Salafy 42

Edit
Apakah Disyaratkan Jumlah Jamaah Tertentu?

Apakah Disyaratkan Jumlah Jamaah Tertentu?


Sahnya shalat Jum’at itu dengan berjamaah. Dari Thariq bin Syihab radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
الْجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فِي جَمَاعَةٍ
Jum’atan adalah hak yang wajib ditunaikan secara berjamaah atas setiap muslim.” (HR. Abu Dawud)
Ash-Shan’ani rahimahullah berkata, “Shalat Jum’at tidak sah selain dengan berjamaah menurutijma’.”(Subulus Salam 2/53)
Namun, ulama berbeda pendapat dalam hal jumlah yang harus hadir untuk sahnya Jum’atan menjadi lima belas pendapat. Setiap pendapat mengemukakan argumentasinya. Akan tetapi, tidak ada sedikit pun hadits-hadits yang kuat yang mengharuskan jumlah tertentu, sebagaimana dinyatakan oleh as-Suyuthi asy-Syafi’i rahimahullah. (Nailul Authar, 3/277)
Yang benar, syarat apa pun dalam suatu ibadah tidak dianggap selain yang ada dalilnya. Dalam masalah ini, tidak ada dalil dari al-Qur’an dan as-Sunnah (yang kuat) tentang penentuan jumlah. Yang pasti, shalat Jum’at harus dilakukan secara berjamaah, sebagaimana hadits Thariq bin Syihab radhiyallahu ‘anhu yang telah lalu. (Subulus Salam, 2/56—57)
Maka dari itu, dua orang adalah jumlah minimal untuk dikatakan jamaah, sebagaimana disebutkan oleh al-Imam al-Bukhari rahimahullah dalam Shahih-nya, bab “Dua Orang dan yang Lebih dari Dua adalah Jamaah”, lalu beliau rahimahullah menyebutkan riwayat Malik bin al-Huwairits radhiyallahu ‘anhu. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
إِذَا حَضَرَتِ الصَّلَاةُ فَأَذِّنَا وَأَقِيْمَا ثُمَّ لِيَؤُمَّكُمَا أَكْبَرُكُمَا
“Apabila waktu shalat telah datang, kumandangkan azan dan iqamah oleh kalian berdua, kemudian hendaklah yang paling tua dari kalian berdua menjadi imam.” (hadits no. 658)
Asy-Syaukani rahimahullah berkata, “Shalat berjamaah dalam seluruh shalat itu sah dengan dua orang, dan tidak ada perbedaan antara shalat Jum’at dan shalat jamaah. Tidak ada dalil dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa Jum’atan tidak sah selain dengan (jumlah jamaah) tertentu. Pendapat inilah yang paling kuat menurut saya.” (Nailul Authar, 3/276)
Adapun hadits-hadits yang datang tentang penyebutan jumlah jamaah shalat Jum’at, kesimpulannya ada dua:
1. Riwayatnya kuat, namun jumlah tersebut hanya bersifat kebetulan pada sebuah peristiwa dan tidak menunjukkan persyaratan Jum’atan.
Misalnya, atsar Ka’b bin Malik bahwa apabila mendengar azan Jum’at dikumandangkan, dia mendoakan rahmat bagi sahabat As’ad bin Zurarah karena dialah yang pertama kali memimpin shalat Jum’at di bani Bayadhah. Ketika ditanya jumlah jamaah ketika itu, Ka’b menjawab empat puluh orang. (Riwayat Abu Dawud no. 1069 dan dinyatakan hasan oleh Ibnu Hajar t dalam at- Talkhish 2/56)
2. Riwayatnya lemah dan tidak bisa dijadikan landasan hukum.
Contohnya adalah hadits Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Sunnah (Nabi)
telah berlalu bahwa pada setiap tiga orang itu ada imamnya, atau pada setiap empat puluh orang atau lebih ada Jum’atan, (shalat Ied) al-Adha, dan al-Fitri, karena mereka adalah jamaah.” (HR. ad-Daruquthni 2/4)
Hadits ini dinyatakan dhaif (lemah) oleh ulama Syafi’iyah dan selainnya. Di antara mereka adalah al-Baihaqi rahimahullah dan an-Nawawi rahimahullah seperti dalam al-Majmu’ (4/368) dan Ibnu Hajar rahimahullah dalam Bulughul Maram. Alasannya, dalam sanad hadits ini ada rawi bernama Abdul Aziz bin Abdurrahman.
Ahmad rahimahullah berkata, “Saya mencoret hadits-haditsnya karena ia dusta atau palsu.”
An-Nasai rahimahullah berkata, “Dia bukan orang yang tepercaya.” (Subulus Salam2/56) Wallahua’lam bish-shawab.
Adab Mendatangi Shalat Jum’at

Adab Mendatangi Shalat Jum’at

Sesungguhnya, pelaksanaan Jum’atan adalah perkumpulan akbar kaum muslimin di suatu kota, wilayah, atau kampung dalam setiap pekannya. Oleh karena itu, disyariatkan bagi orang yang akan berangkat Jum’atan melakukan beberapa hal berikut :
1. Mandi untuk Shalat Jum’at
Hukum mandi Jum’at adalah wajib. Di antara dalilnya adalah sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,
غُسْلُ يَوْمِ الْجُمُعَةِ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُحْتَلِمٍ
“Mandi pada hari Jum’ata dalah wajib atas setiap yang sudah baligh.” (HR. al-Bukhari no. 879)
Dalam hadits ini, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan wajib dan tentu tidak ada yang lebih fasih daripada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam menyampaikan kata-kata.
Adapun hadits yang menyatakan, “Barangsiapa berwudhu pada hariJum’at, dia telah bagus dan barangsiapa yang mandi, mandi itu lebihbaik.” (HR. an-Nasai dalam Sunan-nya dari Amrah)
Andaikata riwayat ini sahih, tetap tidak mengandung nash dan dalil bahwa mandi Jum’at itu tidak wajib. Di dalamnya hanya dijelaskan tentang wudhu adalah sebaik-baik amalan dan bahwa mandi itu lebih baik, hal ini tidak diragukan. Sungguh Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
وَلَوْءَامَنَ اَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًالَّهُمْ
“Sekiranya ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka.” (Ali Imran: 110)
Apakah ayat ini menunjukkan bahwa iman dan takwa tidak wajib? Sama sekali tidak. (al-Muhalla 2/14, Ibnu Hazm)
Masalah lain, wajibnya mandi bukan karena hari Jum’at, melainkan karena akan menghadiri Jum’atan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya), “Apabila salah seorang dari kalian mendatangi Jum’atan hendaknya dia mandi.” (Shahihal-Bukhari no. 877 dari hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma)
Hadits ini menunjukkan bahwa orang yang ingin menghadiri Jum’atan harus mandi meskipun yang akan hadir itu orang yang tidak wajib Jum’atan, seperti budak, anak kecil, dan wanita. Dipahami pula dari hadits ini, mandi tidak disyariatkan bagi yang tidak menghadiri Jum’atan. (lihat kitab Ahaditsul Jumu’ah hlm. 204 karya Abdul Quddus Muhammad Nadzir)
Adapun waktu mandi yang dianggap sudah mencukupi/sah untuk pelaksanaan shalat Jum’at adalah dari terbitnya fajar shadiq (subuh) hingga pelaksanaan shalat Jum’at.(Ahaditsul Jumu’ah hlm. 202 dan al-Majmu’ karya an-Nawawi rahimahullah 4/408)
Mandi Jum’at yang bagus praktiknya adalah seperti mandi junub, sebagaimana disebutkan oleh al-Imam al-Bukhari rahimahullah dalam Shahih-nya, bab “Fadhlul Jumu’ah” hadits no. 881, yang insya Allah akan dijelaskan.
Apabila Tidak Mendapatkan Air untuk Mandi
Menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, seseorang yang tidak menemukan air untuk mandi Jum’atan atau termudaratkan jika dia menggunakan air, lalu dia tidak mandi Jum’atan, mandinya tidak bisa diganti dengan tayammum. Sebab, tayammum itu disyariatkan (hanya) untuk menghilangkan hadats. (asy-Syarhul Mumti’ 5/110—111)
2. Berhias untuk shalat Jum’at dengan mengenakan pakaian yang terbagus, bersiwak, dan memakai minyak wangi selain bagi wanita. Hal ini berlandaskan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,
غُسْلُ يَوْمِ الْجُمُعَةِ عَلَى كُلِّ مُحْتَلِمٍ وَسِوَاكٌ وَيَمَسُّ مِنَ الطِّيبِ مَا قَدَرَ عَلَيْهِ
“Mandi hari Jum’at atas setiap yang baligh, bersiwak, dan memakai minyak wangi semampunya.” (HR. Muslim)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda (yang artinya), “Barangsiapa mandi pada hari Jum’at lalu membaguskan mandinya, ia bersuci dan bagus dalam bersucinya, ia memakai pakaian yang terbaik yang dimilikinya, ia memakai wewangian keluarganya yang dia mampu, lalu mendatangi Jum’atan dan tidak berkata sia-sia, serta tidak memisahkan antara dua orang, akan diampuni (dosanya) antara hari itu dan Jum’at berikutnya.” (Shahih Ibnu Majah no. 907dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu)
3. Berpagi-pagi menuju shalat Jum’at
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyamakan orang yang berpagi-pagi menuju Jum’atan dengan orang yang berkurban/bersedekah dengan hartanya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya),“Barangsiapa mandi hari Jum’at seperti mandi junub lalu pergi (Jum’atan), seolah-olah ia bersedekah dengan unta. Barangsiapa pergi pada waktu yang kedua, seolah-olah ia bersedekah dengan sapi.
Barangsiapa pergi pada waktu ketiga, seolah-olah ia bersedekah dengan kambing yang bertanduk. Barangsiapa pergi pada waktu keempat, seolah-olah ia bersedekah dengan ayam. Barang siapa pergi pada waktu kelima, seolah-olah ia bersedekah dengan telur. Apabila imam telah keluar (menuju masjid), para malaikat itu datang (dan) mendengarkan zikir (khutbah).” (Shahih al-Bukhari no. 881)
Di sini, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam membagi waktu keutamaan antara terbitnya matahari di hari Jum’at dan datangnya imam menjadi lima bagian.
Wallahua’lam bish-shawab.
Ditulis oleh  Al-Ustadz Abdul Mu’thi, Lc
Khutbah Jum’at dan Adab-Adab Khatib

Khutbah Jum’at dan Adab-Adab Khatib

Dalam penjelasan al-Imam Ibnu Qudamah rahimahullah sebelumnya disebutkan bahwa khutbah adalah syarat sahnya Jum’atan karena tidak pernah dinukil dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau shalat Jum’at tanpa didahului oleh dua khutbah.
Khutbah Jum’at adalah bagian dari zikir yang disebutkan oleh Allah Subhanahu wata’ala dalam surat al-Jumu’ah dan Allah Subhanahu wata’ala memerintah kita untuk bersegera mendatanginya. Khutbah juga momen yang sangat tepat untuk menjelaskan perkara agama karena saat itu kaum muslimin berkumpul pada sebuah tempat atau kampung yang tidak seperti hari-hari biasa.
Membuat Mimbar
Disyariatkan berkhutbah di atas mimbar seperti yang dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Di antara hikmah berkhutbah di atas mimbar adalah memudahkan makmum untuk melihat khatib dan mendengarkan khutbahnya. (Fathul Bari 2/400)
Waktu Azan Jum’at
Al Imam Al Bukhari rahimahullah meriwayatkan dari as-Saib bin Yazid bahwa ia berkata, “Adalah azan Jum’at awalnya apabila imam sudah duduk di atas mimbar di masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakr dan Umar radhiyallahu ‘anhuma. Ketika di masa Utsman radhiyallahu ‘anhu  -dan manusia telah banyak- Utsman menambahkan azan yang ketiga di Zaura.1” (HR. al-Bukhari no. 912)
Yang dimaksud dengan tiga azan di sini adalah azan pertama sebelum Utsman keluar untuk khutbah, azan kedua adalah ketika beliau sudah duduk di atas mimbar, dan azan yang ketiga adalah iqamah. Jadi, iqamah juga dinamakan azan.
Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Saya menyukai untuk dikumandangkan azan pada hari Jum’at ketika imam (khatib) telah masuk masjid dan duduk di tempat ia berkhutbah (mimbar)…. Apabila imam telah melakukan hal itu, muazin memulai mengumandangkan azan. Apabila telah selesai azan, imam berdiri menyampaikan khutbahnya, tidak lebih dari itu.”
Asy-Syafi’i lalu menyebutkan hadits as-Saib bin Yazid di atas kemudian berkata, “Atha’ mengingkari/tidak menyetujui bahwa yang melakukan azan ketiga itu adalah Utsman. Atha’ mengatakan bahwa yang membuat-buat azan Jum’at tiga itu adalah Mu’awiyah2.”
Lalu asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Namun, siapa pun yang melakukan tiga azan pertama kali, perkara yang ada di zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam itu (yakni hanya satu azan dan satu iqamat, -red.) tetap lebih saya sukai.” (al-Umm 1/503-504)
Sifat Khutbah
Setelah selesai azan, khatib berdiri menyampaikan khutbahnya yang diawali dengan pujian kepada Allah Subhanahu wata’ala, shalawat atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan mengucapkan dua kalimat syahadat seperti halnya yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.
Asy-Syaukani rahimahullah menerangkan, “Tentang pujian kepada Allah Subhanahu wata’ala, mayoritas ulama berpendapat wajibnya hal itu dalam khutbah. Demikian pula tentang shalawat atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.” (Ahaditsul Jumu’ah hlm. 340)
Adapun syahadatain, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya), “Semua khutbah yang tidak ada padanya tasyahud (ucapan dua kalimat syahadat) maka khutbah itu seperti tangan yang terkena penyakit lepra.” (Sunan Abu Dawud no. 4841, asy-Syaikh al-Albani menyatakan sahih dalam Tamamul Minnah hlm. 334)
Seyogianya diketahui, khutbah yang disyariatkan adalah apa yang biasa dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu mendorong manusia untuk menjalankan perintah agama dan menjauhi laranganlarangannya. Ini adalah ruh khutbah dan karena itu pula khutbah disyariatkan.
Jadi, syarat utama dalam khutbah adalah nasihat yang melembutkan hati dan memberi faedah untuk para hadirin. Adapun memulai khutbah dengan pujian kepada Allah Subhanahu wata’ala, shalawat atas Nabi, membaca sesuatu dari al-Qur’an, dan semisalnya, ini termasuk kesempurnaan khutbah, namun bukan syarat sahnya.
Di antara yang berpendapat seperti ini adalah al-‘Allamah Shiddiq Hasan Khan rahimahullah, sebagaimana disebutkan oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah dalam al-Ajwibah an-Nafi’ah (hlm. 54) dan asy-Syaikh as-Sa’di rahimahullah sebagaimana disebutkan dalam Hasyiah asy-Syarhul Mumti’ (5/73).
Meskipun bukan syarat sahnya khutbah, tidak sepantasnya hal itu untuk ditinggalkan -agar terhindar dari perselisihan pendapat tentang apakah hal tersebut syarat khutbah atau bukan- karena dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengerjakannya.
Di sini ada sebuah hal yang perlu diingatkan, yakni sebagian khatib menyebutkan hadits-hadits lemah dan palsu dalam khutbahnya tanpa menyebutkan derajat haditsnya. Ini adalah salah satu sebab tersebarnya kebid’ahan di tengah-tengah masyarakat, disadari atau tidak. Oleh karena itu, hendaknya khatib mencukupkan diri dengan menyebutkan hadits yang sahih dan kuat.
Demikian pula jika sebagian khatib memanfaatkan kesempatan khutbahnya untuk berkampanye, mengajak kepada partai politik tertentu dan memperingatkan umat dari partai politik yang lain. Perbuatan ini telah mencederai kedudukan khutbah yang sejatinya adalah zikrullah. Hendaknya para khatib takut kepada Allah Subhanahu wata’ala dan tidak mengkhianati umat.
Bolehkah Berkhutbah dengan Selain Bahasa Arab?
Agar para jamaah mengambil faedah dari khutbah yang disampaikan, sepantasnya seorang khatib memilih bahasa yang mudah dipahami. Oleh karena itu, menurut pendapat yang terkuat, boleh berkhutbah dengan selain bahasa Arab apabila para jamaah tidak mengerti bahasa Arab.
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin berkata, “Dalam masalah ini, yang benar adalah khatib Jum’at itu tidak boleh berkhutbah dengan bahasa yang tidak dipahami oleh para hadirin dan selainnya. Jika para hadirin bukan orang Arab, misalnya, dia berkhutbah dengan bahasa mereka, karena ini adalah sarana penjelas bagi mereka. Tujuan khutbah adalah menjelaskan batasanbatasan Allah Subhanahu wata’ala kepada para hamba-Nya serta menasihati dan membimbing mereka. Adapun ayat-ayat al-Qur’an harus (disebutkan) dengan bahasa Arab, lalu dijelaskan dengan bahasa hadirin.
Dalil bolehnya berkhutbah dengan selain bahasa Arab adalah firman Allah Subhanahu wata’ala,
وَمَا اَرْسَلْنَا مِنْ رَسُوْلٍ اِلَّابِلِسَانِ قَوْمِهِ
“Kami tidak mengutus seorang rasul pun selain dengan bahasa kaumnya.” (Ibrahim: 4)
Allah Subhanahu wata’ala menerangkan (pada ayat di atas), sarana penjelas hanyalah dengan bahasa yang dipahami oleh orang-orang yang diajak bicara. (Fatawa Arkanil Islam hlm. 393)
Beberapa Adab Khatib
1. Mengucapkan salam kepada makmum ketika naik mimbar.
Hal ini berdasarkan hadits Jabir radhiyallahu ‘anhu bahwa setelah naik mimbar, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengucapkan salam. (Dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan Ibnu Majah no. 917)
2. Duduk setelah menaikinya, sebelum menyampaikan khutbah sambil mendengarkan azan Jum’at yang dikumandangkan muazin serta menjawab azannya.
3. Selesai azan, ia berdiri menghadap makmum dan menyampaikan khutbah dengan menyandarkan tangannya pada tongkat atau busur panah.
Ini berlandaskan pada hadits al-Hakam bin Hazm al-Kulafi radhiyallahu ‘anhu bahwa ia menyaksikan/mengikuti Jum’atan bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan beliau berdiri
(dalam khutbah) bersandarkan pada tongkat atau busur panah. (HR. Abu Dawud dalam Sunan-nyadanal-Hafizh menyatakannya hasan dalam at-Talkish al-Habir 2/65). Dalam masalah ini memang ada pebedaan pendapat, sebagian ulama memandangnya tidak perlu. (-red.)
4. Duduk di antara dua khutbah untuk istirahat sejenak lalu berdiri lagi untuk menyampaikan khutbah kedua.
Hal ini seperti penuturan sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berkhutbah dengan berdiri lalu duduk kemudian berdiri. (Shahih al-Bukhari no. 920)
5. Mengeraskan suara (secara wajar) agar makmum mendengar apa yang diucapkannya.
Dahulu, apabila Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkhutbah, kedua matanya memerah dan suaranya tinggi, seolah-olah beliau adalah seorang pemberi peringatan kepada pasukan bahwa musuh akan menyerang di waktu pagi atau sore. (Shahih Muslim, “Kitabul Jumu’ah”)
6. Memendekkan khutbah dan memanjangkan shalat.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
إِنَّ طُوْلَ صَلَاةِ الرَّجُلِ وَقِصَرَ خُطْبَتِهِ مَئِنَّةٌ مِنْ فِقْهِهِ فَأَطِيْلُواالصُّلَاةَ وَاقْصُرُواالْخُطْبَةَ
Sesungguhnya panjangnya shalat dan pendeknya khutbah seseorang adalah pertanda (mendalam) pemahamannya. Panjangkanlah shalat dan pendekkanlah khutbah!” (ShahihMuslim no. 869 dari ‘Ammar bin Yasir radhiyallahu ‘anhuma)
Hadist ini menunjukkan disyariatkannya memendekkan waktu (durasi) khutbah. Yang dimaksud adalah khutbah yang sedang, sebagaimana disebutkan dalam riwayat lain, yaitu pertengahan, antara pendek yang tidak mencukupi dan panjang yang berlebihan.
Pendeknya khutbah menandakan keilmuan khatib yang mendalam, dilihat dari sisi bahwa dia bisa mengungkapkan sesuatu yang luas dengan kata-kata yang ringkas (padat). Apabila panjang, tidak sampai memberatkan para makmum atau sampai keluar waktu.(Ahaditsul Jumu’ah hlm. 355)
Namun, jika sesekali khatib memanjangkan khutbah karena kebutuhan, hal ini tidak mengapa.
Di antara faedah memendekkan durasi khutbah adalah agar materi khutbah mudah diserap dan dipahami serta agar makmum tidak bosan mendengarkannya.
7. Dimakruhkan bagi khatib mengangkat kedua tangannya saat berdoa karena apabila Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam hanya berisyarat dengan jarinya ketika berdoa saat khutbah.
Hal ini berlandaskan hadits ‘Umarah bin Ruwaibah radhiyallahu ‘anhu bahwa dia melihat Bisyr bin Marwan di atas mimbar mengangkat kedua tangannya. ‘Umarah berkata, “Semoga Allah Subhanahu wata’ala menjelekkan kedua tangannya. Sungguh, aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak lebih dari melakukan seperti ini -beliau berisyarat dengan jari
telunjuknya.” (Shahih Muslim, “Kitabul Jumu’ah”)
Asy-Syaukani rahimahullah mengatakan bid’ahnya mengangkat kedua tangan saat berdoa di atas mimbar. (Nailul Authar, 3/32)
Lain halnya ketika berdoa saat istisqa’ (meminta hujan), karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dahulu mengangkat kedua tangannya sampai terlihat putih ketiaknya.
8. Berkhutbah sesuai dengan kondisi.
Misalnya, berkhutbah menjelaskan perkara-perkara yang terkait puasa Ramadhan menjelang masuknya bulan Ramadhan atau di awal-awal Ramadhan. Hal ini agar manusia menjalankan ibadah puasa di atas pengetahuan yang mendalam.
Demikian pula berkhutbah dengan bahasa yang jelas dipahami sehingga tidak menimbulkan salah tafsir.
——————————————————————
1. Zaura adalah rumah milik Utsman yang ada di pasar. Azan di Zaura dikumandangkan sebelum Utsman keluar (untuk khutbah) agar manusia tahu bahwa waktu Jum’atan telah datang. (Fathul Bari 2/394)
Azan ini disebut azan ketiga walaupun pelaksanaannya lebih dahulu, karena azan tersebut belum ada pada zaman Nabi dan baru ada setelahnya. Wallahu a’lam. (-red.)
2. Pengingkaran Atha’ tidak tepat karena riwayat-riwayat telah menyebutkan bahwa yang melakukannya adalah Utsman radhiyallahu ‘anhu. (Lihat Fathul Bari, 2/394-395)
KEBID’AHAN-KEBID’AHAN DALAM KHUTBAH
Ada beberapa perkara bid’ah yang dilakukan di saat khatib berkhutbah, di antaranya:
1. Sebagian muazin mengeraskan suara dengan menyebutkan hadits,
إِذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ: أَنْصِتْ فَقَدْلَغَوْتَ
“Apabila engkau mengatakan kepada temanmu,‘Diamlah,’ pada hari Jum’at dalam keadaan imam sedang berkhutbah, engkau telah melakukan yang sia-sia.”
Ini diucapkannya ketika imam keluar untuk khutbah sampai naik di atas mimbar.
2. Khatib menaiki mimbar dengan perlahan-lahan secara sengaja.
3. Khatib memukulkan tongkat atau semisalnya pada anak tangga mimbar ketika menaikinya.
4. Duduk di bawah mimbar saat berlangsungnya khutbah untuk mencari kesembuhan.
5. Mengkhususkan khutbah kedua untuk shalawat atas Rasul dan doa, serta mengosongkannya dari nasihat dan peringatan.
6. Melagukan khutbah.
7. Khatib selalu mengakhiri khutbah dengan menyebutkan ayat,
إِنّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ
Atau ucapan,
اُذْكُرُوااللهَ يَذْكُرْكُمْ
(Lihat al-Ajwibah an-Nafi’ah karya asy-Syaikh al-Albani)
Ditulis oleh  Al-Ustadz Abdul Mu’thi, Lc
Adab Orang yang Mendengarkan Khutbah

Adab Orang yang Mendengarkan Khutbah

Ada beberapa adab yang dituntunkan bagi orang yang mendengarkan khutbah.
1. Bila seseorang masuk masjid, jangan duduk sampai shalat sunnah tahiyatul masjid meskipun khatib sedang berkhutbah.
Ini berlandaskan hadits Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma bahwa datang seorang lelaki di hari Jum’at dalam keadaan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sedang menyampaikan khutbah lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya, “Apakah kamu sudah shalat?” Ia menjawab, “Belum.” Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Shalatlah dua rakaat!” (Shahih al-Bukhari no. 931)
2. Jika seseorang masuk masjid di hari Jum’at dan azan Jum’at sedang dikumandangkan, apakah dia tetap berdiri menunggu sampai selesainya azan atau dia langsung shalat tahiyatul masjid?
Ulama menyebutkan bahwa dia langsung shalat tahiyatul masjid karena mendengarkan khutbah itu wajib sedangkan menjawab azan itu sunnah. (Majmu’ Fatawa asy-SyaikhMuhammad bin Shalih al-‘Utsaimin 12/202)
3. Duduk di mana saja dia mendapatkan tempat dimasjid dan dianjurkan mendekat kepada imam.
4. Tidak melewati pundak-pundak orang dan tidak memisahkan antara dua orang.
Al-Imam Abu Dawud rahimahullah meriwayatkan dalam Sunan-nya (1118) dari Abdullah bin Busr radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Datang seorang lelaki pada hari Jum’at dengan melangkahi leher-leher manusia dalam keadaan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sedang berkhutbah maka beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan,

إِجْلِسْ فَقَدْ آذَيْتَ

“Duduklah, kamu telah mengganggu!”
(Hadits ini dinyatakan sahih oleh Ibnul Munzir rahimahullah seperti dalam al-Majmu’ 4/421 karya an-Nawawi rahimahullah)
Melangkahi pundak-pundak orang menurut pendapat yang kuat hukumnya haram, lebih-lebih jika hal itu terjadi ketika berlangsungnya khutbah karena terkandung bentuk menyakiti orang lain dan menyibukkan orang dari mendengarkan khutbah. Dikecualikan dalam hal ini adalah imam, karena memang tempatnya di depan. Apabila imam bisa sampai di depan tanpa harus melewati pundak-pundak orang, maka itu yang seharusnya dilakukan. Misalnya, ada pintu masuk imam di bagian depan.
Dikecualikan pula dari larangan ini orang yang ingin mengisi tempat yang masih kosong di bagian depan. Misalnya, orang-orang yang datang lebih awal mengambil tempat duduk di bagian belakang masjid atau tengah-tengahnya dan membiarkan shaf-shaf depan tidak ditempati. Dibolehkannya melewati mereka karena biasanya mereka sendiri yang telah meremehkan shaf-shaf terdepan sehingga tidak mengapa untuk ditempati walaupun terpaksa harus melewati pundak-pundak manusia. (Lihat asy-Syarhul Mumti’ 5/125-126)

5. Diam saat berlangsungnya khutbah.
Hal ini berlandaskan hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
إِذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَنْصِتْ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ فَقَدْ لَغَوْتَ
“Apabila kamu mengatakan kepada temanmu di hari Jum’at,‘Diamlah kamu!’ dalam keadaan imam sedang berkhutbah maka kamu telah berkata yang sia-sia.” (HR. al-Bukhari no. 394dan Muslim)
Orang yang seperti ini telah sia-sia Jum’atannya meskipun telah gugur kewajibannya.
Hadits ini menunjukkan larangan dari seluruh percakapan saat berlangsungnya khutbah, karena jika ucapan “diamlah kamu” yang terkandung bentuk amar ma’ruf saja dikatakan sia-sia karena bukan pada waktu yang tepat, tentunya perkataan yang sifatnya biasa saja lebih dilarang lagi.
Khutbah sebagai salah satu syiar Jum’atan yang terbesar, tentu yang dimaukan agar para jamaah mendengarkannya dan tidak menyibukkan dengan selainnya. Diharapkan, selesai dari Jum’atan mereka telah menyerap materi khutbah yang mendorongnya kepada kebaikan dan mencegah dari
kemungkaran.
Namun, suatu hal yang sangat menyedihkan bahwa kita masih mendapatkan sebagian jamaah asyik mengobrol pada saat khatib dengan seriusnya menyampaikan khutbah. Yang lebih memilukan, sebagian mereka tenggelam dalam percakapan yang haram dan melukai kehormatan saudaranya.
Hadits ini juga menunjukkan bahwa larangan berkata-kata adalah hanya saat berlangsungnya khutbah. Adapun ketika khatib tidak sedang berkhutbah, seperti ketika duduk di antara dua khutbah, hal ini tidak mengapa.
Demikian pula, perintah untuk diam saat khutbah tidak hanya diam dari mengajak bicara orang lain namun juga diam dari berzikir dan membaca al-Qur’an.(lihat Subulus Salam 2/51)
Adapun menjawab salam, membaca hamdalah kalau bersin dan mengucapkan shalawat ketika nama Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam disebut, diperselisihkan kebolehannya saat berlangsung khutbah. Sebagian ulama mengatakan hal itu tidak boleh karena ucapan “diamlah kamu” sudah dianggap sia-sia, padahal ia termasuk kategori al-ma’ruf (sesuatu yang baik), Maka, semua ma’ruf yang lainnya juga dilarang karena memang bukan waktunya, dan bahwa dilarangnya hal tersebut termasuk masalah “mendahulukan yang terpenting dari yang penting”, wallahu a’lam. (lihat al-Ajwibah an-Nafi’ah karya asy-Syaikh al-Albani hlm. 60)
Apakah orang yang tidak mendengar ceramah khatib boleh berbicara? Dalam permasalahan ini juga ada perbedaan pendapat. Jumhur ulama berpendapat tidak boleh. (lihat Syarh Shahih Muslim, karya an-Nawawi 6/377)
Pendapat jumhur ini tampaknya lebih kuat, karena hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang telah disebutkan secara tekstualnya adalah perintah untuk diam dari seluruh ucapan saat khutbah berlangsung kecuali yang telah dikhususkan oleh dalil. Wallahu a’lam. (lihat Ahaditsul Jumu’ah)
Di antara yang dikecualikan oleh dalil adalah shalat tahiyatul masjid, jamaah berbincang dengan khatib dan jamaah diajak bicara oleh khatib. Adapun ucapan yang sifatnya harus seperti memperingatkan orang buta yang akan jatuh ke sumur atau orang yang dikhawatirkan tersengat api, ular, atau kebakaran, dan yang semisalnya, maka hal ini boleh. (Lihat al-Mughni 3/198)
Apabila khatib menyampaikan materi khutbah yang tidak layak, sebagian salaf membolehkan berbicara di saat khutbah. (Fathul Bari 2/415 dan Mushannaf Abdurrazzaq 3/213)
Ibnu Hazm rahimahullah berkata, “Apabila khatib memasukkan dalam khutbahnya sesuatu yang bukan kategori zikir kepada Allah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak pula doa yang diperintahkan, maka berbicara di saat itu boleh.” (al-Muhalla 5/62)
6. Larangan duduk ihtiba, yaitu seseorang duduk menegakkan kedua lutut dan kedua kakinya lalu menggabungkannya ke perutnya dengan cara mengikatnya dengan kain atau kedua tangannya.
Ini berlandaskan hadits Abu Dawud dalam Sunan-nya dari Mu’adz bin Anas radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang dari ihtiba di hari Jum’at dalam keadaan imam sedang berkhutbah. (no. 1110)
Dilarang duduk seperti ini karena akan bisa membuat seorang tertidur dan menjadi pengantar untuk batalnya wudhunya.1 (Lihat ‘Aunul Ma’bud 3/322)
7. Tidak bermain-main saat berlangsungnya khutbah karena akan mengganggu konsentrasi. Demikian pula tidak melakukan sesuatu yang bisa menyibukkan dari mendengar khutbah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
وَمَنْ مَسَّ الْحَصَى فَقَدْ لَغَا
“Barangsiapa memegang/menyentuh kerikil maka dia telah melakukan perkara yang sia-sia.” (Shahih Sunan Ibnu Majah no. 901 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)
Di sini, kami mengajak para takmir atau pengelola masjid untuk tidak mengedarkan kotak infak di saat berlangsungnya khutbah, karena sangat mengganggu konsentrasi para jamaah. Mungkin bisa dicari cara selain ini. (-red.)
8. Bergeser dari tempat duduknya apabila mengantuk.
Ini berlandaskan hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang bersabda,
إِذَا نَعَسَ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَلْيَتَحَوَّلْ مِنْ مَجْلِسِهِ ذَلِكَ
“Apabila salah seorang kalian mengantuk pada hari Jum’at, hendaklah ia berpindah dari tempat duduknya itu.” (ShahihSunanat-Tirmidzi no. 526)
Ditulis oleh  Al-Ustadz Abdul Mu’thi, Lc
————————————————————-
1. Tentang duduk ihtiba, ada pendapat lain. Sebagian ulama membolehkannya dengan alas an bahwa hadits yang melarang duduk ihtiba derajatnya lemah. Untuk mengompromikan kedua pendapat tersebut, al-Iraqi menyatakan,”Seandainya dianggap semua hadits tersebut shahih, larangan itu dimaksudkan agar seseorang tidak mulai memasang hibwah (melakukan duduk ihtiba) ketika imam sudah berdiri untuk berkhutbah hingga ia menyelesaikannya.” (Syarh Musykil al-Atsar, 7/344-345) (-ed.)
Tata Cara Shalat Jum’at

Tata Cara Shalat Jum’at

Sebelumnya telah dijelaskan bahwa shalat Jum’at adalah fardhu/wajib atas laki-laki yang berakal dan sudah baligh yang bukan musafir, serta tidak ada uzur/halangan yang membolehkannya untuk meninggalkan Jum’atan. Shalat Jum’at dikerjakan untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wata’ala sehingga seseorang meraih surga-Nya dan terhindar dari azab-Nya.
Shalat Jum’at dilangsungkan setelah didahului dengan dua khutbah. Apabila khatib telah selesai berkhutbah maka muazin mengumandangkan iqamah, dan yang utama bahwa khatib itu juga yang memimpin shalat Jum’at, meskipun boleh jika khatib dan imam Jum’at itu berbeda. Hal ini dibolehkan karena khutbah adalah amalan tersendiri dan terpisah dari shalat, hanya saja hal ini menyelisihi sunnah. (Lihat Fatawa al- Lajnah ad-Daimah 8/237)
Telah mutawatir dan masyhur dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau shalat Jum’at hanya dua rakaat1. Demikian pula bahwa kaum muslimin telah sepakat bahwa shalat Jum’at itu dua rakaat. Dengan ini, shalat Jum’at adalah shalat tersendiri, bukan zhuhur dan bukan ganti dari zhuhur. Barang siapa menyangka bahwa Jum’atan adalah shalat zhuhur yang diqashar/diringkas maka dia telah jauh rimbanya. Akan tetapi, Jum’atan adalah shalat tersendiri yang memiliki syarat dan sifat yang khusus. Oleh karena itu, shalat Jum’at dilakukan dua rakaat meskipun dalam kondisi mukim. (lihat asy-Syarhul Mumti’ 5/88-89)
Surat Apa yang Dibaca dalam Shalat Jum’at?
Surat apa saja dari al-Qur’an yang dibaca imam setelah al-Fatihah maka telah mencukupi. Namun ada beberapa surat yang disunnahkan untuk dibaca pada shalat Jum’at yaitu surat al-Jumu’ah dan surat al-Munafiqun atau surat al-A’la
(سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى)
dan surat al-Ghasyiyah
(هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ).
Hal ini berlandaskan hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dahulu membaca surat al-Jumu’ah dan surat al-Munafiqun dalam shalat Jum’at (HR. Muslim no. 879)
Dari sahabat an-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam membaca :
سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى
dan
هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ
pada shalat ‘Ied dan Jum’at.” (HR. Muslim 878)
Ulama menyebutkan di antara hikmah membaca surat al-Jumu’ah karena ia memuat tentang wajibnya Jum’atan dan hukum-hukum Jum’atan. Adapun hikmah dibacanya surat al-Munafiqun karena orang-orang munafik tidaklah berkumpul pada suatu majelis yang lebih banyak daripada saat Jum’atan. Oleh karena itu, dibaca surat ini sebagai celaan atas mereka dan peringatan agar mereka bertobat. (lihat Syarh Shahih Muslim 6/404 karya an-Nawawi rahimahullah)
Bacaan al-Fatihah dan surat pada shalat Jum’at itu dengan jahr (dikeraskan) sebagaimana dengan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Hal ini tentu menjadi salah satu bukti bahwa shalat Jum’at tidak sama dengan shalat zhuhur. Adapun bacaan-bacaan yang lain di saat sujud, ruku’, dan semisalnya, serta gerakan-gerakannya sama dengan shalat-shalat yang lain.
Kapan Seseorang Dikatakan telah Mendapatkan Shalat Jum’at?
Jika mendapatkan satu rakaat bersama imam yang minimalnya mendapatkan ruku’ bersama imam pada rakaat kedua berarti dia telah mendapatkan shalat Jum’at sehingga dia tinggal menambah satu rakaat yang tertinggal. Ini berlandaskan hadits Abu Hurairah bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَنْ أَدْرَكَ مِنَ الْجُمُعَةِ رَكْعَةً فَلْيَصِلْ إِلَيْهَا أُخْرَى
“Barangsiapa mendapatkan satu rakaat dari (shalat) Jum’at hendaklah dia menyambung kepadanya rakaat yang lain.” (Shahih Sunan Ibnu Majah no. 927)
Hadits ini dijadikan landasan dalam beramal menurut mayoritas ulama dari kalangan sahabat dan yang lainnya. Mereka mengatakan, “Barang siapa mendapati satu rakaat dari Jum’atan maka ia shalat (satu rakaat) yang lain untuk (menyempurnakannya). Barang siapa mendapati mereka sudah duduk maka ia shalat empat rakaat.” (Sunan at-Tirmidzi 2/403)
Maka dari itu, barang siapa yang tidak mendapati shalat Jum’at bersama imam ia shalat zhuhur empat rakaat, bukan shalat Jum’at.
Adakah Shalat Sunnah Qabliah Jum’at?
Perlu diketahui bahwa disunnahkan bagi seseorang yang masuk masjid pada hari Jum’at untuk shalat sunnah sampai imam naik mimbar untuk berkhutbah. Shalat sunnah ini tidak ada bilangan dan waktu tertentu. Jadi, ini tergolong shalat sunnah mutlak, bukan qabliah. Adapun masalah apakah untuk shalat Jum’at ada shalat sunnah qabliah yang khusus selain tahiyatul masjid sebagaimana ada shalat qabliah zhuhur? Maka dalam hal ini tidak ada dalil yang kuat sedikit pun dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam.
Adapun hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam shalat sebelum Jum’at empat rakaat tanpa memisahkan padanya (dengan salam) maka sanadnya lemah sekali. An-Nawawi rahimahullah mengatakan dalam al-Khulashah bahwasanya itu adalah hadits batil. (AhaditsulJumu’ah hlm. 315 dan al-Ajwibah an-Nafi’ah hlm. 32)
Ibnul Qayyim rahimahullah menerangkan, “Apabila Bilal telah selesai mengumandangkan azan maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam memulai berkhutbah. Tidak ada seorang pun (dari sahabat) yang berdiri melakukan shalat dua rakaat sama sekali. Dahulu, azan tidak ada selain satu saja, ini menunjukkan bahwa shalat Jum’at seperti (shalat) hari raya, tidak ada sunnah qabliah.
Ini adalah yang paling sahih dari dua pendapat ulama, dan sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menunjukkan hal ini. Sebab, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dahulu keluar rumahnya (untuk khutbah Jum’at) dan ketika naik mimbar, Bilal mengumandangkan azan. Jika Bilal telah menyempurnakan azan, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berkhutbah tanpa adanya pemisah.
Hal ini terlihat jelas oleh mata, lalu kapan mereka (para sahabat) shalat sunnah (qabliah)?! Barang siapa mengira bahwa mereka semuanya berdiri lalu shalat dua rakaat, dia adalah orang yang paling bodoh tentang sunnah. Apa yang kami sebutkan bahwa tidak ada shalat sunnah sebelum shalat Jum’at adalah pendapat Malik, Ahmad dalam pendapatnya yang masyhur, dan salah satu sisi (pendapat) pengikut-pengikut asy-Syafi’i.”
Lalu Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan pendalilan orang-orang yang menyatakan adanya sunnah qabliah dan memberi bantahan yang luar biasa bagusnya kepada mereka. (lihat Zadul Ma’ad, 1/417—424) Sesungguhnya, di antara yang menyebabkan sebagian orang melakukan shalat sunnah qabliah Jum’at yang tidak ada contohnya dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat radhiyallahu ‘anhum adalah adanya azan awal sebelum khatib naik mimbar.
Oleh karena itu, kami tegaskan kembali ucapan al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah dalam al-Umm bahwa azan Jum’at yang beliau sukai adalah seperti yang ada di zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam naik mimbar. Jika ada yang berdalil dengan hadits,
بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلَاةٌ
“Antara dua azan ada shalat.” (Muttafaqun ‘alaihi) Yang dimaksud dua azan adalah azan dan iqamah, sehingga bukan antara azan Jum’at pertama sebelum naik mimbar dengan azan ketika khatib telah naik mimbar. Hal ini karena azan Jum’at di zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam hanya ketika beliau naik mimbar.
Shalat Sunnah Ba’diyah Jum’at
Disunnahkan untuk shalat sunnah selesai shalat Jum’at setelah berzikir atau beralih dari tempat yang ia shalat Jum’at. Shalat sunnah setelah Jum’atan ada dua macam: dua rakaat atau empat rakaat. Al-Bukhari rahimahullah meriwayatkan dari jalan sahabat Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dahulu shalat sebelum zhuhur dua rakaat dan setelah zhuhur dua rakaat, setelah maghrib dua rakaat di rumahnya, dan dua rakaat setelah isya’. Beliau tidak shalat setelah Jum’at sampai beliau pergi lalu shalat dua rakaat. (Shahih al-Bukhari no. 937)
Adapun yang empat rakaat, sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
إِذَا صَلَّى أَحَدُكَمْ الْجُمُعَةَ فَلْيُصَلِّ بَعْدَهَا أَرْبَعًا
“Apabila salah seorang kalian telah shalat Jum’at, hendaknya ia shalat setelahnya empat rakaat.” (HR. Muslim no. 881 dan selainnya)
Jika Hari Raya Jatuh Pada Hari Jum’at
Di sana ada rukhsah/keringanan untuk meninggalkan shalat Jum’at dan menggantinya dengan zhuhur bila seseorang telah shalat hari raya yang jatuh pada hari Jum’at. Hal ini berlandaskan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,
قَدْ اِجْتَمَعَ فِي يَوْمِكُمْ هَذَا عِيْدَانِ فَمَنْ شَاءَ أَجْزَأَهُ عَنِ الْجُمُعَةِ وَإِنَّا مُجَمِّعُوْنَ
“Telah terkumpul pada hari kalian ini dua hari raya. Barang siapa yang mau maka (shalat hari raya) telah mencukupinya dari Jum’atan, dan sesungguhnya kami akan mengadakan Jum’atan.” (HR. Abu Dawud dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dinyatakan shahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 4365)
Ash-Shan’ani rahimahullah berkata,“Sesungguhnya shalat Jum’at setelah shalat ied menjadi rukhsah (suatu keringanan) boleh melakukannya dan boleh meninggalkannya, dan ini khusus bagi yang shalat ied dan bukan bagi orang yang tidak shalat ied.” (Subulus Salam, 2/52)
Rukhsah di sini umum sifatnya bagi imam dan makmum. Adapun pengabaran dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa “Kami akan menjalankan Jum’atan” hal ini tidak menunjukkan bahwa imam wajib melaksanakan Jum’atan. Sebab, ucapan ini bersifat pemberitaan yang tidak pas untuk dijadikan dalil tentang wajibnya Jum’atan bagi imam.
Di antara dalil bahwa imam juga mendapatkan rukhsah adalah sahabat Ibnu Zubair radhiyallahu ‘anhu, yang waktu itu sebagai penguasa, tidak shalat Jum’at pada hari raya. Ketika Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma ditanya tentang itu, beliau menjawab, “Sesuai dengan sunnah.” (Sunan an-Nasai no. 1590)
Selain itu, tidak ada seorang sahabat pun yang mengingkari sahabat Ibnu Zubair radhiyallahu ‘anhu. (Nailul Authar 3/336) Meskipun demikian, imam disyariatkan untuk tetap hadir di masjid dengan tujuan menegakkan shalat Jum’at bersama orang-orang yang menghadirinya. Hal ini berlandaskan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang telah berlalu penyebutannya
وَأَنَا مُجَمِّعُوْنَ
(“Dan kami akan menegakkan Jum’atan.”)
Wanita Menghadiri Shalat Jum’at
Shalat Jum’at dan shalat berjamaah tidak wajib atas wanita. Yang sunnah bagi mereka di hari Jum’at dan selainnya adalah shalat di rumahnya dan ini lebih utama. Namun, jika ia ikut shalat Jum’at bersama kaum muslimin, ini menggugurkan kewajibannya untuk shalat zhuhur. Hanya saja, ketika keluar, dia harus mengenakan hijab dan pakaian yang menutupi auratnya dan tidak memakai minyak wangi. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
وَلْيَخْرُجْنَ تَفِ تَالِ
“Hendaknya mereka keluar tanpa memakai wewangian.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)
Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
وَبُيُوْتُهُنَّ خَيْرٌلَهُنَّ
“Dan rumah-rumah mereka lebih baik.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad)
Dari sini kita bisa mengetahui bahwa wanita tidak wajib Jum’atan, tetapi shalat zhuhur di rumahnya. Namun, apabila ia shalat Jum’at bersama orang banyak, Jum’atannya sah dan menggantikan shalat zhuhur. (Diringkas dari Majmu’ Fatawa 12/333-334, asy-Syaikh Ibnu Baz)
Jum’atannya dianggap sah karena wanita tersebut bermakmum kepada imam shalat Jum’at, sehingga sah baginya karena sebagai pengikut. Dan tidak sah Jum’atan wanita itu kalau dia shalat sendirian.(Lihat asy-Syarhual-Mumti’ 5/21)
Menjamak Shalat Ashar dengan Shalat Jum’at
Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah menerangkan, “Sebatas pengetahuan kami, dalam hal ini tidak ada dalil yang menunjukkan bolehnya menjamak (menggabungkan) shalat ashar dengan shalat Jum’at. Tidak ada nukilan tentang menjamak shalat tersebut dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak pula dari seorang sahabat Rasul radhiyallahu ‘anhum. Maka dari itu, yang menjadi keharusan adalah tidak melakukannya. Orang yang telah melakukannya harus mengulangi shalat ashar apabila telah masuk waktunya.” (Majmu’ Fatawa 12/300, asy-Syaikh Ibnu Baz)
Senada dengan itu adalah pernyataan asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin, “Shalat ashar tidak dijamak dengan Jum’atan karena tidak adanya sunnah yang menjelaskan hal itu. Tidak benar hal itu dikiaskan dengan menjamak ashar dengan zhuhur, karena perbedaan yang banyak antara Jum’at dengan zhuhur. Hukum asalnya, setiap shalat harus dikerjakan pada waktunya kecuali ada dalil yang membolehkan untuk menjamaknya dengan yang lain.” (Fatawa Arkanil Islam hlm. 383)
Masalah ini memang diperselisihkan oleh para ulama. Sebagian ulama membolehkan menjamak shalat Jum’at dengan shalat ashar, sebagaimana disebutkan oleh an-Nawawi. Alasan mereka, shalat Jum’at adalah pengganti shalat zhuhur sehingga ia mengambil hukum-hukum shalat zhuhur, termasuk dalam hal bolehnya dijamak dengan shalat ashar. Wallahu a’lam. (-ed.)
Shalat Zhuhur Setelah Shalat Jum’at
Telah diketahui dari agama ini secara pasti dan dengan dalil-dalil syariat bahwa Allah Subhanahu wata’ala Yang Mahasuci tidaklah mensyariatkan di waktu zhuhur hari Jum’at kecuali satu (shalat) wajib yaitu shalat Jum’at atas para lelaki yang mukim/tinggal dan menetap, merdeka/bukan budak dan yang telah dibebani oleh panggilan syariat. Bila kaum muslimin menjalankan hal itu maka tidak ada kewajiban yang lain, baik zhuhur maupun selainnya. Bahkan shalat Jum’at itulah yang harus dilakukan saat itu.
Sungguh, dahulu Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, para sahabat radhiyallahu ‘anhum, dan as-salaf ash-shalih setelah mereka, tidaklah melakukan shalat wajib yang lain setelah Jum’atan… dan tidak diragukan bahwa hal itu (shalat zhuhur setelah Jum’atan) merupakan kebid’ahan yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah menyebutkan (yang artinya), “Berhati-hatilah kamu dari perkara-perkara yang baru, karena setiap perkara baru (dalam agama) adalah sesat.” (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 12/363)
Bolehkah Shalat Jum’at di Rumah dengan Keluarga?
Ada banyak riwayat tentang pelaksanaan shalat Jum’at di masjid, yang menunjukkan bahwa shalat Jum’at tidak boleh dikerjakan selain di masjid. Oleh karena itu, orang yang shalat Jum’at di rumah dengan keluarganya harus mengulangi dengan melakukan shalat zhuhur dan tidak sah Jum’atannya. Sebab, yang wajib atas para lelaki adalah shalat Jum’at bersama saudara-saudaranya kaum muslimin di rumah-rumah Allah Subhanahu wata’ala (masjid-masjid). (Lihat Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 8/196)
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Shalat Jum’at tidak sah selain di masjid (baik) di kota maupun desa.” (Fatawa Arkanil Islam, 391)
Shalat Jum’at bagi Orang yang Bekerja di Anjungan Lepas Pantai
Di sini kami akan menampilkan pertanyaan yang ditujukan kepada al-Lajnah ad-Daimah lil-Buhuts al-Ilmiyah wal Ifta’ (Komite Fatwa Ulama Saudi Arabia) beserta jawabannya dengan nomor fatwa 6113.
Berikut ini petikan terjemahannya. Kami para karyawan minyak perusahaan Aramco. Kebiasaan tugas kami adalah bekerja di tengah-tengah laut selama setengah bulan berturut-turut. Jumlah kami terkadang mencapai delapan orang. Pertanyaannya, apakah sah bagi kami shalat Jum’at padahal kami tidak menjadikannya tempat tinggal dan tidak selalu menetap, dan jumlah kami seperti yang telah disebutkan, ataukah kami shalat zhuhur? Kami berharap faedah dan semoga Anda semua selalu dalam kebaikan. Al-Lajnah ad-Daimah menjawab sebagai berikut : Jika kenyataannya seperti yang telah disebutkan bahwa kalian tidak menjadikannya tempat tinggal bersama orang-orang yang menetap dan kalian bekerja dalam kondisi terpencil di tengah-tengah laut selama lima belas hari, yang wajib atas kalian selama masa itu adalah shalat zhuhur, bukan Jum’at. (Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 8/219—220)2
Membaca Surat Tertentu setelah Shalat Jum’at
Ada riwayat yang menyebutkan keutamaan membaca surat al-Ikhlas dan Mu’awidzatain (surat al-Falaq dan an-Nas) setelah shalat Jum’at, namun sanadnya lemah dan tidak bisa dijadikan landasan dalam beramal. Ibnus Sunni rahimahullah meriwayatkan dalam kitab ‘Amalul Yaumi Wallailah hadits dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya), “Barangsiapa yang membaca setelah shalat Jum’at
قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ, قُلْ أعُوذُ بِرَبِّالفَلَقِ
dan
قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ
tujuh kali maka Allah Subhanahu wata’ala akan melindunginya dengan bacaan tadi dari kejelekan sampai Jum’at berikutnya.” Di dalam sanad hadits ini ada rawi bernama al-Khalil bin Murrah, ia seorang yang dhaif (lemah), dinyatakan lemah oleh Abu Hatim. Al-Bukhari rahimahullah juga berkata bahwa haditsnya munkar. (Ahaditsul Jumu’ah hlm. 133)
Bepergian di Hari Jum’at
Tidak mengapa seseorang bepergian di hari Jum’at karena tidak ada dalil yang kuat yang melarangnya. Adapun mengawali bepergian di waktu shalat Jum’at, pendapat yang kuat adalah tidak boleh bagi orang yang berkewajiban menghadiri Jum’atan, kecuali kalau dikhawatirkan akan terpisah dari rombongan yang tidak memungkinkan bepergian selain bersama mereka, dan uzur-uzur semisal itu. Sebab, apabila syariat telah membolehkan seseorang untuk tidak menghadiri Jum’atan karena uzur hujan, meninggalkan Jum’atan bagi orang yang kesulitannya melebihi itu tentu lebih boleh lagi. Demikian pula dibolehkan bagi yang khawatir tertinggal pesawat, kereta, dan semisalnya, padahal ia telah memesan tiketnya. (Lihat Nailul Authar, 3/273-274 dan Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 8/203)
Mendirikan Shalat Jum’at Lebih Dari Satu Masjid di Satu Kampung atau Tempat
Jika keadaan menuntut dilaksanakannya shalat Jum’at lebih dari satu masjid di satu kampung, hal ini tidak mengapa. Misalnya, masjid yang biasa untuk Jum’atan sudah tidak bisa menampung banyaknya jamaah karena sempitnya masjid, atau antar warga terjadi pertikaian yang apabila disatukan Jum’atannya akan timbul kekacauan dan tidak bisa didamaikan, dan yang semisalnya. Adapun apabila Jum’atan dilaksanakan di banyak tempat (masjid) tanpa ada hajat (tuntutan) demikian, hal ini menyelisihi sunnah dan menyelisihi apa yang Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para khulafarasyidun berada di atasnya. (Lihat Fatawa Arkanil Islam hlm. 390)
Asy-Syaikh Al Albani rahimahullah menerangkan, “Suatu hal yang maklum bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam membedakan secara praktik amaliah antara Jum’at dan shalat lima waktu. Sungguh telah kuat (riwayat) bahwasanya di Madinah banyak masjid yang didirikan shalat jamaah …
Adapun Jum’atan dahulu tidaklah berbilang. Jamaah masjid-masjid yang lain semuanya mendatangi masjid Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam lalu Jum’atan di sana. Pemisahan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam secara amaliah antara shalat jamaah dan shalat Jum’at tidaklah sia-sia. Jadi, ini seharusnya dicermati. Meskipun ini bukan menjadi syarat (sahnya Jum’atan) … ,
setidaknya hal ini menunjukkan bahwa berbilangnya Jum’atan tanpa ada keperluan yang mendesak adalah menyelisihi sunnah3. Apabila seperti itu urusannya, seyogianya dicegah untuk tidak (terjadi) banyaknya Jum’atan dan bersungguh-sungguh agar Jum’atan disatukan sebisa mungkin dalam rangka mengikuti Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat setelahnya. Dengan demikian, akan terwujud secara sempurna hikmah disyariatkannya shalat Jum’at dan faedah-faedahnya.
Akan berakhir pula perpecahan yang muncul karena dijalankannya Jum’atan di setiap masjid yang besar dan masjid yang kecil, sampai-sampai sebagian masjid (yang diadakan Jum’atan) itu hampir saling menempel (sangat berdekatan). Sebuah hal yang tidak mungkin dikatakan boleh oleh orang yang mencium bau fikih yang benar. (al-Ajwibahan-Nafi’ah hlm. 47) Demikianlah beberapa hal yang berkaitan dengan shalat Jum’at yang bisa kami tampilkan. Tentu masih banyak hal yang belum bisa disebutkan di ruang yang terbatas ini. Atas segala kekurangan dan kekhilafan, kami meminta maaf. Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.
صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَالْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
————————————————————
1. Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata, “Shalat (ied) al-Adha dua rakaat, shalat Jum’at dua rakaat, shalat (ied) al-Fithri dua rakaat, dan shalat musafir dua rakaat, sempurna tanpa diringkas, melalui lisan Nabi kalian, dan telah merugi orang yang membuat kedustaan.” (Shahih Ibnu Khuzaimah no. 1425) 2. Namun, bilamana seseorang hendak melakukan shalat Jum’at di tempat tersebut, tetap diperbolehkan, sebagaimana difatwakan oleh sebagian ulama. 3. Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin menerangkan, “Tidak termasuk keperluan yang mendesak apabila imamnya seorang yang isbal (pakaiannya menutupi mata kaki) atau fasik. Sebab, para sahabat dahulu shalat dibelakang al-Hajjaj bin Yusuf. Padahal dia seorang yang sangat zalim dan melampaui batas, membunuh para ulama, dan orang-orang yang tidak bersalah. Mereka shalat dibelakangnya. Bahkan, yang benar adalah boleh jika imam itu orang fasik walaupun di selain shalat Jum’at selama kefasikannya tidak mencacati satu syarat (sahnya) shalat yang diyakininya sebagai syarat. (Apabila imam melanggarnya), ketika itulah ia tidak boleh shalat dibelakangnya. (asy-Syarhul Mumti’, 5/96)
Ditulis oleh Al-Ustadz Abdul Mu’thi, Lc
Tanya Jawab Ringkas Edisi 82

Tanya Jawab Ringkas Edisi 82

Buang Angin Terus-Menerus
Dijawab oleh al-Ustadz Muhammad as-Sarbini
Saya seorang wanita yang memiliki masalah dengan shalat. Terkadang saya harus berwudhu berkali-kali karena buang angin yang tidak bisa ditahan, apakah itu penyakit atau bukan? Saya sedih karena hal itu sering terjadi sehingga shalat tidak bisa tenang karena sering buang angin dan terkadang shalat belum selesai karena harus berkali-kali wudhu, sedangkan anak sedang menangis. Apa yang harus saya lakukan supaya shalat saya bisa khusyuk? Mohon jawaban dari ustadz. (Ummu Fulan)
Jawab :
Anda tidak perlu bersedih. Bersabarlah atas takdir Allah Subhanahu wata’ala. Hal itu adalah ujian bagi Anda yang harus dihadapi dengan kesabaran. Ada kemungkinan hal itu karena masuk angin. Cobalah atasi dengan menggunakan jaket dan kaos kaki serta ikhtiar-ikhtiar lainnya. Carilah waktu redanya buang angin itu untuk melaksanakan shalat di waktu itu. Selain itu, upayakanlah menenangkan anak Anda dengan memberinya makanan atau mainan, lalu Anda melaksanakan shalat agar dapat lebih khusyuk. Jika anak Anda menangis saat shalat, tidak mengapa mempercepat shalatnya. Sebab, pernah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengimami di masjid dan bermaksud memanjangkan shalat, tetapi mendengar suara tangis bayi di belakangnya, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mempercepat shalatnya. Wallahua ’lam.

Tidur Sebelum Zhuhur, Bangun Waktu Ashar
Ustadz, saya mau tanya. Kalau kita ketiduran melewati waktu zhuhur kemudian baru bangun waktu ashar, terus shalat yang kita lakukan bagaimana tata caranya? Apakah boleh diringkas jadi
dua rakaat dua rakaat? Terima kasih. (timxxxx@yahoo.co.id)
Jawab :
Ketika Anda terbangun, maka langsung mengqadha shalat zhuhur tersebut empat rakaat, setelah itu baru shalat Ashar empat rakaat. Tidak boleh diqashar menjadi dua rakaat dua rakaat karena qashar khusus untuk musafir.

Urutan Shalat Ketika Jamak Ta’khir
Saya mau bertanya tentang shalat yang dijamak ta’khir, seperti shalat maghrib dan isya. Urutan shalat yang dikerjakan pertama shalat apa dahulu? Kemudian masalah mandi janabah, bagaimana tata caranya menurut Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam? Terima kasih. (Nusa)
Jawab :
  1. 1.    Sesuai urutan shalat : shalat zhuhur kemudian shalat ashar; shalat maghrib kemudian shalat isya.
  2. 2.    Tata cara mandi janabah menurut tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam :
  • Berniat untuk mandi suci dalam kalbu.
  • Kemudian membaca basmalah.
  • Kemudian berwudhu dengan wudhu yang sempurna.
  • Kemudian mengguyurkan air di atas kepala dengan cidukan tangan (dan meratakannya di seluruh kulit kepala)
  • Setelah itu mengguyur kepala tiga kali; dimulai dengan mengguyur belahan kanan kepala kemudian belahan kiri, kemudian mengguyur pertengahan kepala.
  • Terakhir, mengguyur sekujur tubuh yang tersisa; dimulai dengan belahan kanan tubuh, kemudian yang kiri. Wallahu a’lam.

Menikahi Wanita yang Dizinai
Bolehkah seorang lelaki yang sudah bertobat menikahi wanita yang pernah dizinainya?
Jawab :
Boleh, dengan dua syarat :
  1. 1.    Wanita tersebut juga telah bertobat.
  2. 2.    Wanita tersebut telah menjalani istibra’ (pembebasan) rahim dari kemungkinan adanya janin hasil hubungan zina itu dengan haid satu kali (jika tidak hamil) atau melahirkan bayinya (jika hamil).
Puasa Dawud
Apa ada sunnahnya puasa Dawud dan apa pernah ada sahabat yang menjalankan puasa itu?
Jawab :
Puasa Dawud adalah puasa sunnah yang afdal (paling utama), tidak ada puasa sunnah yang lebih utama darinya. Hal ini sebagaimana bimbingan Rasululah Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada sahabat yang mulia Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma (dalam hadits yang muttafaqun ‘alaih).
 Puasa Ayyamul Bidh
Bagaimana cara puasa sunnah ayyamulbidh (tanggal13,14, dan15) tiap bulan, sedangkan kita tidak tahu kapan tanggal 1 setiap bulan hijriah. Apakah boleh bersandar kepada kalender hijriah karena kita susah ru’yatul hilal?
Jawab :
Anda dapat melihat langsung bulan yang bersinar terang diatas langit pada tanggal 13,14, dan 15 bulan qamariah. Tidak mengapa menggunakan kalender yang ada sebagai acuan untuk membantu Anda mengamati bulan yang ada di atas Anda, karena pada malam malam itu bulan terlihat sangat terang di atas langit. Anda dapat mengetahui secara langsung dengan melihat bulan tersebut, insya Allah. Wallahu a’lam.

Wali Nikah Seorang Dukun
Bismillah. Sahkah sebuah perkawinan yang akhwat tersebut walinya seorang dukun?
Jawab :
Jika walinya itu telah dinasihati dan ditegakkan hujah atasnya tentang kafirnya perdukunan yang bekerja dengan ilmu sihir (kerjasama dengan setan), mengklaim ilmu gaib, dan semacamnya, namun dia tetap menekuninya karena hawa nafsu, dia kafir. Jika demikian, tidak sah perwaliannya. Wallahu a’lam.

Mertua Tetap Mahram Meski Sudah Bercerai
  1. Setelah wanita bercerai dari suaminya, apakah mertua laki-laki tetap menjadi mahram bagi wanita tersebut?
  2. Jika suami istri cerai dan hak asuh jatuh kepada wanita, sampai usia berapa si anak berhak dinafkahi oleh ayahnya?
  3. Apakah merencanakan untuk mencerai sudah termasuk talak?
Jawab :
  1.    Ya, tetap mahram.
  2.   Seorang ayah yang punya kemampuan menafkahi berkewajiban menafkahi anaknya sampai si anak mampu menafkahi dirinya sendiri dengan penghasilannya.
  3.   Rencana mencerai tidak termasuk mencerai.
Suami Mengancam Talak
Seorang suami mengancam istrinya dengan kata-kata, “Kalau berani pulang ke rumah orang tuamu, kau bukan istriku lagi. “Apakah termasuk talak? Suami hanya ingin mengancam agar istri takut, karena istri tidak betah di tempat mertua. Mohon penjelasannya.
Jawab :
Hukumnya adalah sumpah yang dapat ditebus dengan kafarat sumpah jika dilanggar. Jadi, jika ternyata suatu saat istrinya pulang kerumah orang tuanya, si suami terkena kafarat sumpah yang dilanggar itu.

Puasa Sunnah Hari Sabtu
Bagaimana hukum melakukan puasa sunnah bertepatan dengan hari Sabtu? Sebab, saya membaca hadits riwayat Ahmad dan Abu Dawud, terdapat larangan puasa pada hari Sabtu kecuali apa-apa yang diwajibkan. Kalau jadwal puasa Dawud kami bertepatan dengan hari Sabtu, apa yang harus kami lakukan? Apakah kami melompatinya ke hari Ahad atau bagaimana? (Rahmat-Situbondo)
Jawab :
Yang rajah (kuat), boleh berpuasa sunnah pada hari Sabtu. Hadits larangan puasa sunnah pada hari Sabtu adalah hadits yang keliru dan tidak bisa dijadikan hujah. Apalagi terkait dengan puasa Dawud, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam membimbing Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma agar berpuasa Dawud; berpuasa sehari dan berbuka sehari (Muttafaq ‘alaih), tanpa mengecualikan hari Sabtu. Artinya, meskipun puasa Dawud itu bertepatan jatuhnya dengan hari Sabtu, tetap berpuasa. Masalah ini telah kami kupas tuntas dengan taufik Allah Subhanahu wata’ala  pada buku kami, Fikih Puasa Lengkap.

Halalkah Kadal?
Apakah kadal boleh dimakan?
Jawab :
Terdapat perbedaan pendapat. Yang kami pandang lebih hati-hati adalah pendapat jumhur ulama yang mengatakan haram.

Qadha Shalat Lail
  1. Bolehkah qadha shalat lail? Seseorang shalat lail beberapa rakaat. Belum sebelas rakaat, ternyata masuk waktu subuh. Dia ingin menyempurnakan menjadi sebelas rakaat, bagaimana caranya? Kapan waktu qadhanya? Apakah pakai witir?
  2. Kapan mulai waktu puasa Syawal, apakah harus berurutan?
Jawab :
  1. Yang disyariatkan diqadha apabila luput karena uzur adalah shalat witir. Seperti halnya jika ketiduran dan terlambat bangun, lalu shalat lail beberapa rakaat, tetapi ternyata waktu subuh telah tiba, yang artinya waktu shalat witir telah habis. Jika demikian, shalat witirnya diqadha di waktu dhuha ditambah satu rakaat untuk menggenapkannya sesuai jumlah rakaat shalat witir yang menjadi kebiasaan seseorang. Jika biasanya dia shalat witir tiga rakaat, diqadha dengan empat rakaat; dengan cara dua rakaat dua rakaat. Jika biasanya dia shalat witir lima rakaat, diqadha dengan enam rakaat; dengan cara dua rakaat dua rakaat. Dalilnya adalah hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwaRasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengqadha shalat witirnya yang luput karena sakit atau tertidur di waktudhuha dua belas rakaat (HR. Muslim).
  2. Mulai tanggal 2 Syawal dan tidak harus berurutan.
_______________________________________________________________________________________
Contoh Kasus Pembagian Warisan
Dijawab oleh al-Ustadz Muhammad Afifuddin
Seorang bapak meninggal dengan meninggalkan sejumlah harta. Ahli warisnya terdiri dari istri, dua anak perempuan, dua anak laki-laki, seorang saudara perempuan sekandung dan dua orang saudara laki-laki sekandung. Bagaimana pembagian harta waris tersebut? Jazakallahu khair. (+6285868xxxxxx)
Jawab :
Istri mendapatkan 1/8 karena ada anak. Saudara dan saudari gugur karena adanya anak laki-laki. Sisa harta dibagi untuk anak laki-laki dan perempuan, dengan anak laki-laki mendapatkan dua kali lipat dari bagian anak perempuan.

Bisnis Valuta Asing
Saat ini marak orang tertarik bisnis valuta asing dengan keuntungan 10% dari modal, dengan cara menyerahkan sejumlah uang kepada orang lain tanpa tahu proses pembelian valuta tersebut. Setiap bulan kita menerima 10% dari modal kita. Bagaimana hukumnya? Jazakumullah khairan. (+6281354XXXXXX)
Jawab :
Jual beli valas disyaratkan harus serah terima di tempat. Sistem online tidak boleh karena terkena riba nasiah. Adapun hakikat akad di atas adalah mudharabah. Penetapan laba dengan nominal atau persentase tertentu adalah riba karena ada unsure pertaruhan dengan spekulasi tinggi. Yang benar, laba menggunakan persentase sesuai dengan kesepakatan, tergantung untung rugi usaha yang dijalankan. Apabila rugi, investor pun harus ikut menanggungnya. Lihat masalah mudharabah di Asy-Syariah edisi 28 dan 53. Waffaqakumullah.
Bersegera Menuju Zikrullah

Bersegera Menuju Zikrullah

يَآاَيُّهَاالَّذِيْنَ ءٰمَنُوْآإِذَانُوْدِيَ لِلصَّلٰوةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا اِلٰى ذِكْرِ اللهِ وَذَرُواالْبَيْعَ ۗ ذٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ اِنْكُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ۝ فَإِذَاقُضِيَتِ الصَّلٰوةُ فَانْتَشِرُوْفِى الْأَرْضِ وَابْتَغُوْا مِنْ فَضْلِ اللهِ واذْكُرُوْا اللهَ كَثِيْرً لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ۝
“Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Hal itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila telah ditunaikan shalat, bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah dan banyak-banyak mengingat Allah supaya kamu beruntung.” (al-Jumu’ah : 9-10)

Penjelasan Beberapa Mufradat Ayat
يَوْمِ الْجُمُعَةِ
Kata “jumu’ah” dibaca oleh mayoritas ahli qira’ah dengan huruf mim yang didhammah. Abdullah bin Zubair, al-A’masy, dan yang lainnya membacanya dengan huruf mim yang disukun (الجُمْعَة). Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya ia berkata, “Al-Qur’an diturunkan dengan bacaan tatsqil (yang diberatkan) dan tafkhim (ditebalkan), maka bacalah ,الجُمُعَة (yaitu dengan mim yang didhammah).” (Tafsir al-Qurthubi, 460/20)
Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Hari Jum’at disebut Jum’at karena ia berasal dari kata jam’u, yaitu berkumpul. Sebab, kaum muslimin berkumpul pada hari itu setiap pekan sekali di tempat-tempat ibadah yang besar. Pada hari itu disempurnakan penciptaan makhluk, karena ia adalah hari keenam dari enam hari saat Allah Subhanahu wata’ala menciptakan langit dan bumi. Pada hari itu Adam ‘alaihis salam diciptakan. Pada hari itu pula ia dimasukkan ke dalam surga, serta pada hari itu dia dikeluarkan. Pada hari itu hari kiamat terjadi, dan pada hari itu terdapat waktu yang tidaklah bertepatan dengan seorang hamba mukmin yang memohon kebaikan kepada Allah Subhanahu wata’ala kecuali Allah Subhanahu wata’ala pasti mengabulkannya, sebagaimana yang telah ditetapkan dalam hadits-hadits yang sahih.” (Tafsir Ibnu Katsir, 10/558)
Tafsir Ayat
يَآاَيُّهَاالَّذِيْنَ ءٰمَنُوْآ
“Hai orang-orang yang beriman.”
Allah Subhanahu wata’ala mengarahkan firman-Nya kepada kaum mukminin, maka sepantasnya setiap muslim menyimak apa yang akan difirmankan-Nya.
Al-Qurthubi rahimahullah berkata, “Allah Subhanahu wata’ala berfirman untuk kaum mukminin secara khusus tentang hari Jum’at, tanpa menyebut orang-orang kafir, sebagai bentuk kemuliaan dan penghormatan terhadap mereka.” (Tafsir al-Qurthubi, 20/463)
Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Jika Engkau mendengar Allah Subhanahu wata’ala berfirman, ‘Hai orang-orang yang beriman’, pasanglah pendengaranmu. Sebab, padanya terkandung kebaikan yang engkau diperintahkan melakukannya atau keburukan yang engkau dilarang darinya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/255)
Panggilan untuk kaum mukminin dalam ayat ini terkhusus bagi para mukallaf yang terkena kewajiban untuk melaksanakan shalat Jum’at, berdasarkan ijma’ para ulama. (Tafsir al-Qurthubi)
Orang yang tidak terkena kewajiban, tidak termasuk dalam keumuman ayat ini. Diriwayatkan dari sahabat Thariq bin Syihab radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
الْجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فِي جَمَاعَةٍ إِ أَرْبَعَةً: عَبْدٌ مَمْلُوكٌ، أَوِامْرَأَةٌ، أَوْ صَبِيٌّ، أَوْ مَرِيضٌ
“Jum’at adalah hak yang wajib atas setiap muslim secara berjamaah, kecuali empat golongan: budak sahaya, wanita, anak kecil, atau orang sakit.” (HR. Abu Dawud no. 1067 dengan sanad yang sahih)
Demikian pula halnya dengan musafir karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan safar bersama para sahabatnya, namun tidak diriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melakukan shalat Jum’at bersama sahabatnya dalam perjalanan safar.
Bahkan, bertepatan dengan hari Jum’at di Arafah pada saat haji wada’, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengerjakan shalat zhuhur dan ashar secara jamak, namun tidak melaksanakan shalat Jum’at.
إِذَانُوْدِيَ لِلصَّلٰوةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ
“Apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum’at.”
Ayat ini menunjukkan bahwa yang dimaksud panggilan di dalam ayat ini adalah azan di hari Jum’at.
Ibnul Arabi rahimahullah berkata, “Sebutan ‘pada hari Jum’at’ memberi faedah tersebut. Sebab, panggilan azan yang khusus pada hari itu adalah panggilan untuk shalat tersebut (shalat Jum’at, -pen.). Adapun shalat lainnya bersifat umum pada seluruh hari. Kalaulah yang dimaksud oleh ayat ini bukan panggilan azan Jum’at, maka pengkhususan sebutan Jum’at dan penyandaran hari tersebut kepadanya menjadi tidak bermakna dan tidak berfaedah.” (Tafsir al-Qurthubi, 20/463)
Penyebutan “dipanggil untuk shalat” menunjukkan bahwa kewajiban Jum’at terkhusus bagi yang mendengar panggilan azan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
الْجُمُعَةُ عَلَى كُلِّ مَنْ سَمِعَ النِّدَاءَ
“Jum’at itu wajib bagi setiap yang mendengarkan panggilan azan.” (HR. Abu Dawud no. 1056, dari Abdullah bin Amr bin al-Ash radhiyallahu ‘anhuma. Hadits ini diperselisihkan tentang marfu’ atau mauquf-nya dari ucapan Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma. Namun, al-Albani menyatakan bahwa riwayat ini hasan secara marfu’ dalam Shahih Abi Dawud)
Para fuqaha berselisih tentang jarak seorang muslim yang terkena kewajiban shalat Jum’at. Ada yang berpendapat enam mil, ada pula yang berpendapat empat mil, ada lagi yang mengatakan tiga mil.
Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Ukuran seseorang mendengar azan adalah jika seorang muazin suaranya lantang, dalam kondisi hening, dan angin bertiup tenang, muazin berdiri di pagar batas kampung.” Al-Imam Ahmad dan Ishaq rahimahumallah berkata, “Wajib shalat Jum’at bagi yang mendengar panggilan azan.” (Tafsir al-Qurthubi : 20/469)
Azan yang dimaksud di dalam ayat ini adalah azan yang menunjukkan masuknya waktu shalat, bukan azan tambahan yang dilakukan oleh Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu.
Asy-Syaukani rahimahullah berkata, “Yang dimaksud azan di sini adalah azan ketika imam duduk di atas mimbar pada hari Jum’at, sebab tidak ada azan lain pada masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam selain itu.” (Fathul Qadir, asy-Syaukani, 5/301)
فَاسْعَوْا اِلٰى ذِكْرِ اللهِ
“Bersegeralah menuju zikrullah.”
Bersegera yang dimaksud di sini diterangkan oleh al-Allamah as-Sa’di rahimahullah, “Yang dimaksud as-sa’yu (bersegera) di sini adalah bersegera menuju shalat Jum’at dan menjadikannya sebagai hal yang penting dan yang paling diperhatikan, bukan melangkah dengan cepat menuju shalat yang telah dilarang.” (Taisir al-Karim ar-Rahman)
Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sangat menganjurkan umatnya untuk bersegera sedini mungkin berada di masjid pada hari Jum’at. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَنِ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ غُسْلَ الْجَنَابَةِ ثُمَّ رَاحَ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَدَنَةً، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّانِيَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَقَرَةً، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّالِثَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ كَبْشًا أَقْرَنَ، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الرَّابِعَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ دَجَاجَةً، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الْخَامِسَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَيْضَةً، فَإِذَا خَرَجَ الْإِمَامُ حَضَرَتِ الْمَ ئَالِكَةُ يَسْتَمِعُونَ الذِّكْرَ
“Barangsiapa mandi pada hari Jum’at seperti mandi junub lalu berangkat (menuju shalat Jum’at), seakan-akan dia bersedekah seekor unta. Barang siapa berangkat pada waktu yang kedua, seakan-akan dia bersedekah seekor sapi. Barangsiapa datang pada waktu yang ketiga, seakan-akan dia bersedekah seekor domba. Barang siapa datang pada waktu yang keempat, seakan-akan dia bersedekah seekor ayam. Barang siapa datang pada waktu kelima, seakan-akan dia bersedekah sebutir telur. Jika imam telah keluar, para malaikat pun hadir untuk mendengar zikir.” (HR. al-Bukhari, hlm. 841)
Adapun berjalan dengan cepat atau berlari, dilarang oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabda beliau,
إِذَا أُقِيمَتِ الصَّ ةَالُ فَ تَأْتُوهَا تَسْعَوْنَ وَأْتُوهَا تَمْشُونَ، عَلَيْكُمْ السَّكِينَةُ فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا
“Jika telah ditegakkan shalat, janganlah kalian mendatanginya dengan berlari, datangilah dengan berjalan. Hendaklah kalian menjaga ketenangan. Apa yang kalian dapatkan, shalatlah! Apa yang kalian tertinggal, sempurnakanlah!” (Muttafaq ‘alaihi dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)
Ibnu Juraij radhiyallahu ‘anhu berkata, “Aku bertanya kepada Atha’ tentang firman Allah Subhanahu wata’ala,
فَاسْعَوْا اِلٰى ذِكْرِ اللهِ
“Bersegeralah menuju zikrullah.” Beliau menjawab, “Pergi dengan berjalan.” (Riwayat Abdurrazzaq dalam Mushannaf, no. 5347)
Al-Imam Malik rahimahullah berkata, “Sesungguhnya, as-sa’yu yang disebut dalam kitabullah adalah beramal dan berbuat.” (al-Muwaththa, 1/106)
Para ulama berbeda pendapat tentang makna “zikrullah” dalam ayat ini. Ada yang berkata bahwa maknanya adalah shalat. Ada pula yang mengatakan, maknanya adalah khutbah dan nasihat, dan ini adalah pendapat Sa’id bin Jubair rahimahullah.
Ibnul ‘Arabi rahimahullah berkata, “Yang sahih, semua itu adalah wajib, dan awalnya adalah khutbah. Inilah yang menjadi pendapat para ulama kami, selain Ibnul Majisyun yang berpendapat sunnah. Dalil yang menunjukkan wajibnya; bahwa bersegera menuju zikrullah mengharamkan jual beli. Kalaulah bukan karena wajibnya, tentu jual beli tidak akan diharamkan. Sebab, sesuatu yang mustahab tidak bisa mengharamkan sesuatu yang hukumnya mubah.”(Tafsir al-Qurthubi, 20/474)
وَذَرُواالْبَيْعَ
“Tinggalkan jual beli!”
As-Sa’di rahimahullah berkata, “Tinggalkanlah jual beli jika telah dikumandangkan azan dan bersegeralah menuju shalat.” (Taisir al-Karim ar-Rahman)
Disebutkan “jual beli” pada ayat di atas karena mayoritas kesibukan orang pasar adalah berjual beli. Akan tetapi, ayat ini mencakup segala jenis kesibukan yang menghalangi seseorang menuju
zikrullah. Al-Allamah asy-Syaukani rahimahullah menerangkan, “Tinggalkan muamalah jual beli, dan segala bentuk muamalah diikutkan pula hukumnya.” (Fathul Qadir, asy-Syaukani, 5/302)
Ibnul Arabi rahimahullah berkata, “Alasan jual beli dilarang adalah karena menyibukkan (dari bersegera menuju shalat Jum’at, -pen.). Maka dari itu, setiap perkara yang menyibukkan dari pelaksanaan Jum’at, yaitu seluruh jenis akad, diharamkan secara syariat dan dibatalkan akadnya
sebagai bentuk hukuman.” (Tafsir al-Qurthubi, 20/475)
Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Oleh karena itu, para ulama sepakat tentang diharamkannya jual beli setelah dikumandangkan azan kedua.” (Tafsir Ibnu Katsir, 13/563)
Yang dimaksud azan kedua yaitu azan yang menunjukkan masuknya waktu Jum’at, yaitu saat khatib telah duduk di atas mimbar. Adapun azan pertama adalah azan yang dilakukan pada zaman Utsman radhiyallahu ‘anhu, dilakukan sebelum masuk waktunya.
Sahkah jual beli setelah Dikumandangkan Azan yang Menunjukkan Masuknya Waktu?
Terjadi perbedaan pendapat di kalangan para ulama tentang hokum sahnya jual beli saat azan Jum’at yang menunjukkan masuknya waktu telah dikumandangkan. Perbedaan ini lahir dari sebuah kaidah yang menjadi perselisihan pula dalam penerapannya, yaitu,
النَّهْيُ يَقْتَضِي الْفَسَادَ
“Larangan menunjukkan rusaknya sebuah amalan.”
Menurut penelitian, jika ada larangan dalam sebuah amalan, ada beberapa keadaan :
1. Larangan tersebut kembali kepada ibadah itu sendiri atau kepada syaratnya, maka amalan tersebut hukumnya batil dan tidak sah.
Di antara contoh masalah ini adalah larangan shalat pada waktu terlarang, shalat membelakangi kiblat, shalat dalam keadaan berhadats, shalat tanpa thuma’ninah, berpuasa pada waktu terlarang seperti hari raya, atau menikah tanpa wali. Ibadah-ibadah tersebut hukumnya batil dan tidak sah.
2. Larangan yang dilakukan tersebut tidak bersentuhan langsung dengan inti ibadah atau syarat dan rukunnya, maka ibadah yang dikerjakannya sah namun dia melakukan perbuatan dosa.
Di antara contoh hal ini adalah berwudhu menggunakan bejana emas dan perak, atau shalat memakai serban dari kain sutra, padahal memakai bejana emas dan perak serta mengenakan sutra bagi pria itu terlarang. Ibadahnya sah, namun dia melakukan perbuatan dosa.
Al-Khaththabi rahimahullah berkata, “Ini adalah mazhab ulama dari dahulu hingga sekarang.” (Lihat Syarah Qawa’id al-Manzhumah al-Fiqhiyah, karya al-Allamah as-Sa’di, hlm. 54; Syarah Qawa’id al-Manzhumah al-Fiqhiyah as-Sa’diyah, karya asy-Syaikh Sa’d asy-Syitsri, hlm. 110; Syarah al-Ushul min Ilmil Ushul, Ibnu Utsaimin, hlm. 135-136)
Ketika kaidah ini diterapkan pada hukum jual beli saat azan Jum’at yang menunjukkan masuknya waktu telah dikumandangkan, ternyata larangan ini kembali kepada inti jual beli itu sendiri. Dengan demikian, jual beli tersebut hukumnya batil dan tidak sah.
Al-Qurthubi rahimahullah menerangkan, “Yang sahih, jual beli itu rusak dan tidak sah, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, ‘Setiap amalan yang tidak berdasarkan aturan kami maka ia tertolak.’ Wallahua’lam.” (Tafsir al-Qurthubi, 20/475)
Hanya saja, dikecualikan dalam hal ini adalah jual beli yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak diwajibkan shalat Jum’at, seperti wanita dan musafir, maka hukum jual belinya sah. Al-Qurthubi rahimahullah berkata, “Orang yang tidak diwajibkan menghadiri shalat Jum’at tidak dilarang melakukan jual beli.” (Tafsir al-Qurthubi, 20/474)
Wallahu a’lam bish-shawab.
Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muawiyah Askari bin Jamal
Doa dalam Khutbah Jum’at

Doa dalam Khutbah Jum’at

وَعَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صل الله عليه وسلم كَانَ يَسْتَغْفِرُ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ كُلَّ جُمُعَةٍ
“Dari Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu,“Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa memintakan ampun bagi orang-orang mukmin, muslimin, dan muslimat setiap hari Jum’at.”
Takhrij Hadits
Hadits ini diriwayatkan al-Bazzar dalam Musnad-nya (2/307-308) Kasyful Astar. Al-Bazzar rahimahullah meriwayatkan dari Khalid bin Yusuf bin Khalid, dari bapaknya -Yusuf bin Khalid-, dari Ja’far bin Sa’d bin Samurah, dari Khubaib bin Sulaiman bin Samurah, dari ayahnya Sulaiman bin Samurah, dari Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu.
Al-Bazzar rahimahullah berkata, “Saya tidak tahu hadits ini dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam selain dengan sanad ini.” Melalui jalan Ja’far bin Sa’d bin Samurah pula ath-Thabarani rahimahullah meriwayatkan dalam al-Kabir (7/264 no. 7079) dengan lafadz,
كاَنَ النَّبِيُّ صل الله عليه وسلم يَسْتَغْفِرُ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَلِلْمُسْلِمِينَ وَلِلْمُسْلِمَاتِ كُلَّ يَوْمِ جُمُعَةٍ
“Adalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa memintakan ampunan bagi mukminin, mukminat, muslimin, dan muslimat.”
Sanad hadits Samurah radhiyallahu ‘anhu dipenuhi dengan perawi-perawi lemah.
1. Khalid bin Yusuf bin Khalid
“Dha’if (lemah),” demikian dikatakan oleh adz-Dzahabi dalam Mizanul I’tidal (2/649).
2. Yusuf bin Khalid bin ‘Umair as-Samti
Ibnu Ma’in rahimahullah dalam Tarikh ad-Duri (2/684), “Kadzdzab, zindiq la yuktabu haditsuhu (Tukang dusta, zindiq tidak boleh ditulis haditsnya).”
Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata dalam al-‘Ilal (2/101), “Kadzdzab. Khabits, ‘Aduwullahi ta’ala (Tukang dusta, busuk, musuh Allah Subhanahu wata’ala).”
Ibnu Hajar rahimahullah berkata dalam Taqrib, “Tarakuuhu, kadzdzabahu Ibnu Ma’in.” (Ulama meninggalkannya, dan Ibnu Ma’in menyatakannya sebagai pendusta)
Al-Haitsami rahimahullah dalam Majma’ (2/190) berkata, “Dalam sanad al-Bazzar terdapat seorang perawi bernama Yusuf bin Khalid as-Samti, seorang yang dha’if.”
3. Ja’far bin Sa’d bin Samurah bin Jundub al-Fazari
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah dalam at-Taqrib berkata, “Laisabil Qawiy (bukan orang yang kuat).”
4. Khubaib bin Sulaiman bin Samurah
Dia dinyatakan majhul oleh Ibnu Hajar rahimahullah dalam at-Taqrib. Adz-Dzahabi rahimahullah (al-Mizan 2/649) berkata, “Laa Yu’raf wa Qad Dhu’if (dia tidak dikenal, dan ia didhaifkan/dinyatakan lemah).”
5. Sulaiman bin Samurah bin Jundub al-Fazari
Al-Hafizh Abul Hasan al-Qaththan rahimahullah berkata, “Laa tu’raf lahul hal (Dia tidak dikenal keadaannya).” (Bayanul Wahm wal Iham, 5/138)
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah dalam at-Taqrib berkata, “Maqbul.”
Dari tinjauan sanad, kita dapatkan bahwa hadits ini sangat lemah, bahkan batil, tidak dapat dijadikan sebagai hujah.

Apakah Doa Khatib untuk Kebaikan Kaum Muslimin Sunnah dalam Khutbah?
Sering kita mendengar khatib selalu berdoa memohonkan ampun atau doa kebaikan lainnya bagi kaum mukminin dan mukminat. Sebagian khatib kita dapatkan tidak berdoa dalam khutbahnya.
Muncullah sebuah pertanyaan, apakah seorang khatib disunnahkan untuk selalu mendoakan kaum muslimin? Atau apakah doa khatib bukan sesuatu yang disyariatkan? Hadits Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu adalah dalil yang tegas, nash yang menunjukkan disyariatkannya imam mendoakan kaum mukminin, bahkan menunjukkan merutinkan doa untuk kaum mukminin pada hari Jum’at, saat berkhutbah, kalau seandainya hadits ini tidak dha’if. Namun telah kita lalui bahwa hadits Samurah sangat lemah dan tidak bisa dijadikan sandaran, sehingga butuh akan dalil lain.
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah memberikan keterangan dalam Syarhul Mumti’ ketika menjelaskan perkataan penulis Zaad al-Mustaqni’, “(Dan hendaknya khatib) mendoakan kaum muslimin.”
Syaikh berkata, “(Maksudnya) disunnahkan pula (bagi khatib) dalam khutbah mendoakan kaum muslimin, pemerintah, dan rakyatnya, (alasannya) karena waktu tersebut adalah saat yang sangat diharapkan terkabulnya doa, dan doa untuk kaum muslimin tidak diragukan adalah kebaikan. Oleh karena itu, fuqaha menganggap sunnah doa bagi kaum muslimin.”
Boleh jadi ada yang menyanggah, “Alasan bahwa waktu tersebut adalah waktu yang mustajab, dan doa bagi kaum muslimin adalah maslahat yang sangat besar, (dua alasan yang mendasari disunnahkannya doa untuk kaum muslimin ini) sudah ada di zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, namun ternyata beliau tidak melakukannya1 maka (yang semestinya dikatakan) adalah meninggalkan doa tersebut; karena seandainya perkara ini termasuk yang disyariatkan niscaya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melakukannya.
Oleh karena itu, dibutuhkan dalil khusus yang menunjukkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam selalu mendoakan kaum muslimin (dalam khutbah Jum’at). Jika dalil khusus tersebut tidak ada maka kita tidak mengatakan bahwa doa tersebut termasuk sunnah khutbah, maksimalnya kita katakana bahwa mendoakan kaum muslimin dalam khutbah adalah jaiz (boleh). Diriwayatkan dalam sebuah hadits,
أَنَّ النَّبِيَّ صل الله عليه وسلم كَانَ يَسْتَغْفِرُ لِلْمُؤْمِنِينَ فِي كُلِّ جُمُعَةٍ
“Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa mendoakan kaum mukminin setiap Jum’at.”
Seandainya hadits ini sahih maka hadits ini adalah dalil dalam masalah ini, dan kita katakan bahwa mendoakan kaum muslimin termasuk sunnah dalam khutbah. Namun, seandainya hadits ini tidak sahih, kita katakan bahwa mendoakan kaum mukminin (dalam khutbah) adalah perkara yang boleh. Hanya saja, hal ini tidak dijadikan sebagai sunnah yang selalu dilakukan, karena jika selalu dilakukan, manusia akan menyangka bahwa hal ini termasuk sunnah….(asy-Syarhul Mumti’, 5/65-66, dengan sedikit perubahan)

Dalil-Dalil Lain Disyariatkannya Doa bagi Khatib
Ulama Syafi’iyah, demikian pula fuqaha Hanabilah memandang bahwa doa khatib pada hari Jum’at untuk kebaikan kaum muslimin adalah perkara yang mustahab. Zahirnya ini pula yang dipilih Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah.
Meskipun hadits Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu dha’if, namun ada dalil lain tentang disyariatkannya doa secara umum.
Al Imam al Baihaqi rahimahullah menyebutkan hadits-hadits yang menunjukkan disyariatkannya doa bagi khatib dalam kitabnya as-Sunan al-Kubra (3/210). Beliau memberinya judul, “Bab Mayustadallubihi‘alaan yad’uwa fi khutbatihi.” Artinya, bab tentang nash-nash yang dijadikan dalil atas disyariatkannya khatib berdoa dalam khutbahnya.
Dalam bab tersebut, beliau meriwayatkan hadits Umarah bin Ru’aibah radhiyallahu ‘anhu.
عَنْ عُمَارَةَ بْنِ رُوَيْبَةَ قَالَ: رَأَى بِشْرَ بْنَ مَرْوَانَ رَافِعًا يَدَيْهِ فَقَالَ: قَبَّحَ اللهُ هَاتَيْنِ الْيَدَيْنِ، لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صل الله عليه وسلم مَا يَزِيدُ عَلَى أَنْ يَقُولَ بِيَدِهِ هَكَذَا-وَأَشَارَ بِأَصْبِعِهِ الْمَسْبَحَةَ
“Dari ‘Umarah bin Ru’aibah radhiyallahu ‘anhu, beliau melihat Bisyr bin Marwan mengangkat kedua tangannya (ketika berkhutbah) lalu beliau berkata,“Semoga Allah menjelekkan dua tangan itu, sungguh aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak lebih dari memberikan isyarat demikian,” ‘Umarah mengisyaratkan jari telunjuk.
Kemudian al-Baihaqi meriwayatkan hadits Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu beliau berkata,
مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صل الله عليه وسلم شَاهِرًا يَدَيْهِ قَطُّ يَدْعُو عَلَى مِنْبَرِهِ وَلاَ عَلَى غَيْرِهِ وَلَكِنْ رَأَيْتُهُ يَقُولُ هَكَذَا وَأَشَارَ بِالسَّبَابَةِ وَعَقَدَ الْوُسْطَى بِالْإِبْهَامِ
“Tidak pernah sama sekali aku melihat Rasululah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat kedua tangannya berdoa di atas mimbar tidak pula di atas lainnya, namun aku melihat beliau mengisyaratkan telunjuknya dan menggenggam jari tengah dan ibu jari.”
Al-Baihaqi rahimahullah berkata, “Maksud (penyebutan) dua hadits ini adalah menetapkan (disyariatkannya) doa dalam khutbah, kemudian sunnah dalam doa khutbah untuk tidak mengangkat kedua tangan, dan mencukupkan isyarat dengan telunjuk….”(Sunan al-Kubra, 3/210)
Hadits Umarah bin Ru’aibah radhiyallahu ‘anhu shahih, diriwayatkan oleh al-Imam Muslim (873), an-Nasai (3/108), Abu Dawud (no. 1104), at-Tirmidzi (no. 515), dan Ibnu Majah (no. 1103).
Hadits Sahl bin Sa’d dikeluarkan pula oleh Abu Dawud (no. 1105) dengan kelemahan dalam sanadnya, namun dikuatkan oleh hadits Umarah bin Ru’aibah radhiyallahu ‘anhu. Asy-Syaikh al-Albani dalam Irwa’ul Ghalil (3/77) menyatakan hadits Sahl sebagai hadits hasan.
Apakah Khatib Mengangkat Dua Tangan Saat Berdoa?
Tidak ada satu riwayat pun menyatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat kedua tangan beliau dalam berdoa ketika khutbah Jum’at selain saat memohon turun hujan (istisqa’) atau memohon dihentikan hujan (istisha’).
Riwayat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat kedua tangan saat memohon hujan atau mohon dihentikan hujan dalam khutbah banyak disebutkan dalam kitab-kitab hadits baik Shahihain atau lainnya.
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Paceklik (kekeringan) menimpa manusia di zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, hingga suatu saat, ketika Shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri di atas mimbar berkhutbah di hari Jum’at datang seorang Arab badui dari arah yang menghadap mimbar, dari pintu yang menghadap ke arah Darul Qadha’.2 Ketika itu beliau sedang berdiri berkhutbah.
Ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, harta benda binasa, keluarga kelaparan, kuda-kuda binasa, kambing-kambing binasa, ternak-ternak binasa, dan jalan-jalan terputus, maka berdoalah kepada Allah Subhanahu wata’ala untuk kami agar Dia menurunkan hujan’.”
(Anas radhiyallahu ‘anhu berkata), “Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat kedua tangan beliau untuk berdoa, hingga saya bisa melihat putih ketiaknya,
اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا
“Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami.”
Orang-orang pun mengangkat tangan-tangan mereka berdoa bersama beliau.”
(Tidak disebutkan bahwa beliau membalik rida’ [selendang] tidak pula disebutkan beliau berbalik menghadap kiblat) (Berkata Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu), “Demi Allah, kami sama sekali tidak melihat segumpal awan pun di langit, tidak pula pelangi, dan sungguh langit ketika itu bersih seperti kaca.”
Anas radhiyallahu ‘anhu berkata, “Lalu dari balik bukit muncul awan seperti perisai. Ketika sampai ke tengah-tengah langit, awan itu menyebar, kemudian turun hujan. Demi Dzat yang jiwaku ada di Tangan-Nya belum lagi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menurunkan kedua tangannya –saat berdoa- datanglah awan bergulung-gulung laksana gunung, dan belum lagi beliau turun dari mimbar kecuali hujan telah turun dengan lebat hingga air hujan berjatuhan dari jenggot Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.”
(Dalam satu riwayat: Maka bertiuplah angin membawa awan, lalu awan itu berkumpul, langit pun mengembangkan awan yang tidak membawa hujan. “Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam turun dari mimbar mengerjakan shalat. Lalu kami keluar sambil mencebur ke air hingga kami tiba di rumah (karena begitu lebatnya hujan) hampir-hampir seseorang tidak dapat sampai ke rumahnya.”
(Kota Madinah pun) dituruni hujan pada hari itu, esoknya, esok lusa, dan hari-hari berikutnya sampai hari Jum’at berikutnya tanpa henti. Sehingga, saluran-saluran air kota Madinah penuh air.”
Berkata Anas radhiyallahu ‘anhu selanjutnya, “Demi Allah, kami tidak melihat matahari selama enam hari.”
Pada hari Jum’at berikutnya, seorang badui yang dahulu atau badui lainnya datang ke masjid dari pintu yang sama. Ketika itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga sedang berdiri berkhutbah, dia berkata, ‘Wahai Rasulullah, rumah-rumah roboh, jalan-jalan terputus, dan binatang-binatang ternak binasa, para musafir tidak dapat bepergian, jalan-jalan terhalang, harta benda pun tenggelam, maka berdoalah kepada Allah Subhanahu wata’ala agar menahan hujan itu untuk kami.’
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pun tersenyum, kemudian mengangkat kedua tangan beliau dan berdoa,‘Ya Allah, (hujanilah) sekeliling kami, namun jangan atas kami. Ya Allah, turunkanlah hujan di atas puncak-puncak gunung dan dataran tinggi, di perut-perut lembah dan tempat-tempat tumbuhnya tumbuh-tumbuhan.’
Tidaklah beliau menunjukkan kedua tangan beliau ke suatu awan melainkan awan tersebut terbelah seperti lubang bulat yang luas, terbelah seperti terbelahnya kain.”
Anas radhiyallahu ‘anhu berkata, “Saya lihat awan menyingkir di sekitar Madinah ke kanan dan ke kiri seperti kumpulan kambing. Turunlah hujan di sekeliling kami, tetapi tidak diturunkan sedikit pun di dalam kota Madinah. Sehingga, kami dapat keluar dan berjalan di bawah sinar matahari.”
Allah Subhanahu wata’ala menampakkan kepada manusia mukjizat Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam dan mengabulkan doanya. Lembah Qanah mengalir selama sebulan. Tidak ada seorang pun dari suatu daerah kecuali ia menceritakan hujan lebat (di kota Madinah tahun itu.)3
Khatib Mengangkat Telunjuk ketika Berdoa
Dari hadits Umarah bin Ru’aibah dan Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhuma, diambil faedah bahwa khatib cukup memberikan isyarat telunjuk saat berdoa dalam khutbah Jum’at.
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin pernah ditanya tentang mengangkat dua tangan saat khatib berdoa, demikian pula mengangkat telunjuk ketika berdoa dan ketika nama Allah Subhanahu wata’ala disebut.
Jawaban beliau, “Tentang mengangkat kedua tangan saat berdoa dalam khutbah, para sahabat mengingkari Bisyr bin Marwan saat ia berkhutbah dan mengangkat kedua tangannya. Ya, telah sahih riwayat kedatangan badui saat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkhutbah, sang badui berkata, ‘Wahai Rasulullah, harta-harta musnah, jalan-jalan terputus, dan berdoalah kepada Allah Subhanahu wata’ala agar Dia menurunkan hujan.’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat kedua tangannya berdoa,
اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا
“Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami.”
Dari riwayat-riwayat ini menjadi terang bahwasanya,
1. Mengangkat kedua tangan dalam khutbah Jum’at disyariatkan ketika meminta hujan (istisqa) atau memohon dihentikan hujan (istishha’).
2. Manusia ketika itu mengangkat kedua tangan bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam saat doa istisqa’. Ini adalah dalil bahwa makmum yang mendengarkan khutbah hanya mengangkat kedua tangan dalam doa istisqa’, (dan istishha’).
3. Jika khatib berdoa dengan doa selain istisqa maka khatib tidak mengangkat kedua tangan, demikian pula makmum tidak mengangkat kedua tangan mereka.4
Tentang mengangkat telunjuk ketika berdoa, amalan ini dilakukan dalam duduk tasyahhud,… mengisyaratkan telunjuk juga datang dalilnya dalam khutbah Jum’at atau saat beliau berdoa, selain doa istisqa’. Adapun apa yang dilakukan keumuman manusia yang mereka mengisyaratkan telunjuk setiap kali imam menyebut nama Allah Subhanahu wata’ala dengan maksud mengagungkan Allah Subhanahu wata’ala, maka saya tidak tahu ada dalil dalam masalah ini.”5
Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Doa imam saat sesudah naiknya (ke mimbar) tidak ada asalnya (yakni dalilnya), dan dibenci imam mengangkat kedua tangannya saat berdoa dalam khutbah dan ini pendapat yang paling sahih dari dua pendapat Hanabilah, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam hanya mengisyaratkan telunjuknya ketika berdoa, adapun dalam istisqa maka beliau mengangkat kedua tangannya, ketika beliau meminta hujan di atas mimbar.”6
Wallahu ta’ala a’lam
Ditulis oleh : Al-Ustadz Abu Isma’il Muhammad Rijal
————————————————
1. Yakni tidak ada dalil sahih yang tegas bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa dalam khutbah.
2. Darul Qadha’ adalah rumah Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Dinamai Darul Qadha’ karena rumah ini dijual untuk membayar utangUmar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu, dan al-qadha’ sendiri bermakna menunaikan atau membayar.
3. Kisah istisqa’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam shalat Jum’at diriwayatkan banyak ahlul hadits dalam kitab-kitab mereka dengan lafadz yang beragam, dan apa yang kita sebutkan dalam tulisan ini diambil dari Muhtashar Shahih al-Bukhari (1/282—284) karya asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, beliau mengumpulkan lafadz-lafadz yang berserakan dalam satu kisah.
4. Karena tidak ada dalil yang menunjukkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat kedua tangannya dalam khutbah Jum’at selain doa istisqa. Tidak adanya penukilan sahabat padahal shalat Jum’at terjadi berulang-ulang dihadapan seluruh sahabat demikian pula factor pendorong untuk menukilkan berita yang semacam ini sangat kuat, menunjukkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mengangkat kedua tangan beliau dalam shalat Jum’at melainkan dalam istisqa dan istishha’. Demikian pula pengingkaran sahabat terhadap Bisyr bin Marwan dalam riwayat Muslim menguatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memang tidak mengangkat kedua tangan, wallahu ta’ala a’lam.
5. Majmu’ Fatawa wa Rasail (16/67).
6. Ikhtiyarat Fiqhiyyah.
Tathayur, Praktik Syirik Masa Jahiliah

Tathayur, Praktik Syirik Masa Jahiliah

Setiap perilaku yang dinisbahkan kepada masa jahiliah adalah tercela, demikian disebutkan oleh asy-Syaikh Shalih al-Fauzan dan lainnya. Namun, sangat disayangkan masih banyak kaum muslimin yang memiliki keyakinan seperti orang-orang di masa jahiliah.
Di antara sekian perilaku jahiliah yang banyak kaum muslimin terjatuh ke dalamnya adalah tathayur; beranggapan sial dengan yang dilihat, didengar, atau lainnya; disebutjuga thiyarah. Tathayur adalah perbuatan orang musyirikin jahiliah, perbuatan orang-orang yang mengingkari para rasul Allah Subhanahu wata’ala.
Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
فَاِذَاجَآءَتْهُمُ الْحَسَنَةُ قَالُوا لَنَاهٰاذِهِ ۚ وَاِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَطَّيَّرُوا بِمُوْسٰى وَمَنْ مَعَهُ ۗ اَلَآ اِنَّماَ طَآ ئِرُهُمْ عِنْدَ اللهِ وَلٰكِنَّ اَكْثَرُهُمْ لَايَعْلَمُوْنَ۝
Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata, “Itu adalah karena (usaha) kami.” Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang bersamanya. Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (al-A’raf: 131)
Makna ayat di atas, ketika Fir’aun dan pengikutnya mendapatkan kebaikan berupa kesuburan, kelapangan, dan kesehatan mereka berkata, “Kami memang pantas dan berhak mendapatkannya.” Namun, ketika mendapatkan musibah berupa bencana atau kemarau, mereka pun bertathayur dengan Musa dan pengikutnya. Mereka berkata, “Ini adalah karena kesialan Musa dan pengikutnya, kita tertimpa kesialan mereka.” Maka Allah Subhanahu wata’ala berfirman, “Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah.”
Yakni, datangnya kesialan datang dari Allah Subhanahu wata’ala karena sebab kekufuran mereka dan perbuatan mereka mendustakan ayat-ayat Allah Subhanahu wata’ala dan para rasul-Nya. Tathayur adalah simbol musyrikin dan perilaku jahiliah. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
قَالُوْآ اِنَّا تَطَيَّرْنَا بِكُمْ ۚ لَئِنْ لَمْ تَنْتَهُوا لَنَرْجُمَنَّكُمْ  وَلَيَمَسَّنَّكُمْ مِنَّا  عَذَابٌ اَلِيْمٌ۝ قَالُوْا طَآئِرُكُمْ مَعَكُمْ ۗ اَئِنْذُكِّرْتُمْ ۗ بَلْ اَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُوْنَ۝
Mereka menjawab,“Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami.” Utusan-utusan itu berkata, “Kemalangan kamu adalah karena kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu bernasib malang)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampui batas.” (Yasin: 18-19)
Makna ayat di atas, bagian kalian dan apa yang menimpa kalian berupa kejelekan adalah karena sebab perbuatan dan kekufuran kalian serta karena kalian menyelisihi para pemberi nasihat. Bukan karena kami ataupun sebab kami, melainkan semata karena perbuatan kalian yang zalim dan melampaui batas. Kesialan orang zalim ada pada dirinya sendiri. Kejelekan yang menimpanya adalah dia sendiri yang menyebabkannya dan tentunya terjadi dengan takdir Allah Subhanahu wata’ala.
Makna Tathayur
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Utsaimin rahimahullah berkata, “Tathayur adalah beranggapan sial dengan sesuatu yang terlihat, terdengar, atau sesuatu yang telah maklum. Yang terlihat seperti terbangnya burung, yang terdengar seperti suara burung dan sejenisnya, serta yang maklum yakni sesuatu yang tidak terdengar dan tidak terlihat, seperti beranggapan sial dengan hari tertentu, dengan bulan tertentu, dan lainnya.”
Seorang yang bertathayur telah menyelisihi perkara tauhid dari dua sisi,
  1. Dia memutuskan hawa nafsu tawakalnya kepada Allah Subhanahu wata’ala dan bersandar kepada sesuatu selain-Nya.
  2. Menggantungkan hati kepada sesuatu yang tidak ada hakikatnya. (diringkas dari al-Qaulul Mufid Syarah Kitab at-Tauhid)
Asy-Syaikh Abdurahman bin Hasan berkata, “… Tiyarah (tathayur) adalah syirik karena terkandung perbuatan menggantungkan hati kepada selain Allah Subhanahu wata’ala.” (Fathul Majid)
Dalil Haramnya Tathayur
Banyak dalil yang menunjukkan haramnya tathayur, bahkan tathayur adalah satu macam kesyirikan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata,
الطِّيَرَةُ شِرْكٌ، الطِّيَرَةُ شِرْكٌ، ثلاَثًا
“Tiyarah adalah syirik, tiyarah adalah syirik (beliau ucapkan tiga kali)….” (HR. Abu Dawud no. 3910, dinyatakan shahih oleh asy-Syaikh Albani)
Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,
لاَعَدْوَى، وَلاَ طِيَرَةَ، وَلاَ هَامَةَ، وَلاَ صَفَرَ.
“Tidak ada penyakit menular, tidak ada tiyarah, hamah, dan tidak ada pula (bulan) Shafar.1” (HR. al-Bukhari no. 5757)
Asy-Syaikh Abdurahman bin Hasan menerangkan, hadits ini jelas menunjukkan haramnya tiyarah, dan tiyarah adalah syirik karena terdapat perbuatan menggantungkan hati kepada selain Allah Subhanahu wata’ala.
Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah juga berkata, “Tathayur menjadi syirik besar jika seorang yang bertathayur meyakini perkara yang dia jadikan sarana tathayur bisa berbuat dan melakukan kejelekan dengan sendirinya. Jika dia meyakini sebagainya sebab saja, hukumnya adalah syirik kecil.”
Bentuk-Bentuk Tathayur, Kesyirikan yang Dianggap Biasa
Kalau kita mau mengumpulkan bentuk-bentuk tathayur yang dilakukan masyarakat, niscaya akan kita dapatkan banyak sekali bentuk tathayur yang mereka lakukan dengan berbagai macam objeknya. Lebih sangat disayangkan, banyak orang menganggap hal tersebut sebagai perkara biasa. Mereka tidak paham bahwa perkara tathayur merusak tauhid seorang muslim.
Dalam tulisan ini akan disebutkan secara global sebagian bentuk tathayur yang ada di masyarakat kita. Mudah-mudahan menjadi nasihat bagi kaum muslimin untuk menjauhi tathayur dan mengingatkan orang lain yang masih sering melakukannya.
Di antara bentuk tathayur yang menyebar di masyarakat kita :
1. Bertathayur dengan melihat arah terbangnya burung
Ini adalah asal mula tathayur; beranggapan sial dengan burung. Jika melihat burung terbang ke kanan misalnya, mereka melakukan apa yang telah diniatkan sebelumnya. Namun, jika melihat burung ke arah kiri, mereka mengurungkan niat beraktivitas, bepergian, atau lainnya.
2. Bertathayur dengan hari tertentu
Di antaranya adalah keyakinan sebagian orang bahwa malam Jum’at adalah malam yang keramat, yang pada hari itu banyak terjadi musibah. Di sebagian daerah, orang tidak mau bekerja di hari Senin. Masuk ke dalam poin ini, perbuatan sebagian orang yang menganggap sial kalau anaknya lahir di tanggal dua puluh satu.
3. Bertathayur dengan bulan tertentu
Seperti keyakinan jahiliah yang meyakini Shafar sebagai bulan sial dan Syawal adalah bulan sial bagi yang menikah di bulan tersebut. Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menikahi Aisyah radhiyallahu ‘anha di bulan Syawal dan Aisyah radhiyallahu ‘anha bebangga-bangga dengan itu kepada istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang lain.
Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam al-Bidayah wan Nihayah, “Bersandingnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan Aisyah radhiyallahu ‘anha di bulan Syawal adalah bantahan bagi sebagian orang yang tidak menyenanginya dengan sangkaan khawatir adanya perceraian di antara keduanya.”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berkata,
لاَعَدْوَى، وَلاَ طِيَرَةَ، وَلاَ هَامَةَ، وَلاَ صَفَرَ.
“Tidak ada penyakit menular, tidak ada tiyarah, tidak ada keyakinan kepada burung hantu, dan tidak ada keyakinan tentang sialnya(bulan) Shafar.”
Sebagian ulama berpendapat bahwa yang dimaksud adalah beranggapan sial di bulan tersebut. Ibnu Rajab rahimahullah berkata bahwa beranggapan sial dengan bulan Shafar termasuk tiyarah yang dilarang, demikian juga beranggapan sial dengan hari tertentu seperti hari Rabu dan anggapan sial ala jahiliah jika menikah di bulan Syawal. Semisal dengan ini di masyarakat kita adalah tiyarah dengan bulan Sura (Muharram) sehingga sebagian orang tidak mau melakukan acara pernikahan di bulan tersebut.
4. Bertathayur dengan angka tertentu
Sebagian mereka beranggapan sial dengan angka tertentu. Kelompok yang paling terkenal kedunguannya dalam masalah angka adalah Syiah Rafidhah, karena mereka antipati terhadap angka sepuluh. Mengapa? Karena akidah mereka yang sesat membenci bahkan mengkafirkan sepuluh orang sahabat yang dipastikan masuk surga (termasuk Ali).
Masuk ke dalam poin ini adalah perbuatan sebagian orang yang menganggap adanya nomer-nomer keberuntungan, seperti angka delapan, atau nomer-nomer sial, seperti angka tiga belas. Mereka rela mengeluarkan sejumlah uang untuk membeli nomer-nomer telepon atau memesan pelat nomer kendaraan yang mengandung hoki (keberuntungan) menurut mereka, angka delapan misalnya.
5. Bertathayur dengan ayat al-Qur’an
Sebagian orang bahkan beranggapan sial dengan al-Qur’an. Mereka membuka mushaf, jika yang terbuka ayat tentang azab mereka pun beranggapan sial.
6. Bertathayur dengan burung hantu
Di antara bentuk tiyarah jahiliah adalah beranggapan sial dengan burung malam atau kadang disebut burung hantu. Sebagian orang berkeyakinan kalau rumahnya didatangi burung tersebut, ada salah seorang dari penghuninya yang akan wafat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata,
لاَعَدْوَى، وَلاَ طِيَرَةَ، وَلاَ هَامَةَ
Tidak ada penyakit menular, tidak ada tiyarah, dan tidak ada keyakinan kepada burung hantu….”
Asy-Syaikh Abdurrahman Alu asy-Syaikh berkata, “Al-Farra’ berkata, ‘Al Hamah adalah salah satu burung malam’.”
Ibnul Arabi rahimahullah berkata, “Mereka dahulu turut beranggapan jika ada burung hinggap di rumah salah seorang dari mereka, ia akan berkata, ‘Burung ini membawa kabar duka untukku atau kepada salah seorang penghuni rumah’.”
Demikian yang terjadi di masyarakat Arab. Bisa jadi, setiap masyarakat memiliki anggapan demikian terhadap jenis burung yang lain.
7. Bertathayur dengan gatal yang ada di tubuhnya
Kalau gatal di telapak tangan kanan, itu tanda kebaikan; kalau yang gatal yang kiri berarti tanda kejelekan.
8. Diantara bentuk tathayur yang ada, mereka tidak jadi bepergian karena ketika hendak pergi ada gelas atau piring yang pecah atau melihat hewan tertentu
9. Bertathayur dengan suara gemuruh di telinga
Ketika di telinganya ada suara-suara gemuruh dianggap sebagai tanda kejelekan.
10. Bertathayur ketika bertemu dengan orang buta atau cacat lainnya
11. Bertathayur dengan tempat tertentu
Di antara perkara yang dijadikan bahan tathayur adalah tempat, ketika banyak kecelakaan di satu tempat misalnya, mereka menganggap sebagai tempat “angker” yang memiliki pengaruh dalam kecelakaan-kecelakaan yang ada.
12. Sebagian pedagang melakukan tathayur dengan minta uang pas dari pembeli pertama Sebagian mereka beranggapan kalau dalam penjualan pertama (penglaris) mengeluarkan uang kembalian maka akan merusak jualannya di hari tersebut.
13. Bertathayur dengan beberapa aktivitas
Di antaranya tathayur dengan menyapu rumah ketika dirinya sedang safar atau (pergi ke) salah satu keluarganya. Mereka menyangka bahwa itu adalah sebab kebinasaannya.
Demikian juga mereka bertathayur dengan menyapu rumah di waktu siang atau malam karena mereka menyangka itu adalah sebab dihilangkan berkah dan rezeki.
Terapi Tathayur
Jika kita telah tahu bahwa tathayur adalah perbuatan syirik, seorang muslim harus berusaha menjauhkan dirinya dari tathayur. Di antara usaha yang bisa dia lakukan adalah:
1. Memahami bahaya tiyarah
Tiyarah menunjukkan kurangnya akal, rusaknya pandangan, dan penyimpangan dari jalan yang lurus karena tiyarah adalah kesyirikan, satu di antara sekian maker setan yang tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan sebuah kejadian.
2. Mujahadah
Maknanya bersungguh-sungguh dalam usaha menghilangkan tiyarah yang ada dalam jiwanya terus melawannya hingga hilang tiyarah secara total.
3. Mengimani qadha dan qadar
Ia yakin bahwa apa yang akan menimpanya pasti akan mengenainya dan sesuatu yang tak ditakdirkan mengenainya tak akan pernah menimpanya.
4. Berbaiksang kakepada Allah Subhanahu wata’ala Ia yakin bahwa Allah Subhanahu wata’ala menetapkan sesuatu dengan penuh keadilan, rahmat, dan hikmah-Nya.
5. Melanjutkan niatan yang ada di hatinya, tidak menoleh sedikit pun
6. Berdoadengan doa-doa yang syar’i
7. Tawakal kepada Allah Subhanahu wata’ala
Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan menyatakan ini adalah perkara pokok dalam menghilangkan tathayur. Kemudian dia hendaknya melanjutkan amalan atau kegiatan yang hendak ia lakukan kemudian yang ketiga dia berdoa dengan doa-doa yang disyariatkan. (Lihat I’anatul Mustafid)
8. Minta perlindungan kepada Allah Subhanahu wata’ala, karena tiyarah termasuk bisikan setan
وَاِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْبِا اللهِ ۖ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ۝
“Jika setan mengganggumu dengan suatu gangguan, mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Fushilat: 36)
Penutup
Mudah-mudahan sedikit tulisan ini bisa menjadi pencerahan bagi orang-orang yang terkadang masih terjatuh pada tathayur dan juga bermanfaat sebagai bahan nasihat bagi kaum muslimin.
Ditulis oleh  Al-Ustadz Abdurrahman Mubarak
—————————————————————
  1. “Tidak ada penyakit menular”, maksudnya yang menular dengan sendirinya tanpa kehendak Allah. “Hamah” maksudnya anggapan sial dengan burung hantu. Adapun “tidak ada bulan Shafar” maksudnya anggapan sial dengan bulan Shafar. (-ed.)
Mengagungkan Masjid dan Hari Jum’at Dengan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam “

Mengagungkan Masjid dan Hari Jum’at Dengan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam “

Takwa adalah sumber seluruh kebaikan sehingga orang-orang yang bertakwa adalah orang-orang
yang menyibukkan dirinya dengan berbagai kebaikan, baik terkait dengan dirinya maupun orang lain. Termasuk kebaikan yang muncul dari ketakwaan adalah amalan yang mengagungkan syiar-syiar Allah Subhanahu wata’ala, sebagaimana firman-Nya,
ذَالِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَآءِرَ اللهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوْبِ۝
“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (al-Hajj: 32)
Yang perlu diperhatikan, mengagungkan syiar-syiar Islam harus dengan ikhlas dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebab, amalan-amalan ini termasuk ibadah yang agung, yang tidak akan diterima oleh Allah Subhanahu wata’ala selain dengan dua syarat tersebut. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
وَمَآ اُمِرُوْآ اِلَّا لِيَعْبُدُ اللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ حُنَفَاءَ
“Padahal mereka tidak disuruh selain untuk menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus.” (al-Bayyinah: 5)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَنْ عَمِلَ عَمَ لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Barang siapa melakukan sebuah amalan yang tidak ada perintah dari kami padanya, amalan itu tertolak.” (HR. Muslim)
Mengagungkan syiar-syiar Allah Subhanahu wata’ala bukan dengan cara-cara yang mengandung syirik, bid’ah, dan mungkar, seperti yang dilakukan oleh ahlul bid’ah dan mayoritas orang-orang jahil. Mereka ingin mengagungkan syiar-syiar Islam, namun dengan cara-cara yang mungkar. Na’udzubillah min dzalik. Allah Subhanahu wata’ala dengan keadilan dan hikmah-Nya yang sempurna menjadikan masjid-masjid dan hari Jumat sebagai bagian dari syiar-syiar yang mulia. Masjid adalah markas dakwah dan ibadah, sedangkan hari Jumat adalah hari raya kaum muslimin setiap pekan, dengan berbagai ibadah dan keutamaan-keutamaan yang khusus. Allah Subhanahu wata’ala mengabarkan kemuliaan masjid di dalam kitab-Nya,
فِى بُيُوْتٍ اَذِنَ اللهُ اَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيْهَا السْمُهُ ۙ يُسَبِّحُ لَهُ فِيْهَا بِالْغُدُوِّ وَالْاٰصَالِ۝ رِجَالٌ لَاتُلْهِيْهِمْ تِجَا رَةٌ بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللهِ وَاِقَامِ الصَّلٰوْةِ وَاِتَآءِ الزَّكٰوةِ ۙ يَخَافُوْنَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيْهِ الْقُلُوْبُ وَالْاَبْصَارُ۝
“Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang, laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jualbeli dari mengingat Allah, dan (dari) mendirikan shalat, dan(dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi guncang.” (an-Nur : 36-37)
Allah Subhanahu wata’ala juga berfirman,
مَاكَانَ لِلْمُشْرِكِيْنَ اَنْ يَعْمُرُوْا مَسَاجِدَاللهِ شَاهِدِيْنَ عَلٰى اَنْفُسِهِمْ بِالْكُفْرِ ۗ اُوْلٰئِكَ حَبِطَتْ اَعْمَالُهُمْ ۚ وَفِى النَّارِ هُمْ خَالِدُوْنَ۝اِنَّمَا يَعْمُرُمَسَاجِدَاللهِ مَنْ اٰمَنَ بِااللهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَاَقامَ الصَّلَاةَ وَاٰتى الزَّكٰوةَ وَلَمْ يَخْشَ اِلَّا اللهَ ۗ فَعَسٰى اُولٰئِكَ اَنْ يَكُوْنُوْا مِنَ الْمُهْتَدِيْنَ۝
“Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan masjid-masjid Allah, sedangkan mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya, dan mereka kekal di dalam neraka. Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (at-Taubah: 17-18)
Allah Subhanahu wata’ala juga berfirman tentang ibadah yang khusus pada hari Jumat,
يَآاَيُّهَاالَّذِيْنَ ءٰمَنُوْآإِذَانُوْدِيَ لِلصَّلٰوةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا اِلٰى ذِكْرِ اللهِ وَذَرُواالْبَيْعَ ۗ ذٰالِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ اِنْكُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ۝
“Hai orang-orang yang beriman, apabila diseur untuk menunaikan shalat pada hari Jumat, bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Hal itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”( al-Jumu’ah : 9 )
Adapun salah satu dalil yang menunjukkan bahwa hari Jumat adalah hari raya pekanan kaum muslimin adalah hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
أَضَلَّ اللهُ عَنِ الْجُمُعَةِ مَنْ كَانَ قَبْلَنَا، فَكَانَ لِلْيَهُودِ يَوْمُ السَّبْتِ ، وَكَانَ لِلنَّصَارَ ى يَوْمُ الْأَحَدِ، فَجَاءَ اللهُ بِنَا فَهَدَانَا اللهُ لِيَوْمِ الْجُمُعَةِ
“Allah Subhanahu wata’ala menjadikan umat-umat sebelum kita tidak mengetahui keutamaan hari Jumat. Orang-orang Yahudi menjadikan hari raya pekanan pada hari Sabtu, sedangkan orang-orang Nasrani mendapatkan hari raya pekanan pada hari Ahad. Kemudian Allah menunjuki kita untuk memilih hari Jumat (sebagai hari raya pekanan).” (HR. Muslim)
Kami akan menjelaskan beberapa hal terkait dengan tata cara mengagungkan masjid dan hari Jumat sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.
1. Mengagungkan dan memakmurkan masjid dengan membersihkannya dari berbagai kotoran dan hal-hal yang berbau tidak sedap, memberi pengharum ruangan setiap hari, terkhusus hari Jumat
a. Disunnahkan menyapu dan membersihkan masjid dari benda-benda najis dan menjijikkan, seperti kencing, kotoran manusia, ludah, ingus, dahak, dan lain-lain. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh beberapa hadits berikut.
• Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,
أَنَّ امْرَأَةً سَوْدَاءَ كَانَتْ تَقُمُّ الْمَسْجِدَ أَوْ شَابًّا فَفَقَدَهَا رَسُولُ اللهِ صل الله عليه وسلم فَسَأَلَ عَنْهَا أَوْ عَنْهُ فَقَالُوا: مَاتَ. قَالَ: أَفَ كُنْتُمْ آذَنْتُمُونِي؟ قَالَ: فَكَأَنَّهُمْ صَغَّرُوا أَمْرَهَا أَوْ أَمْرَهُ. فَقَالَ: دُلُّونِي عَلَى قَبْرِهِ. فَدَلُّوهُ فَصَلَّى عَلَيْهَا ثُمَّ قَالَ: إِنَّ هَذِهِ الْقُبُورَ مَمْلُوءَةٌ ظُلْمَةً عَلَى أَهْلِهَا وَإِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يُنَوِّرُهَا لَهُمْ بِصَ تَالِي عَلَيْهِمْ
“Seorang wanita hitam -atau seorang pemuda- yang biasa membersihkan (menyapu) masjid meninggal. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam merasa kehilangan sehingga bertanya tentangnya. Mereka menjawab, “Dia sudah meninggal.” Beliau berkata,“Mengapa kalian tidak memberitahukannya kepadaku?” Seakan-akan mereka menganggap kecil urusannya. Beliau berkata, “Tunjukkanlah kuburannya kepadaku!” Merekapun menunjukkan kuburannya lantas beliau menshalatkannya. Lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya kuburan-kuburan ini telah dipenuhi oleh kegelapan bagi para penghuninya, dan sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala meneranginya dengan sebab shalatku (ini) atas mereka.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Asy-Syaikh bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Termasuk faedah hadits ini adalah bolehnya seorang wanita mengurusi kebersihan masjid dan hal ini tidak terbatas bagi kaum laki-laki saja. Bahkan, siapa saja yang mengharapkan pahala dengan membersihkan masjid, dia akan mendapatkannya. Sama saja, wanita itu sendiri yang membersihkannya atau dia menyuruh orang lain dan dia membayar upahnya.” (Syarh Riyadhus Shalihin, 2/29)
• Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha,
أَنَّ رَسُولَ اللهِ صل الله عليه وسلم رَأَى فِي جِدَارِ الْقِبْلَةِ مُخَاطًا أَوْ بُصَاقًا أَوْ نُخَامَةً فَحَكَّهُ
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melihat ingus, ludah, atau dahak menempel ditembok masjid sebelah kiblat, maka beliau mengeriknya (membersihkannya).” (Muttafaqun ‘alaih)
• Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
الْبُزَاقُ فِي الْمَسْجِدِ خَطِيئَةٌ وَكَفَّارَتُهَا دَفْنُهَا
“Meludah di masjid adalah sebuah kesalahan dan penghapusnya adalah menimbunnya (membersihkannya).” (Muttafaqun alaih)
• Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
نَّ هَذِهِ الْمَسَاجِدَ تَصْلُحُ لِشَيْءٍ مِنْ هَذَا الْبَوْلِ وَ الْقَذَرِ، إِنَّمَا هِيَ لِذِكْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالصَّ ةَالِ وَقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ
“Sesungguhnya, masjid ini tidak dibenarkan padanya air kencing dan kotoran, tetapi masjid-masjid itu hanyalah untuk dzikrullah, shalat, dan membaca al-Qur’an.” (HR. Muslim)
b. Disunnahkan memberi wangi-wangian atau pengharum ruangan
Al-‘Allamah Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Disunnahkan member pengharum di dalam masjid karena Sa’id bin Manshur menyebutkan dari Nu’aim bin Abdillah al-Mujmir bahwa ‘Umar bin al-Khaththab menyuruh memberi pengharum masjid setiap hari Jumat ketika masuk siang hari.” (Zadul Ma’ad, 1/382)
2. Adab-adab sebelum dan ketika berangkat ke masjid
a. Mandi, bersiwak (menggosok gigi), dan memakai minyak wangi
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
الْغُسْلُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُحْتَلِمٍ وَأَنْ يَسْتَنَّ وَأَنْ يَمَسَّ طِيبًا إِنْ وَجَدَ
“Mandi pada hari Jum’at hukumnya wajib bagi tiap orang yang sudah baligh, bersiwak (menggosok gigi), dan memakai minyak wangi apabila dia mendapatkannya.”
Oleh karena itulah, seorang yang hendak pergi ke masjid tidak boleh memakan dan meminum segala sesuatu yang berbau tidak sedap karena akan mengganggu orang lain, seperti bawang putih, bawang merah, daun bawang, dan lebih-lebih rokok. Sebab, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَنْ أَكَلَ ثُومًا أَوْ بَصَ فَلْيَعْتَزِلْنَا-أَوْ قَالَ:فَلْيَعْتَزِلْ مَسْجِدَنَا
“Barangsiapa yang makan bawang putih atau bawang merah, hendaknya dia menjauhi kami atau menjauhi masjid kami.” (Muttafaqun alaih)
Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu pernah berkhutbah pada hari Jumat dan berkata di dalam khutbahnya,
ثُمَّ إِنَّكُمْ أَيُّهَا النَّاسُ تَأْكُلُونَ شَجَرَتَيْنِ أَرَاهُمَا إِ خَبِيثَتَيْنِ هَذَا الْبَصَلَ وَالثُّومَ لَقَدْأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صل الله عليه وسلم إِذَا وَجَدَ رِيحَهُمَا مِنَ الرَّجُلِ فِي الْمَسْجِدِ أَمَرَ بِهِ فَأُخْرِجَ إِلَى الْبَقِيعِ فَمَنْ أَكَلَهُمَا فَلْيُمِتْهُمَا طَبْخًا
“Selanjutnya, kalian, wahai manusia, sungguh telah memakan dua buah tanaman yang tidaklah tampak olehku selain busuk (baunya), yaitu bawang merah dan bawang putih. Sungguh, aku melihat ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mendapati bau busuk keduanya dari seseorang di dalam masjid maka beliau memerintahkan agar orang itu dikeluarkan dari masjid hingga ke Baqi’. Oleh karena itu, barangsiapa ingin memakan keduanya, hendaknya ia menghilangkan bau busuknya dengan memasaknya terlebih dahulu.” (HR. Muslim)
Adapun seorang muslimah yang ingin menghadiri shalat Jumat atau shalat berjamaah bersama kaum muslimin, tidak boleh memakai minyak wangi yang menyebabkan orang lain mencium bau wangi darinya sehingga akan menimbulkan godaan. Sebab, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
إِذَا شَهِدَتْ إِحْدَاكُنَّ الْمَسْجِدَ فَ تَمَسَّ طِيبًا
“Apabila salah seorang diantara kalian para wanita ikut shalat berjamaah di masjid, janganlah memakai minyak wangi.” (HR. Muslim dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengancam seorang wanita yang memakai wangi lalu melewati kaum laki-laki agar mereka mencium bau wanginya dalam sabdanya,
إِذَا اسْتَعْطَرَتْ الْمَرْأَةُ فَمَرَّتْ عَلَى الْقَوْمِ لِيَجِدُوا رِيحَهَا فَهِيَ زَانِيَةٌ
“Apabila seorang wanita memakai minyak wangi lalu dia melewati kaum laki-laki agar mereka mencium bau wanginya, dia adalah seorang pezina.” (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan an-Nasai)
b. Dianjurkan memakai pakaian bersih yang bagus dan syar’i yang dimilikinya
Abu Ayyub al-Anshari radhiyallahu ‘anhu pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَنِ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَمَسَّ مِنْ طِيبٍ إِنْ كَانَ عِنْدَهُ وَلَبِسَ مِنْ أَحْسَنِ ثِيَابِهِ ثُمَّ خَرَجَ حَتَّى يَأْتِيَ الْمَسْجِدَ فَيَرْكَعَ إِنْ بَدَا لَهُ وَلَمْ يُؤْذِ أَحَدًا ثُمَّ أَنْصَتَ إِذَا خَرَجَ إِمَامُهُ حَتَّى يُصَلِّيَ كَانَتْ كَفَّارَةً لِمَا بَيْنَهَا وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ الْأُخْرَى
“Barangsiapa mandi pada hari Jumat, memakai minyak wangi (apabila dia memilikinya), memakai pakaian (syar’i) yang paling bagus, kemudian keluar menuju ke masjid, lantas dia shalat dan tidak mengganggu orang lain, kemudian diam (mendengar khutbah) apabila imam berkhutbah sampai dia shalat, hal-hal itu menjadi penghapus dosa-dosanya antara Jumat tersebut dan Jumat berikutnya.” (HR. Ahmad, dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh al-Albani)
c. Berdoa ketika keluar dari rumah menuju masjid
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam keluar (dari rumahnya) untuk shalat dan berdoa,
اللَّهُمَّ اجْعَلْ فِي قَلْبِي نُورًا، وَفِي لِسَانِي نُورًا، وَاجْعَلْ فِي سَمْعِي نُورًا، وَاجْعَلْ فِي بَصَرِي نُورًا، وَاجْعَلْ مِنْ خَلْفِي نُورًا، وَمِنْ أَمَامِي نُورًا ، وَاجْعَلْ مِنْ فَوْقِي نُورًا ، وَمِنْ تَحْتِي نُورًا، اللَّهُمَّ أَعْطِنِي نُورًا
“Ya Allah, jadikanlah cahaya di dalam hatiku, jadikanlah cahaya di lisanku, jadikanlah cahaya dibelakangku, jadikanlah cahaya di depanku, jadikanlah cahaya dari atasku, dan jadikanlah cahaya dari bawahku. Ya Allah, berilah aku cahaya.” (HR. Muslim)
d. Berpagi-pagi berangkat, lebih baik dengan berjalan kaki dan tenang
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَنِ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ غُسْلَ الْجَنَابَةِ ثُمَّ رَاحَ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَدَنَةً، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّانِيَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَقَرَةً، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّالِثَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ كَبْشًا أَقْرَنَ، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الرَّابِعَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ دَجَاجَةً، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الْخَامِسَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَيْضَةً، فَإِذَا خَرَجَ الْإِمَامُ حَضَرَتِ الْمَ ئَالِكَةُ يَسْتَمِعُونَ الذِّكْرَ
“Barangsiapa mandi sebagaimana mandi junub pada hari Jumat kemudian dia berangkat (pada waktu pertama), seakan-akan dia telah berkurban seekor unta. Barangsiapa datang di masjid pada waktu kedua, seakan-akan dia telah berkurban seekor sapi. Barang siapa datang pada waktu ketiga, seakan-akan dia telah berkurban dengan seekor domba yang bertanduk. Barang siapa datang pada waktu keempat, seakan-akan dia telah berkurban seekor ayam. Barangsiapa datang pada waktu kelima, seakan-akan dia telah berkurban sebutir telur. Apabila imam telah keluar, para malaikat menutup (melipat) lembaran-lembaran catatannya lalu (para malaikat) mendengarkan khutbah.” (Muttafaqun ‘alaih)
Suri teladan kita, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, telah menjelaskan keutamaan berjalan kaki tatkala pergi ke masjid dengan tenang dan tidak tergesa-gesa dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَنْ تَطَهَّرَ فِي بَيْتِهِ ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ لِيَقْضِيَ فَرِيضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللهِ كَانَتْ خَطْوَتَاهُ إِحْدَاهُمَا تَحُطُّ خَطِيئَةً وَالْأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً
“Barangsiapa bersuci dirumahnya kemudian berjalan menuju ke salah satu masjid Allah Subhanahu wata’ala untuk menunaikan salah satu kewajiban (shalat) yang diwajibkan oleh Allah Subhanahu wata’ala (atasnya), pada setiap dua langkah kakinya, satu langkah akan menggugurkan satu dosa dan satu langkah yang lain akan mengangkat derajat.” (HR. Muslim)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,
إِذَا سَمِعْتُمُ الْإِقَامَةَ فَامْشُوا إِلَى الصَّ ةَالِ وَعَلَيْكُمْ بِالسَّكِينَةِ وَالْوَقَارِ وَ تُسْرِعُوا، فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا
“Apabila kalian mendengar iqamah, berjalanlah menuju shalat dan wajib atas kalian tenang dan tidak mempercepat jalan. Apa yang kalian dapatkan, shalatlah (bersama imam), sedangkan apa yang kalian tertinggal darinya, sempurnakanlah (setelah imam salam).” (Muttafaqun ‘alaih)
Apabila seorang muslim pergi ke masjid dengan kendaraan, tetap wajib baginya tenang dan tidak tergesa-gesa dalam perjalanan karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
أَيُّهَا النَّاسُ، عَلَيْكُمْ بِالسَّكِينَةِ، فَإِنَّ الْبِرَّ لَيْسَ باِلْإيِضَاعِ
“Wahai sekalian umat manusia, wajib atas kalian untuk tenang karena kebaikan itu bukan dengan tergesa-gesa.” (HR. al-Bukhari dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma)
3. Adab-Adab di Masjid
a. Doa ketika masuk dan keluar masjid
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ الْمَسْجِدَ فَلْيَقُلْ: اللَّهُمَّ افْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ؛ وَإِذَا خَرَجَ فَلْيَقُلْ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ
“Apabila salah seorang diantara kalian masuk masjid maka hendaknya dia berdoa,
اللَّهُمَّ افْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ
“Ya Allah, bukakanlah untukku pintu-pintu rahmat-Mu”. Apabila dia keluar hendaknya dia berdoa,
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon keutamaan dari-Mu’.” (HR. Muslim)
Ketika masuk, dahulukan kaki kanan dan tatkala keluar, dahulukan kaki kiri. Hal ini berdasarkan hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha,
كَانَ النَّبِيُّ صل الله عليه وسلم يُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ فِي تَنَعُّلِهِ وَتَرَجُّلِهِ وَطُهُورِهِ وَفِي شَأْنِهِ كُلِّهِ
“Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam senang mendahulukan sebelah kanan dalam hal memakai sandal, bersisir, bersuci, dan pada seluruh urusannya.” (Muttafaqun‘alaih)
b. Berusaha mencari tempat di shaf yang paling depan dan dekat dengan imam tanpa memisahkan dua orang yang sedang duduk berdampingan dan tidak melangkahi pundak-pundak jamaah yang telah duduk.
Dari Jabir bin Samurah radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata,
أَ تَصُفُّونَ كَمَا تَصُفُّ الْمَ ئَالِكَةُ عِنْدَ رَبِّهَا، فَقُلْنَا: يَا رَسُولَ اللهِ، وَكَيْفَ تَصُفُّ الْمَ ئَالِكَةُ عِنْدَ رَبِّهَا؟ قَالَ : يُتِمُّونَ الصُّفُوفَ الْأُوَلَ وَيَتَرَاصُّونَ فِي الصَّفِّ
“Mengapa kalian tidak bershaf sebagaimana para malaikat bershaf disisi Rabbnya?” Kami bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana cara malaikat bershaf disisi Rabbnya?” Beliau menjawab,“Mereka menyempurnakan shaf-shaf di depan dan merapatkannya.” (HR. Muslim)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memotivasi umatnya untuk berlomba-lomba mencari shaf yang terdepan dalam sabdanya,
لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الْأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِ أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ سَالْتَهَمُوا
“Seandainya umat manusia mengetahui keutamaan (menjawab) panggilan azan dan keutamaan shaf terdepan dan mereka tidak bisa mendapatkannya selain dengan berundi, sungguh mereka akan berundi (untuk mendapatkannya).” (HR. Muslim)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam membimbing umatnya tentang cara mengatur shaf dalam sabdanya,
أَتِمُّوا الصَّفَّ الْمُقَدَّمَ ثُمَّ الَّذِي يَلِيهِ، فَمَا كَانَ مِنْ نَقْصٍ فَلْيَكُنْ فِي الصَّفِّ الْمُؤَخَّرِ
“Sempurnakanlah shaf yang depan kemudian shaf yang berikutnya (di belakangnya). Adapun shaf yang masih kurang hendaknya di akhir .”(HR. Abu Dawud dan an-Nasai dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu)
Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang memisahkan dua orang yang duduk berdampingan, baik dengan cara duduk di antara keduanya maupun mengusir salah satunya lantas menduduki tempat duduknya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
فَلَمْ يُفَرِّقْ بَيْنَ اثْنَيْنِ
“Kemudian dia tanpa memisahkan dua orang yang duduk berdampingan.” (HR. al-Bukhari dari Salman al-Farisi radhiyallahu ‘anhu)
Larangan di atas dikecualikan bagi orang yang mendapatkan izin dari keduanya sebagaimana dalam hadits,
يَحِلُّ لِرَجُلٍ أَنْ يُفَرِّقَ بَيْنَ اثْنَيْنِ إِ بِإِذْنِهِمَا
“Tidak halal bagi seorangpun memisahkan dua orang (yang duduk berdampingan) selain dengan izin dari keduanya.” (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi)
Sebaik-baik pembimbing umat, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, melarang seorang muslim mengusir saudaranya dari tempat duduknya lantas mendudukinya. Dari Ibnu Umar, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,
أَنَّهُ نَهَى أَنْ يُقَامَ الرَّجُلُ مِنْ مَجْلِسِهِ وَيَجْلِسَ فِيهِ آخَرُ وَلَكِنْ تَفَسَّحُوا وَتَوَسَّعُوا
“Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang seseorang diusir dari tempat duduknya lantas orang lain mendudukinya. Akan tetapi, (yang boleh dilakukan) mereka bergeser dan berlapang-lapang (supaya orang lain bisa masuk dan duduk).” (Muttafaqun ‘alaih)
Apabila seseorang berdiri dan meninggalkan tempat duduknya karena kebutuhannya kemudian kembali, dia paling berhak atas tempat duduknya semula, sebagaimana dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
إِذَا قَامَ أَحَدُكُمْ مِنْ مَجْلِسِهِ ثُمَّ رَجَعَ إِلَيْهِ فَهُوَ أَحَقُّ بِهِ
“Apabila salah seorang diantara kalian berdiri dari tempat duduknya lantas kembali, dia paling berhak atasnya.” (HR. Muslim)
Termasuk adab-adab di dalam masjid, tatkala seseorang berusaha mendapatkan shaf awal (depan), ia tidak boleh melangkahi punggung-punggung jamaah yang sedang duduk. Hal ini diterangkan oleh hadits Abdullah bin Busr radhiyallahu ‘anhu,
جَاءَ رَجُلٌ يَتَخَطَّى رِقَابَ النَّاسِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالنَّبِيُّ صل الله عليه وسلم يَخْطُبُ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صل الله عليه وسلم : اجْلِسْ فَقَدْ آذَيْتَ وَآنَيْتَ
“Seorang laki-laki datang pada hari Jumat lalu melangkahi punggung-punggung jamaah yang sedang duduk. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bersabda,‘Duduklah! Sungguh engkau telah mengganggu (menyakiti) dan mengakhirkan (jamaah).” (HR. Abu Dawud dan an-Nasa’i, asy-Syaikh al-Albani menyatakannya sahih dalam Shahih Sunan Abu Dawud)
Syaikhul Islam menjelaskan, seseorang tidak boleh mengisi shaf-shaf di belakang padahal shaf di depan masih longgar. Demikian pula, tidak boleh membuat shaf di jalan-jalan dan toko-toko padahal di dalam masjid masih longgar. Barang siapa melakukan perbuatan seperti itu, dia berhak mendapatkan hukuman. Orang-orang yang datang setelahnya boleh melangkahinya dan masuk menyempurnakan shaf-shaf yang di depan karena hal ini tidak dilarang baginya.
Hal ini sebagaimana tidak bolehnya seseorang meletakkan tempat duduknya terlebih dahulu (misal: sajadah) di masjid namun dia berangkat terlambat (demi mengaveling tempat duduk di shaf awal) sehingga orang lain tidak berhak mendudukinya. Justru tempat duduknya itu (harus dihilangkan), dan boleh dipakai (oleh orang lain) untuk shalat menurut pendapat yang benar.
Apabila masjid telah penuh dengan shaf, mereka boleh membuat shaf di luar masjid. Apabila shaf-shaf itu bersambung dengan masjid, walaupun di jalan-jalan dan di pasar-pasar, shalat Jumatnya sah. Adapun apabila mereka membuat shaf dalam keadaan ada jarak (jalan) yang memisahkan shaf-shaf mereka dengan shaf-shaf yang ada di masjid, shalatnya tidak sah berdasarkan pendapat yang paling jelas di antara dua pendapat para ulama. (al-Kubra, 1/137)
c. Shalat sunnah tahiyatul masjid walaupun imam telah berkhutbah
Dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
ذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ الْمَسْجِدَ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يَجْلِسَ
“Apabila salah seorang diantara kalian masuk masjid, hendaknya dia shalat dua rakaat sebelum duduk.” (Muttafaqun ‘alaih)
Tatkala imam sudah berkhutbah, hendaknya shalat tahiyatul masjid dikerjakan dengan ringan, sebagaimana bimbingan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,
إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ وَلْيَتَجَوَّزْ فِيهِمَا
“Apabila salah seorang diantara kalian datang dan imam sedang berkhutbah, hendaknya dia shalat dua rakaat dan mengerjakannya dengan ringan.” (Muttafaqun ‘alaih)
d. Duduk mendengarkan khutbah dan menghadap kepada khatib
Al-Imam al-Bukhari rahimahullah membuat sebuah bab dalam kitab Shahih-nya Bab “Mendengarkan Khutbah”. Beliau berdalil dengan hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila hari Jumat telah tiba, para malaikat berdiri di depan pintu untuk menulis orang-orang yang datang, satu demi satu. Permisalan orang yang berpagi-pagi (berangkat ke masjid) seperti orang yang berkurban seekor unta, kemudian seperti orang yang berkurban seekor sapi, kemudian seekor domba, kemudian seekor ayam, kemudian seekor telur. Apabila imam telah keluar mereka (para malaikat) menutup lembaran-lembaran catatannya dan mendengarkan khutbah.” (HR. al-Bukhari, 929)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menegaskan tentang wajibnya seseorang diam mendengarkan khutbah dalam sabdanya,
إِذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَنْصِتْ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ فَقَدْ لَغَوْتَ
“Apabila engkau berkata kepada temanmu pada hari Jumat,‘Diam, dengarkanlah (khutbah),’ padahal imam sedang berkhutbah, itu berarti engkau telah berbuat sia-sia.” (Mutttafaqun ‘alaih)
Demikian pula disunnahkan bagi jamaah untuk menghadap kepada imam tatkala dia berkhutbah, sebagaimana perkataan al-Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya “Bab Imam menghadap kaum (hadirin) dan kaum itu menghadap imam tatkala berkhutbah”. Beliau berdalil dengan hadits Abu Sa’id al-Khudri,
أَنَّ النَّبِيَّ صل الله عليه وسلم جَلَسَ ذَاتَ يَوْمٍ عَلَى الْمِنْبَر وَجَلَسْنَا حَوْلَهُ
“Pada suatu hari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam duduk di atas mimbar1 dan kami pun duduk di sekelilingnya.”
e. Apabila mengantuk, hendaknya ia berpindah (bergeser) dari tempat duduknya selama tidak mengganggu orang lain.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
إِذَا نَعَسَ أَحَدُكُمْ فِي مَجْلِسِهِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَلْيَتَحَوَّلْ مِنْهُ إِلَى غَيْرِهِ
“Apabila salah seorang diantara kalian mengantuk di tempat duduknya, hendaknya dia pindah ke tempat lain.” (HR. Ahmad, AbuDawud, dan at-Tirmidzi dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma)
f. Boleh memakai hibwah2 (melakukan ihtiba) pada hari Jumat ketika mendengarkan khutbah imam karena hadits-hadits yang melarangnya dhaif.
Banyak ulama salafus shalih yang memakainya, selama tidak menyebabkan auratnya tersingkap dan mengantuk.
Al-Imam Abu Dawud rahimahullah berkata, “Ibnu Umar memakai hibwah ketika imam berkhutbah, demikian juga Anas bin Malik, Syuraih, Sha’sha’ah bin Shuhan, Sa’id bin al-Musayib, Ibrahim an-Nakha’i, Makhul, dan Ismail bin Muhammad bin Sa’d.”
Beliau berkata, “Tidak ada yang sampai kepadaku berita dari seorang salaf pun yang membencinya (hibwah), selain Ubadah bin Nusaiya.” (Sunan Abu Dawud, no. 191)
Al-Iraqi rahimahullah berkata, “Mayoritas ulama berpendapat bahwa hibwah tidak makruh. Adapun tentang hadits-hadits dalam hal ini, mereka menjawab bahwa seluruh hadits tersebut dhaif.” (Nailul Authar, 2/299)
Kalaupun dianggap semuanya sahih, larangan itu dimaksudkan agar seseorang tidak mulai memasang hibwah ketika imam sudah berdiri untuk berkhutbah, sampai ia menyelesaikan khutbahnya. (Syarh Musykil al-Atsar, 7/344-345, -ed.)
Mudah-mudahan Allah Subhanahu wata’ala senantiasa melimpahkan hidayah taufik kepada kita. semua untuk mengikuti sunnah Nabi-Nya, baik dalam ilmu maupun amal, baik secara lahir maupun batin.
Amin.
Ditulis oleh  Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan
—————————————————————-
1. Mimbar di zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam hanya berupa tiga anak tangga sehingga bisa diduduki. Berbeda halnya dengan mimbar yang ada di zaman sekarang pada umumnya. (-red.)
2. Al-hibwah yaitu seorang mengikat/mendekatkan kedua lututnya ke perut dengan tali atau pakaiannya, lalu mendekatkan keduanya ke punggungnya. Terkadang, hal ini dilakukan dengan tangan sebagai pengganti tali/pakaian. (an-Nihayah li Ibni Atsir)
Menumpas Musailamahal-Kadzdzab (2)

Menumpas Musailamahal-Kadzdzab (2)

Awal Peperangan Pasukan muslimin akhirnya bertemu dengan pasukan Musailamah di ‘Aqriba’. Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan bahwa jumlah pasukan muslimin ketika itu sekitar belasan ribu orang, sedangkan pengikut Musailamah al-Kadzdzab hampir seratus ribu orang. Bendera Muhajirin dipegang oleh Salim, maula Abu Hudzaifah. Sebelum itu, bendera ada di tangan ‘Abdullah bin Hafsh bin Ghanim hingga beliau gugur. Kaum muslimin juga mengkhawatirkan keselamatan Salim, tetapi kata Salim, “Kalau begitu (kalau aku mencari selamat) aku adalah pembawa al-Qur’an yang paling buruk.”
Bendera Anshar dibawa oleh Tsabit bin Qais bin Syammas. Demikianlah suku-suku Arab lainnya, mereka berada di bawah bendera masing-masing bersama pemimpin mereka.
Setelah kedua pasukan saling berhadapan, Musailamah berkata di hadapan pengikutnya, “Hari ini adalah hari kecemburuan. Hari, yang kalau kalian kalah, istri-istri kalian akan dinikahi sebagai tawanan, tanpa mahar. Karena itu, bertempurlah demi kehormatan kalian dan belalah istri-istri kalian.”
Peperangan mulai berkobar, beberapa kabilah Arab kocar-kacir menerima serangan pengikut Musailamah al-Kadzdzab. Mereka melarikan diri dari gelanggang pertempuran.
Denting pedang dan tombak masih menggema di tanah Yamamah. Ringkik kuda yang menari-nari di tengah-tengah kedua pasukan dan jerit kematian mengoyak cakrawala siang itu. Bumi Yamamah mulai dibasahi darah kedua pasukan, yang satu demi membela harga diri, yang lain demi menegakkan Kalam Ilahi.
Orang-orang Arab pengikut Musailamah terus menyerang sampai mendekati kemah Khalid, bahkan hampir membunuh istrinya, Ummu Tamim. Tetapi, wanita itu diselamatkan oleh Majja’ah, katanya, “Sebaik-baik wanita merdeka adalah wanita ini.”
Melihat kepanikan di barisan muslimin, sebagian sahabat saling menegur. Tsabit berkata, “Alangkah buruknya yang dibiasakan teman kalian. Bukan begini kami berperang bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.”
Tsabit segera menyiapkan dirinya dengan perlengkapan jenazah dan menggali lubang hingga betisnya, lalu berdiri di dalamnya sambil tetap memegang bendera Anshar. Tidak ada satu pun prajurit musuh yang mendekat kecuali terkena sabetan pedangnya.
Satu persatu musuh berjatuhandi tangan Tsabit, hingga Allah Subhanahu wata’ala menjalankan ketetapan-Nya, bahwa Tsabit harus pulang menghadap, meraih janji yang sudah disediakan. Bertiuplah angin surga menyambar tubuh kasar Tsabit radhiyallahu ‘anhu. Jasad kasar itu pun ambruk ke bumi, tetapi ruhnya dengan cepat menembus petala langit menghadap penciptanya, Allah ‘azza wa jalla. Semoga Allah Subhanahu wata’ala meridhainya.
Dialah yang dahulu ketika mendengar firman Allah Subhanahu wata’ala,
يَآاَيُّهَاالَّذِيْنَ ءٰمَنُوْآ لَاتَرْفَعُوآ اَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْطِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ اَنْ تَحْبَطَ اَعْمَا لُكُمْ وَاَنْتُمْ لَا تَشْعُرُوْنَ۝
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari.” (al-Hujurat: 2)
mengurung diri di rumahnya selama berhari-hari, hingga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam merasa kehilangan. Kemudian, beliau menanyakan perihal Tsabit kepada sebagian sahabat.
Salah seorang sahabat (Sa’d bin Mu’adz radhiyallahu ‘anhu) menyanggupi akan mencari keterangan tentang Tsabit. Sahabat itu menemui Tsabit yang ternyata sedang menangis sambil menundukkan kepalanya di dalam rumah. “Bagaimana keadaanmu?” Tanya Sa’d kepada Tsabit.
“Buruk,” kata Tsabit, “Kalian tahu, akulah yang paling keras suaranya melebihi suara Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan akulah yang selalu berbicara lantang kepada beliau. Sekarang amalanku gugur dan menjadi penduduk neraka.”
Sa’d bin Mu’adz radhiyallahu ‘anhu segera menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan menyampaikan ucapan Tsabit radhiyallahu ‘anhu.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pun berkata, “Tidak. Bahkan, sebetulnya dia termasuk penghuni surga.”1
Allahu Akbar.
Itulah hasil gemblengan wahyu melalui tangan mahaguru yang paling ahli mendidik jiwa manusia, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Adakah kita meyakini bahwa ayat-ayat itu ditujukan juga kepada kita, walaupun berkisah tentang orang-orang Yahudi, atau yang lainnya?
Duhai, kiranya kita merasakan pula apa yang dirasakan oleh Tsabit ketika melewati ayat demi ayat Kitab Suci al-Qur’an. Wallahul Musta’an.
Duhai, sangatlah pantas, Allah Subhanahu wata’ala memuliakan mereka dan menjadikan mereka sebagai anutan dan teladan bagi orang-orang yang datang sesudah mereka. Siapa saja yang mengikuti mereka dengan baik, niscaya memperoleh keridhaan sebagaimana pendahulu mereka yang saleh ini.
Kebun Maut2
Bani Hanifah semakin hebat menyerang kaum muslimin, hingga membuat kaum muslimin kepayahan. Satu demi satu para penghafal al-Qur’an di antara sahabat-sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berguguran sebagai kembang syuhada. Namun, pasukan musuh juga mulai kocar-kacir.
Musailamah al-Kadzdzab masih memompa semangat tempur para pengikutnya. “Maju terus, bela dan pertahankanlah kehormatan kalian, hai bani Hanifah!” teriaknya.
Sementara itu, para pengikut Musailamah mulai bertanya-tanya, “Mana yang kau janjikan kepada kami?”
Musailamah al-Kadzdzab hanya menjawab dengan dorongan untuk terus berperang membela harga diri mereka, jangan kalah dari Quraisy.
Perlahan tapi pasti, barisan muslimin yang tadi sempat kocar-kacir, mulai merapat. Di sana-sini terdengar seruan, “Hai para penghafal surat al-Baqarah, wahai penghafal al-Qur’an. Hari ini hancurlah sihir!”
Abu Hudzaifah pun berseru, “Hai para ahli al-Qur’an, hiasilah al-Qur’an dengan perbuatan kalian!”
Zaid bin al-Khaththab, saudara ‘Umar juga mengingatkan para pembawa al-Qur’an, agar bertempur dengan penuh semangat.
Sementara itu, Khalid sang panglima mulai maju ke kancah pertempuran. Khalid mencari keberadaan Musailamah. Beberapa saat belum menemukannya, Khalid mengatur barisan, dan mulai menantang duel satu lawan satu. Tidak ada musuh yang maju selain binasa di tangannya.
Perang semakin seru, sedangkan Khalid tetap menawarkan agar musuh kembali kepada al-haq. Namun, setan yang bercokol dalam diri Musailamah tidak menerima sedikit pun, dia terus berusaha memutar leher Musailamah agar tetap dalam kekafiran.
Akhirnya, Khalid mengalihkan perhatian memisahkan orang-orang Arab dari Muhajirin dan Anshar. Para sahabat masih bertahan dengan kesabaran luar biasa dalam pertempuran itu. Mereka terus maju seolah-olah mengantarkan nyawa kepada musuh-musuh mereka sampai Allah Subhanahu wata’ala memberi kemenangan.
Perlahan tetapi pasti, kekalahan mulai membayangi pasukan si nabi palsu. Kaum muslimin terus mendesak lawan mereka. Pedang di tangan kaum muslimin menebas tanpa rintangan semaunya, hingga musuh masuk ke dalam kebun milik Musailamah al-Kadzdzab.
Kebun inidinamai HadiqatuRahman, karena Musailamah mengangkat dirinya sebagai Rahmanul Yamamah. Gelar ini dikenal oleh bangsa Arab ketika itu. Namun, karena kelancangannya mencatut salah satu nama yang khusus bagi Allah Subhanahu wata’ala, Allah Subhanahu wata’ala pun menghinakannya dengan serendah-rendahnya.
Pengikut Musailamah al-Kadzdzab berlarian menuju kebun tersebut. Terdengar pula suara Muhkam bin Thufail memberi komando bani Hanifah agar segera menuju kebun itu. Adapun dia
sendiri menghadang pasukan muslimin yang mengejar.
‘Abdurrahman bin Abi Bakr mendekati Muhkam, lalu melesatkan panahnya. Dengan deras panah itu meluncur hingga menembus leher Muhkam. Tubuh Muhkam ambruk, pengikutnya pun melarikan diri dan mengunci pintu kebun itu dari dalam.
Kaum muslimin tidak tinggal diam. Mereka maju mengepung benteng kebun itu.
Barra’ bin Malik radhiyallahu ‘anhu, saudara Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berseru, “Wahai kaum muslimin, lemparkan aku ke dalam kebun itu!”
Mereka pun dengan cekatan mengangkat tubuh Barra’ dalam alat pelempar, hingga melewati tembok kebun tersebut.
Sesampainya di dalam, Barra’ disambut oleh pengikut Musailamah al-Kadzdzab. Namun, Barra’ tidak gentar. Ratusan orang itu dihadapinya seorang diri sampai dia berhasil membuka pintu gerbang kebun tersebut.
Dengan suara gegap gempita, kaum muslimin menerobos kebun itu. Tubuh-tubuh pengikut Musailamah al-Kadzdzab mulai bertumbangan. Musailamah al-Kadzdzab sendiri mencoba bersandar di dinding kebun itu sambil menutupi dirinya, bagai unta hijau. Saking marah dan kecewanya melihat kekalahan mulai membayang di depan matanya, Musailamah kehilangan akal.
Dengan cepat pula, Wahsyi bin Harb radhiyallahu ‘anhu, yang dahulu pernah membunuh Hamzah radhiyallahu ‘anhu dalam Perang Uhud, melemparkan tombak yang dipakainya membunuh Hamzah. Tombak itu dengan telak bersarang di tubuh Musailamah al-Kadzdzab. Beberapa saat kemudian, seorang prajurit muslim lainnya, Abu Dujanah radhiyallahu ‘anhu, menebas tubuh nabi palsu itu sampai tersungkur ke tanah.
Tiba-tiba terdengar teriakan seorang wanita dari atas rumah Musailamah al-Kadzdzab, “Tolong! Amirul Mukminin dibunuh oleh budak hitam itu!”
Setelah peperangan agak reda, Khalid membawa Majja’ah yang terbelenggu ke medan pertempuran untuk menunjukkan mana Musailamah al-Kadzdzab. Ketika melewati Rajjal, Khalid bertanya, “Inikah Musailamah?”
“Bukan. Demi Allah, dia ini lebih baik daripada Musailamah. Ini Rajjal bin ‘Unfuwah.”
Kemudian mereka melewati satu tubuh yang ditembus tombak dan kepala putus, berkulit kuning dan bermuka buruk.
“Inilah dia,” kata Majja’ah.
“Semoga Allah memburukkan muka kalian. Manusia sejelek ini yang kalian ikuti?”
Setelah itu, Khalid mengirim pasukan berkuda mengambil yang tercecer dalam pertempuran itu, baik tawanan maupun perlengkapan. Beliau sendiri bertekad untuk menyerang benteng yang ada di Yamamah. Padahal, yang ada di sana hanya wanita, anak-anak, dan orang-orang yang sudah tua.
Majja’ah yang ingin menyelamatkan sisa-sisa kabilahnya berusaha mengecoh Khalid, “Di sana masih banyak prajurit, marilah buat perdamaian dengan saya dalam urusan mereka.”
Melihat keadaan kaum muslimin yang juga cukup payah, Khalid menerima tawaran tersebut.
“Biarkan saya ke sana untuk berunding.”
Sesampainya di sana, Majja’ah menyuruh kaum wanita mengenakan baju besi dan berdiri di puncak benteng, seolah-olah pasukan yang siap tempur.
Panglima Khalid melihat ke atas benteng, ternyata masih banyak ‘pasukan’ yang siap melanjutkan pertempuran, seperti yang diberitakan Majja’ah. Akhirnya Khalid menerima usul gencatan senjata dan berdamai, serta menawarkan Islam kepada mereka. Ternyata, mereka menerima dan semua kembali kepada al-haq. Sebagian tawanan yang telah dikuasai kaum muslimin pun dikembalikan. Adapun sisanya, dikirim kepada Khalifah Abu Bakr ash-Shiddiq di Madinah.
Dari salah seorang tawanan itu pula ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu mengambil seorang wanita yang kemudian melahirkan putranya Muhammad, yang dikenal dengan Muhammad ibnul Hanafiah. (insyaAllah bersambung)
Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits
—————————————————
  1. HR. al-Bukhari (4846) dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu.
  2. Tajul ‘Arus (6/310).
Asiah, Masyithah, dan Terbelahnya Laut Merah

Asiah, Masyithah, dan Terbelahnya Laut Merah

Keimanan tukang-tukang sihir itu bukannya membuat bangsa Qibthi beriman, melainkan semakin dendam dan jauh dari al-haq. Fir’aun sendiri semakin bertambah kekafiran dan keingkarannya.
Para pembesar kerajaan Fir’aun menghasut Fir’aun agar menghancurkan bani Israil. Allah Subhanahu wata’ala berfirman menceritakan makar mereka,
وَقَالَ الْمَلَاُ مِنْ قَوْمِ فِرْعَوْنَ اَتَدَرُمُوْسٰى وَقَوْمَهُ لِيُفْسِدُوا فِى الْاَرْضِ وَيَذَرَكَ وَاٰلِهَتَكَ ۗ قَالَ سَنُقَتِّلُ اَبْنَآءَهُمْ وَنَسْتَحْيِى نِسَآءَهُمْ  ۚ وَاِنَّا فَوْقَهُمْ قَاهِرُوْنَ۝
Berkatalah pembesar-pembesar dari kaum Fir’aun (kepada Fir’aun), “Apakah kamu membiarkan Musa dan kaumnya untuk membuat kerusakan di negeri ini (Mesir) serta meninggalkan kamu dan sesembahanmu?” Fir’aun menjawab“, Akan kita bunuh anak-anak lelaki mereka dan kita biarkan hidup perempuan-perempuan mereka; dan sesungguhnya kita berkuasa penuh di atas mereka.” (al-A’raf: 127)
Dalam ayat ini, Allah Subhanahu wata’ala menerangkan bahwa dengan tindakan kejamnya itu, Fir’aun merasa aman dari bani Israil.  Bangsa Qibthi (pribumi Mesir) tidak akan terancam dengan berkurangnya jumlah bani Israil, lebih-lebih lagi yang tersisa adalah kaum wanita dan orang-orang yang lemah, sehingga mudah untuk menindas mereka.
Demikianlah. Dalam keadaan diselimuti oleh ketakutan itu, bani Israil dibimbing oleh Nabi Musa alaihis salam agar semakin dekat kepada Allah Subhanahu wata’ala, merendahkan diri, dan selalu meminta pertolongan kepada-Nya dengan shalat dan sabar.
Akhirnya, Allah Subhanahu wata’ala mengirim hujan yang sangat lebat hingga menenggelamkan tanaman dan sawah ladang mereka, kemudian belalang yang memakan tanaman dan buah-buahan mereka. Hilang azab yang satu, datang azab berikutnya. Muncullah darah yang memenuhi rumah-rumah mereka. Air yang mereka timba dari sungai Nil tidak lagi jernih, tetapi berubah menjadi darah. Setelah itu, datang katak yang mengisi  bejana dan perabotan mereka, bahkan setiap kali mereka membuka tutup makanan mereka, yang ada adalah katak.
Semua itu tidak mengenai bani Israil sama sekali.
Setiap datang bencana yang sangat buruk ini, orang-orang kafir itu datang menemui Nabi Musa ‘alaihis salam dan meminta agar Nabi Musa ‘alaihis salam berdoa kepada Allah Subhanahu wata’ala supaya bencana itu dijauhkan dari mereka. Nabi Musa ‘alaihis salam memenuhi permintaan mereka dengan harapan mereka mau beriman. Berulang-ulang mereka meminta agar diselamatkan, dan berulang-ulang pula Nabi Musa ‘alaihis salam berdoa, tetapi mereka tidak juga beriman.
Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
وَلَمَّ وَقَعَ عَلَيْهِمُ الرِّجْزُ قَالُوْا يَا مُوْسَى ادْعُ لَنَارَبَّكَ بِمَا عَهِدَ عِنْدَكَ ۚ لَئِنْ كَشَفْتَ عَنَّا الرِّجْزَ لَنُؤْ مِنَنَّ لَكَ وَلَنُرْسِلَنَّ مَعَكَ بَنِى اِسْرَا ءِيْلَ۝ فَلَمَّ كَشَفْنَا عَنْهُمُ الرِّجْزَ اِلٰى اَجَلٍ هُمْ بَالِغُوهُ اِذَا هُمْ يَنْكُثُوْن۝ فَانْتَقَمْنَا مِنْهُمْ فَاَ غْرَقْنَا هُمْ فِي الْيَمِّ بِاَنَّهُمْ كَذَّبُوْا بِاٰيَاتِنَاوَكَانُوْا عَنْحهَا غَافِلِيْنَ۝
Dan ketika mereka ditimpa oleh azab (yang telah diterangkan itu) mereka pun berkata, “Hai Musa, mohonkanlah untuk kami kepada Rabbmu dengan (perantaraan) kenabian yang diketahui oleh Allah ada pada sisimu. Sesungguhnya jika kamu dapat menghilangkan azab itu dan pada kami, pasti kami akan beriman kepadamu dan akan kami biarkan bani Israil pergi bersamamu.” Setelah Kami hilangkan azab itu dari mereka hingga batas waktu yang mereka sampai kepadanya, tiba-tiba mereka mengingkarinya. Kemudian Kami menghukum mereka, maka Kami tenggelamkan mereka di laut disebabkan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka adalah orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami itu.” (al-A’raf: 134-136)
Itulah Fir’aun dan pengikutnya. Setiap datang ayat Allah Subhanahu wata’ala kepada mereka, semakin bertambah keingkaran mereka. Akhirnya, Allah Subhanahu wata’ala menghukum mereka dengan menenggelamkan mereka semua di Laut Merah.
Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
فَلَمَّآ اٰسِفُوْ نَا انْتَقَمْنَا مِنْهُمْ فَاَغْرَقْنَاهُمْ اَجْمَعِيْنَ۝ فَجَعَلْنَا هُمْ سَلَفً وَمَثَلاً لِلْاٰ خِرِيْنَ۝
Tatkala mereka membuat Kami murka, Kami menghukum mereka lalu Kami tenggelamkan mereka semuanya (dilaut), dan Kami jadikan mereka sebagai pelajaran dan contoh bagi orang-orang yang kemudian.” (az-Zukhruf : 55-56)
Kejadian yang mereka alami itu diceritakan oleh Allah Subhanahu wata’ala Yang Maha Benar perkataan-Nya, agar orang-orang yang mau mengambil pelajaran dan nasihat menjadikan keadaan mereka sebagai pelajaran dan nasihat, lalu menjaga dirinya dengan menaati Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya ‘alaihis salam.
Asiah dan Masyithah
Kemurkaan dan dendam Fir’aun semakin memuncak, lebih-lebih lagi setelah mengetahui pula istrinya Asiah bintu Muzahim beriman kepada bekas anak angkatnya, Musa bin ‘Imran ‘alaihumas salam. Setiap hari Asiah dijemur di bawah terik matahari. Tetapi, setiap kali dia ditinggal sendirian oleh Fir’aun, para malaikat datang menaunginya dengan sayap-sayap mereka.
Akhirnya, Fir’aun memerintahkan prajuritnya mencari batu besar untuk dilemparkan ke tubuh Asiah yang sedang dijemur.
“Tanyai dia, kalau dia tetap beriman, lemparkan batu itu ke tubuhnya. Kalau dia menarik ucapannya, dia adalah istriku.”
Asiah tetap berpegang dengan keimanannya. Fir’aun dan beberapa pembesarnya melihat ke arahnya yang tersenyum. Mereka terheran-heran, “Dia sudah gila rupanya. Kita menyiksa dia dengan hebat, dia malah tersenyum.”
Ahli tafsir menyebutkan bahwa Asiah tersenyum karena doanya dikabulkan Allah Subhanahu wata’ala, sebuah rumah sudah disediakan untuknya di dalam surga, dan diselamatkan dari keganasan Fir’aun dan para pengikutnya. Setelah itu, Allah Subhanahu wata’ala mencabut ruhnya, menyelamatkannya dari kekejaman Fir’aun. Batu besar yang disiapkan untuk meremukkan tubuh Asiah akhirnya dilemparkan juga, tetapi hanya menimpa seonggok jasad yang sudah kaku.
Menurut sebagian ahli tafsir, Asiah beriman karena mengetahui keimanan Masyithah, istri seorang pembesar kerajaan yang sudah beriman. Kisah Masyithah ini disebutkan dalam sebagian
kisah Isra’ Mi’raj Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, tetapi melalui jalur Hammad bin Salamah yang meriwayatkannya dari Atha’ bin Saib yang kacau hafalannya. Oleh karena itu, sebagian ulama, seperti asy-Syaikh al-Albani menganggapnya lemah, meskipun rawi lainnya tsiqah.
Masyithah adalah tukang sisir putrid Fir’aun. Suatu hari, sisir yang ada di tangannya terlepas dari tangannya. Masyithah segera menyebut nama Allah Subhanahu wata’ala. Mendengar ucapannya, putri Fir’aun bertanya, “Apakah kamu punya tuhan selain ayahku?”
“Rabbku, Rabb ayahmu, dan Rabb segala sesuatu adalah Allah Subhanahu wata’ala.”
Putri Fir’aun marah besar. Dia menampar Masyithah dan menyiksanya, lalu melaporkan keimanan Masyithah kepada ayahnya. Masyithah dibawa menghadap Fir’aun dalam keadaan sudah yakin akan menerima siksaan yang sangat kejam dari Fir’aun.
“Apakah kamu menyembah sesuatu selain aku?”
“Ya, aku menyembah Allah, Rabbmu dan Rabb segala sesuatu.”
Fir’aun pun mengikatnya dan menakuti-nakutinya dengan ular yang besar. Namun, Masyithah tidak goyah. Fir’aun jengkel dan mengancam akan menyembelih anaknya di hadapan Masyithah.
“Lakukan apa yang ingin kau lakukan,” tantang Masyithah.
Fir’aun semakin murka. Dengan bengis, satu demi satu anak Masyithah disembelih di hadapan Masyithah. Tetapi, hal itu tidak membuat Masyithah goyah, hingga Allah Subhanahu wata’ala mencabut ruhnya.
Setelah itu, Fir’aun memerintahkan pasukannya untuk membantai seluruh laki-laki, tua muda, besar, dan kecil dari kalangan bani Israil, serta membiarkan kaum wanita mereka tetap hidup.
Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
وَاَوْحَيْنَآ اِلٰى مُوْسٰ اَنْ اَسْرِ بِعِبَادِى اِنَّكُمْ مُتَّبَعُوْنَ۝
Dan Kami wahyukan (perintahkan) kepadaMusa,‘Pergilah dimalam hari dengan membawa hamba-hamba-Ku (baniIsrail), karena sesungguhnya kamu sekalian akan disusuli’.” (asy-Syu’ara : 52)
Begitu Fir’aun mengetahui bahwa permukiman bani Israil sudah kosong, dia segera memerintahkan pasukannya mengejar. Seluruh pasukan kerajaan Mesir dikerahkan untuk menangkap Nabi Musa ‘alaihis salam dan bani Israil. Bergeraklah mereka meninggalkan negeri Mesir, meninggalkan sawah ladang, kebun-kebun, gudang-gudang harta, dan kemewahan.
Sementara itu, Nabi Musa dan Harun ‘alaihimas salam bersama bani Israil sudah tiba di tepi Laut Merah. Sayup-sayup sudah terdengar pula derap kaki kuda bala tentara Fir’aun. Bani Israil mulai diselimuti rasa takut yang luar biasa. Berkali-kali mereka menoleh ke belakang. Tampaklah debu mulai membubung tinggi.
Mereka berteriak kepada Nabi Musa ‘alaihis salam, “Kita tersusul. Fir’aun pasti membasmi kita sampai habis.”
“Itu tidak akan pernah terjadi,” kata Nabi Musa ‘alaihis salam dengan tenang dan mantap. (insya Allah bersambung)
Ditulis oleh  Al-Ustadz Abu Muhammad Harits
Tata Cara Sujud

Tata Cara Sujud

Zikir-Zikir di Saat Sujud Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sujudnya didapatkan membaca beragam zikir dan doa. Sekali waktu beliau membaca satu macam zikir, dan di waktu lain membaca zikir yang lain lagi. Di antara zikir sujud, ada yang sama dengan zikir di saat ruku’, karenanya bila ada kesamaan kami tidak artikan dan Pembaca bisa melihat artinya pada pembahasan zikir-zikir ruku’ yang telah lalu berikut keterangan haditsnya.
Bacaan atau zikir ketika sujud yang biasa dibaca oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sebagai berikut :
1. Bacaan:
سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى
“Mahasuci Rabbku Yang Maha Tinggi.”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengulangi membaca zikir di atas sebanyak 3 kali, namun terkadang beliau ulangi lebih dari itu, hingga suatu kali di saat shalat malam beliau mengulanginya beberapa kali.
Disebutkan sujud beliau ketika itu hampir mendekati masa berdiri beliau, padahal saat berdiri beliau membaca tiga surat yang panjang, yaitu al-Baqarah, an-Nisa’, dan Ali ‘Imran, dengan diselang-selingi doa dan istighfar. (Dari hadits Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, diriwayatkan oleh al-Imam Muslim dalam Shahih-nya no. 1811)
2. Bacaan:
سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى وَبِحَمْدِهِ
“Maha suci Rabbku Yang Maha tinggi dan pujian bagi-Nya.” (3 kali)
3. Bacaan:
سُبُّوْحٌ، قُدُّوْسٌ، رَبُّ الْمَلآئِكَةِ وَالرُّوْحِ
4. Bacaan:
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ، اللَّهُمَّ اغْفِرْلِي
5. Bacaan:
سُبْحَانَ ذِيْ الْجَبَرُوْتِ، وَالْمَلَكُوْتِ، وَالْكِبْرِيَاءِ، وَالْعَظَمَةِ 1
6. Bacaan:
اللَّهُمَّ لَكَ سَجَدْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَلَكَ أَسْلَمْتُ، [وَأَنْتَ رَبِّي ]، سَجَدَ وَجْهِيْ لِلَّذِيْ خَلَقَهُ وَ صَوَّرَهُ، [فَأَحْسَنَ صُوَرَهُ]، وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ، تَبَارَكَ اللهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِيْنَ
“Ya Allah, hanya kepada-Mu aku sujud, hanya kepada-Mu aku beriman, dan hanya kepada-Mu aku berserah diri. Engkau adalah Rabbku. Telah sujud wajah ku kepada Dzat yang telah menciptakannya dan membentuknya, lalu Dia baguskan rupanya dan Dia membelah pendengaran dan penglihatannya. Mahasuci Allah sebaik-baik Pencipta.”
Dari hadits Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Tambahan yang pertama yaitu lafadz وَأَنْتَ رَبِّي dikeluarkan oleh ath-Thahawi (137/1) dan at-Tirmidzi no. 3423 serta ad-Daraquthni (30). Al-Imam Albani rahimahullah dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi mengatakan hadits ini hasan sahih. Tambahan kedua dari salah satu riwayat Muslim.
7. Bacaan:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبي كُلَّهُ، دِقَّهُ وَجِلَّهُ، وَأَوَّلَهُ وَآخِرَهُ، وَعَلاَنِيَتَهُ وَسِرَّهُ
“Ya Allah, ampunilah dosaku seluruhnya, yang kecil/sedikit dan yang besar/banyak, yang awalnya dan yang akhirnya, yang terang-terangan dan yang rahasia/tersembunyi.”2
(Dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang dikeluarkan al-Imam Muslim no. 1084)
8. Bacaan:
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ
“Mahasuci Engkau, ya Allah, dan dengan pujian untuk-Mu, tidak ada sesembahan yang berhak untuk dibadahi kecuali Engkau.”
Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan, tatkala ia kehilangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di suatu malam dari tempat tidurnya, dia menyangka beliau pergi keluar. Mulailah Aisyah meraba-raba dalam kegelapan, ternyata didapatinya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sedang ruku atau sujud dan membaca zikir di atas. (HR. Muslim no. 1089)
9. Bacaan:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا أَسْرَرْتُ، وَمَا أَعْلَنْتُ
“Ya Allah, ampunilah aku, apa yang aku rahasiakan dan apa yang aku tampakkan (dari kejelekan/dosa).”
(Dari hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha juga, diriwayatkan oleh an-Nasa’i no. 1124, dinyatakan sahih dalam Shahih Sunan an-Nasa’i)
10. Bacaan:
اللَّهُمَّ اجْعَلْ فِي قَلْبِي نُوْرًا، وَفِي لِسَانِي نُوْرًا، وَاجْعَلْ فِي سَمْعِي نُورًا، وَاجْعَلْ فِي بَصَرِيْ نُوْرًا، وَاجْعَلْ مِنْ تَحْتِي نُوْرًا، وَاجْعَلْ مِنْ فَوْقِي نُوْرًا، وَعَنْ يَمِيْنِي نُوْرًا، وَعَنْ يَسَارِي نُوْرًا، وَاجْعَلْ أَمَامِي نُوْرًا، وَاجْعَلْ خَلْفِي نُوْرًا، وَاجْعَلْ فِي نَفْسِيْ نُوْرًا، وَأَعْظِمْ لِي نُوْرًا
Ya Allah, jadikanlah cahaya dalam hatiku, cahaya dalam lisanku. Jadikanlah cahaya dalam pendengaranku. Jadikanlah cahaya pada penglihatanku. Jadikanlah cahaya dari bawahku. Jadikanlah cahaya dari atasku, demikian pula cahaya dari kananku dan dari kiriku. Jadikan pula cahaya di depan dan di belakangku. Jadikan pula cahaya pada jiwaku, dan besarkanlah cahaya untukku.”
(Hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Tatkala ia bermalam di rumah bibinya, Maimunah bintu al-Harits radhiyallahu ‘anha di saat giliran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di rumahnya. Ibnu Abbas melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bangkit untuk menunaikan hajatnya. Setelahnya beliau berwudhu seperti wudhu untuk shalat. Kemudian beliau mengerjakan shalat dan di sujudnya beliau membaca zikir tersebut. Diriwayatkan oleh Muslim no. 1791 dan an-Nasa’i no. 1121).
Namun, riwayat yang lain menyebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengucapkan zikir yang hampir sama dengan zikir di atas setelah selesai shalat yakni saat berdoa seperti dalam riwayat Muslim no. 1796, sehingga terkadang beliau melakukan yang ini (membacanya dalam sujud), di kali lain yang itu (saat berdoa setelah shalat lail).
11. Bacaan:
“Ya Allah, sungguh aku berlindung kepada-Mu dengan keridhaan-Mu dari kemurkaan-Mu. Aku berlindung dengan pemaafan-Mu dari hukuman-Mu. Aku berlindung dengan-Mu dari-Mu. Aku tidak dapat menghitung pujian atas-Mu, Engkau sebagaimana yang Engkau puji diri-Mu.” (Hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha, diriwayatkan oleh al-Imam Muslim no. 1090)
Larangan Membaca al-Qur’an saat Sujud
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
ألآ ، وَإِنِّي نُهِيْتُ أَن أَقْرَأَ الْقُرْآنَ رَاكِعًا أَوْ سَاجِدً ا، فَأَمَّا الرُّكُوْعُ فَعَظِّمُوْا فِيْهِ الرَّبَّ عز و جل وَأَمَّا السُّجُوْدُ فَاجْتَهِدُوْا فِيهِ الدُّعَاءَ فَقَمِنٌ أَنْ يُسْتَجَابَ لَكُمْ
Sungguh, aku dilarang untuk membaca al-Qur’an ketika ruku’ dan sujud. Adapun ketika ruku’ maka agungkanlah Rabb di dalamnya. Adapun saat sujud, bersungguh-sungguhlah dalam berdoa karena pantas doa kalian dikabulkan.” (HR. Muslim no. 1074 dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma)
Di saat sujud, diperintahkan bersungguh-sungguh dalam berdoa dan memperbanyaknya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan,
أَقْرَبُ مَا يَكُوْنُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَ هُوَ سَاجِدٌ، فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ فِيْهِ
Sedekat-dekatnya hamba dengan Rabbnya adalah di saat si hamba sedang sujud, maka perbanyaklah doa di dalam sujud.” (HR. Muslim no. 1083 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)
Jumhur (mayoritas) ulama berpendapat dilarang membaca al-Qur’an di saat sujud berdasar hadits dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma di atas. Namun sebagian ulama lain berpandangan bolehnya membaca al-Qur’an. Ini adalah pendapat al-Imam al-Bukhari rahimahullah dan yang
lainnya karena hadits di atas tidak sahih menurut mereka.
Namun, yang benar adalah sebagaimana yang kami katakan, dilarangnya membaca al-Qur’an di
saat sujud karena hadits tersebut sahih sebagaimana diriwayatkan oleh al-Imam Muslim rahimahullah dalam Shahih-nya dan hadits ini dinyatakan sahih juga oleh al-Imam ath-Thabari rahimahullah dan yang lainnya. (Bidayatul Mujtahid, hlm. 122)
Hikmah Larangan Membaca al-Qur’an Saat Sujud
Seseorang yang shalat dilarang membaca al-Qur’an di saat ruku’ dan sujud karena posisi ruku’ dan sujud mengharuskan seseorang merunduk, menyungkurkan punggung dan telungkup, tentunya al-Qur’an tidak sepantasnya dibaca dalam keadaan seperti ini.
Bandingkan saja bila Anda bicara kepada seseorang dalam posisi Anda ruku’ atau sujud, atau Anda bicara dalam posisi berdiri, manakah yang lebih menunjukkan penghormatan kepada yang
diajak bicara? Tentunya bila Anda bicara sambil berdiri. Adapun bila Anda bicara kepada orang lain dalam keadaan Anda ruku’ niscaya orang yang diajak bicara akan berkata, “Orang ini cuek padaku. Ia tidak menaruh perhatian kepadaku.”
Apabila ada orang ingin berbicara tentang seorang alim dan ia berkata, “Wahai orang-orang, kemarilah kalian… Aku hendak menceritakan kepada kalian tentang alim Fulan.” Ketika orang-orang sudah berkumpul, ia pun ruku’ atau sujud, dan bercerita kepada manusia dalam posisi demikian, tentunya hal ini tidak pantas. Karena itulah, ulama berkata, “Karena al-Qur’anul Karim itu memiliki kedudukan yang agung, maka sepantasnya ia dibaca (dalam shalat) saat posisi orang yang shalat tinggi, yaitu ketika berdiri.” (Fathu Dzil Jalali wal Ikram bi Syarhi Bulughil Maram, 3/416-417)
Hukum Shalat Orang yang Membaca al-Qur’an saat Ruku’ atau Sujud
Mayoritas ulama berpendapat shalatnya sah, karena membaca al-Qur’an dilarang dalam ruku’ dan sujud bukan karena al-Qur’annya sebagai sesuatu yang tidak boleh dibaca dalam shalat, namun dilarang karena kedudukan, ketinggian, dan keagungan al-Qur’an tidak pantas dibaca dalam posisi menunduk. Adapun al-Qur’an sendiri adalah ucapan yang disyariatkan dalam shalat dan termasuk zikir-zikir yang masyru’. (al-Fiqhul Islami wa ‘Adillatuhu, 2/961)
Adapun pendapat yang lainnya yang merupakan pendapat al-Imam Ibnu Hazm rahimahullah, shalat yang  dikerjakan tersebut batal karena orang yang shalat itu telah mengucapkan ucapan yang dilarang, sebagaimana bila seseorang berbicara dalam shalat dengan ucapan manusia. (al-Muhalla 2/361; Nailul Authar 2/108)
Bolehnya Berdoa dalam Sujud dengan Doa yang Ada dalam al-Qur’an
Seperti ketika sujud seseorang membaca doa,
رَبَّنَا غْفِرْلَنَا ذُنُوْ بَنَا وَاِسْرَافَنَا فِى اَمْرِنَ وَثَبِّتْ اَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ۝
Wahai Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami, kokohkanlah telapak-telapak kaki kami (tetapkanlah pendirian kami) dan tolonglah kami dari orang-orang kafir.” (Ali Imran: 147)
atau berdoa,
رَبَّنَآاٰتِنَا فِى الدُّنْيَاحَسَنَةً وَفِى الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَا بَ النَّارِ۝
Wahai Rabb kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungi kami dari azab neraka.” (al-Baqarah: 201)
Hal ini dibolehkan karena yang mengucapkannya tidak bersengaja untuk membaca al-Qur’an, tapi ia bermaksud berdoa dengan doa yang ada dalam al-Qur’an, maka doa yang dibacanya termasuk zikir. (asy-Syarhul Mumti’, 3/133)
Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim
———————————————————————-
  1. Untuk keterangan hadits zikir no. 1-5, dan arti zikir no. 3-5, bisa dilihat dalam pembahasan zikir-zikir ruku’ yang telah lalu dalam edisi-edisi Asy-Syariah terdahulu.
  2. Tersembunyi dari orang lain, tetapi tidak tersembunyi bagi Allah Subhanahu wata’ala, karena keduanya sama saja bagi Allah Subhanahu wata’ala. Dia Maha Mengetahui yang rahasia dan tersembunyi.
Azh-Zhahir

Azh-Zhahir

Azh-Zhahir adalah salah satu nama Allah Subhanahu wata’ala. Nama tersebut termaktub dalam surat al-Hadid ayat yang ke-3,
هُوَالْاَوَّلُ وَالْاٰخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ ۚ وَهُوَ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ۝
Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (al-Hadid: 3)
Demikian pula dalam hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, saat beliau memuji Allah Subhanahu wata’ala, beliau mengatakan,
اللَّهُمَّ أَنْتَ الْأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ ، وَأَنْتَ اخْآلِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْء، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُونَكَ شَيْءٌ، اقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ وَأَغْنِنَا مِنَ الْفَقْرِ
Ya Allah, Engkaulah al-Awwal, tiada sesuatu pun sebelummu. Engkaulah al-Akhir, tiada sesuatupun setelah-Mu. Engkau adalah azh-Zhahir, tiada sesuatu pun di atas-Mu, dan Engkau adalah al-Bathin, tiada sesuatu pun yang lebih dekat dari-Mu. Lunaskanlah utang kami dan cukupkanlah kami dari kefakiran.”
Faedah Mengimani Nama Allah azh-Zhahir
Dengan mengimaninya, kita mengetahui salah satu sifat yang Mahaagung, yaitu ketinggian Allah Subhanahu wata’ala di atas seluruh makhluk-Nya. Ini berarti:
1. Allah Subhanahu wata’ala tidak di mana-mana, sebagaimana anggapan sebagian orang, bahkan Allah Subhanahu wata’ala di atas makhluk-Nya.
 2. Allah Subhanahu wata’ala tidak menyatu dengan makhluk-Nya atau sebagian makhluk-Nya, bahkan Allah Subhanahu wata’ala terpisah dari mereka semuanya.
 3. Tidak benar apa yang dikatakan oleh sebagian firqah (kelompok sempalan) yang terpengaruh oleh ilmu kalam dan filsafat bahwa “Allah Subhanahu wata’ala di atas alam, tidak pula di bawahnya; tidak di sebelah kanan alam, tidak di sebelah kirinya; tidak di sebelah depan atau belakangnya; serta tidak bersatu dengan alam, tidak pula terpisah darinya.
Ahlus Sunnah wal Jamaah berkeyakinan bahwa Allah Subhanahu wata’ala ada di atas alam dan seluruh makhluk-Nya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
ءَاَمِنْتُمْ مَنْ فِى السَّمَآءِ اَنْ يَحْسِفَ بِكُمُ الْاَرْضَ فَاِذَاهِيَ تَمُوْرُ۝ اَمْ اَمِنْتُمْ مَنْ فِى السَّمَآءِ اَنْ يُرْسِلَ عَلَيْكُمْ حَاسِبَا ۗ فَسَتَعْلَمُوْنَ كَيْفَ نَذِيْرِ۝
Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga tiba-tiba bumi itu berguncang? Atau apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu? Kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku.” (al-Mulk: 16-17)
Ditulis oleh  : Al-Ustadz Qomar Suaidi
Hukum Wanita Haid Membaca Al-Qur’an

Hukum Wanita Haid Membaca Al-Qur’an

Pertanyaan :
Jika sedang haid, apa bolehseorang wanita menulis Arab atau membaca al-Qur’an, karena ia seorang pengajar di sekolah? (+6285647xxxxxx)
Apabila seorang wanita sedang haid kan tidak boleh memegang al-Qur’an, tetapi kalau membaca tanpa memegangnya, boleh atau tidak? (6285747xxxxxx)
Jawab:
Membaca al-Qur’an bisa dilakukan dengan cara hafalan dan bisa dengan memegang mushaf. Atas dasar itu, jawaban akan kami rinci sesuai dengan kedua kemungkinan tersebut. Yang pertama, membacaal-Qur’an dengan hafalan bagi wanita yang haid.
Hal ini diperbolehkan dengan beberapa alasan berikut :
1. Membaca al-Qur’an temasuk berzikir, dan dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa berzikir setiap saat. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata,
كَانَ النَّبِيُّ صل الله عليه وسلم يَذْكُرُ اللهَ عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ
Adalah Nabi berzikir kepada Allah pada seluruh keadaannya.”( Sahih, HR. Muslim)
2. Tidak ada larangan yang jelas dalam hadits yang sahih, justru ada isyarat yang membolehkannya.
Di antaranya adalah ucapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha ketika hendak melaksanakan haji dan mengalami haid,
هَذَا شَيْءٌ كَتَبَهُ اللهُ عَلَى بَنَاتِ آدَمَ، افْعَلِي مَا يَفْعَلُ الْحَاجُّ غَيْرَ أَنْ لاَ تَطُوفِي بِالْبَيْتِ حَتَّى تَطْهُرِي
Ini adalah sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah pada anak-anak wanita Adam. Lakukanlah apa yang dilakukan seorang yang haji selain thawaf di Ka’bah sampai engkau suci.” (Sahih, HR. Muslim)
Ini adalah pendapat yang dipilih oleh beberapa ulama, di antaranya al-Imam al-Bukhari. Tampaknya, ini juga pendapat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, karena beliau mengatakan, “Tidak mengapa bagi yang junub untuk membaca al-Qur’an.” (Riwayat al-Bukhari secara mu’allaq)
Ini juga pendapat Said bin al-Musayyib dan Dawud. (lihat Shahih al-Bukhari dan al-Mughni)
Memang ada beberapa pendapat yang lain, namun pendapat-pendapat tersebut tidak berdasarkan dalil yang sahih dan tegas. Di antara pendapat yang lain itu adalah (wanita yang sedang haid) tidak boleh membaca al-Qur’an.
Dalil mereka di antaranya,
كَانَ رَسُولُ اللهِ صل الله عليه وسلم يَخْرُجُ مِنَ الْخَ ءَالِ فَيَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَأْكُلُ مَعَنَا اللَّحْمَ وَلَمْ يَكُنْ يَحْجُبُهُ عَنِ الْقُرْآنِ شَيْءٌ لَيْسَ الْجَنَابَةَ
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam keluar dari toilet lalu membacaal-Qur’an dan memakan daging bersama kami. Tidak ada sesuatu pun yang menghalangi beliau dari al-Qur’an selain janabat.” (HR. Abu Dawud, an-Nasa’i, dan lainnya)
Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
تَقْرَأْ الْحَائِضُ وَ الْجُنُبُ شَيْئًا مِنَ الْقُرْآنِ
“Wanita yang haid dan junub tidak boleh membaca al-Qur’an sedikitpun.” (HR. at-Tirmidzi) Akan tetapi, kedua hadits tersebut lemah.
Hadits yang pertama lemah karena salah seorang perawinya yang bernama Abdullah bin Salimah al-Muradi al-Kufi. Beliau adalah shaduq (jujur, hafalannya kurang kuat), namun di akhir umurnya, hafalan beliau berubah menjadi semakin jelek. Asy-Syaikh al-Albani menyatakan hadits ini lemah karena perawi tersebut.
Walaupun Ibnu Hajar menganggapnya hasan, tetapi pendapat beliau lemah, karena beliau sendiri mengakui kelemahan hafalan Abdullah bin Salimah di akhir umurnya. (Tamamul Minnah)
Hadits yang kedua juga lemah karena salah seorang perawinya adalah Ismail bin Ayyas. Apabila beliau meriwayatkan dari selain penduduk Syam, riwayatnya lemah. Padahal, dalam hadits ini ia meriwayatkan dari selain penduduk Syam.
Ibnu Hajar mengatakan, “Adapun hadits Ibnu Umar lemah dari seluruh jalannya.” (Fathul Bari)
Yang kedua, membaca al-Qur’an dari mushaf dengan memegangnya.
Hal ini juga boleh, apabila dia tidak dapat membacanya dengan hafalan, terlebih bagi orang yang sedang belajar atau mengajar.
Namun, sebenarnya dalam masalah ini cukup banyak perselisihan ulama. Masalah ini kembali kepada hokum menyentuh al-Qur’an bagi orang yang berhadats, apakah boleh atau tidak.
Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang hal ini. Di antara mereka ada yang mengharamkan orang yang berhadats kecil atau besar untuk menyentuh mushaf al-Qur’an. Adapula di antara mereka yang membolehkan.
Kami cenderung kepada pendapat yang melarang menyentuh al-Qur’an selain dalam keadaan suci. Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Menyentuh mushaf, dipersyaratkan padanya kesucian dari hadats besar dan hadats kecil, menurut mayoritas para ulama. Hal ini sebagaimana ditunjukkan oleh al-Qur’an dan as-Sunnah. Ini adalah pendapat Salman, Sa’d, dan para sahabat selain mereka….” (26/200)
Beliau juga mengatakan, “Adapun menyentuh mushaf, yang benar adalah wajib untuk berwudhu, sebagaimana pendapat jumhur ulama. Inilah yang dikenal dari para sahabat, Sa’d, Salman, dan Ibnu Umar.”
Ibnu Taimiyah juga mengatakan dalam kitab Mukhtashar Fatawa al-Mishriyyah, tidak diketahui ada sahabat yang lain menyelisihi mereka. Bahkan, ada hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang berbunyi,
لاَ تَمُسَّ الْقُرْآنَ إِلاَّ وَأَنْتَ طَاهِرٌ
Janganlah engkau menyentuh al-Qur’an selain engkau dalam keadaan suci.” (Sahih, lihat al-Irwa’ no. 122)
Memang terdapat kelemahan pada sanad-sanad hadits ini. Namun, seperti kata asy-Syaikh al-Albani, ringkas kata, semua jalan hadits ini tidak lepas dari kelemahan, tetapi kelemahan yang ringan yang tidak ada seorang pun perawi/periwayatnya yang tertuduh sebagai pendusta. Cacatnya adalah kemursalan atau hafalan yang jelek. Di antara hal yang menjadi ketetapan dalam ilmu mushthalah adalah sanad-sanad itu saling menguatkan apabila padanya tidak terdapat seseorang yang tertuduh sebagai pendusta… Maka dari itu, jiwa ini merasa tenteram terhadap kesahihannya.
Lebih-lebih al-Imam Ahmad bin Hanbal telah berhujah dengannya, sebagaimana telah berlalu, dan disahihkan pula oleh teman beliau, Ishaq bin Rahuyah.
Ishaq al-Marwazi mengatakan dalam kitab Masail al-ImamAhmad,“Saya tanyakan (kepada al-Imam Ahmad), ‘Apakah seseorang boleh membaca al-Qur’an tanpa wudhu?’ Beliau rahimahullah menjawab, ‘Ya, tetapi jangan membaca dari mushaf selama tidak berwudhu’.” Selanjutnya Ishaq mengatakan, “(Yang benar adalah) seperti yang dia katakan, berdasarkan riwayat yang sahih dari sabda Nabi, ‘Janganlah menyentuh al-Qur’an selain orang yang suci.’
Demikian pula yang dilakukan oleh para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para tabi’in.” (Irwa’ul Ghalil)
Ada beberapa perbedaan lafadz dalam hadits ini, namun secara global maknanya mirip. Banyak ulama berdalil dengan riwayat ini dalam masalah ini, yakni mereka memahami makna suci dalam hadits tesebut dengan suci dari hadats besar dan kecil. Sebagian ulama memahami bahwa maksud suci di sini adalah seorang mukmin, bukan kafir.
Namun, tampaknya yang kuat bahwa kesucian yang dimaksud adalah dari hadats, lebih-lebih dari kekafiran, karena arah pembicaraan hadits ini tertuju kepada kaum muslimin.
Haid Tidak Sama dengan Junub
Meskipun demikian, diperbolehkan menyentuh mushaf bagi wanita yang haid ketika dibutuhkan. Sebab, kondisi haid tidak sama dengan orang yang junub. Orang yang junub mudah menghilangkan janabatnya, yaitu dengan mandi. Adapun wanita yang haid atau nifas tidak bisa suci dengan mandi, sementara itu waktu haid berhari-hari, apalagi nifas. Oleh karena itu, ketika dia butuh untuk membaca langsung dari mushaf karena tidak hafal, hal ini diperbolehkan. Ini termasuk kebutuhan darurat. Sebab, kondisi seorang yang haid berbeda dengan yang junub, hadats besar janabat dapat dengan mudah dihilangkan dengan mandi besar, sementara itu haid tidak bisa.
Pendapat inilah yang dipilih oleh beberapa ulama mazhab Maliki, sebagaimana tertera dalam kitab Hasyiah ad-Dasuqi dan ash-Shawi ‘ala Syarhil Kabir.
Berikut ini nukilan dari kitab Hasyiah ad-Dasuqi, “(Wanita yang haid dilarang) menyentuh mushaf, maksudnya selama ia bukan sebagai pengajar atau pelajar. Kalau dia adalah pengajar atau pelajar, ia boleh menyuntuhnya.”
Demikian pula ketika dalam kondisi sangat dibutuhkan, seperti menjaga al-Qur’an dari pencuri dan sebagainya. Hal ini sebagaimana kata Ibnu Taimiyyah dalam Majmu’ Fatawa (26/184). Meskipun demikian, memegangnya dengan pelapis lebih utama. Wallahu a’lam.
Gadai, Mahalnya Amanah Di Tengah Umat

Gadai, Mahalnya Amanah Di Tengah Umat

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Amanah kian pudar di zaman sekarang. Utang piutang demikian sering terjadi, demikian sering pula ada pihak-pihak yang terzalimi. Banyak orang yang berutang lantas mangkir dari kewajibanmembayar. Amanah memang mudah diucapkan, namun sulit kala dipraktikkan.
Di zaman yang kejujuran dan sikap amanah menjadi barang mahal, banyak muamalah utang piutang yang menuntut adanya jaminan/agunan untuk memberikan rasa aman bagi pemberi utang (kreditor). Menjadikan suatu barang yang mempunyai nilai harta dalam pandangan syariat sebagai jaminan utang, yang memungkinkan untuk mengambil seluruh atau sebagian utang dari jaminan tersebut, itulah yang disebut gadai (ar-rahn).
Gadai sendiri pernah dipraktikkan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Kepada seorang Yahudi, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam menggadaikan baju perangnya demi membeli sedikit gandum. Tidak berarti Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam tidak dipercaya jika “sekadar” utang tanpa agunan. Namun, perbuatan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam ini mengandung hikmah yang besar.
Tidak hanya sebagai dalil yang memberi keabsahan praktik gadai, namun menunjukkan itikad baik beliau sekaligus kesederhanaan seorang pemimpin umat. Kondisi prihatin dan serba kekurangan yang semestinya dicontoh oleh kita semua, terutama para pemimpin atau pejabat pemerintahan.
Sudah mafhum, tabiat manusia adalah suka menzalimi sesama. Oleh karena itu, Islam pun memagari setiap muamalah (transaksi) dengan aturan-aturan yang indah agar manusia melakukan muamalah secara benar, tidak memakan harta orang lain dengan cara yang batil. Islam mensyariatkan ar-rahn untuk kemaslahatan bersama dan masyarakat secara luas.
Dengan gadai, orang yang menggadaikan/pemberi gadai (ar-rahin) tertutupi kebutuhannya tanpa harus kehilangan harta miliknya. Adapun pemberi utang/pemegang gadai (al-murtahin), selain mendapat ketenangan dan rasa aman atas haknya, dia juga mendapatkan keuntungan syar’i apabila memang ia niatkan untuk mencari pahala dari Allah Subhanahu wata’ala.
Adapun kemaslahatan yang dirasakan masyarakat, yaitu memperluas interaksi, saling memberikan kecintaan dan kasih sayang di antara mereka, serta menjauhkan masyarakat dari praktik bunga yang tidak wajar, ijon, dan praktik riba lainnya.
Gadai, pada asalnya mengikuti (bersifat accessoir) akad (perjanjian) pokoknya berupa utang piutang. Ketika terjadi perjanjian utang piutang, barang/objek gadai (marhun) harus diserahterimakan oleh ar-rahin kepada al-murtahin sejak dilangsungkannya akad. Serah terima (qabdh) ini bahkan menjadi syarat mutlak (inbezitstelling) dari gadai. Dengan serah terima tersebut, agunan akan berada di bawah kekuasaan (secara fisik) al-murtahin.
Namun, agunan dalam syariat gadai adalah amanat, hanya berfungsi sebagai jaminan utang pihak yang menggadai. Murtahin dalam hal ini hanya mempunyai hak kebendaan, tidak boleh memanfaatkan atau menyalahgunakan barang gadai. Dengan kata lain, fungsi marhun adalah untuk menjaga kepercayaan setiap pihak, sehingga murtahin meyakini bahwa rahin beritikad baik untuk mengembalikan pinjamannya.
Penjualan objek gadai (baik dengan cara lelang maupun lainnya) hanyalah upaya terakhir yang dilakukan apabila ada rahin yang wanprestasi (hingga batas waktu yang telah ditetapkan rahin masih belum melunasi pinjamannya).
Alhasil, Islam sangat menjaga agar transaksi gadai benar-benar tidak merugikan salah satu pihak, dengan melarang bunga gadai, mencegah timbulnya biaya-biaya yang tidak disebutkan dalam akad awal, dan sebagainya. Akad gadai pun dilarang mengandung syarat fasid, seperti murtahin mensyaratkan barang jaminan dapat dimanfaatkan tanpa batas. Islam benar-benar menyeimbangkan hak dan kewajiban secara indah di tengah mahalnya sifat amanah di tengah umat.

والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Surat Pembaca Edisi 81

Surat Pembaca Edisi 81

Artikel Terlalu Panjang
Saya membaca lembar Sakinah no. 80/1433 H. Ada artikel-artikel panjang yang bagus dan bermanfaat, tetapi mengapa tidak memakai subjudul? Melelahkan dan capek, seolah-olah tidak ada tempat berhenti. Afwan, jadi malas mau melanjutkan. Mudah-mudahan Allah Subhanahu wata’ala memberikan kemudahan bagi kita semua.
Rusydi Addawwany (0815596xxxxx)
Redaksi :
Sedikit demi sedikit, kami terus berupaya memperbaiki kekurangan-kekurangan kami, diantaranya apa yang Anda sampaikan. Jazakumulahu khairan atas masukannya.

Bismillah, Bukan Bismallah
Di rubrik “Doa”, dalam teks hadits pada lafadz bismillah, tertulis bismallah di empat tempat, apa tidak salah ketik? (0852282xxxxx)
Redaksi :
Benar, ada kesalahan cetak karena ketidaktelitian kami. Jazakumullahu khairan atas koreksinya.

Permata Salaf dengan Teks Arab
Saya pelanggan setia Asy-Syariah. Usul, bagaimana jika pada rubrik “Permata Salaf” dicantumkan pula teks Arabnya, agar kami bisa langsung dapat menghafalnya untuk menguatkan hujah/ceramah/diskusi? Abu Ayyas (0819036xxxxx)
Redaksi :
Jazakumullahu khairan atas masukannya, akan kami pertimbangkan.

Sejarah Tahlilan dan Jenazah
Tolong penjelasan tentang acara tahlilan kematian seseorang yang marak dilakukan, bagaimana hukumnya, sejarahnya, dan siapa yang membawanya. (0819338xxxxx)
Saya usul bagaimana jika Asy-Syariah memuat pembahasan tentang masalah jenazah dari awal sampai akhir, karena banyak yang belum memahami masalah ini. (0856497xxxxx)
Redaksi :
Pembahasan tentang pengurusan jenazah sejak menemui orang yang sedang sakaratul maut hingga takziah pernah dimuat secara berseri pada lembar Sakinah edisi 17 sampai 23. Semoga di waktu mendatang, kami diberi kemudahan untuk mengangkat tema tentang sejarah tahlilan, jenazah, dan ziarah kubur secara lebih lengkap.

SHI Kadang Muncul
Mengapa bahasan tentang sifat shalat Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam kadang ada, kadang tidak ada? Padahal bahasan tersebut cukup penting. Mohon diteruskan tanpa diseling-seling. (0858676xxxxx)
Redaksi :
Sebagaimana sering kami sampaikan, ketika kami dihadapkan pada permasalahan keterbatasan halaman, sejumlah rubrik -terutama yang tidak terkait dengan tema utama- akan“ timbul tenggelam”. Memang menjadi persoalan ketika naskah yang terpaksa turun adalah rubrik bersambung, yang tentu akan mengurangi kenyamanan Pembaca.
Jazakumullahu khairan atas masukannya.
Ketika Agama Digadaikan Demi Kesenangan Sesaat

Ketika Agama Digadaikan Demi Kesenangan Sesaat

Minimnya ilmu, tipisnya iman, dan kuatnya dorongan hawa nafsu kerap kali menutup pintu hati seseorang untuk memahami hakikat kehidupan dunia yang sedang dijalaninya. Harta yang merupakan nikmat dari Allah Subhanahu wata’ala tak jarang menjadi ujian dan sebab jauhnya seseorang dari agama Islam yang suci. Padahal, agama Islam adalah bekal utama bagi seseorang dalam hidup ini. Dengan Islam, seseorang akan berbahagia dan terbimbing dalam menghadapi pahit getirnya kehidupan. Sebaliknya, tanpa Islam, hidup seseorang tiada berarti dan di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.
Anehnya, di antara manusia ada yang menggadaikan Islam -agama dan bekal utamanya- demi kesenangan dunia yang sesaat. Betapa meruginya orang itu. Dia akan menghadap Allah Subhanahu wata’ala di hari kiamat dengan tangan hampa dan terhalang dari kebahagiaan yang hakiki.
Hakikat Kehidupan Dunia
Tak bisa dimungkiri bahwa kehidupan dunia dikitari oleh keindahan dan kenikmatan (syahwat). Semuanya dijadikan indah pada pandangan manusia, sehingga setiap orang mempunyai kecondongan kepadanya sesuai dengan kadar syahwat yang menguasainya.
Itulah kesenangan hidup di dunia, dan sesungguhnya di sisi Allah Subhanahu wata’ala lah tempat kembali yang baik (al-Jannah). Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَآبِ
Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada segala apa yang diingini (syahwat), yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (al-Jannah).” (Ali Imran: 14)
Namun, betapa pun menyenangkan kehidupan dunia itu, sungguh ia adalah kehidupan yang fana. Semuanya bersifat sementara. Tiada makhluk yang hidup padanya melainkan akan  meninggalkannya. Tiada pula harta yang ditimbun melainkan akan berpisah dengan pemiliknya. Keindahan dunia yang memesona dan kenikmatannya yang menyenangkan itu pasti sirna di kala Allah Subhanahu wata’ala menghendakinya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah diantara kalian serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur, dan diakhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (al-Hadid: 20)
إِنَّمَا مَثَلُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الْأَرْضِ مِمَّا يَأْكُلُ النَّاسُ وَالْأَنْعَامُ حَتَّىٰ إِذَا أَخَذَتِ الْأَرْضُ زُخْرُفَهَا وَازَّيَّنَتْ وَظَنَّ أَهْلُهَا أَنَّهُمْ قَادِرُونَ عَلَيْهَا أَتَاهَا أَمْرُنَا لَيْلًا أَوْ نَهَارًا فَجَعَلْنَاهَا حَصِيدًا كَأَن لَّمْ تَغْنَ بِالْأَمْسِ ۚ كَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniaw itu adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah tanam-tanaman bumi dengan suburnya karena air itu, diantaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya (dapat memetik hasilnya), tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami diwaktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanam-tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang yang berpikir.” (Yunus: 24)
Sudah sepatutnya setiap pribadi muslim memahami hakikat kehidupan dunia, agar tidak salah jalan dalam menempuhnya. Lebih-lebih, dunia bukanlah akhir seorang hamba dalam menuju Rabb-nya. Masih ada dua fase kehidupan berikutnya: kehidupan di alam kubur (barzakh) dan kehidupan di alam akhirat.
Di alam kubur (barzakh), setiap orang akan mendapatkan nikmat kubur atau azab kubur, sesuai dengan perhitungan amalnya di sisi Allah Subhanahu wata’ala. Setelah itu, di alam akhirat, masing-masing akan menghadap Allah Subhanahu wata’ala seorang diri, mempertanggungjawabkan segala amal perbuatan yang dikerjakannya selama hidup di dunia, dan akan mendapatkan balasan yang setimpal (dari Allah Subhanahu wata’ala) atas segala apa yang diperbuatnya itu. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الْإِنسَانُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَىٰ رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلَاقِيهِ
Wahai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja (berbuat) dengan penuh kesungguhan menuju Rabbmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya (untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatan yang dilakukan).” (al-Insyiqaq: 6)
فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ{}وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
Barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah(semut kecil) pun, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejelekan seberat zarrah (semut kecil) pun, niscaya dia akan melihat balasannya.” (az-Zalzalah: 7-8)
Tiada Hidup Tanpa Agama Islam
Demikianlah kehidupan dunia dengan segala liku-likunya. Kehidupan yang bersifat sementara, namun sangat menentukan bagi dua kehidupan berikutnya; di alam kubur (barzah) dan di alam akhirat. Sebab, segala perhitungan yang terjadi pada dua kehidupan tersebut sangat bergantung pada amal dan bekal yang telah dipersiapkan oleh setiap hamba pada kehidupan dunianya.
Maka dari itu, tiada bekal yang dapat mengantarkan kepada kebahagiaan hakiki pada dua kehidupan tersebut selain agama Islam, yang terangkum dalam takwa, iman, dan amal saleh. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ
Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa….” (al- Baqarah: 197)
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Barangsiapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan beriman, sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (an-Nahl: 97)
Betapa pentingnya peran Islam yang dibawa oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dalam kehidupan ini. Agama satu-satunya yang sempurna dan diridhai oleh Allah Subhanahu wata’ala. Betapa bahagianya orang yang dikaruniai keteguhan (istiqamah) di atas agama Islam yang mulia; dengan berupaya memahaminya sesuai dengan pemahaman Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya, serta menjadikannya sebagai pedoman dalam hidupnya.
Sebaliknya, betapa celakanya orang yang mencari selain agama Islam sebagai bekal hidupnya. Segala upayanya tidak diterima di sisi Allah Subhanahu wata’ala, dan di akhirat kelak termasuk orang-orang yang merugi. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.” (Ali Imran: 85)
Oleh sebab itu, tidaklah mengherankan kita apabila Allah Subhanahu wata’ala mengingatkan orang-orang yang beriman agar berpegang teguh dengan agama yang mulia ini dan meninggal dunia sebagai pemeluknya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dengan sebenar-benar takwa dan janganlah sekali-kali meninggal dunia melainkan sebagai pemeluk agama Islam.” (Ali Imran: 102)
Mengapa Harus Menggadaikan Agama?
Kehidupan dunia adalah medan tempaan dan ujian (darul ibtila’) bagi setiap hamba yang menjalaninya. Masing-masing akan mendapatkan ujian dari Allah Subhanahu wata’ala sesuai dengan kadar keimanannya. Terkadang dalam bentuk keburukan dan terkadang pula dalam bentuk kebaikan (kenikmatan). Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya), dan hanya kepada Kamilah kalian dikembalikan.” (al-Anbiya’: 35)
Ujian dalam bentuk keburukan bermacam-macam. Adakalanya berupa ketakutan, kelaparan, kekurangan harta (kemiskinan), kekurangan jiwa (wafatnya orang-orang yang dicintai), kekurangan buah-buahan (bahan makanan), dan yang semisalnya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
“Sungguh akan Kami berikan ujian kepada kalian, dalam bentuk sedikit dari ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepadaorang-orang yang bersabar.” (al-Baqarah: 155)
Ujian dalam bentuk kebaikan juga bermacam-macam. Adakalanya berupa kenikmatan, harta, anak-anak, kedudukan, dan yang semisalnya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِندَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ
“Ketahuilah, sesungguhnya harta dan anak-anak kalian itu (sebagai) ujian, dan di sisi Allahlah pahala yang besar.” (al-Anfal: 28)
Beragam ujian itu diberikan oleh Allah Subhanahu wata’ala kepada para hamba tiada lain agar tampak jelas di antara para hamba tersebut siapa yang jujur dalam keimanannya dansiapa pula yang berdusta, siapa yang selalu berkeluh kesah dan siapa pula yang bersabar. Demikianlah, Allah Subhanahu wata’ala Dzat Yang Maha Adil lagi Maha Bijaksana menghendakinya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
الم, {}أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ{} وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ
“Alif Laam Miim, apakah manusia mengira untuk dibiarkan berkata, ‘Kami telah beriman’ sedangkan mereka tidak diberi ujian? Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang jujur dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (al-Ankabut: 1-3)
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata, “Allah Subhanahu wata’ala mengabarkan bahwa Dia akan memberikan beragam ujian kepada para hamba-Nya, agar tampak jelas (di antara para hamba tersebut) siapa yang jujur (dalam keimanannya) dan siapa pula yang berdusta, siapa yang selalu berkeluh kesah, dan siapa pula yang bersabar.
Demikianlah sunnatullah. Sebab, manakala keadaan suka semata yang selalu mengiringi orang yang beriman tanpa adanya tempaan dan ujian, maka akan muncul ketidakjelasan (militansi/semangat keislamannya, –pen.), dan ini tentu saja bukanlah suatu hal yang positif. Sementara itu, hikmah Allah Subhanahu wata’ala menghendaki adanya sinyal pembeda antara orang-orang yang baik (ahlul khair) dan orang-orang yang jahat (ahlusy syar). Itulah fungsi tempaan dan ujian, bukan untuk memupus keimanan orang-orang yang beriman, bukan pula untuk menjadikan mereka lari dari Islam. Sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala tidak akan menyia-nyiakan keimanan orang-orang yang beriman.”(Taisirul Karimirrahman, hlm. 58)
Berbahagialah orang-orang yang diberi taufik dan hidayah oleh Allah Subhanahu wata’ala saat ujian tiba. Manakala ujian keburukan yang tiba, dia hadapi dengan penuh kesabaran. Manakala ujian kebaikan, dihadapinya dengan penuh syukur kepada Allah Subhanahu wata’ala.
Adapun orang-orang yang tidak diberi taufik dan hidayah oleh Allah Subhanahu wata’ala saat ujian tiba, agama menjadi taruhannya. Iman dan Islam yang merupakan modal utama dalam hidup ini digadaikannya demi kesenangan sesaat. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِم،ِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِيْ كَافِرًا وَيُمْسِيْ مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا، يَبِيْعُ دِيْنَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا
Bergegaslah kalian untuk beramal, (karena akan datang) ujian-ujian ibarat potongan-potongan malam yang gelap. (Disebabkan ujian tersebut) di pagi hari seseorang dalam keadaan beriman dan sore harinya dalam keadaan kafir, di sore hari dalam keadaan beriman dan keesokan harinya dalam keadaan kafir. Dia menjual agamanya dengan sesuatu dari (gemerlapnya) dunia ini.” (HR. Muslim no. 118 dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)
Hadits di atas mencakup seluruh pribadi umat ini, baik yang miskin maupun yang kaya. Yang miskin menjual agamanya dan menggadaikan imannya, karena tak sabar akan ujian kekurangan (kemiskinan) yang dideritanya. Cukup banyak contoh kasusnya di masyarakat kita. Terkadang dengan iming-iming jabatan, terkadang dengan pemberian modal usaha atau pinjaman lunak, terkadang dengan pemberian rumah atau tempat tinggal, terkadang dengan pembagian sembako, bahkan terkadang hanya dengan beberapa bungkus mi instan.
Adapun yang kaya, dia menjual agamanya dan menggadaikan imannya karena kesombongan dan hawa nafsunya. Ia tidak mau mensyukuri karunia Allah Subhanahu wata’ala yang diberikan kepadanya. Bahkan, ia merasa bahwa semua itu berkat kepandaian dan jerih payahnya semata. Ingatkah Anda tentang kisah Qarun, seorang hartawan dari Bani Israil (anak paman Nabi Musa ‘alaihis salam) yang menggadaikan agama dan imannya karena kesombongan dan hawa nafsunya? Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
إِنَّ قَارُونَ كَانَ مِن قَوْمِ مُوسَىٰ فَبَغَىٰ عَلَيْهِمْ ۖ وَآتَيْنَاهُ مِنَ الْكُنُوزِ مَا إِنَّ مَفَاتِحَهُ لَتَنُوءُ بِالْعُصْبَةِ أُولِي الْقُوَّةِ إِذْ قَالَ لَهُ قَوْمُهُ لَا تَفْرَحْ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْفَرِحِينَ
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِن كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ عِندِي ۚ أَوَلَمْ يَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ أَهْلَكَ مِن قَبْلِهِ مِنَ الْقُرُونِ مَنْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُ قُوَّةً وَأَكْثَرُ جَمْعًا ۚ وَلَا يُسْأَلُ عَن ذُنُوبِهِمُ الْمُجْرِمُونَ
فَخَرَجَ عَلَىٰ قَوْمِهِ فِي زِينَتِهِ ۖ قَالَ الَّذِينَ يُرِيدُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا يَا لَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِيَ قَارُونُ إِنَّهُ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ
وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ اللَّهِ خَيْرٌ لِّمَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا وَلَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الصَّابِرُونَ
Sesungguhnya Qarun termasuk dari kaum Nabi Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah karuniakan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya, ‘Janganlah engkau terlalu bangga diri (sombong), sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang membanggakan diri (sombong). Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.’ Qarun pun menjawab, ‘Sesungguhnya aku dikaruniai harta tersebut dikarenakan ilmu (kepandaian)-ku.’ Tidakkah Qarun tahu, sungguh Allah telah membinasakan umat-umat sebelum dia yang jauh lebih kuat darinya dan lebih banyak dalam mengumpulkan harta? Dan tak perlu dipertanyakan lagi orang-orang jahat itu tentang dosa-dosa mereka. Maka (suatu hari) tampillah Qarun di tengah-tengah kaumnya dengan segala kemegahannya, lalu berkatalah orang-orang yang tertipu oleh kehidupan dunia‘ ,Duhai kiranya kami dikaruniai (harta) seperti Qarun, sungguh dia telah mendapatkan keberuntungan yang besar.’ Adapun orang-orang yang berilmu, mereka mengatakan, ‘Celakalah kalian, sesungguhnya karunia Allah Subhanahu wata’ala itu lebih baik bagi orang-orang yang  beriman dan beramal saleh, namun tidaklah pahala itu diperoleh kecuali oleh orang-orang yang sabar’.” (al-Qashash: 76-80)
Al-Imam al-Qurthubi rahimahullah berkata, “Allah Subhanahu wata’ala menerangkan (dalam ayat-ayat tersebut, –pen.) bahwa Qarun telah diberi perbendaharaan harta yang amat banyak hingga ia lupa diri, dan semuayang dimilikinya itu ternyata tidak mampu menyelamatkannya dari azab Allah Subhanahu wata’ala, sebagaimana yang telah dialami (sebelumnya, –pen.) oleh Fir’aun.” (Tafsir al-Qurthubi)
Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah ketika menafsirkan ayat ke-77 dari surat al-Qashash tersebut, mengatakan, “Pergunakanlah apa yang telah dikaruniakan oleh Allah Subhanahu wata’ala kepadamu, yaitu harta yang banyak dan nikmat yang tak terhingga itu, untuk ketaatan kepada Rabb-mu dan untuk mendekatkan diri kepada-Nya dengan beragam amal saleh, yang diharapkan dengannya mendapatkan pahala, baik di dunia maupun di akhirat. (Janganlah kamu melupakan bagianmu dari [kenikmatan] duniawi, -pen.) yang Allah Subhanahu wata’ala halalkan bagimu, yaitu makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, dan menikahi wanita. Menjadi keharusan bagimu untuk menunaikan hak Rabb-mu, hak dirimu, keluargamu, dan orang-orang yang mengunjungimu. Tunaikanlah haknya masing-masing. Berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah Subhanahu wata’ala telah berbuat baik kepadamu. Janganlah kamu berambisi dengan kekayaan yang ada untuk berbuat kerusakan di (muka) bumi dan berbuat kejahatan kepada sesama. Sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Tafsir Ibnu Katsir)
Dari paparan di atas, jelaslah bagi kita bahwa siapa pun yang menjalani kehidupan dunia ini pasti akan menghadapi berbagai ujian. Saat itulah seseorang akan mengalami pergolakan dan perseteruan dalam jiwanya. Hasilnya akhirnya, apakah bisa istiqamah di atas iman dan Islam, ataukah ia justru menggadaikannya demi kesenangan sesaat.
Maka dari itu, ketika ujian itu tiba, tiada kata yang indah yang patut diucapkan selain dzikrullah (berzikir dengan mengingat Allah Subhanahu wata’ala), karena dengan zikrullah hati akan menjadi tenteram sehingga dimudahkan untuk memilih jalan kebenaran. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah (zikrullah). Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (ar-Ra’d: 28)
Demikian pula, tiada perbuatan yang paling berguna bagi keselamatan diri ini selain kesungguhan dalam beramal saleh (termasuk menuntut ilmu agama), sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu di atas.
Lebih dari itu, peran doa sangat penting dalam membantu keistiqamahan seseorang di atas iman dan Islam, kokoh di atas agama Allah Subhanahu wata’ala dan tak mudah menggadaikannya demi kesenangan sesaat. Di antara doa yang diajarkan oleh Allah Subhanahuwata’ala dalam al-Qur’an adalah,
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
“Tunjukilah kami jalan yang lurus!” (al-Fatihah: 6)
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ
Wahai Rabb kami, Janganlah Engkau sesatkan hati-hati kami setelah Engkau beri kami hidayah dan karuniakanlah kepada kami kasih sayang dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau adalah Dzat Yang Maha Pemberi.” (Ali Imran: 8)
Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam juga selalu berdoa,
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِيْنِكَ
“Wahai Dzat Yang Maha Membolak-balikkan hati, kokohkanlah hatiku ini diatas agama-Mu.” (HR. Ibnu Abi Ashim dalam as-Sunnah no. 232 dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Zhilalul Jannah)
Akhir kata, semoga taufik dan hidayah Allah Subhanahu wata’ala selalu mengiringi kita dalam kehidupan dunia ini, sehingga dapat istiqamah di atas agama-Nya yang mulia serta berpijak di atas manhaj Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya. Dengan satu harapan, mendapatkan kesudahan terbaik dalam hidup ini (husnul khatimah) dan dimasukkan ke dalam Jannah-Nya yang dipenuhi dengan kenikmatan. Amin.
Ditulis oleh al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi)
Seputar Hukum Gadai

Seputar Hukum Gadai

Definisi Gadai
Dalam bahasa Arab, gadai disebut rahn (رَهْن), yang secara bahasa berarti sesuatu yang tetap atau tertahan. Hal ini seperti dalam firman Allah Subhanahu wata’ala :
كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ
Tiap-tiap manusia terikat dengan apayang dikerjakannya.” (ath-Thur : 21)
Adapun dalam ilmu fikih, rahn adalah istilah bagi “pemberian harta sebagai jaminan atas suatu utang.” Barang atau harta yang dijadikan gadai juga disebut rahn. (Fathul Bari 5/140, al-Mughni 6/443)
Hikmah dan Tujuan Gadai
Tujuan gadai adalah untuk melunasi utang dengan nilainya apabila penanggungnya tidak dapat membayarnya. Adapun hikmah adanya gadai adalah menjaga harta kekayaan dan demi keamanan dari hilang (ditipu). Ini termasuk rahmat Allah Subhanahu wata’ala kepada para hamba-Nya, yang membimbing mereka kepada sesuatu yang mengandung kebaikan bagi mereka. (lihat al-Mughni 6/443 dan al-Mulakhasal-Fiqhi 2/53)
Hukum Gadai
Hukum gadai adalah jaiz atau boleh, berdasarkan al-Qur’an, al-Hadits, ijma’,  dan qiyas. Dalam al-Qur’an, Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
وَإِن كُنتُمْ عَلَىٰ سَفَرٍ وَلَمْ تَجِدُوا كَاتِبًا فَرِهَانٌ مَّقْبُوضَةٌ ۖ فَإِنْ أَمِنَ بَعْضُكُم بَعْضًا فَلْيُؤَدِّ الَّذِي اؤْتُمِنَ أَمَانَتَهُ وَلْيَتَّقِ اللَّهَ رَبَّهُ ۗ وَلَا تَكْتُمُوا الشَّهَادَةَ ۚ وَمَن يَكْتُمْهَا فَإِنَّهُ آثِمٌ قَلْبُهُ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ
Dan jika kamu dalam perjalanan (dan bermuamalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang)1. Akan tetapi, jika sebagian kamu memercayai sebagian yang lain, hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (utangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Rabbnya; dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan persaksian. Dan barangsiapa yang menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa kalbunya; dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (al-Baqarah: 283)
Adapun dalam al-Hadits, Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,
اشْتَرَى رَسُولُ اللهِ -صل الله عليه وسلم- مِنْ يَهُودِيٍّ طَعَامًا بِنَسِيئَةٍ، وَرَهَنَهُ دِرْعَهُ
“Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam membeli makanan dari seorang Yahudi dengan tempo, lalu beliau menjadikan baju besinya sebagai gadainya.” (Sahih, HR. al-Bukhari dan Muslim)
Adapun ijma’, Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan bahwa kaum muslimin secara umum sepakat tentang bolehnya gadai. (al-Mughni, 6/444)
Adapun qiyas, asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “… Karena gadai adalah sesuatu yang dibutuhkan, baik kebutuhan penggadai/murtahin maupun pegadai/rahin, maka qiyas dan pandangan yang benar menuntut adanya gadai.” (Mudzakkiratul Fiqh)
Dalam Safar Saja atau Boleh Saat Mukim?
Gadai diperbolehkan dalam keadaan mukim sebagaimana bolehnya dalam keadaan safar, walaupun konteks ayat tersebut di atas terkait dengan safar. Hal ini tidak lain karena gadai lebih dibutuhkan dalam keadaan safar karena biasanya saat semacam itu seseorang sulit mendapatkan saksi atau penulis sehingga membutuhkan jaminan berupa barang gadaian. Hal ini tidak berarti gadai tidak dibolehkan di saat mukim apabila mereka memang membutuhkannya.
Dalam Tafsir as-Sa’di disebutkan, “Karena tujuan gadai adalah untuk menjamin kepercayaan, hal itu diperbolehkan baik saat mukim maupun safar. Allah Subhanahu wata’ala hanya menyebutkan safar (dalam ayat) karena saat semacam itu biasanya dibutuhkan gadai disebabkan tidak adanya penulis (perjanjian). Ini semua bilamana pemilik hak tersebut menyukai untuk mencari kepercayaan atas hartanya. Namun, ketika pemilik harta merasa aman terhadap orang yang berutang dan menyukai untuk bertransaksi dengannya tanpa gadai, hendaknya yang punya tanggungan menunaikan utangnya secara utuh tanpa menzalimi atau mengurangi haknya. ‘Danbertakwalahkepada Allah, Rabb-Nya’ dalam hal menunaikan hak dan membalas orang yang telah berprasangka baik kepadanya dengan kebaikan pula.”
Perbuatan Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam membeli gandum dari orang Yahudi dengan tempo lalu memberinya baju besi beliau sebagai gadai juga menunjukkan bolehnya gadai dalam keadaan mukim, karena saat itu beliau berada di Madinah.
Istilah-Istilah Terkait Gadai
Dalam proses pergadaian ada beberapa istilah yang harus kita ketahui terlebih dahulu, karena  istilah-istilah tersebut akan kerap terulang. Selain itu, istilah-istilah tersebut perlu dipahami dengan tepat agar kita dapat memahami masalah dengan benar. Di antara istilah-istilah tersebut adalah:
Menggadai : menerima barang sebagai tanggungan uang yang dipinjamkan kepada pemilik barang tersebut. Contoh, “Siapa yang menggadai sawahmu?” Dalam ungkapan bahasa Arab, irtahana (اِرْتَهَنَ)
Menggadaikan : menyerahkan barang sebagai tanggungan utang. Contoh, “Ia menggadaikan gelang dan kalung istrinya untuk berjudi.” Dalam ungkapan bahasa Arab, arhana (اَرْهَنَ)
Bergadai : meminjam uang dengan menyerahkan barang sebagai tanggungan. Contoh, “Ia terpaksa bergadai untuk membayar kontrak rumahnya.” Dalam ungkapan bahasa Arab, rahana (رَهَنَ)
Pegadai : orang yang bergadai. Dalam ungkapan bahasa Arab, rahin (رَاهِنٌ)
Penggadai: orang yang menggadai. Contoh, “Para penggadai itu makin menjerat petani.” Dalam bahasa Arab, murtahin ( مُرْتَهِنٌ ). (lihat dan al-Mu’jamul Wasith)
Ditulis oleh  al Ustadz Qomar Suaidi, Lc.
__________________________________________________________
1. Yakni barang gadaian
Ketentuan Tentang Pegadai, Penggadai, Dan barang Gadaian

Ketentuan Tentang Pegadai, Penggadai, Dan barang Gadaian

Rukun Gadai
Para fuqaha berbeda pendapat dalam hal menyebutkan jumlah rukun-rukun gadai. Ada yang menyebut tiga, ada yang menyebut empat, ada pula yang menyebut lima. Namun, rincinya bisa kita sebut lima.
1. Shighat (ungkapan) ijab dan qabul, penyerahan dan penerimaan.
2. Rahin, pegadai atau pemberi gadai.
3. Murtahin, penggadai atau penerima gadai.
4. Marhun, barang yang digadaikan.
5. Marhun bihi, pinjaman atau piutang.

1. Syarat-syarat pegadai/rahin dan penggadai/murtahin
Disyaratkan pada setiap pihak bahwa keduanya adalah seseorang yang secara syar’i diperbolehkan membelanjakan harta (ja’izuttasharruf), yaitu -menurut asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah –orang yang merdeka, baligh, berakal, dan rasyid (mampu membelanjakan harta dengan benar). Jadi, setiap pihak harus memiliki empatsyaratini.(asy-Syarhul Mumti’)
Dengan demikian, budak tidak boleh bergadai kecuali apabila diizinkan oleh tuannya. Demikian juga anak kecil yang belum baligh, orang gila atau yang hilang akal, serta safih (yang tidak bisa membelanjakan harta dengan benar), tidak diperbolehkan bergadai.
Persyaratan ini diperlukan karena akad pergadaian ini adalah salah satu bentuk pembelanjaan harta dan disyaratkan adanya saling ridha, yang itu tidak akan terwujud melainkan dari orang yang memiliki sifat tersebut. (Manarus Sabil, 2/84, as-SailulJarrar, 3/271)
2. Dibolehkan bergadai pada orang kafir
Bukan merupakan syarat seorang pegadai atau penggadai harus seorang muslim, karena Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam sendiri telah melakukan pergadaian dengan orang Yahudi yang bernama Abu Syahm, seperti disebutkan oleh hadits Aisyah pada pembahasan sebelumnya. Demikian pula sahabat Muhammad bin Maslamah radhiyallahu ‘anhu mengungkapkan keinginannya bergadai dari seorang Yahudi yang bernama Ka’b bin al-Asyraf dengan menggadaikan senjatanya untuk mendapatkan satu atau dua wasaq1 makanan, sebagaimana dalam riwayat al-Bukhari no. 2510.
Al-Imam al-Bukhari rahimahullah juga membuat bab khusus terkait masalah ini dengan judul “Bab ar-Rahn ‘indal Yahudi wa Ghairihim” (Bab Gadai kepada Orang-Orang Yahudi dan Selain Mereka), lalu menyebutkan kisah pergadaian Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam dengan Abu Syahm. Maksud dari bab ini adalah bolehnya bermuamalah dengan selain muslimin, demikian dijelaskan oleh Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul Bari (5/145).
Beliau rahimahullah juga mengatakan bahwa hadits itu mengandung pelajaran bolehnya bermuamalah dengan orang-orang kafir pada sebuah transaksi  yang belum jelas haramnya, dalam keadaan keyakinan mereka (orang kafir) tidak berpengaruh. Demikian juga muamalah sesama mereka (yang haram seperti riba juga tidak berpengaruh, -red.). Diambil faedah pula dari hadits tersebut tentang bolehnya bertransaksi dengan seseorang yang mayoritas hartanya haram. (Fathul Bari, 5/141)
Mungkin tebersit dalam benak kita, mengapa Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam tidak bertransaksi dengan para sahabat yang mampu? Ibnu Hajar rahimahullah menjawab, “Ulama mengatakan bahwa hikmah beralihnya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dari bermuamalah dengan para sahabat yang berkecukupan ke transaksi dengan Yahudi adalah untuk menerangkan bolehnya hal tersebut (dari sisi hukum, –red.), atau karena mereka saat itu juga sedang tidak memiliki makanan yang lebih, atau khawatir mereka tidak mau menerima uang atau ganti dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam dan beliau tidak mau membebani mereka.” (Fathul Bari, 5/141—142)
3. Syarat rahn, barang yang digadaikan
Dipersyaratkan pada barang yang digadaikan hal-hal berikut.
    • Diketahui barangnya, jenis, ukuran, dan sifatnya. Maka dari itu, yang belum diketahui barangnya atau jenis, ukuran, dan sifatnya, tidak boleh digadaikan. (al-Mughni, 6/467)
    • Barang tersebut dimiliki oleh pegadai/rahin atau diizinkan baginya untuk menggadaikannya walaupun bukan miliknya.
  • Barang tersebut adalah sesuatu yang boleh diperjualbelikan, seperti senjata, hewan, baju besi, dan sebagainya. Adapun menggadaikan anjing atau khamr tidak diperbolehkan karena tidak diperbolehkan memperjualbelikannya. Sebab, tujuan gadai adalah sebagai jaminan untuk membayar utang dari nilainya nanti saat pegadai tidak dapat membayar utangnya. Terkecuali dari syarat ini adalah buah-buahan sebelum tampak matangnya dan biji-bijian sebelum mengeras. Walaupun dalam kondisi semacam ini tidak boleh diperjualbelikan, tetapi boleh menjadi barang gadaian. Apabila utang telah dibayar sebelum jatuh tempo, lepaslah buah-buahan tersebut dari pergadaian. Apabila buah-buahan tersebut matang sebelum jatuh tempo, bisa dijual terlebih dahulu untuk dijadikan jaminan/gadai. Walaupun ada perbedaan pendapat tentang pengecualian ini, yang menurut asy-Syafi’i tidak boleh, namun yang rajih adalah boleh. (lihat al-Mughni, 6/455, 466, 461; al-Muhalla, 8/89; MudzakkirahFiqih, 2/339, al-Mulakhasal-Fiqhi, 2/53; Manarus Sabil, 2/84; dan Shahih al-Bukhari “Kitab ar-Rahn”)

4. Gadai dengan barang yang dimiliki secara berserikat
Atas dasar keterangan di atas, maka diperbolehkan menggadaikan barang yang dimiliki pegadai/rahin secara berserikat dengan yang lain. Sebab, tujuan gadai adalah untuk melunasi utang dengan harganya, dan barang yang dimiliki secara berserikat bisa dijual. Ini adalah pendapat Malik, asy-Syafi’i, al-Auza’i, dan yang lain. (al-Mughni, 6/456)
5. Rahn dalam bentuk barang yang cepat rusak
Barang yang cepat rusak semacam buah-buahan, baik yang membutuhkan pengeringan -seperti anggur dan kurma- maupun yang tidak -seperti semangka- apabila perlu diawetkan dengan cara dijemur karena waktu pembayaran belum tiba, biaya penjemuran ditanggung oleh pegadai/rahin. Adapun yang tidak mungkin dikeringkan dan dikhawatirkan rusak, barang tersebut dijual dan hasil penjualannya menjadi pengganti barang gadaian sebelumnya. (al-Mughni 6/459 dan al-Muhalla 8/100)
6. Gambaran gadai dengan sebab beli atau sebab utang
Gadai bisa terjadi karena pembelian barang yang pembayarannya bersifat tempo, seperti yang dilakukan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dengan seorang Yahudi. Bisa jadi pula karena berutang atau meminjam, yaitu seseorang berutang lalu memberikan jaminan berupa barang gadaian.
7. Gadai adalah lazim atas pegadai/rahin
Lazim yang dimaksud disini adalah sebuah istilah dalam transaksi syar’i untuk menyebut sebuah transaksi yang bersifat tetap dan tidak boleh dibatalkan selain dengan kerelaan dua belah pihak yang bertransaksi.
Rahn/gadai bagi penggadai/murtahin adalah hak baginya. Adapun bagi pegadai/rahin, itu adalah tanggungan baginya. Pemilik hak (murtahin) boleh menggugurkan atau merelakan tanpa kerelaan pihak yang lain (rahin), sedangkan penanggung hak (rahin) tidak boleh membatalkannya selain dengan kerelaan pihak yang lain.” (Mudzakkirah Fiqih 2/340)
8. Menjadi lazim sejak qabdh (dikuasai) oleh penggadai ataukah sejak akad?
Sejak kapankah ditetapkannya barang sebagai barang gadaian? Apakah sejak terjadinya akad atau sejak qabdh, yakni diterimanya barang tersebut oleh penggadai/murtahin?
Dalam hal ini terjadi perbedaan pendapat. Pendapat yang lebih kuat adalah menjadi lazim sejak terjadinya akad atas adanya pergadaian di antara dua belah pihak. Alasannya, pergadaian adalah salah satu transaksi syar’i atau akad, dan ayat-ayat menunjukkan wajibnya kita menepati akad dan janji, semacam firman Allah Subhanahu wata’ala,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ ۚ أُحِلَّتْ لَكُم بَهِيمَةُ الْأَنْعَامِ إِلَّا مَا يُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ غَيْرَ مُحِلِّي الصَّيْدِ وَأَنتُمْ حُرُمٌ ۗ إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ مَا يُرِيدُ
Hai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu. Dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu. (Hal itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji. Sesungguhnya Allah menetapkan hokum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya.” (al-Maidah: 1)
وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ ۖ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْئُولًا
Dan penuhilah janji, sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya.” (al-Isra’: 34)
Alasan lainnya adalah kewajiban menunaikan amanat. Keberadaan barang gadaian yang masih bersama pegadai/rahin adalah amanat di tangannya dari penggadai/murtahin. Ini adalah pendapat yang dipegangi oleh al-Imam Malik rahimahullah, dan asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah di masa ini.
Sementara itu, pendapat lainnya adalah barang gadaian baru berstatus tetap sebagai barang gadaian apabila telah diqabdh (diterima) oleh murtahin. Ini adalah pendapat Abu Hanifah dan asy-Syafi’i rahimahumallah.
Di antara buah perbedaan ini adalah ketika barang gadaian itu masih di tangan pegadai, bolehkah ia menjualnya?
Menurut pendapat pertama, tidak boleh, karena barang tersebut telah berstatus menjadi barang gadaian. Adapun menurut pendapat kedua, boleh, karena belum berstatus sebagai barang gadaian. Pendapat pertama lebih kuat. (Mudzakkirah Ushul Fiqh, 2/340 dan al-Mughni, 6/445)
9. Terus diqabdh oleh murtahin, apakah disyaratkan dalam tetapnya status barang gadaian?
Apabila dikatakan sebagai syarat, ketika barang gadaian itu dipinjam oleh pegadai berarti batallah pergadaian. Terjadi perbedaan pendapat para ulama dalam masalah ini.
    1. Sebagian mereka menjadikannya syarat sahnya pergadaian, dan ini adalah pendapat Abu Hanifah, Malik, Ahmad, Ibnu Hazm, dan yang sependapat dengan mereka.
  • Hal itu bukan syarat sehingga apabila suatu saat barang tersebut dipinjam oleh pegadai dan penggadai mengizinkannya, pergadaian tidak batal. Ini adalah pendapat al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah, dan di antara ulama masa ini yang berpendapat demikian adalah asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah.

Penulis sendiri cenderung kepada pendapat kedua, dengan alasan:
  • Tetapnya status barang itu menjadi barang gadaian adalah dengan akad walaupun belum diqabdh, menurut pendapat yang kuat -sebagaimana uraian di atas- apalagi pada pembahasan kita ini.

  • Pegadai diperbolehkan memanfaatkannya selama diizinkan oleh murtahin/penggadai dan tidak bermudarat pada barang gadaian. Ini artinya barang tersebut terkadang tidak dalam qabdh murtahin (seperti akan dijelaskan).

  • Dibolehkan untuk menyewakan barang gadaian apabila keduanya sepakat. Hal ini juga berarti barang tersebut lepas dari qabdh murtahin.

  • Hal ini tidak menghalangi keterkaitan hak murtahin dengan barang gadaian itu, yang menjadi tujuan gadai. Adapun firman Allah Subhanahu wata’ala,

فَرِهَانٌ مَّقْبُوضَةٌ
“… hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang).” (al-Baqarah: 283)
Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah menjelaskan bahwa apabila (murtahin) memegang barang gadaian satu kali, maka telah sempurna dan dia lebih berhak terhadap barang tersebut daripada seluruh para penuntut piutang terhadap pegadai. Di sisi lain, pegadai tidak boleh mengeluarkan barang tersebut dari statusnya sebagai barang gadaian hingga hak yang ada pada barang gadai tersebut dilepas (dengan membayar utang, –red.). (al-Umm, Abhats Hai’ah Kibar Ulama, asy-Syarhul Mumti’)
10. Murtahin/penggadai tidak boleh mengqabdh selain dengan izin pegadai/rahin
Murtahin atau penggadai tidak diperkenankan mengqabdh atau menguasai barang gadaian tersebut tanpa seizin pegadai atau rahin, karena barang tersebut tetap masih milik rahin. (al-Mughni, 6/449)
11. Apakah akad rahn dilakukan bersamaan dengan akad pinjam meminjam, sebelumnya, ataukah sesudahnya?
Akad pergadaian bisa terjadi saat pembelian dengan pembayaran secara tempo, saat peminjaman uang, setelahnya, atau sebelumnya.
Untuk yang pertama (akad gadai bersamaan dengan akad peminjaman atau pembelian secara tempo), sah menurut pendapat Malik, asy-Syafi’i, dan Ibnu Hazm rahimahumullah.
Untuk yang kedua (akad gadai terjadi sebelum akad peminjaman atau pembelian secara tempo), menurut Ibnu Qudamah rahimahullah juga sah secara ijma’. Namun, tampaknya Ibnu Hazm rahimahullah tidak sependapat.
Untuk yang ketiga (akad gadai terjadi setelah akad peminjaman atau pembelian secara tempo), contohnya, “Mobil ini saya gadaikan kepadamu, besok kamu pinjami saya uang senilai sekian.” Ini sah menurut Abu Hanifah dan Malik. Namun, Ibnu Qudamah dan Ibnu Hazm menganggap lemah pendapat ini. Alasannya, barang gadaian itu sesuatu yang terkait dengan sebuah hak seseorang, sedangkan sebelum ada akad jual beli atau pinjam-meminjam belum ada hak yang ditanggung, bagaimana bisa diberikan rahn?! Berbeda halnya dengan yang pertama dan kedua, jelas bahwa barang gadaian tersebut terkait dengan sebuah tanggungan. (al-Mughni 6/444—445, al-Muhalla 8/101)
12. Tata cara qabdh (menguasai/pengambilalihan)
Qabdh barang gadaian bisa dilakukan dengan dua cara :
Apabila barangnya bisa dipindahkan, murtahin mengqabdhnya dengan mengambilnya dari rahin dengan bentuk pemindahan.
Akan tetapi, apabila barangnya tidak bisa dipindahkan, seperti rumah dan tanah, qabdhnya dengan cara rahin menyerahkannya kepada murtahin dan tidak menghalangi murtahin untuk menguasainya.
Globalnya, qabdh dalam hal ini adalah seperti qabdh dalam masalah jual beli dan hibah. (al-Mughni 6/450, al-Muhalla, 8/89 )
13. Rahn tidak lepas sampai utang dibayar, atau penggadai/murtahin melepaskannya.
rahn/barang gadai tidak dapat lepas dari statusnya sebagai barang yang digadaikan kecuali jika utang telah dibayar seluruhnya, karena barang tersebut adalah jaminan bagi seluruh utangnya. (Manarus Sabil, 2/87)
Kemungkinan lain, murtahin/penggadai melepasnya dengan kerelaannya. Ketika itu, barang gadaian tersebut terlepas karena penggadai telah melepaskan haknya.
14. Apabila rahin telah membayar sebagian utang
Pembayaran sebagian utang belum bisa melepaskan barang gadaian, atas dasar keterangan sebelumnya. Ibnul Mundzir rahimahullah berkata, “Semua (ulama) yang saya hafal/ketahui pendapatnya (menyatakan) bahwa siapa saja yang menggadaikan sesuatu dengan sebuah barang lantas membayarkan sebagiannya dan ingin melepaskan sebagian barang gadaiannya, ia tidak boleh melakukannya sampai dia melunasi hingga akhir tanggungannya dan melepaskannya.” Ini adalah pendapat Malik, ats-Tsauri, asy-Syafi’i, Ishaq, dan yang dipilih oleh Ibnu Hazm. (al-Mughni 6/481, al-Muhalla 8/101, dan ManarusSabil, 2/87)
15. Apabila utang telah jatuh tempo tetapi belum dibayar, rahn dijual untuk membayar utang
Apabila telah datang waktu pelunasan utang, pegadai/rahin diminta untuk membayar utangnya sebagaimana layaknya utang lainnya yang tidak melibatkan barang gadaian. Namun, apabila ia tidak bisa membayarnya, barang gadaian itu digunakan untuk melunasi utang dengan cara yang dijelaskan oleh Ibnu Utsaimin rahimahullah sebagaimana berikut ini.
Apabila barang gadaian itu sama jenisnya dengan barang yang diutang dan seukuran/senilai dengan utangnya, barang tersebut bisa diambil oleh penggadai/ murtahin sebagai pelunasannya. Jika ternyata nilainya lebih besar daripada utangnya, dia ambil haknya dan mengembalikan kelebihannya. Apabila ternyata kurang, dia ambil seluruhnya dan kekurangannya tetap menjadi tanggungan pegadai/rahin….2
Apabila barang gadaian itu dari jenis yang berbeda (dengan yang diutang) dan keduanya bersepakat (setelah tiba waktu pelunasan, -red.) untuk menjadikannya sebagai ganti utangnya, hal itu diperbolehkan sesuai dengan persetujuan mereka berdua. Namun, apabila penggadai/murtahin tetap meminta pelunasan dalam bentuk barang yang sejenis dengan yang dia
utangkan, barang tersebut dijual dan hasil penjualannya diberikan kepadanya (sesuai dengan nilai utangnya). (Mudzakkirah Fiqih 2/342—343, al-Mughni 6/5531, Manarus Sabil, 2/88)
16. Apabila rahin tidak mau menjual barang gadaian atau melunasi utangnya, hakim berhak menjual barang tersebut atau menghukumnya.
Asy-Syaikh al-Fauzan berkata, “Apabila dia tidak mau, berarti dia mumathil (orang yang menunda-nunda utang padahal ada kemampuan). Ketika itu, hakim memaksanya untuk membayar utang.
Kalau tidak mau juga, hakim memenjarakannya dan memberikan sanksi ta’zir3 sampai dia mau melunasi utang yang ditanggungnya dari hartanya sendiri, atau menjual barang gadaiannya dan melunasi utangnya dari hasil penjualan barang gadai tersebut.
Apabila tidak mau juga, hakim berhak menjual barang tersebut dan melunasi utang rahin dengannya karena ini adalah kewajiban atas orang yang berutang, sehingga hakim mewakilinya saat ia tidak mau melakukan pembayaran. Selain itu, barang tersebut adalah jaminan atas utangnya yang dijual saat jatuh tempo. Apabila ternyata ada sisa setelah dibayarkan utangnya, itu menjadi milik pegadai/rahin dan dikembalikan kepadanya karena itu adalah hartanya. Namun, kalau belum tertutupi dengan hasil penjualan barang gadaian itu, utangnya tetap menjadi tanggungan pegadai/rahin dan wajib dia lunasi.” (al-Mulakhashal-Fiqhi 2/55, al-Mughni 6/531, Manarus Sabil, 2/88)
17. Persyaratan murtahin ‘Apabila utang tidak dibayar, rahn jadi milik saya.’
Persyaratan ini adalah persyaratan yang batil atau rusak.
“Pendapat ini diriwayatkan dari Ibnu Umar, Syuraih, an-Nakha’i, Malik, ats-Tsauri, asy-Syafi’i, dan ashabur ra’yi, tidak kami ketahui seorang pun menyelisihi mereka,” demikian kata Ibnu Qudamah (al-Mughni 6/507).
Dalam hal ini diriwayatkan sebuah hadits yang mursal,
لاَ يَغْلَقُ الرَّهْنُ
“Barang gadaian tidak boleh ditutup.” (HR. Ibnu Majah, Malik, ad-Daraquthni, IbnuHibban, dan al-Baihaqi. Lihat Irwa’ul Ghalil no.1410)
Akan tetapi, para ulama menerima maknanya dan mereka berpendapat sesuai dengan kandungannya.
Al-Imam Ahmad rahimahullah menerangkan makna hadits tersebut ketika al-Atsram bertanya kepadanya, “Apa makna barang gadaian tidak boleh ditutup?” Beliau menjawab, “Seseorang tidak boleh menggadaikan barangnya kepada orang lain lantas mengatakan, ‘Kalau aku datang membayar dengan uang dirham sampai waktu tertentu (maka aku ambil kembali barang itu). Kalau tidak, barang itu menjadi milikmu’.” (al-Mughni 6/507, Manarus Sabil 2/87)
18. Murtahin lebih berhak dari seluruh ghurama’ (kreditur)/punya hak mendahului (hak preferensi)
Ketika pegadai juga memiliki tanggungan yang lain sehingga banyak pihak (kreditur) menuntutnya, sementara itu ia tidak mampu membayar semua utangnya, murtahin lebih didahulukan daripada penuntut yang lain terhadap barang yang digadaikan tersebut.
Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan, “Dia (penggadai/murtahin) memiliki kekhususan terhadap nilai barang gadaian tersebut dibandingkan penuntut selainnya, karena haknya terkait dengan barang gadaian dan tanggungan pegadai itu sekaligus. Adapun hak para penuntut yang lain hanya terkait dengan tanggungan rahin/pegadai (dalam kasus utang lain yang tanpa barang gadaian), tidak terkait dengan barang gadaian tersebut. Dengan demikian, hak murtahin lebih kuat.
Ini adalah salah satu faedah terbesar dari barang gadaian, yaitu diutamakannya hak kreditur gadai apabila terjadi muzahamah/persaingan di antara para penuntut utang (kreditur lainnya). Kami tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat dalam hal ini. Ini adalah mazhab asy-Syafi’i, ashabur ra’yi, dan yang lain. Barang gadaian itu lalu dijual, apabila harganya senilai utangnya, dia ambil semuanya. Apabila lebih besar dari nilai utangnya, sisanya dibagi kepada para penuntut. (al-Mughni, 6/531—532)
Ditulis oleh  al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc

(1) Satu wasaq=60 sha’;1 sha’=4 mud;1 mud=544 gr. Jadi, 1 wasaq sekitar 130 kg.
(2) Contohnya, iameminjamuang rupiahkepada seseorang dan menjadikan baranggadaiannya jugauangrupiah dengan nilaiyang samayang dipasrahkan kepada seseorang yangamanah dengan kesepakatan keduabelah pihak.
(3) Ta’zir adalah sanksi yang diberikan oleh hakim sesuai dengan kebijaksanaannya dalam rangka membuat pelakunya jera.
Maps Ta'lim:
Maps Ta'lim Selengkapnya:
audio:
Audio Selengkapnya
contact:
contact person
Sumber : forumsalafy.net, manhajul-anbiya.net, salafy.or.id, tukpencarialhaq.com, ilmusyar'i.com, salafymedia.com, kajiansalafy.net, alfawaaid.net, asysyariah.com, fawaid, tashfiyah.com, salafymedia.com, audiokajian.com,qudwah, qonitah, azka, rasyid, rii, rujukanmuslim.com



kata kunci :
cari
rujukan: ,
(grup whatsapp dan telegram salafy, asysyariah, forumsalafy, alhaq, salafymedia, alfawaaid, kajiansalafy, radio rii, rasyid, desain pamflet daurah magelang 1440h, ilmusyar'i untuk kata kunci " " )
download audio (drive)






kunjungi juga :



Posting Komentar

kunjungi:
1. Al Fawaaid Malaysia
http://www.alfawaaid.net/
2. Audio Kajian
http://www.audiokajian.com/
3. Buletin Al Ilmu
http://buletin-alilmu.net/
4. Forum Salafy
http://forumsalafy.net/
5. Group TIS
http://www.thalabilmusyari.web.id/
6. Grup Berbagi Faedah
http://jendelasunnah.com/
7. Grup KHAS
http://salafymedia.com/
8. Ilmu Syar'i
http://www.ilmusyari.com/
9. Majalah Asy-Syariah
http://asysyariah.com/
10. Majalah Tashfiyah
http://tashfiyah.com/
11. Manhajul Anbiya
http://www.manhajul-anbiya.net/
12. Radio Darussalaf Solo
http://darussalafsolo.com/
13. Radio Islam Jogja
http://radioislamjogja.com/
14. Radio Rasyid
http://radiorasyid.com/
15. Radio Salafy Samarinda
http://www.radiosalafysamarinda.com/
16. Radio Salafy Siar
http://salafysiar.com/
17. Radio Syiar Islam
http://radiosyiarislam.com/
18. Salafy Ambon
http://www.suaratauhidambon.com/
19. Salafy Babakan
http://www.attauhid-babakan.com/
20. Salafy Bali
http://www.annajiyah-bali.net/
21. Salafy Sulawesi
Salafy Sulawesi
22. Salafy Bandung
http://salafybandung.com/
23. Salafy Banjarmasin
http://www.kajianbanjar.info/
24. Salafy Batam
http://www.salafybatam.com/
25. Salafy Bogor
http://kajianbogor.wordpress.com/
26. Salafy Bojonegoro
http://mahadsyariah.blogspot.com/
27. Salafy Bontang
http://www.darussalaf.or.id/
28. Salafy Bulukumba
http://salafybulukumba.com/
29. Salafy Ciamis
http://mahad-annur.com/
30. Salafy Cikarang
http://almuwahhidiin.com/
31. Salafy Cilacap
http://almanshurohcilacap.com/
32. Salafy Cileungsi
http://www.salafycileungsi.info/
33. Salafy Cirebon
http://salafycirebon.com/
34. Salafy Depok
http://salafydepok.net/
35. Salafy Gresik
http://www.albayyinah.or.id/
36. Salafy Jakarta
http://salafyjakarta.info/
37. Salafy Jember
http://www.mahad-assalafy.com/
38. Salafy Jeneponto
http://serambidarussunnah.com/
39. Salafy Jombang
http://www.arrisalah.or.id/
40. Salafy Karawang
http://ahlussunnahkarawang.com/
41. Salafy Kebumen
http://anwarussunnahpth.blogspot.com/
42. Salafy Kendari
http://www.ahlussunnahkendari.com/
43. Salafy Kolaka
http://ahlussunnahkolaka.blogspot.com/
44. Salafy Kroya
http://www.islammujur.com/
45. Salafy Kudus
http://www.salafykudus.com/
46. Salafy Madiun
http://www.daarulihsan.com/
47. Salafy Madura
http://alilmumadura.wordpress.com/
48. Salafy Magelang
http://salafymagelang.com/
49. Salafy Majalengka
http://www.salafymajalengka.com/
50. Salafy Makassar
http://salafymakassar.net/
51. Salafy Malang
http://salafymalangraya.or.id/
52. Salafy Malaysia
http://infosalaf.wordpress.xom
53. Salafy Palembang
http://salafypalembang.com/
54. Salafy Pinrang
http://salafypinrang.net/
55. Salafy Purbalingga
http://almanshuroh.net/
56. Salafy Purwokerto
http://mahad-alfaruq.com/
57. Salafy Riau
http://ahlussunnahriau.net/
58. Salafy Samarinda
http://atsarussalaf.wordpress.com/
59. Salafy Semarang
http://salafysemarang.com/
60. Salafy Sintang
http://ahlussunnahsintangkalbar.blogspot.com/
61. Salafy Slipi
http://ahlussunnahslipi.com/
62. Salafy Solo
http://ibnutaimiyah.org/
63. Salafy Sorowako
http://salafysorowako.com/
64. Salafy Sukabumi
http://salafysukabumi.com/
65. Salafy Sumbar
http://daarulhaditssumbar.or.id/
66. Salafy Surabaya
http://bismillah.us/
67. Salafy Yogyakarta
http://salafy.or.id/
68. Thoriqus Salaf
http://thoriqussalaf.com
69. Tuk Pencari Al-Haq
http://tukpencarialhaq.com
LINK CHANNEL SALAFY INDONESIA
A
https://telegram.me/anNajiyahBali
https://telegram.me/alistifadah
https://telegram.me/AlushulAtstsalatsah
https://telegram.me/AppSalafy2
https://telegram.me/addiinun_nashihah
https://telegram.me/AISARibnuljazari
https://telegram.me/AlmanshurohBanjar
https://telegram.me/alfawaaidnet
https://telegram.me/audioradioadhiya
https://telegram.me/AudioKajian
https://telegram.me/AlmanshurohCilacap
https://telegram.me/AKSI_AudioKajianSalafyIndonesia
https://telegram.me/AudioFIAS
https://telegram.me/annajiyahdesign
https://telegram.me/aqidah_salaf
https://telegram.me/ahlussunnahsalafiyah
B
https://telegram.me/BELAJARKHOTH
https://telegram.me/BahasArab
https://telegram.me/buletinalhaq
https://telegram.me/buletinalilmu
C
https://telegram.me/CaraMengurusJenazah
D
https://telegram.me/dalil_ibadahkita
https://telegram.me/daurahnasional
https://telegram.me/designsalafy
F
https://telegram.me/forumsalafy
https://telegram.me/ForumBerbagiFaidah
https://telegram.me/FawaidIlmiyyah
https://telegram.me/Forum_ilmiyahKarangAnyar
https://telegram.me/ForumSalafyPurbalingga
https://telegram.me/FadhlulIslam
https://telegram.me/fawaidharijumat
https://telegram.me/fawaidsolo
G
https://telegram.me/galeriposterdakwah
https://telegram.me/goresanfawaid
https://telegram.me/GroupPAH
H
https://telegram.me/hikmahfatwaislam
https://telegram.me/hikmahsalafiyyah https://telegram.me/HukumGambar
I
https://telegram.me/InginBelajarIslam
https://telegram.me/IKSAS
https://telegram.me/IttibausSalafSumpiuh
https://telegram.me/infokajiansalafy
https://telegram.me/inibukanfitnah
https://telegram.me/InfoMahadJember
https://telegram.me/InfoSalafyPwkt
J
https://telegram.me/jabodetabekbelajar
https://telegram.me/Jejak_Salaf
https://telegram.me/jamiwalhikam
K
https://telegram.me/kibarkampus
https://telegram.me/KhususAudioKajianIlmiyah
https://telegram.me/KEUTAMAANILMU
https://telegram.me/KajianIslamTemanggung
https://telegram.me/KajianMatanKitabAhlussunnah
https://telegram.me/kajiankitabalkabair
https://telegram.me/kajianislamgombong
https://telegram.me/kumpulan_khuthbah
http://telegram.me/KajianIslamAlHusna
http://telegram.me/kitabkawakib
http://telegram.me/khotbah_jumat
https://telegram.me/KajianIslamKebumen
M
https://telegram.me/ManhajulAnbiya
https://telegram.me/MultaqoIkhwahWalAshab
https://telegram.me/majalahtashfiyah
https://telegram.me/rutemahadkita
https://telegram.me/manasik_umroh
https://telegram.me/mahadkita
N
https://telegram.me/nahwu_mutammimah
http://telegram.me/nasehatetam
P
https://telegram.me/posternasihatsalaf
http://telegram.me/posterFIK
https://telegram.me/pesantren_salaf_online
R
https://telegram.me/rumahbelajar
https://telegram.me/radioislamindonesia
https://telegram.me/radiorasyid
https://telegram.me/radiomasjidumar
https://telegram.me/radioislamNTB
S
https://telegram.me/salafycileungsi
https://telegram.me/salafylintasnegara
https://telegram.me/salafymakassar
https://telegram.me/salafymagelang
https://telegram.me/salafykolaka
https://telegram.me/salafykendari
https://telegram.me/SalafySumatera
https://telegram.me/salafysolo
https://telegram.me/salafymedia
https://telegram.me/salafy_banjarnegara
https://telegram.me/sedikitfaidahsaja
https://telegram.me/SilsilatusSholihin
https://telegram.me/serambiharamain
https://telegram.me/SalafyTegal
https://telegram.me/SoalwaJawab
https://telegram.me/salafytitasik
https://telegram.me/salafydepoklimo
https://telegram.me/salafybaturaja
https://telegram.me/SalafyMedan
https://telegram.me/SalafyBandung
https://telegram.me/SalafyGarut
https://telegram.me/Salafy_Ngawi
https://telegram.me/salafypurwakarta
https://telegram.me/salafymajalengka
https://telegram.me/SirohIbniHisyam
https://telegram.me/salafy_cirebon
https://telegram.me/syarhaqidahtohawiyah
T
https://telegram.me/TarbiyatulAulad
https://telegram.me/tasjilatalhikmah
https://telegram.me/tukpemula
https://telegram.me/tholibulilmicikarang
https://telegram.me/TJAsatidzah
https://telegram.me/taklimtulungagung
https://telegram.me/TamaamulMinnah
https://telegram.me/tp_alhaq
https://telegram.me/tafsir_assadiy
U
https://telegram.me/ukhwh
https://telegram.me/uimusy
W
https://telegram.me/warisansalaf
Y
https://telegram.me/yookngaji

Insya Allah akan di update !! Update tanggal 29 Shafar H / 7 November 2018 M https://telegram.me/channelsalafy


Informasi kajian :

1. Provinsi Aceh
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Aceh Barat Daya, Provinsi Aceh = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Aceh Jaya, Provinsi Aceh = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Aceh Selatan, Provinsi Aceh = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Aceh Singkil, Provinsi Aceh = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Aceh Tenggara, Provinsi Aceh = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Aceh Timur, Provinsi Aceh = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Bener Meriah, Provinsi Aceh = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Gayo Lues, Provinsi Aceh = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Nagan Raya, Provinsi Aceh = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Pidie Jaya, Provinsi Aceh = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Simeulue, Provinsi Aceh = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Langsa, Provinsi Aceh = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Lhokseumawe, Provinsi Aceh = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Sabang, Provinsi Aceh = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Subulussalam, Provinsi Aceh = di sini
2. Provinsi Sumatera Utara (SUMUT)
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara (SUMUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Batubara, Provinsi Sumatera Utara (SUMUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Dairi, Provinsi Sumatera Utara (SUMUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara (SUMUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Humbang Hasundutan, Provinsi Sumatera Utara (SUMUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara (SUMUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Labuhanbatu, Provinsi Sumatera Utara (SUMUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Labuhanbatu Selatan, Provinsi Sumatera Utara (SUMUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Labuhanbatu Utara, Provinsi Sumatera Utara (SUMUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara (SUMUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Mandailing Natal, Provinsi Sumatera Utara (SUMUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Nias, Provinsi Sumatera Utara (SUMUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Nias Barat, Provinsi Sumatera Utara (SUMUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Nias Selatan, Provinsi Sumatera Utara (SUMUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Nias Utara, Provinsi Sumatera Utara (SUMUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Padang Lawas, Provinsi Sumatera Utara (SUMUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Padang Lawas Utara, Provinsi Sumatera Utara (SUMUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Pakpak Bharat, Provinsi Sumatera Utara (SUMUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Samosir, Provinsi Sumatera Utara (SUMUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Serdang Bedagai, Provinsi Sumatera Utara (SUMUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara (SUMUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Tapanuli Selatan, Provinsi Sumatera Utara (SUMUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Tapanuli Tengah, Provinsi Sumatera Utara (SUMUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Tapanuli Utara, Provinsi Sumatera Utara (SUMUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Toba Samosir, Provinsi Sumatera Utara (SUMUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Binjai, Provinsi Sumatera Utara (SUMUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Gunungsitoli, Provinsi Sumatera Utara (SUMUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara (SUMUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Padangsidempuan, Provinsi Sumatera Utara (SUMUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Pematangsiantar, Provinsi Sumatera Utara (SUMUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Sibolga, Provinsi Sumatera Utara (SUMUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Tanjungbalai, Provinsi Sumatera Utara (SUMUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Tebing Tinggi, Provinsi Sumatera Utara (SUMUT) = di sini
3. Provinsi Sumatera Barat (SUMBAR)
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat (SUMBAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Dharmasraya, Provinsi Sumatera Barat (SUMBAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Provinsi Sumatera Barat (SUMBAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Lima Puluh Kota, Provinsi Sumatera Barat (SUMBAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Padang Pariaman, Provinsi Sumatera Barat (SUMBAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Pasaman, Provinsi Sumatera Barat (SUMBAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Pasaman Barat, Provinsi Sumatera Barat (SUMBAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat (SUMBAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Sijunjung, Provinsi Sumatera Barat (SUMBAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Solok, Provinsi Sumatera Barat (SUMBAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Solok Selatan, Provinsi Sumatera Barat (SUMBAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatera Barat (SUMBAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Bukittinggi, Provinsi Sumatera Barat (SUMBAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat (SUMBAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Padangpanjang, Provinsi Sumatera Barat (SUMBAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Pariaman, Provinsi Sumatera Barat (SUMBAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Payakumbuh, Provinsi Sumatera Barat (SUMBAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Sawahlunto, Provinsi Sumatera Barat (SUMBAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Solok, Provinsi Sumatera Barat (SUMBAR) = di sini
4. Provinsi Riau
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Rokan Hilir, Provinsi Riau = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Rokan Hulu, Provinsi Riau = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Siak, Provinsi Riau = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Dumai, Provinsi Riau = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Pekanbaru, Provinsi Riau = di sini
5. Provinsi Kepulauan Riau (KEPRI)
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau (KEPRI) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau (KEPRI) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Kepulauan Anambas, Provinsi Kepulauan Riau (KEPRI) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau (KEPRI) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau (KEPRI) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau (KEPRI) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Tanjung Pinang, Provinsi Kepulauan Riau (KEPRI) = di sini
6. Provinsi Jambi
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Provinsi Jambi = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Jambi, Provinsi Jambi = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Sungai Penuh, Provinsi Jambi = di sini
7. Provinsi Bengkulu
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Bengkulu Selatan, Provinsi Bengkulu = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Bengkulu Tengah, Provinsi Bengkulu = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Kepahiang, Provinsi Bengkulu = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Lebong, Provinsi Bengkulu = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Bengkulu, Provinsi Bengkulu = di sini
8. Provinsi Sumatera Selatan (SUMSEL)
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan (SUMSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Empat Lawang, Provinsi Sumatera Selatan (SUMSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Lahat, Provinsi Sumatera Selatan (SUMSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan (SUMSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan (SUMSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Musi Rawas, Provinsi Sumatera Selatan (SUMSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Musi Rawas Utara, Provinsi Sumatera Selatan (SUMSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Ogan Ilir, Provinsi Sumatera Selatan (SUMSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Provinsi Sumatera Selatan (SUMSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Provinsi Sumatera Selatan (SUMSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan, Provinsi Sumatera Selatan (SUMSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur, Provinsi Sumatera Selatan (SUMSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir, Provinsi Sumatera Selatan (SUMSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Lubuklinggau, Provinsi Sumatera Selatan (SUMSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Pagar Alam, Provinsi Sumatera Selatan (SUMSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Palembang, Provinsi Sumatera Selatan (SUMSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Prabumulih, Provinsi Sumatera Selatan (SUMSEL) = di sini
9. Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Belitung Timur, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Pangkal Pinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung = di sini
10. Provinsi Lampung
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Lampung Tengah, Provinsi Lampung = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Lampung Utara, Provinsi Lampung = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Lampung Barat, Provinsi Lampung = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Mesuji, Provinsi Lampung = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Pesisir Barat, Provinsi Lampung = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Pringsewu, Provinsi Lampung = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Tulang Bawang, Provinsi Lampung = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Tulang Bawang Barat, Provinsi Lampung = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Way Kanan, Provinsi Lampung = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Bandar Lampung, Provinsi Lampung = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Metro, Provinsi Lampung = di sini
11. Provinsi Banten
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Serang, Provinsi Banten = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Cilegon, Provinsi Banten = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Serang, Provinsi Banten = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Tangerang, Provinsi Banten = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten = di sini
12. Provinsi Jawa Barat (JABAR)
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat (JABAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat (JABAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Bekasi, Provinsi Jawa Barat (JABAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat (JABAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat (JABAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat (JABAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Cirebon, Provinsi Jawa Barat (JABAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat (JABAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat (JABAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Karawang, Provinsi Jawa Barat (JABAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat (JABAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Majalengka, Provinsi Jawa Barat (JABAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Pangandaran, Provinsi Jawa Barat (JABAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Purwakarta, Provinsi Jawa Barat (JABAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat (JABAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat (JABAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat (JABAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat (JABAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat (JABAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Banjar, Provinsi Jawa Barat (JABAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Bekasi, Provinsi Jawa Barat (JABAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat (JABAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Cimahi, Provinsi Jawa Barat (JABAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Cirebon, Provinsi Jawa Barat (JABAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Depok, Provinsi Jawa Barat (JABAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Sukabumi, Provinsi Jawa Barat (JABAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat (JABAR) = di sini
13. Provinsi Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, Provinsi Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Administrasi Jakarta Barat, Provinsi Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Administrasi Jakarta Pusat, Provinsi Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Administrasi Jakarta Selatan, Provinsi Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Administrasi Jakarta Timur, Provinsi Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Administrasi Jakarta Utara, Provinsi Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta = di sini
14. Provinsi Jawa Tengah (JATENG)
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah (JATENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah (JATENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Batang, Provinsi Jawa Tengah (JATENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Blora, Provinsi Jawa Tengah (JATENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Boyolali, Provinsi Jawa Tengah (JATENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Brebes, Provinsi Jawa Tengah (JATENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah (JATENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Demak, Provinsi Jawa Tengah (JATENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Grobogan, Provinsi Jawa Tengah (JATENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Jepara, Provinsi Jawa Tengah (JATENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah (JATENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah (JATENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Kendal, Provinsi Jawa Tengah (JATENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah (JATENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Kudus, Provinsi Jawa Tengah (JATENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah (JATENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Pati, Provinsi Jawa Tengah (JATENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah (JATENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Pemalang, Provinsi Jawa Tengah (JATENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah (JATENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah (JATENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Rembang, Provinsi Jawa Tengah (JATENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah (JATENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Sragen, Provinsi Jawa Tengah (JATENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Sukoharjo, Provinsi Jawa Tengah (JATENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Tegal, Provinsi Jawa Tengah (JATENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Temanggung, Provinsi Jawa Tengah (JATENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah (JATENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah (JATENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Magelang, Provinsi Jawa Tengah (JATENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah (JATENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Salatiga, Provinsi Jawa Tengah (JATENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah (JATENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah (JATENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Tegal, Provinsi Jawa Tengah (JATENG) = di sini
15. Daerah Istimewa Yogyakarta,
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Bantul, Provinsi Jawa Tengah (JATENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Gunungkidul, Provinsi Jawa Tengah (JATENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Kulon Progo, Provinsi Jawa Tengah (JATENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Sleman, Provinsi Jawa Tengah (JATENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Yogyakarta, Provinsi Jawa Tengah (JATENG) = di sini
16. Jawa Timur (JATIM)
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur (JATIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur (JATIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Blitar, Jawa Timur (JATIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur (JATIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur (JATIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Gresik, Jawa Timur (JATIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Jember, Jawa Timur (JATIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Jombang, Jawa Timur (JATIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Kediri, Jawa Timur (JATIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur (JATIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur (JATIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Madiun, Jawa Timur (JATIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Magetan, Jawa Timur (JATIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Malang, Jawa Timur (JATIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur (JATIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur (JATIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur (JATIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur (JATIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur (JATIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur (JATIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur (JATIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur (JATIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Sampang, Jawa Timur (JATIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur (JATIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur (JATIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur (JATIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur (JATIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Tuban, Jawa Timur (JATIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur (JATIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Batu, Jawa Timur (JATIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Blitar, Jawa Timur (JATIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Kediri, Jawa Timur (JATIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Madiun, Jawa Timur (JATIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Malang, Jawa Timur (JATIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Mojokerto, Jawa Timur (JATIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Pasuruan, Jawa Timur (JATIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Probolinggo, Jawa Timur (JATIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Surabaya, Jawa Timur (JATIM) = di sini
17. Bali
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Badung, Bali = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Bangli, Bali = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Buleleng, Bali = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Gianyar, Bali = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Jembrana, Bali = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Karangasem, Bali = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Klungkung, Bali = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Tabanan, Bali = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Denpasar, Bali = di sini
18. Nusa Tenggara Barat (NTB)
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) = di sini
19. Nusa Tenggara Timur (NTT)
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur (NTT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur (NTT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Sumba Tengah, Nusa Tenggara Timur (NTT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur (NTT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur (NTT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) = di sini
20. Kalimantan Barat (KALBAR)
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat (KALBAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat (KALBAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat (KALBAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat (KALBAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat (KALBAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat (KALBAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat (KALBAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat (KALBAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat (KALBAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat (KALBAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat (KALBAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat (KALBAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Pontianak, Kalimantan Barat (KALBAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Singkawang, Kalimantan Barat (KALBAR) = di sini
21. Kalimantan Selatan (KALSEL)
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan (KALSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan (KALSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan (KALSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan (KALSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan (KALSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan (KALSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan (KALSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan (KALSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan (KALSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan (KALSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan (KALSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan (KALSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan (KALSEL) = di sini
22. Kalimantan Tengah (KALTENG)
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah (KALTENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Barito Timur, Kalimantan Tengah (KALTENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah (KALTENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah (KALTENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah (KALTENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah (KALTENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah (KALTENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah (KALTENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah (KALTENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah (KALTENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah (KALTENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Sukamara, Kalimantan Tengah (KALTENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah (KALTENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah (KALTENG) = di sini
23. Kalimantan Timur (KALTIM)
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur (KALTIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur (KALTIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur (KALTIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur (KALTIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Mahakam Ulu, Kalimantan Timur (KALTIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur (KALTIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur (KALTIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur (KALTIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Bontang, Kalimantan Timur (KALTIM) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Samarinda, Kalimantan Timur (KALTIM) = di sini
24. Kalimantan Utara (KALTARA)
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara (KALTARA) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara (KALTARA) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara (KALTARA) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Tana Tidung, Kalimantan Utara (KALTARA) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Tarakan, Kalimantan Utara (KALTARA) = di sini
25. Gorontalo
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Boalemo, Gorontalo = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Gorontalo, Gorontalo = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Gorontalo Utara, Gorontalo = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Pohuwato, Gorontalo = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Gorontalo, Gorontalo = di sini
26. Sulawesi Selatan (SULSEL)
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan (SULSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan (SULSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan (SULSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan (SULSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan (SULSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan (SULSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan (SULSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan (SULSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan (SULSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan (SULSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan (SULSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan (SULSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Sulawesi Selatan (SULSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan (SULSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan (SULSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan (SULSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan (SULSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan (SULSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan (SULSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan (SULSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan (SULSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Makassar, Sulawesi Selatan (SULSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Palopo, Sulawesi Selatan (SULSEL) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Parepare, Sulawesi Selatan (SULSEL) = di sini
27. Sulawesi Tenggara (SULTRA)
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara (SULTRA) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara (SULTRA) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Buton Selatan, Sulawesi Tenggara (SULTRA) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Buton Tengah, Sulawesi Tenggara (SULTRA) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Buton Utara, Sulawesi Tenggara (SULTRA) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara (SULTRA) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara (SULTRA) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara (SULTRA) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara (SULTRA) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Konawe Kepulauan, Sulawesi Tenggara (SULTRA) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara (SULTRA) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara (SULTRA) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara (SULTRA) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Muna Barat, Sulawesi Tenggara (SULTRA) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara (SULTRA) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Bau-Bau, Sulawesi Tenggara (SULTRA) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (SULTRA) = di sini
28. Sulawesi Tengah (SULTENG)
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah (SULTENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah (SULTENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Banggai Laut, Sulawesi Tengah (SULTENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah (SULTENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah (SULTENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah (SULTENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah (SULTENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah (SULTENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah (SULTENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah (SULTENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah (SULTENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Toli-Toli, Sulawesi Tengah (SULTENG) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Palu, Sulawesi Tengah (SULTENG) = di sini
29. Sulawesi Utara (SULUT)
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara (SULUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan, Sulawesi Utara (SULUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, Sulawesi Utara (SULUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, Sulawesi Utara (SULUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara (SULUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro, Sulawesi Utara (SULUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara (SULUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara (SULUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Minahasa Selatan, Sulawesi Utara (SULUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara (SULUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara (SULUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Bitung, Sulawesi Utara (SULUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Kotamobagu, Sulawesi Utara (SULUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Manado, Sulawesi Utara (SULUT) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Tomohon, Sulawesi Utara (SULUT) = di sini
30. Sulawesi Barat (SULBAR)
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat (SULBAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat (SULBAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat (SULBAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Mamuju Tengah, Sulawesi Barat (SULBAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Mamuju Utara, Sulawesi Barat (SULBAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat (SULBAR) = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Mamuju, Sulawesi Barat (SULBAR) = di sini
31. Maluku
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Buru, Maluku = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Buru Selatan, Maluku = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Kepulauan Aru, Maluku = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Maluku Barat Daya, Maluku = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Maluku Tenggara, Maluku = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Maluku Tenggara Barat, Maluku = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Seram Bagian Timur, Maluku = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Ambon, Maluku = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Tual, Maluku = di sini
32. Maluku Utara
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Kepulauan Sula, Maluku Utara = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Halmahera Timur, Maluku Utara = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Pulau Taliabu, Maluku Utara = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Ternate, Maluku Utara = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Tidore Kepulauan, Maluku Utara = di sini
33. Papua
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Asmat, Papua = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Biak Numfor, Papua = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Boven Digoel, Papua = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Deiyai, Papua = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Dogiyai, Papua = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Intan Jaya, Papua = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Jayapura, Papua = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Jayawijaya, Papua = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Keerom, Papua = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Kepulauan Yapen, Papua = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Lanny Jaya, Papua = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Mamberamo Raya, Papua = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Mamberamo Tengah, Papua = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Mappi, Papua = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Merauke, Papua = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Mimika, Papua = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Nabire, Papua = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Nduga, Papua = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Paniai, Papua = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Puncak, Papua = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Puncak Jaya, Papua = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Sarmi, Papua = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Supiori, Papua = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Tolikara, Papua = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Waropen, Papua = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Yahukimo, Papua = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Yalimo, Papua = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Jayapura, Papua = di sini
34. Papua Barat
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Fakfak, Papua Barat = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Kaimana, Papua Barat = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Manokwari, Papua Barat = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Manokwari Selatan, Papua Barat = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Maybrat, Papua Barat = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Pegunungan Arfak, Papua Barat = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Sorong, Papua Barat = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Sorong Selatan, Papua Barat = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Tambrauw, Papua Barat = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat = di sini
Kajian salafy, salafi, salaf, salafe, salafee, salafiyyin, salafiyyun, ahlussunnah, ahlussunnah wal jamaah, Kota Sorong, Papua Barat = di sini

 
salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-salafys.com-salaf-salafi-salafy: 42-SALAFY-BANDARHARJO-SALAFY-SALAFY-BANDARHARJO-SALAFY-BANDARHARJO-SALAFY-BANDARHARJO-SALAFY-BANDARHARJO-SALAFY-BANDARHARJO-SALAFY-BANDARHARJO-SALAFY-BANDARHARJO-SALAFY-BANDARHARJO-SALAFY-BANGETAYU-WETAN-SALAFY-BANGETAYU-WETAN-SALAFY-BANGETAYU-WETAN-SALAFY-BANGETAYU-WETAN-SALAFY-BANGETAYU-WETAN-SALAFY-BANGETAYU-WETAN-SALAFY-BANGETAYU-WETAN-SALAFY-BANGETAYU-WETAN-SALAFY-BANGETAYU-WETAN-SALAFY-BANJARDOWO-SALAFY-BANJARDOWO-SALAFY-BANJARDOWO-SALAFY-BANJARDOWO-SALAFY-BANJARDOWO-SALAFY-BANJARDOWO-SALAFY-BANJARDOWO-SALAFY-BANJARDOWO-SALAFY-BANJARDOWO-SALAFY-BANYUMANIK-SALAFY-BANYUMANIK-SALAFY-BANYUMANIK-SALAFY-BANYUMANIK-SALAFY-BANYUMANIK-SALAFY-BANYUMANIK-SALAFY-BANYUMANIK-SALAFY-BANYUMANIK-SALAFY-BANYUMANIK-SALAFY-BENDANNGISOR-SALAFY-BENDANNGISOR-SALAFY-BENDANNGISOR-SALAFY-BENDANNGISOR-SALAFY-BENDANNGISOR-SALAFY-BENDANNGISOR-SALAFY-BENDANNGISOR-SALAFY-BENDANNGISOR-SALAFY-BENDANNGISOR-SALAFY-BENDUNGAN-SALAFY-BENDUNGAN-SALAFY-BENDUNGAN-SALAFY-BENDUNGAN-SALAFY-BENDUNGAN-SALAFY-BENDUNGAN-SALAFY-BENDUNGAN-SALAFY-BENDUNGAN-SALAFY-BENDUNGAN-SALAFY-BERINGIN-SALAFY-BERINGIN-SALAFY-BERINGIN-SALAFY-BERINGIN-SALAFY-BERINGIN-SALAFY-BERINGIN-SALAFY-BERINGIN-SALAFY-BERINGIN-SALAFY-BERINGIN-SALAFY-BONGSARI-SALAFY-BONGSARI-SALAFY-BONGSARI-SALAFY-BONGSARI-SALAFY-BONGSARI-SALAFY-BONGSARI-SALAFY-BONGSARI-SALAFY-BONGSARI-SALAFY-BONGSARI-SALAFY-BRUMBUNGAN-SALAFY-BRUMBUNGAN-SALAFY-BRUMBUNGAN-SALAFY-BRUMBUNGAN-SALAFY-BRUMBUNGAN-SALAFY-BRUMBUNGAN-SALAFY-BRUMBUNGAN-SALAFY-BRUMBUNGAN-SALAFY-BRUMBUNGAN-SALAFY-BULUSTALAN-SALAFY-BULUSTALAN-SALAFY-BULUSTALAN-SALAFY-BULUSTALAN-SALAFY-BULUSTALAN-SALAFY-BULUSTALAN-SALAFY-BULUSTALAN-SALAFY-BULUSTALAN-SALAFY-BULUSTALAN-SALAFY-CABEAN-SALAFY-CABEAN-SALAFY-CABEAN-SALAFY-CABEAN-SALAFY-CABEAN-SALAFY-CABEAN-SALAFY-CABEAN-SALAFY-CABEAN-SALAFY-CABEAN-SALAFY-CANGKIRAN-SALAFY-CANGKIRAN-SALAFY-CANGKIRAN-SALAFY-CANGKIRAN-SALAFY-CANGKIRAN-SALAFY-CANGKIRAN-SALAFY-CANGKIRAN-SALAFY-CANGKIRAN-SALAFY-CANGKIRAN-SALAFY-DADAPSARI-SALAFY-DADAPSARI-SALAFY-DADAPSARI-SALAFY-DADAPSARI-SALAFY-DADAPSARI-SALAFY-DADAPSARI-SALAFY-DADAPSARI-SALAFY-DADAPSARI-SALAFY-DADAPSARI-SALAFY-GABAHAN-SALAFY-GABAHAN-SALAFY-GABAHAN-SALAFY-GABAHAN-SALAFY-GABAHAN-SALAFY-GABAHAN-SALAFY-GABAHAN-SALAFY-GABAHAN-SALAFY-GABAHAN-SALAFY-GAJAHMUNGKUR-SALAFY-GAJAHMUNGKUR-SALAFY-GAJAHMUNGKUR-SALAFY-GAJAHMUNGKUR-SALAFY-GAJAHMUNGKUR-SALAFY-GAJAHMUNGKUR-SALAFY-GAJAHMUNGKUR-SALAFY-GAJAHMUNGKUR-SALAFY-GAJAHMUNGKUR-SALAFY-GEBANGSARI-SALAFY-GEBANGSARI-SALAFY-GEBANGSARI-SALAFY-GEBANGSARI-SALAFY-GEBANGSARI-SALAFY-GEBANGSARI-SALAFY-GEBANGSARI-SALAFY-GEBANGSARI-SALAFY-GEBANGSARI-SALAFY-GEDAWANG-SALAFY-GEDAWANG-SALAFY-GEDAWANG-SALAFY-GEDAWANG-SALAFY-GEDAWANG-SALAFY-GEDAWANG-SALAFY-GEDAWANG-SALAFY-GEDAWANG-SALAFY-GEDAWANG-SALAFY-GENUKSARI-SALAFY-GENUKSARI-SALAFY-GENUKSARI-SALAFY-GENUKSARI-SALAFY-GENUKSARI-SALAFY-GENUKSARI-SALAFY-GENUKSARI-SALAFY-GENUKSARI-SALAFY-GENUKSARI-SALAFY-GISIKDRONO-SALAFY-GISIKDRONO-SALAFY-GISIKDRONO-SALAFY-GISIKDRONO-SALAFY-GISIKDRONO-SALAFY-GISIKDRONO-SALAFY-GISIKDRONO-SALAFY-GISIKDRONO-SALAFY-GISIKDRONO-SALAFY-GONDORIYO-SALAFY-GONDORIYO-SALAFY-GONDORIYO-SALAFY-GONDORIYO-SALAFY-GONDORIYO-SALAFY-GONDORIYO-SALAFY-GONDORIYO-SALAFY-GONDORIYO-SALAFY-GONDORIYO-SALAFY-GUNUNGPATI-SALAFY-GUNUNGPATI-SALAFY-GUNUNGPATI-SALAFY-GUNUNGPATI-SALAFY-GUNUNGPATI-SALAFY-GUNUNGPATI-SALAFY-GUNUNGPATI-SALAFY-GUNUNGPATI-SALAFY-GUNUNGPATI-SALAFY-JABUNGAN-SALAFY-JABUNGAN-SALAFY-JABUNGAN-SALAFY-JABUNGAN-SALAFY-JABUNGAN-SALAFY-JABUNGAN-SALAFY-JABUNGAN-SALAFY-JABUNGAN-SALAFY-JABUNGAN-SALAFY-JAGALAN-SALAFY-JAGALAN-SALAFY-JAGALAN-SALAFY-JAGALAN-SALAFY-JAGALAN-SALAFY-JAGALAN-SALAFY-JAGALAN-SALAFY-JAGALAN-SALAFY-JAGALAN-SALAFY-JANGLI-SALAFY-JANGLI-SALAFY-JANGLI-SALAFY-JANGLI-SALAFY-JANGLI-SALAFY-JANGLI-SALAFY-JANGLI-SALAFY-JANGLI-SALAFY-JANGLI-SALAFY-JATIBARAN-SALAFY-JATIBARAN-SALAFY-JATIBARAN-SALAFY-JATIBARAN-SALAFY-JATIBARAN-SALAFY-JATIBARAN-SALAFY-JATIBARAN-SALAFY-JATIBARAN-SALAFY-JATIBARAN-SALAFY-JATINGALEH-SALAFY-JATINGALEH-SALAFY-JATINGALEH-SALAFY-JATINGALEH-SALAFY-JATINGALEH-SALAFY-JATINGALEH-SALAFY-JATINGALEH-SALAFY-JATINGALEH-SALAFY-JATINGALEH-SALAFY-JATIREJO-SALAFY-JATIREJO-SALAFY-JATIREJO-SALAFY-JATIREJO-SALAFY-JATIREJO-SALAFY-JATIREJO-SALAFY-JATIREJO-SALAFY-JATIREJO-SALAFY-JATIREJO-SALAFY-JATISARI-SALAFY-JATISARI-SALAFY-JATISARI-SALAFY-JATISARI-SALAFY-JATISARI-SALAFY-JATISARI-SALAFY-JATISARI-SALAFY-JATISARI-SALAFY-JATISARI-SALAFY-JOMBLANG-SALAFY-JOMBLANG-SALAFY-JOMBLANG-SALAFY-JOMBLANG-SALAFY-JOMBLANG-SALAFY-JOMBLANG-SALAFY-JOMBLANG-SALAFY-JOMBLANG-SALAFY-JOMBLANG-SALAFY-KALIBANTENG-KIDUL-SALAFY-KALIBANTENG-KIDUL-SALAFY-KALIBANTENG-KIDUL-SALAFY-KALIBANTENG-KIDUL-SALAFY-KALIBANTENG-KIDUL-SALAFY-KALIBANTENG-KIDUL-SALAFY-KALIBANTENG-KIDUL-SALAFY-KALIBANTENG-KIDUL-SALAFY-KALIBANTENG-KIDUL-SALAFY-KALIBANTENG-KULON-SALAFY-KALIBANTENG-KULON-SALAFY-KALIBANTENG-KULON-SALAFY-KALIBANTENG-KULON-SALAFY-KALIBANTENG-KULON-SALAFY-KALIBANTENG-KULON-SALAFY-KALIBANTENG-KULON-SALAFY-KALIBANTENG-KULON-SALAFY-KALIBANTENG-KULON-SALAFY-KALICARI-SALAFY-KALICARI-SALAFY-KALICARI-SALAFY-KALICARI-SALAFY-KALICARI-SALAFY-KALICARI-SALAFY-KALICARI-SALAFY-KALICARI-SALAFY-KALICARI-SALAFY-KALIGAWE-SALAFY-KALIGAWE-SALAFY-KALIGAWE-SALAFY-KALIGAWE-SALAFY-KALIGAWE-SALAFY-KALIGAWE-SALAFY-KALIGAWE-SALAFY-KALIGAWE-SALAFY-KALIGAWE-SALAFY-KALIPANCUR-SALAFY-KALIPANCUR-SALAFY-KALIPANCUR-SALAFY-KALIPANCUR-SALAFY-KALIPANCUR-SALAFY-KALIPANCUR-SALAFY-KALIPANCUR-SALAFY-KALIPANCUR-SALAFY-KALIPANCUR-SALAFY-KALISEGORO-SALAFY-KALISEGORO-SALAFY-KALISEGORO-SALAFY-KALISEGORO-SALAFY-KALISEGORO-SALAFY-KALISEGORO-SALAFY-KALISEGORO-SALAFY-KALISEGORO-SALAFY-KALISEGORO-SALAFY-KALIWIRU-SALAFY-KALIWIRU-SALAFY-KALIWIRU-SALAFY-KALIWIRU-SALAFY-KALIWIRU-SALAFY-KALIWIRU-SALAFY-KALIWIRU-SALAFY-KALIWIRU-SALAFY-KALIWIRU-SALAFY-KANDRI-SALAFY-KANDRI-SALAFY-KANDRI-SALAFY-KANDRI-SALAFY-KANDRI-SALAFY-KANDRI-SALAFY-KANDRI-SALAFY-KANDRI-SALAFY-KANDRI-SALAFY-KARANGANYAR-SALAFY-KARANGANYAR-SALAFY-KARANGANYAR-SALAFY-KARANGANYAR-SALAFY-KARANGANYAR-SALAFY-KARANGANYAR-SALAFY-KARANGANYAR-SALAFY-KARANGANYAR-SALAFY-KARANGANYAR-SALAFY-KARANGANYARGUNUNG-SALAFY-KARANGANYARGUNUNG-SALAFY-KARANGANYARGUNUNG-SALAFY-KARANGANYARGUNUNG-SALAFY-KARANGANYARGUNUNG-SALAFY-KARANGANYARGUNUNG-SALAFY-KARANGANYARGUNUNG-SALAFY-KARANGANYARGUNUNG-SALAFY-KARANGANYARGUNUNG-SALAFY-KARANGAYU-SALAFY-KARANGAYU-SALAFY-KARANGAYU-SALAFY-KARANGAYU-SALAFY-KARANGAYU-SALAFY-KARANGAYU-SALAFY-KARANGAYU-SALAFY-KARANGAYU-SALAFY-KARANGAYU-SALAFY-KARANGKIDUL-SALAFY-KARANGKIDUL-SALAFY-KARANGKIDUL-SALAFY-KARANGKIDUL-SALAFY-KARANGKIDUL-SALAFY-KARANGKIDUL-SALAFY-KARANGKIDUL-SALAFY-KARANGKIDUL-SALAFY-KARANGKIDUL-SALAFY-KARANGMALANG-SALAFY-KARANGMALANG-SALAFY-KARANGMALANG-SALAFY-KARANGMALANG-SALAFY-KARANGMALANG-SALAFY-KARANGMALANG-SALAFY-KARANGMALANG-SALAFY-KARANGMALANG-SALAFY-KARANGMALANG-SALAFY-KARANGREJO-SALAFY-KARANGREJO-SALAFY-KARANGREJO-SALAFY-KARANGREJO-SALAFY-KARANGREJO-SALAFY-KARANGREJO-SALAFY-KARANGREJO-SALAFY-KARANGREJO-SALAFY-KARANGREJO-SALAFY-KARANGROTO-SALAFY-KARANGROTO-SALAFY-KARANGROTO-SALAFY-KARANGROTO-SALAFY-KARANGROTO-SALAFY-KARANGROTO-SALAFY-KARANGROTO-SALAFY-KARANGROTO-SALAFY-KARANGROTO-SALAFY-KARANGTEMPEL-SALAFY-KARANGTEMPEL-SALAFY-KARANGTEMPEL-SALAFY-KARANGTEMPEL-SALAFY-KARANGTEMPEL-SALAFY-KARANGTEMPEL-SALAFY-KARANGTEMPEL-SALAFY-KARANGTEMPEL-SALAFY-KARANGTEMPEL-SALAFY-KARANGTURI-SALAFY-KARANGTURI-SALAFY-KARANGTURI-SALAFY-KARANGTURI-SALAFY-KARANGTURI-SALAFY-KARANGTURI-SALAFY-KARANGTURI-SALAFY-KARANGTURI-SALAFY-KARANGTURI-SALAFY-KAUMAN-SALAFY-KAUMAN-SALAFY-KAUMAN-SALAFY-KAUMAN-SALAFY-KAUMAN-SALAFY-KAUMAN-SALAFY-KAUMAN-SALAFY-KAUMAN-SALAFY-KAUMAN-SALAFY-KEBONAGUNG-SALAFY-KEBONAGUNG-SALAFY-KEBONAGUNG-SALAFY-KEBONAGUNG-SALAFY-KEBONAGUNG-SALAFY-KEBONAGUNG-SALAFY-KEBONAGUNG-SALAFY-KEBONAGUNG-SALAFY-KEBONAGUNG-SALAFY-KEDUNGMUNDU-SALAFY-KEDUNGMUNDU-SALAFY-KEDUNGMUNDU-SALAFY-KEDUNGMUNDU-SALAFY-KEDUNGMUNDU-SALAFY-KEDUNGMUNDU-SALAFY-KEDUNGMUNDU-SALAFY-KEDUNGMUNDU-SALAFY-KEDUNGMUNDU-SALAFY-KEDUNGPANI-SALAFY-KEDUNGPANI-SALAFY-KEDUNGPANI-SALAFY-KEDUNGPANI-SALAFY-KEDUNGPANI-SALAFY-KEDUNGPANI-SALAFY-KEDUNGPANI-SALAFY-KEDUNGPANI-SALAFY-KEDUNGPANI-SALAFY-KEMBANGARUM-SALAFY-KEMBANGARUM-SALAFY-KEMBANGARUM-SALAFY-KEMBANGARUM-SALAFY-KEMBANGARUM-SALAFY-KEMBANGARUM-SALAFY-KEMBANGARUM-SALAFY-KEMBANGARUM-SALAFY-KEMBANGARUM-SALAFY-KEMBANGSARI-SALAFY-KEMBANGSARI-SALAFY-KEMBANGSARI-SALAFY-KEMBANGSARI-SALAFY-KEMBANGSARI-SALAFY-KEMBANGSARI-SALAFY-KEMBANGSARI-SALAFY-KEMBANGSARI-SALAFY-KEMBANGSARI-SALAFY-KEMIJEN-SALAFY-KEMIJEN-SALAFY-KEMIJEN-SALAFY-KEMIJEN-SALAFY-KEMIJEN-SALAFY-KEMIJEN-SALAFY-KEMIJEN-SALAFY-KEMIJEN-SALAFY-KEMIJEN-SALAFY-KRAMAS-SALAFY-KRAMAS-SALAFY-KRAMAS-SALAFY-KRAMAS-SALAFY-KRAMAS-SALAFY-KRAMAS-SALAFY-KRAMAS-SALAFY-KRAMAS-SALAFY-KRAMAS-SALAFY-KRANGGAN-SALAFY-KRANGGAN-SALAFY-KRANGGAN-SALAFY-KRANGGAN-SALAFY-KRANGGAN-SALAFY-KRANGGAN-SALAFY-KRANGGAN-SALAFY-KRANGGAN-SALAFY-KRANGGAN-SALAFY-KRAPYAK-SALAFY-KRAPYAK-SALAFY-KRAPYAK-SALAFY-KRAPYAK-SALAFY-KRAPYAK-SALAFY-KRAPYAK-SALAFY-KRAPYAK-SALAFY-KRAPYAK-SALAFY-KRAPYAK-SALAFY-KROBOKAN-SALAFY-KROBOKAN-SALAFY-KROBOKAN-SALAFY-KROBOKAN-SALAFY-KROBOKAN-SALAFY-KROBOKAN-SALAFY-KROBOKAN-SALAFY-KROBOKAN-SALAFY-KROBOKAN-SALAFY-KUDU-SALAFY-KUDU-SALAFY-KUDU-SALAFY-KUDU-SALAFY-KUDU-SALAFY-KUDU-SALAFY-KUDU-SALAFY-KUDU-SALAFY-KUDU-SALAFY-KUNINGAN-SALAFY-KUNINGAN-SALAFY-KUNINGAN-SALAFY-KUNINGAN-SALAFY-KUNINGAN-SALAFY-KUNINGAN-SALAFY-KUNINGAN-SALAFY-KUNINGAN-SALAFY-KUNINGAN-SALAFY.OR.ID-SALAFY-LAMPER-KIDUL-SALAFY-LAMPER-KIDUL-SALAFY-LAMPER-KIDUL-SALAFY-LAMPER-KIDUL-SALAFY-LAMPER-KIDUL-SALAFY-LAMPER-KIDUL-SALAFY-LAMPER-KIDUL-SALAFY-LAMPER-KIDUL-SALAFY-LAMPER-KIDUL-SALAFY-LAMPER-LOR-SALAFY-LAMPER-LOR-SALAFY-LAMPER-LOR-SALAFY-LAMPER-LOR-SALAFY-LAMPER-LOR-SALAFY-LAMPER-LOR-SALAFY-LAMPER-LOR-SALAFY-LAMPER-LOR-SALAFY-LAMPER-LOR-SALAFY-LAMPER-TENGAH-SALAFY-LAMPER-TENGAH-SALAFY-LAMPER-TENGAH-SALAFY-LAMPER-TENGAH-SALAFY-LAMPER-TENGAH-SALAFY-LAMPER-TENGAH-SALAFY-LAMPER-TENGAH-SALAFY-LAMPER-TENGAH-SALAFY-LAMPER-TENGAH-SALAFY-LEMPONGSARI-SALAFY-LEMPONGSARI-SALAFY-LEMPONGSARI-SALAFY-LEMPONGSARI-SALAFY-LEMPONGSARI-SALAFY-LEMPONGSARI-SALAFY-LEMPONGSARI-SALAFY-LEMPONGSARI-SALAFY-LEMPONGSARI-SALAFY-MANGKANG-KULON-SALAFY-MANGKANG-KULON-SALAFY-MANGKANG-KULON-SALAFY-MANGKANG-KULON-SALAFY-MANGKANG-KULON-SALAFY-MANGKANG-KULON-SALAFY-MANGKANG-KULON-SALAFY-MANGKANG-KULON-SALAFY-MANGKANG-KULON-SALAFY-MANGKANG-WETAN-SALAFY-MANGKANG-WETAN-SALAFY-MANGKANG-WETAN-SALAFY-MANGKANG-WETAN-SALAFY-MANGKANG-WETAN-SALAFY-MANGKANG-WETAN-SALAFY-MANGKANG-WETAN-SALAFY-MANGKANG-WETAN-SALAFY-MANGKANG-WETAN-SALAFY-MANGUNHARJO-SALAFY-MANGUNHARJO-SALAFY-MANGUNHARJO-SALAFY-MANGUNHARJO-SALAFY-MANGUNHARJO-SALAFY-MANGUNHARJO-SALAFY-MANGUNHARJO-SALAFY-MANGUNHARJO-SALAFY-MANGUNHARJO-SALAFY-MANGUNHARJO-SALAFY-MANGUNHARJO-SALAFY-MANGUNHARJO-SALAFY-MANGUNHARJO-SALAFY-MANGUNHARJO-SALAFY-MANGUNHARJO-SALAFY-MANGUNHARJO-SALAFY-MANGUNHARJO-SALAFY-MANGUNHARJO-SALAFY-MANGUNSARI-SALAFY-MANGUNSARI-SALAFY-MANGUNSARI-SALAFY-MANGUNSARI-SALAFY-MANGUNSARI-SALAFY-MANGUNSARI-SALAFY-MANGUNSARI-SALAFY-MANGUNSARI-SALAFY-MANGUNSARI-SALAFY-MANYARAN-SALAFY-MANYARAN-SALAFY-MANYARAN-SALAFY-MANYARAN-SALAFY-MANYARAN-SALAFY-MANYARAN-SALAFY-MANYARAN-SALAFY-MANYARAN-SALAFY-MANYARAN-SALAFY-METESEH-SALAFY-METESEH-SALAFY-METESEH-SALAFY-METESEH-SALAFY-METESEH-SALAFY-METESEH-SALAFY-METESEH-SALAFY-METESEH-SALAFY-METESEH-SALAFY-MIJEN-SALAFY-MIJEN-SALAFY-MIJEN-SALAFY-MIJEN-SALAFY-MIJEN-SALAFY-MIJEN-SALAFY-MIJEN-SALAFY-MIJEN-SALAFY-MIJEN-SALAFY-MIROTO-SALAFY-MIROTO-SALAFY-MIROTO-SALAFY-MIROTO-SALAFY-MIROTO-SALAFY-MIROTO-SALAFY-MIROTO-SALAFY-MIROTO-SALAFY-MIROTO-SALAFY-MLATIBARU-SALAFY-MLATIBARU-SALAFY-MLATIBARU-SALAFY-MLATIBARU-SALAFY-MLATIBARU-SALAFY-MLATIBARU-SALAFY-MLATIBARU-SALAFY-MLATIBARU-SALAFY-MLATIBARU-SALAFY-MLATIHARJO-SALAFY-MLATIHARJO-SALAFY-MLATIHARJO-SALAFY-MLATIHARJO-SALAFY-MLATIHARJO-SALAFY-MLATIHARJO-SALAFY-MLATIHARJO-SALAFY-MLATIHARJO-SALAFY-MLATIHARJO-SALAFY-MUGASSARI-SALAFY-MUGASSARI-SALAFY-MUGASSARI-SALAFY-MUGASSARI-SALAFY-MUGASSARI-SALAFY-MUGASSARI-SALAFY-MUGASSARI-SALAFY-MUGASSARI-SALAFY-MUGASSARI-SALAFY-MUKTIHARJO-KIDUL-SALAFY-MUKTIHARJO-KIDUL-SALAFY-MUKTIHARJO-KIDUL-SALAFY-MUKTIHARJO-KIDUL-SALAFY-MUKTIHARJO-KIDUL-SALAFY-MUKTIHARJO-KIDUL-SALAFY-MUKTIHARJO-KIDUL-SALAFY-MUKTIHARJO-KIDUL-SALAFY-MUKTIHARJO-KIDUL-SALAFY-MUKTIHARJO-LOR-SALAFY-MUKTIHARJO-LOR-SALAFY-MUKTIHARJO-LOR-SALAFY-MUKTIHARJO-LOR-SALAFY-MUKTIHARJO-LOR-SALAFY-MUKTIHARJO-LOR-SALAFY-MUKTIHARJO-LOR-SALAFY-MUKTIHARJO-LOR-SALAFY-MUKTIHARJO-LOR-SALAFYS.COM-SALAFY-NGADIRGO-SALAFY-NGADIRGO-SALAFY-NGADIRGO-SALAFY-NGADIRGO-SALAFY-NGADIRGO-SALAFY-NGADIRGO-SALAFY-NGADIRGO-SALAFY-NGADIRGO-SALAFY-NGADIRGO-SALAFY-NGALIYAN-SALAFY-NGALIYAN-SALAFY-NGALIYAN-SALAFY-NGALIYAN-SALAFY-NGALIYAN-SALAFY-NGALIYAN-SALAFY-NGALIYAN-SALAFY-NGALIYAN-SALAFY-NGALIYAN-SALAFY-NGEMPLAKSIMONGAN-SALAFY-NGEMPLAKSIMONGAN-SALAFY-NGEMPLAKSIMONGAN-SALAFY-NGEMPLAKSIMONGAN-SALAFY-NGEMPLAKSIMONGAN-SALAFY-NGEMPLAKSIMONGAN-SALAFY-NGEMPLAKSIMONGAN-SALAFY-NGEMPLAKSIMONGAN-SALAFY-NGEMPLAKSIMONGAN-SALAFY-NGESREP-SALAFY-NGESREP-SALAFY-NGESREP-SALAFY-NGESREP-SALAFY-NGESREP-SALAFY-NGESREP-SALAFY-NGESREP-SALAFY-NGESREP-SALAFY-NGESREP-SALAFY-NGIJO-SALAFY-NGIJO-SALAFY-NGIJO-SALAFY-NGIJO-SALAFY-NGIJO-SALAFY-NGIJO-SALAFY-NGIJO-SALAFY-NGIJO-SALAFY-NGIJO-SALAFY-NONGKOSAWIT-SALAFY-NONGKOSAWIT-SALAFY-NONGKOSAWIT-SALAFY-NONGKOSAWIT-SALAFY-NONGKOSAWIT-SALAFY-NONGKOSAWIT-SALAFY-NONGKOSAWIT-SALAFY-NONGKOSAWIT-SALAFY-NONGKOSAWIT-SALAFY-PADANGSARI-SALAFY-PADANGSARI-SALAFY-PADANGSARI-SALAFY-PADANGSARI-SALAFY-PADANGSARI-SALAFY-PADANGSARI-SALAFY-PADANGSARI-SALAFY-PADANGSARI-SALAFY-PADANGSARI-SALAFY-PAKINTELAN-SALAFY-PAKINTELAN-SALAFY-PAKINTELAN-SALAFY-PAKINTELAN-SALAFY-PAKINTELAN-SALAFY-PAKINTELAN-SALAFY-PAKINTELAN-SALAFY-PAKINTELAN-SALAFY-PAKINTELAN-SALAFY-PALEBON-SALAFY-PALEBON-SALAFY-PALEBON-SALAFY-PALEBON-SALAFY-PALEBON-SALAFY-PALEBON-SALAFY-PALEBON-SALAFY-PALEBON-SALAFY-PALEBON-SALAFY-PANDANSARI-SALAFY-PANDANSARI-SALAFY-PANDANSARI-SALAFY-PANDANSARI-SALAFY-PANDANSARI-SALAFY-PANDANSARI-SALAFY-PANDANSARI-SALAFY-PANDANSARI-SALAFY-PANDANSARI-SALAFY-PANDEAN-LAMPER-SALAFY-PANDEAN-LAMPER-SALAFY-PANDEAN-LAMPER-SALAFY-PANDEAN-LAMPER-SALAFY-PANDEAN-LAMPER-SALAFY-PANDEAN-LAMPER-SALAFY-PANDEAN-LAMPER-SALAFY-PANDEAN-LAMPER-SALAFY-PANDEAN-LAMPER-SALAFY-PANGGUNG-KIDUL-SALAFY-PANGGUNG-KIDUL-SALAFY-PANGGUNG-KIDUL-SALAFY-PANGGUNG-KIDUL-SALAFY-PANGGUNG-KIDUL-SALAFY-PANGGUNG-KIDUL-SALAFY-PANGGUNG-KIDUL-SALAFY-PANGGUNG-KIDUL-SALAFY-PANGGUNG-KIDUL-SALAFY-PANGGUNG-LOR-SALAFY-PANGGUNG-LOR-SALAFY-PANGGUNG-LOR-SALAFY-PANGGUNG-LOR-SALAFY-PANGGUNG-LOR-SALAFY-PANGGUNG-LOR-SALAFY-PANGGUNG-LOR-SALAFY-PANGGUNG-LOR-SALAFY-PANGGUNG-LOR-SALAFY-PATEMON-SALAFY-PATEMON-SALAFY-PATEMON-SALAFY-PATEMON-SALAFY-PATEMON-SALAFY-PATEMON-SALAFY-PATEMON-SALAFY-PATEMON-SALAFY-PATEMON-SALAFY-PEDALANGAN-SALAFY-PEDALANGAN-SALAFY-PEDALANGAN-SALAFY-PEDALANGAN-SALAFY-PEDALANGAN-SALAFY-PEDALANGAN-SALAFY-PEDALANGAN-SALAFY-PEDALANGAN-SALAFY-PEDALANGAN-SALAFY-PEDURUNGAN-KIDUL-SALAFY-PEDURUNGAN-KIDUL-SALAFY-PEDURUNGAN-KIDUL-SALAFY-PEDURUNGAN-KIDUL-SALAFY-PEDURUNGAN-KIDUL-SALAFY-PEDURUNGAN-KIDUL-SALAFY-PEDURUNGAN-KIDUL-SALAFY-PEDURUNGAN-KIDUL-SALAFY-PEDURUNGAN-KIDUL-SALAFY-PEDURUNGAN-LOR-SALAFY-PEDURUNGAN-LOR-SALAFY-PEDURUNGAN-LOR-SALAFY-PEDURUNGAN-LOR-SALAFY-PEDURUNGAN-LOR-SALAFY-PEDURUNGAN-LOR-SALAFY-PEDURUNGAN-LOR-SALAFY-PEDURUNGAN-LOR-SALAFY-PEDURUNGAN-LOR-SALAFY-PEDURUNGAN-TENGAH-SALAFY-PEDURUNGAN-TENGAH-SALAFY-PEDURUNGAN-TENGAH-SALAFY-PEDURUNGAN-TENGAH-SALAFY-PEDURUNGAN-TENGAH-SALAFY-PEDURUNGAN-TENGAH-SALAFY-PEDURUNGAN-TENGAH-SALAFY-PEDURUNGAN-TENGAH-SALAFY-PEDURUNGAN-TENGAH-SALAFY-PEKUNDEN-SALAFY-PEKUNDEN-SALAFY-PEKUNDEN-SALAFY-PEKUNDEN-SALAFY-PEKUNDEN-SALAFY-PEKUNDEN-SALAFY-PEKUNDEN-SALAFY-PEKUNDEN-SALAFY-PEKUNDEN-SALAFY-PENDRIKAN-KIDUL-SALAFY-PENDRIKAN-KIDUL-SALAFY-PENDRIKAN-KIDUL-SALAFY-PENDRIKAN-KIDUL-SALAFY-PENDRIKAN-KIDUL-SALAFY-PENDRIKAN-KIDUL-SALAFY-PENDRIKAN-KIDUL-SALAFY-PENDRIKAN-KIDUL-SALAFY-PENDRIKAN-KIDUL-SALAFY-PENDRIKAN-LOR-SALAFY-PENDRIKAN-LOR-SALAFY-PENDRIKAN-LOR-SALAFY-PENDRIKAN-LOR-SALAFY-PENDRIKAN-LOR-SALAFY-PENDRIKAN-LOR-SALAFY-PENDRIKAN-LOR-SALAFY-PENDRIKAN-LOR-SALAFY-PENDRIKAN-LOR-SALAFY-PENGGARON-KIDUL-SALAFY-PENGGARON-KIDUL-SALAFY-PENGGARON-KIDUL-SALAFY-PENGGARON-KIDUL-SALAFY-PENGGARON-KIDUL-SALAFY-PENGGARON-KIDUL-SALAFY-PENGGARON-KIDUL-SALAFY-PENGGARON-KIDUL-SALAFY-PENGGARON-KIDUL-SALAFY-PENGGARON-LOR-SALAFY-PENGGARON-LOR-SALAFY-PENGGARON-LOR-SALAFY-PENGGARON-LOR-SALAFY-PENGGARON-LOR-SALAFY-PENGGARON-LOR-SALAFY-PENGGARON-LOR-SALAFY-PENGGARON-LOR-SALAFY-PENGGARON-LOR-SALAFY-PESANTREN-SALAFY-PESANTREN-SALAFY-PESANTREN-SALAFY-PESANTREN-SALAFY-PESANTREN-SALAFY-PESANTREN-SALAFY-PESANTREN-SALAFY-PESANTREN-SALAFY-PESANTREN-SALAFY-PETERONGAN-SALAFY-PETERONGAN-SALAFY-PETERONGAN-SALAFY-PETERONGAN-SALAFY-PETERONGAN-SALAFY-PETERONGAN-SALAFY-PETERONGAN-SALAFY-PETERONGAN-SALAFY-PETERONGAN-SALAFY-PETOMPON-SALAFY-PETOMPON-SALAFY-PETOMPON-SALAFY-PETOMPON-SALAFY-PETOMPON-SALAFY-PETOMPON-SALAFY-PETOMPON-SALAFY-PETOMPON-SALAFY-PETOMPON-SALAFY-PLALANGAN-SALAFY-PLALANGAN-SALAFY-PLALANGAN-SALAFY-PLALANGAN-SALAFY-PLALANGAN-SALAFY-PLALANGAN-SALAFY-PLALANGAN-SALAFY-PLALANGAN-SALAFY-PLALANGAN-SALAFY-PLAMONGAN-SARI-SALAFY-PLAMONGAN-SARI-SALAFY-PLAMONGAN-SARI-SALAFY-PLAMONGAN-SARI-SALAFY-PLAMONGAN-SARI-SALAFY-PLAMONGAN-SARI-SALAFY-PLAMONGAN-SARI-SALAFY-PLAMONGAN-SARI-SALAFY-PLAMONGAN-SARI-SALAFY-PLEBURAN-SALAFY-PLEBURAN-SALAFY-PLEBURAN-SALAFY-PLEBURAN-SALAFY-PLEBURAN-SALAFY-PLEBURAN-SALAFY-PLEBURAN-SALAFY-PLEBURAN-SALAFY-PLEBURAN-SALAFY-PLOMBOKAN-SALAFY-PLOMBOKAN-SALAFY-PLOMBOKAN-SALAFY-PLOMBOKAN-SALAFY-PLOMBOKAN-SALAFY-PLOMBOKAN-SALAFY-PLOMBOKAN-SALAFY-PLOMBOKAN-SALAFY-PLOMBOKAN-SALAFY-PODOREJO-SALAFY-PODOREJO-SALAFY-PODOREJO-SALAFY-PODOREJO-SALAFY-PODOREJO-SALAFY-PODOREJO-SALAFY-PODOREJO-SALAFY-PODOREJO-SALAFY-PODOREJO-SALAFY-POLAMAN-SALAFY-POLAMAN-SALAFY-POLAMAN-SALAFY-POLAMAN-SALAFY-POLAMAN-SALAFY-POLAMAN-SALAFY-POLAMAN-SALAFY-POLAMAN-SALAFY-POLAMAN-SALAFY-PONGANGAN-SALAFY-PONGANGAN-SALAFY-PONGANGAN-SALAFY-PONGANGAN-SALAFY-PONGANGAN-SALAFY-PONGANGAN-SALAFY-PONGANGAN-SALAFY-PONGANGAN-SALAFY-PONGANGAN-SALAFY-PURWODINATAN-SALAFY-PURWODINATAN-SALAFY-PURWODINATAN-SALAFY-PURWODINATAN-SALAFY-PURWODINATAN-SALAFY-PURWODINATAN-SALAFY-PURWODINATAN-SALAFY-PURWODINATAN-SALAFY-PURWODINATAN-SALAFY-PURWOSARI-SALAFY-PURWOSARI-SALAFY-PURWOSARI-SALAFY-PURWOSARI-SALAFY-PURWOSARI-SALAFY-PURWOSARI-SALAFY-PURWOSARI-SALAFY-PURWOSARI-SALAFY-PURWOSARI-SALAFY-PURWOYOSO-SALAFY-PURWOYOSO-SALAFY-PURWOYOSO-SALAFY-PURWOYOSO-SALAFY-PURWOYOSO-SALAFY-PURWOYOSO-SALAFY-PURWOYOSO-SALAFY-PURWOYOSO-SALAFY-PURWOYOSO-TUKPENCARIALHAQ.COM-SALAFY-RANDU-GARUT-SALAFY-RANDU-GARUT-SALAFY-RANDU-GARUT-SALAFY-RANDU-GARUT-SALAFY-RANDU-GARUT-SALAFY-RANDU-GARUT-SALAFY-RANDU-GARUT-SALAFY-RANDU-GARUT-SALAFY-RANDU-GARUT-SALAFY-RANDUSARI-SALAFY-RANDUSARI-SALAFY-RANDUSARI-SALAFY-RANDUSARI-SALAFY-RANDUSARI-SALAFY-RANDUSARI-SALAFY-RANDUSARI-SALAFY-RANDUSARI-SALAFY-RANDUSARI-SALAFY-REJOMULYO-SALAFY-REJOMULYO-SALAFY-REJOMULYO-SALAFY-REJOMULYO-SALAFY-REJOMULYO-SALAFY-REJOMULYO-SALAFY-REJOMULYO-SALAFY-REJOMULYO-SALAFY-REJOMULYO-SALAFY-REJOSARI-SALAFY-REJOSARI-SALAFY-REJOSARI-SALAFY-REJOSARI-SALAFY-REJOSARI-SALAFY-REJOSARI-SALAFY-REJOSARI-SALAFY-REJOSARI-SALAFY-REJOSARI-SALAFY-ROWOSARI-SALAFY-ROWOSARI-SALAFY-ROWOSARI-SALAFY-ROWOSARI-SALAFY-ROWOSARI-SALAFY-ROWOSARI-SALAFY-ROWOSARI-SALAFY-ROWOSARI-SALAFY-ROWOSARI-SALAFY-SADENG-SALAFY-SADENG-SALAFY-SADENG-SALAFY-SADENG-SALAFY-SADENG-SALAFY-SADENG-SALAFY-SADENG-SALAFY-SADENG-SALAFY-SADENG-SALAFY-SALAMANMLOYO-SALAFY-SALAMANMLOYO-SALAFY-SALAMANMLOYO-SALAFY-SALAMANMLOYO-SALAFY-SALAMANMLOYO-SALAFY-SALAMANMLOYO-SALAFY-SALAMANMLOYO-SALAFY-SALAMANMLOYO-SALAFY-SALAMANMLOYO-SALAFY-SAMBIREJO-SALAFY-SAMBIREJO-SALAFY-SAMBIREJO-SALAFY-SAMBIREJO-SALAFY-SAMBIREJO-SALAFY-SAMBIREJO-SALAFY-SAMBIREJO-SALAFY-SAMBIREJO-SALAFY-SAMBIREJO-SALAFY-SAMBIROTO-SALAFY-SAMBIROTO-SALAFY-SAMBIROTO-SALAFY-SAMBIROTO-SALAFY-SAMBIROTO-SALAFY-SAMBIROTO-SALAFY-SAMBIROTO-SALAFY-SAMBIROTO-SALAFY-SAMBIROTO-SALAFY-SAMPANGAN-SALAFY-SAMPANGAN-SALAFY-SAMPANGAN-SALAFY-SAMPANGAN-SALAFY-SAMPANGAN-SALAFY-SAMPANGAN-SALAFY-SAMPANGAN-SALAFY-SAMPANGAN-SALAFY-SAMPANGAN-SALAFY-SARIREJO-SALAFY-SARIREJO-SALAFY-SARIREJO-SALAFY-SARIREJO-SALAFY-SARIREJO-SALAFY-SARIREJO-SALAFY-SARIREJO-SALAFY-SARIREJO-SALAFY-SARIREJO-SALAFY-SAWAH-BESAR-SALAFY-SAWAH-BESAR-SALAFY-SAWAH-BESAR-SALAFY-SAWAH-BESAR-SALAFY-SAWAH-BESAR-SALAFY-SAWAH-BESAR-SALAFY-SAWAH-BESAR-SALAFY-SAWAH-BESAR-SALAFY-SAWAH-BESAR-SALAFY-SEKARAN-SALAFY-SEKARAN-SALAFY-SEKARAN-SALAFY-SEKARAN-SALAFY-SEKARAN-SALAFY-SEKARAN-SALAFY-SEKARAN-SALAFY-SEKARAN-SALAFY-SEKARAN-SALAFY-SEKAYU-SALAFY-SEKAYU-SALAFY-SEKAYU-SALAFY-SEKAYU-SALAFY-SEKAYU-SALAFY-SEKAYU-SALAFY-SEKAYU-SALAFY-SEKAYU-SALAFY-SEKAYU-SALAFY-SEMARANG-SALAFY-SEMARANG-SALAFY-SEMARANG-SALAFY-SEMARANG-SALAFY-SEMARANG-SALAFY-SEMARANG-SALAFY-SEMARANG-SALAFY-SEMARANG-SALAFY-SEMARANG-SALAFY-SEMBUNGHARJO-SALAFY-SEMBUNGHARJO-SALAFY-SEMBUNGHARJO-SALAFY-SEMBUNGHARJO-SALAFY-SEMBUNGHARJO-SALAFY-SEMBUNGHARJO-SALAFY-SEMBUNGHARJO-SALAFY-SEMBUNGHARJO-SALAFY-SEMBUNGHARJO-SALAFY-SENDANGGUWO-SALAFY-SENDANGGUWO-SALAFY-SENDANGGUWO-SALAFY-SENDANGGUWO-SALAFY-SENDANGGUWO-SALAFY-SENDANGGUWO-SALAFY-SENDANGGUWO-SALAFY-SENDANGGUWO-SALAFY-SENDANGGUWO-SALAFY-SENDANGMULYO-SALAFY-SENDANGMULYO-SALAFY-SENDANGMULYO-SALAFY-SENDANGMULYO-SALAFY-SENDANGMULYO-SALAFY-SENDANGMULYO-SALAFY-SENDANGMULYO-SALAFY-SENDANGMULYO-SALAFY-SENDANGMULYO-SALAFY-SIWALAN-SALAFY-SIWALAN-SALAFY-SIWALAN-SALAFY-SIWALAN-SALAFY-SIWALAN-SALAFY-SIWALAN-SALAFY-SIWALAN-SALAFY-SIWALAN-SALAFY-SIWALAN-SALAFY-SRONDOL-KULON-SALAFY-SRONDOL-KULON-SALAFY-SRONDOL-KULON-SALAFY-SRONDOL-KULON-SALAFY-SRONDOL-KULON-SALAFY-SRONDOL-KULON-SALAFY-SRONDOL-KULON-SALAFY-SRONDOL-KULON-SALAFY-SRONDOL-KULON-SALAFY-SRONDOL-WETAN-SALAFY-SRONDOL-WETAN-SALAFY-SRONDOL-WETAN-SALAFY-SRONDOL-WETAN-SALAFY-SRONDOL-WETAN-SALAFY-SRONDOL-WETAN-SALAFY-SRONDOL-WETAN-SALAFY-SRONDOL-WETAN-SALAFY-SRONDOL-WETAN-SALAFY-SUKOREJO-SALAFY-SUKOREJO-SALAFY-SUKOREJO-SALAFY-SUKOREJO-SALAFY-SUKOREJO-SALAFY-SUKOREJO-SALAFY-SUKOREJO-SALAFY-SUKOREJO-SALAFY-SUKOREJO-SALAFY-SUMURBOTO-SALAFY-SUMURBOTO-SALAFY-SUMURBOTO-SALAFY-SUMURBOTO-SALAFY-SUMURBOTO-SALAFY-SUMURBOTO-SALAFY-SUMURBOTO-SALAFY-SUMURBOTO-SALAFY-SUMURBOTO-SALAFY-SUMUREJO-SALAFY-SUMUREJO-SALAFY-SUMUREJO-SALAFY-SUMUREJO-SALAFY-SUMUREJO-SALAFY-SUMUREJO-SALAFY-SUMUREJO-SALAFY-SUMUREJO-SALAFY-SUMUREJO-RII-SALAFY-TAMBAK-AJI-SALAFY-TAMBAK-AJI-SALAFY-TAMBAK-AJI-SALAFY-TAMBAK-AJI-SALAFY-TAMBAK-AJI-SALAFY-TAMBAK-AJI-SALAFY-TAMBAK-AJI-SALAFY-TAMBAK-AJI-SALAFY-TAMBAK-AJI-SALAFY-TAMBAKHARJO-SALAFY-TAMBAKHARJO-SALAFY-TAMBAKHARJO-SALAFY-TAMBAKHARJO-SALAFY-TAMBAKHARJO-SALAFY-TAMBAKHARJO-SALAFY-TAMBAKHARJO-SALAFY-TAMBAKHARJO-SALAFY-TAMBAKHARJO-SALAFY-TAMBAKREJO-SALAFY-TAMBAKREJO-SALAFY-TAMBAKREJO-SALAFY-TAMBAKREJO-SALAFY-TAMBAKREJO-SALAFY-TAMBAKREJO-SALAFY-TAMBAKREJO-SALAFY-TAMBAKREJO-SALAFY-TAMBAKREJO-SALAFY-TAMBANGAN-SALAFY-TAMBANGAN-SALAFY-TAMBANGAN-SALAFY-TAMBANGAN-SALAFY-TAMBANGAN-SALAFY-TAMBANGAN-SALAFY-TAMBANGAN-SALAFY-TAMBANGAN-SALAFY-TAMBANGAN-SALAFY-TANDANG-SALAFY-TANDANG-SALAFY-TANDANG-SALAFY-TANDANG-SALAFY-TANDANG-SALAFY-TANDANG-SALAFY-TANDANG-SALAFY-TANDANG-SALAFY-TANDANG-SALAFY-TANJUNGMAS-SALAFY-TANJUNGMAS-SALAFY-TANJUNGMAS-SALAFY-TANJUNGMAS-SALAFY-TANJUNGMAS-SALAFY-TANJUNGMAS-SALAFY-TANJUNGMAS-SALAFY-TANJUNGMAS-SALAFY-TANJUNGMAS-SALAFY-TAWANGMAS-SALAFY-TAWANGMAS-SALAFY-TAWANGMAS-SALAFY-TAWANGMAS-SALAFY-TAWANGMAS-SALAFY-TAWANGMAS-SALAFY-TAWANGMAS-SALAFY-TAWANGMAS-SALAFY-TAWANGMAS-SALAFY-TAWANGSARI-SALAFY-TAWANGSARI-SALAFY-TAWANGSARI-SALAFY-TAWANGSARI-SALAFY-TAWANGSARI-SALAFY-TAWANGSARI-SALAFY-TAWANGSARI-SALAFY-TAWANGSARI-SALAFY-TAWANGSARI-SALAFY-TEGALSARI-SALAFY-TEGALSARI-SALAFY-TEGALSARI-SALAFY-TEGALSARI-SALAFY-TEGALSARI-SALAFY-TEGALSARI-SALAFY-TEGALSARI-SALAFY-TEGALSARI-SALAFY-TEGALSARI-SALAFY-TEMBALANG-SALAFY-TEMBALANG-SALAFY-TEMBALANG-SALAFY-TEMBALANG-SALAFY-TEMBALANG-SALAFY-TEMBALANG-SALAFY-TEMBALANG-SALAFY-TEMBALANG-SALAFY-TEMBALANG-SALAFY-TERBOYO-KULON-SALAFY-TERBOYO-KULON-SALAFY-TERBOYO-KULON-SALAFY-TERBOYO-KULON-SALAFY-TERBOYO-KULON-SALAFY-TERBOYO-KULON-SALAFY-TERBOYO-KULON-SALAFY-TERBOYO-KULON-SALAFY-TERBOYO-KULON-SALAFY-TERBOYO-WETAN-SALAFY-TERBOYO-WETAN-SALAFY-TERBOYO-WETAN-SALAFY-TERBOYO-WETAN-SALAFY-TERBOYO-WETAN-SALAFY-TERBOYO-WETAN-SALAFY-TERBOYO-WETAN-SALAFY-TERBOYO-WETAN-SALAFY-TERBOYO-WETAN-SALAFY-TINJOMOYO-SALAFY-TINJOMOYO-SALAFY-TINJOMOYO-SALAFY-TINJOMOYO-SALAFY-TINJOMOYO-SALAFY-TINJOMOYO-SALAFY-TINJOMOYO-SALAFY-TINJOMOYO-SALAFY-TINJOMOYO-SALAFY-TLOGOMULYO-SALAFY-TLOGOMULYO-SALAFY-TLOGOMULYO-SALAFY-TLOGOMULYO-SALAFY-TLOGOMULYO-SALAFY-TLOGOMULYO-SALAFY-TLOGOMULYO-SALAFY-TLOGOMULYO-SALAFY-TLOGOMULYO-SALAFY-TLOGOSARI-KULON-SALAFY-TLOGOSARI-KULON-SALAFY-TLOGOSARI-KULON-SALAFY-TLOGOSARI-KULON-SALAFY-TLOGOSARI-KULON-SALAFY-TLOGOSARI-KULON-SALAFY-TLOGOSARI-KULON-SALAFY-TLOGOSARI-KULON-SALAFY-TLOGOSARI-KULON-SALAFY-TLOGOSARI-WETAN-SALAFY-TLOGOSARI-WETAN-SALAFY-TLOGOSARI-WETAN-SALAFY-TLOGOSARI-WETAN-SALAFY-TLOGOSARI-WETAN-SALAFY-TLOGOSARI-WETAN-SALAFY-TLOGOSARI-WETAN-SALAFY-TLOGOSARI-WETAN-SALAFY-TLOGOSARI-WETAN-SALAFY-TRIMULYO-SALAFY-TRIMULYO-SALAFY-TRIMULYO-SALAFY-TRIMULYO-SALAFY-TRIMULYO-SALAFY-TRIMULYO-SALAFY-TRIMULYO-SALAFY-TRIMULYO-SALAFY-TRIMULYO-SALAFY-TUGUREJO-SALAFY-TUGUREJO-SALAFY-TUGUREJO-SALAFY-TUGUREJO-SALAFY-TUGUREJO-SALAFY-TUGUREJO-SALAFY-TUGUREJO-SALAFY-TUGUREJO-SALAFY-TUGUREJO-SALAFY-WONODRI-SALAFY-WONODRI-SALAFY-WONODRI-SALAFY-WONODRI-SALAFY-WONODRI-SALAFY-WONODRI-SALAFY-WONODRI-SALAFY-WONODRI-SALAFY-WONODRI-SALAFY-WONOLOPO-SALAFY-WONOLOPO-SALAFY-WONOLOPO-SALAFY-WONOLOPO-SALAFY-WONOLOPO-SALAFY-WONOLOPO-SALAFY-WONOLOPO-SALAFY-WONOLOPO-SALAFY-WONOLOPO-SALAFY-WONOPLUMBON-SALAFY-WONOPLUMBON-SALAFY-WONOPLUMBON-SALAFY-WONOPLUMBON-SALAFY-WONOPLUMBON-SALAFY-WONOPLUMBON-SALAFY-WONOPLUMBON-SALAFY-WONOPLUMBON-SALAFY-WONOPLUMBON-SALAFY-WONOSARI-SALAFY-WONOSARI-SALAFY-WONOSARI-SALAFY-WONOSARI-SALAFY-WONOSARI-SALAFY-WONOSARI-SALAFY-WONOSARI-SALAFY-WONOSARI-SALAFY-WONOSARI-SALAFY-WONOTINGAL-SALAFY-WONOTINGAL-SALAFY-WONOTINGAL-SALAFY-WONOTINGAL-SALAFY-WONOTINGAL-SALAFY-WONOTINGAL-SALAFY-WONOTINGAL-SALAFY-WONOTINGAL-SALAFY-WONOTINGAL-SALAFY.OR.ID-SALAFY-AMBARAWA-SALAFY-AMBARAWA-SALAFY-AMBARAWA-SALAFY-AMBARAWA-SALAFY-AMBARAWA-SALAFY-AMBARAWA-SALAFY-AMBARAWA-SALAFY-AMBARAWA-SALAFY-AMBARAWA-SALAFY-BAMBANKEREP-SALAFY-BAMBANKEREP-SALAFY-BAMBANKEREP-SALAFY-BAMBANKEREP-SALAFY-BAMBANKEREP-SALAFY-BAMBANKEREP-SALAFY-BAMBANKEREP-SALAFY-BAMBANKEREP-SALAFY-BAMBANKEREP-SALAFY-BANCAK-SALAFY-BANCAK-SALAFY-BANCAK-SALAFY-BANCAK-SALAFY-BANCAK-SALAFY-BANCAK-SALAFY-BANCAK-SALAFY-BANCAK-SALAFY-BANCAK-SALAFY-BANDUNGAN-SALAFY-BANDUNGAN-SALAFY-BANDUNGAN-SALAFY-BANDUNGAN-SALAFY-BANDUNGAN-SALAFY-BANDUNGAN-SALAFY-BANDUNGAN-SALAFY-BANDUNGAN-SALAFY-BANDUNGAN-SALAFY-BANGETAYU-KULON-SALAFY-BANGETAYU-KULON-SALAFY-BANGETAYU-KULON-SALAFY-BANGETAYU-KULON-SALAFY-BANGETAYU-KULON-SALAFY-BANGETAYU-KULON-SALAFY-BANGETAYU-KULON-SALAFY-BANGETAYU-KULON-SALAFY-BANGETAYU-KULON-SALAFY-BANGUNHARJO-SALAFY-BANGUNHARJO-SALAFY-BANGUNHARJO-SALAFY-BANGUNHARJO-SALAFY-BANGUNHARJO-SALAFY-BANGUNHARJO-SALAFY-BANGUNHARJO-SALAFY-BANGUNHARJO-SALAFY-BANGUNHARJO-SALAFY-BANJARNEGARA-SALAFY-BANJARNEGARA-SALAFY-BANJARNEGARA-SALAFY-BANJARNEGARA-SALAFY-BANJARNEGARA-SALAFY-BANJARNEGARA-SALAFY-BANJARNEGARA-SALAFY-BANJARNEGARA-SALAFY-BANJARNEGARA-SALAFY-BANYUBIRU-SALAFY-BANYUBIRU-SALAFY-BANYUBIRU-SALAFY-BANYUBIRU-SALAFY-BANYUBIRU-SALAFY-BANYUBIRU-SALAFY-BANYUBIRU-SALAFY-BANYUBIRU-SALAFY-BANYUBIRU-SALAFY-BANYUMANIK-SALAFY-BANYUMANIK-SALAFY-BANYUMANIK-SALAFY-BANYUMANIK-SALAFY-BANYUMANIK-SALAFY-BANYUMANIK-SALAFY-BANYUMANIK-SALAFY-BANYUMANIK-SALAFY-BANYUMANIK-SALAFY-BANYUMAS-SALAFY-BANYUMAS-SALAFY-BANYUMAS-SALAFY-BANYUMAS-SALAFY-BANYUMAS-SALAFY-BANYUMAS-SALAFY-BANYUMAS-SALAFY-BANYUMAS-SALAFY-BANYUMAS-SALAFY-BARUSARI-SALAFY-BARUSARI-SALAFY-BARUSARI-SALAFY-BARUSARI-SALAFY-BARUSARI-SALAFY-BARUSARI-SALAFY-BARUSARI-SALAFY-BARUSARI-SALAFY-BARUSARI-SALAFY-BATANG-SALAFY-BATANG-SALAFY-BATANG-SALAFY-BATANG-SALAFY-BATANG-SALAFY-BATANG-SALAFY-BATANG-SALAFY-BATANG-SALAFY-BATANG-SALAFY-BAWEN-SALAFY-BAWEN-SALAFY-BAWEN-SALAFY-BAWEN-SALAFY-BAWEN-SALAFY-BAWEN-SALAFY-BAWEN-SALAFY-BAWEN-SALAFY-BAWEN-SALAFY-BENDANDUWUR-SALAFY-BENDANDUWUR-SALAFY-BENDANDUWUR-SALAFY-BENDANDUWUR-SALAFY-BENDANDUWUR-SALAFY-BENDANDUWUR-SALAFY-BENDANDUWUR-SALAFY-BENDANDUWUR-SALAFY-BENDANDUWUR-SALAFY-BERGAS-SALAFY-BERGAS-SALAFY-BERGAS-SALAFY-BERGAS-SALAFY-BERGAS-SALAFY-BERGAS-SALAFY-BERGAS-SALAFY-BERGAS-SALAFY-BERGAS-SALAFY-BLORA-SALAFY-BLORA-SALAFY-BLORA-SALAFY-BLORA-SALAFY-BLORA-SALAFY-BLORA-SALAFY-BLORA-SALAFY-BLORA-SALAFY-BLORA-SALAFY-BOJONGSALAMAN-SALAFY-BOJONGSALAMAN-SALAFY-BOJONGSALAMAN-SALAFY-BOJONGSALAMAN-SALAFY-BOJONGSALAMAN-SALAFY-BOJONGSALAMAN-SALAFY-BOJONGSALAMAN-SALAFY-BOJONGSALAMAN-SALAFY-BOJONGSALAMAN-SALAFY-BOYOLALI-SALAFY-BOYOLALI-SALAFY-BOYOLALI-SALAFY-BOYOLALI-SALAFY-BOYOLALI-SALAFY-BOYOLALI-SALAFY-BOYOLALI-SALAFY-BOYOLALI-SALAFY-BOYOLALI-SALAFY-BREBES-SALAFY-BREBES-SALAFY-BREBES-SALAFY-BREBES-SALAFY-BREBES-SALAFY-BREBES-SALAFY-BREBES-SALAFY-BREBES-SALAFY-BREBES-SALAFY-BRINGIN-SALAFY-BRINGIN-SALAFY-BRINGIN-SALAFY-BRINGIN-SALAFY-BRINGIN-SALAFY-BRINGIN-SALAFY-BRINGIN-SALAFY-BRINGIN-SALAFY-BRINGIN-SALAFY-BUBAKAN-SALAFY-BUBAKAN-SALAFY-BUBAKAN-SALAFY-BUBAKAN-SALAFY-BUBAKAN-SALAFY-BUBAKAN-SALAFY-BUBAKAN-SALAFY-BUBAKAN-SALAFY-BUBAKAN-SALAFY-BUGANGAN-SALAFY-BUGANGAN-SALAFY-BUGANGAN-SALAFY-BUGANGAN-SALAFY-BUGANGAN-SALAFY-BUGANGAN-SALAFY-BUGANGAN-SALAFY-BUGANGAN-SALAFY-BUGANGAN-SALAFY-BULU-LOR-SALAFY-BULU-LOR-SALAFY-BULU-LOR-SALAFY-BULU-LOR-SALAFY-BULU-LOR-SALAFY-BULU-LOR-SALAFY-BULU-LOR-SALAFY-BULU-LOR-SALAFY-BULU-LOR-SALAFY-BULUSAN-SALAFY-BULUSAN-SALAFY-BULUSAN-SALAFY-BULUSAN-SALAFY-BULUSAN-SALAFY-BULUSAN-SALAFY-BULUSAN-SALAFY-BULUSAN-SALAFY-BULUSAN-SALAFY-BUMIAYU-SALAFY-BUMIAYU-SALAFY-BUMIAYU-SALAFY-BUMIAYU-SALAFY-BUMIAYU-SALAFY-BUMIAYU-SALAFY-BUMIAYU-SALAFY-BUMIAYU-SALAFY-BUMIAYU-SALAFY-CANDI-SALAFY-CANDI-SALAFY-CANDI-SALAFY-CANDI-SALAFY-CANDI-SALAFY-CANDI-SALAFY-CANDI-SALAFY-CANDI-SALAFY-CANDI-SALAFY-CANDISARI-SALAFY-CANDISARI-SALAFY-CANDISARI-SALAFY-CANDISARI-SALAFY-CANDISARI-SALAFY-CANDISARI-SALAFY-CANDISARI-SALAFY-CANDISARI-SALAFY-CANDISARI-SALAFY-CEPOKO-SALAFY-CEPOKO-SALAFY-CEPOKO-SALAFY-CEPOKO-SALAFY-CEPOKO-SALAFY-CEPOKO-SALAFY-CEPOKO-SALAFY-CEPOKO-SALAFY-CEPOKO-SALAFY-CEPU-SALAFY-CEPU-SALAFY-CEPU-SALAFY-CEPU-SALAFY-CEPU-SALAFY-CEPU-SALAFY-CEPU-SALAFY-CEPU-SALAFY-CEPU-SALAFY-CILACAP-SALAFY-CILACAP-SALAFY-CILACAP-SALAFY-CILACAP-SALAFY-CILACAP-SALAFY-CILACAP-SALAFY-CILACAP-SALAFY-CILACAP-SALAFY-CILACAP-SALAFY-DEMAK-SALAFY-DEMAK-SALAFY-DEMAK-SALAFY-DEMAK-SALAFY-DEMAK-SALAFY-DEMAK-SALAFY-DEMAK-SALAFY-DEMAK-SALAFY-DEMAK-SALAFYS.COM-SALAFY-GAJAHMUNGKUR-SALAFY-GAJAHMUNGKUR-SALAFY-GAJAHMUNGKUR-SALAFY-GAJAHMUNGKUR-SALAFY-GAJAHMUNGKUR-SALAFY-GAJAHMUNGKUR-SALAFY-GAJAHMUNGKUR-SALAFY-GAJAHMUNGKUR-SALAFY-GAJAHMUNGKUR-SALAFY-GAYAMSARI-SALAFY-GAYAMSARI-SALAFY-GAYAMSARI-SALAFY-GAYAMSARI-SALAFY-GAYAMSARI-SALAFY-GAYAMSARI-SALAFY-GAYAMSARI-SALAFY-GAYAMSARI-SALAFY-GAYAMSARI-SALAFY-GEMAH-SALAFY-GEMAH-SALAFY-GEMAH-SALAFY-GEMAH-SALAFY-GEMAH-SALAFY-GEMAH-SALAFY-GEMAH-SALAFY-GEMAH-SALAFY-GEMAH-SALAFY-GENUK-SALAFY-GENUK-SALAFY-GENUK-SALAFY-GENUK-SALAFY-GENUK-SALAFY-GENUK-SALAFY-GENUK-SALAFY-GENUK-SALAFY-GENUK-SALAFY-GETASAN-SALAFY-GETASAN-SALAFY-GETASAN-SALAFY-GETASAN-SALAFY-GETASAN-SALAFY-GETASAN-SALAFY-GETASAN-SALAFY-GETASAN-SALAFY-GETASAN-SALAFY-GODONG-SALAFY-GODONG-SALAFY-GODONG-SALAFY-GODONG-SALAFY-GODONG-SALAFY-GODONG-SALAFY-GODONG-SALAFY-GODONG-SALAFY-GODONG-SALAFY-GROBOGAN-SALAFY-GROBOGAN-SALAFY-GROBOGAN-SALAFY-GROBOGAN-SALAFY-GROBOGAN-SALAFY-GROBOGAN-SALAFY-GROBOGAN-SALAFY-GROBOGAN-SALAFY-GROBOGAN-SALAFY-GUBUG-SALAFY-GUBUG-SALAFY-GUBUG-SALAFY-GUBUG-SALAFY-GUBUG-SALAFY-GUBUG-SALAFY-GUBUG-SALAFY-GUBUG-SALAFY-GUBUG-SALAFY-GUNUNGPATI-SALAFY-GUNUNGPATI-SALAFY-GUNUNGPATI-SALAFY-GUNUNGPATI-SALAFY-GUNUNGPATI-SALAFY-GUNUNGPATI-SALAFY-GUNUNGPATI-SALAFY-GUNUNGPATI-SALAFY-GUNUNGPATI-SALAFY-JAMBU-SALAFY-JAMBU-SALAFY-JAMBU-SALAFY-JAMBU-SALAFY-JAMBU-SALAFY-JAMBU-SALAFY-JAMBU-SALAFY-JAMBU-SALAFY-JAMBU-SALAFY-JATENG-SALAFY-JATENG-SALAFY-JATENG-SALAFY-JATENG-SALAFY-JATENG-SALAFY-JATENG-SALAFY-JATENG-SALAFY-JATENG-SALAFY-JATENG-SALAFY-JATIBARANG-SALAFY-JATIBARANG-SALAFY-JATIBARANG-SALAFY-JATIBARANG-SALAFY-JATIBARANG-SALAFY-JATIBARANG-SALAFY-JATIBARANG-SALAFY-JATIBARANG-SALAFY-JATIBARANG-SALAFY-JAWA-TENGAH-SALAFY-JAWA-TENGAH-SALAFY-JAWA-TENGAH-SALAFY-JAWA-TENGAH-SALAFY-JAWA-TENGAH-SALAFY-JAWA-TENGAH-SALAFY-JAWA-TENGAH-SALAFY-JAWA-TENGAH-SALAFY-JAWA-TENGAH-SALAFY-JEPARA-SALAFY-JEPARA-SALAFY-JEPARA-SALAFY-JEPARA-SALAFY-JEPARA-SALAFY-JEPARA-SALAFY-JEPARA-SALAFY-JEPARA-SALAFY-JEPARA-SALAFY-JERAKAH-SALAFY-JERAKAH-SALAFY-JERAKAH-SALAFY-JERAKAH-SALAFY-JERAKAH-SALAFY-JERAKAH-SALAFY-JERAKAH-SALAFY-JERAKAH-SALAFY-JERAKAH-SALAFY-JUWANA-SALAFY-JUWANA-SALAFY-JUWANA-SALAFY-JUWANA-SALAFY-JUWANA-SALAFY-JUWANA-SALAFY-JUWANA-SALAFY-JUWANA-SALAFY-JUWANA-SALAFY-KAJEN-SALAFY-KAJEN-SALAFY-KAJEN-SALAFY-KAJEN-SALAFY-KAJEN-SALAFY-KAJEN-SALAFY-KAJEN-SALAFY-KAJEN-SALAFY-KAJEN-SALAFY-KALIWUNGU-SALAFY-KALIWUNGU-SALAFY-KALIWUNGU-SALAFY-KALIWUNGU-SALAFY-KALIWUNGU-SALAFY-KALIWUNGU-SALAFY-KALIWUNGU-SALAFY-KALIWUNGU-SALAFY-KALIWUNGU-SALAFY-KARANGANYAR-SALAFY-KARANGANYAR-SALAFY-KARANGANYAR-SALAFY-KARANGANYAR-SALAFY-KARANGANYAR-SALAFY-KARANGANYAR-SALAFY-KARANGANYAR-SALAFY-KARANGANYAR-SALAFY-KARANGANYAR-SALAFY-KEBUMEN-SALAFY-KEBUMEN-SALAFY-KEBUMEN-SALAFY-KEBUMEN-SALAFY-KEBUMEN-SALAFY-KEBUMEN-SALAFY-KEBUMEN-SALAFY-KEBUMEN-SALAFY-KEBUMEN-SALAFY-KEDU-SALAFY-KEDU-SALAFY-KEDU-SALAFY-KEDU-SALAFY-KEDU-SALAFY-KEDU-SALAFY-KEDU-SALAFY-KEDU-SALAFY-KEDU-SALAFY-KENDAL-SALAFY-KENDAL-SALAFY-KENDAL-SALAFY-KENDAL-SALAFY-KENDAL-SALAFY-KENDAL-SALAFY-KENDAL-SALAFY-KENDAL-SALAFY-KENDAL-SALAFY-KLATEN-SALAFY-KLATEN-SALAFY-KLATEN-SALAFY-KLATEN-SALAFY-KLATEN-SALAFY-KLATEN-SALAFY-KLATEN-SALAFY-KLATEN-SALAFY-KLATEN-SALAFY-KUDUS-SALAFY-KUDUS-SALAFY-KUDUS-SALAFY-KUDUS-SALAFY-KUDUS-SALAFY-KUDUS-SALAFY-KUDUS-SALAFY-KUDUS-SALAFY-KUDUS-SALAFY-MAGELANG-SALAFY-MAGELANG-SALAFY-MAGELANG-SALAFY-MAGELANG-SALAFY-MAGELANG-SALAFY-MAGELANG-SALAFY-MAGELANG-SALAFY-MAGELANG-SALAFY-MAGELANG-SALAFY-MIJEN-SALAFY-MIJEN-SALAFY-MIJEN-SALAFY-MIJEN-SALAFY-MIJEN-SALAFY-MIJEN-SALAFY-MIJEN-SALAFY-MIJEN-SALAFY-MIJEN-SALAFY-MUNGKID-SALAFY-MUNGKID-SALAFY-MUNGKID-SALAFY-MUNGKID-SALAFY-MUNGKID-SALAFY-MUNGKID-SALAFY-MUNGKID-SALAFY-MUNGKID-SALAFY-MUNGKID-SALAFY-NGALIYAN-SALAFY-NGALIYAN-SALAFY-NGALIYAN-SALAFY-NGALIYAN-SALAFY-NGALIYAN-SALAFY-NGALIYAN-SALAFY-NGALIYAN-SALAFY-NGALIYAN-SALAFY-NGALIYAN-TUKPENCARIALHAQ.COM-SALAFY-PABELAN-SALAFY-PABELAN-SALAFY-PABELAN-SALAFY-PABELAN-SALAFY-PABELAN-SALAFY-PABELAN-SALAFY-PABELAN-SALAFY-PABELAN-SALAFY-PABELAN-SALAFY-PATI-SALAFY-PATI-SALAFY-PATI-SALAFY-PATI-SALAFY-PATI-SALAFY-PATI-SALAFY-PATI-SALAFY-PATI-SALAFY-PATI-SALAFY-PEDURUNGAN-SALAFY-PEDURUNGAN-SALAFY-PEDURUNGAN-SALAFY-PEDURUNGAN-SALAFY-PEDURUNGAN-SALAFY-PEDURUNGAN-SALAFY-PEDURUNGAN-SALAFY-PEDURUNGAN-SALAFY-PEDURUNGAN-SALAFY-PEKALONGAN-SALAFY-PEKALONGAN-SALAFY-PEKALONGAN-SALAFY-PEKALONGAN-SALAFY-PEKALONGAN-SALAFY-PEKALONGAN-SALAFY-PEKALONGAN-SALAFY-PEKALONGAN-SALAFY-PEKALONGAN-SALAFY-PEMALANG-SALAFY-PEMALANG-SALAFY-PEMALANG-SALAFY-PEMALANG-SALAFY-PEMALANG-SALAFY-PEMALANG-SALAFY-PEMALANG-SALAFY-PEMALANG-SALAFY-PEMALANG-SALAFY-PLEBURAN-SALAFY-PLEBURAN-SALAFY-PLEBURAN-SALAFY-PLEBURAN-SALAFY-PLEBURAN-SALAFY-PLEBURAN-SALAFY-PLEBURAN-SALAFY-PLEBURAN-SALAFY-PLEBURAN-SALAFY-PRINGAPUS-SALAFY-PRINGAPUS-SALAFY-PRINGAPUS-SALAFY-PRINGAPUS-SALAFY-PRINGAPUS-SALAFY-PRINGAPUS-SALAFY-PRINGAPUS-SALAFY-PRINGAPUS-SALAFY-PRINGAPUS-SALAFY-PUDAKPAYUNG-SALAFY-PUDAKPAYUNG-SALAFY-PUDAKPAYUNG-SALAFY-PUDAKPAYUNG-SALAFY-PUDAKPAYUNG-SALAFY-PUDAKPAYUNG-SALAFY-PUDAKPAYUNG-SALAFY-PUDAKPAYUNG-SALAFY-PUDAKPAYUNG-SALAFY-PURBALINGGA-SALAFY-PURBALINGGA-SALAFY-PURBALINGGA-SALAFY-PURBALINGGA-SALAFY-PURBALINGGA-SALAFY-PURBALINGGA-SALAFY-PURBALINGGA-SALAFY-PURBALINGGA-SALAFY-PURBALINGGA-SALAFY-PURWODADI-SALAFY-PURWODADI-SALAFY-PURWODADI-SALAFY-PURWODADI-SALAFY-PURWODADI-SALAFY-PURWODADI-SALAFY-PURWODADI-SALAFY-PURWODADI-SALAFY-PURWODADI-SALAFY-PURWOKERTO-SALAFY-PURWOKERTO-SALAFY-PURWOKERTO-SALAFY-PURWOKERTO-SALAFY-PURWOKERTO-SALAFY-PURWOKERTO-SALAFY-PURWOKERTO-SALAFY-PURWOKERTO-SALAFY-PURWOKERTO-SALAFY-PURWOREJO-SALAFY-PURWOREJO-SALAFY-PURWOREJO-SALAFY-PURWOREJO-SALAFY-PURWOREJO-SALAFY-PURWOREJO-SALAFY-PURWOREJO-SALAFY-PURWOREJO-SALAFY-PURWOREJO-SALAFY-REMBANG-SALAFY-REMBANG-SALAFY-REMBANG-SALAFY-REMBANG-SALAFY-REMBANG-SALAFY-REMBANG-SALAFY-REMBANG-SALAFY-REMBANG-SALAFY-REMBANG-SALAFY-SALATIGA-SALAFY-SALATIGA-SALAFY-SALATIGA-SALAFY-SALATIGA-SALAFY-SALATIGA-SALAFY-SALATIGA-SALAFY-SALATIGA-SALAFY-SALATIGA-SALAFY-SALATIGA-SALAFY-SEMARANG-SALAFY-SEMARANG-SALAFY-SEMARANG-SALAFY-SEMARANG-SALAFY-SEMARANG-SALAFY-SEMARANG-SALAFY-SEMARANG-SALAFY-SEMARANG-SALAFY-SEMARANG-SALAFY-SEMARANG-BARAT-SALAFY-SEMARANG-BARAT-SALAFY-SEMARANG-BARAT-SALAFY-SEMARANG-BARAT-SALAFY-SEMARANG-BARAT-SALAFY-SEMARANG-BARAT-SALAFY-SEMARANG-BARAT-SALAFY-SEMARANG-BARAT-SALAFY-SEMARANG-BARAT-SALAFY-SEMARANG-SELATAN-SALAFY-SEMARANG-SELATAN-SALAFY-SEMARANG-SELATAN-SALAFY-SEMARANG-SELATAN-SALAFY-SEMARANG-SELATAN-SALAFY-SEMARANG-SELATAN-SALAFY-SEMARANG-SELATAN-SALAFY-SEMARANG-SELATAN-SALAFY-SEMARANG-SELATAN-SALAFY-SEMARANG-TENGAH-SALAFY-SEMARANG-TENGAH-SALAFY-SEMARANG-TENGAH-SALAFY-SEMARANG-TENGAH-SALAFY-SEMARANG-TENGAH-SALAFY-SEMARANG-TENGAH-SALAFY-SEMARANG-TENGAH-SALAFY-SEMARANG-TENGAH-SALAFY-SEMARANG-TENGAH-SALAFY-SEMARANG-TIMUR-SALAFY-SEMARANG-TIMUR-SALAFY-SEMARANG-TIMUR-SALAFY-SEMARANG-TIMUR-SALAFY-SEMARANG-TIMUR-SALAFY-SEMARANG-TIMUR-SALAFY-SEMARANG-TIMUR-SALAFY-SEMARANG-TIMUR-SALAFY-SEMARANG-TIMUR-SALAFY-SEMARANG-UTARA-SALAFY-SEMARANG-UTARA-SALAFY-SEMARANG-UTARA-SALAFY-SEMARANG-UTARA-SALAFY-SEMARANG-UTARA-SALAFY-SEMARANG-UTARA-SALAFY-SEMARANG-UTARA-SALAFY-SEMARANG-UTARA-SALAFY-SEMARANG-UTARA-SALAFY-SLAWI-SALAFY-SLAWI-SALAFY-SLAWI-SALAFY-SLAWI-SALAFY-SLAWI-SALAFY-SLAWI-SALAFY-SLAWI-SALAFY-SLAWI-SALAFY-SLAWI-SALAFY-SOLO-SALAFY-SOLO-SALAFY-SOLO-SALAFY-SOLO-SALAFY-SOLO-SALAFY-SOLO-SALAFY-SOLO-SALAFY-SOLO-SALAFY-SOLO-SALAFY-SRAGEN-SALAFY-SRAGEN-SALAFY-SRAGEN-SALAFY-SRAGEN-SALAFY-SRAGEN-SALAFY-SRAGEN-SALAFY-SRAGEN-SALAFY-SRAGEN-SALAFY-SRAGEN-SALAFY-SRONDOL-SALAFY-SRONDOL-SALAFY-SRONDOL-SALAFY-SRONDOL-SALAFY-SRONDOL-SALAFY-SRONDOL-SALAFY-SRONDOL-SALAFY-SRONDOL-SALAFY-SRONDOL-SALAFY-SUKOHARJO-SALAFY-SUKOHARJO-SALAFY-SUKOHARJO-SALAFY-SUKOHARJO-SALAFY-SUKOHARJO-SALAFY-SUKOHARJO-SALAFY-SUKOHARJO-SALAFY-SUKOHARJO-SALAFY-SUKOHARJO-SALAFY-SUMOWONO-SALAFY-SUMOWONO-SALAFY-SUMOWONO-SALAFY-SUMOWONO-SALAFY-SUMOWONO-SALAFY-SUMOWONO-SALAFY-SUMOWONO-SALAFY-SUMOWONO-SALAFY-SUMOWONO-SALAFY-SURAKARTA-SALAFY-SURAKARTA-SALAFY-SURAKARTA-SALAFY-SURAKARTA-SALAFY-SURAKARTA-SALAFY-SURAKARTA-SALAFY-SURAKARTA-SALAFY-SURAKARTA-SALAFY-SURAKARTA-SALAFY-SURUH-SALAFY-SURUH-SALAFY-SURUH-SALAFY-SURUH-SALAFY-SURUH-SALAFY-SURUH-SALAFY-SURUH-SALAFY-SURUH-SALAFY-SURUH-SALAFY-SUSUKAN-SALAFY-SUSUKAN-SALAFY-SUSUKAN-SALAFY-SUSUKAN-SALAFY-SUSUKAN-SALAFY-SUSUKAN-SALAFY-SUSUKAN-SALAFY-SUSUKAN-SALAFY-SUSUKAN-SALAFY-TEGAL-SALAFY-TEGAL-SALAFY-TEGAL-SALAFY-TEGAL-SALAFY-TEGAL-SALAFY-TEGAL-SALAFY-TEGAL-SALAFY-TEGAL-SALAFY-TEGAL-SALAFY-TEMANGGUNG-SALAFY-TEMANGGUNG-SALAFY-TEMANGGUNG-SALAFY-TEMANGGUNG-SALAFY-TEMANGGUNG-SALAFY-TEMANGGUNG-SALAFY-TEMANGGUNG-SALAFY-TEMANGGUNG-SALAFY-TEMANGGUNG-SALAFY-TEMBALANG-SALAFY-TEMBALANG-SALAFY-TEMBALANG-SALAFY-TEMBALANG-SALAFY-TEMBALANG-SALAFY-TEMBALANG-SALAFY-TEMBALANG-SALAFY-TEMBALANG-SALAFY-TEMBALANG-SALAFY-TENGARAN-SALAFY-TENGARAN-SALAFY-TENGARAN-SALAFY-TENGARAN-SALAFY-TENGARAN-SALAFY-TENGARAN-SALAFY-TENGARAN-SALAFY-TENGARAN-SALAFY-TENGARAN-SALAFY-TUGU-SALAFY-TUGU-SALAFY-TUGU-SALAFY-TUGU-SALAFY-TUGU-SALAFY-TUGU-SALAFY-TUGU-SALAFY-TUGU-SALAFY-TUGU-SALAFY-TUNTANG-SALAFY-TUNTANG-SALAFY-TUNTANG-SALAFY-TUNTANG-SALAFY-TUNTANG-SALAFY-TUNTANG-SALAFY-TUNTANG-SALAFY-TUNTANG-SALAFY-TUNTANG-SALAFY-UNDIP-SALAFY-UNDIP-SALAFY-UNDIP-SALAFY-UNDIP-SALAFY-UNDIP-SALAFY-UNDIP-SALAFY-UNDIP-SALAFY-UNDIP-SALAFY-UNDIP-SALAFY-UNGARAN-SALAFY-UNGARAN-SALAFY-UNGARAN-SALAFY-UNGARAN-SALAFY-UNGARAN-SALAFY-UNGARAN-SALAFY-UNGARAN-SALAFY-UNGARAN-SALAFY-UNGARAN-SALAFY-UNNES-SALAFY-UNNES-SALAFY-UNNES-SALAFY-UNNES-SALAFY-UNNES-SALAFY-UNNES-SALAFY-UNNES-SALAFY-UNNES-SALAFY-UNNES-SALAFY-WIROSARI-SALAFY-WIROSARI-SALAFY-WIROSARI-SALAFY-WIROSARI-SALAFY-WIROSARI-SALAFY-WIROSARI-SALAFY-WIROSARI-SALAFY-WIROSARI-SALAFY-WIROSARI-SALAFY-WONOGIRI-SALAFY-WONOGIRI-SALAFY-WONOGIRI-SALAFY-WONOGIRI-SALAFY-WONOGIRI-SALAFY-WONOGIRI-SALAFY-WONOGIRI-SALAFY-WONOGIRI-SALAFY-WONOGIRI-SALAFY-WONOSOBO-SALAFY-WONOSOBO-SALAFY-WONOSOBO-SALAFY-WONOSOBO-SALAFY-WONOSOBO-SALAFY-WONOSOBO-SALAFY-WONOSOBO-SALAFY-WONOSOBO-SALAFY-WONOSOBO-SALAFY-BANTUL-SALAFY-BANTUL-SALAFY-BANTUL-SALAFY-BANTUL-SALAFY-BANTUL-SALAFY-BANTUL-SALAFY-BANTUL-SALAFY-BANTUL-SALAFY-BANTUL-SALAFY-GUNUNGKIDUL-SALAFY-GUNUNGKIDUL-SALAFY-GUNUNGKIDUL-SALAFY-GUNUNGKIDUL-SALAFY-GUNUNGKIDUL-SALAFY-GUNUNGKIDUL-SALAFY-GUNUNGKIDUL-SALAFY-GUNUNGKIDUL-SALAFY-GUNUNGKIDUL-SALAFY-JOGJA-SALAFY-JOGJA-SALAFY-JOGJA-SALAFY-JOGJA-SALAFY-JOGJA-SALAFY-JOGJA-SALAFY-JOGJA-SALAFY-JOGJA-SALAFY-JOGJA-SALAFY-JOGJAKARTA-SALAFY-JOGJAKARTA-SALAFY-JOGJAKARTA-SALAFY-JOGJAKARTA-SALAFY-JOGJAKARTA-SALAFY-JOGJAKARTA-SALAFY-JOGJAKARTA-SALAFY-JOGJAKARTA-SALAFY-JOGJAKARTA-RII-SALAFY-KULON-PROGO-SALAFY-KULON-PROGO-SALAFY-KULON-PROGO-SALAFY-KULON-PROGO-SALAFY-KULON-PROGO-SALAFY-KULON-PROGO-SALAFY-KULON-PROGO-SALAFY-KULON-PROGO-SALAFY-KULON-PROGO-SALAFY-SLEMAN-SALAFY-SLEMAN-SALAFY-SLEMAN-SALAFY-SLEMAN-SALAFY-SLEMAN-SALAFY-SLEMAN-SALAFY-SLEMAN-SALAFY-SLEMAN-SALAFY-SLEMAN-SALAFY-WATES-SALAFY-WATES-SALAFY-WATES-SALAFY-WATES-SALAFY-WATES-SALAFY-WATES-SALAFY-WATES-SALAFY-WATES-SALAFY-WATES-SALAFY-WONOSARI-SALAFY-WONOSARI-SALAFY-WONOSARI-SALAFY-WONOSARI-SALAFY-WONOSARI-SALAFY-WONOSARI-SALAFY-WONOSARI-SALAFY-WONOSARI-SALAFY-WONOSARI-SALAFY-YOGYAKARTA-SALAFY-YOGYAKARTA-SALAFY-YOGYAKARTA-SALAFY-YOGYAKARTA-SALAFY-YOGYAKARTA-SALAFY-YOGYAKARTA-SALAFY-YOGYAKARTA-SALAFY-YOGYAKARTA-SALAFY-YOGYAKARTA-SALAFY-BANGIL-SALAFY-BANGIL-SALAFY-BANGIL-SALAFY-BANGIL-SALAFY-BANGIL-SALAFY-BANGIL-SALAFY-BANGIL-SALAFY-BANGIL-SALAFY-BANGIL-SALAFY-BANGKALAN-SALAFY-BANGKALAN-SALAFY-BANGKALAN-SALAFY-BANGKALAN-SALAFY-BANGKALAN-SALAFY-BANGKALAN-SALAFY-BANGKALAN-SALAFY-BANGKALAN-SALAFY-BANGKALAN-SALAFY-BANYUWANGI-SALAFY-BANYUWANGI-SALAFY-BANYUWANGI-SALAFY-BANYUWANGI-SALAFY-BANYUWANGI-SALAFY-BANYUWANGI-SALAFY-BANYUWANGI-SALAFY-BANYUWANGI-SALAFY-BANYUWANGI-SALAFY-BATU-SALAFY-BATU-SALAFY-BATU-SALAFY-BATU-SALAFY-BATU-SALAFY-BATU-SALAFY-BATU-SALAFY-BATU-SALAFY-BATU-SALAFY-BLITAR-SALAFY-BLITAR-SALAFY-BLITAR-SALAFY-BLITAR-SALAFY-BLITAR-SALAFY-BLITAR-SALAFY-BLITAR-SALAFY-BLITAR-SALAFY-BLITAR-SALAFY-BOJONEGORO-SALAFY-BOJONEGORO-SALAFY-BOJONEGORO-SALAFY-BOJONEGORO-SALAFY-BOJONEGORO-SALAFY-BOJONEGORO-SALAFY-BOJONEGORO-SALAFY-BOJONEGORO-SALAFY-BOJONEGORO-SALAFY-BONDOWOSO-SALAFY-BONDOWOSO-SALAFY-BONDOWOSO-SALAFY-BONDOWOSO-SALAFY-BONDOWOSO-SALAFY-BONDOWOSO-SALAFY-BONDOWOSO-SALAFY-BONDOWOSO-SALAFY-BONDOWOSO-SALAFY-CARUBAN-SALAFY-CARUBAN-SALAFY-CARUBAN-SALAFY-CARUBAN-SALAFY-CARUBAN-SALAFY-CARUBAN-SALAFY-CARUBAN-SALAFY-CARUBAN-SALAFY-CARUBAN-SALAFY-GRESIK-SALAFY-GRESIK-SALAFY-GRESIK-SALAFY-GRESIK-SALAFY-GRESIK-SALAFY-GRESIK-SALAFY-GRESIK-SALAFY-GRESIK-SALAFY-GRESIK-SALAFY-JATIM-SALAFY-JATIM-SALAFY-JATIM-SALAFY-JATIM-SALAFY-JATIM-SALAFY-JATIM-SALAFY-JATIM-SALAFY-JATIM-SALAFY-JATIM-SALAFY-JAWA-TIMUR-SALAFY-JAWA-TIMUR-SALAFY-JAWA-TIMUR-SALAFY-JAWA-TIMUR-SALAFY-JAWA-TIMUR-SALAFY-JAWA-TIMUR-SALAFY-JAWA-TIMUR-SALAFY-JAWA-TIMUR-SALAFY-JAWA-TIMUR-SALAFY-JEMBER-SALAFY-JEMBER-SALAFY-JEMBER-SALAFY-JEMBER-SALAFY-JEMBER-SALAFY-JEMBER-SALAFY-JEMBER-SALAFY-JEMBER-SALAFY-JEMBER-SALAFY-JOMBANG-SALAFY-JOMBANG-SALAFY-JOMBANG-SALAFY-JOMBANG-SALAFY-JOMBANG-SALAFY-JOMBANG-SALAFY-JOMBANG-SALAFY-JOMBANG-SALAFY-JOMBANG-SALAFY-KANIGORO-SALAFY-KANIGORO-SALAFY-KANIGORO-SALAFY-KANIGORO-SALAFY-KANIGORO-SALAFY-KANIGORO-SALAFY-KANIGORO-SALAFY-KANIGORO-SALAFY-KANIGORO-SALAFY-KEDIRI-SALAFY-KEDIRI-SALAFY-KEDIRI-SALAFY-KEDIRI-SALAFY-KEDIRI-SALAFY-KEDIRI-SALAFY-KEDIRI-SALAFY-KEDIRI-SALAFY-KEDIRI-SALAFY-KEPANJEN-SALAFY-KEPANJEN-SALAFY-KEPANJEN-SALAFY-KEPANJEN-SALAFY-KEPANJEN-SALAFY-KEPANJEN-SALAFY-KEPANJEN-SALAFY-KEPANJEN-SALAFY-KEPANJEN-SALAFY-KRAKSAAN-SALAFY-KRAKSAAN-SALAFY-KRAKSAAN-SALAFY-KRAKSAAN-SALAFY-KRAKSAAN-SALAFY-KRAKSAAN-SALAFY-KRAKSAAN-SALAFY-KRAKSAAN-SALAFY-KRAKSAAN-SALAFY-LAMONGAN-SALAFY-LAMONGAN-SALAFY-LAMONGAN-SALAFY-LAMONGAN-SALAFY-LAMONGAN-SALAFY-LAMONGAN-SALAFY-LAMONGAN-SALAFY-LAMONGAN-SALAFY-LAMONGAN-SALAFY-LUMAJANG-SALAFY-LUMAJANG-SALAFY-LUMAJANG-SALAFY-LUMAJANG-SALAFY-LUMAJANG-SALAFY-LUMAJANG-SALAFY-LUMAJANG-SALAFY-LUMAJANG-SALAFY-LUMAJANG-SALAFY-MADIUN-SALAFY-MADIUN-SALAFY-MADIUN-SALAFY-MADIUN-SALAFY-MADIUN-SALAFY-MADIUN-SALAFY-MADIUN-SALAFY-MADIUN-SALAFY-MADIUN-SALAFY-MADURA-SALAFY-MADURA-SALAFY-MADURA-SALAFY-MADURA-SALAFY-MADURA-SALAFY-MADURA-SALAFY-MADURA-SALAFY-MADURA-SALAFY-MADURA-SALAFY-MAGETAN-SALAFY-MAGETAN-SALAFY-MAGETAN-SALAFY-MAGETAN-SALAFY-MAGETAN-SALAFY-MAGETAN-SALAFY-MAGETAN-SALAFY-MAGETAN-SALAFY-MAGETAN-SALAFY-MALANG-SALAFY-MALANG-SALAFY-MALANG-SALAFY-MALANG-SALAFY-MALANG-SALAFY-MALANG-SALAFY-MALANG-SALAFY-MALANG-SALAFY-MALANG-SALAFY-MOJOKERTO-SALAFY-MOJOKERTO-SALAFY-MOJOKERTO-SALAFY-MOJOKERTO-SALAFY-MOJOKERTO-SALAFY-MOJOKERTO-SALAFY-MOJOKERTO-SALAFY-MOJOKERTO-SALAFY-MOJOKERTO-SALAFY-MOJOSARI-SALAFY-MOJOSARI-SALAFY-MOJOSARI-SALAFY-MOJOSARI-SALAFY-MOJOSARI-SALAFY-MOJOSARI-SALAFY-MOJOSARI-SALAFY-MOJOSARI-SALAFY-MOJOSARI-SALAFY-NGANJUK-SALAFY-NGANJUK-SALAFY-NGANJUK-SALAFY-NGANJUK-SALAFY-NGANJUK-SALAFY-NGANJUK-SALAFY-NGANJUK-SALAFY-NGANJUK-SALAFY-NGANJUK-SALAFY-NGASEM-SALAFY-NGASEM-SALAFY-NGASEM-SALAFY-NGASEM-SALAFY-NGASEM-SALAFY-NGASEM-SALAFY-NGASEM-SALAFY-NGASEM-SALAFY-NGASEM-SALAFY-NGAWI-SALAFY-NGAWI-SALAFY-NGAWI-SALAFY-NGAWI-SALAFY-NGAWI-SALAFY-NGAWI-SALAFY-NGAWI-SALAFY-NGAWI-SALAFY-NGAWI-SALAFY-PACITAN-SALAFY-PACITAN-SALAFY-PACITAN-SALAFY-PACITAN-SALAFY-PACITAN-SALAFY-PACITAN-SALAFY-PACITAN-SALAFY-PACITAN-SALAFY-PACITAN-SALAFY-PAMEKASAN-SALAFY-PAMEKASAN-SALAFY-PAMEKASAN-SALAFY-PAMEKASAN-SALAFY-PAMEKASAN-SALAFY-PAMEKASAN-SALAFY-PAMEKASAN-SALAFY-PAMEKASAN-SALAFY-PAMEKASAN-SALAFY-PASURUAN-SALAFY-PASURUAN-SALAFY-PASURUAN-SALAFY-PASURUAN-SALAFY-PASURUAN-SALAFY-PASURUAN-SALAFY-PASURUAN-SALAFY-PASURUAN-SALAFY-PASURUAN-SALAFY-PONOROGO-SALAFY-PONOROGO-SALAFY-PONOROGO-SALAFY-PONOROGO-SALAFY-PONOROGO-SALAFY-PONOROGO-SALAFY-PONOROGO-SALAFY-PONOROGO-SALAFY-PONOROGO-SALAFY-PROBOLINGGO-SALAFY-PROBOLINGGO-SALAFY-PROBOLINGGO-SALAFY-PROBOLINGGO-SALAFY-PROBOLINGGO-SALAFY-PROBOLINGGO-SALAFY-PROBOLINGGO-SALAFY-PROBOLINGGO-SALAFY-PROBOLINGGO-SALAFY-SAMPANG-SALAFY-SAMPANG-SALAFY-SAMPANG-SALAFY-SAMPANG-SALAFY-SAMPANG-SALAFY-SAMPANG-SALAFY-SAMPANG-SALAFY-SAMPANG-SALAFY-SAMPANG-SALAFY-SIDOARJO-SALAFY-SIDOARJO-SALAFY-SIDOARJO-SALAFY-SIDOARJO-SALAFY-SIDOARJO-SALAFY-SIDOARJO-SALAFY-SIDOARJO-SALAFY-SIDOARJO-SALAFY-SIDOARJO-SALAFY-SITUBONDO-SALAFY-SITUBONDO-SALAFY-SITUBONDO-SALAFY-SITUBONDO-SALAFY-SITUBONDO-SALAFY-SITUBONDO-SALAFY-SITUBONDO-SALAFY-SITUBONDO-SALAFY-SITUBONDO-SALAFY-SUMENEP-SALAFY-SUMENEP-SALAFY-SUMENEP-SALAFY-SUMENEP-SALAFY-SUMENEP-SALAFY-SUMENEP-SALAFY-SUMENEP-SALAFY-SUMENEP-SALAFY-SUMENEP-SALAFY-SURABAYA-SALAFY-SURABAYA-SALAFY-SURABAYA-SALAFY-SURABAYA-SALAFY-SURABAYA-SALAFY-SURABAYA-SALAFY-SURABAYA-SALAFY-SURABAYA-SALAFY-SURABAYA-SALAFY-TRENGGALEK-SALAFY-TRENGGALEK-SALAFY-TRENGGALEK-SALAFY-TRENGGALEK-SALAFY-TRENGGALEK-SALAFY-TRENGGALEK-SALAFY-TRENGGALEK-SALAFY-TRENGGALEK-SALAFY-TRENGGALEK-SALAFY-TUBAN-SALAFY-TUBAN-SALAFY-TUBAN-SALAFY-TUBAN-SALAFY-TUBAN-SALAFY-TUBAN-SALAFY-TUBAN-SALAFY-TUBAN-SALAFY-TUBAN-SALAFY-TULUNGAGUNG-SALAFY-TULUNGAGUNG-SALAFY-TULUNGAGUNG-SALAFY-TULUNGAGUNG-SALAFY-TULUNGAGUNG-SALAFY-TULUNGAGUNG-SALAFY-TULUNGAGUNG-SALAFY-TULUNGAGUNG-SALAFY-TULUNGAGUNG-SALAFY-BANDUNG-SALAFY-BANDUNG-SALAFY-BANDUNG-SALAFY-BANDUNG-SALAFY-BANDUNG-SALAFY-BANDUNG-SALAFY-BANDUNG-SALAFY-BANDUNG-SALAFY-BANDUNG-SALAFY-BANDUNG-BARAT-SALAFY-BANDUNG-BARAT-SALAFY-BANDUNG-BARAT-SALAFY-BANDUNG-BARAT-SALAFY-BANDUNG-BARAT-SALAFY-BANDUNG-BARAT-SALAFY-BANDUNG-BARAT-SALAFY-BANDUNG-BARAT-SALAFY-BANDUNG-BARAT-SALAFY-BANJAR-SALAFY-BANJAR-SALAFY-BANJAR-SALAFY-BANJAR-SALAFY-BANJAR-SALAFY-BANJAR-SALAFY-BANJAR-SALAFY-BANJAR-SALAFY-BANJAR-SALAFY-BEKASI-SALAFY-BEKASI-SALAFY-BEKASI-SALAFY-BEKASI-SALAFY-BEKASI-SALAFY-BEKASI-SALAFY-BEKASI-SALAFY-BEKASI-SALAFY-BEKASI-SALAFY-BOGOR-SALAFY-BOGOR-SALAFY-BOGOR-SALAFY-BOGOR-SALAFY-BOGOR-SALAFY-BOGOR-SALAFY-BOGOR-SALAFY-BOGOR-SALAFY-BOGOR-SALAFY-CIAMIS-SALAFY-CIAMIS-SALAFY-CIAMIS-SALAFY-CIAMIS-SALAFY-CIAMIS-SALAFY-CIAMIS-SALAFY-CIAMIS-SALAFY-CIAMIS-SALAFY-CIAMIS-SALAFY-CIANJUR-SALAFY-CIANJUR-SALAFY-CIANJUR-SALAFY-CIANJUR-SALAFY-CIANJUR-SALAFY-CIANJUR-SALAFY-CIANJUR-SALAFY-CIANJUR-SALAFY-CIANJUR-SALAFY-CIBINONG-SALAFY-CIBINONG-SALAFY-CIBINONG-SALAFY-CIBINONG-SALAFY-CIBINONG-SALAFY-CIBINONG-SALAFY-CIBINONG-SALAFY-CIBINONG-SALAFY-CIBINONG-SALAFY-CIKARANG-SALAFY-CIKARANG-SALAFY-CIKARANG-SALAFY-CIKARANG-SALAFY-CIKARANG-SALAFY-CIKARANG-SALAFY-CIKARANG-SALAFY-CIKARANG-SALAFY-CIKARANG-SALAFY-CIMAHI-SALAFY-CIMAHI-SALAFY-CIMAHI-SALAFY-CIMAHI-SALAFY-CIMAHI-SALAFY-CIMAHI-SALAFY-CIMAHI-SALAFY-CIMAHI-SALAFY-CIMAHI-SALAFY-CIREBON-SALAFY-CIREBON-SALAFY-CIREBON-SALAFY-CIREBON-SALAFY-CIREBON-SALAFY-CIREBON-SALAFY-CIREBON-SALAFY-CIREBON-SALAFY-CIREBON-SALAFY-DEPOK-SALAFY-DEPOK-SALAFY-DEPOK-SALAFY-DEPOK-SALAFY-DEPOK-SALAFY-DEPOK-SALAFY-DEPOK-SALAFY-DEPOK-SALAFY-DEPOK-SALAFY-GARUT-SALAFY-GARUT-SALAFY-GARUT-SALAFY-GARUT-SALAFY-GARUT-SALAFY-GARUT-SALAFY-GARUT-SALAFY-GARUT-SALAFY-GARUT-SALAFY-INDRAMAYU-SALAFY-INDRAMAYU-SALAFY-INDRAMAYU-SALAFY-INDRAMAYU-SALAFY-INDRAMAYU-SALAFY-INDRAMAYU-SALAFY-INDRAMAYU-SALAFY-INDRAMAYU-SALAFY-INDRAMAYU-SALAFY-JABAR-SALAFY-JABAR-SALAFY-JABAR-SALAFY-JABAR-SALAFY-JABAR-SALAFY-JABAR-SALAFY-JABAR-SALAFY-JABAR-SALAFY-JABAR-SALAFY-JAWA-BARAT-SALAFY-JAWA-BARAT-SALAFY-JAWA-BARAT-SALAFY-JAWA-BARAT-SALAFY-JAWA-BARAT-SALAFY-JAWA-BARAT-SALAFY-JAWA-BARAT-SALAFY-JAWA-BARAT-SALAFY-JAWA-BARAT-SALAFY-KARAWANG-SALAFY-KARAWANG-SALAFY-KARAWANG-SALAFY-KARAWANG-SALAFY-KARAWANG-SALAFY-KARAWANG-SALAFY-KARAWANG-SALAFY-KARAWANG-SALAFY-KARAWANG-SALAFY-KUNINGAN-SALAFY-KUNINGAN-SALAFY-KUNINGAN-SALAFY-KUNINGAN-SALAFY-KUNINGAN-SALAFY-KUNINGAN-SALAFY-KUNINGAN-SALAFY-KUNINGAN-SALAFY-KUNINGAN-SALAFY-MAJALENGKA-SALAFY-MAJALENGKA-SALAFY-MAJALENGKA-SALAFY-MAJALENGKA-SALAFY-MAJALENGKA-SALAFY-MAJALENGKA-SALAFY-MAJALENGKA-SALAFY-MAJALENGKA-SALAFY-MAJALENGKA-SALAFY-NGAMPRAH-SALAFY-NGAMPRAH-SALAFY-NGAMPRAH-SALAFY-NGAMPRAH-SALAFY-NGAMPRAH-SALAFY-NGAMPRAH-SALAFY-NGAMPRAH-SALAFY-NGAMPRAH-SALAFY-NGAMPRAH-SALAFY-PALABUHANRATU-SALAFY-PALABUHANRATU-SALAFY-PALABUHANRATU-SALAFY-PALABUHANRATU-SALAFY-PALABUHANRATU-SALAFY-PALABUHANRATU-SALAFY-PALABUHANRATU-SALAFY-PALABUHANRATU-SALAFY-PALABUHANRATU-SALAFY-PANGANDARAN-SALAFY-PANGANDARAN-SALAFY-PANGANDARAN-SALAFY-PANGANDARAN-SALAFY-PANGANDARAN-SALAFY-PANGANDARAN-SALAFY-PANGANDARAN-SALAFY-PANGANDARAN-SALAFY-PANGANDARAN-SALAFY-PARIGI-SALAFY-PARIGI-SALAFY-PARIGI-SALAFY-PARIGI-SALAFY-PARIGI-SALAFY-PARIGI-SALAFY-PARIGI-SALAFY-PARIGI-SALAFY-PARIGI-SALAFY-PURWAKARTA-SALAFY-PURWAKARTA-SALAFY-PURWAKARTA-SALAFY-PURWAKARTA-SALAFY-PURWAKARTA-SALAFY-PURWAKARTA-SALAFY-PURWAKARTA-SALAFY-PURWAKARTA-SALAFY-PURWAKARTA-SALAFY-SINGAPARNA-SALAFY-SINGAPARNA-SALAFY-SINGAPARNA-SALAFY-SINGAPARNA-SALAFY-SINGAPARNA-SALAFY-SINGAPARNA-SALAFY-SINGAPARNA-SALAFY-SINGAPARNA-SALAFY-SINGAPARNA-SALAFY-SOREANG-SALAFY-SOREANG-SALAFY-SOREANG-SALAFY-SOREANG-SALAFY-SOREANG-SALAFY-SOREANG-SALAFY-SOREANG-SALAFY-SOREANG-SALAFY-SOREANG-SALAFY-SUBANG-SALAFY-SUBANG-SALAFY-SUBANG-SALAFY-SUBANG-SALAFY-SUBANG-SALAFY-SUBANG-SALAFY-SUBANG-SALAFY-SUBANG-SALAFY-SUBANG-SALAFY-SUKABUMI-SALAFY-SUKABUMI-SALAFY-SUKABUMI-SALAFY-SUKABUMI-SALAFY-SUKABUMI-SALAFY-SUKABUMI-SALAFY-SUKABUMI-SALAFY-SUKABUMI-SALAFY-SUKABUMI-SALAFY-SUMBER-SALAFY-SUMBER-SALAFY-SUMBER-SALAFY-SUMBER-SALAFY-SUMBER-SALAFY-SUMBER-SALAFY-SUMBER-SALAFY-SUMBER-SALAFY-SUMBER-SALAFY-SUMEDANG-SALAFY-SUMEDANG-SALAFY-SUMEDANG-SALAFY-SUMEDANG-SALAFY-SUMEDANG-SALAFY-SUMEDANG-SALAFY-SUMEDANG-SALAFY-SUMEDANG-SALAFY-SUMEDANG-SALAFY-TAROGONG-KIDUL-SALAFY-TAROGONG-KIDUL-SALAFY-TAROGONG-KIDUL-SALAFY-TAROGONG-KIDUL-SALAFY-TAROGONG-KIDUL-SALAFY-TAROGONG-KIDUL-SALAFY-TAROGONG-KIDUL-SALAFY-TAROGONG-KIDUL-SALAFY-TAROGONG-KIDUL-SALAFY-TASIKMALAYA-SALAFY-TASIKMALAYA-SALAFY-TASIKMALAYA-SALAFY-TASIKMALAYA-SALAFY-TASIKMALAYA-SALAFY-TASIKMALAYA-SALAFY-TASIKMALAYA-SALAFY-TASIKMALAYA-SALAFY-TASIKMALAYA-SALAFY-CAKUNG-SALAFY-CAKUNG-SALAFY-CAKUNG-SALAFY-CAKUNG-SALAFY-CAKUNG-SALAFY-CAKUNG-SALAFY-CAKUNG-SALAFY-CAKUNG-SALAFY-CAKUNG-SALAFY-CAKUNG-SALAFY-CAKUNG-SALAFY-CAKUNG-SALAFY-CAKUNG-SALAFY-CAKUNG-SALAFY-CAKUNG-SALAFY-CAKUNG-SALAFY-CAKUNG-SALAFY-CAKUNG-SALAFY-CEMPAKA-PUTIH-SALAFY-CEMPAKA-PUTIH-SALAFY-CEMPAKA-PUTIH-SALAFY-CEMPAKA-PUTIH-SALAFY-CEMPAKA-PUTIH-SALAFY-CEMPAKA-PUTIH-SALAFY-CEMPAKA-PUTIH-SALAFY-CEMPAKA-PUTIH-SALAFY-CEMPAKA-PUTIH-SALAFY-CENGKARENG-SALAFY-CENGKARENG-SALAFY-CENGKARENG-SALAFY-CENGKARENG-SALAFY-CENGKARENG-SALAFY-CENGKARENG-SALAFY-CENGKARENG-SALAFY-CENGKARENG-SALAFY-CENGKARENG-SALAFY-CILANDAK-SALAFY-CILANDAK-SALAFY-CILANDAK-SALAFY-CILANDAK-SALAFY-CILANDAK-SALAFY-CILANDAK-SALAFY-CILANDAK-SALAFY-CILANDAK-SALAFY-CILANDAK-SALAFY-CILINCING-SALAFY-CILINCING-SALAFY-CILINCING-SALAFY-CILINCING-SALAFY-CILINCING-SALAFY-CILINCING-SALAFY-CILINCING-SALAFY-CILINCING-SALAFY-CILINCING-SALAFY-CIPAYUNG-SALAFY-CIPAYUNG-SALAFY-CIPAYUNG-SALAFY-CIPAYUNG-SALAFY-CIPAYUNG-SALAFY-CIPAYUNG-SALAFY-CIPAYUNG-SALAFY-CIPAYUNG-SALAFY-CIPAYUNG-SALAFY-CIRACAS-SALAFY-CIRACAS-SALAFY-CIRACAS-SALAFY-CIRACAS-SALAFY-CIRACAS-SALAFY-CIRACAS-SALAFY-CIRACAS-SALAFY-CIRACAS-SALAFY-CIRACAS-SALAFY-DKI-JAKARTA-SALAFY-DKI-JAKARTA-SALAFY-DKI-JAKARTA-SALAFY-DKI-JAKARTA-SALAFY-DKI-JAKARTA-SALAFY-DKI-JAKARTA-SALAFY-DKI-JAKARTA-SALAFY-DKI-JAKARTA-SALAFY-DKI-JAKARTA-SALAFY-DUREN-SAWIT-SALAFY-DUREN-SAWIT-SALAFY-DUREN-SAWIT-SALAFY-DUREN-SAWIT-SALAFY-DUREN-SAWIT-SALAFY-DUREN-SAWIT-SALAFY-DUREN-SAWIT-SALAFY-DUREN-SAWIT-SALAFY-DUREN-SAWIT-SALAFY-GAMBIR-SALAFY-GAMBIR-SALAFY-GAMBIR-SALAFY-GAMBIR-SALAFY-GAMBIR-SALAFY-GAMBIR-SALAFY-GAMBIR-SALAFY-GAMBIR-SALAFY-GAMBIR-SALAFY-GROGOL-SALAFY-GROGOL-SALAFY-GROGOL-SALAFY-GROGOL-SALAFY-GROGOL-SALAFY-GROGOL-SALAFY-GROGOL-SALAFY-GROGOL-SALAFY-GROGOL-SALAFY-JAGAKARSA-SALAFY-JAGAKARSA-SALAFY-JAGAKARSA-SALAFY-JAGAKARSA-SALAFY-JAGAKARSA-SALAFY-JAGAKARSA-SALAFY-JAGAKARSA-SALAFY-JAGAKARSA-SALAFY-JAGAKARSA-SALAFY-JAKARTA-BARAT-SALAFY-JAKARTA-BARAT-SALAFY-JAKARTA-BARAT-SALAFY-JAKARTA-BARAT-SALAFY-JAKARTA-BARAT-SALAFY-JAKARTA-BARAT-SALAFY-JAKARTA-BARAT-SALAFY-JAKARTA-BARAT-SALAFY-JAKARTA-BARAT-SALAFY-JAKARTA-PUSAT-SALAFY-JAKARTA-PUSAT-SALAFY-JAKARTA-PUSAT-SALAFY-JAKARTA-PUSAT-SALAFY-JAKARTA-PUSAT-SALAFY-JAKARTA-PUSAT-SALAFY-JAKARTA-PUSAT-SALAFY-JAKARTA-PUSAT-SALAFY-JAKARTA-PUSAT-SALAFY-JAKARTA-SELATAN-SALAFY-JAKARTA-SELATAN-SALAFY-JAKARTA-SELATAN-SALAFY-JAKARTA-SELATAN-SALAFY-JAKARTA-SELATAN-SALAFY-JAKARTA-SELATAN-SALAFY-JAKARTA-SELATAN-SALAFY-JAKARTA-SELATAN-SALAFY-JAKARTA-SELATAN-SALAFY-JAKARTA-TIMUR-SALAFY-JAKARTA-TIMUR-SALAFY-JAKARTA-TIMUR-SALAFY-JAKARTA-TIMUR-SALAFY-JAKARTA-TIMUR-SALAFY-JAKARTA-TIMUR-SALAFY-JAKARTA-TIMUR-SALAFY-JAKARTA-TIMUR-SALAFY-JAKARTA-TIMUR-SALAFY-JAKARTA-UTARA-SALAFY-JAKARTA-UTARA-SALAFY-JAKARTA-UTARA-SALAFY-JAKARTA-UTARA-SALAFY-JAKARTA-UTARA-SALAFY-JAKARTA-UTARA-SALAFY-JAKARTA-UTARA-SALAFY-JAKARTA-UTARA-SALAFY-JAKARTA-UTARA-SALAFY-JOHAR-BARU-SALAFY-JOHAR-BARU-SALAFY-JOHAR-BARU-SALAFY-JOHAR-BARU-SALAFY-JOHAR-BARU-SALAFY-JOHAR-BARU-SALAFY-JOHAR-BARU-SALAFY-JOHAR-BARU-SALAFY-JOHAR-BARU-SALAFY-KALIDERES-SALAFY-KALIDERES-SALAFY-KALIDERES-SALAFY-KALIDERES-SALAFY-KALIDERES-SALAFY-KALIDERES-SALAFY-KALIDERES-SALAFY-KALIDERES-SALAFY-KALIDERES-SALAFY-KEBAYORAN-BARU-SALAFY-KEBAYORAN-BARU-SALAFY-KEBAYORAN-BARU-SALAFY-KEBAYORAN-BARU-SALAFY-KEBAYORAN-BARU-SALAFY-KEBAYORAN-BARU-SALAFY-KEBAYORAN-BARU-SALAFY-KEBAYORAN-BARU-SALAFY-KEBAYORAN-BARU-SALAFY-KEBAYORAN-BARU-SALAFY-KEBAYORAN-BARU-SALAFY-KEBAYORAN-BARU-SALAFY-KEBAYORAN-BARU-SALAFY-KEBAYORAN-BARU-SALAFY-KEBAYORAN-BARU-SALAFY-KEBAYORAN-BARU-SALAFY-KEBAYORAN-BARU-SALAFY-KEBAYORAN-BARU-SALAFY-KEBAYORAN-LAMA-SALAFY-KEBAYORAN-LAMA-SALAFY-KEBAYORAN-LAMA-SALAFY-KEBAYORAN-LAMA-SALAFY-KEBAYORAN-LAMA-SALAFY-KEBAYORAN-LAMA-SALAFY-KEBAYORAN-LAMA-SALAFY-KEBAYORAN-LAMA-SALAFY-KEBAYORAN-LAMA-SALAFY-KEBON-JERUK-SALAFY-KEBON-JERUK-SALAFY-KEBON-JERUK-SALAFY-KEBON-JERUK-SALAFY-KEBON-JERUK-SALAFY-KEBON-JERUK-SALAFY-KEBON-JERUK-SALAFY-KEBON-JERUK-SALAFY-KEBON-JERUK-SALAFY-KELAPA-GADING-SALAFY-KELAPA-GADING-SALAFY-KELAPA-GADING-SALAFY-KELAPA-GADING-SALAFY-KELAPA-GADING-SALAFY-KELAPA-GADING-SALAFY-KELAPA-GADING-SALAFY-KELAPA-GADING-SALAFY-KELAPA-GADING-SALAFY-KEMAYORAN-SALAFY-KEMAYORAN-SALAFY-KEMAYORAN-SALAFY-KEMAYORAN-SALAFY-KEMAYORAN-SALAFY-KEMAYORAN-SALAFY-KEMAYORAN-SALAFY-KEMAYORAN-SALAFY-KEMAYORAN-SALAFY-KEMBANGAN-SALAFY-KEMBANGAN-SALAFY-KEMBANGAN-SALAFY-KEMBANGAN-SALAFY-KEMBANGAN-SALAFY-KEMBANGAN-SALAFY-KEMBANGAN-SALAFY-KEMBANGAN-SALAFY-KEMBANGAN-SALAFY-KEMBANGAN-SALAFY-KEMBANGAN-SALAFY-KEMBANGAN-SALAFY-KEMBANGAN-SALAFY-KEMBANGAN-SALAFY-KEMBANGAN-SALAFY-KEMBANGAN-SALAFY-KEMBANGAN-SALAFY-KEMBANGAN-SALAFY-KEPULAUAN-SERIBU-SALAFY-KEPULAUAN-SERIBU-SALAFY-KEPULAUAN-SERIBU-SALAFY-KEPULAUAN-SERIBU-SALAFY-KEPULAUAN-SERIBU-SALAFY-KEPULAUAN-SERIBU-SALAFY-KEPULAUAN-SERIBU-SALAFY-KEPULAUAN-SERIBU-SALAFY-KEPULAUAN-SERIBU-SALAFY-KEPULAUAN-SERIBU-SELATAN-SALAFY-KEPULAUAN-SERIBU-SELATAN-SALAFY-KEPULAUAN-SERIBU-SELATAN-SALAFY-KEPULAUAN-SERIBU-SELATAN-SALAFY-KEPULAUAN-SERIBU-SELATAN-SALAFY-KEPULAUAN-SERIBU-SELATAN-SALAFY-KEPULAUAN-SERIBU-SELATAN-SALAFY-KEPULAUAN-SERIBU-SELATAN-SALAFY-KEPULAUAN-SERIBU-SELATAN-SALAFY-KEPULAUAN-SERIBU-UTARA-SALAFY-KEPULAUAN-SERIBU-UTARA-SALAFY-KEPULAUAN-SERIBU-UTARA-SALAFY-KEPULAUAN-SERIBU-UTARA-SALAFY-KEPULAUAN-SERIBU-UTARA-SALAFY-KEPULAUAN-SERIBU-UTARA-SALAFY-KEPULAUAN-SERIBU-UTARA-SALAFY-KEPULAUAN-SERIBU-UTARA-SALAFY-KEPULAUAN-SERIBU-UTARA-SALAFY-KOJA-SALAFY-KOJA-SALAFY-KOJA-SALAFY-KOJA-SALAFY-KOJA-SALAFY-KOJA-SALAFY-KOJA-SALAFY-KOJA-SALAFY-KOJA-SALAFY-KOJA-SALAFY-KOJA-SALAFY-KOJA-SALAFY-KOJA-SALAFY-KOJA-SALAFY-KOJA-SALAFY-KOJA-SALAFY-KOJA-SALAFY-KOJA-SALAFY-KRAMAT-JATI-SALAFY-KRAMAT-JATI-SALAFY-KRAMAT-JATI-SALAFY-KRAMAT-JATI-SALAFY-KRAMAT-JATI-SALAFY-KRAMAT-JATI-SALAFY-KRAMAT-JATI-SALAFY-KRAMAT-JATI-SALAFY-KRAMAT-JATI-SALAFY-MAKASAR-SALAFY-MAKASAR-SALAFY-MAKASAR-SALAFY-MAKASAR-SALAFY-MAKASAR-SALAFY-MAKASAR-SALAFY-MAKASAR-SALAFY-MAKASAR-SALAFY-MAKASAR-SALAFY-MAMPANG-PRAPATAN-SALAFY-MAMPANG-PRAPATAN-SALAFY-MAMPANG-PRAPATAN-SALAFY-MAMPANG-PRAPATAN-SALAFY-MAMPANG-PRAPATAN-SALAFY-MAMPANG-PRAPATAN-SALAFY-MAMPANG-PRAPATAN-SALAFY-MAMPANG-PRAPATAN-SALAFY-MAMPANG-PRAPATAN-SALAFY-MATRAMAN-SALAFY-MATRAMAN-SALAFY-MATRAMAN-SALAFY-MATRAMAN-SALAFY-MATRAMAN-SALAFY-MATRAMAN-SALAFY-MATRAMAN-SALAFY-MATRAMAN-SALAFY-MATRAMAN-SALAFY-MENTENG-SALAFY-MENTENG-SALAFY-MENTENG-SALAFY-MENTENG-SALAFY-MENTENG-SALAFY-MENTENG-SALAFY-MENTENG-SALAFY-MENTENG-SALAFY-MENTENG-SALAFY-MENTENG-SALAFY-MENTENG-SALAFY-MENTENG-SALAFY-MENTENG-SALAFY-MENTENG-SALAFY-MENTENG-SALAFY-MENTENG-SALAFY-MENTENG-SALAFY-MENTENG-SALAFY-PADEMANGAN-SALAFY-PADEMANGAN-SALAFY-PADEMANGAN-SALAFY-PADEMANGAN-SALAFY-PADEMANGAN-SALAFY-PADEMANGAN-SALAFY-PADEMANGAN-SALAFY-PADEMANGAN-SALAFY-PADEMANGAN-SALAFY-PALMERAH-SALAFY-PALMERAH-SALAFY-PALMERAH-SALAFY-PALMERAH-SALAFY-PALMERAH-SALAFY-PALMERAH-SALAFY-PALMERAH-SALAFY-PALMERAH-SALAFY-PALMERAH-SALAFY-PANCORAN-SALAFY-PANCORAN-SALAFY-PANCORAN-SALAFY-PANCORAN-SALAFY-PANCORAN-SALAFY-PANCORAN-SALAFY-PANCORAN-SALAFY-PANCORAN-SALAFY-PANCORAN-SALAFY-PASAR-MINGGU-SALAFY-PASAR-MINGGU-SALAFY-PASAR-MINGGU-SALAFY-PASAR-MINGGU-SALAFY-PASAR-MINGGU-SALAFY-PASAR-MINGGU-SALAFY-PASAR-MINGGU-SALAFY-PASAR-MINGGU-SALAFY-PASAR-MINGGU-SALAFY-PASAR-REBO-SALAFY-PASAR-REBO-SALAFY-PASAR-REBO-SALAFY-PASAR-REBO-SALAFY-PASAR-REBO-SALAFY-PASAR-REBO-SALAFY-PASAR-REBO-SALAFY-PASAR-REBO-SALAFY-PASAR-REBO-SALAFY-PENJARINGAN-SALAFY-PENJARINGAN-SALAFY-PENJARINGAN-SALAFY-PENJARINGAN-SALAFY-PENJARINGAN-SALAFY-PENJARINGAN-SALAFY-PENJARINGAN-SALAFY-PENJARINGAN-SALAFY-PENJARINGAN-SALAFY-PESANGGRAHAN-SALAFY-PESANGGRAHAN-SALAFY-PESANGGRAHAN-SALAFY-PESANGGRAHAN-SALAFY-PESANGGRAHAN-SALAFY-PESANGGRAHAN-SALAFY-PESANGGRAHAN-SALAFY-PESANGGRAHAN-SALAFY-PESANGGRAHAN-SALAFY-PETAMBURAN-SALAFY-PETAMBURAN-SALAFY-PETAMBURAN-SALAFY-PETAMBURAN-SALAFY-PETAMBURAN-SALAFY-PETAMBURAN-SALAFY-PETAMBURAN-SALAFY-PETAMBURAN-SALAFY-PETAMBURAN-SALAFY-PULAU-PRAMUKA-SALAFY-PULAU-PRAMUKA-SALAFY-PULAU-PRAMUKA-SALAFY-PULAU-PRAMUKA-SALAFY-PULAU-PRAMUKA-SALAFY-PULAU-PRAMUKA-SALAFY-PULAU-PRAMUKA-SALAFY-PULAU-PRAMUKA-SALAFY-PULAU-PRAMUKA-SALAFY-PULO-GADUNG-SALAFY-PULO-GADUNG-SALAFY-PULO-GADUNG-SALAFY-PULO-GADUNG-SALAFY-PULO-GADUNG-SALAFY-PULO-GADUNG-SALAFY-PULO-GADUNG-SALAFY-PULO-GADUNG-SALAFY-PULO-GADUNG-SALAFY-SAWAH-BESAR-SALAFY-SAWAH-BESAR-SALAFY-SAWAH-BESAR-SALAFY-SAWAH-BESAR-SALAFY-SAWAH-BESAR-SALAFY-SAWAH-BESAR-SALAFY-SAWAH-BESAR-SALAFY-SAWAH-BESAR-SALAFY-SAWAH-BESAR-SALAFY-SENEN-SALAFY-SENEN-SALAFY-SENEN-SALAFY-SENEN-SALAFY-SENEN-SALAFY-SENEN-SALAFY-SENEN-SALAFY-SENEN-SALAFY-SENEN-SALAFY-SETIABUDI-SALAFY-SETIABUDI-SALAFY-SETIABUDI-SALAFY-SETIABUDI-SALAFY-SETIABUDI-SALAFY-SETIABUDI-SALAFY-SETIABUDI-SALAFY-SETIABUDI-SALAFY-SETIABUDI-SALAFY-TAMAN-SARI-SALAFY-TAMAN-SARI-SALAFY-TAMAN-SARI-SALAFY-TAMAN-SARI-SALAFY-TAMAN-SARI-SALAFY-TAMAN-SARI-SALAFY-TAMAN-SARI-SALAFY-TAMAN-SARI-SALAFY-TAMAN-SARI-SALAFY-TAMBORA-SALAFY-TAMBORA-SALAFY-TAMBORA-SALAFY-TAMBORA-SALAFY-TAMBORA-SALAFY-TAMBORA-SALAFY-TAMBORA-SALAFY-TAMBORA-SALAFY-TAMBORA-SALAFY-TANAH-ABANG-SALAFY-TANAH-ABANG-SALAFY-TANAH-ABANG-SALAFY-TANAH-ABANG-SALAFY-TANAH-ABANG-SALAFY-TANAH-ABANG-SALAFY-TANAH-ABANG-SALAFY-TANAH-ABANG-SALAFY-TANAH-ABANG-SALAFY-TANJUNG-PRIOK-SALAFY-TANJUNG-PRIOK-SALAFY-TANJUNG-PRIOK-SALAFY-TANJUNG-PRIOK-SALAFY-TANJUNG-PRIOK-SALAFY-TANJUNG-PRIOK-SALAFY-TANJUNG-PRIOK-SALAFY-TANJUNG-PRIOK-SALAFY-TANJUNG-PRIOK-SALAFY-TEBET-SALAFY-TEBET-SALAFY-TEBET-SALAFY-TEBET-SALAFY-TEBET-SALAFY-TEBET-SALAFY-TEBET-SALAFY-TEBET-SALAFY-TEBET-SALAFY-INDONESIA-SALAFY-ACEH-SALAFY-BALI-SALAFY-BANTEN-SALAFY-BENGKULU-SALAFY-GORONTALO-SALAFY-JAKARTA-SALAFY-JAMBI-SALAFY-JAWA-BARAT-SALAFY-JAWA-TENGAH-SALAFY-JAWA-TIMUR-SALAFY-KALIMANTAN-BARAT-SALAFY-KALIMANTAN-SELATAN-SALAFY-KALIMANTAN-TENGAH-SALAFY-KALIMANTAN-TIMUR-SALAFY-KALIMANTAN-UTARA-SALAFY-KEPULAUAN-BANGKA-BELITUNG-SALAFY-KEPULAUAN-RIAU-SALAFY-LAMPUNG-SALAFY-MALUKU-SALAFY-MALUKU-UTARA-SALAFY-NUSA-TENGGARA-BARAT-SALAFY-NUSA-TENGGARA-TIMUR-SALAFY-PAPUA-SALAFY-PAPUA-BARAT-SALAFY-RIAU-SALAFY-SULAWESI-BARAT-SALAFY-SULAWESI-SELATAN-SALAFY-SULAWESI-TENGAH-SALAFY-SULAWESI-TENGGARA-SALAFY-SULAWESI-UTARA-SALAFY-SUMATERA-BARAT-SALAFY-SUMATERA-SELATAN-SALAFY-SUMATERA-UTARA-SALAFY-YOGYAKARTA-SALAFY-ACEH-BARAT-SALAFY-ACEH-BARAT-DAYA-SALAFY-ACEH-BESAR-SALAFY-ACEH-JAYA-SALAFY-ACEH-SELATAN-SALAFY-ACEH-SINGKIL-SALAFY-ACEH-TAMIANG-SALAFY-ACEH-TENGAH-SALAFY-ACEH-TENGGARA-SALAFY-ACEH-TIMUR-SALAFY-ACEH-UTARA-SALAFY-ADMINISTRASI-KEPULAUAN-SERIBU-SALAFY-AGAM-SALAFY-ALOR-SALAFY-ASAHAN-SALAFY-ASMAT-SALAFY-BADUNG-SALAFY-BALANGAN-SALAFY-BANDUNG-SALAFY-BANDUNG-BARAT-SALAFY-BANGGAI-SALAFY-BANGGAI-KEPULAUAN-SALAFY-BANGKA-SALAFY-BANGKA-BARAT-SALAFY-BANGKA-SELATAN-SALAFY-BANGKA-TENGAH-SALAFY-BANGKALAN-SALAFY-BANGLI-SALAFY-BANJAR-SALAFY-BANJARNEGARA-SALAFY-BANTAENG-SALAFY-BANTUL-SALAFY-BANYUASIN-SALAFY-BANYUMAS-SALAFY-BANYUWANGI-SALAFY-BARITO-KUALA-SALAFY-BARITO-SELATAN-SALAFY-BARITO-TIMUR-SALAFY-BARITO-UTARA-SALAFY-BARRU-SALAFY-BATANG-SALAFY-BATANGHARI-SALAFY-BATUBARA-SALAFY-BEKASI-SALAFY-BELITUNG-SALAFY-BELITUNG-TIMUR-SALAFY-BELU-SALAFY-BENER-MERIAH-SALAFY-BENGKALIS-SALAFY-BENGKAYANG-SALAFY-BENGKULU-SELATAN-SALAFY-BENGKULU-TENGAH-SALAFY-BENGKULU-UTARA-SALAFY-BERAU-SALAFY-BIAK-NUMFOR-SALAFY-BIMA-SALAFY-BINTAN-SALAFY-BIREUEN-SALAFY-BLITAR-SALAFY-BLORA-SALAFY-BOALEMO-SALAFY-BOGOR-SALAFY-BOJONEGORO-SALAFY-BOLAANG-MONGONDOW-SALAFY-BOLAANG-MONGONDOW-SELATAN-SALAFY-BOLAANG-MONGONDOW-TIMUR-SALAFY-BOLAANG-MONGONDOW-UTARA-SALAFY-BOMBANA-SALAFY-BONDOWOSO-SALAFY-BONE-SALAFY-BONE-BOLANGO-SALAFY-BOVEN-DIGOEL-SALAFY-BOYOLALI-SALAFY-BREBES-SALAFY-BULELENG-SALAFY-BULUKUMBA-SALAFY-BULUNGAN-SALAFY-BUNGO-SALAFY-BUOL-SALAFY-BURU-SALAFY-BURU-SELATAN-SALAFY-BUTON-SALAFY-BUTON-UTARA-SALAFY-CIAMIS-SALAFY-CIANJUR-SALAFY-CILACAP-SALAFY-CIREBON-SALAFY-DAIRI-SALAFY-DEIYAI-SALAFY-DELI-SERDANG-SALAFY-DEMAK-SALAFY-DHARMASRAYA-SALAFY-DOGIYAI-SALAFY-DOMPU-SALAFY-DONGGALA-SALAFY-EMPAT-LAWANG-SALAFY-ENDE-SALAFY-ENREKANG-SALAFY-FAKFAK-SALAFY-FLORES-TIMUR-SALAFY-GARUT-SALAFY-GAYO-LUES-SALAFY-GIANYAR-SALAFY-GORONTALO-SALAFY-GORONTALO-UTARA-SALAFY-GOWA-SALAFY-GRESIK-SALAFY-GROBOGAN-SALAFY-GUNUNG-KIDUL-SALAFY-GUNUNG-MAS-SALAFY-HALMAHERA-BARAT-SALAFY-HALMAHERA-SELATAN-SALAFY-HALMAHERA-TENGAH-SALAFY-HALMAHERA-TIMUR-SALAFY-HALMAHERA-UTARA-SALAFY-HULU-SUNGAI-SELATAN-SALAFY-HULU-SUNGAI-TENGAH-SALAFY-HULU-SUNGAI-UTARA-SALAFY-HUMBANG-HASUNDUTAN-SALAFY-INDRAGIRI-HILIR-SALAFY-INDRAGIRI-HULU-SALAFY-INDRAMAYU-SALAFY-INTAN-JAYA-SALAFY-JAYAPURA-SALAFY-JAYAWIJAYA-SALAFY-JEMBER-SALAFY-JEMBRANA-SALAFY-JENEPONTO-SALAFY-JEPARA-SALAFY-JOMBANG-SALAFY-KAIMANA-SALAFY-KAMPAR-SALAFY-KAPUAS-SALAFY-KAPUAS-HULU-SALAFY-KARANGANYAR-SALAFY-KARANGASEM-SALAFY-KARAWANG-SALAFY-KARIMUN-SALAFY-KARO-SALAFY-KATINGAN-SALAFY-KAUR-SALAFY-KAYONG-UTARA-SALAFY-KEBUMEN-SALAFY-KEDIRI-SALAFY-KEEROM-SALAFY-KENDAL-SALAFY-KEPAHIANG-SALAFY-KEPULAUAN-ANAMBAS-SALAFY-KEPULAUAN-ARU-SALAFY-KEPULAUAN-MENTAWAI-SALAFY-KEPULAUAN-MERANTI-SALAFY-KEPULAUAN-SANGIHE-SALAFY-KEPULAUAN-SELAYAR-SALAFY-KEPULAUAN-SIAU-TAGULANDANG-BIARO-SALAFY-KEPULAUAN-SULA-SALAFY-KEPULAUAN-TALAUD-SALAFY-KEPULAUAN-YAPEN-SALAFY-KERINCI-SALAFY-KETAPANG-SALAFY-KLATEN-SALAFY-KLUNGKUNG-SALAFY-KOLAKA-SALAFY-KOLAKA-UTARA-SALAFY-KONAWE-SALAFY-KONAWE-SELATAN-SALAFY-KONAWE-UTARA-SALAFY-KOTABARU-SALAFY-KOTAWARINGIN-BARAT-SALAFY-KOTAWARINGIN-TIMUR-SALAFY-KUANTAN-SINGINGI-SALAFY-KUBU-RAYA-SALAFY-KUDUS-SALAFY-KULON-PROGO-SALAFY-KUNINGAN-SALAFY-KUPANG-SALAFY-KUTAI-BARAT-SALAFY-KUTAI-KARTANEGARA-SALAFY-KUTAI-TIMUR-SALAFY-LABUHANBATU-SALAFY-LABUHANBATU-SELATAN-SALAFY-LABUHANBATU-UTARA-SALAFY-LAHAT-SALAFY-LAMANDAU-SALAFY-LAMONGAN-SALAFY-LAMPUNG-BARAT-SALAFY-LAMPUNG-SELATAN-SALAFY-LAMPUNG-TENGAH-SALAFY-LAMPUNG-TIMUR-SALAFY-LAMPUNG-UTARA-SALAFY-LANDAK-SALAFY-LANGKAT-SALAFY-LANNY-JAYA-SALAFY-LEBAK-SALAFY-LEBONG-SALAFY-LEMBATA-SALAFY-LIMA-PULUH-KOTA-SALAFY-LINGGA-SALAFY-LOMBOK-BARAT-SALAFY-LOMBOK-TENGAH-SALAFY-LOMBOK-TIMUR-SALAFY-LOMBOK-UTARA-SALAFY-LUMAJANG-SALAFY-LUWU-SALAFY-LUWU-TIMUR-SALAFY-LUWU-UTARA-SALAFY-MADIUN-SALAFY-MAGELANG-SALAFY-MAHAKAM-ULU-SALAFY-MAJALENGKA-SALAFY-MAJALENGKA-SALAFY-MAJENE-SALAFY-MALANG-SALAFY-MALINAU-SALAFY-MALUKU-BARAT-DAYA-SALAFY-MALUKU-TENGAH-SALAFY-MALUKU-TENGGARA-SALAFY-MALUKU-TENGGARA-BARAT-SALAFY-MAMASA-SALAFY-MAMBERAMO-RAYA-SALAFY-MAMBERAMO-TENGAH-SALAFY-MAMUJU-SALAFY-MAMUJU-UTARA-SALAFY-MANDAILING-NATAL-SALAFY-MANGGARAI-SALAFY-MANGGARAI-BARAT-SALAFY-MANGGARAI-TIMUR-SALAFY-MANOKWARI-SALAFY-MAPPI-SALAFY-MAROS-SALAFY-MAYBRAT-SALAFY-MELAWI-SALAFY-MEMPAWAH-SALAFY-MERANGIN-SALAFY-MERAUKE-SALAFY-MESUJI-SALAFY-MIMIKA-SALAFY-MINAHASA-SALAFY-MINAHASA-SELATAN-SALAFY-MINAHASA-TENGGARA-SALAFY-MINAHASA-UTARA-SALAFY-MOJOKERTO-SALAFY-MOROWALI-SALAFY-MUARA-ENIM-SALAFY-MUARO-JAMBI-SALAFY-MUKOMUKO-SALAFY-MUNA-SALAFY-MURUNG-RAYA-SALAFY-MUSI-BANYUASIN-SALAFY-MUSI-RAWAS-SALAFY-NABIRE-SALAFY-NAGAN-RAYA-SALAFY-NAGEKEO-SALAFY-NATUNA-SALAFY-NDUGA-SALAFY-NGADA-SALAFY-NGANJUK-SALAFY-NGAWI-SALAFY-NIAS-SALAFY-NIAS-BARAT-SALAFY-NIAS-SELATAN-SALAFY-NIAS-UTARA-SALAFY-NUNUKAN-SALAFY-OGAN-ILIR-SALAFY-OGAN-KOMERING-ILIR-SALAFY-OGAN-KOMERING-ULU-SALAFY-OGAN-KOMERING-ULU-SELATAN-SALAFY-OGAN-KOMERING-ULU-TIMUR-SALAFY-PACITAN-SALAFY-PADANG-LAWAS-SALAFY-PADANG-LAWAS-UTARA-SALAFY-PADANG-PARIAMAN-SALAFY-PAKPAK-BHARAT-SALAFY-PAMEKASAN-SALAFY-PANDEGLANG-SALAFY-PANGKAJENE-DAN-KEPULAUAN-SALAFY-PANIAI-SALAFY-PARIGI-MOUTONG-SALAFY-PASAMAN-SALAFY-PASAMAN-BARAT-SALAFY-PASER-SALAFY-PASURUAN-SALAFY-PATI-SALAFY-PEGUNUNGAN-BINTANG-SALAFY-PEKALONGAN-SALAFY-PELALAWAN-SALAFY-PEMALANG-SALAFY-PENAJAM-PASER-UTARA-SALAFY-PESAWARAN-SALAFY-PESISIR-SELATAN-SALAFY-PIDIE-SALAFY-PIDIE-JAYA-SALAFY-PINRANG-SALAFY-POHUWATO-SALAFY-POLEWALI-MANDAR-SALAFY-PONOROGO-SALAFY-POSO-SALAFY-PRINGSEWU-SALAFY-PROBOLINGGO-SALAFY-PULANG-PISAU-SALAFY-PULAU-MOROTAI-SALAFY-PUNCAK-SALAFY-PUNCAK-JAYA-SALAFY-PURBALINGGA-SALAFY-PURWAKARTA-SALAFY-PURWOREJO-SALAFY-RAJA-AMPAT-SALAFY-REJANG-LEBONG-SALAFY-REMBANG-SALAFY-ROKAN-HILIR-SALAFY-ROKAN-HULU-SALAFY-ROTE-NDAO-SALAFY-SABU-RAIJUA-SALAFY-SAMBAS-SALAFY-SAMOSIR-SALAFY-SAMPANG-SALAFY-SANGGAU-SALAFY-SARMI-SALAFY-SAROLANGUN-SALAFY-SEKADAU-SALAFY-SELUMA-SALAFY-SEMARANG-SALAFY-SERAM-BAGIAN-BARAT-SALAFY-SERAM-BAGIAN-TIMUR-SALAFY-SERANG-SALAFY-SERDANG-BEDAGAI-SALAFY-SERUYAN-SALAFY-SIAK-SALAFY-SIDENRENG-RAPPANG-SALAFY-SIDOARJO-SALAFY-SIGI-SALAFY-SIJUNJUNG-SALAFY-SIKKA-SALAFY-SIMALUNGUN-SALAFY-SIMEULUE-SALAFY-SINJAI-SALAFY-SINTANG-SALAFY-SITUBONDO-SALAFY-SLEMAN-SALAFY-SOLOK-SALAFY-SOLOK-SELATAN-SALAFY-SOPPENG-SALAFY-SORONG-SALAFY-SORONG-SELATAN-SALAFY-SRAGEN-SALAFY-SUBANG-SALAFY-SUKABUMI-SALAFY-SUKAMARA-SALAFY-SUKOHARJO-SALAFY-SUMBA-BARAT-SALAFY-SUMBA-BARAT-DAYA-SALAFY-SUMBA-TENGAH-SALAFY-SUMBA-TIMUR-SALAFY-SUMBAWA-SALAFY-SUMBAWA-BARAT-SALAFY-SUMEDANG-SALAFY-SUMENEP-SALAFY-SUPIORI-SALAFY-TABALONG-SALAFY-TABANAN-SALAFY-TAKALAR-SALAFY-TAMBRAUW-SALAFY-TANA-TIDUNG-SALAFY-TANA-TORAJA-SALAFY-TANAH-BUMBU-SALAFY-TANAH-DATAR-SALAFY-TANAH-LAUT-SALAFY-TANGERANG-SALAFY-TANGGAMUS-SALAFY-TANJUNG-JABUNG-BARAT-SALAFY-TANJUNG-JABUNG-TIMUR-SALAFY-TAPANULI-SELATAN-SALAFY-TAPANULI-TENGAH-SALAFY-TAPANULI-UTARA-SALAFY-TAPIN-SALAFY-TASIKMALAYA-SALAFY-TEBO-SALAFY-TEGAL-SALAFY-TELUK-BINTUNI-SALAFY-TELUK-WONDAMA-SALAFY-TEMANGGUNG-SALAFY-TIMOR-TENGAH-SELATAN-SALAFY-TIMOR-TENGAH-UTARA-SALAFY-TOBA-SAMOSIR-SALAFY-TOJO-UNA-UNA-SALAFY-TOLIKARA-SALAFY-TOLI-TOLI-SALAFY-TORAJA-UTARA-SALAFY-TRENGGALEK-SALAFY-TUBAN-SALAFY-TULANG-BAWANG-SALAFY-TULANG-BAWANG-BARAT-SALAFY-TULUNGAGUNG-SALAFY-WAJO-SALAFY-WAKATOBI-SALAFY-WAROPEN-SALAFY-WAY-KANAN-SALAFY-WONOGIRI-SALAFY-WONOSOBO-SALAFY-YAHUKIMO-SALAFY-ADMINISTRASI-JAKARTA-BARAT-SALAFY-ADMINISTRASI-JAKARTA-PUSAT-SALAFY-ADMINISTRASI-JAKARTA-SELATAN-SALAFY-ADMINISTRASI-JAKARTA-TIMUR-SALAFY-ADMINISTRASI-JAKARTA-UTARA-SALAFY-AMBON-SALAFY-BALIKPAPAN-SALAFY-BANDA-ACEH-SALAFY-BANDAR-LAMPUNG-SALAFY-BANDUNG-SALAFY-BANJAR-SALAFY-BANJARBARU-SALAFY-BANJARMASIN-SALAFY-BATAM-SALAFY-BATU-SALAFY-BAU-BAU-SALAFY-BEKASI-SALAFY-BENGKULU-SALAFY-BIMA-SALAFY-BINJAI-SALAFY-BITUNG-SALAFY-BLITAR-SALAFY-BOGOR-SALAFY-BONTANG-SALAFY-BUKITTINGGI-SALAFY-CILEGON-SALAFY-CIMAHI-SALAFY-CIREBON-SALAFY-DENPASAR-SALAFY-DEPOK-SALAFY-DUMAI-SALAFY-GORONTALO-SALAFY-GUNUNGSITOLI-SALAFY-JAMBI-SALAFY-JAYAPURA-SALAFY-KEDIRI-SALAFY-KENDARI-SALAFY-KOTAMOBAGU-SALAFY-KUPANG-SALAFY-LANGSA-SALAFY-LHOKSEUMAWE-SALAFY-LUBUKLINGGAU-SALAFY-MADIUN-SALAFY-MAGELANG-SALAFY-MAKASSAR-SALAFY-MALANG-SALAFY-MANADO-SALAFY-MATARAM-SALAFY-MEDAN-SALAFY-METRO-SALAFY-MOJOKERTO-SALAFY-PADANG-SALAFY-PADANGPANJANG-SALAFY-PADANGSIDEMPUAN-SALAFY-PAGAR-ALAM-SALAFY-PALANGKA-RAYA-SALAFY-PALEMBANG-SALAFY-PALOPO-SALAFY-PALU-SALAFY-PANGKAL-PINANG-SALAFY-PAREPARE-SALAFY-PARIAMAN-SALAFY-PASURUAN-SALAFY-PAYAKUMBUH-SALAFY-PEKALONGAN-SALAFY-PEKANBARU-SALAFY-PEMATANGSIANTAR-SALAFY-PONTIANAK-SALAFY-PRABUMULIH-SALAFY-PROBOLINGGO-SALAFY-SABANG-SALAFY-SALATIGA-SALAFY-SAMARINDA-SALAFY-SAWAHLUNTO-SALAFY-SEMARANG-SALAFY-SERANG-SALAFY-SIBOLGA-SALAFY-SINGKAWANG-SALAFY-SOLOK-SALAFY-SORONG-SALAFY-SUBULUSSALAM-SALAFY-SUKABUMI-SALAFY-SUNGAI-PENUH-SALAFY-SURABAYA-SALAFY-SURAKARTA-SALAFY-TANGERANG-SALAFY-TANGERANG-SELATAN-SALAFY-TANJUNG-PINANG-SALAFY-TANJUNGBALAI-SALAFY-TARAKAN-SALAFY-TASIKMALAYA-SALAFY-TEBING-TINGGI-SALAFY-TEGAL-SALAFY-TERNATE-SALAFY-TIDORE-KEPULAUAN-SALAFY-TOMOHON-SALAFY-TUAL-SALAFY-YOGYAKARTA-SALAFYS.COM-SALAFI-BANDARHARJO-SALAFI-BANDARHARJO-SALAFI-BANDARHARJO-SALAFI-BANDARHARJO-SALAFI-BANDARHARJO-SALAFI-BANDARHARJO-SALAFI-BANDARHARJO-SALAFI-BANDARHARJO-SALAFI-BANDARHARJO-SALAFI-BANGETAYU-WETAN-SALAFI-BANGETAYU-WETAN-SALAFI-BANGETAYU-WETAN-SALAFI-BANGETAYU-WETAN-SALAFI-BANGETAYU-WETAN-SALAFI-BANGETAYU-WETAN-SALAFI-BANGETAYU-WETAN-SALAFI-BANGETAYU-WETAN-SALAFI-BANGETAYU-WETAN-SALAFI-BANJARDOWO-SALAFI-BANJARDOWO-SALAFI-BANJARDOWO-SALAFI-BANJARDOWO-SALAFI-BANJARDOWO-SALAFI-BANJARDOWO-SALAFI-BANJARDOWO-SALAFI-BANJARDOWO-SALAFI-BANJARDOWO-SALAFI-BANYUMANIK-SALAFI-BANYUMANIK-SALAFI-BANYUMANIK-SALAFI-BANYUMANIK-SALAFI-BANYUMANIK-SALAFI-BANYUMANIK-SALAFI-BANYUMANIK-SALAFI-BANYUMANIK-SALAFI-BANYUMANIK-SALAFI-BENDANNGISOR-SALAFI-BENDANNGISOR-SALAFI-BENDANNGISOR-SALAFI-BENDANNGISOR-SALAFI-BENDANNGISOR-SALAFI-BENDANNGISOR-SALAFI-BENDANNGISOR-SALAFI-BENDANNGISOR-SALAFI-BENDANNGISOR-SALAFI-BENDUNGAN-SALAFI-BENDUNGAN-SALAFI-BENDUNGAN-SALAFI-BENDUNGAN-SALAFI-BENDUNGAN-SALAFI-BENDUNGAN-SALAFI-BENDUNGAN-SALAFI-BENDUNGAN-SALAFI-BENDUNGAN-SALAFI-BERINGIN-SALAFI-BERINGIN-SALAFI-BERINGIN-SALAFI-BERINGIN-SALAFI-BERINGIN-SALAFI-BERINGIN-SALAFI-BERINGIN-SALAFI-BERINGIN-SALAFI-BERINGIN-SALAFI-BONGSARI-SALAFI-BONGSARI-SALAFI-BONGSARI-SALAFI-BONGSARI-SALAFI-BONGSARI-SALAFI-BONGSARI-SALAFI-BONGSARI-SALAFI-BONGSARI-SALAFI-BONGSARI-SALAFI-BRUMBUNGAN-SALAFI-BRUMBUNGAN-SALAFI-BRUMBUNGAN-SALAFI-BRUMBUNGAN-SALAFI-BRUMBUNGAN-SALAFI-BRUMBUNGAN-SALAFI-BRUMBUNGAN-SALAFI-BRUMBUNGAN-SALAFI-BRUMBUNGAN-SALAFI-BULUSTALAN-SALAFI-BULUSTALAN-SALAFI-BULUSTALAN-SALAFI-BULUSTALAN-SALAFI-BULUSTALAN-SALAFI-BULUSTALAN-SALAFI-BULUSTALAN-SALAFI-BULUSTALAN-SALAFI-BULUSTALAN-SALAFI-CABEAN-SALAFI-CABEAN-SALAFI-CABEAN-SALAFI-CABEAN-SALAFI-CABEAN-SALAFI-CABEAN-SALAFI-CABEAN-SALAFI-CABEAN-SALAFI-CABEAN-SALAFI-CANGKIRAN-SALAFI-CANGKIRAN-SALAFI-CANGKIRAN-SALAFI-CANGKIRAN-SALAFI-CANGKIRAN-SALAFI-CANGKIRAN-SALAFI-CANGKIRAN-SALAFI-CANGKIRAN-SALAFI-CANGKIRAN-SALAFI-DADAPSARI-SALAFI-DADAPSARI-SALAFI-DADAPSARI-SALAFI-DADAPSARI-SALAFI-DADAPSARI-SALAFI-DADAPSARI-SALAFI-DADAPSARI-SALAFI-DADAPSARI-SALAFI-DADAPSARI-SALAFI-GABAHAN-SALAFI-GABAHAN-SALAFI-GABAHAN-SALAFI-GABAHAN-SALAFI-GABAHAN-SALAFI-GABAHAN-SALAFI-GABAHAN-SALAFI-GABAHAN-SALAFI-GABAHAN-SALAFI-GAJAHMUNGKUR-SALAFI-GAJAHMUNGKUR-SALAFI-GAJAHMUNGKUR-SALAFI-GAJAHMUNGKUR-SALAFI-GAJAHMUNGKUR-SALAFI-GAJAHMUNGKUR-SALAFI-GAJAHMUNGKUR-SALAFI-GAJAHMUNGKUR-SALAFI-GAJAHMUNGKUR-SALAFI-GEBANGSARI-SALAFI-GEBANGSARI-SALAFI-GEBANGSARI-SALAFI-GEBANGSARI-SALAFI-GEBANGSARI-SALAFI-GEBANGSARI-SALAFI-GEBANGSARI-SALAFI-GEBANGSARI-SALAFI-GEBANGSARI-SALAFI-GEDAWANG-SALAFI-GEDAWANG-SALAFI-GEDAWANG-SALAFI-GEDAWANG-SALAFI-GEDAWANG-SALAFI-GEDAWANG-SALAFI-GEDAWANG-SALAFI-GEDAWANG-SALAFI-GEDAWANG-SALAFI-GENUKSARI-SALAFI-GENUKSARI-SALAFI-GENUKSARI-SALAFI-GENUKSARI-SALAFI-GENUKSARI-SALAFI-GENUKSARI-SALAFI-GENUKSARI-SALAFI-GENUKSARI-SALAFI-GENUKSARI-SALAFI-GISIKDRONO-SALAFI-GISIKDRONO-SALAFI-GISIKDRONO-SALAFI-GISIKDRONO-SALAFI-GISIKDRONO-SALAFI-GISIKDRONO-SALAFI-GISIKDRONO-SALAFI-GISIKDRONO-SALAFI-GISIKDRONO-SALAFI-GONDORIYO-SALAFI-GONDORIYO-SALAFI-GONDORIYO-SALAFI-GONDORIYO-SALAFI-GONDORIYO-SALAFI-GONDORIYO-SALAFI-GONDORIYO-SALAFI-GONDORIYO-SALAFI-GONDORIYO-SALAFI-GUNUNGPATI-SALAFI-GUNUNGPATI-SALAFI-GUNUNGPATI-SALAFI-GUNUNGPATI-SALAFI-GUNUNGPATI-SALAFI-GUNUNGPATI-SALAFI-GUNUNGPATI-SALAFI-GUNUNGPATI-SALAFI-GUNUNGPATI-SALAFI-JABUNGAN-SALAFI-JABUNGAN-SALAFI-JABUNGAN-SALAFI-JABUNGAN-SALAFI-JABUNGAN-SALAFI-JABUNGAN-SALAFI-JABUNGAN-SALAFI-JABUNGAN-SALAFI-JABUNGAN-SALAFI-JAGALAN-SALAFI-JAGALAN-SALAFI-JAGALAN-SALAFI-JAGALAN-SALAFI-JAGALAN-SALAFI-JAGALAN-SALAFI-JAGALAN-SALAFI-JAGALAN-SALAFI-JAGALAN-SALAFI-JANGLI-SALAFI-JANGLI-SALAFI-JANGLI-SALAFI-JANGLI-SALAFI-JANGLI-SALAFI-JANGLI-SALAFI-JANGLI-SALAFI-JANGLI-SALAFI-JANGLI-SALAFI-JATIBARAN-SALAFI-JATIBARAN-SALAFI-JATIBARAN-SALAFI-JATIBARAN-SALAFI-JATIBARAN-SALAFI-JATIBARAN-SALAFI-JATIBARAN-SALAFI-JATIBARAN-SALAFI-JATIBARAN-SALAFI-JATINGALEH-SALAFI-JATINGALEH-SALAFI-JATINGALEH-SALAFI-JATINGALEH-SALAFI-JATINGALEH-SALAFI-JATINGALEH-SALAFI-JATINGALEH-SALAFI-JATINGALEH-SALAFI-JATINGALEH-SALAFI-JATIREJO-SALAFI-JATIREJO-SALAFI-JATIREJO-SALAFI-JATIREJO-SALAFI-JATIREJO-SALAFI-JATIREJO-SALAFI-JATIREJO-SALAFI-JATIREJO-SALAFI-JATIREJO-SALAFI-JATISARI-SALAFI-JATISARI-SALAFI-JATISARI-SALAFI-JATISARI-SALAFI-JATISARI-SALAFI-JATISARI-SALAFI-JATISARI-SALAFI-JATISARI-SALAFI-JATISARI-SALAFI-JOMBLANG-SALAFI-JOMBLANG-SALAFI-JOMBLANG-SALAFI-JOMBLANG-SALAFI-JOMBLANG-SALAFI-JOMBLANG-SALAFI-JOMBLANG-SALAFI-JOMBLANG-SALAFI-JOMBLANG-SALAFI-KALIBANTENG-KIDUL-SALAFI-KALIBANTENG-KIDUL-SALAFI-KALIBANTENG-KIDUL-SALAFI-KALIBANTENG-KIDUL-SALAFI-KALIBANTENG-KIDUL-SALAFI-KALIBANTENG-KIDUL-SALAFI-KALIBANTENG-KIDUL-SALAFI-KALIBANTENG-KIDUL-SALAFI-KALIBANTENG-KIDUL-SALAFI-KALIBANTENG-KULON-SALAFI-KALIBANTENG-KULON-SALAFI-KALIBANTENG-KULON-SALAFI-KALIBANTENG-KULON-SALAFI-KALIBANTENG-KULON-SALAFI-KALIBANTENG-KULON-SALAFI-KALIBANTENG-KULON-SALAFI-KALIBANTENG-KULON-SALAFI-KALIBANTENG-KULON-SALAFI-KALICARI-SALAFI-KALICARI-SALAFI-KALICARI-SALAFI-KALICARI-SALAFI-KALICARI-SALAFI-KALICARI-SALAFI-KALICARI-SALAFI-KALICARI-SALAFI-KALICARI-SALAFI-KALIGAWE-SALAFI-KALIGAWE-SALAFI-KALIGAWE-SALAFI-KALIGAWE-SALAFI-KALIGAWE-SALAFI-KALIGAWE-SALAFI-KALIGAWE-SALAFI-KALIGAWE-SALAFI-KALIGAWE-SALAFI-KALIPANCUR-SALAFI-KALIPANCUR-SALAFI-KALIPANCUR-SALAFI-KALIPANCUR-SALAFI-KALIPANCUR-SALAFI-KALIPANCUR-SALAFI-KALIPANCUR-SALAFI-KALIPANCUR-SALAFI-KALIPANCUR-SALAFI-KALISEGORO-SALAFI-KALISEGORO-SALAFI-KALISEGORO-SALAFI-KALISEGORO-SALAFI-KALISEGORO-SALAFI-KALISEGORO-SALAFI-KALISEGORO-SALAFI-KALISEGORO-SALAFI-KALISEGORO-SALAFI-KALIWIRU-SALAFI-KALIWIRU-SALAFI-KALIWIRU-SALAFI-KALIWIRU-SALAFI-KALIWIRU-SALAFI-KALIWIRU-SALAFI-KALIWIRU-SALAFI-KALIWIRU-SALAFI-KALIWIRU-SALAFI-KANDRI-SALAFI-KANDRI-SALAFI-KANDRI-SALAFI-KANDRI-SALAFI-KANDRI-SALAFI-KANDRI-SALAFI-KANDRI-SALAFI-KANDRI-SALAFI-KANDRI-SALAFI-KARANGANYAR-SALAFI-KARANGANYAR-SALAFI-KARANGANYAR-SALAFI-KARANGANYAR-SALAFI-KARANGANYAR-SALAFI-KARANGANYAR-SALAFI-KARANGANYAR-SALAFI-KARANGANYAR-SALAFI-KARANGANYAR-SALAFI-KARANGANYARGUNUNG-SALAFI-KARANGANYARGUNUNG-SALAFI-KARANGANYARGUNUNG-SALAFI-KARANGANYARGUNUNG-SALAFI-KARANGANYARGUNUNG-SALAFI-KARANGANYARGUNUNG-SALAFI-KARANGANYARGUNUNG-SALAFI-KARANGANYARGUNUNG-SALAFI-KARANGANYARGUNUNG-SALAFI-KARANGAYU-SALAFI-KARANGAYU-SALAFI-KARANGAYU-SALAFI-KARANGAYU-SALAFI-KARANGAYU-SALAFI-KARANGAYU-SALAFI-KARANGAYU-SALAFI-KARANGAYU-SALAFI-KARANGAYU-SALAFI-KARANGKIDUL-SALAFI-KARANGKIDUL-SALAFI-KARANGKIDUL-SALAFI-KARANGKIDUL-SALAFI-KARANGKIDUL-SALAFI-KARANGKIDUL-SALAFI-KARANGKIDUL-SALAFI-KARANGKIDUL-SALAFI-KARANGKIDUL-SALAFI-KARANGMALANG-SALAFI-KARANGMALANG-SALAFI-KARANGMALANG-SALAFI-KARANGMALANG-SALAFI-KARANGMALANG-SALAFI-KARANGMALANG-SALAFI-KARANGMALANG-SALAFI-KARANGMALANG-SALAFI-KARANGMALANG-SALAFI-KARANGREJO-SALAFI-KARANGREJO-SALAFI-KARANGREJO-SALAFI-KARANGREJO-SALAFI-KARANGREJO-SALAFI-KARANGREJO-SALAFI-KARANGREJO-SALAFI-KARANGREJO-SALAFI-KARANGREJO-SALAFI-KARANGROTO-SALAFI-KARANGROTO-SALAFI-KARANGROTO-SALAFI-KARANGROTO-SALAFI-KARANGROTO-SALAFI-KARANGROTO-SALAFI-KARANGROTO-SALAFI-KARANGROTO-SALAFI-KARANGROTO-SALAFI-KARANGTEMPEL-SALAFI-KARANGTEMPEL-SALAFI-KARANGTEMPEL-SALAFI-KARANGTEMPEL-SALAFI-KARANGTEMPEL-SALAFI-KARANGTEMPEL-SALAFI-KARANGTEMPEL-SALAFI-KARANGTEMPEL-SALAFI-KARANGTEMPEL-SALAFI-KARANGTURI-SALAFI-KARANGTURI-SALAFI-KARANGTURI-SALAFI-KARANGTURI-SALAFI-KARANGTURI-SALAFI-KARANGTURI-SALAFI-KARANGTURI-SALAFI-KARANGTURI-SALAFI-KARANGTURI-SALAFI-KAUMAN-SALAFI-KAUMAN-SALAFI-KAUMAN-SALAFI-KAUMAN-SALAFI-KAUMAN-SALAFI-KAUMAN-SALAFI-KAUMAN-SALAFI-KAUMAN-SALAFI-KAUMAN-SALAFI-KEBONAGUNG-SALAFI-KEBONAGUNG-SALAFI-KEBONAGUNG-SALAFI-KEBONAGUNG-SALAFI-KEBONAGUNG-SALAFI-KEBONAGUNG-SALAFI-KEBONAGUNG-SALAFI-KEBONAGUNG-SALAFI-KEBONAGUNG-SALAFI-KEDUNGMUNDU-SALAFI-KEDUNGMUNDU-SALAFI-KEDUNGMUNDU-SALAFI-KEDUNGMUNDU-SALAFI-KEDUNGMUNDU-SALAFI-KEDUNGMUNDU-SALAFI-KEDUNGMUNDU-SALAFI-KEDUNGMUNDU-SALAFI-KEDUNGMUNDU-SALAFI-KEDUNGPANI-SALAFI-KEDUNGPANI-SALAFI-KEDUNGPANI-SALAFI-KEDUNGPANI-SALAFI-KEDUNGPANI-SALAFI-KEDUNGPANI-SALAFI-KEDUNGPANI-SALAFI-KEDUNGPANI-SALAFI-KEDUNGPANI-SALAFI-KEMBANGARUM-SALAFI-KEMBANGARUM-SALAFI-KEMBANGARUM-SALAFI-KEMBANGARUM-SALAFI-KEMBANGARUM-SALAFI-KEMBANGARUM-SALAFI-KEMBANGARUM-SALAFI-KEMBANGARUM-SALAFI-KEMBANGARUM-SALAFI-KEMBANGSARI-SALAFI-KEMBANGSARI-SALAFI-KEMBANGSARI-SALAFI-KEMBANGSARI-SALAFI-KEMBANGSARI-SALAFI-KEMBANGSARI-SALAFI-KEMBANGSARI-SALAFI-KEMBANGSARI-SALAFI-KEMBANGSARI-SALAFI-KEMIJEN-SALAFI-KEMIJEN-SALAFI-KEMIJEN-SALAFI-KEMIJEN-SALAFI-KEMIJEN-SALAFI-KEMIJEN-SALAFI-KEMIJEN-SALAFI-KEMIJEN-SALAFI-KEMIJEN-SALAFI-KRAMAS-SALAFI-KRAMAS-SALAFI-KRAMAS-SALAFI-KRAMAS-SALAFI-KRAMAS-SALAFI-KRAMAS-SALAFI-KRAMAS-SALAFI-KRAMAS-SALAFI-KRAMAS-SALAFI-KRANGGAN-SALAFI-KRANGGAN-SALAFI-KRANGGAN-SALAFI-KRANGGAN-SALAFI-KRANGGAN-SALAFI-KRANGGAN-SALAFI-KRANGGAN-SALAFI-KRANGGAN-SALAFI-KRANGGAN-SALAFI-KRAPYAK-SALAFI-KRAPYAK-SALAFI-KRAPYAK-SALAFI-KRAPYAK-SALAFI-KRAPYAK-SALAFI-KRAPYAK-SALAFI-KRAPYAK-SALAFI-KRAPYAK-SALAFI-KRAPYAK-SALAFI-KROBOKAN-SALAFI-KROBOKAN-SALAFI-KROBOKAN-SALAFI-KROBOKAN-SALAFI-KROBOKAN-SALAFI-KROBOKAN-SALAFI-KROBOKAN-SALAFI-KROBOKAN-SALAFI-KROBOKAN-SALAFI-KUDU-SALAFI-KUDU-SALAFI-KUDU-SALAFI-KUDU-SALAFI-KUDU-SALAFI-KUDU-SALAFI-KUDU-SALAFI-KUDU-SALAFI-KUDU-SALAFI-KUNINGAN-SALAFI-KUNINGAN-SALAFI-KUNINGAN-SALAFI-KUNINGAN-SALAFI-KUNINGAN-SALAFI-KUNINGAN-SALAFI-KUNINGAN-SALAFI-KUNINGAN-SALAFI-KUNINGAN-SALAFI-LAMPER-KIDUL-SALAFI-LAMPER-KIDUL-SALAFI-LAMPER-KIDUL-SALAFI-LAMPER-KIDUL-SALAFI-LAMPER-KIDUL-SALAFI-LAMPER-KIDUL-SALAFI-LAMPER-KIDUL-SALAFI-LAMPER-KIDUL-SALAFI-LAMPER-KIDUL-SALAFI-LAMPER-LOR-SALAFI-LAMPER-LOR-SALAFI-LAMPER-LOR-SALAFI-LAMPER-LOR-SALAFI-LAMPER-LOR-SALAFI-LAMPER-LOR-SALAFI-LAMPER-LOR-SALAFI-LAMPER-LOR-SALAFI-LAMPER-LOR-SALAFI-LAMPER-TENGAH-SALAFI-LAMPER-TENGAH-SALAFI-LAMPER-TENGAH-SALAFI-LAMPER-TENGAH-SALAFI-LAMPER-TENGAH-SALAFI-LAMPER-TENGAH-SALAFI-LAMPER-TENGAH-SALAFI-LAMPER-TENGAH-SALAFI-LAMPER-TENGAH-SALAFI-LEMPONGSARI-SALAFI-LEMPONGSARI-SALAFI-LEMPONGSARI-SALAFI-LEMPONGSARI-SALAFI-LEMPONGSARI-SALAFI-LEMPONGSARI-SALAFI-LEMPONGSARI-SALAFI-LEMPONGSARI-SALAFI-LEMPONGSARI-SALAFI-MANGKANG-KULON-SALAFI-MANGKANG-KULON-SALAFI-MANGKANG-KULON-SALAFI-MANGKANG-KULON-SALAFI-MANGKANG-KULON-SALAFI-MANGKANG-KULON-SALAFI-MANGKANG-KULON-SALAFI-MANGKANG-KULON-SALAFI-MANGKANG-KULON-SALAFI-MANGKANG-WETAN-SALAFI-MANGKANG-WETAN-SALAFI-MANGKANG-WETAN-SALAFI-MANGKANG-WETAN-SALAFI-MANGKANG-WETAN-SALAFI-MANGKANG-WETAN-SALAFI-MANGKANG-WETAN-SALAFI-MANGKANG-WETAN-SALAFI-MANGKANG-WETAN-SALAFI-MANGUNHARJO-SALAFI-MANGUNHARJO-SALAFI-MANGUNHARJO-SALAFI-MANGUNHARJO-SALAFI-MANGUNHARJO-SALAFI-MANGUNHARJO-SALAFI-MANGUNHARJO-SALAFI-MANGUNHARJO-SALAFI-MANGUNHARJO-SALAFI-MANGUNHARJO-SALAFI-MANGUNHARJO-SALAFI-MANGUNHARJO-SALAFI-MANGUNHARJO-SALAFI-MANGUNHARJO-SALAFI-MANGUNHARJO-SALAFI-MANGUNHARJO-SALAFI-MANGUNHARJO-SALAFI-MANGUNHARJO-SALAFI-MANGUNSARI-SALAFI-MANGUNSARI-SALAFI-MANGUNSARI-SALAFI-MANGUNSARI-SALAFI-MANGUNSARI-SALAFI-MANGUNSARI-SALAFI-MANGUNSARI-SALAFI-MANGUNSARI-SALAFI-MANGUNSARI-SALAFI-MANYARAN-SALAFI-MANYARAN-SALAFI-MANYARAN-SALAFI-MANYARAN-SALAFI-MANYARAN-SALAFI-MANYARAN-SALAFI-MANYARAN-SALAFI-MANYARAN-SALAFI-MANYARAN-SALAFI-METESEH-SALAFI-METESEH-SALAFI-METESEH-SALAFI-METESEH-SALAFI-METESEH-SALAFI-METESEH-SALAFI-METESEH-SALAFI-METESEH-SALAFI-METESEH-SALAFI-MIJEN-SALAFI-MIJEN-SALAFI-MIJEN-SALAFI-MIJEN-SALAFI-MIJEN-SALAFI-MIJEN-SALAFI-MIJEN-SALAFI-MIJEN-SALAFI-MIJEN-SALAFI-MIROTO-SALAFI-MIROTO-SALAFI-MIROTO-SALAFI-MIROTO-SALAFI-MIROTO-SALAFI-MIROTO-SALAFI-MIROTO-SALAFI-MIROTO-SALAFI-MIROTO-SALAFI-MLATIBARU-SALAFI-MLATIBARU-SALAFI-MLATIBARU-SALAFI-MLATIBARU-SALAFI-MLATIBARU-SALAFI-MLATIBARU-SALAFI-MLATIBARU-SALAFI-MLATIBARU-SALAFI-MLATIBARU-SALAFI-MLATIHARJO-SALAFI-MLATIHARJO-SALAFI-MLATIHARJO-SALAFI-MLATIHARJO-SALAFI-MLATIHARJO-SALAFI-MLATIHARJO-SALAFI-MLATIHARJO-SALAFI-MLATIHARJO-SALAFI-MLATIHARJO-SALAFI-MUGASSARI-SALAFI-MUGASSARI-SALAFI-MUGASSARI-SALAFI-MUGASSARI-SALAFI-MUGASSARI-SALAFI-MUGASSARI-SALAFI-MUGASSARI-SALAFI-MUGASSARI-SALAFI-MUGASSARI-SALAFI-MUKTIHARJO-KIDUL-SALAFI-MUKTIHARJO-KIDUL-SALAFI-MUKTIHARJO-KIDUL-SALAFI-MUKTIHARJO-KIDUL-SALAFI-MUKTIHARJO-KIDUL-SALAFI-MUKTIHARJO-KIDUL-SALAFI-MUKTIHARJO-KIDUL-SALAFI-MUKTIHARJO-KIDUL-SALAFI-MUKTIHARJO-KIDUL-SALAFI-MUKTIHARJO-LOR-SALAFI-MUKTIHARJO-LOR-SALAFI-MUKTIHARJO-LOR-SALAFI-MUKTIHARJO-LOR-SALAFI-MUKTIHARJO-LOR-SALAFI-MUKTIHARJO-LOR-SALAFI-MUKTIHARJO-LOR-SALAFI-MUKTIHARJO-LOR-SALAFI-MUKTIHARJO-LOR-SALAFI-NGADIRGO-SALAFI-NGADIRGO-SALAFI-NGADIRGO-SALAFI-NGADIRGO-SALAFI-NGADIRGO-SALAFI-NGADIRGO-SALAFI-NGADIRGO-SALAFI-NGADIRGO-SALAFI-NGADIRGO-SALAFI-NGALIYAN-SALAFI-NGALIYAN-SALAFI-NGALIYAN-SALAFI-NGALIYAN-SALAFI-NGALIYAN-SALAFI-NGALIYAN-SALAFI-NGALIYAN-SALAFI-NGALIYAN-SALAFI-NGALIYAN-SALAFI-NGEMPLAKSIMONGAN-SALAFI-NGEMPLAKSIMONGAN-SALAFI-NGEMPLAKSIMONGAN-SALAFI-NGEMPLAKSIMONGAN-SALAFI-NGEMPLAKSIMONGAN-SALAFI-NGEMPLAKSIMONGAN-SALAFI-NGEMPLAKSIMONGAN-SALAFI-NGEMPLAKSIMONGAN-SALAFI-NGEMPLAKSIMONGAN-SALAFI-NGESREP-SALAFI-NGESREP-SALAFI-NGESREP-SALAFI-NGESREP-SALAFI-NGESREP-SALAFI-NGESREP-SALAFI-NGESREP-SALAFI-NGESREP-SALAFI-NGESREP-SALAFI-NGIJO-SALAFI-NGIJO-SALAFI-NGIJO-SALAFI-NGIJO-SALAFI-NGIJO-SALAFI-NGIJO-SALAFI-NGIJO-SALAFI-NGIJO-SALAFI-NGIJO-SALAFI-NONGKOSAWIT-SALAFI-NONGKOSAWIT-SALAFI-NONGKOSAWIT-SALAFI-NONGKOSAWIT-SALAFI-NONGKOSAWIT-SALAFI-NONGKOSAWIT-SALAFI-NONGKOSAWIT-SALAFI-NONGKOSAWIT-SALAFI-NONGKOSAWIT-SALAFI-PADANGSARI-SALAFI-PADANGSARI-SALAFI-PADANGSARI-SALAFI-PADANGSARI-SALAFI-PADANGSARI-SALAFI-PADANGSARI-SALAFI-PADANGSARI-SALAFI-PADANGSARI-SALAFI-PADANGSARI-SALAFI-PAKINTELAN-SALAFI-PAKINTELAN-SALAFI-PAKINTELAN-SALAFI-PAKINTELAN-SALAFI-PAKINTELAN-SALAFI-PAKINTELAN-SALAFI-PAKINTELAN-SALAFI-PAKINTELAN-SALAFI-PAKINTELAN-SALAFI-PALEBON-SALAFI-PALEBON-SALAFI-PALEBON-SALAFI-PALEBON-SALAFI-PALEBON-SALAFI-PALEBON-SALAFI-PALEBON-SALAFI-PALEBON-SALAFI-PALEBON-SALAFI-PANDANSARI-SALAFI-PANDANSARI-SALAFI-PANDANSARI-SALAFI-PANDANSARI-SALAFI-PANDANSARI-SALAFI-PANDANSARI-SALAFI-PANDANSARI-SALAFI-PANDANSARI-SALAFI-PANDANSARI-SALAFI-PANDEAN-LAMPER-SALAFI-PANDEAN-LAMPER-SALAFI-PANDEAN-LAMPER-SALAFI-PANDEAN-LAMPER-SALAFI-PANDEAN-LAMPER-SALAFI-PANDEAN-LAMPER-SALAFI-PANDEAN-LAMPER-SALAFI-PANDEAN-LAMPER-SALAFI-PANDEAN-LAMPER-SALAFI-PANGGUNG-KIDUL-SALAFI-PANGGUNG-KIDUL-SALAFI-PANGGUNG-KIDUL-SALAFI-PANGGUNG-KIDUL-SALAFI-PANGGUNG-KIDUL-SALAFI-PANGGUNG-KIDUL-SALAFI-PANGGUNG-KIDUL-SALAFI-PANGGUNG-KIDUL-SALAFI-PANGGUNG-KIDUL-SALAFI-PANGGUNG-LOR-SALAFI-PANGGUNG-LOR-SALAFI-PANGGUNG-LOR-SALAFI-PANGGUNG-LOR-SALAFI-PANGGUNG-LOR-SALAFI-PANGGUNG-LOR-SALAFI-PANGGUNG-LOR-SALAFI-PANGGUNG-LOR-SALAFI-PANGGUNG-LOR-SALAFI-PATEMON-SALAFI-PATEMON-SALAFI-PATEMON-SALAFI-PATEMON-SALAFI-PATEMON-SALAFI-PATEMON-SALAFI-PATEMON-SALAFI-PATEMON-SALAFI-PATEMON-SALAFI-PEDALANGAN-SALAFI-PEDALANGAN-SALAFI-PEDALANGAN-SALAFI-PEDALANGAN-SALAFI-PEDALANGAN-SALAFI-PEDALANGAN-SALAFI-PEDALANGAN-SALAFI-PEDALANGAN-SALAFI-PEDALANGAN-SALAFI-PEDURUNGAN-KIDUL-SALAFI-PEDURUNGAN-KIDUL-SALAFI-PEDURUNGAN-KIDUL-SALAFI-PEDURUNGAN-KIDUL-SALAFI-PEDURUNGAN-KIDUL-SALAFI-PEDURUNGAN-KIDUL-SALAFI-PEDURUNGAN-KIDUL-SALAFI-PEDURUNGAN-KIDUL-SALAFI-PEDURUNGAN-KIDUL-SALAFI-PEDURUNGAN-LOR-SALAFI-PEDURUNGAN-LOR-SALAFI-PEDURUNGAN-LOR-SALAFI-PEDURUNGAN-LOR-SALAFI-PEDURUNGAN-LOR-SALAFI-PEDURUNGAN-LOR-SALAFI-PEDURUNGAN-LOR-SALAFI-PEDURUNGAN-LOR-SALAFI-PEDURUNGAN-LOR-SALAFI-PEDURUNGAN-TENGAH-SALAFI-PEDURUNGAN-TENGAH-SALAFI-PEDURUNGAN-TENGAH-SALAFI-PEDURUNGAN-TENGAH-SALAFI-PEDURUNGAN-TENGAH-SALAFI-PEDURUNGAN-TENGAH-SALAFI-PEDURUNGAN-TENGAH-SALAFI-PEDURUNGAN-TENGAH-SALAFI-PEDURUNGAN-TENGAH-SALAFI-PEKUNDEN-SALAFI-PEKUNDEN-SALAFI-PEKUNDEN-SALAFI-PEKUNDEN-SALAFI-PEKUNDEN-SALAFI-PEKUNDEN-SALAFI-PEKUNDEN-SALAFI-PEKUNDEN-SALAFI-PEKUNDEN-SALAFI-PENDRIKAN-KIDUL-SALAFI-PENDRIKAN-KIDUL-SALAFI-PENDRIKAN-KIDUL-SALAFI-PENDRIKAN-KIDUL-SALAFI-PENDRIKAN-KIDUL-SALAFI-PENDRIKAN-KIDUL-SALAFI-PENDRIKAN-KIDUL-SALAFI-PENDRIKAN-KIDUL-SALAFI-PENDRIKAN-KIDUL-SALAFI-PENDRIKAN-LOR-SALAFI-PENDRIKAN-LOR-SALAFI-PENDRIKAN-LOR-SALAFI-PENDRIKAN-LOR-SALAFI-PENDRIKAN-LOR-SALAFI-PENDRIKAN-LOR-SALAFI-PENDRIKAN-LOR-SALAFI-PENDRIKAN-LOR-SALAFI-PENDRIKAN-LOR-SALAFI-PENGGARON-KIDUL-SALAFI-PENGGARON-KIDUL-SALAFI-PENGGARON-KIDUL-SALAFI-PENGGARON-KIDUL-SALAFI-PENGGARON-KIDUL-SALAFI-PENGGARON-KIDUL-SALAFI-PENGGARON-KIDUL-SALAFI-PENGGARON-KIDUL-SALAFI-PENGGARON-KIDUL-SALAFI-PENGGARON-LOR-SALAFI-PENGGARON-LOR-SALAFI-PENGGARON-LOR-SALAFI-PENGGARON-LOR-SALAFI-PENGGARON-LOR-SALAFI-PENGGARON-LOR-SALAFI-PENGGARON-LOR-SALAFI-PENGGARON-LOR-SALAFI-PENGGARON-LOR-SALAFI-PESANTREN-SALAFI-PESANTREN-SALAFI-PESANTREN-SALAFI-PESANTREN-SALAFI-PESANTREN-SALAFI-PESANTREN-SALAFI-PESANTREN-SALAFI-PESANTREN-SALAFI-PESANTREN-SALAFI-PETERONGAN-SALAFI-PETERONGAN-SALAFI-PETERONGAN-SALAFI-PETERONGAN-SALAFI-PETERONGAN-SALAFI-PETERONGAN-SALAFI-PETERONGAN-SALAFI-PETERONGAN-SALAFI-PETERONGAN-SALAFI-PETOMPON-SALAFI-PETOMPON-SALAFI-PETOMPON-SALAFI-PETOMPON-SALAFI-PETOMPON-SALAFI-PETOMPON-SALAFI-PETOMPON-SALAFI-PETOMPON-SALAFI-PETOMPON-SALAFI-PLALANGAN-SALAFI-PLALANGAN-SALAFI-PLALANGAN-SALAFI-PLALANGAN-SALAFI-PLALANGAN-SALAFI-PLALANGAN-SALAFI-PLALANGAN-SALAFI-PLALANGAN-SALAFI-PLALANGAN-SALAFI-PLAMONGAN-SARI-SALAFI-PLAMONGAN-SARI-SALAFI-PLAMONGAN-SARI-SALAFI-PLAMONGAN-SARI-SALAFI-PLAMONGAN-SARI-SALAFI-PLAMONGAN-SARI-SALAFI-PLAMONGAN-SARI-SALAFI-PLAMONGAN-SARI-SALAFI-PLAMONGAN-SARI-SALAFI-PLEBURAN-SALAFI-PLEBURAN-SALAFI-PLEBURAN-SALAFI-PLEBURAN-SALAFI-PLEBURAN-SALAFI-PLEBURAN-SALAFI-PLEBURAN-SALAFI-PLEBURAN-SALAFI-PLEBURAN-SALAFI-PLOMBOKAN-SALAFI-PLOMBOKAN-SALAFI-PLOMBOKAN-SALAFI-PLOMBOKAN-SALAFI-PLOMBOKAN-SALAFI-PLOMBOKAN-SALAFI-PLOMBOKAN-SALAFI-PLOMBOKAN-SALAFI-PLOMBOKAN-SALAFI-PODOREJO-SALAFI-PODOREJO-SALAFI-PODOREJO-SALAFI-PODOREJO-SALAFI-PODOREJO-SALAFI-PODOREJO-SALAFI-PODOREJO-SALAFI-PODOREJO-SALAFI-PODOREJO-SALAFI-POLAMAN-SALAFI-POLAMAN-SALAFI-POLAMAN-SALAFI-POLAMAN-SALAFI-POLAMAN-SALAFI-POLAMAN-SALAFI-POLAMAN-SALAFI-POLAMAN-SALAFI-POLAMAN-SALAFI-PONGANGAN-SALAFI-PONGANGAN-SALAFI-PONGANGAN-SALAFI-PONGANGAN-SALAFI-PONGANGAN-SALAFI-PONGANGAN-SALAFI-PONGANGAN-SALAFI-PONGANGAN-SALAFI-PONGANGAN-SALAFI-PURWODINATAN-SALAFI-PURWODINATAN-SALAFI-PURWODINATAN-SALAFI-PURWODINATAN-SALAFI-PURWODINATAN-SALAFI-PURWODINATAN-SALAFI-PURWODINATAN-SALAFI-PURWODINATAN-SALAFI-PURWODINATAN-SALAFI-PURWOSARI-SALAFI-PURWOSARI-SALAFI-PURWOSARI-SALAFI-PURWOSARI-SALAFI-PURWOSARI-SALAFI-PURWOSARI-SALAFI-PURWOSARI-SALAFI-PURWOSARI-SALAFI-PURWOSARI-SALAFI-PURWOYOSO-SALAFI-PURWOYOSO-SALAFI-PURWOYOSO-SALAFI-PURWOYOSO-SALAFI-PURWOYOSO-SALAFI-PURWOYOSO-SALAFI-PURWOYOSO-SALAFI-PURWOYOSO-SALAFI-PURWOYOSO-SALAFI-RANDU-GARUT-SALAFI-RANDU-GARUT-SALAFI-RANDU-GARUT-SALAFI-RANDU-GARUT-SALAFI-RANDU-GARUT-SALAFI-RANDU-GARUT-SALAFI-RANDU-GARUT-SALAFI-RANDU-GARUT-SALAFI-RANDU-GARUT-SALAFI-RANDUSARI-SALAFI-RANDUSARI-SALAFI-RANDUSARI-SALAFI-RANDUSARI-SALAFI-RANDUSARI-SALAFI-RANDUSARI-SALAFI-RANDUSARI-SALAFI-RANDUSARI-SALAFI-RANDUSARI-SALAFI-REJOMULYO-SALAFI-REJOMULYO-SALAFI-REJOMULYO-SALAFI-REJOMULYO-SALAFI-REJOMULYO-SALAFI-REJOMULYO-SALAFI-REJOMULYO-SALAFI-REJOMULYO-SALAFI-REJOMULYO-SALAFI-REJOSARI-SALAFI-REJOSARI-SALAFI-REJOSARI-SALAFI-REJOSARI-SALAFI-REJOSARI-SALAFI-REJOSARI-SALAFI-REJOSARI-SALAFI-REJOSARI-SALAFI-REJOSARI-SALAFI-ROWOSARI-SALAFI-ROWOSARI-SALAFI-ROWOSARI-SALAFI-ROWOSARI-SALAFI-ROWOSARI-SALAFI-ROWOSARI-SALAFI-ROWOSARI-SALAFI-ROWOSARI-SALAFI-ROWOSARI-SALAFI-SADENG-SALAFI-SADENG-SALAFI-SADENG-SALAFI-SADENG-SALAFI-SADENG-SALAFI-SADENG-SALAFI-SADENG-SALAFI-SADENG-SALAFI-SADENG-SALAFI-SALAMANMLOYO-SALAFI-SALAMANMLOYO-SALAFI-SALAMANMLOYO-SALAFI-SALAMANMLOYO-SALAFI-SALAMANMLOYO-SALAFI-SALAMANMLOYO-SALAFI-SALAMANMLOYO-SALAFI-SALAMANMLOYO-SALAFI-SALAMANMLOYO-SALAFI-SAMBIREJO-SALAFI-SAMBIREJO-SALAFI-SAMBIREJO-SALAFI-SAMBIREJO-SALAFI-SAMBIREJO-SALAFI-SAMBIREJO-SALAFI-SAMBIREJO-SALAFI-SAMBIREJO-SALAFI-SAMBIREJO-SALAFI-SAMBIROTO-SALAFI-SAMBIROTO-SALAFI-SAMBIROTO-SALAFI-SAMBIROTO-SALAFI-SAMBIROTO-SALAFI-SAMBIROTO-SALAFI-SAMBIROTO-SALAFI-SAMBIROTO-SALAFI-SAMBIROTO-SALAFI-SAMPANGAN-SALAFI-SAMPANGAN-SALAFI-SAMPANGAN-SALAFI-SAMPANGAN-SALAFI-SAMPANGAN-SALAFI-SAMPANGAN-SALAFI-SAMPANGAN-SALAFI-SAMPANGAN-SALAFI-SAMPANGAN-SALAFI-SARIREJO-SALAFI-SARIREJO-SALAFI-SARIREJO-SALAFI-SARIREJO-SALAFI-SARIREJO-SALAFI-SARIREJO-SALAFI-SARIREJO-SALAFI-SARIREJO-SALAFI-SARIREJO-SALAFI-SAWAH-BESAR-SALAFI-SAWAH-BESAR-SALAFI-SAWAH-BESAR-SALAFI-SAWAH-BESAR-SALAFI-SAWAH-BESAR-SALAFI-SAWAH-BESAR-SALAFI-SAWAH-BESAR-SALAFI-SAWAH-BESAR-SALAFI-SAWAH-BESAR-SALAFI-SEKARAN-SALAFI-SEKARAN-SALAFI-SEKARAN-SALAFI-SEKARAN-SALAFI-SEKARAN-SALAFI-SEKARAN-SALAFI-SEKARAN-SALAFI-SEKARAN-SALAFI-SEKARAN-SALAFI-SEKAYU-SALAFI-SEKAYU-SALAFI-SEKAYU-SALAFI-SEKAYU-SALAFI-SEKAYU-SALAFI-SEKAYU-SALAFI-SEKAYU-SALAFI-SEKAYU-SALAFI-SEKAYU-SALAFI-SEMARANG-SALAFI-SEMARANG-SALAFI-SEMARANG-SALAFI-SEMARANG-SALAFI-SEMARANG-SALAFI-SEMARANG-SALAFI-SEMARANG-SALAFI-SEMARANG-SALAFI-SEMARANG-SALAFI-SEMBUNGHARJO-SALAFI-SEMBUNGHARJO-SALAFI-SEMBUNGHARJO-SALAFI-SEMBUNGHARJO-SALAFI-SEMBUNGHARJO-SALAFI-SEMBUNGHARJO-SALAFI-SEMBUNGHARJO-SALAFI-SEMBUNGHARJO-SALAFI-SEMBUNGHARJO-SALAFI-SENDANGGUWO-SALAFI-SENDANGGUWO-SALAFI-SENDANGGUWO-SALAFI-SENDANGGUWO-SALAFI-SENDANGGUWO-SALAFI-SENDANGGUWO-SALAFI-SENDANGGUWO-SALAFI-SENDANGGUWO-SALAFI-SENDANGGUWO-SALAFI-SENDANGMULYO-SALAFI-SENDANGMULYO-SALAFI-SENDANGMULYO-SALAFI-SENDANGMULYO-SALAFI-SENDANGMULYO-SALAFI-SENDANGMULYO-SALAFI-SENDANGMULYO-SALAFI-SENDANGMULYO-SALAFI-SENDANGMULYO-SALAFI-SIWALAN-SALAFI-SIWALAN-SALAFI-SIWALAN-SALAFI-SIWALAN-SALAFI-SIWALAN-SALAFI-SIWALAN-SALAFI-SIWALAN-SALAFI-SIWALAN-SALAFI-SIWALAN-SALAFI-SRONDOL-KULON-SALAFI-SRONDOL-KULON-SALAFI-SRONDOL-KULON-SALAFI-SRONDOL-KULON-SALAFI-SRONDOL-KULON-SALAFI-SRONDOL-KULON-SALAFI-SRONDOL-KULON-SALAFI-SRONDOL-KULON-SALAFI-SRONDOL-KULON-SALAFI-SRONDOL-WETAN-SALAFI-SRONDOL-WETAN-SALAFI-SRONDOL-WETAN-SALAFI-SRONDOL-WETAN-SALAFI-SRONDOL-WETAN-SALAFI-SRONDOL-WETAN-SALAFI-SRONDOL-WETAN-SALAFI-SRONDOL-WETAN-SALAFI-SRONDOL-WETAN-SALAFI-SUKOREJO-SALAFI-SUKOREJO-SALAFI-SUKOREJO-SALAFI-SUKOREJO-SALAFI-SUKOREJO-SALAFI-SUKOREJO-SALAFI-SUKOREJO-SALAFI-SUKOREJO-SALAFI-SUKOREJO-SALAFI-SUMURBOTO-SALAFI-SUMURBOTO-SALAFI-SUMURBOTO-SALAFI-SUMURBOTO-SALAFI-SUMURBOTO-SALAFI-SUMURBOTO-SALAFI-SUMURBOTO-SALAFI-SUMURBOTO-SALAFI-SUMURBOTO-SALAFI-SUMUREJO-SALAFI-SUMUREJO-SALAFI-SUMUREJO-SALAFI-SUMUREJO-SALAFI-SUMUREJO-SALAFI-SUMUREJO-SALAFI-SUMUREJO-SALAFI-SUMUREJO-SALAFI-SUMUREJO-SALAFI-TAMBAK-AJI-SALAFI-TAMBAK-AJI-SALAFI-TAMBAK-AJI-SALAFI-TAMBAK-AJI-SALAFI-TAMBAK-AJI-SALAFI-TAMBAK-AJI-SALAFI-TAMBAK-AJI-SALAFI-TAMBAK-AJI-SALAFI-TAMBAK-AJI-SALAFI-TAMBAKHARJO-SALAFI-TAMBAKHARJO-SALAFI-TAMBAKHARJO-SALAFI-TAMBAKHARJO-SALAFI-TAMBAKHARJO-SALAFI-TAMBAKHARJO-SALAFI-TAMBAKHARJO-SALAFI-TAMBAKHARJO-SALAFI-TAMBAKHARJO-SALAFI-TAMBAKREJO-SALAFI-TAMBAKREJO-SALAFI-TAMBAKREJO-SALAFI-TAMBAKREJO-SALAFI-TAMBAKREJO-SALAFI-TAMBAKREJO-SALAFI-TAMBAKREJO-SALAFI-TAMBAKREJO-SALAFI-TAMBAKREJO-SALAFI-TAMBANGAN-SALAFI-TAMBANGAN-SALAFI-TAMBANGAN-SALAFI-TAMBANGAN-SALAFI-TAMBANGAN-SALAFI-TAMBANGAN-SALAFI-TAMBANGAN-SALAFI-TAMBANGAN-SALAFI-TAMBANGAN-SALAFI-TANDANG-SALAFI-TANDANG-SALAFI-TANDANG-SALAFI-TANDANG-SALAFI-TANDANG-SALAFI-TANDANG-SALAFI-TANDANG-SALAFI-TANDANG-SALAFI-TANDANG-SALAFI-TANJUNGMAS-SALAFI-TANJUNGMAS-SALAFI-TANJUNGMAS-SALAFI-TANJUNGMAS-SALAFI-TANJUNGMAS-SALAFI-TANJUNGMAS-SALAFI-TANJUNGMAS-SALAFI-TANJUNGMAS-SALAFI-TANJUNGMAS-SALAFI-TAWANGMAS-SALAFI-TAWANGMAS-SALAFI-TAWANGMAS-SALAFI-TAWANGMAS-SALAFI-TAWANGMAS-SALAFI-TAWANGMAS-SALAFI-TAWANGMAS-SALAFI-TAWANGMAS-SALAFI-TAWANGMAS-SALAFI-TAWANGSARI-SALAFI-TAWANGSARI-SALAFI-TAWANGSARI-SALAFI-TAWANGSARI-SALAFI-TAWANGSARI-SALAFI-TAWANGSARI-SALAFI-TAWANGSARI-SALAFI-TAWANGSARI-SALAFI-TAWANGSARI-SALAFI-TEGALSARI-SALAFI-TEGALSARI-SALAFI-TEGALSARI-SALAFI-TEGALSARI-SALAFI-TEGALSARI-SALAFI-TEGALSARI-SALAFI-TEGALSARI-SALAFI-TEGALSARI-SALAFI-TEGALSARI-SALAFI-TEMBALANG-SALAFI-TEMBALANG-SALAFI-TEMBALANG-SALAFI-TEMBALANG-SALAFI-TEMBALANG-SALAFI-TEMBALANG-SALAFI-TEMBALANG-SALAFI-TEMBALANG-SALAFI-TEMBALANG-SALAFI-TERBOYO-KULON-SALAFI-TERBOYO-KULON-SALAFI-TERBOYO-KULON-SALAFI-TERBOYO-KULON-SALAFI-TERBOYO-KULON-SALAFI-TERBOYO-KULON-SALAFI-TERBOYO-KULON-SALAFI-TERBOYO-KULON-SALAFI-TERBOYO-KULON-SALAFI-TERBOYO-WETAN-SALAFI-TERBOYO-WETAN-SALAFI-TERBOYO-WETAN-SALAFI-TERBOYO-WETAN-SALAFI-TERBOYO-WETAN-SALAFI-TERBOYO-WETAN-SALAFI-TERBOYO-WETAN-SALAFI-TERBOYO-WETAN-SALAFI-TERBOYO-WETAN-SALAFI-TINJOMOYO-SALAFI-TINJOMOYO-SALAFI-TINJOMOYO-SALAFI-TINJOMOYO-SALAFI-TINJOMOYO-SALAFI-TINJOMOYO-SALAFI-TINJOMOYO-SALAFI-TINJOMOYO-SALAFI-TINJOMOYO-SALAFI-TLOGOMULYO-SALAFI-TLOGOMULYO-SALAFI-TLOGOMULYO-SALAFI-TLOGOMULYO-SALAFI-TLOGOMULYO-SALAFI-TLOGOMULYO-SALAFI-TLOGOMULYO-SALAFI-TLOGOMULYO-SALAFI-TLOGOMULYO-SALAFI-TLOGOSARI-KULON-SALAFI-TLOGOSARI-KULON-SALAFI-TLOGOSARI-KULON-SALAFI-TLOGOSARI-KULON-SALAFI-TLOGOSARI-KULON-SALAFI-TLOGOSARI-KULON-SALAFI-TLOGOSARI-KULON-SALAFI-TLOGOSARI-KULON-SALAFI-TLOGOSARI-KULON-SALAFI-TLOGOSARI-WETAN-SALAFI-TLOGOSARI-WETAN-SALAFI-TLOGOSARI-WETAN-SALAFI-TLOGOSARI-WETAN-SALAFI-TLOGOSARI-WETAN-SALAFI-TLOGOSARI-WETAN-SALAFI-TLOGOSARI-WETAN-SALAFI-TLOGOSARI-WETAN-SALAFI-TLOGOSARI-WETAN-SALAFI-TRIMULYO-SALAFI-TRIMULYO-SALAFI-TRIMULYO-SALAFI-TRIMULYO-SALAFI-TRIMULYO-SALAFI-TRIMULYO-SALAFI-TRIMULYO-SALAFI-TRIMULYO-SALAFI-TRIMULYO-SALAFI-TUGUREJO-SALAFI-TUGUREJO-SALAFI-TUGUREJO-SALAFI-TUGUREJO-SALAFI-TUGUREJO-SALAFI-TUGUREJO-SALAFI-TUGUREJO-SALAFI-TUGUREJO-SALAFI-TUGUREJO-SALAFI-WONODRI-SALAFI-WONODRI-SALAFI-WONODRI-SALAFI-WONODRI-SALAFI-WONODRI-SALAFI-WONODRI-SALAFI-WONODRI-SALAFI-WONODRI-SALAFI-WONODRI-SALAFI-WONOLOPO-SALAFI-WONOLOPO-SALAFI-WONOLOPO-SALAFI-WONOLOPO-SALAFI-WONOLOPO-SALAFI-WONOLOPO-SALAFI-WONOLOPO-SALAFI-WONOLOPO-SALAFI-WONOLOPO-SALAFI-WONOPLUMBON-SALAFI-WONOPLUMBON-SALAFI-WONOPLUMBON-SALAFI-WONOPLUMBON-SALAFI-WONOPLUMBON-SALAFI-WONOPLUMBON-SALAFI-WONOPLUMBON-SALAFI-WONOPLUMBON-SALAFI-WONOPLUMBON-SALAFI-WONOSARI-SALAFI-WONOSARI-SALAFI-WONOSARI-SALAFI-WONOSARI-SALAFI-WONOSARI-SALAFI-WONOSARI-SALAFI-WONOSARI-SALAFI-WONOSARI-SALAFI-WONOSARI-SALAFI-WONOTINGAL-SALAFI-WONOTINGAL-SALAFI-WONOTINGAL-SALAFI-WONOTINGAL-SALAFI-WONOTINGAL-SALAFI-WONOTINGAL-SALAFI-WONOTINGAL-SALAFI-WONOTINGAL-SALAFI-WONOTINGAL-SALAFI-AMBARAWA-SALAFI-AMBARAWA-SALAFI-AMBARAWA-SALAFI-AMBARAWA-SALAFI-AMBARAWA-SALAFI-AMBARAWA-SALAFI-AMBARAWA-SALAFI-AMBARAWA-SALAFI-AMBARAWA-SALAFI-BAMBANKEREP-SALAFI-BAMBANKEREP-SALAFI-BAMBANKEREP-SALAFI-BAMBANKEREP-SALAFI-BAMBANKEREP-SALAFI-BAMBANKEREP-SALAFI-BAMBANKEREP-SALAFI-BAMBANKEREP-SALAFI-BAMBANKEREP-SALAFI-BANCAK-SALAFI-BANCAK-SALAFI-BANCAK-SALAFI-BANCAK-SALAFI-BANCAK-SALAFI-BANCAK-SALAFI-BANCAK-SALAFI-BANCAK-SALAFI-BANCAK-SALAFI-BANDUNGAN-SALAFI-BANDUNGAN-SALAFI-BANDUNGAN-SALAFI-BANDUNGAN-SALAFI-BANDUNGAN-SALAFI-BANDUNGAN-SALAFI-BANDUNGAN-SALAFI-BANDUNGAN-SALAFI-BANDUNGAN-SALAFI-BANGETAYU-KULON-SALAFI-BANGETAYU-KULON-SALAFI-BANGETAYU-KULON-SALAFI-BANGETAYU-KULON-SALAFI-BANGETAYU-KULON-SALAFI-BANGETAYU-KULON-SALAFI-BANGETAYU-KULON-SALAFI-BANGETAYU-KULON-SALAFI-BANGETAYU-KULON-SALAFI-BANGUNHARJO-SALAFI-BANGUNHARJO-SALAFI-BANGUNHARJO-SALAFI-BANGUNHARJO-SALAFI-BANGUNHARJO-SALAFI-BANGUNHARJO-SALAFI-BANGUNHARJO-SALAFI-BANGUNHARJO-SALAFI-BANGUNHARJO-SALAFI-BANJARNEGARA-SALAFI-BANJARNEGARA-SALAFI-BANJARNEGARA-SALAFI-BANJARNEGARA-SALAFI-BANJARNEGARA-SALAFI-BANJARNEGARA-SALAFI-BANJARNEGARA-SALAFI-BANJARNEGARA-SALAFI-BANJARNEGARA-SALAFI-BANYUBIRU-SALAFI-BANYUBIRU-SALAFI-BANYUBIRU-SALAFI-BANYUBIRU-SALAFI-BANYUBIRU-SALAFI-BANYUBIRU-SALAFI-BANYUBIRU-SALAFI-BANYUBIRU-SALAFI-BANYUBIRU-SALAFI-BANYUMANIK-SALAFI-BANYUMANIK-SALAFI-BANYUMANIK-SALAFI-BANYUMANIK-SALAFI-BANYUMANIK-SALAFI-BANYUMANIK-SALAFI-BANYUMANIK-SALAFI-BANYUMANIK-SALAFI-BANYUMANIK-SALAFI-BANYUMAS-SALAFI-BANYUMAS-SALAFI-BANYUMAS-SALAFI-BANYUMAS-SALAFI-BANYUMAS-SALAFI-BANYUMAS-SALAFI-BANYUMAS-SALAFI-BANYUMAS-SALAFI-BANYUMAS-SALAFI-BARUSARI-SALAFI-BARUSARI-SALAFI-BARUSARI-SALAFI-BARUSARI-SALAFI-BARUSARI-SALAFI-BARUSARI-SALAFI-BARUSARI-SALAFI-BARUSARI-SALAFI-BARUSARI-SALAFI-BATANG-SALAFI-BATANG-SALAFI-BATANG-SALAFI-BATANG-SALAFI-BATANG-SALAFI-BATANG-SALAFI-BATANG-SALAFI-BATANG-SALAFI-BATANG-SALAFI-BAWEN-SALAFI-BAWEN-SALAFI-BAWEN-SALAFI-BAWEN-SALAFI-BAWEN-SALAFI-BAWEN-SALAFI-BAWEN-SALAFI-BAWEN-SALAFI-BAWEN-SALAFI-BENDANDUWUR-SALAFI-BENDANDUWUR-SALAFI-BENDANDUWUR-SALAFI-BENDANDUWUR-SALAFI-BENDANDUWUR-SALAFI-BENDANDUWUR-SALAFI-BENDANDUWUR-SALAFI-BENDANDUWUR-SALAFI-BENDANDUWUR-SALAFI-BERGAS-SALAFI-BERGAS-SALAFI-BERGAS-SALAFI-BERGAS-SALAFI-BERGAS-SALAFI-BERGAS-SALAFI-BERGAS-SALAFI-BERGAS-SALAFI-BERGAS-SALAFI-BLORA-SALAFI-BLORA-SALAFI-BLORA-SALAFI-BLORA-SALAFI-BLORA-SALAFI-BLORA-SALAFI-BLORA-SALAFI-BLORA-SALAFI-BLORA-SALAFI-BOJONGSALAMAN-SALAFI-BOJONGSALAMAN-SALAFI-BOJONGSALAMAN-SALAFI-BOJONGSALAMAN-SALAFI-BOJONGSALAMAN-SALAFI-BOJONGSALAMAN-SALAFI-BOJONGSALAMAN-SALAFI-BOJONGSALAMAN-SALAFI-BOJONGSALAMAN-SALAFI-BOYOLALI-SALAFI-BOYOLALI-SALAFI-BOYOLALI-SALAFI-BOYOLALI-SALAFI-BOYOLALI-SALAFI-BOYOLALI-SALAFI-BOYOLALI-SALAFI-BOYOLALI-SALAFI-BOYOLALI-SALAFI-BREBES-SALAFI-BREBES-SALAFI-BREBES-SALAFI-BREBES-SALAFI-BREBES-SALAFI-BREBES-SALAFI-BREBES-SALAFI-BREBES-SALAFI-BREBES-SALAFI-BRINGIN-SALAFI-BRINGIN-SALAFI-BRINGIN-SALAFI-BRINGIN-SALAFI-BRINGIN-SALAFI-BRINGIN-SALAFI-BRINGIN-SALAFI-BRINGIN-SALAFI-BRINGIN-SALAFI-BUBAKAN-SALAFI-BUBAKAN-SALAFI-BUBAKAN-SALAFI-BUBAKAN-SALAFI-BUBAKAN-SALAFI-BUBAKAN-SALAFI-BUBAKAN-SALAFI-BUBAKAN-SALAFI-BUBAKAN-SALAFI-BUGANGAN-SALAFI-BUGANGAN-SALAFI-BUGANGAN-SALAFI-BUGANGAN-SALAFI-BUGANGAN-SALAFI-BUGANGAN-SALAFI-BUGANGAN-SALAFI-BUGANGAN-SALAFI-BUGANGAN-SALAFI-BULU-LOR-SALAFI-BULU-LOR-SALAFI-BULU-LOR-SALAFI-BULU-LOR-SALAFI-BULU-LOR-SALAFI-BULU-LOR-SALAFI-BULU-LOR-SALAFI-BULU-LOR-SALAFI-BULU-LOR-SALAFI-BULUSAN-SALAFI-BULUSAN-SALAFI-BULUSAN-SALAFI-BULUSAN-SALAFI-BULUSAN-SALAFI-BULUSAN-SALAFI-BULUSAN-SALAFI-BULUSAN-SALAFI-BULUSAN-SALAFI-BUMIAYU-SALAFI-BUMIAYU-SALAFI-BUMIAYU-SALAFI-BUMIAYU-SALAFI-BUMIAYU-SALAFI-BUMIAYU-SALAFI-BUMIAYU-SALAFI-BUMIAYU-SALAFI-BUMIAYU-SALAFI-CANDI-SALAFI-CANDI-SALAFI-CANDI-SALAFI-CANDI-SALAFI-CANDI-SALAFI-CANDI-SALAFI-CANDI-SALAFI-CANDI-SALAFI-CANDI-SALAFI-CANDISARI-SALAFI-CANDISARI-SALAFI-CANDISARI-SALAFI-CANDISARI-SALAFI-CANDISARI-SALAFI-CANDISARI-SALAFI-CANDISARI-SALAFI-CANDISARI-SALAFI-CANDISARI-SALAFI-CEPOKO-SALAFI-CEPOKO-SALAFI-CEPOKO-SALAFI-CEPOKO-SALAFI-CEPOKO-SALAFI-CEPOKO-SALAFI-CEPOKO-SALAFI-CEPOKO-SALAFI-CEPOKO-SALAFI-CEPU-SALAFI-CEPU-SALAFI-CEPU-SALAFI-CEPU-SALAFI-CEPU-SALAFI-CEPU-SALAFI-CEPU-SALAFI-CEPU-SALAFI-CEPU-SALAFI-CILACAP-SALAFI-CILACAP-SALAFI-CILACAP-SALAFI-CILACAP-SALAFI-CILACAP-SALAFI-CILACAP-SALAFI-CILACAP-SALAFI-CILACAP-SALAFI-CILACAP-SALAFI-DEMAK-SALAFI-DEMAK-SALAFI-DEMAK-SALAFI-DEMAK-SALAFI-DEMAK-SALAFI-DEMAK-SALAFI-DEMAK-SALAFI-DEMAK-SALAFI-DEMAK-SALAFI-GAJAHMUNGKUR-SALAFI-GAJAHMUNGKUR-SALAFI-GAJAHMUNGKUR-SALAFI-GAJAHMUNGKUR-SALAFI-GAJAHMUNGKUR-SALAFI-GAJAHMUNGKUR-SALAFI-GAJAHMUNGKUR-SALAFI-GAJAHMUNGKUR-SALAFI-GAJAHMUNGKUR-SALAFI-GAYAMSARI-SALAFI-GAYAMSARI-SALAFI-GAYAMSARI-SALAFI-GAYAMSARI-SALAFI-GAYAMSARI-SALAFI-GAYAMSARI-SALAFI-GAYAMSARI-SALAFI-GAYAMSARI-SALAFI-GAYAMSARI-SALAFI-GEMAH-SALAFI-GEMAH-SALAFI-GEMAH-SALAFI-GEMAH-SALAFI-GEMAH-SALAFI-GEMAH-SALAFI-GEMAH-SALAFI-GEMAH-SALAFI-GEMAH-SALAFI-GENUK-SALAFI-GENUK-SALAFI-GENUK-SALAFI-GENUK-SALAFI-GENUK-SALAFI-GENUK-SALAFI-GENUK-SALAFI-GENUK-SALAFI-GENUK-SALAFI-GETASAN-SALAFI-GETASAN-SALAFI-GETASAN-SALAFI-GETASAN-SALAFI-GETASAN-SALAFI-GETASAN-SALAFI-GETASAN-SALAFI-GETASAN-SALAFI-GETASAN-SALAFI-GODONG-SALAFI-GODONG-SALAFI-GODONG-SALAFI-GODONG-SALAFI-GODONG-SALAFI-GODONG-SALAFI-GODONG-SALAFI-GODONG-SALAFI-GODONG-SALAFI-GROBOGAN-SALAFI-GROBOGAN-SALAFI-GROBOGAN-SALAFI-GROBOGAN-SALAFI-GROBOGAN-SALAFI-GROBOGAN-SALAFI-GROBOGAN-SALAFI-GROBOGAN-SALAFI-GROBOGAN-SALAFI-GUBUG-SALAFI-GUBUG-SALAFI-GUBUG-SALAFI-GUBUG-SALAFI-GUBUG-SALAFI-GUBUG-SALAFI-GUBUG-SALAFI-GUBUG-SALAFI-GUBUG-SALAFI-GUNUNGPATI-SALAFI-GUNUNGPATI-SALAFI-GUNUNGPATI-SALAFI-GUNUNGPATI-SALAFI-GUNUNGPATI-SALAFI-GUNUNGPATI-SALAFI-GUNUNGPATI-SALAFI-GUNUNGPATI-SALAFI-GUNUNGPATI-SALAFI-JAMBU-SALAFI-JAMBU-SALAFI-JAMBU-SALAFI-JAMBU-SALAFI-JAMBU-SALAFI-JAMBU-SALAFI-JAMBU-SALAFI-JAMBU-SALAFI-JAMBU-SALAFI-JATENG-SALAFI-JATENG-SALAFI-JATENG-SALAFI-JATENG-SALAFI-JATENG-SALAFI-JATENG-SALAFI-JATENG-SALAFI-JATENG-SALAFI-JATENG-SALAFI-JATIBARANG-SALAFI-JATIBARANG-SALAFI-JATIBARANG-SALAFI-JATIBARANG-SALAFI-JATIBARANG-SALAFI-JATIBARANG-SALAFI-JATIBARANG-SALAFI-JATIBARANG-SALAFI-JATIBARANG-SALAFI-JAWA-TENGAH-SALAFI-JAWA-TENGAH-SALAFI-JAWA-TENGAH-SALAFI-JAWA-TENGAH-SALAFI-JAWA-TENGAH-SALAFI-JAWA-TENGAH-SALAFI-JAWA-TENGAH-SALAFI-JAWA-TENGAH-SALAFI-JAWA-TENGAH-SALAFI-JEPARA-SALAFI-JEPARA-SALAFI-JEPARA-SALAFI-JEPARA-SALAFI-JEPARA-SALAFI-JEPARA-SALAFI-JEPARA-SALAFI-JEPARA-SALAFI-JEPARA-SALAFI-JERAKAH-SALAFI-JERAKAH-SALAFI-JERAKAH-SALAFI-JERAKAH-SALAFI-JERAKAH-SALAFI-JERAKAH-SALAFI-JERAKAH-SALAFI-JERAKAH-SALAFI-JERAKAH-SALAFI-JUWANA-SALAFI-JUWANA-SALAFI-JUWANA-SALAFI-JUWANA-SALAFI-JUWANA-SALAFI-JUWANA-SALAFI-JUWANA-SALAFI-JUWANA-SALAFI-JUWANA-SALAFI-KAJEN-SALAFI-KAJEN-SALAFI-KAJEN-SALAFI-KAJEN-SALAFI-KAJEN-SALAFI-KAJEN-SALAFI-KAJEN-SALAFI-KAJEN-SALAFI-KAJEN-SALAFI-KALIWUNGU-SALAFI-KALIWUNGU-SALAFI-KALIWUNGU-SALAFI-KALIWUNGU-SALAFI-KALIWUNGU-SALAFI-KALIWUNGU-SALAFI-KALIWUNGU-SALAFI-KALIWUNGU-SALAFI-KALIWUNGU-SALAFI-KARANGANYAR-SALAFI-KARANGANYAR-SALAFI-KARANGANYAR-SALAFI-KARANGANYAR-SALAFI-KARANGANYAR-SALAFI-KARANGANYAR-SALAFI-KARANGANYAR-SALAFI-KARANGANYAR-SALAFI-KARANGANYAR-SALAFI-KEBUMEN-SALAFI-KEBUMEN-SALAFI-KEBUMEN-SALAFI-KEBUMEN-SALAFI-KEBUMEN-SALAFI-KEBUMEN-SALAFI-KEBUMEN-SALAFI-KEBUMEN-SALAFI-KEBUMEN-SALAFI-KEDU-SALAFI-KEDU-SALAFI-KEDU-SALAFI-KEDU-SALAFI-KEDU-SALAFI-KEDU-SALAFI-KEDU-SALAFI-KEDU-SALAFI-KEDU-SALAFI-KENDAL-SALAFI-KENDAL-SALAFI-KENDAL-SALAFI-KENDAL-SALAFI-KENDAL-SALAFI-KENDAL-SALAFI-KENDAL-SALAFI-KENDAL-SALAFI-KENDAL-SALAFI-KLATEN-SALAFI-KLATEN-SALAFI-KLATEN-SALAFI-KLATEN-SALAFI-KLATEN-SALAFI-KLATEN-SALAFI-KLATEN-SALAFI-KLATEN-SALAFI-KLATEN-SALAFI-KUDUS-SALAFI-KUDUS-SALAFI-KUDUS-SALAFI-KUDUS-SALAFI-KUDUS-SALAFI-KUDUS-SALAFI-KUDUS-SALAFI-KUDUS-SALAFI-KUDUS-SALAFI-MAGELANG-SALAFI-MAGELANG-SALAFI-MAGELANG-SALAFI-MAGELANG-SALAFI-MAGELANG-SALAFI-MAGELANG-SALAFI-MAGELANG-SALAFI-MAGELANG-SALAFI-MAGELANG-SALAFI-MIJEN-SALAFI-MIJEN-SALAFI-MIJEN-SALAFI-MIJEN-SALAFI-MIJEN-SALAFI-MIJEN-SALAFI-MIJEN-SALAFI-MIJEN-SALAFI-MIJEN-SALAFI-MUNGKID-SALAFI-MUNGKID-SALAFI-MUNGKID-SALAFI-MUNGKID-SALAFI-MUNGKID-SALAFI-MUNGKID-SALAFI-MUNGKID-SALAFI-MUNGKID-SALAFI-MUNGKID-SALAFI-NGALIYAN-SALAFI-NGALIYAN-SALAFI-NGALIYAN-SALAFI-NGALIYAN-SALAFI-NGALIYAN-SALAFI-NGALIYAN-SALAFI-NGALIYAN-SALAFI-NGALIYAN-SALAFI-NGALIYAN-SALAFI-PABELAN-SALAFI-PABELAN-SALAFI-PABELAN-SALAFI-PABELAN-SALAFI-PABELAN-SALAFI-PABELAN-SALAFI-PABELAN-SALAFI-PABELAN-SALAFI-PABELAN-SALAFI-PATI-SALAFI-PATI-SALAFI-PATI-SALAFI-PATI-SALAFI-PATI-SALAFI-PATI-SALAFI-PATI-SALAFI-PATI-SALAFI-PATI-SALAFI-PEDURUNGAN-SALAFI-PEDURUNGAN-SALAFI-PEDURUNGAN-SALAFI-PEDURUNGAN-SALAFI-PEDURUNGAN-SALAFI-PEDURUNGAN-SALAFI-PEDURUNGAN-SALAFI-PEDURUNGAN-SALAFI-PEDURUNGAN-SALAFI-PEKALONGAN-SALAFI-PEKALONGAN-SALAFI-PEKALONGAN-SALAFI-PEKALONGAN-SALAFI-PEKALONGAN-SALAFI-PEKALONGAN-SALAFI-PEKALONGAN-SALAFI-PEKALONGAN-SALAFI-PEKALONGAN-SALAFI-PEMALANG-SALAFI-PEMALANG-SALAFI-PEMALANG-SALAFI-PEMALANG-SALAFI-PEMALANG-SALAFI-PEMALANG-SALAFI-PEMALANG-SALAFI-PEMALANG-SALAFI-PEMALANG-SALAFI-PLEBURAN-SALAFI-PLEBURAN-SALAFI-PLEBURAN-SALAFI-PLEBURAN-SALAFI-PLEBURAN-SALAFI-PLEBURAN-SALAFI-PLEBURAN-SALAFI-PLEBURAN-SALAFI-PLEBURAN-SALAFI-PRINGAPUS-SALAFI-PRINGAPUS-SALAFI-PRINGAPUS-SALAFI-PRINGAPUS-SALAFI-PRINGAPUS-SALAFI-PRINGAPUS-SALAFI-PRINGAPUS-SALAFI-PRINGAPUS-SALAFI-PRINGAPUS-SALAFI-PUDAKPAYUNG-SALAFI-PUDAKPAYUNG-SALAFI-PUDAKPAYUNG-SALAFI-PUDAKPAYUNG-SALAFI-PUDAKPAYUNG-SALAFI-PUDAKPAYUNG-SALAFI-PUDAKPAYUNG-SALAFI-PUDAKPAYUNG-SALAFI-PUDAKPAYUNG-SALAFI-PURBALINGGA-SALAFI-PURBALINGGA-SALAFI-PURBALINGGA-SALAFI-PURBALINGGA-SALAFI-PURBALINGGA-SALAFI-PURBALINGGA-SALAFI-PURBALINGGA-SALAFI-PURBALINGGA-SALAFI-PURBALINGGA-SALAFI-PURWODADI-SALAFI-PURWODADI-SALAFI-PURWODADI-SALAFI-PURWODADI-SALAFI-PURWODADI-SALAFI-PURWODADI-SALAFI-PURWODADI-SALAFI-PURWODADI-SALAFI-PURWODADI-SALAFI-PURWOKERTO-SALAFI-PURWOKERTO-SALAFI-PURWOKERTO-SALAFI-PURWOKERTO-SALAFI-PURWOKERTO-SALAFI-PURWOKERTO-SALAFI-PURWOKERTO-SALAFI-PURWOKERTO-SALAFI-PURWOKERTO-SALAFI-PURWOREJO-SALAFI-PURWOREJO-SALAFI-PURWOREJO-SALAFI-PURWOREJO-SALAFI-PURWOREJO-SALAFI-PURWOREJO-SALAFI-PURWOREJO-SALAFI-PURWOREJO-SALAFI-PURWOREJO-SALAFI-REMBANG-SALAFI-REMBANG-SALAFI-REMBANG-SALAFI-REMBANG-SALAFI-REMBANG-SALAFI-REMBANG-SALAFI-REMBANG-SALAFI-REMBANG-SALAFI-REMBANG-SALAFI-SALATIGA-SALAFI-SALATIGA-SALAFI-SALATIGA-SALAFI-SALATIGA-SALAFI-SALATIGA-SALAFI-SALATIGA-SALAFI-SALATIGA-SALAFI-SALATIGA-SALAFI-SALATIGA-SALAFI-SEMARANG-SALAFI-SEMARANG-SALAFI-SEMARANG-SALAFI-SEMARANG-SALAFI-SEMARANG-SALAFI-SEMARANG-SALAFI-SEMARANG-SALAFI-SEMARANG-SALAFI-SEMARANG-SALAFI-SEMARANG-BARAT-SALAFI-SEMARANG-BARAT-SALAFI-SEMARANG-BARAT-SALAFI-SEMARANG-BARAT-SALAFI-SEMARANG-BARAT-SALAFI-SEMARANG-BARAT-SALAFI-SEMARANG-BARAT-SALAFI-SEMARANG-BARAT-SALAFI-SEMARANG-BARAT-SALAFI-SEMARANG-SELATAN-SALAFI-SEMARANG-SELATAN-SALAFI-SEMARANG-SELATAN-SALAFI-SEMARANG-SELATAN-SALAFI-SEMARANG-SELATAN-SALAFI-SEMARANG-SELATAN-SALAFI-SEMARANG-SELATAN-SALAFI-SEMARANG-SELATAN-SALAFI-SEMARANG-SELATAN-SALAFI-SEMARANG-TENGAH-SALAFI-SEMARANG-TENGAH-SALAFI-SEMARANG-TENGAH-SALAFI-SEMARANG-TENGAH-SALAFI-SEMARANG-TENGAH-SALAFI-SEMARANG-TENGAH-SALAFI-SEMARANG-TENGAH-SALAFI-SEMARANG-TENGAH-SALAFI-SEMARANG-TENGAH-SALAFI-SEMARANG-TIMUR-SALAFI-SEMARANG-TIMUR-SALAFI-SEMARANG-TIMUR-SALAFI-SEMARANG-TIMUR-SALAFI-SEMARANG-TIMUR-SALAFI-SEMARANG-TIMUR-SALAFI-SEMARANG-TIMUR-SALAFI-SEMARANG-TIMUR-SALAFI-SEMARANG-TIMUR-SALAFI-SEMARANG-UTARA-SALAFI-SEMARANG-UTARA-SALAFI-SEMARANG-UTARA-SALAFI-SEMARANG-UTARA-SALAFI-SEMARANG-UTARA-SALAFI-SEMARANG-UTARA-SALAFI-SEMARANG-UTARA-SALAFI-SEMARANG-UTARA-SALAFI-SEMARANG-UTARA-SALAFI-SLAWI-SALAFI-SLAWI-SALAFI-SLAWI-SALAFI-SLAWI-SALAFI-SLAWI-SALAFI-SLAWI-SALAFI-SLAWI-SALAFI-SLAWI-SALAFI-SLAWI-SALAFI-SOLO-SALAFI-SOLO-SALAFI-SOLO-SALAFI-SOLO-SALAFI-SOLO-SALAFI-SOLO-SALAFI-SOLO-SALAFI-SOLO-SALAFI-SOLO-SALAFI-SRAGEN-SALAFI-SRAGEN-SALAFI-SRAGEN-SALAFI-SRAGEN-SALAFI-SRAGEN-SALAFI-SRAGEN-SALAFI-SRAGEN-SALAFI-SRAGEN-SALAFI-SRAGEN-SALAFI-SRONDOL-SALAFI-SRONDOL-SALAFI-SRONDOL-SALAFI-SRONDOL-SALAFI-SRONDOL-SALAFI-SRONDOL-SALAFI-SRONDOL-SALAFI-SRONDOL-SALAFI-SRONDOL-SALAFI-SUKOHARJO-SALAFI-SUKOHARJO-SALAFI-SUKOHARJO-SALAFI-SUKOHARJO-SALAFI-SUKOHARJO-SALAFI-SUKOHARJO-SALAFI-SUKOHARJO-SALAFI-SUKOHARJO-SALAFI-SUKOHARJO-SALAFI-SUMOWONO-SALAFI-SUMOWONO-SALAFI-SUMOWONO-SALAFI-SUMOWONO-SALAFI-SUMOWONO-SALAFI-SUMOWONO-SALAFI-SUMOWONO-SALAFI-SUMOWONO-SALAFI-SUMOWONO-SALAFI-SURAKARTA-SALAFI-SURAKARTA-SALAFI-SURAKARTA-SALAFI-SURAKARTA-SALAFI-SURAKARTA-SALAFI-SURAKARTA-SALAFI-SURAKARTA-SALAFI-SURAKARTA-SALAFI-SURAKARTA-SALAFI-SURUH-SALAFI-SURUH-SALAFI-SURUH-SALAFI-SURUH-SALAFI-SURUH-SALAFI-SURUH-SALAFI-SURUH-SALAFI-SURUH-SALAFI-SURUH-SALAFI-SUSUKAN-SALAFI-SUSUKAN-SALAFI-SUSUKAN-SALAFI-SUSUKAN-SALAFI-SUSUKAN-SALAFI-SUSUKAN-SALAFI-SUSUKAN-SALAFI-SUSUKAN-SALAFI-SUSUKAN-SALAFI-TEGAL-SALAFI-TEGAL-SALAFI-TEGAL-SALAFI-TEGAL-SALAFI-TEGAL-SALAFI-TEGAL-SALAFI-TEGAL-SALAFI-TEGAL-SALAFI-TEGAL-SALAFI-TEMANGGUNG-SALAFI-TEMANGGUNG-SALAFI-TEMANGGUNG-SALAFI-TEMANGGUNG-SALAFI-TEMANGGUNG-SALAFI-TEMANGGUNG-SALAFI-TEMANGGUNG-SALAFI-TEMANGGUNG-SALAFI-TEMANGGUNG-SALAFI-TEMBALANG-SALAFI-TEMBALANG-SALAFI-TEMBALANG-SALAFI-TEMBALANG-SALAFI-TEMBALANG-SALAFI-TEMBALANG-SALAFI-TEMBALANG-SALAFI-TEMBALANG-SALAFI-TEMBALANG-SALAFI-TENGARAN-SALAFI-TENGARAN-SALAFI-TENGARAN-SALAFI-TENGARAN-SALAFI-TENGARAN-SALAFI-TENGARAN-SALAFI-TENGARAN-SALAFI-TENGARAN-SALAFI-TENGARAN-SALAFI-TUGU-SALAFI-TUGU-SALAFI-TUGU-SALAFI-TUGU-SALAFI-TUGU-SALAFI-TUGU-SALAFI-TUGU-SALAFI-TUGU-SALAFI-TUGU-SALAFI-TUNTANG-SALAFI-TUNTANG-SALAFI-TUNTANG-SALAFI-TUNTANG-SALAFI-TUNTANG-SALAFI-TUNTANG-SALAFI-TUNTANG-SALAFI-TUNTANG-SALAFI-TUNTANG-SALAFI-UNDIP-SALAFI-UNDIP-SALAFI-UNDIP-SALAFI-UNDIP-SALAFI-UNDIP-SALAFI-UNDIP-SALAFI-UNDIP-SALAFI-UNDIP-SALAFI-UNDIP-SALAFI-UNGARAN-SALAFI-UNGARAN-SALAFI-UNGARAN-SALAFI-UNGARAN-SALAFI-UNGARAN-SALAFI-UNGARAN-SALAFI-UNGARAN-SALAFI-UNGARAN-SALAFI-UNGARAN-SALAFI-UNNES-SALAFI-UNNES-SALAFI-UNNES-SALAFI-UNNES-SALAFI-UNNES-SALAFI-UNNES-SALAFI-UNNES-SALAFI-UNNES-SALAFI-UNNES-SALAFI-WIROSARI-SALAFI-WIROSARI-SALAFI-WIROSARI-SALAFI-WIROSARI-SALAFI-WIROSARI-SALAFI-WIROSARI-SALAFI-WIROSARI-SALAFI-WIROSARI-SALAFI-WIROSARI-SALAFI-WONOGIRI-SALAFI-WONOGIRI-SALAFI-WONOGIRI-SALAFI-WONOGIRI-SALAFI-WONOGIRI-SALAFI-WONOGIRI-SALAFI-WONOGIRI-SALAFI-WONOGIRI-SALAFI-WONOGIRI-SALAFI-WONOSOBO-SALAFI-WONOSOBO-SALAFI-WONOSOBO-SALAFI-WONOSOBO-SALAFI-WONOSOBO-SALAFI-WONOSOBO-SALAFI-WONOSOBO-SALAFI-WONOSOBO-SALAFI-WONOSOBO-SALAFI-BANTUL-SALAFI-BANTUL-SALAFI-BANTUL-SALAFI-BANTUL-SALAFI-BANTUL-SALAFI-BANTUL-SALAFI-BANTUL-SALAFI-BANTUL-SALAFI-BANTUL-SALAFI-GUNUNGKIDUL-SALAFI-GUNUNGKIDUL-SALAFI-GUNUNGKIDUL-SALAFI-GUNUNGKIDUL-SALAFI-GUNUNGKIDUL-SALAFI-GUNUNGKIDUL-SALAFI-GUNUNGKIDUL-SALAFI-GUNUNGKIDUL-SALAFI-GUNUNGKIDUL-SALAFI-JOGJA-SALAFI-JOGJA-SALAFI-JOGJA-SALAFI-JOGJA-SALAFI-JOGJA-SALAFI-JOGJA-SALAFI-JOGJA-SALAFI-JOGJA-SALAFI-JOGJA-SALAFI-JOGJAKARTA-SALAFI-JOGJAKARTA-SALAFI-JOGJAKARTA-SALAFI-JOGJAKARTA-SALAFI-JOGJAKARTA-SALAFI-JOGJAKARTA-SALAFI-JOGJAKARTA-SALAFI-JOGJAKARTA-SALAFI-JOGJAKARTA-SALAFI-KULON-PROGO-SALAFI-KULON-PROGO-SALAFI-KULON-PROGO-SALAFI-KULON-PROGO-SALAFI-KULON-PROGO-SALAFI-KULON-PROGO-SALAFI-KULON-PROGO-SALAFI-KULON-PROGO-SALAFI-KULON-PROGO-SALAFI-SLEMAN-SALAFI-SLEMAN-SALAFI-SLEMAN-SALAFI-SLEMAN-SALAFI-SLEMAN-SALAFI-SLEMAN-SALAFI-SLEMAN-SALAFI-SLEMAN-SALAFI-SLEMAN-SALAFI-WATES-SALAFI-WATES-SALAFI-WATES-SALAFI-WATES-SALAFI-WATES-SALAFI-WATES-SALAFI-WATES-SALAFI-WATES-SALAFI-WATES-SALAFI-WONOSARI-SALAFI-WONOSARI-SALAFI-WONOSARI-SALAFI-WONOSARI-SALAFI-WONOSARI-SALAFI-WONOSARI-SALAFI-WONOSARI-SALAFI-WONOSARI-SALAFI-WONOSARI-SALAFI-YOGYAKARTA-SALAFI-YOGYAKARTA-SALAFI-YOGYAKARTA-SALAFI-YOGYAKARTA-SALAFI-YOGYAKARTA-SALAFI-YOGYAKARTA-SALAFI-YOGYAKARTA-SALAFI-YOGYAKARTA-SALAFI-YOGYAKARTA-SALAFI-BANGIL-SALAFI-BANGIL-SALAFI-BANGIL-SALAFI-BANGIL-SALAFI-BANGIL-SALAFI-BANGIL-SALAFI-BANGIL-SALAFI-BANGIL-SALAFI-BANGIL-SALAFI-BANGKALAN-SALAFI-BANGKALAN-SALAFI-BANGKALAN-SALAFI-BANGKALAN-SALAFI-BANGKALAN-SALAFI-BANGKALAN-SALAFI-BANGKALAN-SALAFI-BANGKALAN-SALAFI-BANGKALAN-SALAFI-BANYUWANGI-SALAFI-BANYUWANGI-SALAFI-BANYUWANGI-SALAFI-BANYUWANGI-SALAFI-BANYUWANGI-SALAFI-BANYUWANGI-SALAFI-BANYUWANGI-SALAFI-BANYUWANGI-SALAFI-BANYUWANGI-SALAFI-BATU-SALAFI-BATU-SALAFI-BATU-SALAFI-BATU-SALAFI-BATU-SALAFI-BATU-SALAFI-BATU-SALAFI-BATU-SALAFI-BATU-SALAFI-BLITAR-SALAFI-BLITAR-SALAFI-BLITAR-SALAFI-BLITAR-SALAFI-BLITAR-SALAFI-BLITAR-SALAFI-BLITAR-SALAFI-BLITAR-SALAFI-BLITAR-SALAFI-BOJONEGORO-SALAFI-BOJONEGORO-SALAFI-BOJONEGORO-SALAFI-BOJONEGORO-SALAFI-BOJONEGORO-SALAFI-BOJONEGORO-SALAFI-BOJONEGORO-SALAFI-BOJONEGORO-SALAFI-BOJONEGORO-SALAFI-BONDOWOSO-SALAFI-BONDOWOSO-SALAFI-BONDOWOSO-SALAFI-BONDOWOSO-SALAFI-BONDOWOSO-SALAFI-BONDOWOSO-SALAFI-BONDOWOSO-SALAFI-BONDOWOSO-SALAFI-BONDOWOSO-SALAFI-CARUBAN-SALAFI-CARUBAN-SALAFI-CARUBAN-SALAFI-CARUBAN-SALAFI-CARUBAN-SALAFI-CARUBAN-SALAFI-CARUBAN-SALAFI-CARUBAN-SALAFI-CARUBAN-SALAFI-GRESIK-SALAFI-GRESIK-SALAFI-GRESIK-SALAFI-GRESIK-SALAFI-GRESIK-SALAFI-GRESIK-SALAFI-GRESIK-SALAFI-GRESIK-SALAFI-GRESIK-SALAFI-JATIM-SALAFI-JATIM-SALAFI-JATIM-SALAFI-JATIM-SALAFI-JATIM-SALAFI-JATIM-SALAFI-JATIM-SALAFI-JATIM-SALAFI-JATIM-SALAFI-JAWA-TIMUR-SALAFI-JAWA-TIMUR-SALAFI-JAWA-TIMUR-SALAFI-JAWA-TIMUR-SALAFI-JAWA-TIMUR-SALAFI-JAWA-TIMUR-SALAFI-JAWA-TIMUR-SALAFI-JAWA-TIMUR-SALAFI-JAWA-TIMUR-SALAFI-JEMBER-SALAFI-JEMBER-SALAFI-JEMBER-SALAFI-JEMBER-SALAFI-JEMBER-SALAFI-JEMBER-SALAFI-JEMBER-SALAFI-JEMBER-SALAFI-JEMBER-SALAFI-JOMBANG-SALAFI-JOMBANG-SALAFI-JOMBANG-SALAFI-JOMBANG-SALAFI-JOMBANG-SALAFI-JOMBANG-SALAFI-JOMBANG-SALAFI-JOMBANG-SALAFI-JOMBANG-SALAFI-KANIGORO-SALAFI-KANIGORO-SALAFI-KANIGORO-SALAFI-KANIGORO-SALAFI-KANIGORO-SALAFI-KANIGORO-SALAFI-KANIGORO-SALAFI-KANIGORO-SALAFI-KANIGORO-SALAFI-KEDIRI-SALAFI-KEDIRI-SALAFI-KEDIRI-SALAFI-KEDIRI-SALAFI-KEDIRI-SALAFI-KEDIRI-SALAFI-KEDIRI-SALAFI-KEDIRI-SALAFI-KEDIRI-SALAFI-KEPANJEN-SALAFI-KEPANJEN-SALAFI-KEPANJEN-SALAFI-KEPANJEN-SALAFI-KEPANJEN-SALAFI-KEPANJEN-SALAFI-KEPANJEN-SALAFI-KEPANJEN-SALAFI-KEPANJEN-SALAFI-KRAKSAAN-SALAFI-KRAKSAAN-SALAFI-KRAKSAAN-SALAFI-KRAKSAAN-SALAFI-KRAKSAAN-SALAFI-KRAKSAAN-SALAFI-KRAKSAAN-SALAFI-KRAKSAAN-SALAFI-KRAKSAAN-SALAFI-LAMONGAN-SALAFI-LAMONGAN-SALAFI-LAMONGAN-SALAFI-LAMONGAN-SALAFI-LAMONGAN-SALAFI-LAMONGAN-SALAFI-LAMONGAN-SALAFI-LAMONGAN-SALAFI-LAMONGAN-SALAFI-LUMAJANG-SALAFI-LUMAJANG-SALAFI-LUMAJANG-SALAFI-LUMAJANG-SALAFI-LUMAJANG-SALAFI-LUMAJANG-SALAFI-LUMAJANG-SALAFI-LUMAJANG-SALAFI-LUMAJANG-SALAFI-MADIUN-SALAFI-MADIUN-SALAFI-MADIUN-SALAFI-MADIUN-SALAFI-MADIUN-SALAFI-MADIUN-SALAFI-MADIUN-SALAFI-MADIUN-SALAFI-MADIUN-SALAFI-MADURA-SALAFI-MADURA-SALAFI-MADURA-SALAFI-MADURA-SALAFI-MADURA-SALAFI-MADURA-SALAFI-MADURA-SALAFI-MADURA-SALAFI-MADURA-SALAFI-MAGETAN-SALAFI-MAGETAN-SALAFI-MAGETAN-SALAFI-MAGETAN-SALAFI-MAGETAN-SALAFI-MAGETAN-SALAFI-MAGETAN-SALAFI-MAGETAN-SALAFI-MAGETAN-SALAFI-MALANG-SALAFI-MALANG-SALAFI-MALANG-SALAFI-MALANG-SALAFI-MALANG-SALAFI-MALANG-SALAFI-MALANG-SALAFI-MALANG-SALAFI-MALANG-SALAFI-MOJOKERTO-SALAFI-MOJOKERTO-SALAFI-MOJOKERTO-SALAFI-MOJOKERTO-SALAFI-MOJOKERTO-SALAFI-MOJOKERTO-SALAFI-MOJOKERTO-SALAFI-MOJOKERTO-SALAFI-MOJOKERTO-SALAFI-MOJOSARI-SALAFI-MOJOSARI-SALAFI-MOJOSARI-SALAFI-MOJOSARI-SALAFI-MOJOSARI-SALAFI-MOJOSARI-SALAFI-MOJOSARI-SALAFI-MOJOSARI-SALAFI-MOJOSARI-SALAFI-NGANJUK-SALAFI-NGANJUK-SALAFI-NGANJUK-SALAFI-NGANJUK-SALAFI-NGANJUK-SALAFI-NGANJUK-SALAFI-NGANJUK-SALAFI-NGANJUK-SALAFI-NGANJUK-SALAFI-NGASEM-SALAFI-NGASEM-SALAFI-NGASEM-SALAFI-NGASEM-SALAFI-NGASEM-SALAFI-NGASEM-SALAFI-NGASEM-SALAFI-NGASEM-SALAFI-NGASEM-SALAFI-NGAWI-SALAFI-NGAWI-SALAFI-NGAWI-SALAFI-NGAWI-SALAFI-NGAWI-SALAFI-NGAWI-SALAFI-NGAWI-SALAFI-NGAWI-SALAFI-NGAWI-SALAFI-PACITAN-SALAFI-PACITAN-SALAFI-PACITAN-SALAFI-PACITAN-SALAFI-PACITAN-SALAFI-PACITAN-SALAFI-PACITAN-SALAFI-PACITAN-SALAFI-PACITAN-SALAFI-PAMEKASAN-SALAFI-PAMEKASAN-SALAFI-PAMEKASAN-SALAFI-PAMEKASAN-SALAFI-PAMEKASAN-SALAFI-PAMEKASAN-SALAFI-PAMEKASAN-SALAFI-PAMEKASAN-SALAFI-PAMEKASAN-SALAFI-PASURUAN-SALAFI-PASURUAN-SALAFI-PASURUAN-SALAFI-PASURUAN-SALAFI-PASURUAN-SALAFI-PASURUAN-SALAFI-PASURUAN-SALAFI-PASURUAN-SALAFI-PASURUAN-SALAFI-PONOROGO-SALAFI-PONOROGO-SALAFI-PONOROGO-SALAFI-PONOROGO-SALAFI-PONOROGO-SALAFI-PONOROGO-SALAFI-PONOROGO-SALAFI-PONOROGO-SALAFI-PONOROGO-SALAFI-PROBOLINGGO-SALAFI-PROBOLINGGO-SALAFI-PROBOLINGGO-SALAFI-PROBOLINGGO-SALAFI-PROBOLINGGO-SALAFI-PROBOLINGGO-SALAFI-PROBOLINGGO-SALAFI-PROBOLINGGO-SALAFI-PROBOLINGGO-SALAFI-SAMPANG-SALAFI-SAMPANG-SALAFI-SAMPANG-SALAFI-SAMPANG-SALAFI-SAMPANG-SALAFI-SAMPANG-SALAFI-SAMPANG-SALAFI-SAMPANG-SALAFI-SAMPANG-SALAFI-SIDOARJO-SALAFI-SIDOARJO-SALAFI-SIDOARJO-SALAFI-SIDOARJO-SALAFI-SIDOARJO-SALAFI-SIDOARJO-SALAFI-SIDOARJO-SALAFI-SIDOARJO-SALAFI-SIDOARJO-SALAFI-SITUBONDO-SALAFI-SITUBONDO-SALAFI-SITUBONDO-SALAFI-SITUBONDO-SALAFI-SITUBONDO-SALAFI-SITUBONDO-SALAFI-SITUBONDO-SALAFI-SITUBONDO-SALAFI-SITUBONDO-SALAFI-SUMENEP-SALAFI-SUMENEP-SALAFI-SUMENEP-SALAFI-SUMENEP-SALAFI-SUMENEP-SALAFI-SUMENEP-SALAFI-SUMENEP-SALAFI-SUMENEP-SALAFI-SUMENEP-SALAFI-SURABAYA-SALAFI-SURABAYA-SALAFI-SURABAYA-SALAFI-SURABAYA-SALAFI-SURABAYA-SALAFI-SURABAYA-SALAFI-SURABAYA-SALAFI-SURABAYA-SALAFI-SURABAYA-SALAFI-TRENGGALEK-SALAFI-TRENGGALEK-SALAFI-TRENGGALEK-SALAFI-TRENGGALEK-SALAFI-TRENGGALEK-SALAFI-TRENGGALEK-SALAFI-TRENGGALEK-SALAFI-TRENGGALEK-SALAFI-TRENGGALEK-SALAFI-TUBAN-SALAFI-TUBAN-SALAFI-TUBAN-SALAFI-TUBAN-SALAFI-TUBAN-SALAFI-TUBAN-SALAFI-TUBAN-SALAFI-TUBAN-SALAFI-TUBAN-SALAFI-TULUNGAGUNG-SALAFI-TULUNGAGUNG-SALAFI-TULUNGAGUNG-SALAFI-TULUNGAGUNG-SALAFI-TULUNGAGUNG-SALAFI-TULUNGAGUNG-SALAFI-TULUNGAGUNG-SALAFI-TULUNGAGUNG-SALAFI-TULUNGAGUNG-SALAFI-BANDUNG-SALAFI-BANDUNG-SALAFI-BANDUNG-SALAFI-BANDUNG-SALAFI-BANDUNG-SALAFI-BANDUNG-SALAFI-BANDUNG-SALAFI-BANDUNG-SALAFI-BANDUNG-SALAFI-BANDUNG-BARAT-SALAFI-BANDUNG-BARAT-SALAFI-BANDUNG-BARAT-SALAFI-BANDUNG-BARAT-SALAFI-BANDUNG-BARAT-SALAFI-BANDUNG-BARAT-SALAFI-BANDUNG-BARAT-SALAFI-BANDUNG-BARAT-SALAFI-BANDUNG-BARAT-SALAFI-BANJAR-SALAFI-BANJAR-SALAFI-BANJAR-SALAFI-BANJAR-SALAFI-BANJAR-SALAFI-BANJAR-SALAFI-BANJAR-SALAFI-BANJAR-SALAFI-BANJAR-SALAFI-BEKASI-SALAFI-BEKASI-SALAFI-BEKASI-SALAFI-BEKASI-SALAFI-BEKASI-SALAFI-BEKASI-SALAFI-BEKASI-SALAFI-BEKASI-SALAFI-BEKASI-SALAFI-BOGOR-SALAFI-BOGOR-SALAFI-BOGOR-SALAFI-BOGOR-SALAFI-BOGOR-SALAFI-BOGOR-SALAFI-BOGOR-SALAFI-BOGOR-SALAFI-BOGOR-SALAFI-CIAMIS-SALAFI-CIAMIS-SALAFI-CIAMIS-SALAFI-CIAMIS-SALAFI-CIAMIS-SALAFI-CIAMIS-SALAFI-CIAMIS-SALAFI-CIAMIS-SALAFI-CIAMIS-SALAFI-CIANJUR-SALAFI-CIANJUR-SALAFI-CIANJUR-SALAFI-CIANJUR-SALAFI-CIANJUR-SALAFI-CIANJUR-SALAFI-CIANJUR-SALAFI-CIANJUR-SALAFI-CIANJUR-SALAFI-CIBINONG-SALAFI-CIBINONG-SALAFI-CIBINONG-SALAFI-CIBINONG-SALAFI-CIBINONG-SALAFI-CIBINONG-SALAFI-CIBINONG-SALAFI-CIBINONG-SALAFI-CIBINONG-SALAFI-CIKARANG-SALAFI-CIKARANG-SALAFI-CIKARANG-SALAFI-CIKARANG-SALAFI-CIKARANG-SALAFI-CIKARANG-SALAFI-CIKARANG-SALAFI-CIKARANG-SALAFI-CIKARANG-SALAFI-CIMAHI-SALAFI-CIMAHI-SALAFI-CIMAHI-SALAFI-CIMAHI-SALAFI-CIMAHI-SALAFI-CIMAHI-SALAFI-CIMAHI-SALAFI-CIMAHI-SALAFI-CIMAHI-SALAFI-CIREBON-SALAFI-CIREBON-SALAFI-CIREBON-SALAFI-CIREBON-SALAFI-CIREBON-SALAFI-CIREBON