY-SUMENEP-SALAFY-SUMENEP-SALAFY-SUMENEP-SALAFY-SURABAYA-SALAFY-SURABAYA-SALAFY-SURABAYA-SALAFY-SURABAYA-SALAFY-SURABAYA-SALAFY-SURABAYA-SALAFY-SURABAYA-SALAFY-SURABAYA-SALAFY-SURABAYA-SALAFY-TRENGGALEK-SALAFY-TRENGGALEK-SALAFY-TRENGGALEK-SALAFY-TRENGGALEK-SALAFY-TRENGGALEK-SALAFY-TRENGGALEK-SALAFY-TRENGGALEK-SALAFY-TRENGGALEK-SALAFY-TRENGGALEK-SALAFY-TUBAN-SALAFY-TUBAN-SALAFY-TUBAN-SALAFY-TUBAN-SALAFY-TUBAN-SALAFY-TUBAN-SALAFY-TUBAN-SALAFY-TUBAN-SALAFY-TUBAN-SALAFY-TULUNGAGUNG-SALAFY-TULUNGAGUNG-SALAFY-TULUNGAGUNG-SALAFY-TULUNGAGUNG-SALAFY-TULUNGAGUNG-SALAFY-TULUNGAGUNG-SALAFY-TULUNGAGUNG-SALAFY-TULUNGAGUNG-SALAFY-TULUNGAGUNG-SALAFY-BANDUNG-SALAFY-BANDUNG-SALAFY-BANDUNG-SALAFY-BANDUNG-SALAFY-BANDUNG-SALAFY-BANDUNG-SALAFY-BANDUNG-SALAFY-BANDUNG-SALAFY-BANDUNG-SALAFY-BANDUNG-BARAT-SALAFY-BANDUNG-BARAT-SALAFY-BANDUNG-BARAT-SALAFY-BANDUNG-BARAT-SALAFY-BANDUNG-BARAT-SALAFY-BANDUNG-BARAT-SALAFY-BANDUNG-BARAT-SALAFY-BANDUNG-BARAT-SALAFY-BANDUNG-BARAT-SALAFY-BANJAR-SALAFY-BANJAR-SALAFY-BANJAR-SALAFY-BANJAR-SALAFY-BANJAR-SALAFY-BANJAR-SALAFY-BANJAR-SALAFY-BANJAR-SALAFY-BANJAR-SALAFY-BEKASI-SALAFY-BEKASI-SALAFY-BEKASI-SALAFY-BEKASI-SALAFY-BEKASI-SALAFY-BEKASI-SALAFY-BEKASI-SALAFY-BEKASI-SALAFY-BEKASI-SALAFY-BOGOR-SALAFY-BOGOR-SALAFY-BOGOR-SALAFY-BOGOR-SALAFY-BOGOR-SALAFY-BOGOR-SALAFY-BOGOR-SALAFY-BOGOR-SALAFY-BOGOR-SALAFY-CIAMIS-SALAFY-CIAMIS-SALAFY-CIAMIS-SALAFY-CIAMIS-SALAFY-CIAMIS-SALAFY-CIAMIS-SALAFY-CIAMIS-SALAFY-CIAMIS-SALAFY-CIAMIS-SALAFY-CIANJUR-SALAFY-CIANJUR-SALAFY-CIANJUR-SALAFY-CIANJUR-SALAFY-CIANJUR-SALAFY-CIANJUR-SALAFY-CIANJUR-SALAFY-CIANJUR-SALAFY-CIANJUR-SALAFY-CIBINONG-SALAFY-CIBINONG-SALAFY-CIBINONG-SALAFY-CIBINONG-SALAFY-CIBINONG-SALAFY-CIBINONG-SALAFY-CIBINONG-SALAFY-CIBINONG-SALAFY-CIBINONG-SALAFY-CIKARANG-SALAFY-CIKARANG-SALAFY-CIKARANG-SALAFY-CIKARANG-SALAFY-CIKARANG-SALAFY-CIKARANG-SALAFY-CIKARANG-SALAFY-CIKARANG-SALAFY-CIKARANG-SALAFY-CIMAHI-SALAFY-CIMAHI-SALAFY-CIMAHI-SALAFY-CIMAHI-SALAFY-CIMAHI-SALAFY-CIMAHI-SALAFY-CIMAHI-SALAFY-CIMAHI-SALAFY-CIMAHI-SALAFY-CIREBON-SALAFY-CIREBON-SALAFY-CIREBON-SALAFY-CIREBON-SALAFY-CIREBON-SALAFY-CIREBON-SALAFY-CIREBON-SALAFY-CIREBON-SALAFY-CIREBON-SALAFY-DEPOK-SALAFY-DEPOK-SALAFY-DEPOK-SALAFY-DEPOK-SALAFY-DEPOK-SALAFY-DEPOK-SALAFY-DEPOK-SALAFY-DEPOK-SALAFY-DEPOK-SALAFY-GARUT-SALAFY-GARUT-SALAFY-GARUT-SALAFY-GARUT-SALAFY-GARUT-SALAFY-GARUT-SALAFY-GARUT-SALAFY-GARUT-SALAFY-GARUT-SALAFY-INDRAMAYU-SALAFY-INDRAMAYU-SALAFY-INDRAMAYU-SALAFY-INDRAMAYU-SALAFY-INDRAMAYU-SALAFY-INDRAMAYU-SALAFY-INDRAMAYU-SALAFY-INDRAMAYU-SALAFY-INDRAMAYU-SALAFY-JABAR-SALAFY-JABAR-SALAFY-JABAR-SALAFY-JABAR-SALAFY-JABAR-SALAFY-JABAR-SALAFY-JABAR-SALAFY-JABAR-SALAFY-JABAR-SALAFY-JAWA-BARAT-SALAFY-JAWA-BARAT-SALAFY-JAWA-BARAT-SALAFY-JAWA-BARAT-SALAFY-JAWA-BARAT-SALAFY-JAWA-BARAT-SALAFY-JAWA-BARAT-SALAFY-JAWA-BARAT-SALAFY-JAWA-BARAT-SALAFY-KARAWANG-SALAFY-KARAWANG-SALAFY-KARAWANG-SALAFY-KARAWANG-SALAFY-KARAWANG-SALAFY-KARAWANG-SALAFY-KARAWANG-SALAFY-KARAWANG-SALAFY-KARAWANG-SALAFY-KUNINGAN-SALAFY-KUNINGAN-SALAFY-KUNINGAN-SALAFY-KUNINGAN-SALAFY-KUNINGAN-SALAFY-KUNINGAN-SALAFY-KUNINGAN-SALAFY-KUNINGAN-SALAFY-KUNINGAN-SALAFY-MAJALENGKA-SALAFY-MAJALENGKA-SALAFY-MAJALENGKA-SALAFY-MAJALENGKA-SALAFY-MAJALENGKA-SALAFY-MAJALENGKA-SALAFY-MAJALENGKA-SALAFY-MAJALENGKA-SALAFY-MAJALENGKA-SALAFY-NGAMPRAH-SALAFY-NGAMPRAH-SALAFY-NGAMPRAH-SALAFY-NGAMPRAH-SALAFY-NGAMPRAH-SALAFY-NGAMPRAH-SALAFY-NGAMPRAH-SALAFY-NGAMPRAH-SALAFY-NGAMPRAH-SALAFY-PALABUHANRATU-SALAFY-PALABUHANRATU-SALAFY-PALABUHANRATU-SALAFY-PALABUHANRATU-SALAFY-PALABUHANRATU-SALAFY-PALABUHANRATU-SALAFY-PALABUHANRATU-SALAFY-PALABUHANRATU-SALAFY-PALABUHANRATU-SALAFY-PANGANDARAN-SALAFY-PANGANDARAN-SALAFY-PANGANDARAN-SALAFY-PANGANDARAN-SALAFY-PANGANDARAN-SALAFY-PANGANDARAN-SALAFY-PANGANDARAN-SALAFY-PANGANDARAN-SALAFY-PANGANDARAN-SALAFY-PARIGI-SALAFY-PARIGI-SALAFY-PARIGI-SALAFY-PARIGI-SALAFY-PARIGI-SALAFY-PARIGI-SALAFY-PARIGI-SALAFY-PARIGI-SALAFY-PARIGI-SALAFY-PURWAKARTA-SALAFY-PURWAKARTA-SALAFY-PURWAKARTA-SALAFY-PURWAKARTA-SALAFY-PURWAKARTA-SALAFY-PURWAKARTA-SALAFY-PURWAKARTA-SALAFY-PURWAKARTA-SALAFY-PURWAKARTA-SALAFY-SINGAPARNA-SALAFY-SINGAPARNA-SALAFY-SINGAPARNA-SALAFY-SINGAPARNA-SALAFY-SINGAPARNA-SALAFY-SINGAPARNA-SALAFY-SINGAPARNA-SALAFY-SINGAPARNA-SALAFY-SINGAPARNA-SALAFY-SOREANG-SALAFY-SOREANG-SALAFY-SOREANG-SALAFY-SOREANG-SALAFY-SOREANG-SALAFY-SOREANG-SALAFY-SOREANG-SALAFY-SOREANG-SALAFY-SOREANG-SALAFY-SUBANG-SALAFY-SUBANG-SALAFY-SUBANG-SALAFY-SUBANG-SALAFY-SUBANG-SALAFY-SUBANG-SALAFY-SUBANG-SALAFY-SUBANG-SALAFY-SUBANG-SALAFY-SUKABUMI-SALAFY-SUKABUMI-SALAFY-SUKABUMI-SALAFY-SUKABUMI-SALAFY-SUKABUMI-SALAFY-SUKABUMI-SALAFY-SUKABUMI-SALAFY-SUKABUMI-SALAFY-SUKABUMI-SALAFY-SUMBER-SALAFY-SUMBER-SALAFY-SUMBER-SALAFY-SUMBER-SALAFY-SUMBER-SALAFY-SUMBER-SALAFY-SUMBER-SALAFY-SUMBER-SALAFY-SUMBER-SALAFY-SUMEDANG-SALAFY-SUMEDANG-SALAFY-SUMEDANG-SALAFY-SUMEDANG-SALAFY-SUMEDANG-SALAFY-SUMEDANG-SALAFY-SUMEDANG-SALAFY-SUMEDANG-SALAFY-SUMEDANG-SALAFY-TAROGONG-KIDUL-SALAFY-TAROGONG-KIDUL-SALAFY-TAROGONG-KIDUL-SALAFY-TAROGONG-KIDUL-SALAFY-TAROGONG-KIDUL-SALAFY-TAROGONG-KIDUL-SALAFY-TAROGONG-KIDUL-SALAFY-TAROGONG-KIDUL-SALAFY-TAROGONG-KIDUL-SALAFY-TASIKMALAYA-SALAFY-TASIKMALAYA-SALAFY-TASIKMALAYA-SALAFY-TASIKMALAYA-SALAFY-TASIKMALAYA-SALAFY-TASIKMALAYA-SALAFY-TASIKMALAYA-SALAFY-TASIKMALAYA-SALAFY-TASIKMALAYA-SALAFY-CAKUNG-SALAFY-CAKUNG-SALAFY-CAKUNG-SALAFY-CAKUNG-SALAFY-CAKUNG-SALAFY-CAKUNG-SALAFY-CAKUNG-SALAFY-CAKUNG-SALAFY-CAKUNG-SALAFY-CAKUNG-SALAFY-CAKUNG-SALAFY-CAKUNG-SALAFY-CAKUNG-SALAFY-CAKUNG-SALAFY-CAKUNG-SALAFY-CAKUNG-SALAFY-CAKUNG-SALAFY-CAKUNG-SALAFY-CEMPAKA-PUTIH-SALAFY-CEMPAKA-PUTIH-SALAFY-CEMPAKA-PUTIH-SALAFY-CEMPAKA-PUTIH-SALAFY-CEMPAKA-PUTIH-SALAFY-CEMPAKA-PUTIH-SALAFY-CEMPAKA-PUTIH-SALAFY-CEMPAKA-PUTIH-SALAFY-CEMPAKA-PUTIH-SALAFY-CENGKARENG-SALAFY-CENGKARENG-SALAFY-CENGKARENG-SALAFY-CENGKARENG-SALAFY-CENGKARENG-SALAFY-CENGKARENG-SALAFY-CENGKARENG-SALAFY-CENGKARENG-SALAFY-CENGKARENG-SALAFY-CILANDAK-SALAFY-CILANDAK-SALAFY-CILANDAK-SALAFY-CILANDAK-SALAFY-CILANDAK-SALAFY-CILANDAK-SALAFY-CILANDAK-SALAFY-CILANDAK-SALAFY-CILANDAK-SALAFY-CILINCING-SALAFY-CILINCING-SALAFY-CILINCING-SALAFY-CILINCING-SALAFY-CILINCING-SALAFY-CILINCING-SALAFY-CILINCING-SALAFY-CILINCING-SALAFY-CILINCING-SALAFY-CIPAYUNG-SALAFY-CIPAYUNG-SALAFY-CIPAYUNG-SALAFY-CIPAYUNG-SALAFY-CIPAYUNG-SALAFY-CIPAYUNG-SALAFY-CIPAYUNG-SALAFY-CIPAYUNG-SALAFY-CIPAYUNG-SALAFY-CIRACAS-SALAFY-CIRACAS-SALAFY-CIRACAS-SALAFY-CIRACAS-SALAFY-CIRACAS-SALAFY-CIRACAS-SALAFY-CIRACAS-SALAFY-CIRACAS-SALAFY-CIRACAS-SALAFY-DKI-JAKARTA-SALAFY-DKI-JAKARTA-SALAFY-DKI-JAKARTA-SALAFY-DKI-JAKARTA-SALAFY-DKI-JAKARTA-SALAFY-DKI-JAKARTA-SALAFY-DKI-JAKARTA-SALAFY-DKI-JAKARTA-SALAFY-DKI-JAKARTA-SALAFY-DUREN-SAWIT-SALAFY-DUREN-SAWIT-SALAFY-DUREN-SAWIT-SALAFY-DUREN-SAWIT-SALAFY-DUREN-SAWIT-SALAFY-DUREN-SAWIT-SALAFY-DUREN-SAWIT-SALAFY-DUREN-SAWIT-SALAFY-DUREN-SAWIT-SALAFY-GAMBIR-SALAFY-GAMBIR-SALAFY-GAMBIR-SALAFY-GAMBIR-SALAFY-GAMBIR-SALAFY-GAMBIR-SALAFY-GAMBIR-SALAFY-GAMBIR-SALAFY-GAMBIR-SALAFY-GROGOL-SALAFY-GROGOL-SALAFY-GROGOL-SALAFY-GROGOL-SALAFY-GROGOL-SALAFY-GROGOL-SALAFY-GROGOL-SALAFY-GROGOL-SALAFY-GROGOL-SALAFY-JAGAKARSA-SALAFY-JAGAKARSA-SALAFY-JAGAKARSA-SALAFY-JAGAKARSA-SALAFY-JAGAKARSA-SALAFY-JAGAKARSA-SALAFY-JAGAKARSA-SALAFY-JAGAKARSA-SALAFY-JAGAKARSA-SALAFY-JAKARTA-BARAT-SALAFY-JAKARTA-BARAT-SALAFY-JAKARTA-BARAT-SALAFY-JAKARTA-BARAT-SALAFY-JAKARTA-BARAT-SALAFY-JAKARTA-BARAT-SALAFY-JAKARTA-BARAT-SALAFY-JAKARTA-BARAT-SALAFY-JAKARTA-BARAT-SALAFY-JAKARTA-PUSAT-SALAFY-JAKARTA-PUSAT-SALAFY-JAKARTA-PUSAT-SALAFY-JAKARTA-PUSAT-SALAFY-JAKARTA-PUSAT-SALAFY-JAKARTA-PUSAT-SALAFY-JAKARTA-PUSAT-SALAFY-JAKARTA-PUSAT-SALAFY-JAKARTA-PUSAT-SALAFY-JAKARTA-SELATAN-SALAFY-JAKARTA-SELATAN-SALAFY-JAKARTA-SELATAN-SALAFY-JAKARTA-SELATAN-SALAFY-JAKARTA-SELATAN-SALAFY-JAKARTA-SELATAN-SALAFY-JAKARTA-SELATAN-SALAFY-JAKARTA-SELATAN-SALAFY-JAKARTA-SELATAN-SALAFY-JAKARTA-TIMUR-SALAFY-JAKARTA-TIMUR-SALAFY-JAKARTA-TIMUR-SALAFY-JAKARTA-TIMUR-SALAFY-JAKARTA-TIMUR-SALAFY-JAKARTA-TIMUR-SALAFY-JAKARTA-TIMUR-SALAFY-JAKARTA-TIMUR-SALAFY-JAKARTA-TIMUR-SALAFY-JAKARTA-UTARA-SALAFY-JAKARTA-UTARA-SALAFY-JAKARTA-UTARA-SALAFY-JAKARTA-UTARA-SALAFY-JAKARTA-UTARA-SALAFY-JAKARTA-UTARA-SALAFY-JAKARTA-UTARA-SALAFY-JAKARTA-UTARA-SALAFY-JAKARTA-UTARA-SALAFY-JOHAR-BARU-SALAFY-JOHAR-BARU-SALAFY-JOHAR-BARU-SALAFY-JOHAR-BARU-SALAFY-JOHAR-BARU-SALAFY-JOHAR-BARU-SALAFY-JOHAR-BARU-SALAFY-JOHAR-BARU-SALAFY-JOHAR-BARU-SALAFY-KALIDERES-SALAFY-KALIDERES-SALAFY-KALIDERES-SALAFY-KALIDERES-SALAFY-KALIDERES-SALAFY-KALIDERES-SALAFY-KALIDERES-SALAFY-KALIDERES-SALAFY-KALIDERES-SALAFY-KEBAYORAN-BARU-SALAFY-KEBAYORAN-BARU-SALAFY-KEBAYORAN-BARU-SALAFY-KEBAYORAN-BARU-SALAFY-KEBAYORAN-BARU-SALAFY-KEBAYORAN-BARU-SALAFY-KEBAYORAN-BARU-SALAFY-KEBAYORAN-BARU-SALAFY-KEBAYORAN-BARU-SALAFY-KEBAYORAN-BARU-SALAFY-KEBAYORAN-BARU-SALAFY-KEBAYORAN-BARU-SALAFY-KEBAYORAN-BARU-SALAFY-KEBAYORAN-BARU-SALAFY-KEBAYORAN-BARU-SALAFY-KEBAYORAN-BARU-SALAFY-KEBAYORAN-BARU-SALAFY-KEBAYORAN-BARU-SALAFY-KEBAYORAN-LAMA-SALAFY-KEBAYORAN-LAMA-SALAFY-KEBAYORAN-LAMA-SALAFY-KEBAYORAN-LAMA-SALAFY-KEBAYORAN-LAMA-SALAFY-KEBAYORAN-LAMA-SALAFY-KEBAYORAN-LAMA-SALAFY-KEBAYORAN-LAMA-SALAFY-KEBAYORAN-LAMA-SALAFY-KEBON-JERUK-SALAFY-KEBON-JERUK-SALAFY-KEBON-JERUK-SALAFY-KEBON-JERUK-SALAFY-KEBON-JERUK-SALAFY-KEBON-JERUK-SALAFY-KEBON-JERUK-SALAFY-KEBON-JERUK-SALAFY-KEBON-JERUK-SALAFY-KELAPA-GADING-SALAFY-KELAPA-GADING-SALAFY-KELAPA-GADING-SALAFY-KELAPA-GADING-SALAFY-KELAPA-GADING-SALAFY-KELAPA-GADING-SALAFY-KELAPA-GADING-SALAFY-KELAPA-GADING-SALAFY-KELAPA-GADING-SALAFY-KEMAYORAN-SALAFY-KEMAYORAN-SALAFY-KEMAYORAN-SALAFY-KEMAYORAN-SALAFY-KEMAYORAN-SALAFY-KEMAYORAN-SALAFY-KEMAYORAN-SALAFY-KEMAYORAN-SALAFY-KEMAYORAN-SALAFY-KEMBANGAN-SALAFY-KEMBANGAN-SALAFY-KEMBANGAN-SALAFY-KEMBANGAN-SALAFY-KEMBANGAN-SALAFY-KEMBANGAN-SALAFY-KEMBANGAN-SALAFY-KEMBANGAN-SALAFY-KEMBANGAN-SALAFY-KEMBANGAN-SALAFY-KEMBANGAN-SALAFY-KEMBANGAN-SALAFY-KEMBANGAN-SALAFY-KEMBANGAN-SALAFY-KEMBANGAN-SALAFY-KEMBANGAN-SALAFY-KEMBANGAN-SALAFY-KEMBANGAN-SALAFY-KEPULAUAN-SERIBU-SALAFY-KEPULAUAN-SERIBU-SALAFY-KEPULAUAN-SERIBU-SALAFY-KEPULAUAN-SERIBU-SALAFY-KEPULAUAN-SERIBU-SALAFY-KEPULAUAN-SERIBU-SALAFY-KEPULAUAN-SERIBU-SALAFY-KEPULAUAN-SERIBU-SALAFY-KEPULAUAN-SERIBU-SALAFY-KEPULAUAN-SERIBU-SELATAN-SALAFY-KEPULAUAN-SERIBU-SELATAN-SALAFY-KEPULAUAN-SERIBU-SELATAN-SALAFY-KEPULAUAN-SERIBU-SELATAN-SALAFY-KEPULAUAN-SERIBU-SELATAN-SALAFY-KEPULAUAN-SERIBU-SELATAN-SALAFY-KEPULAUAN-SERIBU-SELATAN-SALAFY-KEPULAUAN-SERIBU-SELATAN-SALAFY-KEPULAUAN-SERIBU-SELATAN-SALAFY-KEPULAUAN-SERIBU-UTARA-SALAFY-KEPULAUAN-SERIBU-UTARA-SALAFY-KEPULAUAN-SERIBU-UTARA-SALAFY-KEPULAUAN-SERIBU-UTARA-SALAFY-KEPULAUAN-SERIBU-UTARA-SALAFY-KEPULAUAN-SERIBU-UTARA-SALAFY-KEPULAUAN-SERIBU-UTARA-SALAFY-KEPULAUAN-SERIBU-UTARA-SALAFY-KEPULAUAN-SERIBU-UTARA-SALAFY-KOJA-SALAFY-KOJA-SALAFY-KOJA-SALAFY-KOJA-SALAFY-KOJA-SALAFY-KOJA-SALAFY-KOJA-SALAFY-KOJA-SALAFY-KOJA-SALAFY-KOJA-SALAFY-KOJA-SALAFY-KOJA-SALAFY-KOJA-SALAFY-KOJA-SALAFY-KOJA-SALAFY-KOJA-SALAFY-KOJA-SALAFY-KOJA-SALAFY-KRAMAT-JATI-SALAFY-KRAMAT-JATI-SALAFY-KRAMAT-JATI-SALAFY-KRAMAT-JATI-SALAFY-KRAMAT-JATI-SALAFY-KRAMAT-JATI-SALAFY-KRAMAT-JATI-SALAFY-KRAMAT-JATI-SALAFY-KRAMAT-JATI-SALAFY-MAKASAR-SALAFY-MAKASAR-SALAFY-MAKASAR-SALAFY-MAKASAR-SALAFY-MAKASAR-SALAFY-MAKASAR-SALAFY-MAKASAR-SALAFY-MAKASAR-SALAFY-MAKASAR-SALAFY-MAMPANG-PRAPATAN-SALAFY-MAMPANG-PRAPATAN-SALAFY-MAMPANG-PRAPATAN-SALAFY-MAMPANG-PRAPATAN-SALAFY-MAMPANG-PRAPATAN-SALAFY-MAMPANG-PRAPATAN-SALAFY-MAMPANG-PRAPATAN-SALAFY-MAMPANG-PRAPATAN-SALAFY-MAMPANG-PRAPATAN-SALAFY-MATRAMAN-SALAFY-MATRAMAN-SALAFY-MATRAMAN-SALAFY-MATRAMAN-SALAFY-MATRAMAN-SALAFY-MATRAMAN-SALAFY-MATRAMAN-SALAFY-MATRAMAN-SALAFY-MATRAMAN-SALAFY-MENTENG-SALAFY-MENTENG-SALAFY-MENTENG-SALAFY-MENTENG-SALAFY-MENTENG-SALAFY-MENTENG-SALAFY-MENTENG-SALAFY-MENTENG-SALAFY-MENTENG-SALAFY-MENTENG-SALAFY-MENTENG-SALAFY-MENTENG-SALAFY-MENTENG-SALAFY-MENTENG-SALAFY-MENTENG-SALAFY-MENTENG-SALAFY-MENTENG-SALAFY-MENTENG-SALAFY-PADEMANGAN-SALAFY-PADEMANGAN-SALAFY-PADEMANGAN-SALAFY-PADEMANGAN-SALAFY-PADEMANGAN-SALAFY-PADEMANGAN-SALAFY-PADEMANGAN-SALAFY-PADEMANGAN-SALAFY-PADEMANGAN-SALAFY-PALMERAH-SALAFY-PALMERAH-SALAFY-PALMERAH-SALAFY-PALMERAH-SALAFY-PALMERAH-SALAFY-PALMERAH-SALAFY-PALMERAH-SALAFY-PALMERAH-SALAFY-PALMERAH-SALAFY-PANCORAN-SALAFY-PANCORAN-SALAFY-PANCORAN-SALAFY-PANCORAN-SALAFY-PANCORAN-SALAFY-PANCORAN-SALAFY-PANCORAN-SALAFY-PANCORAN-SALAFY-PANCORAN-SALAFY-PASAR-MINGGU-SALAFY-PASAR-MINGGU-SALAFY-PASAR-MINGGU-SALAFY-PASAR-MINGGU-SALAFY-PASAR-MINGGU-SALAFY-PASAR-MINGGU-SALAFY-PASAR-MINGGU-SALAFY-PASAR-MINGGU-SALAFY-PASAR-MINGGU-SALAFY-PASAR-REBO-SALAFY-PASAR-REBO-SALAFY-PASAR-REBO-SALAFY-PASAR-REBO-SALAFY-PASAR-REBO-SALAFY-PASAR-REBO-SALAFY-PASAR-REBO-SALAFY-PASAR-REBO-SALAFY-PASAR-REBO-SALAFY-PENJARINGAN-SALAFY-PENJARINGAN-SALAFY-PENJARINGAN-SALAFY-PENJARINGAN-SALAFY-PENJARINGAN-SALAFY-PENJARINGAN-SALAFY-PENJARINGAN-SALAFY-PENJARINGAN-SALAFY-PENJARINGAN-SALAFY-PESANGGRAHAN-SALAFY-PESANGGRAHAN-SALAFY-PESANGGRAHAN-SALAFY-PESANGGRAHAN-SALAFY-PESANGGRAHAN-SALAFY-PESANGGRAHAN-SALAFY-PESANGGRAHAN-SALAFY-PESANGGRAHAN-SALAFY-PESANGGRAHAN-SALAFY-PETAMBURAN-SALAFY-PETAMBURAN-SALAFY-PETAMBURAN-SALAFY-PETAMBURAN-SALAFY-PETAMBURAN-SALAFY-PETAMBURAN-SALAFY-PETAMBURAN-SALAFY-PETAMBURAN-SALAFY-PETAMBURAN-SALAFY-PULAU-PRAMUKA-SALAFY-PULAU-PRAMUKA-SALAFY-PULAU-PRAMUKA-SALAFY-PULAU-PRAMUKA-SALAFY-PULAU-PRAMUKA-SALAFY-PULAU-PRAMUKA-SALAFY-PULAU-PRAMUKA-SALAFY-PULAU-PRAMUKA-SALAFY-PULAU-PRAMUKA-SALAFY-PULO-GADUNG-SALAFY-PULO-GADUNG-SALAFY-PULO-GADUNG-SALAFY-PULO-GADUNG-SALAFY-PULO-GADUNG-SALAFY-PULO-GADUNG-SALAFY-PULO-GADUNG-SALAFY-PULO-GADUNG-SALAFY-PULO-GADUNG-SALAFY-SAWAH-BESAR-SALAFY-SAWAH-BESAR-SALAFY-SAWAH-BESAR-SALAFY-SAWAH-BESAR-SALAFY-SAWAH-BESAR-SALAFY-SAWAH-BESAR-SALAFY-SAWAH-BESAR-SALAFY-SAWAH-BESAR-SALAFY-SAWAH-BESAR-SALAFY-SENEN-SALAFY-SENEN-SALAFY-SENEN-SALAFY-SENEN-SALAFY-SENEN-SALAFY-SENEN-SALAFY-SENEN-SALAFY-SENEN-SALAFY-SENEN-SALAFY-SETIABUDI-SALAFY-SETIABUDI-SALAFY-SETIABUDI-SALAFY-SETIABUDI-SALAFY-SETIABUDI-SALAFY-SETIABUDI-SALAFY-SETIABUDI-SALAFY-SETIABUDI-SALAFY-SETIABUDI-SALAFY-TAMAN-SARI-SALAFY-TAMAN-SARI-SALAFY-TAMAN-SARI-SALAFY-TAMAN-SARI-SALAFY-TAMAN-SARI-SALAFY-TAMAN-SARI-SALAFY-TAMAN-SARI-SALAFY-TAMAN-SARI-SALAFY-TAMAN-SARI-SALAFY-TAMBORA-SALAFY-TAMBORA-SALAFY-TAMBORA-SALAFY-TAMBORA-SALAFY-TAMBORA-SALAFY-TAMBORA-SALAFY-TAMBORA-SALAFY-TAMBORA-SALAFY-TAMBORA-SALAFY-TANAH-ABANG-SALAFY-TANAH-ABANG-SALAFY-TANAH-ABANG-SALAFY-TANAH-ABANG-SALAFY-TANAH-ABANG-SALAFY-TANAH-ABANG-SALAFY-TANAH-ABANG-SALAFY-TANAH-ABANG-SALAFY-TANAH-ABANG-SALAFY-TANJUNG-PRIOK-SALAFY-TANJUNG-PRIOK-SALAFY-TANJUNG-PRIOK-SALAFY-TANJUNG-PRIOK-SALAFY-TANJUNG-PRIOK-SALAFY-TANJUNG-PRIOK-SALAFY-TANJUNG-PRIOK-SALAFY-TANJUNG-PRIOK-SALAFY-TANJUNG-PRIOK-SALAFY-TEBET-SALAFY-TEBET-SALAFY-TEBET-SALAFY-TEBET-SALAFY-TEBET-SALAFY-TEBET-SALAFY-TEBET-SALAFY-TEBET-SALAFY-TEBET-SALAFY-INDONESIA-SALAFY-ACEH-SALAFY-BALI-SALAFY-BANTEN-SALAFY-BENGKULU-SALAFY-GORONTALO-SALAFY-JAKARTA-SALAFY-JAMBI-SALAFY-JAWA-BARAT-SALAFY-JAWA-TENGAH-SALAFY-JAWA-TIMUR-SALAFY-KALIMANTAN-BARAT-SALAFY-KALIMANTAN-SELATAN-SALAFY-KALIMANTAN-TENGAH-SALAFY-KALIMANTAN-TIMUR-SALAFY-KALIMANTAN-UTARA-SALAFY-KEPULAUAN-BANGKA-BELITUNG-SALAFY-KEPULAUAN-RIAU-SALAFY-LAMPUNG-SALAFY-MALUKU-SALAFY-MALUKU-UTARA-SALAFY-NUSA-TENGGARA-BARAT-SALAFY-NUSA-TENGGARA-TIMUR-SALAFY-PAPUA-SALAFY-PAPUA-BARAT-SALAFY-RIAU-SALAFY-SULAWESI-BARAT-SALAFY-SULAWESI-SELATAN-SALAFY-SULAWESI-TENGAH-SALAFY-SULAWESI-TENGGARA-SALAFY-SULAWESI-UTARA-SALAFY-SUMATERA-BARAT-SALAFY-SUMATERA-SELATAN-SALAFY-SUMATERA-UTARA-SALAFY-YOGYAKARTA-SALAFY-ACEH-BARAT-SALAFY-ACEH-BARAT-DAYA-SALAFY-ACEH-BESAR-SALAFY-ACEH-JAYA-SALAFY-ACEH-SELATAN-SALAFY-ACEH-SINGKIL-SALAFY-ACEH-TAMIANG-SALAFY-ACEH-TENGAH-SALAFY-ACEH-TENGGARA-SALAFY-ACEH-TIMUR-SALAFY-ACEH-UTARA-SALAFY-ADMINISTRASI-KEPULAUAN-SERIBU-SALAFY-AGAM-SALAFY-ALOR-SALAFY-ASAHAN-SALAFY-ASMAT-SALAFY-BADUNG-SALAFY-BALANGAN-SALAFY-BANDUNG-SALAFY-BANDUNG-BARAT-SALAFY-BANGGAI-SALAFY-BANGGAI-KEPULAUAN-SALAFY-BANGKA-SALAFY-BANGKA-BARAT-SALAFY-BANGKA-SELATAN-SALAFY-BANGKA-TENGAH-SALAFY-BANGKALAN-SALAFY-BANGLI-SALAFY-BANJAR-SALAFY-BANJARNEGARA-SALAFY-BANTAENG-SALAFY-BANTUL-SALAFY-BANYUASIN-SALAFY-BANYUMAS-SALAFY-BANYUWANGI-SALAFY-BARITO-KUALA-SALAFY-BARITO-SELATAN-SALAFY-BARITO-TIMUR-SALAFY-BARITO-UTARA-SALAFY-BARRU-SALAFY-BATANG-SALAFY-BATANGHARI-SALAFY-BATUBARA-SALAFY-BEKASI-SALAFY-BELITUNG-SALAFY-BELITUNG-TIMUR-SALAFY-BELU-SALAFY-BENER-MERIAH-SALAFY-BENGKALIS-SALAFY-BENGKAYANG-SALAFY-BENGKULU-SELATAN-SALAFY-BENGKULU-TENGAH-SALAFY-BENGKULU-UTARA-SALAFY-BERAU-SALAFY-BIAK-NUMFOR-SALAFY-BIMA-SALAFY-BINTAN-SALAFY-BIREUEN-SALAFY-BLITAR-SALAFY-BLORA-SALAFY-BOALEMO-SALAFY-BOGOR-SALAFY-BOJONEGORO-SALAFY-BOLAANG-MONGONDOW-SALAFY-BOLAANG-MONGONDOW-SELATAN-SALAFY-BOLAANG-MONGONDOW-TIMUR-SALAFY-BOLAANG-MONGONDOW-UTARA-SALAFY-BOMBANA-SALAFY-BONDOWOSO-SALAFY-BONE-SALAFY-BONE-BOLANGO-SALAFY-BOVEN-DIGOEL-SALAFY-BOYOLALI-SALAFY-BREBES-SALAFY-BULELENG-SALAFY-BULUKUMBA-SALAFY-BULUNGAN-SALAFY-BUNGO-SALAFY-BUOL-SALAFY-BURU-SALAFY-BURU-SELATAN-SALAFY-BUTON-SALAFY-BUTON-UTARA-SALAFY-CIAMIS-SALAFY-CIANJUR-SALAFY-CILACAP-SALAFY-CIREBON-SALAFY-DAIRI-SALAFY-DEIYAI-SALAFY-DELI-SERDANG-SALAFY-DEMAK-SALAFY-DHARMASRAYA-SALAFY-DOGIYAI-SALAFY-DOMPU-SALAFY-DONGGALA-SALAFY-EMPAT-LAWANG-SALAFY-ENDE-SALAFY-ENREKANG-SALAFY-FAKFAK-SALAFY-FLORES-TIMUR-SALAFY-GARUT-SALAFY-GAYO-LUES-SALAFY-GIANYAR-SALAFY-GORONTALO-SALAFY-GORONTALO-UTARA-SALAFY-GOWA-SALAFY-GRESIK-SALAFY-GROBOGAN-SALAFY-GUNUNG-KIDUL-SALAFY-GUNUNG-MAS-SALAFY-HALMAHERA-BARAT-SALAFY-HALMAHERA-SELATAN-SALAFY-HALMAHERA-TENGAH-SALAFY-HALMAHERA-TIMUR-SALAFY-HALMAHERA-UTARA-SALAFY-HULU-SUNGAI-SELATAN-SALAFY-HULU-SUNGAI-TENGAH-SALAFY-HULU-SUNGAI-UTARA-SALAFY-HUMBANG-HASUNDUTAN-SALAFY-INDRAGIRI-HILIR-SALAFY-INDRAGIRI-HULU-SALAFY-INDRAMAYU-SALAFY-INTAN-JAYA-SALAFY-JAYAPURA-SALAFY-JAYAWIJAYA-SALAFY-JEMBER-SALAFY-JEMBRANA-SALAFY-JENEPONTO-SALAFY-JEPARA-SALAFY-JOMBANG-SALAFY-KAIMANA-SALAFY-KAMPAR-SALAFY-KAPUAS-SALAFY-KAPUAS-HULU-SALAFY-KARANGANYAR-SALAFY-KARANGASEM-SALAFY-KARAWANG-SALAFY-KARIMUN-SALAFY-KARO-SALAFY-KATINGAN-SALAFY-KAUR-SALAFY-KAYONG-UTARA-SALAFY-KEBUMEN-SALAFY-KEDIRI-SALAFY-KEEROM-SALAFY-KENDAL-SALAFY-KEPAHIANG-SALAFY-KEPULAUAN-ANAMBAS-SALAFY-KEPULAUAN-ARU-SALAFY-KEPULAUAN-MENTAWAI-SALAFY-KEPULAUAN-MERANTI-SALAFY-KEPULAUAN-SANGIHE-SALAFY-KEPULAUAN-SELAYAR-SALAFY-KEPULAUAN-SIAU-TAGULANDANG-BIARO-SALAFY-KEPULAUAN-SULA-SALAFY-KEPULAUAN-TALAUD-SALAFY-KEPULAUAN-YAPEN-SALAFY-KERINCI-SALAFY-KETAPANG-SALAFY-KLATEN-SALAFY-KLUNGKUNG-SALAFY-KOLAKA-SALAFY-KOLAKA-UTARA-SALAFY-KONAWE-SALAFY-KONAWE-SELATAN-SALAFY-KONAWE-UTARA-SALAFY-KOTABARU-SALAFY-KOTAWARINGIN-BARAT-SALAFY-KOTAWARINGIN-TIMUR-SALAFY-KUANTAN-SINGINGI-SALAFY-KUBU-RAYA-SALAFY-KUDUS-SALAFY-KULON-PROGO-SALAFY-KUNINGAN-SALAFY-KUPANG-SALAFY-KUTAI-BARAT-SALAFY-KUTAI-KARTANEGARA-SALAFY-KUTAI-TIMUR-SALAFY-LABUHANBATU-SALAFY-LABUHANBATU-SELATAN-SALAFY-LABUHANBATU-UTARA-SALAFY-LAHAT-SALAFY-LAMANDAU-SALAFY-LAMONGAN-SALAFY-LAMPUNG-BARAT-SALAFY-LAMPUNG-SELATAN-SALAFY-LAMPUNG-TENGAH-SALAFY-LAMPUNG-TIMUR-SALAFY-LAMPUNG-UTARA-SALAFY-LANDAK-SALAFY-LANGKAT-SALAFY-LANNY-JAYA-SALAFY-LEBAK-SALAFY-LEBONG-SALAFY-LEMBATA-SALAFY-LIMA-PULUH-KOTA-SALAFY-LINGGA-SALAFY-LOMBOK-BARAT-SALAFY-LOMBOK-TENGAH-SALAFY-LOMBOK-TIMUR-SALAFY-LOMBOK-UTARA-SALAFY-LUMAJANG-SALAFY-LUWU-SALAFY-LUWU-TIMUR-SALAFY-LUWU-UTARA-SALAFY-MADIUN-SALAFY-MAGELANG-SALAFY-MAHAKAM-ULU-SALAFY-MAJALENGKA-SALAFY-MAJALENGKA-SALAFY-MAJENE-SALAFY-MALANG-SALAFY-MALINAU-SALAFY-MALUKU-BARAT-DAYA-SALAFY-MALUKU-TENGAH-SALAFY-MALUKU-TENGGARA-SALAFY-MALUKU-TENGGARA-BARAT-SALAFY-MAMASA-SALAFY-MAMBERAMO-RAYA-SALAFY-MAMBERAMO-TENGAH-SALAFY-MAMUJU-SALAFY-MAMUJU-UTARA-SALAFY-MANDAILING-NATAL-SALAFY-MANGGARAI-SALAFY-MANGGARAI-BARAT-SALAFY-MANGGARAI-TIMUR-SALAFY-MANOKWARI-SALAFY-MAPPI-SALAFY-MAROS-SALAFY-MAYBRAT-SALAFY-MELAWI-SALAFY-MEMPAWAH-SALAFY-MERANGIN-SALAFY-MERAUKE-SALAFY-MESUJI-SALAFY-MIMIKA-SALAFY-MINAHASA-SALAFY-MINAHASA-SELATAN-SALAFY-MINAHASA-TENGGARA-SALAFY-MINAHASA-UTARA-SALAFY-MOJOKERTO-SALAFY-MOROWALI-SALAFY-MUARA-ENIM-SALAFY-MUARO-JAMBI-SALAFY-MUKOMUKO-SALAFY-MUNA-SALAFY-MURUNG-RAYA-SALAFY-MUSI-BANYUASIN-SALAFY-MUSI-RAWAS-SALAFY-NABIRE-SALAFY-NAGAN-RAYA-SALAFY-NAGEKEO-SALAFY-NATUNA-SALAFY-NDUGA-SALAFY-NGADA-SALAFY-NGANJUK-SALAFY-NGAWI-SALAFY-NIAS-SALAFY-NIAS-BARAT-SALAFY-NIAS-SELATAN-SALAFY-NIAS-UTARA-SALAFY-NUNUKAN-SALAFY-OGAN-ILIR-SALAFY-OGAN-KOMERING-ILIR-SALAFY-OGAN-KOMERING-ULU-SALAFY-OGAN-KOMERING-ULU-SELATAN-SALAFY-OGAN-KOMERING-ULU-TIMUR-SALAFY-PACITAN-SALAFY-PADANG-LAWAS-SALAFY-PADANG-LAWAS-UTARA-SALAFY-PADANG-PARIAMAN-SALAFY-PAKPAK-BHARAT-SALAFY-PAMEKASAN-SALAFY-PANDEGLANG-SALAFY-PANGKAJENE-DAN-KEPULAUAN-SALAFY-PANIAI-SALAFY-PARIGI-MOUTONG-SALAFY-PASAMAN-SALAFY-PASAMAN-BARAT-SALAFY-PASER-SALAFY-PASURUAN-SALAFY-PATI-SALAFY-PEGUNUNGAN-BINTANG-SALAFY-PEKALONGAN-SALAFY-PELALAWAN-SALAFY-PEMALANG-SALAFY-PENAJAM-PASER-UTARA-SALAFY-PESAWARAN-SALAFY-PESISIR-SELATAN-SALAFY-PIDIE-SALAFY-PIDIE-JAYA-SALAFY-PINRANG-SALAFY-POHUWATO-SALAFY-POLEWALI-MANDAR-SALAFY-PONOROGO-SALAFY-POSO-SALAFY-PRINGSEWU-SALAFY-PROBOLINGGO-SALAFY-PULANG-PISAU-SALAFY-PULAU-MOROTAI-SALAFY-PUNCAK-SALAFY-PUNCAK-JAYA-SALAFY-PURBALINGGA-SALAFY-PURWAKARTA-SALAFY-PURWOREJO-SALAFY-RAJA-AMPAT-SALAFY-REJANG-LEBONG-SALAFY-REMBANG-SALAFY-ROKAN-HILIR-SALAFY-ROKAN-HULU-SALAFY-ROTE-NDAO-SALAFY-SABU-RAIJUA-SALAFY-SAMBAS-SALAFY-SAMOSIR-SALAFY-SAMPANG-SALAFY-SANGGAU-SALAFY-SARMI-SALAFY-SAROLANGUN-SALAFY-SEKADAU-SALAFY-SELUMA-SALAFY-SEMARANG-SALAFY-SERAM-BAGIAN-BARAT-SALAFY-SERAM-BAGIAN-TIMUR-SALAFY-SERANG-SALAFY-SERDANG-BEDAGAI-SALAFY-SERUYAN-SALAFY-SIAK-SALAFY-SIDENRENG-RAPPANG-SALAFY-SIDOARJO-SALAFY-SIGI-SALAFY-SIJUNJUNG-SALAFY-SIKKA-SALAFY-SIMALUNGUN-SALAFY-SIMEULUE-SALAFY-SINJAI-SALAFY-SINTANG-SALAFY-SITUBONDO-SALAFY-SLEMAN-SALAFY-SOLOK-SALAFY-SOLOK-SELATAN-SALAFY-SOPPENG-SALAFY-SORONG-SALAFY-SORONG-SELATAN-SALAFY-SRAGEN-SALAFY-SUBANG-SALAFY-SUKABUMI-SALAFY-SUKAMARA-SALAFY-SUKOHARJO-SALAFY-SUMBA-BARAT-SALAFY-SUMBA-BARAT-DAYA-SALAFY-SUMBA-TENGAH-SALAFY-SUMBA-TIMUR-SALAFY-SUMBAWA-SALAFY-SUMBAWA-BARAT-SALAFY-SUMEDANG-SALAFY-SUMENEP-SALAFY-SUPIORI-SALAFY-TABALONG-SALAFY-TABANAN-SALAFY-TAKALAR-SALAFY-TAMBRAUW-SALAFY-TANA-TIDUNG-SALAFY-TANA-TORAJA-SALAFY-TANAH-BUMBU-SALAFY-TANAH-DATAR-SALAFY-TANAH-LAUT-SALAFY-TANGERANG-SALAFY-TANGGAMUS-SALAFY-TANJUNG-JABUNG-BARAT-SALAFY-TANJUNG-JABUNG-TIMUR-SALAFY-TAPANULI-SELATAN-SALAFY-TAPANULI-TENGAH-SALAFY-TAPANULI-UTARA-SALAFY-TAPIN-SALAFY-TASIKMALAYA-SALAFY-TEBO-SALAFY-TEGAL-SALAFY-TELUK-BINTUNI-SALAFY-TELUK-WONDAMA-SALAFY-TEMANGGUNG-SALAFY-TIMOR-TENGAH-SELATAN-SALAFY-TIMOR-TENGAH-UTARA-SALAFY-TOBA-SAMOSIR-SALAFY-TOJO-UNA-UNA-SALAFY-TOLIKARA-SALAFY-TOLI-TOLI-SALAFY-TORAJA-UTARA-SALAFY-TRENGGALEK-SALAFY-TUBAN-SALAFY-TULANG-BAWANG-SALAFY-TULANG-BAWANG-BARAT-SALAFY-TULUNGAGUNG-SALAFY-WAJO-SALAFY-WAKATOBI-SALAFY-WAROPEN-SALAFY-WAY-KANAN-SALAFY-WONOGIRI-SALAFY-WONOSOBO-SALAFY-YAHUKIMO-SALAFY-ADMINISTRASI-JAKARTA-BARAT-SALAFY-ADMINISTRASI-JAKARTA-PUSAT-SALAFY-ADMINISTRASI-JAKARTA-SELATAN-SALAFY-ADMINISTRASI-JAKARTA-TIMUR-SALAFY-ADMINISTRASI-JAKARTA-UTARA-SALAFY-AMBON-SALAFY-BALIKPAPAN-SALAFY-BANDA-ACEH-SALAFY-BANDAR-LAMPUNG-SALAFY-BANDUNG-SALAFY-BANJAR-SALAFY-BANJARBARU-SALAFY-BANJARMASIN-SALAFY-BATAM-SALAFY-BATU-SALAFY-BAU-BAU-SALAFY-BEKASI-SALAFY-BENGKULU-SALAFY-BIMA-SALAFY-BINJAI-SALAFY-BITUNG-SALAFY-BLITAR-SALAFY-BOGOR-SALAFY-BONTANG-SALAFY-BUKITTINGGI-SALAFY-CILEGON-SALAFY-CIMAHI-SALAFY-CIREBON-SALAFY-DENPASAR-SALAFY-DEPOK-SALAFY-DUMAI-SALAFY-GORONTALO-SALAFY-GUNUNGSITOLI-SALAFY-JAMBI-SALAFY-JAYAPURA-SALAFY-KEDIRI-SALAFY-KENDARI-SALAFY-KOTAMOBAGU-SALAFY-KUPANG-SALAFY-LANGSA-SALAFY-LHOKSEUMAWE-SALAFY-LUBUKLINGGAU-SALAFY-MADIUN-SALAFY-MAGELANG-SALAFY-MAKASSAR-SALAFY-MALANG-SALAFY-MANADO-SALAFY-MATARAM-SALAFY-MEDAN-SALAFY-METRO-SALAFY-MOJOKERTO-SALAFY-PADANG-SALAFY-PADANGPANJANG-SALAFY-PADANGSIDEMPUAN-SALAFY-PAGAR-ALAM-SALAFY-PALANGKA-RAYA-SALAFY-PALEMBANG-SALAFY-PALOPO-SALAFY-PALU-SALAFY-PANGKAL-PINANG-SALAFY-PAREPARE-SALAFY-PARIAMAN-SALAFY-PASURUAN-SALAFY-PAYAKUMBUH-SALAFY-PEKALONGAN-SALAFY-PEKANBARU-SALAFY-PEMATANGSIANTAR-SALAFY-PONTIANAK-SALAFY-PRABUMULIH-SALAFY-PROBOLINGGO-SALAFY-SABANG-SALAFY-SALATIGA-SALAFY-SAMARINDA-SALAFY-SAWAHLUNTO-SALAFY-SEMARANG-SALAFY-SERANG-SALAFY-SIBOLGA-SALAFY-SINGKAWANG-SALAFY-SOLOK-SALAFY-SORONG-SALAFY-SUBULUSSALAM-SALAFY-SUKABUMI-SALAFY-SUNGAI-PENUH-SALAFY-SURABAYA-SALAFY-SURAKARTA-SALAFY-TANGERANG-SALAFY-TANGERANG-SELATAN-SALAFY-TANJUNG-PINANG-SALAFY-TANJUNGBALAI-SALAFY-TARAKAN-SALAFY-TASIKMALAYA-SALAFY-TEBING-TINGGI-SALAFY-TEGAL-SALAFY-TERNATE-SALAFY-TIDORE-KEPULAUAN-SALAFY-TOMOHON-SALAFY-TUAL-SALAFY-YOGYAKARTA-SALAFYS.COM-SALAFI-BANDARHARJO-SALAFI-BANDARHARJO-SALAFI-BANDARHARJO-SALAFI-BANDARHARJO-SALAFI-BANDARHARJO-SALAFI-BANDARHARJO-SALAFI-BANDARHARJO-SALAFI-BANDARHARJO-SALAFI-BANDARHARJO-SALAFI-BANGETAYU-WETAN-SALAFI-BANGETAYU-WETAN-SALAFI-BANGETAYU-WETAN-SALAFI-BANGETAYU-WETAN-SALAFI-BANGETAYU-WETAN-SALAFI-BANGETAYU-WETAN-SALAFI-BANGETAYU-WETAN-SALAFI-BANGETAYU-WETAN-SALAFI-BANGETAYU-WETAN-SALAFI-BANJARDOWO-SALAFI-BANJARDOWO-SALAFI-BANJARDOWO-SALAFI-BANJARDOWO-SALAFI-BANJARDOWO-SALAFI-BANJARDOWO-SALAFI-BANJARDOWO-SALAFI-BANJARDOWO-SALAFI-BANJARDOWO-SALAFI-BANYUMANIK-SALAFI-BANYUMANIK-SALAFI-BANYUMANIK-SALAFI-BANYUMANIK-SALAFI-BANYUMANIK-SALAFI-BANYUMANIK-SALAFI-BANYUMANIK-SALAFI-BANYUMANIK-SALAFI-BANYUMANIK-SALAFI-BENDANNGISOR-SALAFI-BENDANNGISOR-SALAFI-BENDANNGISOR-SALAFI-BENDANNGISOR-SALAFI-BENDANNGISOR-SALAFI-BENDANNGISOR-SALAFI-BENDANNGISOR-SALAFI-BENDANNGISOR-SALAFI-BENDANNGISOR-SALAFI-BENDUNGAN-SALAFI-BENDUNGAN-SALAFI-BENDUNGAN-SALAFI-BENDUNGAN-SALAFI-BENDUNGAN-SALAFI-BENDUNGAN-SALAFI-BENDUNGAN-SALAFI-BENDUNGAN-SALAFI-BENDUNGAN-SALAFI-BERINGIN-SALAFI-BERINGIN-SALAFI-BERINGIN-SALAFI-BERINGIN-SALAFI-BERINGIN-SALAFI-BERINGIN-SALAFI-BERINGIN-SALAFI-BERINGIN-SALAFI-BERINGIN-SALAFI-BONGSARI-SALAFI-BONGSARI-SALAFI-BONGSARI-SALAFI-BONGSARI-SALAFI-BONGSARI-SALAFI-BONGSARI-SALAFI-BONGSARI-SALAFI-BONGSARI-SALAFI-BONGSARI-SALAFI-BRUMBUNGAN-SALAFI-BRUMBUNGAN-SALAFI-BRUMBUNGAN-SALAFI-BRUMBUNGAN-SALAFI-BRUMBUNGAN-SALAFI-BRUMBUNGAN-SALAFI-BRUMBUNGAN-SALAFI-BRUMBUNGAN-SALAFI-BRUMBUNGAN-SALAFI-BULUSTALAN-SALAFI-BULUSTALAN-SALAFI-BULUSTALAN-SALAFI-BULUSTALAN-SALAFI-BULUSTALAN-SALAFI-BULUSTALAN-SALAFI-BULUSTALAN-SALAFI-BULUSTALAN-SALAFI-BULUSTALAN-SALAFI-CABEAN-SALAFI-CABEAN-SALAFI-CABEAN-SALAFI-CABEAN-SALAFI-CABEAN-SALAFI-CABEAN-SALAFI-CABEAN-SALAFI-CABEAN-SALAFI-CABEAN-SALAFI-CANGKIRAN-SALAFI-CANGKIRAN-SALAFI-CANGKIRAN-SALAFI-CANGKIRAN-SALAFI-CANGKIRAN-SALAFI-CANGKIRAN-SALAFI-CANGKIRAN-SALAFI-CANGKIRAN-SALAFI-CANGKIRAN-SALAFI-DADAPSARI-SALAFI-DADAPSARI-SALAFI-DADAPSARI-SALAFI-DADAPSARI-SALAFI-DADAPSARI-SALAFI-DADAPSARI-SALAFI-DADAPSARI-SALAFI-DADAPSARI-SALAFI-DADAPSARI-SALAFI-GABAHAN-SALAFI-GABAHAN-SALAFI-GABAHAN-SALAFI-GABAHAN-SALAFI-GABAHAN-SALAFI-GABAHAN-SALAFI-GABAHAN-SALAFI-GABAHAN-SALAFI-GABAHAN-SALAFI-GAJAHMUNGKUR-SALAFI-GAJAHMUNGKUR-SALAFI-GAJAHMUNGKUR-SALAFI-GAJAHMUNGKUR-SALAFI-GAJAHMUNGKUR-SALAFI-GAJAHMUNGKUR-SALAFI-GAJAHMUNGKUR-SALAFI-GAJAHMUNGKUR-SALAFI-GAJAHMUNGKUR-SALAFI-GEBANGSARI-SALAFI-GEBANGSARI-SALAFI-GEBANGSARI-SALAFI-GEBANGSARI-SALAFI-GEBANGSARI-SALAFI-GEBANGSARI-SALAFI-GEBANGSARI-SALAFI-GEBANGSARI-SALAFI-GEBANGSARI-SALAFI-GEDAWANG-SALAFI-GEDAWANG-SALAFI-GEDAWANG-SALAFI-GEDAWANG-SALAFI-GEDAWANG-SALAFI-GEDAWANG-SALAFI-GEDAWANG-SALAFI-GEDAWANG-SALAFI-GEDAWANG-SALAFI-GENUKSARI-SALAFI-GENUKSARI-SALAFI-GENUKSARI-SALAFI-GENUKSARI-SALAFI-GENUKSARI-SALAFI-GENUKSARI-SALAFI-GENUKSARI-SALAFI-GENUKSARI-SALAFI-GENUKSARI-SALAFI-GISIKDRONO-SALAFI-GISIKDRONO-SALAFI-GISIKDRONO-SALAFI-GISIKDRONO-SALAFI-GISIKDRONO-SALAFI-GISIKDRONO-SALAFI-GISIKDRONO-SALAFI-GISIKDRONO-SALAFI-GISIKDRONO-SALAFI-GONDORIYO-SALAFI-GONDORIYO-SALAFI-GONDORIYO-SALAFI-GONDORIYO-SALAFI-GONDORIYO-SALAFI-GONDORIYO-SALAFI-GONDORIYO-SALAFI-GONDORIYO-SALAFI-GONDORIYO-SALAFI-GUNUNGPATI-SALAFI-GUNUNGPATI-SALAFI-GUNUNGPATI-SALAFI-GUNUNGPATI-SALAFI-GUNUNGPATI-SALAFI-GUNUNGPATI-SALAFI-GUNUNGPATI-SALAFI-GUNUNGPATI-SALAFI-GUNUNGPATI-SALAFI-JABUNGAN-SALAFI-JABUNGAN-SALAFI-JABUNGAN-SALAFI-JABUNGAN-SALAFI-JABUNGAN-SALAFI-JABUNGAN-SALAFI-JABUNGAN-SALAFI-JABUNGAN-SALAFI-JABUNGAN-SALAFI-JAGALAN-SALAFI-JAGALAN-SALAFI-JAGALAN-SALAFI-JAGALAN-SALAFI-JAGALAN-SALAFI-JAGALAN-SALAFI-JAGALAN-SALAFI-JAGALAN-SALAFI-JAGALAN-SALAFI-JANGLI-SALAFI-JANGLI-SALAFI-JANGLI-SALAFI-JANGLI-SALAFI-JANGLI-SALAFI-JANGLI-SALAFI-JANGLI-SALAFI-JANGLI-SALAFI-JANGLI-SALAFI-JATIBARAN-SALAFI-JATIBARAN-SALAFI-JATIBARAN-SALAFI-JATIBARAN-SALAFI-JATIBARAN-SALAFI-JATIBARAN-SALAFI-JATIBARAN-SALAFI-JATIBARAN-SALAFI-JATIBARAN-SALAFI-JATINGALEH-SALAFI-JATINGALEH-SALAFI-JATINGALEH-SALAFI-JATINGALEH-SALAFI-JATINGALEH-SALAFI-JATINGALEH-SALAFI-JATINGALEH-SALAFI-JATINGALEH-SALAFI-JATINGALEH-SALAFI-JATIREJO-SALAFI-JATIREJO-SALAFI-JATIREJO-SALAFI-JATIREJO-SALAFI-JATIREJO-SALAFI-JATIREJO-SALAFI-JATIREJO-SALAFI-JATIREJO-SALAFI-JATIREJO-SALAFI-JATISARI-SALAFI-JATISARI-SALAFI-JATISARI-SALAFI-JATISARI-SALAFI-JATISARI-SALAFI-JATISARI-SALAFI-JATISARI-SALAFI-JATISARI-SALAFI-JATISARI-SALAFI-JOMBLANG-SALAFI-JOMBLANG-SALAFI-JOMBLANG-SALAFI-JOMBLANG-SALAFI-JOMBLANG-SALAFI-JOMBLANG-SALAFI-JOMBLANG-SALAFI-JOMBLANG-SALAFI-JOMBLANG-SALAFI-KALIBANTENG-KIDUL-SALAFI-KALIBANTENG-KIDUL-SALAFI-KALIBANTENG-KIDUL-SALAFI-KALIBANTENG-KIDUL-SALAFI-KALIBANTENG-KIDUL-SALAFI-KALIBANTENG-KIDUL-SALAFI-KALIBANTENG-KIDUL-SALAFI-KALIBANTENG-KIDUL-SALAFI-KALIBANTENG-KIDUL-SALAFI-KALIBANTENG-KULON-SALAFI-KALIBANTENG-KULON-SALAFI-KALIBANTENG-KULON-SALAFI-KALIBANTENG-KULON-SALAFI-KALIBANTENG-KULON-SALAFI-KALIBANTENG-KULON-SALAFI-KALIBANTENG-KULON-SALAFI-KALIBANTENG-KULON-SALAFI-KALIBANTENG-KULON-SALAFI-KALICARI-SALAFI-KALICARI-SALAFI-KALICARI-SALAFI-KALICARI-SALAFI-KALICARI-SALAFI-KALICARI-SALAFI-KALICARI-SALAFI-KALICARI-SALAFI-KALICARI-SALAFI-KALIGAWE-SALAFI-KALIGAWE-SALAFI-KALIGAWE-SALAFI-KALIGAWE-SALAFI-KALIGAWE-SALAFI-KALIGAWE-SALAFI-KALIGAWE-SALAFI-KALIGAWE-SALAFI-KALIGAWE-SALAFI-KALIPANCUR-SALAFI-KALIPANCUR-SALAFI-KALIPANCUR-SALAFI-KALIPANCUR-SALAFI-KALIPANCUR-SALAFI-KALIPANCUR-SALAFI-KALIPANCUR-SALAFI-KALIPANCUR-SALAFI-KALIPANCUR-SALAFI-KALISEGORO-SALAFI-KALISEGORO-SALAFI-KALISEGORO-SALAFI-KALISEGORO-SALAFI-KALISEGORO-SALAFI-KALISEGORO-SALAFI-KALISEGORO-SALAFI-KALISEGORO-SALAFI-KALISEGORO-SALAFI-KALIWIRU-SALAFI-KALIWIRU-SALAFI-KALIWIRU-SALAFI-KALIWIRU-SALAFI-KALIWIRU-SALAFI-KALIWIRU-SALAFI-KALIWIRU-SALAFI-KALIWIRU-SALAFI-KALIWIRU-SALAFI-KANDRI-SALAFI-KANDRI-SALAFI-KANDRI-SALAFI-KANDRI-SALAFI-KANDRI-SALAFI-KANDRI-SALAFI-KANDRI-SALAFI-KANDRI-SALAFI-KANDRI-SALAFI-KARANGANYAR-SALAFI-KARANGANYAR-SALAFI-KARANGANYAR-SALAFI-KARANGANYAR-SALAFI-KARANGANYAR-SALAFI-KARANGANYAR-SALAFI-KARANGANYAR-SALAFI-KARANGANYAR-SALAFI-KARANGANYAR-SALAFI-KARANGANYARGUNUNG-SALAFI-KARANGANYARGUNUNG-SALAFI-KARANGANYARGUNUNG-SALAFI-KARANGANYARGUNUNG-SALAFI-KARANGANYARGUNUNG-SALAFI-KARANGANYARGUNUNG-SALAFI-KARANGANYARGUNUNG-SALAFI-KARANGANYARGUNUNG-SALAFI-KARANGANYARGUNUNG-SALAFI-KARANGAYU-SALAFI-KARANGAYU-SALAFI-KARANGAYU-SALAFI-KARANGAYU-SALAFI-KARANGAYU-SALAFI-KARANGAYU-SALAFI-KARANGAYU-SALAFI-KARANGAYU-SALAFI-KARANGAYU-SALAFI-KARANGKIDUL-SALAFI-KARANGKIDUL-SALAFI-KARANGKIDUL-SALAFI-KARANGKIDUL-SALAFI-KARANGKIDUL-SALAFI-KARANGKIDUL-SALAFI-KARANGKIDUL-SALAFI-KARANGKIDUL-SALAFI-KARANGKIDUL-SALAFI-KARANGMALANG-SALAFI-KARANGMALANG-SALAFI-KARANGMALANG-SALAFI-KARANGMALANG-SALAFI-KARANGMALANG-SALAFI-KARANGMALANG-SALAFI-KARANGMALANG-SALAFI-KARANGMALANG-SALAFI-KARANGMALANG-SALAFI-KARANGREJO-SALAFI-KARANGREJO-SALAFI-KARANGREJO-SALAFI-KARANGREJO-SALAFI-KARANGREJO-SALAFI-KARANGREJO-SALAFI-KARANGREJO-SALAFI-KARANGREJO-SALAFI-KARANGREJO-SALAFI-KARANGROTO-SALAFI-KARANGROTO-SALAFI-KARANGROTO-SALAFI-KARANGROTO-SALAFI-KARANGROTO-SALAFI-KARANGROTO-SALAFI-KARANGROTO-SALAFI-KARANGROTO-SALAFI-KARANGROTO-SALAFI-KARANGTEMPEL-SALAFI-KARANGTEMPEL-SALAFI-KARANGTEMPEL-SALAFI-KARANGTEMPEL-SALAFI-KARANGTEMPEL-SALAFI-KARANGTEMPEL-SALAFI-KARANGTEMPEL-SALAFI-KARANGTEMPEL-SALAFI-KARANGTEMPEL-SALAFI-KARANGTURI-SALAFI-KARANGTURI-SALAFI-KARANGTURI-SALAFI-KARANGTURI-SALAFI-KARANGTURI-SALAFI-KARANGTURI-SALAFI-KARANGTURI-SALAFI-KARANGTURI-SALAFI-KARANGTURI-SALAFI-KAUMAN-SALAFI-KAUMAN-SALAFI-KAUMAN-SALAFI-KAUMAN-SALAFI-KAUMAN-SALAFI-KAUMAN-SALAFI-KAUMAN-SALAFI-KAUMAN-SALAFI-KAUMAN-SALAFI-KEBONAGUNG-SALAFI-KEBONAGUNG-SALAFI-KEBONAGUNG-SALAFI-KEBONAGUNG-SALAFI-KEBONAGUNG-SALAFI-KEBONAGUNG-SALAFI-KEBONAGUNG-SALAFI-KEBONAGUNG-SALAFI-KEBONAGUNG-SALAFI-KEDUNGMUNDU-SALAFI-KEDUNGMUNDU-SALAFI-KEDUNGMUNDU-SALAFI-KEDUNGMUNDU-SALAFI-KEDUNGMUNDU-SALAFI-KEDUNGMUNDU-SALAFI-KEDUNGMUNDU-SALAFI-KEDUNGMUNDU-SALAFI-KEDUNGMUNDU-SALAFI-KEDUNGPANI-SALAFI-KEDUNGPANI-SALAFI-KEDUNGPANI-SALAFI-KEDUNGPANI-SALAFI-KEDUNGPANI-SALAFI-KEDUNGPANI-SALAFI-KEDUNGPANI-SALAFI-KEDUNGPANI-SALAFI-KEDUNGPANI-SALAFI-KEMBANGARUM-SALAFI-KEMBANGARUM-SALAFI-KEMBANGARUM-SALAFI-KEMBANGARUM-SALAFI-KEMBANGARUM-SALAFI-KEMBANGARUM-SALAFI-KEMBANGARUM-SALAFI-KEMBANGARUM-SALAFI-KEMBANGARUM-SALAFI-KEMBANGSARI-SALAFI-KEMBANGSARI-SALAFI-KEMBANGSARI-SALAFI-KEMBANGSARI-SALAFI-KEMBANGSARI-SALAFI-KEMBANGSARI-SALAFI-KEMBANGSARI-SALAFI-KEMBANGSARI-SALAFI-KEMBANGSARI-SALAFI-KEMIJEN-SALAFI-KEMIJEN-SALAFI-KEMIJEN-SALAFI-KEMIJEN-SALAFI-KEMIJEN-SALAFI-KEMIJEN-SALAFI-KEMIJEN-SALAFI-KEMIJEN-SALAFI-KEMIJEN-SALAFI-KRAMAS-SALAFI-KRAMAS-SALAFI-KRAMAS-SALAFI-KRAMAS-SALAFI-KRAMAS-SALAFI-KRAMAS-SALAFI-KRAMAS-SALAFI-KRAMAS-SALAFI-KRAMAS-SALAFI-KRANGGAN-SALAFI-KRANGGAN-SALAFI-KRANGGAN-SALAFI-KRANGGAN-SALAFI-KRANGGAN-SALAFI-KRANGGAN-SALAFI-KRANGGAN-SALAFI-KRANGGAN-SALAFI-KRANGGAN-SALAFI-KRAPYAK-SALAFI-KRAPYAK-SALAFI-KRAPYAK-SALAFI-KRAPYAK-SALAFI-KRAPYAK-SALAFI-KRAPYAK-SALAFI-KRAPYAK-SALAFI-KRAPYAK-SALAFI-KRAPYAK-SALAFI-KROBOKAN-SALAFI-KROBOKAN-SALAFI-KROBOKAN-SALAFI-KROBOKAN-SALAFI-KROBOKAN-SALAFI-KROBOKAN-SALAFI-KROBOKAN-SALAFI-KROBOKAN-SALAFI-KROBOKAN-SALAFI-KUDU-SALAFI-KUDU-SALAFI-KUDU-SALAFI-KUDU-SALAFI-KUDU-SALAFI-KUDU-SALAFI-KUDU-SALAFI-KUDU-SALAFI-KUDU-SALAFI-KUNINGAN-SALAFI-KUNINGAN-SALAFI-KUNINGAN-SALAFI-KUNINGAN-SALAFI-KUNINGAN-SALAFI-KUNINGAN-SALAFI-KUNINGAN-SALAFI-KUNINGAN-SALAFI-KUNINGAN-SALAFI-LAMPER-KIDUL-SALAFI-LAMPER-KIDUL-SALAFI-LAMPER-KIDUL-SALAFI-LAMPER-KIDUL-SALAFI-LAMPER-KIDUL-SALAFI-LAMPER-KIDUL-SALAFI-LAMPER-KIDUL-SALAFI-LAMPER-KIDUL-SALAFI-LAMPER-KIDUL-SALAFI-LAMPER-LOR-SALAFI-LAMPER-LOR-SALAFI-LAMPER-LOR-SALAFI-LAMPER-LOR-SALAFI-LAMPER-LOR-SALAFI-LAMPER-LOR-SALAFI-LAMPER-LOR-SALAFI-LAMPER-LOR-SALAFI-LAMPER-LOR-SALAFI-LAMPER-TENGAH-SALAFI-LAMPER-TENGAH-SALAFI-LAMPER-TENGAH-SALAFI-LAMPER-TENGAH-SALAFI-LAMPER-TENGAH-SALAFI-LAMPER-TENGAH-SALAFI-LAMPER-TENGAH-SALAFI-LAMPER-TENGAH-SALAFI-LAMPER-TENGAH-SALAFI-LEMPONGSARI-SALAFI-LEMPONGSARI-SALAFI-LEMPONGSARI-SALAFI-LEMPONGSARI-SALAFI-LEMPONGSARI-SALAFI-LEMPONGSARI-SALAFI-LEMPONGSARI-SALAFI-LEMPONGSARI-SALAFI-LEMPONGSARI-SALAFI-MANGKANG-KULON-SALAFI-MANGKANG-KULON-SALAFI-MANGKANG-KULON-SALAFI-MANGKANG-KULON-SALAFI-MANGKANG-KULON-SALAFI-MANGKANG-KULON-SALAFI-MANGKANG-KULON-SALAFI-MANGKANG-KULON-SALAFI-MANGKANG-KULON-SALAFI-MANGKANG-WETAN-SALAFI-MANGKANG-WETAN-SALAFI-MANGKANG-WETAN-SALAFI-MANGKANG-WETAN-SALAFI-MANGKANG-WETAN-SALAFI-MANGKANG-WETAN-SALAFI-MANGKANG-WETAN-SALAFI-MANGKANG-WETAN-SALAFI-MANGKANG-WETAN-SALAFI-MANGUNHARJO-SALAFI-MANGUNHARJO-SALAFI-MANGUNHARJO-SALAFI-MANGUNHARJO-SALAFI-MANGUNHARJO-SALAFI-MANGUNHARJO-SALAFI-MANGUNHARJO-SALAFI-MANGUNHARJO-SALAFI-MANGUNHARJO-SALAFI-MANGUNHARJO-SALAFI-MANGUNHARJO-SALAFI-MANGUNHARJO-SALAFI-MANGUNHARJO-SALAFI-MANGUNHARJO-SALAFI-MANGUNHARJO-SALAFI-MANGUNHARJO-SALAFI-MANGUNHARJO-SALAFI-MANGUNHARJO-SALAFI-MANGUNSARI-SALAFI-MANGUNSARI-SALAFI-MANGUNSARI-SALAFI-MANGUNSARI-SALAFI-MANGUNSARI-SALAFI-MANGUNSARI-SALAFI-MANGUNSARI-SALAFI-MANGUNSARI-SALAFI-MANGUNSARI-SALAFI-MANYARAN-SALAFI-MANYARAN-SALAFI-MANYARAN-SALAFI-MANYARAN-SALAFI-MANYARAN-SALAFI-MANYARAN-SALAFI-MANYARAN-SALAFI-MANYARAN-SALAFI-MANYARAN-SALAFI-METESEH-SALAFI-METESEH-SALAFI-METESEH-SALAFI-METESEH-SALAFI-METESEH-SALAFI-METESEH-SALAFI-METESEH-SALAFI-METESEH-SALAFI-METESEH-SALAFI-MIJEN-SALAFI-MIJEN-SALAFI-MIJEN-SALAFI-MIJEN-SALAFI-MIJEN-SALAFI-MIJEN-SALAFI-MIJEN-SALAFI-MIJEN-SALAFI-MIJEN-SALAFI-MIROTO-SALAFI-MIROTO-SALAFI-MIROTO-SALAFI-MIROTO-SALAFI-MIROTO-SALAFI-MIROTO-SALAFI-MIROTO-SALAFI-MIROTO-SALAFI-MIROTO-SALAFI-MLATIBARU-SALAFI-MLATIBARU-SALAFI-MLATIBARU-SALAFI-MLATIBARU-SALAFI-MLATIBARU-SALAFI-MLATIBARU-SALAFI-MLATIBARU-SALAFI-MLATIBARU-SALAFI-MLATIBARU-SALAFI-MLATIHARJO-SALAFI-MLATIHARJO-SALAFI-MLATIHARJO-SALAFI-MLATIHARJO-SALAFI-MLATIHARJO-SALAFI-MLATIHARJO-SALAFI-MLATIHARJO-SALAFI-MLATIHARJO-SALAFI-MLATIHARJO-SALAFI-MUGASSARI-SALAFI-MUGASSARI-SALAFI-MUGASSARI-SALAFI-MUGASSARI-SALAFI-MUGASSARI-SALAFI-MUGASSARI-SALAFI-MUGASSARI-SALAFI-MUGASSARI-SALAFI-MUGASSARI-SALAFI-MUKTIHARJO-KIDUL-SALAFI-MUKTIHARJO-KIDUL-SALAFI-MUKTIHARJO-KIDUL-SALAFI-MUKTIHARJO-KIDUL-SALAFI-MUKTIHARJO-KIDUL-SALAFI-MUKTIHARJO-KIDUL-SALAFI-MUKTIHARJO-KIDUL-SALAFI-MUKTIHARJO-KIDUL-SALAFI-MUKTIHARJO-KIDUL-SALAFI-MUKTIHARJO-LOR-SALAFI-MUKTIHARJO-LOR-SALAFI-MUKTIHARJO-LOR-SALAFI-MUKTIHARJO-LOR-SALAFI-MUKTIHARJO-LOR-SALAFI-MUKTIHARJO-LOR-SALAFI-MUKTIHARJO-LOR-SALAFI-MUKTIHARJO-LOR-SALAFI-MUKTIHARJO-LOR-SALAFI-NGADIRGO-SALAFI-NGADIRGO-SALAFI-NGADIRGO-SALAFI-NGADIRGO-SALAFI-NGADIRGO-SALAFI-NGADIRGO-SALAFI-NGADIRGO-SALAFI-NGADIRGO-SALAFI-NGADIRGO-SALAFI-NGALIYAN-SALAFI-NGALIYAN-SALAFI-NGALIYAN-SALAFI-NGALIYAN-SALAFI-NGALIYAN-SALAFI-NGALIYAN-SALAFI-NGALIYAN-SALAFI-NGALIYAN-SALAFI-NGALIYAN-SALAFI-NGEMPLAKSIMONGAN-SALAFI-NGEMPLAKSIMONGAN-SALAFI-NGEMPLAKSIMONGAN-SALAFI-NGEMPLAKSIMONGAN-SALAFI-NGEMPLAKSIMONGAN-SALAFI-NGEMPLAKSIMONGAN-SALAFI-NGEMPLAKSIMONGAN-SALAFI-NGEMPLAKSIMONGAN-SALAFI-NGEMPLAKSIMONGAN-SALAFI-NGESREP-SALAFI-NGESREP-SALAFI-NGESREP-SALAFI-NGESREP-SALAFI-NGESREP-SALAFI-NGESREP-SALAFI-NGESREP-SALAFI-NGESREP-SALAFI-NGESREP-SALAFI-NGIJO-SALAFI-NGIJO-SALAFI-NGIJO-SALAFI-NGIJO-SALAFI-NGIJO-SALAFI-NGIJO-SALAFI-NGIJO-SALAFI-NGIJO-SALAFI-NGIJO-SALAFI-NONGKOSAWIT-SALAFI-NONGKOSAWIT-SALAFI-NONGKOSAWIT-SALAFI-NONGKOSAWIT-SALAFI-NONGKOSAWIT-SALAFI-NONGKOSAWIT-SALAFI-NONGKOSAWIT-SALAFI-NONGKOSAWIT-SALAFI-NONGKOSAWIT-SALAFI-PADANGSARI-SALAFI-PADANGSARI-SALAFI-PADANGSARI-SALAFI-PADANGSARI-SALAFI-PADANGSARI-SALAFI-PADANGSARI-SALAFI-PADANGSARI-SALAFI-PADANGSARI-SALAFI-PADANGSARI-SALAFI-PAKINTELAN-SALAFI-PAKINTELAN-SALAFI-PAKINTELAN-SALAFI-PAKINTELAN-SALAFI-PAKINTELAN-SALAFI-PAKINTELAN-SALAFI-PAKINTELAN-SALAFI-PAKINTELAN-SALAFI-PAKINTELAN-SALAFI-PALEBON-SALAFI-PALEBON-SALAFI-PALEBON-SALAFI-PALEBON-SALAFI-PALEBON-SALAFI-PALEBON-SALAFI-PALEBON-SALAFI-PALEBON-SALAFI-PALEBON-SALAFI-PANDANSARI-SALAFI-PANDANSARI-SALAFI-PANDANSARI-SALAFI-PANDANSARI-SALAFI-PANDANSARI-SALAFI-PANDANSARI-SALAFI-PANDANSARI-SALAFI-PANDANSARI-SALAFI-PANDANSARI-SALAFI-PANDEAN-LAMPER-SALAFI-PANDEAN-LAMPER-SALAFI-PANDEAN-LAMPER-SALAFI-PANDEAN-LAMPER-SALAFI-PANDEAN-LAMPER-SALAFI-PANDEAN-LAMPER-SALAFI-PANDEAN-LAMPER-SALAFI-PANDEAN-LAMPER-SALAFI-PANDEAN-LAMPER-SALAFI-PANGGUNG-KIDUL-SALAFI-PANGGUNG-KIDUL-SALAFI-PANGGUNG-KIDUL-SALAFI-PANGGUNG-KIDUL-SALAFI-PANGGUNG-KIDUL-SALAFI-PANGGUNG-KIDUL-SALAFI-PANGGUNG-KIDUL-SALAFI-PANGGUNG-KIDUL-SALAFI-PANGGUNG-KIDUL-SALAFI-PANGGUNG-LOR-SALAFI-PANGGUNG-LOR-SALAFI-PANGGUNG-LOR-SALAFI-PANGGUNG-LOR-SALAFI-PANGGUNG-LOR-SALAFI-PANGGUNG-LOR-SALAFI-PANGGUNG-LOR-SALAFI-PANGGUNG-LOR-SALAFI-PANGGUNG-LOR-SALAFI-PATEMON-SALAFI-PATEMON-SALAFI-PATEMON-SALAFI-PATEMON-SALAFI-PATEMON-SALAFI-PATEMON-SALAFI-PATEMON-SALAFI-PATEMON-SALAFI-PATEMON-SALAFI-PEDALANGAN-SALAFI-PEDALANGAN-SALAFI-PEDALANGAN-SALAFI-PEDALANGAN-SALAFI-PEDALANGAN-SALAFI-PEDALANGAN-SALAFI-PEDALANGAN-SALAFI-PEDALANGAN-SALAFI-PEDALANGAN-SALAFI-PEDURUNGAN-KIDUL-SALAFI-PEDURUNGAN-KIDUL-SALAFI-PEDURUNGAN-KIDUL-SALAFI-PEDURUNGAN-KIDUL-SALAFI-PEDURUNGAN-KIDUL-SALAFI-PEDURUNGAN-KIDUL-SALAFI-PEDURUNGAN-KIDUL-SALAFI-PEDURUNGAN-KIDUL-SALAFI-PEDURUNGAN-KIDUL-SALAFI-PEDURUNGAN-LOR-SALAFI-PEDURUNGAN-LOR-SALAFI-PEDURUNGAN-LOR-SALAFI-PEDURUNGAN-LOR-SALAFI-PEDURUNGAN-LOR-SALAFI-PEDURUNGAN-LOR-SALAFI-PEDURUNGAN-LOR-SALAFI-PEDURUNGAN-LOR-SALAFI-PEDURUNGAN-LOR-SALAFI-PEDURUNGAN-TENGAH-SALAFI-PEDURUNGAN-TENGAH-SALAFI-PEDURUNGAN-TENGAH-SALAFI-PEDURUNGAN-TENGAH-SALAFI-PEDURUNGAN-TENGAH-SALAFI-PEDURUNGAN-TENGAH-SALAFI-PEDURUNGAN-TENGAH-SALAFI-PEDURUNGAN-TENGAH-SALAFI-PEDURUNGAN-TENGAH-SALAFI-PEKUNDEN-SALAFI-PEKUNDEN-SALAFI-PEKUNDEN-SALAFI-PEKUNDEN-SALAFI-PEKUNDEN-SALAFI-PEKUNDEN-SALAFI-PEKUNDEN-SALAFI-PEKUNDEN-SALAFI-PEKUNDEN-SALAFI-PENDRIKAN-KIDUL-SALAFI-PENDRIKAN-KIDUL-SALAFI-PENDRIKAN-KIDUL-SALAFI-PENDRIKAN-KIDUL-SALAFI-PENDRIKAN-KIDUL-SALAFI-PENDRIKAN-KIDUL-SALAFI-PENDRIKAN-KIDUL-SALAFI-PENDRIKAN-KIDUL-SALAFI-PENDRIKAN-KIDUL-SALAFI-PENDRIKAN-LOR-SALAFI-PENDRIKAN-LOR-SALAFI-PENDRIKAN-LOR-SALAFI-PENDRIKAN-LOR-SALAFI-PENDRIKAN-LOR-SALAFI-PENDRIKAN-LOR-SALAFI-PENDRIKAN-LOR-SALAFI-PENDRIKAN-LOR-SALAFI-PENDRIKAN-LOR-SALAFI-PENGGARON-KIDUL-SALAFI-PENGGARON-KIDUL-SALAFI-PENGGARON-KIDUL-SALAFI-PENGGARON-KIDUL-SALAFI-PENGGARON-KIDUL-SALAFI-PENGGARON-KIDUL-SALAFI-PENGGARON-KIDUL-SALAFI-PENGGARON-KIDUL-SALAFI-PENGGARON-KIDUL-SALAFI-PENGGARON-LOR-SALAFI-PENGGARON-LOR-SALAFI-PENGGARON-LOR-SALAFI-PENGGARON-LOR-SALAFI-PENGGARON-LOR-SALAFI-PENGGARON-LOR-SALAFI-PENGGARON-LOR-SALAFI-PENGGARON-LOR-SALAFI-PENGGARON-LOR-SALAFI-PESANTREN-SALAFI-PESANTREN-SALAFI-PESANTREN-SALAFI-PESANTREN-SALAFI-PESANTREN-SALAFI-PESANTREN-SALAFI-PESANTREN-SALAFI-PESANTREN-SALAFI-PESANTREN-SALAFI-PETERONGAN-SALAFI-PETERONGAN-SALAFI-PETERONGAN-SALAFI-PETERONGAN-SALAFI-PETERONGAN-SALAFI-PETERONGAN-SALAFI-PETERONGAN-SALAFI-PETERONGAN-SALAFI-PETERONGAN-SALAFI-PETOMPON-SALAFI-PETOMPON-SALAFI-PETOMPON-SALAFI-PETOMPON-SALAFI-PETOMPON-SALAFI-PETOMPON-SALAFI-PETOMPON-SALAFI-PETOMPON-SALAFI-PETOMPON-SALAFI-PLALANGAN-SALAFI-PLALANGAN-SALAFI-PLALANGAN-SALAFI-PLALANGAN-SALAFI-PLALANGAN-SALAFI-PLALANGAN-SALAFI-PLALANGAN-SALAFI-PLALANGAN-SALAFI-PLALANGAN-SALAFI-PLAMONGAN-SARI-SALAFI-PLAMONGAN-SARI-SALAFI-PLAMONGAN-SARI-SALAFI-PLAMONGAN-SARI-SALAFI-PLAMONGAN-SARI-SALAFI-PLAMONGAN-SARI-SALAFI-PLAMONGAN-SARI-SALAFI-PLAMONGAN-SARI-SALAFI-PLAMONGAN-SARI-SALAFI-PLEBURAN-SALAFI-PLEBURAN-SALAFI-PLEBURAN-SALAFI-PLEBURAN-SALAFI-PLEBURAN-SALAFI-PLEBURAN-SALAFI-PLEBURAN-SALAFI-PLEBURAN-SALAFI-PLEBURAN-SALAFI-PLOMBOKAN-SALAFI-PLOMBOKAN-SALAFI-PLOMBOKAN-SALAFI-PLOMBOKAN-SALAFI-PLOMBOKAN-SALAFI-PLOMBOKAN-SALAFI-PLOMBOKAN-SALAFI-PLOMBOKAN-SALAFI-PLOMBOKAN-SALAFI-PODOREJO-SALAFI-PODOREJO-SALAFI-PODOREJO-SALAFI-PODOREJO-SALAFI-PODOREJO-SALAFI-PODOREJO-SALAFI-PODOREJO-SALAFI-PODOREJO-SALAFI-PODOREJO-SALAFI-POLAMAN-SALAFI-POLAMAN-SALAFI-POLAMAN-SALAFI-POLAMAN-SALAFI-POLAMAN-SALAFI-POLAMAN-SALAFI-POLAMAN-SALAFI-POLAMAN-SALAFI-POLAMAN-SALAFI-PONGANGAN-SALAFI-PONGANGAN-SALAFI-PONGANGAN-SALAFI-PONGANGAN-SALAFI-PONGANGAN-SALAFI-PONGANGAN-SALAFI-PONGANGAN-SALAFI-PONGANGAN-SALAFI-PONGANGAN-SALAFI-PURWODINATAN-SALAFI-PURWODINATAN-SALAFI-PURWODINATAN-SALAFI-PURWODINATAN-SALAFI-PURWODINATAN-SALAFI-PURWODINATAN-SALAFI-PURWODINATAN-SALAFI-PURWODINATAN-SALAFI-PURWODINATAN-SALAFI-PURWOSARI-SALAFI-PURWOSARI-SALAFI-PURWOSARI-SALAFI-PURWOSARI-SALAFI-PURWOSARI-SALAFI-PURWOSARI-SALAFI-PURWOSARI-SALAFI-PURWOSARI-SALAFI-PURWOSARI-SALAFI-PURWOYOSO-SALAFI-PURWOYOSO-SALAFI-PURWOYOSO-SALAFI-PURWOYOSO-SALAFI-PURWOYOSO-SALAFI-PURWOYOSO-SALAFI-PURWOYOSO-SALAFI-PURWOYOSO-SALAFI-PURWOYOSO-SALAFI-RANDU-GARUT-SALAFI-RANDU-GARUT-SALAFI-RANDU-GARUT-SALAFI-RANDU-GARUT-SALAFI-RANDU-GARUT-SALAFI-RANDU-GARUT-SALAFI-RANDU-GARUT-SALAFI-RANDU-GARUT-SALAFI-RANDU-GARUT-SALAFI-RANDUSARI-SALAFI-RANDUSARI-SALAFI-RANDUSARI-SALAFI-RANDUSARI-SALAFI-RANDUSARI-SALAFI-RANDUSARI-SALAFI-RANDUSARI-SALAFI-RANDUSARI-SALAFI-RANDUSARI-SALAFI-REJOMULYO-SALAFI-REJOMULYO-SALAFI-REJOMULYO-SALAFI-REJOMULYO-SALAFI-REJOMULYO-SALAFI-REJOMULYO-SALAFI-REJOMULYO-SALAFI-REJOMULYO-SALAFI-REJOMULYO-SALAFI-REJOSARI-SALAFI-REJOSARI-SALAFI-REJOSARI-SALAFI-REJOSARI-SALAFI-REJOSARI-SALAFI-REJOSARI-SALAFI-REJOSARI-SALAFI-REJOSARI-SALAFI-REJOSARI-SALAFI-ROWOSARI-SALAFI-ROWOSARI-SALAFI-ROWOSARI-SALAFI-ROWOSARI-SALAFI-ROWOSARI-SALAFI-ROWOSARI-SALAFI-ROWOSARI-SALAFI-ROWOSARI-SALAFI-ROWOSARI-SALAFI-SADENG-SALAFI-SADENG-SALAFI-SADENG-SALAFI-SADENG-SALAFI-SADENG-SALAFI-SADENG-SALAFI-SADENG-SALAFI-SADENG-SALAFI-SADENG-SALAFI-SALAMANMLOYO-SALAFI-SALAMANMLOYO-SALAFI-SALAMANMLOYO-SALAFI-SALAMANMLOYO-SALAFI-SALAMANMLOYO-SALAFI-SALAMANMLOYO-SALAFI-SALAMANMLOYO-SALAFI-SALAMANMLOYO-SALAFI-SALAMANMLOYO-SALAFI-SAMBIREJO-SALAFI-SAMBIREJO-SALAFI-SAMBIREJO-SALAFI-SAMBIREJO-SALAFI-SAMBIREJO-SALAFI-SAMBIREJO-SALAFI-SAMBIREJO-SALAFI-SAMBIREJO-SALAFI-SAMBIREJO-SALAFI-SAMBIROTO-SALAFI-SAMBIROTO-SALAFI-SAMBIROTO-SALAFI-SAMBIROTO-SALAFI-SAMBIROTO-SALAFI-SAMBIROTO-SALAFI-SAMBIROTO-SALAFI-SAMBIROTO-SALAFI-SAMBIROTO-SALAFI-SAMPANGAN-SALAFI-SAMPANGAN-SALAFI-SAMPANGAN-SALAFI-SAMPANGAN-SALAFI-SAMPANGAN-SALAFI-SAMPANGAN-SALAFI-SAMPANGAN-SALAFI-SAMPANGAN-SALAFI-SAMPANGAN-SALAFI-SARIREJO-SALAFI-SARIREJO-SALAFI-SARIREJO-SALAFI-SARIREJO-SALAFI-SARIREJO-SALAFI-SARIREJO-SALAFI-SARIREJO-SALAFI-SARIREJO-SALAFI-SARIREJO-SALAFI-SAWAH-BESAR-SALAFI-SAWAH-BESAR-SALAFI-SAWAH-BESAR-SALAFI-SAWAH-BESAR-SALAFI-SAWAH-BESAR-SALAFI-SAWAH-BESAR-SALAFI-SAWAH-BESAR-SALAFI-SAWAH-BESAR-SALAFI-SAWAH-BESAR-SALAFI-SEKARAN-SALAFI-SEKARAN-SALAFI-SEKARAN-SALAFI-SEKARAN-SALAFI-SEKARAN-SALAFI-SEKARAN-SALAFI-SEKARAN-SALAFI-SEKARAN-SALAFI-SEKARAN-SALAFI-SEKAYU-SALAFI-SEKAYU-SALAFI-SEKAYU-SALAFI-SEKAYU-SALAFI-SEKAYU-SALAFI-SEKAYU-SALAFI-SEKAYU-SALAFI-SEKAYU-SALAFI-SEKAYU-SALAFI-SEMARANG-SALAFI-SEMARANG-SALAFI-SEMARANG-SALAFI-SEMARANG-SALAFI-SEMARANG-SALAFI-SEMARANG-SALAFI-SEMARANG-SALAFI-SEMARANG-SALAFI-SEMARANG-SALAFI-SEMBUNGHARJO-SALAFI-SEMBUNGHARJO-SALAFI-SEMBUNGHARJO-SALAFI-SEMBUNGHARJO-SALAFI-SEMBUNGHARJO-SALAFI-SEMBUNGHARJO-SALAFI-SEMBUNGHARJO-SALAFI-SEMBUNGHARJO-SALAFI-SEMBUNGHARJO-SALAFI-SENDANGGUWO-SALAFI-SENDANGGUWO-SALAFI-SENDANGGUWO-SALAFI-SENDANGGUWO-SALAFI-SENDANGGUWO-SALAFI-SENDANGGUWO-SALAFI-SENDANGGUWO-SALAFI-SENDANGGUWO-SALAFI-SENDANGGUWO-SALAFI-SENDANGMULYO-SALAFI-SENDANGMULYO-SALAFI-SENDANGMULYO-SALAFI-SENDANGMULYO-SALAFI-SENDANGMULYO-SALAFI-SENDANGMULYO-SALAFI-SENDANGMULYO-SALAFI-SENDANGMULYO-SALAFI-SENDANGMULYO-SALAFI-SIWALAN-SALAFI-SIWALAN-SALAFI-SIWALAN-SALAFI-SIWALAN-SALAFI-SIWALAN-SALAFI-SIWALAN-SALAFI-SIWALAN-SALAFI-SIWALAN-SALAFI-SIWALAN-SALAFI-SRONDOL-KULON-SALAFI-SRONDOL-KULON-SALAFI-SRONDOL-KULON-SALAFI-SRONDOL-KULON-SALAFI-SRONDOL-KULON-SALAFI-SRONDOL-KULON-SALAFI-SRONDOL-KULON-SALAFI-SRONDOL-KULON-SALAFI-SRONDOL-KULON-SALAFI-SRONDOL-WETAN-SALAFI-SRONDOL-WETAN-SALAFI-SRONDOL-WETAN-SALAFI-SRONDOL-WETAN-SALAFI-SRONDOL-WETAN-SALAFI-SRONDOL-WETAN-SALAFI-SRONDOL-WETAN-SALAFI-SRONDOL-WETAN-SALAFI-SRONDOL-WETAN-SALAFI-SUKOREJO-SALAFI-SUKOREJO-SALAFI-SUKOREJO-SALAFI-SUKOREJO-SALAFI-SUKOREJO-SALAFI-SUKOREJO-SALAFI-SUKOREJO-SALAFI-SUKOREJO-SALAFI-SUKOREJO-SALAFI-SUMURBOTO-SALAFI-SUMURBOTO-SALAFI-SUMURBOTO-SALAFI-SUMURBOTO-SALAFI-SUMURBOTO-SALAFI-SUMURBOTO-SALAFI-SUMURBOTO-SALAFI-SUMURBOTO-SALAFI-SUMURBOTO-SALAFI-SUMUREJO-SALAFI-SUMUREJO-SALAFI-SUMUREJO-SALAFI-SUMUREJO-SALAFI-SUMUREJO-SALAFI-SUMUREJO-SALAFI-SUMUREJO-SALAFI-SUMUREJO-SALAFI-SUMUREJO-SALAFI-TAMBAK-AJI-SALAFI-TAMBAK-AJI-SALAFI-TAMBAK-AJI-SALAFI-TAMBAK-AJI-SALAFI-TAMBAK-AJI-SALAFI-TAMBAK-AJI-SALAFI-TAMBAK-AJI-SALAFI-TAMBAK-AJI-SALAFI-TAMBAK-AJI-SALAFI-TAMBAKHARJO-SALAFI-TAMBAKHARJO-SALAFI-TAMBAKHARJO-SALAFI-TAMBAKHARJO-SALAFI-TAMBAKHARJO-SALAFI-TAMBAKHARJO-SALAFI-TAMBAKHARJO-SALAFI-TAMBAKHARJO-SALAFI-TAMBAKHARJO-SALAFI-TAMBAKREJO-SALAFI-TAMBAKREJO-SALAFI-TAMBAKREJO-SALAFI-TAMBAKREJO-SALAFI-TAMBAKREJO-SALAFI-TAMBAKREJO-SALAFI-TAMBAKREJO-SALAFI-TAMBAKREJO-SALAFI-TAMBAKREJO-SALAFI-TAMBANGAN-SALAFI-TAMBANGAN-SALAFI-TAMBANGAN-SALAFI-TAMBANGAN-SALAFI-TAMBANGAN-SALAFI-TAMBANGAN-SALAFI-TAMBANGAN-SALAFI-TAMBANGAN-SALAFI-TAMBANGAN-SALAFI-TANDANG-SALAFI-TANDANG-SALAFI-TANDANG-SALAFI-TANDANG-SALAFI-TANDANG-SALAFI-TANDANG-SALAFI-TANDANG-SALAFI-TANDANG-SALAFI-TANDANG-SALAFI-TANJUNGMAS-SALAFI-TANJUNGMAS-SALAFI-TANJUNGMAS-SALAFI-TANJUNGMAS-SALAFI-TANJUNGMAS-SALAFI-TANJUNGMAS-SALAFI-TANJUNGMAS-SALAFI-TANJUNGMAS-SALAFI-TANJUNGMAS-SALAFI-TAWANGMAS-SALAFI-TAWANGMAS-SALAFI-TAWANGMAS-SALAFI-TAWANGMAS-SALAFI-TAWANGMAS-SALAFI-TAWANGMAS-SALAFI-TAWANGMAS-SALAFI-TAWANGMAS-SALAFI-TAWANGMAS-SALAFI-TAWANGSARI-SALAFI-TAWANGSARI-SALAFI-TAWANGSARI-SALAFI-TAWANGSARI-SALAFI-TAWANGSARI-SALAFI-TAWANGSARI-SALAFI-TAWANGSARI-SALAFI-TAWANGSARI-SALAFI-TAWANGSARI-SALAFI-TEGALSARI-SALAFI-TEGALSARI-SALAFI-TEGALSARI-SALAFI-TEGALSARI-SALAFI-TEGALSARI-SALAFI-TEGALSARI-SALAFI-TEGALSARI-SALAFI-TEGALSARI-SALAFI-TEGALSARI-SALAFI-TEMBALANG-SALAFI-TEMBALANG-SALAFI-TEMBALANG-SALAFI-TEMBALANG-SALAFI-TEMBALANG-SALAFI-TEMBALANG-SALAFI-TEMBALANG-SALAFI-TEMBALANG-SALAFI-TEMBALANG-SALAFI-TERBOYO-KULON-SALAFI-TERBOYO-KULON-SALAFI-TERBOYO-KULON-SALAFI-TERBOYO-KULON-SALAFI-TERBOYO-KULON-SALAFI-TERBOYO-KULON-SALAFI-TERBOYO-KULON-SALAFI-TERBOYO-KULON-SALAFI-TERBOYO-KULON-SALAFI-TERBOYO-WETAN-SALAFI-TERBOYO-WETAN-SALAFI-TERBOYO-WETAN-SALAFI-TERBOYO-WETAN-SALAFI-TERBOYO-WETAN-SALAFI-TERBOYO-WETAN-SALAFI-TERBOYO-WETAN-SALAFI-TERBOYO-WETAN-SALAFI-TERBOYO-WETAN-SALAFI-TINJOMOYO-SALAFI-TINJOMOYO-SALAFI-TINJOMOYO-SALAFI-TINJOMOYO-SALAFI-TINJOMOYO-SALAFI-TINJOMOYO-SALAFI-TINJOMOYO-SALAFI-TINJOMOYO-SALAFI-TINJOMOYO-SALAFI-TLOGOMULYO-SALAFI-TLOGOMULYO-SALAFI-TLOGOMULYO-SALAFI-TLOGOMULYO-SALAFI-TLOGOMULYO-SALAFI-TLOGOMULYO-SALAFI-TLOGOMULYO-SALAFI-TLOGOMULYO-SALAFI-TLOGOMULYO-SALAFI-TLOGOSARI-KULON-SALAFI-TLOGOSARI-KULON-SALAFI-TLOGOSARI-KULON-SALAFI-TLOGOSARI-KULON-SALAFI-TLOGOSARI-KULON-SALAFI-TLOGOSARI-KULON-SALAFI-TLOGOSARI-KULON-SALAFI-TLOGOSARI-KULON-SALAFI-TLOGOSARI-KULON-SALAFI-TLOGOSARI-WETAN-SALAFI-TLOGOSARI-WETAN-SALAFI-TLOGOSARI-WETAN-SALAFI-TLOGOSARI-WETAN-SALAFI-TLOGOSARI-WETAN-SALAFI-TLOGOSARI-WETAN-SALAFI-TLOGOSARI-WETAN-SALAFI-TLOGOSARI-WETAN-SALAFI-TLOGOSARI-WETAN-SALAFI-TRIMULYO-SALAFI-TRIMULYO-SALAFI-TRIMULYO-SALAFI-TRIMULYO-SALAFI-TRIMULYO-SALAFI-TRIMULYO-SALAFI-TRIMULYO-SALAFI-TRIMULYO-SALAFI-TRIMULYO-SALAFI-TUGUREJO-SALAFI-TUGUREJO-SALAFI-TUGUREJO-SALAFI-TUGUREJO-SALAFI-TUGUREJO-SALAFI-TUGUREJO-SALAFI-TUGUREJO-SALAFI-TUGUREJO-SALAFI-TUGUREJO-SALAFI-WONODRI-SALAFI-WONODRI-SALAFI-WONODRI-SALAFI-WONODRI-SALAFI-WONODRI-SALAFI-WONODRI-SALAFI-WONODRI-SALAFI-WONODRI-SALAFI-WONODRI-SALAFI-WONOLOPO-SALAFI-WONOLOPO-SALAFI-WONOLOPO-SALAFI-WONOLOPO-SALAFI-WONOLOPO-SALAFI-WONOLOPO-SALAFI-WONOLOPO-SALAFI-WONOLOPO-SALAFI-WONOLOPO-SALAFI-WONOPLUMBON-SALAFI-WONOPLUMBON-SALAFI-WONOPLUMBON-SALAFI-WONOPLUMBON-SALAFI-WONOPLUMBON-SALAFI-WONOPLUMBON-SALAFI-WONOPLUMBON-SALAFI-WONOPLUMBON-SALAFI-WONOPLUMBON-SALAFI-WONOSARI-SALAFI-WONOSARI-SALAFI-WONOSARI-SALAFI-WONOSARI-SALAFI-WONOSARI-SALAFI-WONOSARI-SALAFI-WONOSARI-SALAFI-WONOSARI-SALAFI-WONOSARI-SALAFI-WONOTINGAL-SALAFI-WONOTINGAL-SALAFI-WONOTINGAL-SALAFI-WONOTINGAL-SALAFI-WONOTINGAL-SALAFI-WONOTINGAL-SALAFI-WONOTINGAL-SALAFI-WONOTINGAL-SALAFI-WONOTINGAL-SALAFI-AMBARAWA-SALAFI-AMBARAWA-SALAFI-AMBARAWA-SALAFI-AMBARAWA-SALAFI-AMBARAWA-SALAFI-AMBARAWA-SALAFI-AMBARAWA-SALAFI-AMBARAWA-SALAFI-AMBARAWA-SALAFI-BAMBANKEREP-SALAFI-BAMBANKEREP-SALAFI-BAMBANKEREP-SALAFI-BAMBANKEREP-SALAFI-BAMBANKEREP-SALAFI-BAMBANKEREP-SALAFI-BAMBANKEREP-SALAFI-BAMBANKEREP-SALAFI-BAMBANKEREP-SALAFI-BANCAK-SALAFI-BANCAK-SALAFI-BANCAK-SALAFI-BANCAK-SALAFI-BANCAK-SALAFI-BANCAK-SALAFI-BANCAK-SALAFI-BANCAK-SALAFI-BANCAK-SALAFI-BANDUNGAN-SALAFI-BANDUNGAN-SALAFI-BANDUNGAN-SALAFI-BANDUNGAN-SALAFI-BANDUNGAN-SALAFI-BANDUNGAN-SALAFI-BANDUNGAN-SALAFI-BANDUNGAN-SALAFI-BANDUNGAN-SALAFI-BANGETAYU-KULON-SALAFI-BANGETAYU-KULON-SALAFI-BANGETAYU-KULON-SALAFI-BANGETAYU-KULON-SALAFI-BANGETAYU-KULON-SALAFI-BANGETAYU-KULON-SALAFI-BANGETAYU-KULON-SALAFI-BANGETAYU-KULON-SALAFI-BANGETAYU-KULON-SALAFI-BANGUNHARJO-SALAFI-BANGUNHARJO-SALAFI-BANGUNHARJO-SALAFI-BANGUNHARJO-SALAFI-BANGUNHARJO-SALAFI-BANGUNHARJO-SALAFI-BANGUNHARJO-SALAFI-BANGUNHARJO-SALAFI-BANGUNHARJO-SALAFI-BANJARNEGARA-SALAFI-BANJARNEGARA-SALAFI-BANJARNEGARA-SALAFI-BANJARNEGARA-SALAFI-BANJARNEGARA-SALAFI-BANJARNEGARA-SALAFI-BANJARNEGARA-SALAFI-BANJARNEGARA-SALAFI-BANJARNEGARA-SALAFI-BANYUBIRU-SALAFI-BANYUBIRU-SALAFI-BANYUBIRU-SALAFI-BANYUBIRU-SALAFI-BANYUBIRU-SALAFI-BANYUBIRU-SALAFI-BANYUBIRU-SALAFI-BANYUBIRU-SALAFI-BANYUBIRU-SALAFI-BANYUMANIK-SALAFI-BANYUMANIK-SALAFI-BANYUMANIK-SALAFI-BANYUMANIK-SALAFI-BANYUMANIK-SALAFI-BANYUMANIK-SALAFI-BANYUMANIK-SALAFI-BANYUMANIK-SALAFI-BANYUMANIK-SALAFI-BANYUMAS-SALAFI-BANYUMAS-SALAFI-BANYUMAS-SALAFI-BANYUMAS-SALAFI-BANYUMAS-SALAFI-BANYUMAS-SALAFI-BANYUMAS-SALAFI-BANYUMAS-SALAFI-BANYUMAS-SALAFI-BARUSARI-SALAFI-BARUSARI-SALAFI-BARUSARI-SALAFI-BARUSARI-SALAFI-BARUSARI-SALAFI-BARUSARI-SALAFI-BARUSARI-SALAFI-BARUSARI-SALAFI-BARUSARI-SALAFI-BATANG-SALAFI-BATANG-SALAFI-BATANG-SALAFI-BATANG-SALAFI-BATANG-SALAFI-BATANG-SALAFI-BATANG-SALAFI-BATANG-SALAFI-BATANG-SALAFI-BAWEN-SALAFI-BAWEN-SALAFI-BAWEN-SALAFI-BAWEN-SALAFI-BAWEN-SALAFI-BAWEN-SALAFI-BAWEN-SALAFI-BAWEN-SALAFI-BAWEN-SALAFI-BENDANDUWUR-SALAFI-BENDANDUWUR-SALAFI-BENDANDUWUR-SALAFI-BENDANDUWUR-SALAFI-BENDANDUWUR-SALAFI-BENDANDUWUR-SALAFI-BENDANDUWUR-SALAFI-BENDANDUWUR-SALAFI-BENDANDUWUR-SALAFI-BERGAS-SALAFI-BERGAS-SALAFI-BERGAS-SALAFI-BERGAS-SALAFI-BERGAS-SALAFI-BERGAS-SALAFI-BERGAS-SALAFI-BERGAS-SALAFI-BERGAS-SALAFI-BLORA-SALAFI-BLORA-SALAFI-BLORA-SALAFI-BLORA-SALAFI-BLORA-SALAFI-BLORA-SALAFI-BLORA-SALAFI-BLORA-SALAFI-BLORA-SALAFI-BOJONGSALAMAN-SALAFI-BOJONGSALAMAN-SALAFI-BOJONGSALAMAN-SALAFI-BOJONGSALAMAN-SALAFI-BOJONGSALAMAN-SALAFI-BOJONGSALAMAN-SALAFI-BOJONGSALAMAN-SALAFI-BOJONGSALAMAN-SALAFI-BOJONGSALAMAN-SALAFI-BOYOLALI-SALAFI-BOYOLALI-SALAFI-BOYOLALI-SALAFI-BOYOLALI-SALAFI-BOYOLALI-SALAFI-BOYOLALI-SALAFI-BOYOLALI-SALAFI-BOYOLALI-SALAFI-BOYOLALI-SALAFI-BREBES-SALAFI-BREBES-SALAFI-BREBES-SALAFI-BREBES-SALAFI-BREBES-SALAFI-BREBES-SALAFI-BREBES-SALAFI-BREBES-SALAFI-BREBES-SALAFI-BRINGIN-SALAFI-BRINGIN-SALAFI-BRINGIN-SALAFI-BRINGIN-SALAFI-BRINGIN-SALAFI-BRINGIN-SALAFI-BRINGIN-SALAFI-BRINGIN-SALAFI-BRINGIN-SALAFI-BUBAKAN-SALAFI-BUBAKAN-SALAFI-BUBAKAN-SALAFI-BUBAKAN-SALAFI-BUBAKAN-SALAFI-BUBAKAN-SALAFI-BUBAKAN-SALAFI-BUBAKAN-SALAFI-BUBAKAN-SALAFI-BUGANGAN-SALAFI-BUGANGAN-SALAFI-BUGANGAN-SALAFI-BUGANGAN-SALAFI-BUGANGAN-SALAFI-BUGANGAN-SALAFI-BUGANGAN-SALAFI-BUGANGAN-SALAFI-BUGANGAN-SALAFI-BULU-LOR-SALAFI-BULU-LOR-SALAFI-BULU-LOR-SALAFI-BULU-LOR-SALAFI-BULU-LOR-SALAFI-BULU-LOR-SALAFI-BULU-LOR-SALAFI-BULU-LOR-SALAFI-BULU-LOR-SALAFI-BULUSAN-SALAFI-BULUSAN-SALAFI-BULUSAN-SALAFI-BULUSAN-SALAFI-BULUSAN-SALAFI-BULUSAN-SALAFI-BULUSAN-SALAFI-BULUSAN-SALAFI-BULUSAN-SALAFI-BUMIAYU-SALAFI-BUMIAYU-SALAFI-BUMIAYU-SALAFI-BUMIAYU-SALAFI-BUMIAYU-SALAFI-BUMIAYU-SALAFI-BUMIAYU-SALAFI-BUMIAYU-SALAFI-BUMIAYU-SALAFI-CANDI-SALAFI-CANDI-SALAFI-CANDI-SALAFI-CANDI-SALAFI-CANDI-SALAFI-CANDI-SALAFI-CANDI-SALAFI-CANDI-SALAFI-CANDI-SALAFI-CANDISARI-SALAFI-CANDISARI-SALAFI-CANDISARI-SALAFI-CANDISARI-SALAFI-CANDISARI-SALAFI-CANDISARI-SALAFI-CANDISARI-SALAFI-CANDISARI-SALAFI-CANDISARI-SALAFI-CEPOKO-SALAFI-CEPOKO-SALAFI-CEPOKO-SALAFI-CEPOKO-SALAFI-CEPOKO-SALAFI-CEPOKO-SALAFI-CEPOKO-SALAFI-CEPOKO-SALAFI-CEPOKO-SALAFI-CEPU-SALAFI-CEPU-SALAFI-CEPU-SALAFI-CEPU-SALAFI-CEPU-SALAFI-CEPU-SALAFI-CEPU-SALAFI-CEPU-SALAFI-CEPU-SALAFI-CILACAP-SALAFI-CILACAP-SALAFI-CILACAP-SALAFI-CILACAP-SALAFI-CILACAP-SALAFI-CILACAP-SALAFI-CILACAP-SALAFI-CILACAP-SALAFI-CILACAP-SALAFI-DEMAK-SALAFI-DEMAK-SALAFI-DEMAK-SALAFI-DEMAK-SALAFI-DEMAK-SALAFI-DEMAK-SALAFI-DEMAK-SALAFI-DEMAK-SALAFI-DEMAK-SALAFI-GAJAHMUNGKUR-SALAFI-GAJAHMUNGKUR-SALAFI-GAJAHMUNGKUR-SALAFI-GAJAHMUNGKUR-SALAFI-GAJAHMUNGKUR-SALAFI-GAJAHMUNGKUR-SALAFI-GAJAHMUNGKUR-SALAFI-GAJAHMUNGKUR-SALAFI-GAJAHMUNGKUR-SALAFI-GAYAMSARI-SALAFI-GAYAMSARI-SALAFI-GAYAMSARI-SALAFI-GAYAMSARI-SALAFI-GAYAMSARI-SALAFI-GAYAMSARI-SALAFI-GAYAMSARI-SALAFI-GAYAMSARI-SALAFI-GAYAMSARI-SALAFI-GEMAH-SALAFI-GEMAH-SALAFI-GEMAH-SALAFI-GEMAH-SALAFI-GEMAH-SALAFI-GEMAH-SALAFI-GEMAH-SALAFI-GEMAH-SALAFI-GEMAH-SALAFI-GENUK-SALAFI-GENUK-SALAFI-GENUK-SALAFI-GENUK-SALAFI-GENUK-SALAFI-GENUK-SALAFI-GENUK-SALAFI-GENUK-SALAFI-GENUK-SALAFI-GETASAN-SALAFI-GETASAN-SALAFI-GETASAN-SALAFI-GETASAN-SALAFI-GETASAN-SALAFI-GETASAN-SALAFI-GETASAN-SALAFI-GETASAN-SALAFI-GETASAN-SALAFI-GODONG-SALAFI-GODONG-SALAFI-GODONG-SALAFI-GODONG-SALAFI-GODONG-SALAFI-GODONG-SALAFI-GODONG-SALAFI-GODONG-SALAFI-GODONG-SALAFI-GROBOGAN-SALAFI-GROBOGAN-SALAFI-GROBOGAN-SALAFI-GROBOGAN-SALAFI-GROBOGAN-SALAFI-GROBOGAN-SALAFI-GROBOGAN-SALAFI-GROBOGAN-SALAFI-GROBOGAN-SALAFI-GUBUG-SALAFI-GUBUG-SALAFI-GUBUG-SALAFI-GUBUG-SALAFI-GUBUG-SALAFI-GUBUG-SALAFI-GUBUG-SALAFI-GUBUG-SALAFI-GUBUG-SALAFI-GUNUNGPATI-SALAFI-GUNUNGPATI-SALAFI-GUNUNGPATI-SALAFI-GUNUNGPATI-SALAFI-GUNUNGPATI-SALAFI-GUNUNGPATI-SALAFI-GUNUNGPATI-SALAFI-GUNUNGPATI-SALAFI-GUNUNGPATI-SALAFI-JAMBU-SALAFI-JAMBU-SALAFI-JAMBU-SALAFI-JAMBU-SALAFI-JAMBU-SALAFI-JAMBU-SALAFI-JAMBU-SALAFI-JAMBU-SALAFI-JAMBU-SALAFI-JATENG-SALAFI-JATENG-SALAFI-JATENG-SALAFI-JATENG-SALAFI-JATENG-SALAFI-JATENG-SALAFI-JATENG-SALAFI-JATENG-SALAFI-JATENG-SALAFI-JATIBARANG-SALAFI-JATIBARANG-SALAFI-JATIBARANG-SALAFI-JATIBARANG-SALAFI-JATIBARANG-SALAFI-JATIBARANG-SALAFI-JATIBARANG-SALAFI-JATIBARANG-SALAFI-JATIBARANG-SALAFI-JAWA-TENGAH-SALAFI-JAWA-TENGAH-SALAFI-JAWA-TENGAH-SALAFI-JAWA-TENGAH-SALAFI-JAWA-TENGAH-SALAFI-JAWA-TENGAH-SALAFI-JAWA-TENGAH-SALAFI-JAWA-TENGAH-SALAFI-JAWA-TENGAH-SALAFI-JEPARA-SALAFI-JEPARA-SALAFI-JEPARA-SALAFI-JEPARA-SALAFI-JEPARA-SALAFI-JEPARA-SALAFI-JEPARA-SALAFI-JEPARA-SALAFI-JEPARA-SALAFI-JERAKAH-SALAFI-JERAKAH-SALAFI-JERAKAH-SALAFI-JERAKAH-SALAFI-JERAKAH-SALAFI-JERAKAH-SALAFI-JERAKAH-SALAFI-JERAKAH-SALAFI-JERAKAH-SALAFI-JUWANA-SALAFI-JUWANA-SALAFI-JUWANA-SALAFI-JUWANA-SALAFI-JUWANA-SALAFI-JUWANA-SALAFI-JUWANA-SALAFI-JUWANA-SALAFI-JUWANA-SALAFI-KAJEN-SALAFI-KAJEN-SALAFI-KAJEN-SALAFI-KAJEN-SALAFI-KAJEN-SALAFI-KAJEN-SALAFI-KAJEN-SALAFI-KAJEN-SALAFI-KAJEN-SALAFI-KALIWUNGU-SALAFI-KALIWUNGU-SALAFI-KALIWUNGU-SALAFI-KALIWUNGU-SALAFI-KALIWUNGU-SALAFI-KALIWUNGU-SALAFI-KALIWUNGU-SALAFI-KALIWUNGU-SALAFI-KALIWUNGU-SALAFI-KARANGANYAR-SALAFI-KARANGANYAR-SALAFI-KARANGANYAR-SALAFI-KARANGANYAR-SALAFI-KARANGANYAR-SALAFI-KARANGANYAR-SALAFI-KARANGANYAR-SALAFI-KARANGANYAR-SALAFI-KARANGANYAR-SALAFI-KEBUMEN-SALAFI-KEBUMEN-SALAFI-KEBUMEN-SALAFI-KEBUMEN-SALAFI-KEBUMEN-SALAFI-KEBUMEN-SALAFI-KEBUMEN-SALAFI-KEBUMEN-SALAFI-KEBUMEN-SALAFI-KEDU-SALAFI-KEDU-SALAFI-KEDU-SALAFI-KEDU-SALAFI-KEDU-SALAFI-KEDU-SALAFI-KEDU-SALAFI-KEDU-SALAFI-KEDU-SALAFI-KENDAL-SALAFI-KENDAL-SALAFI-KENDAL-SALAFI-KENDAL-SALAFI-KENDAL-SALAFI-KENDAL-SALAFI-KENDAL-SALAFI-KENDAL-SALAFI-KENDAL-SALAFI-KLATEN-SALAFI-KLATEN-SALAFI-KLATEN-SALAFI-KLATEN-SALAFI-KLATEN-SALAFI-KLATEN-SALAFI-KLATEN-SALAFI-KLATEN-SALAFI-KLATEN-SALAFI-KUDUS-SALAFI-KUDUS-SALAFI-KUDUS-SALAFI-KUDUS-SALAFI-KUDUS-SALAFI-KUDUS-SALAFI-KUDUS-SALAFI-KUDUS-SALAFI-KUDUS-SALAFI-MAGELANG-SALAFI-MAGELANG-SALAFI-MAGELANG-SALAFI-MAGELANG-SALAFI-MAGELANG-SALAFI-MAGELANG-SALAFI-MAGELANG-SALAFI-MAGELANG-SALAFI-MAGELANG-SALAFI-MIJEN-SALAFI-MIJEN-SALAFI-MIJEN-SALAFI-MIJEN-SALAFI-MIJEN-SALAFI-MIJEN-SALAFI-MIJEN-SALAFI-MIJEN-SALAFI-MIJEN-SALAFI-MUNGKID-SALAFI-MUNGKID-SALAFI-MUNGKID-SALAFI-MUNGKID-SALAFI-MUNGKID-SALAFI-MUNGKID-SALAFI-MUNGKID-SALAFI-MUNGKID-SALAFI-MUNGKID-SALAFI-NGALIYAN-SALAFI-NGALIYAN-SALAFI-NGALIYAN-SALAFI-NGALIYAN-SALAFI-NGALIYAN-SALAFI-NGALIYAN-SALAFI-NGALIYAN-SALAFI-NGALIYAN-SALAFI-NGALIYAN-SALAFI-PABELAN-SALAFI-PABELAN-SALAFI-PABELAN-SALAFI-PABELAN-SALAFI-PABELAN-SALAFI-PABELAN-SALAFI-PABELAN-SALAFI-PABELAN-SALAFI-PABELAN-SALAFI-PATI-SALAFI-PATI-SALAFI-PATI-SALAFI-PATI-SALAFI-PATI-SALAFI-PATI-SALAFI-PATI-SALAFI-PATI-SALAFI-PATI-SALAFI-PEDURUNGAN-SALAFI-PEDURUNGAN-SALAFI-PEDURUNGAN-SALAFI-PEDURUNGAN-SALAFI-PEDURUNGAN-SALAFI-PEDURUNGAN-SALAFI-PEDURUNGAN-SALAFI-PEDURUNGAN-SALAFI-PEDURUNGAN-SALAFI-PEKALONGAN-SALAFI-PEKALONGAN-SALAFI-PEKALONGAN-SALAFI-PEKALONGAN-SALAFI-PEKALONGAN-SALAFI-PEKALONGAN-SALAFI-PEKALONGAN-SALAFI-PEKALONGAN-SALAFI-PEKALONGAN-SALAFI-PEMALANG-SALAFI-PEMALANG-SALAFI-PEMALANG-SALAFI-PEMALANG-SALAFI-PEMALANG-SALAFI-PEMALANG-SALAFI-PEMALANG-SALAFI-PEMALANG-SALAFI-PEMALANG-SALAFI-PLEBURAN-SALAFI-PLEBURAN-SALAFI-PLEBURAN-SALAFI-PLEBURAN-SALAFI-PLEBURAN-SALAFI-PLEBURAN-SALAFI-PLEBURAN-SALAFI-PLEBURAN-SALAFI-PLEBURAN-SALAFI-PRINGAPUS-SALAFI-PRINGAPUS-SALAFI-PRINGAPUS-SALAFI-PRINGAPUS-SALAFI-PRINGAPUS-SALAFI-PRINGAPUS-SALAFI-PRINGAPUS-SALAFI-PRINGAPUS-SALAFI-PRINGAPUS-SALAFI-PUDAKPAYUNG-SALAFI-PUDAKPAYUNG-SALAFI-PUDAKPAYUNG-SALAFI-PUDAKPAYUNG-SALAFI-PUDAKPAYUNG-SALAFI-PUDAKPAYUNG-SALAFI-PUDAKPAYUNG-SALAFI-PUDAKPAYUNG-SALAFI-PUDAKPAYUNG-SALAFI-PURBALINGGA-SALAFI-PURBALINGGA-SALAFI-PURBALINGGA-SALAFI-PURBALINGGA-SALAFI-PURBALINGGA-SALAFI-PURBALINGGA-SALAFI-PURBALINGGA-SALAFI-PURBALINGGA-SALAFI-PURBALINGGA-SALAFI-PURWODADI-SALAFI-PURWODADI-SALAFI-PURWODADI-SALAFI-PURWODADI-SALAFI-PURWODADI-SALAFI-PURWODADI-SALAFI-PURWODADI-SALAFI-PURWODADI-SALAFI-PURWODADI-SALAFI-PURWOKERTO-SALAFI-PURWOKERTO-SALAFI-PURWOKERTO-SALAFI-PURWOKERTO-SALAFI-PURWOKERTO-SALAFI-PURWOKERTO-SALAFI-PURWOKERTO-SALAFI-PURWOKERTO-SALAFI-PURWOKERTO-SALAFI-PURWOREJO-SALAFI-PURWOREJO-SALAFI-PURWOREJO-SALAFI-PURWOREJO-SALAFI-PURWOREJO-SALAFI-PURWOREJO-SALAFI-PURWOREJO-SALAFI-PURWOREJO-SALAFI-PURWOREJO-SALAFI-REMBANG-SALAFI-REMBANG-SALAFI-REMBANG-SALAFI-REMBANG-SALAFI-REMBANG-SALAFI-REMBANG-SALAFI-REMBANG-SALAFI-REMBANG-SALAFI-REMBANG-SALAFI-SALATIGA-SALAFI-SALATIGA-SALAFI-SALATIGA-SALAFI-SALATIGA-SALAFI-SALATIGA-SALAFI-SALATIGA-SALAFI-SALATIGA-SALAFI-SALATIGA-SALAFI-SALATIGA-SALAFI-SEMARANG-SALAFI-SEMARANG-SALAFI-SEMARANG-SALAFI-SEMARANG-SALAFI-SEMARANG-SALAFI-SEMARANG-SALAFI-SEMARANG-SALAFI-SEMARANG-SALAFI-SEMARANG-SALAFI-SEMARANG-BARAT-SALAFI-SEMARANG-BARAT-SALAFI-SEMARANG-BARAT-SALAFI-SEMARANG-BARAT-SALAFI-SEMARANG-BARAT-SALAFI-SEMARANG-BARAT-SALAFI-SEMARANG-BARAT-SALAFI-SEMARANG-BARAT-SALAFI-SEMARANG-BARAT-SALAFI-SEMARANG-SELATAN-SALAFI-SEMARANG-SELATAN-SALAFI-SEMARANG-SELATAN-SALAFI-SEMARANG-SELATAN-SALAFI-SEMARANG-SELATAN-SALAFI-SEMARANG-SELATAN-SALAFI-SEMARANG-SELATAN-SALAFI-SEMARANG-SELATAN-SALAFI-SEMARANG-SELATAN-SALAFI-SEMARANG-TENGAH-SALAFI-SEMARANG-TENGAH-SALAFI-SEMARANG-TENGAH-SALAFI-SEMARANG-TENGAH-SALAFI-SEMARANG-TENGAH-SALAFI-SEMARANG-TENGAH-SALAFI-SEMARANG-TENGAH-SALAFI-SEMARANG-TENGAH-SALAFI-SEMARANG-TENGAH-SALAFI-SEMARANG-TIMUR-SALAFI-SEMARANG-TIMUR-SALAFI-SEMARANG-TIMUR-SALAFI-SEMARANG-TIMUR-SALAFI-SEMARANG-TIMUR-SALAFI-SEMARANG-TIMUR-SALAFI-SEMARANG-TIMUR-SALAFI-SEMARANG-TIMUR-SALAFI-SEMARANG-TIMUR-SALAFI-SEMARANG-UTARA-SALAFI-SEMARANG-UTARA-SALAFI-SEMARANG-UTARA-SALAFI-SEMARANG-UTARA-SALAFI-SEMARANG-UTARA-SALAFI-SEMARANG-UTARA-SALAFI-SEMARANG-UTARA-SALAFI-SEMARANG-UTARA-SALAFI-SEMARANG-UTARA-SALAFI-SLAWI-SALAFI-SLAWI-SALAFI-SLAWI-SALAFI-SLAWI-SALAFI-SLAWI-SALAFI-SLAWI-SALAFI-SLAWI-SALAFI-SLAWI-SALAFI-SLAWI-SALAFI-SOLO-SALAFI-SOLO-SALAFI-SOLO-SALAFI-SOLO-SALAFI-SOLO-SALAFI-SOLO-SALAFI-SOLO-SALAFI-SOLO-SALAFI-SOLO-SALAFI-SRAGEN-SALAFI-SRAGEN-SALAFI-SRAGEN-SALAFI-SRAGEN-SALAFI-SRAGEN-SALAFI-SRAGEN-SALAFI-SRAGEN-SALAFI-SRAGEN-SALAFI-SRAGEN-SALAFI-SRONDOL-SALAFI-SRONDOL-SALAFI-SRONDOL-SALAFI-SRONDOL-SALAFI-SRONDOL-SALAFI-SRONDOL-SALAFI-SRONDOL-SALAFI-SRONDOL-SALAFI-SRONDOL-SALAFI-SUKOHARJO-SALAFI-SUKOHARJO-SALAFI-SUKOHARJO-SALAFI-SUKOHARJO-SALAFI-SUKOHARJO-SALAFI-SUKOHARJO-SALAFI-SUKOHARJO-SALAFI-SUKOHARJO-SALAFI-SUKOHARJO-SALAFI-SUMOWONO-SALAFI-SUMOWONO-SALAFI-SUMOWONO-SALAFI-SUMOWONO-SALAFI-SUMOWONO-SALAFI-SUMOWONO-SALAFI-SUMOWONO-SALAFI-SUMOWONO-SALAFI-SUMOWONO-SALAFI-SURAKARTA-SALAFI-SURAKARTA-SALAFI-SURAKARTA-SALAFI-SURAKARTA-SALAFI-SURAKARTA-SALAFI-SURAKARTA-SALAFI-SURAKARTA-SALAFI-SURAKARTA-SALAFI-SURAKARTA-SALAFI-SURUH-SALAFI-SURUH-SALAFI-SURUH-SALAFI-SURUH-SALAFI-SURUH-SALAFI-SURUH-SALAFI-SURUH-SALAFI-SURUH-SALAFI-SURUH-SALAFI-SUSUKAN-SALAFI-SUSUKAN-SALAFI-SUSUKAN-SALAFI-SUSUKAN-SALAFI-SUSUKAN-SALAFI-SUSUKAN-SALAFI-SUSUKAN-SALAFI-SUSUKAN-SALAFI-SUSUKAN-SALAFI-TEGAL-SALAFI-TEGAL-SALAFI-TEGAL-SALAFI-TEGAL-SALAFI-TEGAL-SALAFI-TEGAL-SALAFI-TEGAL-SALAFI-TEGAL-SALAFI-TEGAL-SALAFI-TEMANGGUNG-SALAFI-TEMANGGUNG-SALAFI-TEMANGGUNG-SALAFI-TEMANGGUNG-SALAFI-TEMANGGUNG-SALAFI-TEMANGGUNG-SALAFI-TEMANGGUNG-SALAFI-TEMANGGUNG-SALAFI-TEMANGGUNG-SALAFI-TEMBALANG-SALAFI-TEMBALANG-SALAFI-TEMBALANG-SALAFI-TEMBALANG-SALAFI-TEMBALANG-SALAFI-TEMBALANG-SALAFI-TEMBALANG-SALAFI-TEMBALANG-SALAFI-TEMBALANG-SALAFI-TENGARAN-SALAFI-TENGARAN-SALAFI-TENGARAN-SALAFI-TENGARAN-SALAFI-TENGARAN-SALAFI-TENGARAN-SALAFI-TENGARAN-SALAFI-TENGARAN-SALAFI-TENGARAN-SALAFI-TUGU-SALAFI-TUGU-SALAFI-TUGU-SALAFI-TUGU-SALAFI-TUGU-SALAFI-TUGU-SALAFI-TUGU-SALAFI-TUGU-SALAFI-TUGU-SALAFI-TUNTANG-SALAFI-TUNTANG-SALAFI-TUNTANG-SALAFI-TUNTANG-SALAFI-TUNTANG-SALAFI-TUNTANG-SALAFI-TUNTANG-SALAFI-TUNTANG-SALAFI-TUNTANG-SALAFI-UNDIP-SALAFI-UNDIP-SALAFI-UNDIP-SALAFI-UNDIP-SALAFI-UNDIP-SALAFI-UNDIP-SALAFI-UNDIP-SALAFI-UNDIP-SALAFI-UNDIP-SALAFI-UNGARAN-SALAFI-UNGARAN-SALAFI-UNGARAN-SALAFI-UNGARAN-SALAFI-UNGARAN-SALAFI-UNGARAN-SALAFI-UNGARAN-SALAFI-UNGARAN-SALAFI-UNGARAN-SALAFI-UNNES-SALAFI-UNNES-SALAFI-UNNES-SALAFI-UNNES-SALAFI-UNNES-SALAFI-UNNES-SALAFI-UNNES-SALAFI-UNNES-SALAFI-UNNES-SALAFI-WIROSARI-SALAFI-WIROSARI-SALAFI-WIROSARI-SALAFI-WIROSARI-SALAFI-WIROSARI-SALAFI-WIROSARI-SALAFI-WIROSARI-SALAFI-WIROSARI-SALAFI-WIROSARI-SALAFI-WONOGIRI-SALAFI-WONOGIRI-SALAFI-WONOGIRI-SALAFI-WONOGIRI-SALAFI-WONOGIRI-SALAFI-WONOGIRI-SALAFI-WONOGIRI-SALAFI-WONOGIRI-SALAFI-WONOGIRI-SALAFI-WONOSOBO-SALAFI-WONOSOBO-SALAFI-WONOSOBO-SALAFI-WONOSOBO-SALAFI-WONOSOBO-SALAFI-WONOSOBO-SALAFI-WONOSOBO-SALAFI-WONOSOBO-SALAFI-WONOSOBO-SALAFI-BANTUL-SALAFI-BANTUL-SALAFI-BANTUL-SALAFI-BANTUL-SALAFI-BANTUL-SALAFI-BANTUL-SALAFI-BANTUL-SALAFI-BANTUL-SALAFI-BANTUL-SALAFI-GUNUNGKIDUL-SALAFI-GUNUNGKIDUL-SALAFI-GUNUNGKIDUL-SALAFI-GUNUNGKIDUL-SALAFI-GUNUNGKIDUL-SALAFI-GUNUNGKIDUL-SALAFI-GUNUNGKIDUL-SALAFI-GUNUNGKIDUL-SALAFI-GUNUNGKIDUL-SALAFI-JOGJA-SALAFI-JOGJA-SALAFI-JOGJA-SALAFI-JOGJA-SALAFI-JOGJA-SALAFI-JOGJA-SALAFI-JOGJA-SALAFI-JOGJA-SALAFI-JOGJA-SALAFI-JOGJAKARTA-SALAFI-JOGJAKARTA-SALAFI-JOGJAKARTA-SALAFI-JOGJAKARTA-SALAFI-JOGJAKARTA-SALAFI-JOGJAKARTA-SALAFI-JOGJAKARTA-SALAFI-JOGJAKARTA-SALAFI-JOGJAKARTA-SALAFI-KULON-PROGO-SALAFI-KULON-PROGO-SALAFI-KULON-PROGO-SALAFI-KULON-PROGO-SALAFI-KULON-PROGO-SALAFI-KULON-PROGO-SALAFI-KULON-PROGO-SALAFI-KULON-PROGO-SALAFI-KULON-PROGO-SALAFI-SLEMAN-SALAFI-SLEMAN-SALAFI-SLEMAN-SALAFI-SLEMAN-SALAFI-SLEMAN-SALAFI-SLEMAN-SALAFI-SLEMAN-SALAFI-SLEMAN-SALAFI-SLEMAN-SALAFI-WATES-SALAFI-WATES-SALAFI-WATES-SALAFI-WATES-SALAFI-WATES-SALAFI-WATES-SALAFI-WATES-SALAFI-WATES-SALAFI-WATES-SALAFI-WONOSARI-SALAFI-WONOSARI-SALAFI-WONOSARI-SALAFI-WONOSARI-SALAFI-WONOSARI-SALAFI-WONOSARI-SALAFI-WONOSARI-SALAFI-WONOSARI-SALAFI-WONOSARI-SALAFI-YOGYAKARTA-SALAFI-YOGYAKARTA-SALAFI-YOGYAKARTA-SALAFI-YOGYAKARTA-SALAFI-YOGYAKARTA-SALAFI-YOGYAKARTA-SALAFI-YOGYAKARTA-SALAFI-YOGYAKARTA-SALAFI-YOGYAKARTA-SALAFI-BANGIL-SALAFI-BANGIL-SALAFI-BANGIL-SALAFI-BANGIL-SALAFI-BANGIL-SALAFI-BANGIL-SALAFI-BANGIL-SALAFI-BANGIL-SALAFI-BANGIL-SALAFI-BANGKALAN-SALAFI-BANGKALAN-SALAFI-BANGKALAN-SALAFI-BANGKALAN-SALAFI-BANGKALAN-SALAFI-BANGKALAN-SALAFI-BANGKALAN-SALAFI-BANGKALAN-SALAFI-BANGKALAN-SALAFI-BANYUWANGI-SALAFI-BANYUWANGI-SALAFI-BANYUWANGI-SALAFI-BANYUWANGI-SALAFI-BANYUWANGI-SALAFI-BANYUWANGI-SALAFI-BANYUWANGI-SALAFI-BANYUWANGI-SALAFI-BANYUWANGI-SALAFI-BATU-SALAFI-BATU-SALAFI-BATU-SALAFI-BATU-SALAFI-BATU-SALAFI-BATU-SALAFI-BATU-SALAFI-BATU-SALAFI-BATU-SALAFI-BLITAR-SALAFI-BLITAR-SALAFI-BLITAR-SALAFI-BLITAR-SALAFI-BLITAR-SALAFI-BLITAR-SALAFI-BLITAR-SALAFI-BLITAR-SALAFI-BLITAR-SALAFI-BOJONEGORO-SALAFI-BOJONEGORO-SALAFI-BOJONEGORO-SALAFI-BOJONEGORO-SALAFI-BOJONEGORO-SALAFI-BOJONEGORO-SALAFI-BOJONEGORO-SALAFI-BOJONEGORO-SALAFI-BOJONEGORO-SALAFI-BONDOWOSO-SALAFI-BONDOWOSO-SALAFI-BONDOWOSO-SALAFI-BONDOWOSO-SALAFI-BONDOWOSO-SALAFI-BONDOWOSO-SALAFI-BONDOWOSO-SALAFI-BONDOWOSO-SALAFI-BONDOWOSO-SALAFI-CARUBAN-SALAFI-CARUBAN-SALAFI-CARUBAN-SALAFI-CARUBAN-SALAFI-CARUBAN-SALAFI-CARUBAN-SALAFI-CARUBAN-SALAFI-CARUBAN-SALAFI-CARUBAN-SALAFI-GRESIK-SALAFI-GRESIK-SALAFI-GRESIK-SALAFI-GRESIK-SALAFI-GRESIK-SALAFI-GRESIK-SALAFI-GRESIK-SALAFI-GRESIK-SALAFI-GRESIK-SALAFI-JATIM-SALAFI-JATIM-SALAFI-JATIM-SALAFI-JATIM-SALAFI-JATIM-SALAFI-JATIM-SALAFI-JATIM-SALAFI-JATIM-SALAFI-JATIM-SALAFI-JAWA-TIMUR-SALAFI-JAWA-TIMUR-SALAFI-JAWA-TIMUR-SALAFI-JAWA-TIMUR-SALAFI-JAWA-TIMUR-SALAFI-JAWA-TIMUR-SALAFI-JAWA-TIMUR-SALAFI-JAWA-TIMUR-SALAFI-JAWA-TIMUR-SALAFI-JEMBER-SALAFI-JEMBER-SALAFI-JEMBER-SALAFI-JEMBER-SALAFI-JEMBER-SALAFI-JEMBER-SALAFI-JEMBER-SALAFI-JEMBER-SALAFI-JEMBER-SALAFI-JOMBANG-SALAFI-JOMBANG-SALAFI-JOMBANG-SALAFI-JOMBANG-SALAFI-JOMBANG-SALAFI-JOMBANG-SALAFI-JOMBANG-SALAFI-JOMBANG-SALAFI-JOMBANG-SALAFI-KANIGORO-SALAFI-KANIGORO-SALAFI-KANIGORO-SALAFI-KANIGORO-SALAFI-KANIGORO-SALAFI-KANIGORO-SALAFI-KANIGORO-SALAFI-KANIGORO-SALAFI-KANIGORO-SALAFI-KEDIRI-SALAFI-KEDIRI-SALAFI-KEDIRI-SALAFI-KEDIRI-SALAFI-KEDIRI-SALAFI-KEDIRI-SALAFI-KEDIRI-SALAFI-KEDIRI-SALAFI-KEDIRI-SALAFI-KEPANJEN-SALAFI-KEPANJEN-SALAFI-KEPANJEN-SALAFI-KEPANJEN-SALAFI-KEPANJEN-SALAFI-KEPANJEN-SALAFI-KEPANJEN-SALAFI-KEPANJEN-SALAFI-KEPANJEN-SALAFI-KRAKSAAN-SALAFI-KRAKSAAN-SALAFI-KRAKSAAN-SALAFI-KRAKSAAN-SALAFI-KRAKSAAN-SALAFI-KRAKSAAN-SALAFI-KRAKSAAN-SALAFI-KRAKSAAN-SALAFI-KRAKSAAN-SALAFI-LAMONGAN-SALAFI-LAMONGAN-SALAFI-LAMONGAN-SALAFI-LAMONGAN-SALAFI-LAMONGAN-SALAFI-LAMONGAN-SALAFI-LAMONGAN-SALAFI-LAMONGAN-SALAFI-LAMONGAN-SALAFI-LUMAJANG-SALAFI-LUMAJANG-SALAFI-LUMAJANG-SALAFI-LUMAJANG-SALAFI-LUMAJANG-SALAFI-LUMAJANG-SALAFI-LUMAJANG-SALAFI-LUMAJANG-SALAFI-LUMAJANG-SALAFI-MADIUN-SALAFI-MADIUN-SALAFI-MADIUN-SALAFI-MADIUN-SALAFI-MADIUN-SALAFI-MADIUN-SALAFI-MADIUN-SALAFI-MADIUN-SALAFI-MADIUN-SALAFI-MADURA-SALAFI-MADURA-SALAFI-MADURA-SALAFI-MADURA-SALAFI-MADURA-SALAFI-MADURA-SALAFI-MADURA-SALAFI-MADURA-SALAFI-MADURA-SALAFI-MAGETAN-SALAFI-MAGETAN-SALAFI-MAGETAN-SALAFI-MAGETAN-SALAFI-MAGETAN-SALAFI-MAGETAN-SALAFI-MAGETAN-SALAFI-MAGETAN-SALAFI-MAGETAN-SALAFI-MALANG-SALAFI-MALANG-SALAFI-MALANG-SALAFI-MALANG-SALAFI-MALANG-SALAFI-MALANG-SALAFI-MALANG-SALAFI-MALANG-SALAFI-MALANG-SALAFI-MOJOKERTO-SALAFI-MOJOKERTO-SALAFI-MOJOKERTO-SALAFI-MOJOKERTO-SALAFI-MOJOKERTO-SALAFI-MOJOKERTO-SALAFI-MOJOKERTO-SALAFI-MOJOKERTO-SALAFI-MOJOKERTO-SALAFI-MOJOSARI-SALAFI-MOJOSARI-SALAFI-MOJOSARI-SALAFI-MOJOSARI-SALAFI-MOJOSARI-SALAFI-MOJOSARI-SALAFI-MOJOSARI-SALAFI-MOJOSARI-SALAFI-MOJOSARI-SALAFI-NGANJUK-SALAFI-NGANJUK-SALAFI-NGANJUK-SALAFI-NGANJUK-SALAFI-NGANJUK-SALAFI-NGANJUK-SALAFI-NGANJUK-SALAFI-NGANJUK-SALAFI-NGANJUK-SALAFI-NGASEM-SALAFI-NGASEM-SALAFI-NGASEM-SALAFI-NGASEM-SALAFI-NGASEM-SALAFI-NGASEM-SALAFI-NGASEM-SALAFI-NGASEM-SALAFI-NGASEM-SALAFI-NGAWI-SALAFI-NGAWI-SALAFI-NGAWI-SALAFI-NGAWI-SALAFI-NGAWI-SALAFI-NGAWI-SALAFI-NGAWI-SALAFI-NGAWI-SALAFI-NGAWI-SALAFI-PACITAN-SALAFI-PACITAN-SALAFI-PACITAN-SALAFI-PACITAN-SALAFI-PACITAN-SALAFI-PACITAN-SALAFI-PACITAN-SALAFI-PACITAN-SALAFI-PACITAN-SALAFI-PAMEKASAN-SALAFI-PAMEKASAN-SALAFI-PAMEKASAN-SALAFI-PAMEKASAN-SALAFI-PAMEKASAN-SALAFI-PAMEKASAN-SALAFI-PAMEKASAN-SALAFI-PAMEKASAN-SALAFI-PAMEKASAN-SALAFI-PASURUAN-SALAFI-PASURUAN-SALAFI-PASURUAN-SALAFI-PASURUAN-SALAFI-PASURUAN-SALAFI-PASURUAN-SALAFI-PASURUAN-SALAFI-PASURUAN-SALAFI-PASURUAN-SALAFI-PONOROGO-SALAFI-PONOROGO-SALAFI-PONOROGO-SALAFI-PONOROGO-SALAFI-PONOROGO-SALAFI-PONOROGO-SALAFI-PONOROGO-SALAFI-PONOROGO-SALAFI-PONOROGO-SALAFI-PROBOLINGGO-SALAFI-PROBOLINGGO-SALAFI-PROBOLINGGO-SALAFI-PROBOLINGGO-SALAFI-PROBOLINGGO-SALAFI-PROBOLINGGO-SALAFI-PROBOLINGGO-SALAFI-PROBOLINGGO-SALAFI-PROBOLINGGO-SALAFI-SAMPANG-SALAFI-SAMPANG-SALAFI-SAMPANG-SALAFI-SAMPANG-SALAFI-SAMPANG-SALAFI-SAMPANG-SALAFI-SAMPANG-SALAFI-SAMPANG-SALAFI-SAMPANG-SALAFI-SIDOARJO-SALAFI-SIDOARJO-SALAFI-SIDOARJO-SALAFI-SIDOARJO-SALAFI-SIDOARJO-SALAFI-SIDOARJO-SALAFI-SIDOARJO-SALAFI-SIDOARJO-SALAFI-SIDOARJO-SALAFI-SITUBONDO-SALAFI-SITUBONDO-SALAFI-SITUBONDO-SALAFI-SITUBONDO-SALAFI-SITUBONDO-SALAFI-SITUBONDO-SALAFI-SITUBONDO-SALAFI-SITUBONDO-SALAFI-SITUBONDO-SALAFI-SUMENEP-SALAFI-SUMENEP-SALAFI-SUMENEP-SALAFI-SUMENEP-SALAFI-SUMENEP-SALAFI-SUMENEP-SALAFI-SUMENEP-SALAFI-SUMENEP-SALAFI-SUMENEP-SALAFI-SURABAYA-SALAFI-SURABAYA-SALAFI-SURABAYA-SALAFI-SURABAYA-SALAFI-SURABAYA-SALAFI-SURABAYA-SALAFI-SURABAYA-SALAFI-SURABAYA-SALAFI-SURABAYA-SALAFI-TRENGGALEK-SALAFI-TRENGGALEK-SALAFI-TRENGGALEK-SALAFI-TRENGGALEK-SALAFI-TRENGGALEK-SALAFI-TRENGGALEK-SALAFI-TRENGGALEK-SALAFI-TRENGGALEK-SALAFI-TRENGGALEK-SALAFI-TUBAN-SALAFI-TUBAN-SALAFI-TUBAN-SALAFI-TUBAN-SALAFI-TUBAN-SALAFI-TUBAN-SALAFI-TUBAN-SALAFI-TUBAN-SALAFI-TUBAN-SALAFI-TULUNGAGUNG-SALAFI-TULUNGAGUNG-SALAFI-TULUNGAGUNG-SALAFI-TULUNGAGUNG-SALAFI-TULUNGAGUNG-SALAFI-TULUNGAGUNG-SALAFI-TULUNGAGUNG-SALAFI-TULUNGAGUNG-SALAFI-TULUNGAGUNG-SALAFI-BANDUNG-SALAFI-BANDUNG-SALAFI-BANDUNG-SALAFI-BANDUNG-SALAFI-BANDUNG-SALAFI-BANDUNG-SALAFI-BANDUNG-SALAFI-BANDUNG-SALAFI-BANDUNG-SALAFI-BANDUNG-BARAT-SALAFI-BANDUNG-BARAT-SALAFI-BANDUNG-BARAT-SALAFI-BANDUNG-BARAT-SALAFI-BANDUNG-BARAT-SALAFI-BANDUNG-BARAT-SALAFI-BANDUNG-BARAT-SALAFI-BANDUNG-BARAT-SALAFI-BANDUNG-BARAT-SALAFI-BANJAR-SALAFI-BANJAR-SALAFI-BANJAR-SALAFI-BANJAR-SALAFI-BANJAR-SALAFI-BANJAR-SALAFI-BANJAR-SALAFI-BANJAR-SALAFI-BANJAR-SALAFI-BEKASI-SALAFI-BEKASI-SALAFI-BEKASI-SALAFI-BEKASI-SALAFI-BEKASI-SALAFI-BEKASI-SALAFI-BEKASI-SALAFI-BEKASI-SALAFI-BEKASI-SALAFI-BOGOR-SALAFI-BOGOR-SALAFI-BOGOR-SALAFI-BOGOR-SALAFI-BOGOR-SALAFI-BOGOR-SALAFI-BOGOR-SALAFI-BOGOR-SALAFI-BOGOR-SALAFI-CIAMIS-SALAFI-CIAMIS-SALAFI-CIAMIS-SALAFI-CIAMIS-SALAFI-CIAMIS-SALAFI-CIAMIS-SALAFI-CIAMIS-SALAFI-CIAMIS-SALAFI-CIAMIS-SALAFI-CIANJUR-SALAFI-CIANJUR-SALAFI-CIANJUR-SALAFI-CIANJUR-SALAFI-CIANJUR-SALAFI-CIANJUR-SALAFI-CIANJUR-SALAFI-CIANJUR-SALAFI-CIANJUR-SALAFI-CIBINONG-SALAFI-CIBINONG-SALAFI-CIBINONG-SALAFI-CIBINONG-SALAFI-CIBINONG-SALAFI-CIBINONG-SALAFI-CIBINONG-SALAFI-CIBINONG-SALAFI-CIBINONG-SALAFI-CIKARANG-SALAFI-CIKARANG-SALAFI-CIKARANG-SALAFI-CIKARANG-SALAFI-CIKARANG-SALAFI-CIKARANG-SALAFI-CIKARANG-SALAFI-CIKARANG-SALAFI-CIKARANG-SALAFI-CIMAHI-SALAFI-CIMAHI-SALAFI-CIMAHI-SALAFI-CIMAHI-SALAFI-CIMAHI-SALAFI-CIMAHI-SALAFI-CIMAHI-SALAFI-CIMAHI-SALAFI-CIMAHI-SALAFI-CIREBON-SALAFI-CIREBON-SALAFI-CIREBON-SALAFI-CIREBON-SALAFI-CIREBON-SALAFI-CIREBON-SALAFI-CIREBON-SALAFI-CIREBON-SALAFI-CIREBON-SALAFI-DEPOK-SALAFI-DEPOK-SALAFI-DEPOK-SALAFI-DEPOK-SALAFI-DEPOK-SALAFI-DEPOK-SALAFI-DEPOK-SALAFI-DEPOK-SALAFI-DEPOK-SALAFI-GARUT-SALAFI-GARUT-SALAFI-GARUT-SALAFI-GARUT-SALAFI-GARUT-SALAFI-GARUT-SALAFI-GARUT-SALAFI-GARUT-SALAFI-GARUT-SALAFI-INDRAMAYU-SALAFI-INDRAMAYU-SALAFI-INDRAMAYU-SALAFI-INDRAMAYU-SALAFI-INDRAMAYU-SALAFI-INDRAMAYU-SALAFI-INDRAMAYU-SALAFI-INDRAMAYU-SALAFI-INDRAMAYU-SALAFI-JABAR-SALAFI-JABAR-SALAFI-JABAR-SALAFI-JABAR-SALAFI-JABAR-SALAFI-JABAR-SALAFI-JABAR-SALAFI-JABAR-SALAFI-JABAR-SALAFI-JAWA-BARAT-SALAFI-JAWA-BARAT-SALAFI-JAWA-BARAT-SALAFI-JAWA-BARAT-SALAFI-JAWA-BARAT-SALAFI-JAWA-BARAT-SALAFI-JAWA-BARAT-SALAFI-JAWA-BARAT-SALAFI-JAWA-BARAT-SALAFI-KARAWANG-SALAFI-KARAWANG-SALAFI-KARAWANG-SALAFI-KARAWANG-SALAFI-KARAWANG-SALAFI-KARAWANG-SALAFI-KARAWANG-SALAFI-KARAWANG-SALAFI-KARAWANG-SALAFI-KUNINGAN-SALAFI-KUNINGAN-SALAFI-KUNINGAN-SALAFI-KUNINGAN-SALAFI-KUNINGAN-SALAFI-KUNINGAN-SALAFI-KUNINGAN-SALAFI-KUNINGAN-SALAFI-KUNINGAN-SALAFI-MAJALENGKA-SALAFI-MAJALENGKA-SALAFI-MAJALENGKA-SALAFI-MAJALENGKA-SALAFI-MAJALENGKA-SALAFI-MAJALENGKA-SALAFI-MAJALENGKA-SALAFI-MAJALENGKA-SALAFI-MAJALENGKA-SALAFI-NGAMPRAH-SALAFI-NGAMPRAH-SALAFI-NGAMPRAH-SALAFI-NGAMPRAH-SALAFI-NGAMPRAH-SALAFI-NGAMPRAH-SALAFI-NGAMPRAH-SALAFI-NGAMPRAH-SALAFI-NGAMPRAH-SALAFI-PALABUHANRATU-SALAFI-PALABUHANRATU-SALAFI-PALABUHANRATU-SALAFI-PALABUHANRATU-SALAFI-PALABUHANRATU-SALAFI-PALABUHANRATU-SALAFI-PALABUHANRATU-SALAFI-PALABUHANRATU-SALAFI-PALABUHANRATU-SALAFI-PANGANDARAN-SALAFI-PANGANDARAN-SALAFI-PANGANDARAN-SALAFI-PANGANDARAN-SALAFI-PANGANDARAN-SALAFI-PANGANDARAN-SALAFI-PANGANDARAN-SALAFI-PANGANDARAN-SALAFI-PANGANDARAN-SALAFI-PARIGI-SALAFI-PARIGI-SALAFI-PARIGI-SALAFI-PARIGI-SALAFI-PARIGI-SALAFI-PARIGI-SALAFI-PARIGI-SALAFI-PARIGI-SALAFI-PARIGI-SALAFI-PURWAKARTA-SALAFI-PURWAKARTA-SALAFI-PURWAKARTA-SALAFI-PURWAKARTA-SALAFI-PURWAKARTA-SALAFI-PURWAKARTA-SALAFI-PURWAKARTA-SALAFI-PURWAKARTA-SALAFI-PURWAKARTA-SALAFI-SINGAPARNA-SALAFI-SINGAPARNA-SALAFI-SINGAPARNA-SALAFI-SINGAPARNA-SALAFI-SINGAPARNA-SALAFI-SINGAPARNA-SALAFI-SINGAPARNA-SALAFI-SINGAPARNA-SALAFI-SINGAPARNA-SALAFI-SOREANG-SALAFI-SOREANG-SALAFI-SOREANG-SALAFI-SOREANG-SALAFI-SOREANG-SALAFI-SOREANG-SALAFI-SOREANG-SALAFI-SOREANG-SALAFI-SOREANG-SALAFI-SUBANG-SALAFI-SUBANG-SALAFI-SUBANG-SALAFI-SUBANG-SALAFI-SUBANG-SALAFI-SUBANG-SALAFI-SUBANG-SALAFI-SUBANG-SALAFI-SUBANG-SALAFI-SUKABUMI-SALAFI-SUKABUMI-SALAFI-SUKABUMI-SALAFI-SUKABUMI-SALAFI-SUKABUMI-SALAFI-SUKABUMI-SALAFI-SUKABUMI-SALAFI-SUKABUMI-SALAFI-SUKABUMI-SALAFI-SUMBER-SALAFI-SUMBER-SALAFI-SUMBER-SALAFI-SUMBER-SALAFI-SUMBER-SALAFI-SUMBER-SALAFI-SUMBER-SALAFI-SUMBER-SALAFI-SUMBER-SALAFI-SUMEDANG-SALAFI-SUMEDANG-SALAFI-SUMEDANG-SALAFI-SUMEDANG-SALAFI-SUMEDANG-SALAFI-SUMEDANG-SALAFI-SUMEDANG-SALAFI-SUMEDANG-SALAFI-SUMEDANG-SALAFI-TAROGONG-KIDUL-SALAFI-TAROGONG-KIDUL-SALAFI-TAROGONG-KIDUL-SALAFI-TAROGONG-KIDUL-SALAFI-TAROGONG-KIDUL-SALAFI-TAROGONG-KIDUL-SALAFI-TAROGONG-KIDUL-SALAFI-TAROGONG-KIDUL-SALAFI-TAROGONG-KIDUL-SALAFI-TASIKMALAYA-SALAFI-TASIKMALAYA-SALAFI-TASIKMALAYA-SALAFI-TASIKMALAYA-SALAFI-TASIKMALAYA-SALAFI-TASIKMALAYA-SALAFI-TASIKMALAYA-SALAFI-TASIKMALAYA-SALAFI-TASIKMALAYA-SALAFI-CAKUNG-SALAFI-CAKUNG-SALAFI-CAKUNG-SALAFI-CAKUNG-SALAFI-CAKUNG-SALAFI-CAKUNG-SALAFI-CAKUNG-SALAFI-CAKUNG-SALAFI-CAKUNG-SALAFI-CAKUNG-SALAFI-CAKUNG-SALAFI-CAKUNG-SALAFI-CAKUNG-SALAFI-CAKUNG-SALAFI-CAKUNG-SALAFI-CAKUNG-SALAFI-CAKUNG-SALAFI-CAKUNG-SALAFI-CEMPAKA-PUTIH-SALAFI-CEMPAKA-PUTIH-SALAFI-CEMPAKA-PUTIH-SALAFI-CEMPAKA-PUTIH-SALAFI-CEMPAKA-PUTIH-SALAFI-CEMPAKA-PUTIH-SALAFI-CEMPAKA-PUTIH-SALAFI-CEMPAKA-PUTIH-SALAFI-CEMPAKA-PUTIH-SALAFI-CENGKARENG-SALAFI-CENGKARENG-SALAFI-CENGKARENG-SALAFI-CENGKARENG-SALAFI-CENGKARENG-SALAFI-CENGKARENG-SALAFI-CENGKARENG-SALAFI-CENGKARENG-SALAFI-CENGKARENG-SALAFI-CILANDAK-SALAFI-CILANDAK-SALAFI-CILANDAK-SALAFI-CILANDAK-SALAFI-CILANDAK-SALAFI-CILANDAK-SALAFI-CILANDAK-SALAFI-CILANDAK-SALAFI-CILANDAK-SALAFI-CILINCING-SALAFI-CILINCING-SALAFI-CILINCING-SALAFI-CILINCING-SALAFI-CILINCING-SALAFI-CILINCING-SALAFI-CILINCING-SALAFI-CILINCING-SALAFI-CILINCING-SALAFI-CIPAYUNG-SALAFI-CIPAYUNG-SALAFI-CIPAYUNG-SALAFI-CIPAYUNG-SALAFI-CIPAYUNG-SALAFI-CIPAYUNG-SALAFI-CIPAYUNG-SALAFI-CIPAYUNG-SALAFI-CIPAYUNG-SALAFI-CIRACAS-SALAFI-CIRACAS-SALAFI-CIRACAS-SALAFI-CIRACAS-SALAFI-CIRACAS-SALAFI-CIRACAS-SALAFI-CIRACAS-SALAFI-CIRACAS-SALAFI-CIRACAS-SALAFI-DKI-JAKARTA-SALAFI-DKI-JAKARTA-SALAFI-DKI-JAKARTA-SALAFI-DKI-JAKARTA-SALAFI-DKI-JAKARTA-SALAFI-DKI-JAKARTA-SALAFI-DKI-JAKARTA-SALAFI-DKI-JAKARTA-SALAFI-DKI-JAKARTA-SALAFI-DUREN-SAWIT-SALAFI-DUREN-SAWIT-SALAFI-DUREN-SAWIT-SALAFI-DUREN-SAWIT-SALAFI-DUREN-SAWIT-SALAFI-DUREN-SAWIT-SALAFI-DUREN-SAWIT-SALAFI-DUREN-SAWIT-SALAFI-DUREN-SAWIT-SALAFI-GAMBIR-SALAFI-GAMBIR-SALAFI-GAMBIR-SALAFI-GAMBIR-SALAFI-GAMBIR-SALAFI-GAMBIR-SALAFI-GAMBIR-SALAFI-GAMBIR-SALAFI-GAMBIR-SALAFI-GROGOL-SALAFI-GROGOL-SALAFI-GROGOL-SALAFI-GROGOL-SALAFI-GROGOL-SALAFI-GROGOL-SALAFI-GROGOL-SALAFI-GROGOL-SALAFI-GROGOL-SALAFI-JAGAKARSA-SALAFI-JAGAKARSA-SALAFI-JAGAKARSA-SALAFI-JAGAKARSA-SALAFI-JAGAKARSA-SALAFI-JAGAKARSA-SALAFI-JAGAKARSA-SALAFI-JAGAKARSA-SALAFI-JAGAKARSA-SALAFI-JAKARTA-BARAT-SALAFI-JAKARTA-BARAT-SALAFI-JAKARTA-BARAT-SALAFI-JAKARTA-BARAT-SALAFI-JAKARTA-BARAT-SALAFI-JAKARTA-BARAT-SALAFI-JAKARTA-BARAT-SALAFI-JAKARTA-BARAT-SALAFI-JAKARTA-BARAT-SALAFI-JAKARTA-PUSAT-SALAFI-JAKARTA-PUSAT-SALAFI-JAKARTA-PUSAT-SALAFI-JAKARTA-PUSAT-SALAFI-JAKARTA-PUSAT-SALAFI-JAKARTA-PUSAT-SALAFI-JAKARTA-PUSAT-SALAFI-JAKARTA-PUSAT-SALAFI-JAKARTA-PUSAT-SALAFI-JAKARTA-SELATAN-SALAFI-JAKARTA-SELATAN-SALAFI-JAKARTA-SELATAN-SALAFI-JAKARTA-SELATAN-SALAFI-JAKARTA-SELATAN-SALAFI-JAKARTA-SELATAN-SALAFI-JAKARTA-SELATAN-SALAFI-JAKARTA-SELATAN-SALAFI-JAKARTA-SELATAN-SALAFI-JAKARTA-TIMUR-SALAFI-JAKARTA-TIMUR-SALAFI-JAKARTA-TIMUR-SALAFI-JAKARTA-TIMUR-SALAFI-JAKARTA-TIMUR-SALAFI-JAKARTA-TIMUR-SALAFI-JAKARTA-TIMUR-SALAFI-JAKARTA-TIMUR-SALAFI-JAKARTA-TIMUR-SALAFI-JAKARTA-UTARA-SALAFI-JAKARTA-UTARA-SALAFI-JAKARTA-UTARA-SALAFI-JAKARTA-UTARA-SALAFI-JAKARTA-UTARA-SALAFI-JAKARTA-UTARA-SALAFI-JAKARTA-UTARA-SALAFI-JAKARTA-UTARA-SALAFI-JAKARTA-UTARA-SALAFI-JOHAR-BARU-SALAFI-JOHAR-BARU-SALAFI-JOHAR-BARU-SALAFI-JOHAR-BARU-SALAFI-JOHAR-BARU-SALAFI-JOHAR-BARU-SALAFI-JOHAR-BARU-SALAFI-JOHAR-BARU-SALAFI-JOHAR-BARU-SALAFI-KALIDERES-SALAFI-KALIDERES-SALAFI-KALIDERES-SALAFI-KALIDERES-SALAFI-KALIDERES-SALAFI-KALIDERES-SALAFI-KALIDERES-SALAFI-KALIDERES-SALAFI-KALIDERES-SALAFI-KEBAYORAN-BARU-SALAFI-KEBAYORAN-BARU-SALAFI-KEBAYORAN-BARU-SALAFI-KEBAYORAN-BARU-SALAFI-KEBAYORAN-BARU-SALAFI-KEBAYORAN-BARU-SALAFI-KEBAYORAN-BARU-SALAFI-KEBAYORAN-BARU-SALAFI-KEBAYORAN-BARU-SALAFI-KEBAYORAN-BARU-SALAFI-KEBAYORAN-BARU-SALAFI-KEBAYORAN-BARU-SALAFI-KEBAYORAN-BARU-SALAFI-KEBAYORAN-BARU-SALAFI-KEBAYORAN-BARU-SALAFI-KEBAYORAN-BARU-SALAFI-KEBAYORAN-BARU-SALAFI-KEBAYORAN-BARU-SALAFI-KEBAYORAN-LAMA-SALAFI-KEBAYORAN-LAMA-SALAFI-KEBAYORAN-LAMA-SALAFI-KEBAYORAN-LAMA-SALAFI-KEBAYORAN-LAMA-SALAFI-KEBAYORAN-LAMA-SALAFI-KEBAYORAN-LAMA-SALAFI-KEBAYORAN-LAMA-SALAFI-KEBAYORAN-LAMA-SALAFI-KEBON-JERUK-SALAFI-KEBON-JERUK-SALAFI-KEBON-JERUK-SALAFI-KEBON-JERUK-SALAFI-KEBON-JERUK-SALAFI-KEBON-JERUK-SALAFI-KEBON-JERUK-SALAFI-KEBON-JERUK-SALAFI-KEBON-JERUK-SALAFI-KELAPA-GADING-SALAFI-KELAPA-GADING-SALAFI-KELAPA-GADING-SALAFI-KELAPA-GADING-SALAFI-KELAPA-GADING-SALAFI-KELAPA-GADING-SALAFI-KELAPA-GADING-SALAFI-KELAPA-GADING-SALAFI-KELAPA-GADING-SALAFI-KEMAYORAN-SALAFI-KEMAYORAN-SALAFI-KEMAYORAN-SALAFI-KEMAYORAN-SALAFI-KEMAYORAN-SALAFI-KEMAYORAN-SALAFI-KEMAYORAN-SALAFI-KEMAYORAN-SALAFI-KEMAYORAN-SALAFI-KEMBANGAN-SALAFI-KEMBANGAN-SALAFI-KEMBANGAN-SALAFI-KEMBANGAN-SALAFI-KEMBANGAN-SALAFI-KEMBANGAN-SALAFI-KEMBANGAN-SALAFI-KEMBANGAN-SALAFI-KEMBANGAN-SALAFI-KEMBANGAN-SALAFI-KEMBANGAN-SALAFI-KEMBANGAN-SALAFI-KEMBANGAN-SALAFI-KEMBANGAN-SALAFI-KEMBANGAN-SALAFI-KEMBANGAN-SALAFI-KEMBANGAN-SALAFI-KEMBANGAN-SALAFI-KEPULAUAN-SERIBU-SALAFI-KEPULAUAN-SERIBU-SALAFI-KEPULAUAN-SERIBU-SALAFI-KEPULAUAN-SERIBU-SALAFI-KEPULAUAN-SERIBU-SALAFI-KEPULAUAN-SERIBU-SALAFI-KEPULAUAN-SERIBU-SALAFI-KEPULAUAN-SERIBU-SALAFI-KEPULAUAN-SERIBU-SALAFI-KEPULAUAN-SERIBU-SELATAN-SALAFI-KEPULAUAN-SERIBU-SELATAN-SALAFI-KEPULAUAN-SERIBU-SELATAN-SALAFI-KEPULAUAN-SERIBU-SELATAN-SALAFI-KEPULAUAN-SERIBU-SELATAN-SALAFI-KEPULAUAN-SERIBU-SELATAN-SALAFI-KEPULAUAN-SERIBU-SELATAN-SALAFI-KEPULAUAN-SERIBU-SELATAN-SALAFI-KEPULAUAN-SERIBU-SELATAN-SALAFI-KEPULAUAN-SERIBU-UTARA-SALAFI-KEPULAUAN-SERIBU-UTARA-SALAFI-KEPULAUAN-SERIBU-UTARA-SALAFI-KEPULAUAN-SERIBU-UTARA-SALAFI-KEPULAUAN-SERIBU-UTARA-SALAFI-KEPULAUAN-SERIBU-UTARA-SALAFI-KEPULAUAN-SERIBU-UTARA-SALAFI-KEPULAUAN-SERIBU-UTARA-SALAFI-KEPULAUAN-SERIBU-UTARA-SALAFI-KOJA-SALAFI-KOJA-SALAFI-KOJA-SALAFI-KOJA-SALAFI-KOJA-SALAFI-KOJA-SALAFI-KOJA-SALAFI-KOJA-SALAFI-KOJA-SALAFI-KOJA-SALAFI-KOJA-SALAFI-KOJA-SALAFI-KOJA-SALAFI-KOJA-SALAFI-KOJA-SALAFI-KOJA-SALAFI-KOJA-SALAFI-KOJA-SALAFI-KRAMAT-JATI-SALAFI-KRAMAT-JATI-SALAFI-KRAMAT-JATI-SALAFI-KRAMAT-JATI-SALAFI-KRAMAT-JATI-SALAFI-KRAMAT-JATI-SALAFI-KRAMAT-JATI-SALAFI-KRAMAT-JATI-SALAFI-KRAMAT-JATI-SALAFI-MAKASAR-SALAFI-MAKASAR-SALAFI-MAKASAR-SALAFI-MAKASAR-SALAFI-MAKASAR-SALAFI-MAKASAR-SALAFI-MAKASAR-SALAFI-MAKASAR-SALAFI-MAKASAR-SALAFI-MAMPANG-PRAPATAN-SALAFI-MAMPANG-PRAPATAN-SALAFI-MAMPANG-PRAPATAN-SALAFI-MAMPANG-PRAPATAN-SALAFI-MAMPANG-PRAPATAN-SALAFI-MAMPANG-PRAPATAN-SALAFI-MAMPANG-PRAPATAN-SALAFI-MAMPANG-PRAPATAN-SALAFI-MAMPANG-PRAPATAN-SALAFI-MATRAMAN-SALAFI-MATRAMAN-SALAFI-MATRAMAN-SALAFI-MATRAMAN-SALAFI-MATRAMAN-SALAFI-MATRAMAN-SALAFI-MATRAMAN-SALAFI-MATRAMAN-SALAFI-MATRAMAN-SALAFI-MENTENG-SALAFI-MENTENG-SALAFI-MENTENG-SALAFI-MENTENG-SALAFI-MENTENG-SALAFI-MENTENG-SALAFI-MENTENG-SALAFI-MENTENG-SALAFI-MENTENG-SALAFI-MENTENG-SALAFI-MENTENG-SALAFI-MENTENG-SALAFI-MENTENG-SALAFI-MENTENG-SALAFI-MENTENG-SALAFI-MENTENG-SALAFI-MENTENG-SALAFI-MENTENG-SALAFI-PADEMANGAN-SALAFI-PADEMANGAN-SALAFI-PADEMANGAN-SALAFI-PADEMANGAN-SALAFI-PADEMANGAN-SALAFI-PADEMANGAN-SALAFI-PADEMANGAN-SALAFI-PADEMANGAN-SALAFI-PADEMANGAN-SALAFI-PALMERAH-SALAFI-PALMERAH-SALAFI-PALMERAH-SALAFI-PALMERAH-SALAFI-PALMERAH-SALAFI-PALMERAH-SALAFI-PALMERAH-SALAFI-PALMERAH-SALAFI-PALMERAH-SALAFI-PANCORAN-SALAFI-PANCORAN-SALAFI-PANCORAN-SALAFI-PANCORAN-SALAFI-PANCORAN-SALAFI-PANCORAN-SALAFI-PANCORAN-SALAFI-PANCORAN-SALAFI-PANCORAN-SALAFI-PASAR-MINGGU-SALAFI-PASAR-MINGGU-SALAFI-PASAR-MINGGU-SALAFI-PASAR-MINGGU-SALAFI-PASAR-MINGGU-SALAFI-PASAR-MINGGU-SALAFI-PASAR-MINGGU-SALAFI-PASAR-MINGGU-SALAFI-PASAR-MINGGU-SALAFI-PASAR-REBO-SALAFI-PASAR-REBO-SALAFI-PASAR-REBO-SALAFI-PASAR-REBO-SALAFI-PASAR-REBO-SALAFI-PASAR-REBO-SALAFI-PASAR-REBO-SALAFI-PASAR-REBO-SALAFI-PASAR-REBO-SALAFI-PENJARINGAN-SALAFI-PENJARINGAN-SALAFI-PENJARINGAN-SALAFI-PENJARINGAN-SALAFI-PENJARINGAN-SALAFI-PENJARINGAN-SALAFI-PENJARINGAN-SALAFI-PENJARINGAN-SALAFI-PENJARINGAN-SALAFI-PESANGGRAHAN-SALAFI-PESANGGRAHAN-SALAFI-PESANGGRAHAN-SALAFI-PESANGGRAHAN-SALAFI-PESANGGRAHAN-SALAFI-PESANGGRAHAN-SALAFI-PESANGGRAHAN-SALAFI-PESANGGRAHAN-SALAFI-PESANGGRAHAN-SALAFI-PETAMBURAN-SALAFI-PETAMBURAN-SALAFI-PETAMBURAN-SALAFI-PETAMBURAN-SALAFI-PETAMBURAN-SALAFI-PETAMBURAN-SALAFI-PETAMBURAN-SALAFI-PETAMBURAN-SALAFI-PETAMBURAN-SALAFI-PULAU-PRAMUKA-SALAFI-PULAU-PRAMUKA-SALAFI-PULAU-PRAMUKA-SALAFI-PULAU-PRAMUKA-SALAFI-PULAU-PRAMUKA-SALAFI-PULAU-PRAMUKA-SALAFI-PULAU-PRAMUKA-SALAFI-PULAU-PRAMUKA-SALAFI-PULAU-PRAMUKA-SALAFI-PULO-GADUNG-SALAFI-PULO-GADUNG-SALAFI-PULO-GADUNG-SALAFI-PULO-GADUNG-SALAFI-PULO-GADUNG-SALAFI-PULO-GADUNG-SALAFI-PULO-GADUNG-SALAFI-PULO-GADUNG-SALAFI-PULO-GADUNG-SALAFI-SAWAH-BESAR-SALAFI-SAWAH-BESAR-SALAFI-SAWAH-BESAR-SALAFI-SAWAH-BESAR-SALAFI-SAWAH-BESAR-SALAFI-SAWAH-BESAR-SALAFI-SAWAH-BESAR-SALAFI-SAWAH-BESAR-SALAFI-SAWAH-BESAR-SALAFI-SENEN-SALAFI-SENEN-SALAFI-SENEN-SALAFI-SENEN-SALAFI-SENEN-SALAFI-SENEN-SALAFI-SENEN-SALAFI-SENEN-SALAFI-SENEN-SALAFI-SETIABUDI-SALAFI-SETIABUDI-SALAFI-SETIABUDI-SALAFI-SETIABUDI-SALAFI-SETIABUDI-SALAFI-SETIABUDI-SALAFI-SETIABUDI-SALAFI-SETIABUDI-SALAFI-SETIABUDI-SALAFI-TAMAN-SARI-SALAFI-TAMAN-SARI-SALAFI-TAMAN-SARI-SALAFI-TAMAN-SARI-SALAFI-TAMAN-SARI-SALAFI-TAMAN-SARI-SALAFI-TAMAN-SARI-SALAFI-TAMAN-SARI-SALAFI-TAMAN-SARI-SALAFI-TAMBORA-SALAFI-TAMBORA-SALAFI-TAMBORA-SALAFI-TAMBORA-SALAFI-TAMBORA-SALAFI-TAMBORA-SALAFI-TAMBORA-SALAFI-TAMBORA-SALAFI-TAMBORA-SALAFI-TANAH-ABANG-SALAFI-TANAH-ABANG-SALAFI-TANAH-ABANG-SALAFI-TANAH-ABANG-SALAFI-TANAH-ABANG-SALAFI-TANAH-ABANG-SALAFI-TANAH-ABANG-SALAFI-TANAH-ABANG-SALAFI-TANAH-ABANG-SALAFI-TANJUNG-PRIOK-SALAFI-TANJUNG-PRIOK-SALAFI-TANJUNG-PRIOK-SALAFI-TANJUNG-PRIOK-SALAFI-TANJUNG-PRIOK-SALAFI-TANJUNG-PRIOK-SALAFI-TANJUNG-PRIOK-SALAFI-TANJUNG-PRIOK-SALAFI-TANJUNG-PRIOK-SALAFI-TEBET-SALAFI-TEBET-SALAFI-TEBET-SALAFI-TEBET-SALAFI-TEBET-SALAFI-TEBET-SALAFI-TEBET-SALAFI-TEBET-SALAFI-TEBET-SALAFI-INDONESIA-SALAFI-ACEH-SALAFI-BALI-SALAFI-BANTEN-SALAFI-BENGKULU-SALAFI-GORONTALO-SALAFI-JAKARTA-SALAFI-JAMBI-SALAFI-JAWA-BARAT-SALAFI-JAWA-TENGAH-SALAFI-JAWA-TIMUR-SALAFI-KALIMANTAN-BARAT-SALAFI-KALIMANTAN-SELATAN-SALAFI-KALIMANTAN-TENGAH-SALAFI-KALIMANTAN-TIMUR-SALAFI-KALIMANTAN-UTARA-SALAFI-KEPULAUAN-BANGKA-BELITUNG-SALAFI-KEPULAUAN-RIAU-SALAFI-LAMPUNG-SALAFI-MALUKU-SALAFI-MALUKU-UTARA-SALAFI-NUSA-TENGGARA-BARAT-SALAFI-NUSA-TENGGARA-TIMUR-SALAFI-PAPUA-SALAFI-PAPUA-BARAT-SALAFI-RIAU-SALAFI-SULAWESI-BARAT-SALAFI-SULAWESI-SELATAN-SALAFI-SULAWESI-TENGAH-SALAFI-SULAWESI-TENGGARA-SALAFI-SULAWESI-UTARA-SALAFI-SUMATERA-BARAT-SALAFI-SUMATERA-SELATAN-SALAFI-SUMATERA-UTARA-SALAFI-YOGYAKARTA-SALAFI-ACEH-BARAT-SALAFI-ACEH-BARAT-DAYA-SALAFI-ACEH-BESAR-SALAFI-ACEH-JAYA-SALAFI-ACEH-SELATAN-SALAFI-ACEH-SINGKIL-SALAFI-ACEH-TAMIANG-SALAFI-ACEH-TENGAH-SALAFI-ACEH-TENGGARA-SALAFI-ACEH-TIMUR-SALAFI-ACEH-UTARA-SALAFI-ADMINISTRASI-KEPULAUAN-SERIBU-SALAFI-AGAM-SALAFI-ALOR-SALAFI-ASAHAN-SALAFI-ASMAT-SALAFI-BADUNG-SALAFI-BALANGAN-SALAFI-BANDUNG-SALAFI-BANDUNG-BARAT-SALAFI-BANGGAI-SALAFI-BANGGAI-KEPULAUAN-SALAFI-BANGKA-SALAFI-BANGKA-BARAT-SALAFI-BANGKA-SELATAN-SALAFI-BANGKA-TENGAH-SALAFI-BANGKALAN-SALAFI-BANGLI-SALAFI-BANJAR-SALAFI-BANJARNEGARA-SALAFI-BANTAENG-SALAFI-BANTUL-SALAFI-BANYUASIN-SALAFI-BANYUMAS-SALAFI-BANYUWANGI-SALAFI-BARITO-KUALA-SALAFI-BARITO-SELATAN-SALAFI-BARITO-TIMUR-SALAFI-BARITO-UTARA-SALAFI-BARRU-SALAFI-BATANG-SALAFI-BATANGHARI-SALAFI-BATUBARA-SALAFI-BEKASI-SALAFI-BELITUNG-SALAFI-BELITUNG-TIMUR-SALAFI-BELU-SALAFI-BENER-MERIAH-SALAFI-BENGKALIS-SALAFI-BENGKAYANG-SALAFI-BENGKULU-SELATAN-SALAFI-BENGKULU-TENGAH-SALAFI-BENGKULU-UTARA-SALAFI-BERAU-SALAFI-BIAK-NUMFOR-SALAFI-BIMA-SALAFI-BINTAN-SALAFI-BIREUEN-SALAFI-BLITAR-SALAFI-BLORA-SALAFI-BOALEMO-SALAFI-BOGOR-SALAFI-BOJONEGORO-SALAFI-BOLAANG-MONGONDOW-SALAFI-BOLAANG-MONGONDOW-SELATAN-SALAFI-BOLAANG-MONGONDOW-TIMUR-SALAFI-BOLAANG-MONGONDOW-UTARA-SALAFI-BOMBANA-SALAFI-BONDOWOSO-SALAFI-BONE-SALAFI-BONE-BOLANGO-SALAFI-BOVEN-DIGOEL-SALAFI-BOYOLALI-SALAFI-BREBES-SALAFI-BULELENG-SALAFI-BULUKUMBA-SALAFI-BULUNGAN-SALAFI-BUNGO-SALAFI-BUOL-SALAFI-BURU-SALAFI-BURU-SELATAN-SALAFI-BUTON-SALAFI-BUTON-UTARA-SALAFI-CIAMIS-SALAFI-CIANJUR-SALAFI-CILACAP-SALAFI-CIREBON-SALAFI-DAIRI-SALAFI-DEIYAI-SALAFI-DELI-SERDANG-SALAFI-DEMAK-SALAFI-DHARMASRAYA-SALAFI-DOGIYAI-SALAFI-DOMPU-SALAFI-DONGGALA-SALAFI-EMPAT-LAWANG-SALAFI-ENDE-SALAFI-ENREKANG-SALAFI-FAKFAK-SALAFI-FLORES-TIMUR-SALAFI-GARUT-SALAFI-GAYO-LUES-SALAFI-GIANYAR-SALAFI-GORONTALO-SALAFI-GORONTALO-UTARA-SALAFI-GOWA-SALAFI-GRESIK-SALAFI-GROBOGAN-SALAFI-GUNUNG-KIDUL-SALAFI-GUNUNG-MAS-SALAFI-HALMAHERA-BARAT-SALAFI-HALMAHERA-SELATAN-SALAFI-HALMAHERA-TENGAH-SALAFI-HALMAHERA-TIMUR-SALAFI-HALMAHERA-UTARA-SALAFI-HULU-SUNGAI-SELATAN-SALAFI-HULU-SUNGAI-TENGAH-SALAFI-HULU-SUNGAI-UTARA-SALAFI-HUMBANG-HASUNDUTAN-SALAFI-INDRAGIRI-HILIR-SALAFI-INDRAGIRI-HULU-SALAFI-INDRAMAYU-SALAFI-INTAN-JAYA-SALAFI-JAYAPURA-SALAFI-JAYAWIJAYA-SALAFI-JEMBER-SALAFI-JEMBRANA-SALAFI-JENEPONTO-SALAFI-JEPARA-SALAFI-JOMBANG-SALAFI-KAIMANA-SALAFI-KAMPAR-SALAFI-KAPUAS-SALAFI-KAPUAS-HULU-SALAFI-KARANGANYAR-SALAFI-KARANGASEM-SALAFI-KARAWANG-SALAFI-KARIMUN-SALAFI-KARO-SALAFI-KATINGAN-SALAFI-KAUR-SALAFI-KAYONG-UTARA-SALAFI-KEBUMEN-SALAFI-KEDIRI-SALAFI-KEEROM-SALAFI-KENDAL-SALAFI-KEPAHIANG-SALAFI-KEPULAUAN-ANAMBAS-SALAFI-KEPULAUAN-ARU-SALAFI-KEPULAUAN-MENTAWAI-SALAFI-KEPULAUAN-MERANTI-SALAFI-KEPULAUAN-SANGIHE-SALAFI-KEPULAUAN-SELAYAR-SALAFI-KEPULAUAN-SIAU-TAGULANDANG-BIARO-SALAFI-KEPULAUAN-SULA-SALAFI-KEPULAUAN-TALAUD-SALAFI-KEPULAUAN-YAPEN-SALAFI-KERINCI-SALAFI-KETAPANG-SALAFI-KLATEN-SALAFI-KLUNGKUNG-SALAFI-KOLAKA-SALAFI-KOLAKA-UTARA-SALAFI-KONAWE-SALAFI-KONAWE-SELATAN-SALAFI-KONAWE-UTARA-SALAFI-KOTABARU-SALAFI-KOTAWARINGIN-BARAT-SALAFI-KOTAWARINGIN-TIMUR-SALAFI-KUANTAN-SINGINGI-SALAFI-KUBU-RAYA-SALAFI-KUDUS-SALAFI-KULON-PROGO-SALAFI-KUNINGAN-SALAFI-KUPANG-SALAFI-KUTAI-BARAT-SALAFI-KUTAI-KARTANEGARA-SALAFI-KUTAI-TIMUR-SALAFI-LABUHANBATU-SALAFI-LABUHANBATU-SELATAN-SALAFI-LABUHANBATU-UTARA-SALAFI-LAHAT-SALAFI-LAMANDAU-SALAFI-LAMONGAN-SALAFI-LAMPUNG-BARAT-SALAFI-LAMPUNG-SELATAN-SALAFI-LAMPUNG-TENGAH-SALAFI-LAMPUNG-TIMUR-SALAFI-LAMPUNG-UTARA-SALAFI-LANDAK-SALAFI-LANGKAT-SALAFI-LANNY-JAYA-SALAFI-LEBAK-SALAFI-LEBONG-SALAFI-LEMBATA-SALAFI-LIMA-PULUH-KOTA-SALAFI-LINGGA-SALAFI-LOMBOK-BARAT-SALAFI-LOMBOK-TENGAH-SALAFI-LOMBOK-TIMUR-SALAFI-LOMBOK-UTARA-SALAFI-LUMAJANG-SALAFI-LUWU-SALAFI-LUWU-TIMUR-SALAFI-LUWU-UTARA-SALAFI-MADIUN-SALAFI-MAGELANG-SALAFI-MAHAKAM-ULU-SALAFI-MAJALENGKA-SALAFI-MAJALENGKA-SALAFI-MAJENE-SALAFI-MALANG-SALAFI-MALINAU-SALAFI-MALUKU-BARAT-DAYA-SALAFI-MALUKU-TENGAH-SALAFI-MALUKU-TENGGARA-SALAFI-MALUKU-TENGGARA-BARAT-SALAFI-MAMASA-SALAFI-MAMBERAMO-RAYA-SALAFI-MAMBERAMO-TENGAH-SALAFI-MAMUJU-SALAFI-MAMUJU-UTARA-SALAFI-MANDAILING-NATAL-SALAFI-MANGGARAI-SALAFI-MANGGARAI-BARAT-SALAFI-MANGGARAI-TIMUR-SALAFI-MANOKWARI-SALAFI-MAPPI-SALAFI-MAROS-SALAFI-MAYBRAT-SALAFI-MELAWI-SALAFI-MEMPAWAH-SALAFI-MERANGIN-SALAFI-MERAUKE-SALAFI-MESUJI-SALAFI-MIMIKA-SALAFI-MINAHASA-SALAFI-MINAHASA-SELATAN-SALAFI-MINAHASA-TENGGARA-SALAFI-MINAHASA-UTARA-SALAFI-MOJOKERTO-SALAFI-MOROWALI-SALAFI-MUARA-ENIM-SALAFI-MUARO-JAMBI-SALAFI-MUKOMUKO-SALAFI-MUNA-SALAFI-MURUNG-RAYA-SALAFI-MUSI-BANYUASIN-SALAFI-MUSI-RAWAS-SALAFI-NABIRE-SALAFI-NAGAN-RAYA-SALAFI-NAGEKEO-SALAFI-NATUNA-SALAFI-NDUGA-SALAFI-NGADA-SALAFI-NGANJUK-SALAFI-NGAWI-SALAFI-NIAS-SALAFI-NIAS-BARAT-SALAFI-NIAS-SELATAN-SALAFI-NIAS-UTARA-SALAFI-NUNUKAN-SALAFI-OGAN-ILIR-SALAFI-OGAN-KOMERING-ILIR-SALAFI-OGAN-KOMERING-ULU-SALAFI-OGAN-KOMERING-ULU-SELATAN-SALAFI-OGAN-KOMERING-ULU-TIMUR-SALAFI-PACITAN-SALAFI-PADANG-LAWAS-SALAFI-PADANG-LAWAS-UTARA-SALAFI-PADANG-PARIAMAN-SALAFI-PAKPAK-BHARAT-SALAFI-PAMEKASAN-SALAFI-PANDEGLANG-SALAFI-PANGKAJENE-DAN-KEPULAUAN-SALAFI-PANIAI-SALAFI-PARIGI-MOUTONG-SALAFI-PASAMAN-SALAFI-PASAMAN-BARAT-SALAFI-PASER-SALAFI-PASURUAN-SALAFI-PATI-SALAFI-PEGUNUNGAN-BINTANG-SALAFI-PEKALONGAN-SALAFI-PELALAWAN-SALAFI-PEMALANG-SALAFI-PENAJAM-PASER-UTARA-SALAFI-PESAWARAN-SALAFI-PESISIR-SELATAN-SALAFI-PIDIE-SALAFI-PIDIE-JAYA-SALAFI-PINRANG-SALAFI-POHUWATO-SALAFI-POLEWALI-MANDAR-SALAFI-PONOROGO-SALAFI-POSO-SALAFI-PRINGSEWU-SALAFI-PROBOLINGGO-SALAFI-PULANG-PISAU-SALAFI-PULAU-MOROTAI-SALAFI-PUNCAK-SALAFI-PUNCAK-JAYA-SALAFI-PURBALINGGA-SALAFI-PURWAKARTA-SALAFI-PURWOREJO-SALAFI-RAJA-AMPAT-SALAFI-REJANG-LEBONG-SALAFI-REMBANG-SALAFI-ROKAN-HILIR-SALAFI-ROKAN-HULU-SALAFI-ROTE-NDAO-SALAFI-SABU-RAIJUA-SALAFI-SAMBAS-SALAFI-SAMOSIR-SALAFI-SAMPANG-SALAFI-SANGGAU-SALAFI-SARMI-SALAFI-SAROLANGUN-SALAFI-SEKADAU-SALAFI-SELUMA-SALAFI-SEMARANG-SALAFI-SERAM-BAGIAN-BARAT-SALAFI-SERAM-BAGIAN-TIMUR-SALAFI-SERANG-SALAFI-SERDANG-BEDAGAI-SALAFI-SERUYAN-SALAFI-SIAK-SALAFI-SIDENRENG-RAPPANG-SALAFI-SIDOARJO-SALAFI-SIGI-SALAFI-SIJUNJUNG-SALAFI-SIKKA-SALAFI-SIMALUNGUN-SALAFI-SIMEULUE-SALAFI-SINJAI-SALAFI-SINTANG-SALAFI-SITUBONDO-SALAFI-SLEMAN-SALAFI-SOLOK-SALAFI-SOLOK-SELATAN-SALAFI-SOPPENG-SALAFI-SORONG-SALAFI-SORONG-SELATAN-SALAFI-SRAGEN-SALAFI-SUBANG-SALAFI-SUKABUMI-SALAFI-SUKAMARA-SALAFI-SUKOHARJO-SALAFI-SUMBA-BARAT-SALAFI-SUMBA-BARAT-DAYA-SALAFI-SUMBA-TENGAH-SALAFI-SUMBA-TIMUR-SALAFI-SUMBAWA-SALAFI-SUMBAWA-BARAT-SALAFI-SUMEDANG-SALAFI-SUMENEP-SALAFI-SUPIORI-SALAFI-TABALONG-SALAFI-TABANAN-SALAFI-TAKALAR-SALAFI-TAMBRAUW-SALAFI-TANA-TIDUNG-SALAFI-TANA-TORAJA-SALAFI-TANAH-BUMBU-SALAFI-TANAH-DATAR-SALAFI-TANAH-LAUT-SALAFI-TANGERANG-SALAFI-TANGGAMUS-SALAFI-TANJUNG-JABUNG-BARAT-SALAFI-TANJUNG-JABUNG-TIMUR-SALAFI-TAPANULI-SELATAN-SALAFI-TAPANULI-TENGAH-SALAFI-TAPANULI-UTARA-SALAFI-TAPIN-SALAFI-TASIKMALAYA-SALAFI-TEBO-SALAFI-TEGAL-SALAFI-TELUK-BINTUNI-SALAFI-TELUK-WONDAMA-SALAFI-TEMANGGUNG-SALAFI-TIMOR-TENGAH-SELATAN-SALAFI-TIMOR-TENGAH-UTARA-SALAFI-TOBA-SAMOSIR-SALAFI-TOJO-UNA-UNA-SALAFI-TOLIKARA-SALAFI-TOLI-TOLI-SALAFI-TORAJA-UTARA-SALAFI-TRENGGALEK-SALAFI-TUBAN-SALAFI-TULANG-BAWANG-SALAFI-TULANG-BAWANG-BARAT-SALAFI-TULUNGAGUNG-SALAFI-WAJO-SALAFI-WAKATOBI-SALAFI-WAROPEN-SALAFI-WAY-KANAN-SALAFI-WONOGIRI-SALAFI-WONOSOBO-SALAFI-YAHUKIMO-SALAFI-ADMINISTRASI-JAKARTA-BARAT-SALAFI-ADMINISTRASI-JAKARTA-PUSAT-SALAFI-ADMINISTRASI-JAKARTA-SELATAN-SALAFI-ADMINISTRASI-JAKARTA-TIMUR-SALAFI-ADMINISTRASI-JAKARTA-UTARA-SALAFI-AMBON-SALAFI-BALIKPAPAN-SALAFI-BANDA-ACEH-SALAFI-BANDAR-LAMPUNG-SALAFI-BANDUNG-SALAFI-BANJAR-SALAFI-BANJARBARU-SALAFI-BANJARMASIN-SALAFI-BATAM-SALAFI-BATU-SALAFI-BAU-BAU-SALAFI-BEKASI-SALAFI-BENGKULU-SALAFI-BIMA-SALAFI-BINJAI-SALAFI-BITUNG-SALAFI-BLITAR-SALAFI-BOGOR-SALAFI-BONTANG-SALAFI-BUKITTINGGI-SALAFI-CILEGON-SALAFI-CIMAHI-SALAFI-CIREBON-SALAFI-DENPASAR-SALAFI-DEPOK-SALAFI-DUMAI-SALAFI-GORONTALO-SALAFI-GUNUNGSITOLI-SALAFI-JAMBI-SALAFI-JAYAPURA-SALAFI-KEDIRI-SALAFI-KENDARI-SALAFI-KOTAMOBAGU-SALAFI-KUPANG-SALAFI-LANGSA-SALAFI-LHOKSEUMAWE-SALAFI-LUBUKLINGGAU-SALAFI-MADIUN-SALAFI-MAGELANG-SALAFI-MAKASSAR-SALAFI-MALANG-SALAFI-MANADO-SALAFI-MATARAM-SALAFI-MEDAN-SALAFI-METRO-SALAFI-MOJOKERTO-SALAFI-PADANG-SALAFI-PADANGPANJANG-SALAFI-PADANGSIDEMPUAN-SALAFI-PAGAR-ALAM-SALAFI-PALANGKA-RAYA-SALAFI-PALEMBANG-SALAFI-PALOPO-SALAFI-PALU-SALAFI-PANGKAL-PINANG-SALAFI-PAREPARE-SALAFI-PARIAMAN-SALAFI-PASURUAN-SALAFI-PAYAKUMBUH-SALAFI-PEKALONGAN-SALAFI-PEKANBARU-SALAFI-PEMATANGSIANTAR-SALAFI-PONTIANAK-SALAFI-PRABUMULIH-SALAFI-PROBOLINGGO-SALAFI-SABANG-SALAFI-SALATIGA-SALAFI-SAMARINDA-SALAFI-SAWAHLUNTO-SALAFI-SEMARANG-SALAFI-SERANG-SALAFI-SIBOLGA-SALAFI-SINGKAWANG-SALAFI-SOLOK-SALAFI-SORONG-SALAFI-SUBULUSSALAM-SALAFI-SUKABUMI-SALAFI-SUNGAI-PENUH-SALAFI-SURABAYA-SALAFI-SURAKARTA-SALAFI-TANGERANG-SALAFI-TANGERANG-SELATAN-SALAFI-TANJUNG-PINANG-SALAFI-TANJUNGBALAI-SALAFI-TARAKAN-SALAFI-TASIKMALAYA-SALAFI-TEBING-TINGGI-SALAFI-TEGAL-SALAFI-TERNATE-SALAFI-TIDORE-KEPULAUAN-SALAFI-TOMOHON-SALAFI-TUAL-SALAFI-YOGYAKARTA-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFY-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI-SALAFI